Bisnis Tanaman Hias Makin Ramai

thumbnail
Bisnis tanaman hias saat ini menjadi salah satu peluang usaha yang menggiurkan. Usaha tanaman hias di Yogyakarta makin ramai karena banyak `pemain` baik dari dalam maupun luar daerah yang terjun ke bisnis tersebut.
"Hampir tiap hari selalu ada penyelenggaraan pameran dan bursa tanaman hias, bahkan tidak hanya di satu tempat tetapi di beberapa tempat secara bersamaan," kata M Nasir, petani dan pedagang tanaman hias asal Kabupaten Sleman, DIY, kepada ANTARA.
Ia mengatakan jika dulu pecinta tanaman hias hanya sebagai konsumen dan pembeli saja, namun setelah menggelutinya mereka beralih menjadi pelaku bisnis tanaman hias, ini yang meramaikan bursa tanaman hias.
Dampak makin merebaknya pelaku bisnis tanaman hias di daerah ini adalah transaksi bisnis cenderung menjadi sepi pembeli.
"Kondisinya memang pasang surut dan sulit diprediksi, tergantung situasinya. Namun demikian, pelaku bisnis tanaman hias di Yogyakarta kini banyak mengeluh akibat sepi pembeli," katanya.
Sementara itu, Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) DIY Bambang Wibowo mengatakan sampai sekarang DIY masih menjadi pasar potensial untuk bisnis tanaman hias, sehingga daerah ini menjadi tujuan utama para pedagang tanaman dari berbagai daerah. "Sebagai pasar potensial, Yogyakarta belum tertandingi dibanding provinsi lain di Indonesia karena hampir tiap hari ada pameran dan bursa tanaman hias, dan tidak hanya di satu tempat, tetapi di banyak tempat," katanya.
Menurut dia, selain diserbu pedagang tanaman hias dari luar daerah, pembeli tanaman hias juga datang dari berbagai kota di luar DIY.
Sedangkan produk tanaman hias yang dipasarkan selain dari hasil budidaya petani daerah ini, juga dari petani di berbagai daerah lain seperti Wonosobo dan Kopeng di Jawa Tengah maupun Tawangmangu, Tulungagung dan Blitar di Jawa Timur.
Tiap pagi sentra penjualan tanaman hias di jalan Kebun Raya Kebun Binatang `Gembiraloka ` Yogyakarta dipasok oleh minimal empat unit truk yang mengangkut berbagai jenis tanaman hias dari Blitar maupun Tulungagung (Jawa Timur).
"Keadaan ini membuktikan bahwa Yogyakarta menjadi pasar potensial bisnis tanaman hias karena hampir tiap hari terjadi transaksi dengan nilai yang cukup besar," katanya.
KPO/EDISI 162/NOVEMBER 2008

Tanaman Aggrek Di Bali Berkembang Pesat

thumbnail
Petani dan pencinta tanaman anggrek perkembangannya sangat pesat, sehingga ke depannya berpeluang besar sebagai salah satu komoditi ekspor non migas.
"Kehadiran para petani anggrek dengan beranekaragam jenis anggrek di pameran "Indonesia Orchid Show 2008", dan sejumlah petani anggrek dari Denpasar, merupakan suatu bukti Bali mampu menarik wisatawan dari pesona keindahan anggrek itu," kata Kepala Dinas Pertanian dan Kelautan Kota Denpasar, Ir I Nengah Udiarsa kepada ANTARA, ketika mengunjungi stand IOS-2008 di GOR Ngurah Rai Denpasar, Selasa (22/10).
Ia sangat mendukung aktivitas dan kreativitas para petani dan pencinta tanaman hibrida, melalui ajang pameran dan lomba tanaman anggrek, para petani dan pencinta lebih memacu diri meningkatkan kualitas dan kuantitas dalam pembudidayaan.
"Untuk meningkatkan kualitas agar mampu bersaing di pasar dunia, petani anggrek harus memperhatikan penyilangan maupun pemeliharaan," katanya.
Dikatakan, anggrek pernah dikenal sebagai tanaman eksklusif. Hanya orang-orang tertentu saja yang mampu merawatnya. Namun kini pencinta pemula pun mulai meliriknya untuk penyemarakan pekarangan.
"Pemula biasanya lebih condong menyukai anggrek-anggrek yang berciri bunga cantik, warna-warni, tahan lama, batang dan daunnya kuat," katanya.
Ia mengatakan, yang terpenting dalam perawatan anggrek, yaitu lokasi, suhu, dan kelembaban. "Anggrek bisa tumbuh pada kisaran suhu 15-35 derajat Celcius, tetapi akan lebih optimal pada suhu 21 derajat Celcius dengan kelembaban udara sekitar 65-70 persen," tambah Udiarsa.
KPO/EDISI 162/NOVEMBER 2008

H Mubin Usman: Raih 15 Juta Dari Pembibitan Tanaman

thumbnail
Usaha pembibitan dan penjualan bibit unggul tanaman buah dan tanaman hias merupakan usaha yang prospeknya cukup menjanjikan dari segi bisnis. Hal itu diungkapkan pemilik dan pendiri usaha pembibitan "Wijaya Tani," H Mubin Usman (59), di Jalan Margonda Raya, Depok, Jawa Barat.
Atas keberhasilannya mengembangkan bibit unggul yang dirintisnya sejak tahun 1962, ia pernah menerima penghargaan dari Presiden Megawati Soekarnoputri dan dari Gubernur Jawa Barat.
Ia sudah banyak mengirim produknya ke seluruh Indonesia, bahkan tahun 2007 lalu juga pernah mengirim ke Jepang dan Cina.
Menurut Mubin, usaha bibit unggul itu membutuhkan suatu kesabaran untuk bisa menemukan inovasi. Jika inovasi itu berhasil dan diketahui orang banyak, pembeli akan berdatangan.
"Selama kami bisa mengeluarkan inovasi yang berhasil, maka hasilnya itu akan dicari dan dibeli orang banyak," ungkap H Mubin kepada wartawan Antara.
Ia menambahkan, dalam usahanya ia telah berhasil menemukan dan mengembangkan berbagai bibit unggul tanaman buah, seperti tanaman jeruk, mangga, dan semangka, yang saat ini banyak dicari para pembeli dari berbagai daerah.
Selain itu, ia juga mengembangkan bibit tanaman hias seperti bunga kastuba dan bonsai jenis cemara, adenium, dan orleta.
"Kini saya lebih memfokuskan pengembangan bibit pohon berbuah, namun pengembangan bibit tanaman hias tetap juga terus dilakukan," tambahnya.
Menurutnya, para pembeli rata-rata memesan bibit unggul pohon berbuah seperti buah semangka, jeruk, dan mangga. Dengan usahanya ini ia mendapatkan keuntungan bersih rata-rata sekitar Rp15 juta per bulan.
Sementara sejumlah pembeli mengatakan bibit unggul milik H. Mubin sudah lama dikenal dan diketahui kualitasnya oleh masyarakat luas, karena bibit unggulnya bagus dan banyak jenisnya, sehingga tersedia banyak pilihan.
"Saya sudah langganan beli di sini. Saya juga mempunyai usaha di bidang perkebunan," tutur Asep Sutisna (38), pembeli dan pemilik kebun buah mangga asal Jasinga, Bogor.
Asep juga menuturkan, usaha bibit unggul tanaman pohon berbuah dapat menjadi usaha yang bertahan lama jangka waktunya dan cukup menghasilkan keuntungan, lagipula makin banyak masyarakat yang menggemari bertanam, terutama di daerah-daerah.
Ia juga mengharap, pemerintah memberikan perhatian lebih besar pada usaha bidang ini, mengingat mayoritas masyarakat Indonesia bekerja di bidang pertanian. "Hanya kita harus sabar dan tekun kalau mempunyai niat memulai usaha seperti ini," tambahnya.
KPO/EDISI 162/NOVEMBER 2008

Semarak Parade Budaya Tutup KK 2008

thumbnail
Kegiatan Kuta Karnival (KK) 2008 ditutup dengan pergelaran parade seni budaya melibatkan sekitar 40 peserta konvoi dari berbagai elemen masyarakat dan kalangan pariwisata di kawasan Kuta, Bali, Minggu (26/10).
Parade budaya yang dilaksanakan di Jalan Pantai Kuta melewati Legian, Monumen Bom Bali (Ground Zero) dan kembali ke jalan pantai tersebut, mendapat sambutan antusias ribuan masyarakat, baik wisatawan mancanegara maupun nusantara.
Kegiatan yang dilaksanakan dengan menutup sejumlah jalan menuju Pantai Kuta itu sempat memacetkan arus lalulintas di kawasan obyek wisata internasional tersebut.
Parade budaya juga diselingi tabur bunga perdamaian dengan menggunakan helikopter dari Basarnas yang khusus didatangkan dari Jakarta.
Pawai diawali kelompok tabur bunga dari Basarnas, konvoi motor besar, rombongan seni rudat, konvoi sepeda, kelompok lima unsur agama dan aneka atraksi seni budaya lainnya.
Kegiatan tersebut mampu menyedot kehadiran ribuan orang, termasuk kalangan wisatawan asing, yang terlihat berderet dan berjejal di sepanjang pinggiran jalan yang dilalui.
Ketua Panitia Kuta Karnival ke-6, Nyoman Graha Wicaksana mengatakan, tabur bunga tersebut sebagai ungkapan perdamaian kepada dunia. Diharapkan pesan perdamaian yang disaksikan ribuan wisatawan dan warga setempat itu menyebar ke seluruh jagat raya.
"Kami berharap pesan perdamaian ini akan disampaikan ke seluruh dunia. Sebab semua umat manusia pasti menginginkan cinta kasih dan kedamaian," katanya seperti dilansir ANTARA
Gubernur Bali Made Mangku Pastika dalam sambutan yang dibacakan Kepala Biro Humas dan Protokol I Nyoman Puasha Aryana mengatakan, sangat mendukung kegiatan tahunan ini. Karena festival lahir ketika situasi pariwisata mengalami keterpurukan pada tahun 2002, menyusul tragedi bom di Legian-Kuta.
"Kami sangat mendukung `event` ini, yang mampu membangkitkan sektor kepariwisataan yang sempat mengalami keterpurukan akibat berbagai peristiwa, seperti bom, krisis keungan dunia dan lainnya," katanya.
KPO/EDISI 162/NOVEMBER 2008

Jejak Komunitas Tionghoa Di Kuta

thumbnail
Vihara Dharmayana Kuta
Di balik glamoritas pariwisata Kuta, ada banyak jejak sejarah Kuta masa silam yang jarang terekspos. Salah satunya adalah vihara tua Dharmayana Kuta, Bali yang dibangun pada tahun 1876. Vihara warisan para saudagar dari Cina saat itu terletak di pojok jalan Blambangan dan jalan Padri Kuta.
Sejak dipromosikan setelah era reformasi, Vihara Dharmayana yang termasuk bangunan bersejarah, menarik minat kunjungan wisatawan asing terutama dari Korea dan Taiwan.
"Kami masih perlu mempromosikan ke wisatawan Cina agar jika mereka ke Bali juga singgah sekaligus sembahyang dan melaksanakan kegiatan ritual lainnya di vihara tertua ini," kata Ketua Umum Vihara Dharmayana Kuta, Indra Suara Lim, saat menerima kunjungan belasan anggota Bali Blogger Club (BBC), Sabtu (18/10).
Di vihara yang telah ada sejak dua abad lalu itu, disebutkan Suara Lim bahwa rombongan turis asal Korea dan Taiwan belakangan banyak yang singgah, selain melihat-lihat keunikannya, juga melaksanakan kegiatan ritual.
Sedangkan turis dari Cina yang belakangan jumlahnya terus meningkat, belum banyak yang mengetahui keberadaan dan sejarah vihara tersebut, sehingga kini diupayakan untuk terus dipromosikan ke negeri Tirai Bambu itu.
Berdasarkan penelusuran sejarah dan cerita para sesepuh, di Desa Kuta telah berdiri vihara sejak dua abad lalu. Vihara itu semula berlokasi di sudut Jalan Singosari. Berdasarkan suatu isyarat spiritual, kemudian dipindahkan ke persimpangan Jalan Blambangan-Jalan Padri.
Jejak vihara tua itu didasarkan keberadaan empat pasang "tui lian" atau syair berpasangan dalam bahasa Mandarin yang dipersembahkan oleh keluarga pengabdi pada tiga lembar "tui lian" tahun 1876, 1879 dan tahun 1880.
Menurut Indra Suara yang didampingi sejumlah pengurus vihara, seperti Made Suarsa Wijaya dan Ketua Banjar Alim Dharma, Lurih Braba, vihara tersebut sebelum 23 Februari 1980 bernama Tempat Ibadah Leeng Gwan Kuta atau biasa disebut "Kongco Bio Kuta".
Vihara atau Kongco Bio didirikan oleh komunitas Tionghoa Kuta dan sekitarnya sebagai tempat bersemayamnya Yang Mulia Kongco Tan Hu Cin Jin, yang diyakini dapat memberikan kebahagiaan dan kesejahteraan.
Adaptasi komunitas "Kongco" itu di lingkungan masyarakat Kuta, nampak pada keterlibatan dalam berbagai ritual adat dan komunitas suka duka Banjar Dharma Semadhi Kuta.
"Vihara ini makin diakui eksistensinya sebagai tempat ibadah umat beragama Budha di Bali setelah mendapat kunjungan bikhu dari mancanegara. Bahkan Yang Mulia Dalai Lama XIV juga berkunjung pada 7 Agustus 1982," kata Indra Suara.
Ia berharap ke depan akan semakin banyak wisatawan yang singgah ke Vihara Dharmayana, termasuk turis dari Cina yang belakangan banyak berdatangan ke Bali.(Beny Uleander/Antara)
KPO/EDISI 162/NOVEMBER 2008

Kunjungan Turis Cina Meningkat

thumbnail
Turis Cina yang melakukan perjalanan wisata ke Bali selama delapan bulan pertama 2008 tercatat 84.106 orang atau naik hingga 58,31 persen jika dibandingkan periode sama 2007 yang hanya 53.127 orang.
Prosentase kenaikan turis Cina itu merupakan yang tertinggi di antara negara pemasok turis ke Bali dalam periode Januari-Agustus 2008, kata Kepala Badan Pusat Statistik Bali, Ida Komang Wisnu kepada ANTARA, Rabu (22/10).
Cina pada posisi lima besar dalam memasok turis asing ke Bali setelah Jepang, Australia, Taiwan dan Korea Selatan. Bali selama delapan bulan pertama 2008 dikunjungi sebanyak 1.296.159 orang, naik 20,22 persen dari 2007.
Wisnu mengatakan, turis asing yang datang langsung ke Bali sebanyak itu, pelancong asal Jepang tercatat paling banyak yakni 244.066 orang (18,8 persen), Australia 194.802 orang (15.01), Taiwan 94.508 orang (7,28) dan Korsel 88.848 (6.84).
Turis Cina yang masuk dalam lima besar negara penyumbang turis mancanegara ke Bali masih perlu ditingkatkan mengingat negeri yang berpenduduk terpadat di dunia itu ada sekitar 34 juta wisman Cina ke luar negeri/tahun.
Mereka yang berlibur ke Bali relatif sedikit yakni sekitar 0,02 persen, oleh sebab itu para komponen pariwisata perlu kreatif menciptakan berbagai atraksi wisata agar pelancong asal Cina lebih berbagairah ke Bali.
Cabang olahraga golf perlu digalakkan di daerah ini untuk menarik minat pegolf asal Cina untuk melakukan perjalanan wisata sambil berolahraga, dan pada kesempatan itu juga bisa dilakukan sambil berbisnis, katanya.
KPO/EDISI 162/NOVEMBER 2008

NTB Menuju `Destination Image`

thumbnail
Dinas Kebudayaan dan Pariwisara (Budpar) Nusa Tenggara Barat (NTB) sedang berupaya menciptakan `destination image` guna menarik wisatawan sebanyak-banyaknya berkunjung ke daerah ini.
Kepala Dinas Budpar NTB, Lalu Gita Aryadi mengatakan, untuk menciptakan daerah ini sebagai daerah tujuan wisata yang memiliki kesan baik, maka media massa diharapkan jangan terlalu banyak mengekspose berita-berita yang berbau kriminal.
"Wartawan jangan terlalu banyak memberitakan hal-hal yang berbau kriminal yang bisa menciptakan kesan bahwa seakan-akan NTB tidak aman, sehingga wisatawan merasa ragu dan takut berkunjung ke daerah ini," ujarnya dilansir ANTARA.
Gita berharap seluruh lapisan masyarakat untuk ikut menciptakan situasi yang kondusif agar turis yang berlibur merasa aman dan nyaman, sehingga mereka merasa betah tinggal lama di daerah ini.
Gita mengatakan, wisatawan yang berkunjung ke NTB jangan hanya menikmati empuknya kasur hotel, tetapi lebih banyak mengunjungi tempat-tempat wisata yang ada di daerah ini. "Karena itu kami akan meningkatkan koordinasi dengan kabupaten/kota khususnya dalam hal pengembangan obyek wisata, sehingga wisatawan tertarik untuk mengunjungi tempat wisata tersebut," ujarnya.
Di NTB terdapat 15 kawasan wisata, sebanyak sembilan di antaranya berada di Pulau Lombok dan enam di Pulau Sumbawa. Mengenai pemanfaatan obyek wisata Bangko-Bangko di Sekotong, Lombok Barat yang dikenal dengan ombaknya yang cocok untuk papan selancar atau surfing, dia mengatakan, itu akan dibicarakan dengan pihak Pemprov Bali.
Pihak Dinas Budpar NTB akan membicarakannya dengan Pemprov Bali, karena para pelaku pariwisata dari Pulau Dewata tersebut banyak yang menjual paket wisata Bangko-Bangko kepada wisatawan dan setelah bermain selancar mereka kembali untuk menginap di Bali.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) NTB setiap bulan, selama tujuh bulan terakhir, angka kunjungan wisatawan ke NTB rata-rata mencapai 14.650 orang. Wisatawan tersebut lebih banyak wisatawan nusantara (wisnu), yakni sebanyak 11.170 orang, sementara wisman 3.470 orang dengan rata-rata lama menginap pada bulan Juli 2008 selama 2,98 hari, meningkat 0,25 hari dibanding sebulan sebelumnya.
Menurut data, pada Juli 2008, angka kunjungan wisatawan mencapai 18.625 orang atau mengalami peningkatan 13,31 persen dibanding sebulan sebelumnya sebanyak 16.437 orang. Namun bila dibandingkan kunjungan wisatawan pada bulan Juli 2007 sebanyak 19.620 orang, mengalami penurunan karena lebih rendah 5,07 persen.
KPO/EDISI 162/NOVEMBER 2008

Belajar Dari Keakraban Yang Retak

thumbnail
Catatan Kuta Karnival 2008
Pantai Kuta tak pernah sepi. Jutaan manusia dari berbagai negara berbondong-bondong menjejak kaki di pantai berpasir putih yang terhampar sepanjang 7 km. Pantai yang terletak di Desa Kuta, Kec. Kuta, Kab. Badung itu telah berubah menjadi ruang interaksi komunitas manusia yang berbeda suku, agama, warna kulit, budaya dan negara.
Salah satu pantai terbaik di Bali itu kini menjadi etalase glamoritas wisata yang amat mencolok di Nusantara. Setiap hari, puluhan bule betah berjemur di matahari sejak pagi hari di pinggir pantai. Ada yang berpasangan di bawah tenda payung. Ada yang tenggelam dalam kesendirian sambil membaca novel. Kaum wanita mengenakan bikini pantai. Sebagian wisatawan asyik belajar berselancar menggunakan papan surfing. Yang sudah mahir, sesekali memamerkan gerakan akrobatik di atas gulungan ombak yang datang silih berganti.
Selain menjadi pajangan wisata, Pantai Kuta pun merupakan ladang menambang dollar yang tercecer dari kantung-kantung turis. Ada ibu-ibu yang menawarkan jasa pijat atau mengepang rambut pirang turis wanita. Penjaja souvenir bersileweran menjajakan dagangannya. Para cowboy Kuta, sebutan untuk para lelaki berkulit hitam yang menggeluti bisnis surfing, saban hari menawarkan jasa sewa papan surfer. Rombongan turis yang datang silih berganti ibarat mesin ATM yang terus mengucurkan uang sepanjang pantai.
Pada malam hari pun, Kuta tak pernah tidur. Hingar bingar musik dari kafe, pub, kedai, resto dan diskotik membahana sepanjang jalan Seminyak-Legian, Jalan Raya Kuta-Patih Jelantik.
Pemandangan berbeda disuguhkan kepada pengunjung Pantai Kuta sejak tanggal 18-26 Oktober lalu. Pesta wisata Kuta Karnival sebagai event komunitas yang sudah diselenggarakan sebanyak enam kali mencuri perhatian turis. Betapa tidak! Setiap hari, wisatawan lokal dan mancanegara menyaksikan atraksi seni budaya, musik tradisional dan modern, festival kuliner, olahraga dan pameran tanaman bonsai. Ada lomba khas anak muda seperti lomba skateboard, lomba surfing, dan kontes busana Bali yang diikuti turis asing. Yang paling unik tahun ini adalah keikutsertaan Bali Blogger Community (BBC). Komunitas blogger Bali yang menggelar kegiatan Blogger Day Out, Blogging Competition, dan Blog Exhibition.
Agenda tahunan promo wisata ini lahir dari spirit untuk mengembalikan citra Kuta sebagai destinasi wisata yang aman pasca Bom Bali I, tahun 2002 dan Bom Bali II, tahun 2004 silam. Saat itu keakraban lintas komunitas yang sudah terbangun lama sempat retak. Kuta Karnival 2008 memang telah usai. Akankah KK mendatang tetap setia untuk terus menghadirkan sisa-sisa tradisi dan orisinalitas sisi historis Kuta secara kreatif? Ataukah KK turut larut dalam glamoritas wisata Kuta sehingga terjerembab dalam alur-alur bisnis temporer yang jutru meretakkan keakraban yang telah terbangun. Kuta dengan segala pesona hitam dan putih tetaplah menjadi aset bangsa yang harus dipelihara bukan sekedar pajangan aneka kepentingan. (Beny Uleander)
KPO/EDISI 162/NOVEMBER 2008

Sisi Lain Keberanian Para Laskar Mawar

thumbnail
Judul : Laskar Mawar: Drama Perempuan -Perempuan Pelaku Bom Bunuh Diri di Palestina
Penulis : Barbara Viktor
Penerjemah: Anna Farida
Penerbit : Mizan, Bandung
Cetakan : I, Mei 2008
Tebal : xlii + 404 Halaman
Peresensi : Edy Firmansyah*
Perempuan selalu identik dengan sifatnya yang lemah lembut, penuh cinta kasih, cinta damai dan selalu mengutamakan keselamatan. Namun dalam derita penjajahan yang sedemikian panjang perempuan bisa juga mengangkat senjata. Di Palestina, dalam derita penjajahan Israel, telah lama perempuan menjadi pejuang yang tangguh dan tabah. Mereka adalah anak yang menyaksikan ayahnya ditawan, istri yang merelakan suaminya hilang tanpa jejak, ibu yang menguburkan putranya. Bahkan sebagian perempuan Palestina menempuh jalan perjuangan baru. Mereka memilih meledakkan diri sebagai ”Laskar Mawar.”
Adalah Wafa Idris, seorang perempuan berusia 26 tahun yang menjadi pelopor kamikaze perempuan Palestina. Pada siang hari, 27 Januari 2002, ia meledakkan dirinya hingga berkeping-keping di tengah Kota Jerussalem di sebuah pusat perbelanjaan, dan menewaskan seorang lelaki Israel dan melukai 131 orang-orang yang lalu lalang.
Meski ia satu-satunya pelaku bom bunuh diri perempuan yang tidak meninggalkan rekaman pengakuan dalam video tentang aksi bunuh diri yang begitu cepat itu, namun ia telah menjadi contoh bagi sejumlah banyak perempuan di sepanjang Tepi Barat dan Gaza yang telah mencoba menjadi syahidah demi berdirinya negara Palestina yang merdeka. Dengan kata lain, kecintaan pada kematian tiba-tiba meresap dalam diri perempuan Palestina. Perempuan yang sejatinya merupakan penjaga kehidupan (karena lewat rahimnya mampu melahirkan generasi-generasi baru) kini berubah menjadi mesin pembunuh.
Pasalnya, aksi bom bunuh diri ini tidak dilakukan terhadap pangkalan militer, markas pasukan Israel, atau gudang senjata sebagaimana yang dilakukan kamikaze Jepang pada perang dunia kedua. Bom bunuh diri ini dilakukan di pusat-pusat keramaian seperti pasar, plasa atau gerai makanan di mana penduduk sipil Israel biasa beraktivitas. Tak heran jika korbannya justru bukan tentara, melainkan penduduk sipil seperti ibu, kakek, nenek bahkan anak-anak yang tidak berdosa.
Parahnya lagi, meski tindakan teror itu mendapat kecaman banyak pihak, sebagian besar penduduk Palestina memuja-muja para ’laskar mawar’ itu sebagai pahlawan. Bahkan kaum ulama Palestina sepakat bahwa mereka yang mati karena aksi bom bunuh diri ini termasuk golongan syahid. Dan mereka yang mati syahid tempatnya di akhirat adalah surga.
Sampai di sini pertanyaan yang pantas diajukan adalah mengapa para pempuan itu tega menghancurkan tubuhnya sendiri hanya untuk melukai penduduk sipil Israel yang sejatinya tidak berdosa itu? Apa yang mereka pikirkan kala itu? Bukankah kehidupan lebih baik dari kematian. Bahkan mempertahankan hidup jauh lebih penting meski maut sudah di ujung mata.
Barbara Viktor, seorang jurnalis spesialis Timur Tengah dan isu-isu perempuan mencoba mengurai pertanyaan-pertanyaan di atas. Lewat buku ini ia mengajak kita menyelami kehidupan perempuan-perempuan pelaku bom bunuh diri itu. Dia meninjau berbagai aspek yang sering tenggelam dalam sensasi berita: kultur, psikologis dan sosiologis perempuan Palestina. Barbara membawa kita menyimak kisah-kisah getir dan konflik-konflik yang membuat ’mawar-mawar’ itu memilih menggugurkan kelopak mereka sendiri dalam sebuah dentuman yang menyentakkan dunia yang tak mengijinkan mereka mekar.
Kenekatan yang dilakukan para perempuan pelaku bom bunuh diri itu tak melulu masalah nasionalisme. Benar memang hasrat untuk merdeka dan terbebas dari penjajahan adalah keinginan setiap manusia. Dan manusia bisa melakukan apa saja untuk mendapatkan kebebasan itu. Namun kebebasan yang diinginkan para perempuan itu adalah pembebasan dari budaya patriakat Palestina yang sedemikian ketat. Dalam pandangan patriakat, perempuan tak lebih hanya sekedar perhiasan semata. Kodratnya sebagai manusia yang berhak sejajar dengan laki-laki telah digantungkan di langit-langit kamar.
Bermula dari kekerasan struktural yang diciptakan penguasa-penguasa Palestina. Kekerasan struktural itu dapat dirasakan pada kemunculan hegemoni bahasa, di mana hanya yang berkuasa yang berhak memberikan tafsiran atas realitas yang terjadi dalam masyarakat.
Misalnya, perempuan Palestina yang tidak menikah harus hidup di bawah aturan sosial dan agama yang ketat: jika berpendidikan tinggi, ia dianggap abnormal; jika memandangi laki-laki, ia terancam dikucilkan; jika menolak menikah, ia dianggap lepas kendali; jika tidur dengan laki-laki, khususnya jika hamil, ia adalah aib bagi keluarga dan bisa mati di tangan kerabat laki-lakinya (hal. 257). Satu-satunya cara agar perempuan bisa duduk sejajar dengan laki-laki adalah dengan menjadi syahidah, mengorbankan jiwa dan raganya demi bangsanya. Dengan mati syahid kaum perempuan bisa langsung ditempatkan di surga dan bisa menentukan nasibnya sendiri.
Pandangan itulah yang menghantarkan Wafa Idris, Zina dan Darine menjadi pelaku bom bunuh diri itu. Wafa Idris merasa hidupnya hancur setelah suaminya terpaksa menceraikannya karena ia divonis mandul (hal 16-66). Zina yang ketahuan hamil di luar nikah dibuang orang tuanya dalam kancah pertempuran hanya untuk menutup aib (159-195), dan Darine memilih mati karena terus menerus ditekan untuk menikah dengan pria yang sama sekali tidak dicintainya (124-141).
Sejatinya buku ini merupakan sebuah liputan investigasi, pembaca tidak akan merasakan kejenuhan sebagaimana halnya membaca sebuah berita umumnya. Karena Barbara menggunakan teknik jurnalisme sastrawi yang dikenalkan sejak tahun 1960-an oleh Tom Wolfe. Wawancaranya dilakukan dengan puluhan, bahkan ratusan narasumber. Risetnya tidak main-main. Waktu bekerjanya berbulan-bulan. Dan hasilnya, sebuah tulisan yang panjang yang memadukan teknik jurnalisme ketat serta gaya bercerita novel. Buku ini berhasil menggambarkan dengan begitu jelas posisi kaum perempuan Palestina di tengah kepungan penjajahan Israel dan di bawah tekanan budaya patriakat.
*) Pustakawan di Sanggar Bersastra Kita (SBK), Madura. Peneliti pada IRSOD (Institute of Reasearch Social Politic and Democracy) Jakarta
KPO/EDISI 162/NOVEMBER 2008

Minoritas Muslim Dalam Kacamata Barat

thumbnail
Judul: Potret Politik Kaum Muslim di Prancis dan Kanada
Penulis: Mochtar Pabotinggi, dkk
Penerbit: P2P – LIPI dan Pustaka Pelajar, Yogyakarta
Cetakan I: Agustus 2008
Tebal: 160 halaman
Peresensi: Humaidiy AS*
Belum lekang dari ingatan kita potret kisah peristiwa menyedihkan seputar kondisi Muslim minoritas di negara-negara Eropa beberapa waktu lalu. Terlebih pasca tragedi akbar peristiwa 11 September dan ledakan-ledakan bom di Madrid dan London,
Muslimin Eropa menghadapi kondisi yang lebih sulit dan tertekan, dan berbagai tantangan baru.
Di tingkat lembaga-lembaga politik dan media massa Eropa, masalah kondisi minoritas muslimin yang tinggal di negara-negara Eropa muncul sebagai masalah serius. Buku berjudul Potret Politik Kaum Muslim di Prancis dan Kanada yang ditulis oleh Mochtar Pabotinggi, H. Hamdan Basyar dan sejumlah kontributor lain yang tergabung dalam Pusat Penelitian Politik (P2P) LIPI ini berusaha merekam bagaimana nasib umat Islam yang menjadi minoritas di sejumlah negara Eropa dan Amerika berjuang meneguhkan eksistensi mereka sebagai bagian tak terpisahkan dari sebuah nation state tanpa mengenal batas-batas agama, ras, etnis dan golongan tertentu, lebih khusus seputar keberadaan Muslim minoritas di Prancis dan Kanada. Kehadiran buku ini secara subtantif dan spesifik membahas secara mendalam tentang kebijakan integrasi politik Kanada dan Prancis dalam kaitannya dengan proses asimilasi komunitas minoritas Muslim dengan sistem nilai yang ada di masing-masing negara.
Dalam perkembangannya, tidak jarang mereka menghadapi berbagai problem yang bersifat sosial, kultural, dan politis. Problem ini muncul akibat interaksi dengan mayoritas non muslim serta hubungannya dengan pemerintah di negeri masing-masing. Problematika minoritas tidak hanya berpusat pada proses integrasi minoritas ke dalam mayoritas atau problem hegemoniasasi saja, melainkan juga pengakuan “kesedaratan” di antara mereka yang selama ini cenderung terkesan diskriminatif.
Dalam buku ini diceritakan bagaimana perjuangan minoritas Muslim di kedua negara dalam menghadapi berbagai permasalahan yang begitu kompleks. Sejak genderang anti-terorisme di tabuh, komunitas Muslim di berbagai belahan dunia merasakan tudingan diarahkan kepada mereka. Bermacam-macam fakta tentang menguatnya kekerasan anti Islam itu, datang baik dari masyarakat maupun pemerintah. Kebencian dan kekerasan anti Muslim bahkan menguat seiring dengan diluncurkan UU anti jilbab –terlepas dari apakah ada korelasi antara UU perilaku kekerasan anti Muslim –CCIF; sebuah LSM di Perancis merinci aksi kekerasan terhadap Muslim sejak 2004 meningkat drastis hingga mencapai 251% dibanding dengan data tahun sebelumnya (hal. 66). Ibarat “memancing di air keruh”, kekerasan dalam Islam juga terejawantah dalam berbagai berita atau media.
Ketika umat Islam termasuk Muslim Prancis memprotes pemuatan karikatur pelecehan Nabi Muhammad SAW di salah satu koran di Denmark, media Perancis justru “menelanjangi” aksi protes damai ini sebagai ekspresi kefanatikan agama.
Berangkat dari kenyataan-kenyataan di atas, mereka pun berusaha mengubah pandangan dunia tentang wajah Islam yang dianut melalui organisasi-organisasi yang mereka didirikan. Di Kanada, sejumlah lembaga semisal The Canadian Council for Amerikan-Islamic Relations (CAIR-CAN) yang concern berkiprah pada pembelaan hak asasi manusia. Selain itu, ada The Canadian Sociaty of Muslims (CSM) yang bermarkas di Toronto; organisasi ini bertujuan untuk mempromosikan suatu pengertian budaya Islam dengan pendekatan ilmiah melalui riset dan kegiatan lain. Di Perancis ada dua organisasi Islam yang menonjol: Federation Nationale des Musulmans de France (Federasi Nasional Muslim Prancis/FNMF) dan Union des Organisations Islamaques de France (Serikat Organisasi Islam Prancis/UOIF). Pada 6 November 1989, pemerintah Prancis membentuk Conseil Religieux de1'Islam en France (Dewan Keagamaan Islam di Prancis/ CORIF) yang ditugaskan melakukan kajian mengenai masalah kaum muslim di Perancis.
Sampai awal dekade abad ke-21 sedikitnya telah terdapat 15 juta kaum Muslim di Eropa, dengan sekitar lima sampai enam juta di
antaranya tinggal di Perancis atau sekitar 10 % dari 62 juta penduduk Perancis.
Angka ini telah menjadikan Muslim di Perancis sebagai komunitas Islam terbesar di Eropa. Sejarah keberadaan Muslim di negeri ini sebenarnya tidak lepas dari sejarah kolonial negeri itu di Afrika Utara (antara lain di Maroko dan Tunisia).
Migrasi kaum Muslim ke Peancis pertama kali terjadi sewaktu Perang Dunia I (1914-1918), lalu tahun 1920 di saat Perancis membutuhkan tenaga buruh untuk rekontruksi Perancis pascaperang. Kala itu sekitar 70.000 warga Aljazair dan Maroko datang ke negeri de Gaul ini. Migrasi berikutnya terjadi tahun 1960-an, lalu di susul pada era 1970-an (hal. 60). Sejak saat itu agama Islam menjadi agama terbesar kedua di Prancis setelah Katolik Roma.Senada dengan kenyataan di atas, sensus Kanada tahun 2001 memperlihatkan jumlah Muslim di Kanada tercatat 579.640 jiwa atau sekitar 2 persen dari seluruh populasi penduduk Kanada. Jumlah itu meningkat secara signifikan mencapai 128, 9 % sejak 1991.
Dalam bagian IV buku ini dengan sub tema “Keminoritasan” dalam Masyarakat Barat, penulis menggugat bahwa tindakan negara mendekontruksi komunitas muslim melalui proses-proses pewargaan, deideologisasi dan kulturalisas terlihat secara tersirat bahwa negara kebangsaan masih menekankan hegemonitas “etnis putih” dengan mengesampingkan peran keberadaan komunitas
Muslim maupun kelompok etnis atau agama minoritas lainnya, yang menunjukkan stigmatisasi belum juga memudar. Ini semakin membuktikan bahwa struktur kekuasaan di Kanada dan Perancis hanya memberi peluang kepada orang-orang putih untuk mengambil bagian dalam pemerintahan. Tampaknya, pemerintah Barat cenderung masih memiliki ilusi bahwa Islam bertentangan dengan peradaban Barat.
Akibatnya, semua undang-undang dianggap mencerminkan peradaban Barat dan semua penonjolan simbol Islam dalam tataran negara dianggap melanggar peraturan atau bahkan konstitusi. Kenyataan buruk lain adalah kecurigaan terhadap politik Islam karena dianggap menjegal demokrasi dan melanggengkan otorianisme dan menjadi sumber kekerasan. Walhasil, interaksi
antara komunitas minoritas Muslim dan masyarakat mayoritas masih menunjukkan perasaan saling berprasangka buruk, yang ditunjukkan dengan sikap etnocentrik dan perasaan nativistik.
Selain itu masyarakat putih merasa memiliki supremasi budaya, di mana budaya minoritas tidak mendapat pengakuan.
Pembahasan dalam buku ini di akhiri dengan kesimpulan bahwa permasalahan minoritas Muslim di masyarakat Barat sebagai suatu fenomena yang terus berkembang. Hubungan-hubungan antara
keduanya tidaklah selamanya berada pada konteks yang paradigmatik. Ada secercah harapan kedua belah pihak pada suatu masa akan menemukan titik temu menuju suatu harmoni sosial. Dimana nilai-niali dan etika baru yang memungkinkan konvergensi antara Islam dan Barat bisa membantu tatanan pembentukan tatanan masyarakat Barat ideal. Sehingga selayaknya komunitas Muslim secara keseluruhan diterima oleh masyarakat Barat karena ikut mewarnai perkembangan pluralitas sosial yang menjadi sumber inspirasi bagi pertumbuhan demokrasi. Ke depan, kita berharap komunitas Muslim bisa lebih berperan sebagai “pemain inti” dalam pengembangan peradaban global, daripada hanya sebagai “pelengkap dan penonton” bagi kemajuan peradaban dunia.
*) Pustakawan dan Peneliti pada Lembaga Kajian Agama dan Swadaya Umat (LeKAS) Yogyakarta.
KPO/EDISI 162/NOVEMBER 2008

Pesan Moral Lewat Plastik Sampah

thumbnail
Pematung Dolorosa Sinaga
OLEH: AGUS SALAM
Seni patung telah menjadi pilihan Dolorosa Sinaga. Mematung bukanlah cita-citanya. Karena mematung harus melibatkan kerja keras, banyak masalah teknik yang harus dikuasai dan yang paling utama adalah bahwa seni patung tersebut menawarkan persoalan relasi dimensional pada manusia.
Wanita pematung yang lahir 31 Oktober 1953 di Sibolga, Sumatera Utara itu telah puluhan tahun menggeluti dunia seni patung. Sebagian besar dari 42 karya yang ia pamerkan di Galeri Nasional Jakarta hingga 1 November dihasilkan dari keahlian barunya mengeksplorasi medium baru berupa plastik.
Hasil karya Dolorosa Sinaga berupa patung medium berbahan plastik memang memiliki beberapa pesan khusus termasuk pesan moral. Dolorosa mengaku bosan bolak-balik mengolah tanah lempung dan lilin. Inspirasinya kini justru didapat dari lembaran-lembaran kantong plastik sampah (thrash bag) yang biasa ia gunakan sebagai sekadar alat bantu.
Plastik sebelumnya ia gunakan untuk membungkus karyanya agar tetap lembap. Dengan tanah lempung sebagai penyangga, Dolorosa lantas membentuk plastik itu sesuai dengan keinginan.
Dengan bantuan, antara lain, resin dan silicon rubber, dan berakhir dengan proses cor di bengkel kerjanya di Trowulan, Jawa Timur, Dolo lantas meniupkan ‘roh’ pada patung-patung dari fiberglass dan perunggu itu hingga tampak begitu hidup, persis seperti laku Gepetto ‘melahirkan’ Pinocchio dalam dongeng Disney yang termashyur itu.
Dan hasilnya adalah kesempurnaan. Berangkat dari plastik (yang tak jarang dicap produk massa, murahan, dan kini perusak lingkungan) patung-patung Dolorosa tampak elegan dan bernapas, suatu ekspertis (keahlian) seorang perupa yang matang dalam berproses. Nilainya Rp50-200 juta. Lihatlah yang sempurna itu dalam banyak wujud, antara lain Life is a Long Song (After Jethro Tull) (Bronze, 2008). Terinspirasi dari lagu tahun 1971 itu, kita seolah bisa melihat dua orang bertaut dalam balutan kain; bila yang satu bergerak, yang lain akan ikut terbelit.
Dalam proses pembuatannya, setiap patung berbicara kepada perupa yang melahirkannya. Begitu pula Dolo. Patung-patung karyanya Dolorosa seakan punya nyawa. ‘’Ketika saya bisa berbicara dengan mereka, saya puas. Kalau tidak, tentu sudah saya bakar lagi,’’ katanya.
Tema pembaharuan diusung Dolorosa dalam pameran kali ini. Artinya, semua hal pasti berubah atau dapat diperbaharui. Karya yang dipamerkan juga membawa kritik sosial. Salah satunya terinspirasi peristiwa Lumpur Lapindo.
KPO/EDISI 162/NOVEMBER 2008

Sumpah Pemuda Warisan Rakyat Bukan Dekrit Raja

thumbnail
WS Rendra
OLEH: AGUS SALAM
Sumpah Pemuda yang lahir 28 Oktober 1928, bukan berkat dekrit raja atau dekrit penguasa tetapi oleh orang-orang muda dan sebagai kekuatan rakyat. ‘’Kekuatan pemuda yang berhimpun dan melahirkan Sumpah Pemuda secara kontan ternyata memicu parpol-parpol, yayasan-yaysan sekolah mengidentifikasikan diri dalam keindonesiaan.
‘’Jadi sebetulnya bukan imajinasi, tetapi ada sesuatu yang aktual. Ada fakta sosial, atau fakta antropologis yang begitu diucapkan satu bangsa, satu Tanah Air dan bahasa Indonesia, parpol-parpol dan ormas-ormas mengidentifikasikan dirinya dengan Indonesia . Demikian juga dengan sekolah-sekolah dan yayasan-yayasan yang mengidentifikasikan diri dengan Indonesia,’’ kata Rendra saat berdiskusi di sanggarnya tentang sumpah pemuda beberapa waktu lalu.
Menurut Rendra, bandingkan dengan pengalaman betapa sulitnya negara-negara Eropa menegakkan bahasa nasional mereka, dan pengalaman India dengan bahasa nasional Hindi yang tidak melahirkan sastra Hindi. Salah satu faktanya, ialah dimanfaatkannya bahasa Melayu, bahasa Jawa Kuna, dan Melayu Baru, sebagai lingua franca.
’Ini keajaiban. Semua terjadi tidak karena dekrit raja, atau kekuasaan politik. Jadi sebetulnya Sumpah Pemuda merupakan warisan rakyat, karena itu jangan diremehkan begitu saja. Karya budaya yang lebih besar dari Borobudur karena diciptakan tanpa modal kekuatan, tetapi merupakan kenyataan kehidupan bersama rakyat Indonesia ,’’ katanya
Penyair WS. Rendra mengatakan, sejak Sumpah Pemuda dikumandangkan pada budayawan Indonesia membuat karyanya dengan bahasa Indonesia . Karena begitu kuatnya pengaruh Sumpah Pemuda yang dikumandangkan para pemuda saat itu. ‘’Tulisan sastra para seniman dari berbagai daerah menggunakan bahasa Indonesia setelah dikumandangkan Sumpah Pemuda,’’ tandasnya.
Sumpah Pemuda 1928 tidak dicetuskan tokoh politik atau tokoh masyarakat, namun berdampak sangat luas dan seakan-akan bisa berlaku serentak. Semua kelompok, golongan dan masyarakat serentak mempergunakan bahasa Indonesia sebagai alat komunikasinya.
Sukses Sumpah Pemuda terjadi, karena didukung kenyataan budaya kepulauan yang dipadamkan penjajah Belanda masih membara. Seharusnya penguasa politik sesudah Indonesia merdeka menghidupkan bara itu menjadi api unggun dan mematangkan naluri berbangsa. Sayang, elite penguasa menempuh jalan lain.
Menurut Rendra, sebelum kedatangan penjajah dari Eropa, Bangsa Indonesia sudah mengenal berbagai kebudayaan yang menciptakan kohesi sosial yang organik. Unsur kohesi dalam kehidupan berbangsa di Nusantara ini, adalah kebudayaan kepulauan dan kebudayaan desa. Sedangkan inti kegiatan yang menghubungkan pulau dan desa itu, adalah perdagangan antardesa.
KPO/EDISI 162/NOVEMBER 2008

Bergenit Dalam Bahasa

thumbnail
Oleh: Ella Syafputri
Dewasa ini bahasa Indonesia yang digunakan oleh mayoritas penduduk Indonesia kian centang-perenang akibat merebaknya sebuah bibit penyakit yang merusak pola dan struktur berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Begitu kuatnya bibit penyakit ini, orang yang terpapar bukan saja remaja, --yang paling sering menggunakan bahasa-bahasa gaul-- tapi juga merambah orang dewasa.
Penyakit apakah gerangan? Penyakit itu, kebiasaan menghias bahasa Indonesia dengan kata atau kalimat tertentu dari bahasa Inggris dan melafalkan dalam bahasa Indonesia dengan nada penutur asing yang sedang belajar berbahasa Indonesia. Masih kurang jelas apa maksud orang yang menggunakan bahasa Indonesia dengan gaya begitu. Apakah supaya terkesan pintar, cendekia atau sekedar mengikuti tren terkini?
Coba lihat gaya bicara seorang pemain sinetron berdarah Jerman, Cinta Laura yang makin digugu dan ditiru sebagian remaja di Tanah Air. ‘’Nanti hujan, becek, gak ada ojek atau kalimat Ya iyalah, masa, ya, iya dong. Namanya juga Jamilah bukan Jamidong’’’ tumbuh dengan berbagai versi, meski secara linguistik tidak memberi makna tertentu secara fungsional.
Alif Danya Munsyi alias Remy Sylado dalam bukunya berjudul Bahasa Menunjukkan Bangsa pernah menulis, saat ini bahasa Indonesia telah sampai pada perkembangan yang paling menyedihkan, menjengkelkan plus memuakkan. ‘’Karena para pemakai bahasa Indonesia sendiri, yaitu orang-orang Indonesia, khususnya kalangan yang ingin tampil sebagai orang-orang terpelajar, kini terlihat seperti pelari-pelari tanpa piala yang sedang berlomba, bersaing, berjor-joran bercakap lisan ataupun tulisan dengan melintaskan banyak kosa kata, istilah dan kalimat bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia.
"Saya menyebut gejala ini; nginggris. Gejala nginggris sebagai suatu penyakit keremajaan. Istilah psikologi yang lazim, yang diserap dari bahasa Prancis: juvenil delinquante, --ketakberdayaan kultural terhadap suatu realitas tatanan global yang celakanya sering ditakar melalui identitas kaca mata kebudayaan Amerika yang diniagakan secara mendunia; musik, film, buku," tulisnya.
Berangkat dari penyakit remaja bergenit bahasa "ngingglis" yang diidap luas oleh masyarakat Indonesia, Kepala Pusat Bahasa Dr Dendy Sugono berpendapat penggunaan bahasa Indonesia saat ini terkesan tergeser dengan bahasa Inggris sebagai efek dari globalisasi. ‘’Padahal seharusnya globalisasi hanya terjadi di sektor ekonomi, di mana perdagangan bebas berlaku lintas negara, sementara penggunaan bahasa asing dipakai secara proporsional saja. Alat komunikasi kita harusnya tetap saja memakai bahasa Indonesia,’’ kata Dendy Sugono.
Penguasaan lebih dari satu bahasa, misalnya bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, seharusnya bisa memilah kapan harus berbahasa ibu dan kapan harus berbahasa asing, bukan malah mencampuradukkan bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris agar terkesan lebih bergengsi, lebih keren dan bermutu. ‘’Dan sebenarnya globalisasi bahasa bukan terjadi saat ini, tapi sudah terjadi beratus-ratus tahun lampau,’’ ujar dia menanggapi banyaknya kosa kata bahasa asing yang menyusup secara sisipan maupun mentah-mentah dalam bahasa Indonesia.
Remy Silado dalam bukunya 9 dari 10 Kata Bahasa Indonesia adalah Asing juga menjelaskan, bahasa Indonesia terdiri dari minimal 35 bahasa asing dan daerah. Antara lain Spanyol, Arab, Belanda, Prancis, Sansekerta, Persia, Inggris, Yunani, Jepang dan Italia. Di sisi lain, mungkin masih sedikit pula orang yang tahu bahwa bahasa Indonesia dipelajari secara luas oleh penutur asing yang tersebar di 87 negara. Saat ini bahasa Indonesia dipelajari para penutur asing di 87 negara, sekitar 129 lembaga kursus dan perguruan tinggi yang menyediakan program pengajaran bahasa Indonesia.
Besarnya apresiasi internasional terhadap bahasa Indonesia, kata Dendy, seharusnya masyarakat Indonesia sebagai penutur asli lebih menghargai bahasanya sendiri sebagai alat pemersatu dalam komunikasi dan kehidupan sosial. Pusat Bahasa, berencana menganugerahkan penghargaan kepada penutur bahasa Indonesia, orang-orang yang dinilai memiliki kepedulian dan perhatian besar dalam penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Masalah Sikap
Bila saat ini penyakit nginggris atau bergenit-genit dengan berbahasa Inggeris, masih menghinggapi banyak orang di Indonesia, hal tersebut tak lebih dari sekedar mode yang akan hilang dengan sendirinya. Bahasa gaul bertujuan agar pengguna bisa merasa eksklusif berkomunikasi dengan kode-kode yang hanya diketahui orang yang sama-sama bisa menggunakan bahasa gaul. Bila semua golongan masyarakat sudah bisa menggunakan bahasa gaul, pasti rasa eksklusif dengan sendiri menghilang.
Selain itu, Pusat Bahasa juga tidak henti-hentinya mensosialisasikan penggunaan serapan bahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Pusat Bahasa sudah mengalihkan 405.000 kata dari bahasa asing ke bahasa Indonesia. Dari 405.000 kata dan istilah itu, sekitar 192.000 kata telah dikemas dalam bentuk cakram digital (CD), dan dapat diperoleh gratis dari Pusat Bahasa. Bisa juga masyarakat mengakses lewat Internet di laman www.pusatbahasa.diknas.go.id.
Jadi ini bukan masalah bahasa Indonesia yang kurang canggih atau kurang bermutu, Pusat Bahasa sudah menyediakan patutan kosa kata agar bahasa asing diserap ke dalam bahasa Indonesia dan penutur bahasa Indonesia bisa menggunakan dengan tepat. ‘’Ini tinggal masalah sikap, apakah kita masih akan menghargai apa-apa yang datang dari luar dengan apresiasi yang lebih tinggi daripada bahasa sendiri dan mengembalikan fungsi dan peran bahasa Indonesia agar menjadi tuan rumah di negeri sendiri atau tidak?, ‘’ kata Dendy.
Bagaimana menghadapi gejala bergenit dalam berbahasa? Alif Danya Munsyi dalam Seminar Linguistik Nasional dan Temu Ilmiah Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia se-Indonesia, di Bandung tahun 2004 menulis, ‘’Yang pertama harus ditegur adalah pemerintah sendiri, karena sering berkata lisan dengan sok nginggris pula. Ia mendesak agar petunjuk lalulintas kota tidak lagi menggunakan istilah bahasa Inggris, mulai dari U turn, busway, flying over dan underpass. Para menteri dan pejabat hingga presiden pun harus berhenti menggunakan kosakata bahasa Inggris yang membuat centang-perentang penggunaan bahasa Indonesia. (Anspek)
KPO/EDISI 162/NOVEMBER 2008

Lestarikan Bahasa Ibu

thumbnail
Oleh: Zita Meirina
Beberapa orang tua murid di sebuah sekolah dasar (SD) swasta di Bekasi Selatan dalam kesempatan pertemuan orang tua dengan pihak sekolah di awal tahun pelajaran menyampaikan usulan agar mata pelajaran bahasa Sunda dihapuskan dari kurikulum sekolah.
Alasannya, pengajaran bahasa Sunda dinilai kurang bermanfaat dalam implementasi dan menjadi mata pelajaran yang menakutkan bagi sebagian besar siswa. Ibu Maya, orang tua murid kelas 3, mengeluhkan bagaimana dirinya selalu dibuat uring-uringan setiap kali Dita (10), putrinya, mendapat pekerjaan rumah mata pelajaran bahasa Sunda. ‘’Keluarga kami dari suku di Sumatera sehingga sulit bagi saya membantu anak untuk menjelaskan pekerjaan rumah pelajaran bahasa Sunda. Buku pelajaran Bahasa Sunda seluruhnya menggunakan pengantar bahasa Sunda sehingga kami sering bertanya kepada tetangga yang bisa berbahasa itu,’’ katanya.
Sementara orang tua murid lain, Ibu Santi mengharapkan agar sekolah bisa mempertimbangkan mata pelajaran bahasa Sunda sebagai bagian dari ekstra kulikuler saja tidak dimasukan sebagai mata pelajaran utama sehingga tidak terlalu berpengaruh pada nilai rapor.
Sedangkan, ibu Rian mengharapkan agar mata pelajaran bahasa Sunda lebih banyak diimplementasikan dalam bentuk praktek ketimbang teori sehingga murid tidak hanya semata-mata menghafal mata pelajaran tetapi juga melaksanakan dalam kegiatan sehari-hari, misalnya dalam bentuk tugas kelompok percakapan bahasa Sunda, seni tari dan musik Sunda.
‘’Saya berharap mata pelajaran ini tidak dihapus atau dihilangkan sebab siapa lagi yang mau melestarikan seni dan budaya Sunda kalau bukan kita. Memang banyak anak-anak mengeluh sulit mempelajari bahasa Sunda apalagi kita ini tinggal di Bekasi daerah penyangga dengan penduduk yang heterogen dan tidak lagi menggunakan bahasa Sunda sebagai bahasa sehari-hari,’’ ungkap ibu Rian yang juga dosen di salah satu perguruan tinggi di Jakarta.
Dilematis penggunaan bahasa ibu atau bahasa daerah sebagai muatan lokal dalam mata pelajaran di sekolah memang sangat dirasakan oleh siswa siswi dan orang tua yang bermukim di kota-kota di kawasan penyangga baik di Jakarta seperti Bekasi, Depok dan Tangerang maupun kota besar lainnya di Tanah Air.
Menanggapi usulan dan keluhan orang tua murid tentang mata pelajaran bahasa daerah tersebut, pihak sekolah menyatakan mata pelajaran bahasa daerah wajib dimasukan dalam kurikulum sekolah sebagai upaya pelestarian nilai dan budaya setempat dari ancaman kepunahan. ‘’Kalau kita pendatang artinya kita yang harus bisa menyesuaikan dengan budaya lokal. Wilayah Bekasi ini meski bisa dikatakan mayoritas penduduknya adalah kaum pendatang namun secara geografis masuk wilayah Propinsi Jawa Barat sehingga ada pepatah ‘’Di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung’’, kata Samid guru mata pelajaran bahasa Sunda di sekolah itu.
Samid mengatakan, mata pelajaran bahasa Sunda sebagai muatan lokal yang harus dimasukan dalam kurikulum sekolah untuk menonjolkan keunggulan yang dimiliki setiap daerah. Tidak serta merta karena mata pelajaran bahasa Sunda tidak aplikatif dalam kehidupan sehari-hari seperti di kota Bekasi ini lalu tidak kita perkenalan kepada siswa.
Manfaatnya tetap banyak kalau kita berkunjung ke kota-kota lain di Jawa Barat tentu akan terasa manfaatnya untuk menumbuhkan komunikasi lebih akrab dalam bertegur sapa atau menawar dagangan. ‘’Secara psikologis kalau kita bertegur sapa dalam bahasa setempat akan memberi dampak yang berbeda dalam membangun keakraban dan kepercayaan orang yang kita ajak bicara. Misalnya dalam tawar menawar saat berbelanja, biasanya kalau kita menggunakan bahasa lokal bisa mendapatkan harga lebih murah, apalagi bila ia tahu kita orang luar daerah artinya kita menghoramati bahasa mereka,’’ katanya.
Penggunaan bahasa Bali sebagai muatan lokal demikian pula masih digunakan di sekolah-sekolah dasar negeri di Bali. ‘’Meski Bali sudah menjadi wilayah yang dikenal secara internasional, namun soal pelestarian adat istiadat dan budaya lokal masih sangat kami junjung tinggi, termasuk penggunaan bahasa Bali di sekolah,’’ kata seorang Pengawas Tk/SD Dinas Pendidikan Kota Pemprov Bali, AA Ayu Ketut Agung.
Ayu Ketut Agung memang tidak menampik kuatnya arus budaya asing yang masuk ke Bali telah menjadikan sebagian generasi muda khususnya di perkotaan dan daerah wisata banyak yang sudah tidak lagi bertutur dalam bahasa Bali. ‘’Tetapi saya jamin SD Negeri di Bali seluruhnya masih memasukan mata pelajaran bahasa daerah Bali satu minggu sekali dalam jam pelajaran di sekolah untuk siswa kelas 1 sampai kelas 6 sekolah dasar (SD), supaya mereka tidak menjadi warga asing di tempat kelahiran sendiri,’’ tambah penggiat seni tari dan tata rias tradisional Bali ini.
Terancam Punah
Ancaman terhadap kepunahan bahasa ibu (bahasa daerah) semakin dirasakan seiring derasnya arus globalisasi di kota-kota besar telah mendorong Pusat Bahasa Depdiknas melakukan kerja sama dengan pemerintah daerah untuk inventarisir kosa kata dan tata bahasa daerah agar dijadikan kamus dan materi buku pelajaran bahasa daerah yang dipakai sebagai bahan ajar di sekolah. ‘’Generasi mudah sekarang banyak yang merasa gengsi bila berbicara dengan bahasa daerah apalagi di kota-kota dengan penduduk heterogen maka bahasa daerah sama sekali tidak digunakan, kecuali dalam komunitas satu daerah dan hanya menggunakan bahasa Indonesia yang tidak selalu baik dan benar,’’ kata Kepala Pusat Bahasa Depdiknas, Dr Dendy Sugono.
Pusat bahasa sudah melakukan penelitian mengenai bahasa daerah antara tahun 1974-1989. Setelah ada UU Otonomi urusan bahasa dan sastra daerah menjadi tanggung jawab daerah. Bahasa dan sastra Indonesia menjadi urusan pusat. ‘’Namun kita tidak melepas begitu saja, Pusat Bahasa tetap bekerja sama dengan daerah untuk mencari kaidah-kaidah bahasa dengan cara merumuskan kaidah-kaidah bahasa daerah yang bersangkutan kemudian dijadikan menjadi bahan ajar sekaligus kamus, lalu itulah yang menjadi harus dipelajari peserta didik di daerah, sebab kalau generasi muda tidak belajar bahasa ibu, bahasa itu menjadi punah,’’ ujarnya.
Bahasa ibu di sekolah-sekolah harus dijadikan sebagai bagian muatan lokal dalam kurikulum untuk melestarikan kekayaan budaya dari ancaman kepunahan. Di Indonesia ada 742 bahasa ibu, namun dari tahun ke tahun jumlahnya terus berkurang. Bahasa ibu di Indonesia paling banyak yang punah.
Bahasa daerah memang sebaiknya hanya diperkenalkan pada tingkat dasar saja cukup di sekolah dasar saja sebab tidak mungkin bahasa daerah menjadi bahasa pengantar dalam proses pendidikan hingga bangku perguruan tinggi. Karena kemampuan bahasa daerah misalnya bahasa Jawa yang memiliki penutur 75 juta orang terbukti tidak mampu menjadi bahasa pengantar pendidikan. ‘’Upaya promosi dan pelestarian bahasa ibu atau bahasa daerah di Indonesia perlu digalakkan pada level pemerintah daerah, dalam hal ini pemerintah kabupaten/kota sebab kewenangan berada pada pemerintah daerah untuk mengembangkannya hingga pada masyarakat setempat,’’ katanya.
Langkah yang perlu dilakukan adalah merevitalisasi bahasa daerah dengan budaya yang ada pada daerah setempat. ‘’Misalnya, pemda di daerah Jawa dapat membudayakan lagi budaya Macapatan atau budaya pantun untuk daerah Melayu,’’ ujarnya.
Daerah-daerah lain yang sangat peduli dengan bahasa daerahnya masih cukup banyak, sebut saja di Kabupaten Karanganyar pemerintah setempat mempertahankan bahas ibu dengan menyediakan satu hari dalam satu minggu menjadikan bahasa jawa sebagai bahasa resmi.
Selain itu pengembangan bahasa daerah sebagai bahasa ibu di Indonesia juga dapat dilakukan dengan mengenalkan bahasa daerah kepada anak-anak sejak dini. ‘’Dalam hal ini, keluarga dan lingkungan masyarakat daerah setempat memiliki peran agar bahasa daerah setempat tidak punah,’’ katanya.
Anggota Komisi X DPR RI Cyprianus Aoer menilai banyaknya sekolah-sekolah swasta di kota-kota besar saat ini tidak lagi memperkenalkan bahasa daerah setempat sebagai mata pelajaran yang wajib dikenalkan kepad peserta didik. Sekarang setiap sekolah berlomba-lomba promosikan diri sebagai sekolah internasional yang menggunakan bahasa pengantar pelajaran dalam bahasa Inggris. Sedangkan Bahasa Indonesia hanya sebagai pelengkap. ‘’Lalu di mana posisi bahasa daerah ditempatkan?,’’ ungkapnya.
Pemerintah pusat dan daerah memiliki tanggung jawab untuk mengawasi dan membina sekolah-sekolah dengan memperhatikan kurikulum yang diterapkan, meskipun saat ini sekolah sudah diberikan kebebasan untuk menyusun kurikulumnya sendiri melalui kebijakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), namun muatan lokal di mana sekolah itu berada harus tetap mendapatkan perhatian, ujar anggota Fraksi PDI Perjuangan itu. ‘’Bahasa daerah seharusnya menjadi perekat budaya nasional, artinya pengembangan bahasa daerah harus ditempatkan dalam kerangka memperkaya bahasa nasional dan tidak boleh saling mengabaikan,’’ katanya.
Kurikulum muatan lokal harus diajarkan untuk memperkuat bahasa nasional dan sebaliknya untuk menjaga kelestarian bahasa ibu, namun demikian pengenalan bahasa ibu jangan sampai menimbulkan fanastisme berlebihan sehingga tidak memberikan ruang yang cukup pada adanya keragaman suku di tanah air dan suku bangsa, ujarnya.
Idealnya anak Indonesia harus mampu menguasai bahasa ibu, bahasa Indonesia dengan baik dan benar sebagai bahasa nasional serta bahasa asing di tengah era globalisasi ini. Karena itu bahasa yang dipelajari di sekolah harus ketiganya. Semua harus dipraktekkan tidak hanya dimengerti, dan terutama sebagai alat berkomunikasi dengan masyarakat sekitar. (Anspek)
KPO/EDISI 162/NOVEMBER 2008

Madu Jamur Atasi Kolestrol

thumbnail
Nama: Djoko Sutrisno, 56 tahun, pensiunan PNS, tinggal di Semarang
Pengalaman:
Saya sudah lama menderita asam urat dan kolestrol tapi belum menahun. Suuatu hari, sales Pak Oles datang ke rumah memberikan penjelasan mengenai khasiat Madu Jamur. Setelah saya coba mengonsumsinya selama satu minggu, badan saya terasa enak. Saat saya cek di dokter, asam urat dan kolestrol sudah sembuh. Terima kasih Pak Oles.
KPO/EDISI 162/NOVEMBER 2008

Bahasa Tionghoa Dan Kemilau Emas Itu…

thumbnail
Oleh: Teguh Imam Wibowo
Penggunaan sehari-hari Bahasa Indonesia oleh masyarakat mungkin tidak dilakukan dengan sepatutnya sesuai kaidah yang berlaku. Banyak serapan maupun ucapan yang dipengaruhi bahasa asing atau budaya lokal yang akhirnya membuat penutur Bahasa Indonesia oleh bangsa Indonesia amat bervariatif.
Salah satu bagian sejarah yang berperan penting dalam perkembangan budaya Indonesia adalah kedatangan masyarakat Tionghoa ke nusantara berabad-abad silam. Beragam interaksi yang berlangsung sejak beratus tahun itu ikut memengaruhi kosakata Bahasa Indonesia sebagai salah satu ikon persatuan bangsa.
Cukup banyak kosakata yang dibawa masyarakat Tionghoa yang mungkin oleh masyarakat awam dianggap sebagai bahasa asli Bahasa Indonesia. Misalnya saja tahu (tau hu), toko (tho kho), tukang (toa kang), tongkang (tong kang), tong (tong), teko (te ko), teh (te), sampan (sam pan) atau lonceng (loan cheng).
Menurut peneliti dari Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Barat, Dedy Ari Asfar, sebagai sebuah bahasa, Bahasa Indonesia memang bersifat ?cair? dan terbuka terhadap kosakata asing dan daerah. ‘’Namun, tentunya tetap harus patuh dalam kaidah penyerapan Bahasa Indonesia,’’ kata Dedy yang kini tengah menempuh pendidikan Strata 2 di Malaysia itu.
Dalam kasus Bahasa Cina yang terserap ke dalam Bahasa Indonesia, masyarakat Tionghoa secara langsung dan tidak langsung membawa budaya baru kepada masyarakat lokal dengan memperkenalkan istilah-istilah baru. Mulanya memang asing, tetapi lama-lama istilah itu membumi dalam masyarakat.
Dari beragam contoh kata serapan tersebut, ada kosakata makanan, perdagangan, aktivitas pekerjaan, dan benda-benda tertentu. Selanjutnya kosa kata itu sudah menjadi tata ucap orang Kalimantan Barat maupun Indonesia.
Kaidah Penyerapan
Dalam konteks kontak antarpenutur di Indonesia, Dedy menyatakan bahwa sesungguhnya terjadi saling melengkapi. Artinya, bahasa asing mewarnai dan menambah kosakata bahasa nasional. Kemudian bahasa nasional melengkapi bahasa daerah dan bahasa daerah memperkaya perbendaharaan kosakata bahasa Indonesia.
Kaidah penyerapan yang berlaku dalam Bahasa Indonesia yakni berupa penyesuaian ejaan dan lafal (1), penyesuaian ejaan tanpa penyesuaian lafal (2), tanpa penyesuaian ejaan tetapi dengan penyesuaian lafal (3), dan tanpa penyesuaian ejaan dan lafal (4). Untuk kaidah pertama, ia mencontohkan systeem menjadi sistem. Kaidah kedua, science menjadi sains. Kaidah ketiga, nasal menjadi nasal. Dan kaidah keempat, internet menjadi internet.
Dedy Ari Asfar menambahkan, pada masa lalu bahasa Melayu menjadi lingua franca namun kosa kata dari bahasa Cina tetap banyak digunakan penduduk lokal. Karena padanan dalam bahasa daerah belum ada. Kontak bahasa Indonesia lalu disisipi istilah tertentu dari bahasa Cina," katanya.
Mulanya Emas
Dedy menjelaskan, kemilaunya emas menjadi salah satu kisah bagaimana bahasa China bisa kontak dengan penutur (orang-orang) di Kalbar. Hal ini bermula dengan ditemukannya tambang emas pada pertengahan abad ke-18. Panembahan di Kerajaan Mempawah, mengundang sekelompok kecil orang Tionghoa dari Brunei untuk bekerja di tambang emas di Kecamatan Sungai Duri, Kabupaten Bengkayang pada tahun 1740-an.
Bahkan, populasi warga Tionghoa dan perusahaan emas berkembang dengan pesat. Pada tahun 1812, jumlah penambang emas dari warga Tionghoa di Kota Sambas, sekitar 140 kilometer sebelah utara Kecamatan Sungai Duri, sudah meningkat menjadi 30.000 orang.
Di Kecamatan Selakau (Kabupaten Sambas), terdapat sekitar 20.000 penambang dari warga Tionghoa. Kemudian di di Montrado (Kabupaten Bengkayang), terdapat sekitar 50.000 orang. Kondisi itu terlihat di berbagai daerah tambang emas tradisional di berbagai wilayah di Kalbar. Malah, banyak kongsi dari Tionghoa pada abad ke-18 yang mendeklarasikan diri untuk lepas dari kekuasaan Kerajaan Melayu.
Menurut Dedy, dapat dikatakan gabungan kongsi ini membentuk negara dengan tata pemerintahan sendiri di Kalbar yang akhirnya memicu perang besar di Montrado. Namun, sejak akhir abad ke-19, aktivitas pertambangan mulai pasif. Dampaknya, orang Tionghoa di Kalbar mulai melirik aktivitas baru dalam bidang pertanian dan perdagangan hingga hari ini. ‘’Oleh karena itulah kosakata jual-beli pun membumi dan masuk ke dalam kosakata Indonesia,’’ ujarnya.
Menteri Dalam Negeri menerbitkan Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) 40 tahun 2007 tentang Pedoman Bagi Kepala Daerah dalam Pelestarian dan Pengembangan Bahasa Negara dan Bahasa Daerah. Namun, kata Kepala Balai Bahasa Provinsi Kalbar, Firman Susilo, aturan itu belum efektif dilaksanakan para kepala daerah. Penggunaan bahasa asing pun terkesan salah kaprah dan mengabaikan Permendagri 40 tahun 2007. ‘’Banyak yang akhirnya mengabaikan bahasa Indonesia,’’ kata Firman Susilo.
Ia mencontohkan pemberian nama gedung yang dibangun dari dana APBD menggunakan bahasa Inggris seperti Pontianak Convention Center. Kalau diganti dengan Balai Pertemuan Pontianak misalnya, apakah mengurangi nilai jual gedung?.
Penggunaan tulisan Mandarin untuk penamaan unit usaha atau toko juga terlihat marak di berbagai kota seperti Singkawang dan Pontianak. Penamaan itu umumnya diselingi dengan penggunaan Bahasa Indonesia. Meski Bahasa Indonesia bersifat cair dan terbuka, bukan berarti dengan mudah bahasa asing diaplikasikan karena ada kaidah tata bahasa yang harus dipenuhi.
Ia sepakat, bahasa merupakan identitas suatu bangsa atau negara. Lepasnya Pulau Sipadan-Ligitan ke wilayah Malaysia salah satunya karena faktor bahasa Indonesia sudah tidak lagi menjadi bahasa utama di pulau itu melainkan bahasa Malaysia. (Anspek)
KPO/EDISI 162/NOVEMBER 2008

Apa Kabar Sastra Indonesia

thumbnail
Oleh: Maria D Andriana
Kendati karya sastra dewasa ini disebut-sebut sedang dalam posisi terpuruk, Pusat Bahasa masih gigih menggugah minat kaum muda untuk mendalaminya, antara lain menggelar lomba penulisan cerita pendek untuk pelajar SMP dan SMA. ‘’Tahun 2008 adalah tahun bahasa dan dalam peringatan 60 tahun Bahasa Indonesia, kami juga mengingatkan kembali bahasa sastra adalah bagian dari Bahasa Indonesia. Jadi, peringatannya adalah bahasa dan sastra,’’ ujar Kepala Pusat Bahasa Dr Dendy Sugono.
Penilaian terhadap cerpen karya peserta dari seluruh Indonesia sudah dilakukan dan hasilnya akan diumumkan pada puncak peringatan Tahun Bahasa yaitu pada 28 Oktober 2008 bertepatan dengan pembukaan Kongres IX Bahasa Indonesia di Jakarta. Dari naskah-naskah cerpen yang masuk, terdilihat minat remaja terhadap karya sastra cukup tinggi. Tema yang masuk juga sangat beragam, khususnya menyangkut kehidupan keseharian para penulisnya, tutur Emma Sitahang Nababan dari Pusat Bahasa yang menjadi salah seorang panitia lomba menulis cerpen.
Selain tema yang beragam, pemakaian bahasa juga bervariasi termasuk memakai bahasa gaul. Tetapi agak disayangkan, naskah dari daerah atau kota-kota kecil masih sedikit yang masuk dan beberapa naskah dari seluruh peserta diketahui ada yang menyontek karya-karya penulis terkemuka bahkan termasuk karya Hamsad Rangkoeti, salah seorang juri.
Naskah para peserta lomba cerpen itu dijaring melalui kota-kota yang memiliki Balai Bahasa yang seluruhnya berjumlah 22 dan dari Jakarta, masing-masing diwakili oleh sepuluh naskah terbaik yang terjaring dalam seleksi di tingkat balai. Keprihatinan mengenai tingkat pelajaran sastra yang sangat kecil di tiap sekolah juga diungkapkan penyair Taufiq Ismail yang pernah menggelar program khusus untuk memberikan pelajaran sastra keliling sekolah.
Pusat Bahasa pun menyelenggarakan kegiatan serupa dengan menghadirkan Putu Wijaya ke daerah-daerah. ‘’Anak-anak sebenarnya haus akan bacaan, tetapi seringkali orang dewasa di sekitarnya tidak menyadari hal itu,’’ kata Julius Felicianus, Direktur Penerbit Galang Press.
Ketika Galang Press memelopori pengiriman parsel lebaran berisi paket buku untuk seluruh anggota keluarga, ada penerima parsel yang menyampaikan catatan bahwa ia merasa tersindir karena anaknya berujar: ‘’Ayah, kalau memberi hadiah yang seperti ini, buku-buku ini aku suka,’’ sementara si ayah mengaku selama ini tidak pernah menghadiahi anaknya dengan buku, kata Julius.
Munculnya sejumlah penulis berusia muda, terutama anak-anak yang terinspirasi ‘’manga’’ Jepang dan kisah Harry Potter, tidak dapat dipungkiri sebagai persemaian subur untuk menumbuhkan penulis-penulis muda Indonesia. ‘’Anak-anak biasanya akan mulai dengan bacaan yang ringan, komik, lalu meningkat menjadi yang lebih berat. Tetapi lembaga pendidikan dan orang tua perlu menyediakan dukungan untuk memotivasi mereka,’’ katanya.
Meski karya-karya penulis muda masih dangkal, Sastrawan F Rahardi menilai positif munculnya bibit-bibit muda karena dapat ditingkatkan melalui peran serta berbagai pihak mulai dari lingkungan di rumah, sekolah, penerbit hingga toko buku. Kurikulum di sekolah tertinggal jauh dibanding gejala yang ada di masyarakat. Sekolah dan guru mempunyai kekuasaan untuk memberikan pelajaran dengan mengembangkan kreativitas.
Rahardi mengambil contoh sistem pendidikan yang dilakukan oleh lembaga Pendidikan Alternatif Qaryah Thayyibah di Salatiga yang mengedepankan kreativitas, sehingga menguatkan bukti bahwa keterbatasan modal (uang) bukan menjadi penghalang bagi kreativitas. Ruang-ruang untuk memancing kreativitas bidang sastra baik itu puisi dan prosa semakin sempit, paling tersedia pada beberapa koran dan majalah yang masih peduli dan menyediakan rubrik khusus.
Tak mengherankan jika kemudian penulis-penulis muda berkiblat ke karya sastra dunia seperti Ataka Awwalur Rizqi yang melahirkan Misteri Pedang Skinheld karena terinspirasi cerita Lord Of The Ring dan Harry Potter, kendati ia juga melahap karya-karya Pramoedya Ananta Toer. Demikian pula penulis Fathia yang terilhami kisah Naruto (Jepang).
Indonesia pernah memiliki karya-karya sastra Melayu atau karya sastra asli, tetapi jika tidak dicetak ulang, para pembaca muda akan kesulitan mendapatkannya karena toko buku tidak menyediakan buku-buku lama, kata Rahardi. Julius menegaskan, perpustakaan sekolah sekarang kebanyakan berbelanja buku panduan praktis, bukan karya sastra seperti masa-masa 1950-an hingga 1980-an. Guru atau petugas perpustakaan berbelanja buku sesuai selera pribadi, bukan kepentingan umum. (Anspek)
KPO/EDISI 162/NOVEMBER 2008

Perkaya Dan Rayakan Bahasa

thumbnail
Oleh: Mulyo Sunyoto
Ada kabar di kalangan pegiat bahasa media massa bahwa dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi IV yang dijadwalkan terbit bulan ini sekitar 12.000 lema baru menambah perbendaharaan kata dalam bahasa Indonesia. Menurut mereka, sebagian lema baru yang memperkaya KBBI itu berasal dari kosakata asing yang diserap dan ditundukkan dengan kaidah penyerapan yang berlaku. Sebagian lagi berasal dari kosakata daerah yang karena frekuensi pemakaiannya yang tinggi sehingga menjadi populer di kalangan pengguna bahasa Indonesia.
Penambahan 12.000 lema baru untuk kurun waktu tujuh tahun, jika dihitung dari penerbitan KBBI edisi III tahun 2001, agaknya cukup berarti. Ini bisa dibandingkan dengan penambahan lema baru yang hanya mencapai 6.000 selama kurun waktu 10 tahun, dihitung dari rentang tahun edisi II pada 1991 ke edisi III pada 2001.
Pengaruh bahasa asing terkait dengan proses globalisasi dan perkembangan teknologi informasi agaknya membuat bahasa Indonesia tak kebal dari intrusi linguistik itu. Para pengguna bahasa Indonesia tak bisa mengelak dari hujan atau serbuan kata-kata asing.
Sebagai contoh, diksi diva yang belum masuk sebagai lema dalam KBBI edisi terakhir, sudah menjadi kosakata yang populer. Pembawa acara di televisi bahkan menjuluki Inul Daratista, pedangdut yang terkenal dengan goyang ngebor sebagai diva.
Penggunaan diksi itu kian gencar dengan terbentuknya apa yang disebut tiga diva, kombinasi tiga penyanyi perempuan yang terdiri atas Krisdayanti, Ruth Sahanaya dan Titi Dj. Masalah apakah penerapan sebutan diva untuk Inul dan ketiga penyanyi pop Indonesia itu sudah tepat, menyangkut problem semantik, yang sering terabaikan penutur bahasa Indonesia yang menyerap kosa kata dari bahasa asing.
Arti utama diva, yang akarnya dari bahasa Latin lalu diserap ke bahasa Italia adalah primadona, --penyanyi perempuan utama dalam pertunjukan opera. Tetapi arti kedua diva, menurut Webster`s Dictionary New Edition 2005, tokoh atau bintang panggung perempuan yang sukses dan gemerlap. Makna keduanya,
penerapan kata diva untuk Inul bisa dimaklumi. Meski KBBI terakhir belum memasukkan lema diva, para redaktur media cetak tak menulis dengan huruf miring, sebagai tanda penulisan kosa kata yang belum dianggap baku, setidaknya oleh Pusat Bahasa, yang menerbitkan KBBI sejak edisi I tahun 1988.
Sikap Pusat Bahasa untuk menambah lema baru secara signifikan ke dalam KBBI edisi IV merupakan langkah yang paralel dengan sikap inklusif bangsa-bangsa di dunia dalam menyambut pengaruh bahwa asing ke dalam bahasa nasional mereka.
Bahkan, Prancis yang penguasa dan elitenya sangat terobsesi melindungi bahasa nasionalnya dari pengaruh korup bahasa Inggris mulai mengubah kebijakannya. Seperti diberitakan The Economist 11 September, Prancis telah mengendurkan permusuhan sengitnya terhadap bahasa Inggris.
Menurut Economist, mempertahankan bahasa Prancis dari invasi pelahan tetapi pasti bahasa Inggris merupakan kegemaran masa lalu elite Prancis. Pada 2006 Jacques Chirac ngacir dari ruang Pertemuan Puncak Brussel sebagai protes atas pidato orang Prancis yang menggunakan bahasa Inggris.
Mempertahankan keistimewaan bahasa Prancis dan melindungi musik, film bahkan iklan berbahasa Prancis dari pengaruh buruk bahasa Inggris merupakan kebanggaan nasional.
Kenapa Prancis akhirnya membuka diri dari pengaruh bahasa Inggris? Menteri Pendidikan Prancis Xavier Darcos mengumumkan bahwa dia sedang menambah jam pelajaran bahasa Inggris di sekolah. "Saya sudah sering mendengar bahwa orang Prancis tidak mempelajari bahasa Inggris. Ini kerugian besar dalam persaingan antarbangsa,’’ ujarnya. Darcos ingin semua lulusan sekolah dasar Prancis bisa berbicara dalam dua bahasa.
Kini sejumlah kelompok musik Perancis memberikan tajuk dalam album mutakhir mereka dalam bahasa Inggris. Harian Le Monde, yang menjadi kitab suci elite Prancis, menulis tanpa rasa sesal; ‘’Anak-anak zaman globalisasi tak lagi menulis dalam bahasa Prancis’’. Remaja Prancis seperti kaum sebaya mereka di mana pun, lebih banyak membaca di internet daripada di media cetak. Mereka lebih banyak chatting dengan kenalan di manca negara dalam bahasa Inggris.
Jika Prancis yang puritan sudah membuka diri dari pengaruh bahasa Inggris, serbuan kosakata Inggris yang merasuki media komunikasi di Indonesia agaknya kian sulit dibendung. Itu bukan cuma efek dari kegemaran awam yang suka mencampuradukkan kosakata Inggris ke bahasa percakapan sehari-hari mereka. Seorang eseis semacam Goenawan Mohamad pun tak segan-segan mengadopsi zealot dan menyerap jadi zilot dalam tulisannya untuk memperoleh makna dan bunyi yang pas.
Apakah gencarnya penyerapan bahasa Inggris ke bahasa Indonesia tak mendesak dan menenggelamkan kosakata pribumi, terutama dari bahasa-bahasa daerah di Nusantara? Jika sikap pengguna bahasa seperti Goenawan, jawabnya tentulah tidak. Sebab, di samping suka mengadopsi bahasa asing dan menundukkannya ke dalam kaidah Bahasa Indonesia, eseis yang kini berusia 67 itu juga gemar menasionalisasi kosakata daerah, terutama Jawa.
Dalam satu esainya, Goenawan tak perlu menuliskan kata swiwi dengan huruf miring. Padahal kata itu jelas tidak diakui oleh KBBI. Agaknya, sebagai praktisi ilmu retorik yang berpengalaman, Goenawan perlu mencari sinonim kata sayap untuk menghindari repetisi. Sayangnya, sinonim itu tak ada di bahasa Indoneisa. Dicomotlah kosa kata Jawa-- jadi bagian bahasa ibu sang eseis. Dengan cara itulah bahasa Indonesia bisa diperkaya dan dirayakan tanpa harus menjadikan penuturnya berjiwa puritan dan menelantarkan akar budayanya. (Anspek)
KPO/EDISI 162/NOVEMBER 2008

Asal-Usul Bahasa Indonesia

thumbnail
Oleh: Dewanti Lestari
Tanggal 28 Oktober 1928 merupakan tanggal bersejarah bagi bahasa Indonesia yang saat itu diresmikan menjadi bahasa negara dan menjadi bahasa persatuan dari sekian ratus bahasa daerah. Namun seperti apakah yang dinamakan bahasa Indonesia itu? Orang mengenalnya sebagai bahasa Melayu yang dimodifikasi, lalu dicampur dengan bahasa-bahasa serapan dari berbagai daerah dan dari bahasa asing, kemudian dibakukan.
Dari manakah asal-usul bahasa Melayu itu? Apakah bahasa itu hanya dituturkan oleh etnis Melayu sejak berabad-abad lalu? Padahal etnis Melayu sendiri hanya sebagian kecil saja dari ratusan etnis di nusantara? Arkeolog Harry Truman Simanjuntak mengatakan, bahasa Melayu dan ratusan bahasa daerah lainnya di nusantara sebenarnya berakar dari bahasa Austronesia yang mulai muncul sekitar 6.000-10.000 tahun lalu.
Penyebaran penutur bahasa Austronesia, ujar Ketua Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI) itu, merupakan fenomena besar dalam sejarah umat manusia karena sebagai suatu rumpun bahasa, Austronesia merupakan yang terbesar di dunia, meliputi 1.200 bahasa dan dituturkan oleh hampir 300 juta populasi. Masyarakat penuturnya tersebar luas di wilayah sepanjang 15 ribu km meliputi lebih dari separuh bola bumi; dari Madagaskar di barat hingga Pulau Paskah di ujung timur, dari Taiwan, Mikronesia di utara hingga Selandia Baru di selatan.
Out of Taiwan
Mengenai asal-usul penutur Austronesia, Harry mengatakan, ada beberapa hipotesa. Yang paling umum adalah hipotesa bahwa asal leluhur penutur Austronesia adalah Formosa (Taiwan) atau model Out of Taiwan. Arkeolog lainnya Daud A Tanudirjo menyebutkan, Robert Blust adalah pakar linguistik yang paling lantang menyuarakan pendapat bahwa asal-ususl penutur Austronesia adalah Taiwan.
Sejak 1970-an Blust telah mencoba merekonstruksi silsilah dan pengelompokan bahasa-bahasa dari rumpun Austronesia misalnya kosakata protobahasa Austronesia yang berkaitan dengan flora dan fauna serta gejala alam lain. Juga menawarkan rekonstruksi pohon kekerabatan rumpun bahasa Austronesia dan perkiraan waktu pencabangannya mulai dari Proto-Austronesia hingga Proto-Oseania.
Para leluhur ini, diungkapkan Daud, awalnya berasal dari Cina Selatan yang bermigrasi ke Taiwan pada 5.000-4.000 SM, namun akar bahasa Austronesia baru muncul beberapa abad kemudian di Taiwan. Kosa kata yang dapat direkonstruksi dari bahasa awal Austronesia yang dapat dilacak antara lain: rumah tinggal, busur, memanah, tali, jarum, tenun, mabuk, berburu, kano, babi, anjing, beras, batu giling, kebun, tebu, gabah, nasi, menampi, jerami hingga mengasap.
Para petani purba di Taiwan ini berkembang cepat dan lalu terpecah-pecah menjadi kelompok-kelompok yang hidup terpisah dan bahasanya menjadi berbeda-beda dengan setidaknya kini ada sembilan bahasa yang teridentifikasi sebagai bahasa formosa.
Migrasi
Migrasi leluhur dari Taiwan ke Filipina mulai terjadi pada 4.500-3.000 SM. Leluhur ini adalah salah satu dari kelompok yang memisahkan diri. Mereka bermigrasi ke selatan menuju Kepulauan Filipina bagian utara yang kemudian memunculkan cabang bahasa baru yakni Proto-Malayo-Polinesia (PMP). Tahap berikutnya, terjadi pada 3.500-2.000 SM. Masyarakat penutur bahasa PMP yang awalnya tinggal di Filipina Utara mulai migrasi ke selatan melalui Filipina Selatan ke Kalimantan dan Sulawesi, serta ke arah tenggara di Maluku Utara.
Proses migrasi ini membuat bahasa PMP bercabang menjadi bahasa Proto Malayo Polinesia Barat (PWMP) di kepulauan Indonesia bagian barat dan Proto Malayo Polinesia Tengah-Timur (PCEMP) yang berpusat di Maluku Utara. ‘’Rupanya ketika bermigrasi ke arah tenggara penanaman padi mulai ditinggalkan karena tidak sesuai dengan lingkungan. Mereka mulai memanfaatkan tanaman keladi dan umbi-umbian lain serta buah-buahan,’’ katanya.
Namun pada 3.000-2.000 SM leluhur yang ada di Maluku Utara bermigrasi ke selatan dan timur. Hanya dalam waktu singkat migrasi dari Maluku Utara mencapai Nusa Tenggara sekitar 2.000 SM yang kemudian memunculkan bahasa Proto Malayo Polinesia Tengah (PCMP). Demikian pula migrasi ke timur yang mencapai pantai utara Papua Barat dan melahirkan bahasa-bahasa Proto Malayo-Polinesia Timur (PEMP).
Migrasi dari Papua Utara ke barat terjadi pada 2.500 SM dan ke timur pada 2.000-1.500 SM, di mana penutur PEMP di wilayah pantai barat Papua Barat melakukan migrasi arus balik menuju Halmahera Selatan, Kepulauan Raja Ampat, dan pantai barat Papua Barat yang kemudian muncul bahasa yang dikelompokkan sebagai Halmahera Selatan-Papua Nugini Barat (SHWNG).
Setelah itu kelompok lain dari penutur PEMP bermigrasi ke Oseania dan mencapai kepulauan Bismarck di Melanesia sekitar 1.500 SM dan memunculkan bahasa Proto Oseania. Di Kepulauan Indonesia di bagian barat, setelah sempat menghuni Kalimantan dan Sulawesi, pada 3.000-2.000 SM, para penutur PWMP bergerak ke selatan, bermigrasi ke Jawa dan Sumatera.
Penutur PWMP yang asalnya dari Kalimantan dan Sulawesi itu lalu bermigrasi lagi ke utara antara lain ke Vietnam pada 500 SM dan Semenanjung Malaka. Jelang awal tahun Masehi, penutur bahasa WMP juga menyebar lagi ke Kalimantan sampai ke Madagaskar, tambah Daud.
Bentuk rumpun bahasa Austronesia ini lebih menyerupai garu daripada bentuk pohon. Karena semua proto-bahasa dalam kelompok ini, dari Proto Malayo Polynesia hingga Proto Oseania menunjukkan kesamaan kognat yang tinggi, yaitu lebih dari 84% dari 200 pasangan kata. Dengan begitu, kata Harry Truman, hampir seluruh kawasan nusantara bahkan sampai ke kawasan negeri-negeri tetangga dan masyarakat kepulauan Pasifik dan Madagaskar menuturkan bahasa yang asal-usul merupakan bahasa Austronesia. Kecuali masyarakat di pedalaman Papua dan pedalaman pulau Timor yang bahasanya lebih mirip dengan bahasa pedalaman Australia.
Bahasa Indonesia sekarang ini, kata Harry lagi, sudah sangat kompleks karena penuturnya tidak hanya hidup dengan sukunya masing-masing dan beradaptasi dengan rumpun bahasa dunia lainnya seperti dari India, Arab, Portugis, Belanda dan Inggris. (Anspek)
KPO/EDISI 162/NOVEMBER 2008

Soal Bahasa Jawa SBY Diprotes Mahasiswi Cina

thumbnail
Seorang mahasiswi Universitas Peking merasa prihatin tentang semakin sedikitnya kaum muda Indonesia yang tertarik mempelajari bahasa Jawa kromo atau bahasa Jawa dengan tutur kata yang sopan. Keprihatinannya itu disampaikan langsung kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ketika kepala negara selesai memberikan ceramah di Universitas Peking, Cina, Kamis (23/10).
Usai Presiden memberi ceramah 30 menit, sekitar seratus mahasiswa Universitas Peking diberi kesempatan bertanya langsung kepada Presiden Yudhoyono. Salah satu mahasiswi kemudian berdiri dan bertanya dalam Bahasa Indonesia yang lancar.
Tanpa mengenalkan nama, ia bercerita bahwa pada 2006 sampai 2007 sempat mengikuti program pertukaran pelajar dan menimba ilmu di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Ia mengaku jatuh cinta dengan Indonesia karena mempelajari budaya Jawa dan susah payah mempelajari Bahasa Jawa Kromo di UGM. ‘’Tetapi, ada yang membingungkan. Teman-teman Indonesia ternyata tidak suka belajar Bahasa Jawa Kromo dan lebih suka menggunakan bahasa campuran,’’ tutur mahasiswi tersebut.
Ia lalu bertanya kepada Presiden Yudhoyono apakah kenyataan itu disesali oleh Presiden sebagai kepala pemerintahan yang bertanggungjawab melestarikan budaya. Presiden sempat tersenyum mendengar pertanyaan mahasiswi tersebut. Tanpa menjelaskan banyak, Presiden menjawab bahwa globalisasi memang telah mempengaruhi banyak hal, termasuk budaya.
Presiden mengatakan memang tugas negara menjaga dan melestarikan budaya Jawa sebagai salah satu budaya nasional Indonesia. ‘’Saya berjanji kepada anda, Indonesia akan melakukan yang terbaik untuk menjaga budaya dan bahasanya,’’ ujar Presiden Yudhoyono.
Dalam ceramah menggunakan teks berbahasa Inggris, kepala negara menyampaikan gambaran tentang Indonesia, terutama keberhasilan Indonesia menata kembali perekonomian setelah dilanda krisis moneter pada 1997-1998. Ia juga menyampaikan pentingnya hubungan Indonesia dengan China.
Para mahasiswa Universitas Peking tampak antusias mendengar ceramah Presiden Yudhoyono, beberapa di antaranya asyik mencatat. Namun, ada juga di antara mereka yang tak kuasa menahan kantuk. Presiden Universitas Peking, Zhi Hongxu, menuturkan Universitas Peking adalah yang pertama di China memprakarsai pengiriman pelajar ke Indonesia sejak 1949.
Universitas itu juga telah menerbitkan kamus bahasa Cina-Indonesia dan mempelopori pengenalan budaya Indonesia di China. Selama lebih dari 50 tahun, Universitas Peking juga telah menerima mahasiswa dari Indonesia.
Beberapa kepala negara/pemerintahan pernah menyampaikan kuliah di Universitas Peking, di antaranya adalah Perdana Menteri Australia Kevin Rudd, dan mantan Presiden Perancis Jaques Chirac.
KPO/EDISI 162/NOVEMBER 2008

Peran Bahasa Ibu Memberantas Buta Aksara

thumbnail
Oleh: Zita Meirina
Sekelompok ibu-ibu terlihat di pelataran sebuah rumah besar di jalan Pandawa Cakranegara kota Mataram. Mereka duduk sambil menganyam pita plastik untuk dirangkai menjadi wadah antaran dengan berbagai model dan warna-warna cerah. Perempuan dewasa dan ibu-ibu setengah baya itu adalah warga belajar yang sedang menekuni jenis keterampilan menganyam pita plastik sebagai bagian dari program kecakapan hidup yang diberikan oleh pengelola Pusat Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM) Pandawa.
Aktivitas di PKBM tersebut telah menjadikan ibu-ibu itu tidak sekadar terampil menganyam tetapi juga sedikit demi sedikit mampu mengenal huruf latin dan hitungan dalam bilangan sederhana. Setelah belajar lebih dari tiga bulan, mereka mampu memberikan penghasilan tambahan bagi keluarga.
Sebelumnya, ibu-ibu dan remaja putri di kelurahan Cakranegara dan sekitarnya lebih banyak menghabiskan waktu dengan kegiatan yang tidak bermanfaat, bahkan citra buruk sempat melekat kepada perempuan dan ibu-ibu yang tinggal di sekitar perkampungan padat tersebut.
Masyarakat yang bermukim di kawasan ini merupakan campuran antara penduduk asli NTB dengan pendatang dari Pulau Bali yang sudah bermukim puluhan tahun. Namun, melalui pendekatan yang dilakukan para tokoh masyarakat bersama aparat pemerintah setempat kebiasaan buruk yang dilakukan masyarakat itu mulai berkurang, apalagi kini banyak perempuan dewasa dan remaja putri yang lebih memilih meningkatkan pengetahuan dan keterampilan melalui PKBM.
Pemilik PKBM Pandawa, Ni Nyoman Elly Setiwati, mengakui memang dulu ada kebiasaan buruk dari masyarakat sekitar dan ironisnya juga dilakukan oleh kaum perempuan. ‘’Berjudi mereka lakukan karena mereka tidak memiliki pekerjaan ditambah kondisi ekonomi yang pas-pasan. Di samping juga karena ada budaya tertentu yang kurang baik ditambah lagi rendahnya pendidikan masyarakat,’’ ujarnya.
Kegiatan PKBM Pandawa ini merupakan bagian dari kegiatan mereka belajar modul untuk paket A setara SD dan paket B setara SMP dan keaksaraan fungsional. Sebelum memulai belajr ketrampilan anyaman, ibu-ibu yang rata-rata berusia di atas 35 tahun belajar sebagian belajar membaca dan menulis dan berhitung dengan menggunakan bahasa pengantar bahasa Bali agar materi bahan ajar lebih cepat dapat dikuasai. ‘’Materi bahan ajar terkait dengan pelajaran dasar menulis dan membaca dalam tingkat sederhana dan divariasikan dengan cara menulis dan membaca bahan-bahan yang nantinya akan mereka pelajari dalam ketrampilan. Misalnya materi sederhana tentang bahan-bahan untuk membuat anyaman, kemudian hitungan jual dan beli satu kotak anyaman yang sudah jadi dan sebagainya," kata Elly.
Pembelajaran secara mandiri melalui PKBM merupakan salah satu potret dari kepedulian sekelompok masyarakat untuk mendorong pemberantasan buta aksara yang angkanya masih relatif tinggi di Indonesia. Buta aksara merupakan masalah yang sudah terjadi sejak lama. Kebutaaksaraan sangat terkait dengan beberapa masalah, seperti kemiskinan, keterbelakangan, kebodohan, serta ketidakberdayaan suatu masyarakat. Kebutaaksaraan juga sangat terkait dengan sejarah sebuah bangsa. Umumnya, negara-negara miskin dan korban jajahan oleh negara-negara lain memiliki penduduk dengan tingkat buta aksara yang tinggi.
Dalam acara peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional 2008 di Gedung Depdiknas, Jakarta, Sabbir Ahmed, Asisten Profesor Bidang Politik Universitas Dhaka Bangladesh mengatakan, pemberantasan buta aksara di negaranya dilakukan melalui jalur pendidikan nonformal. Targetnya, bagi anak-anak pribumi yang putus sekolah dan miskin. ’Mereka tidak menyelesaikan belajar, mereka putus sekolah karena tekanan ekonomi keluarga. Anggota keluarga menginginkan anaknya mencari uang.
Sabbir mengatakan, saat ini terdapat 14.289 pelajar pribumi belajar di 928 sekolah nonformal di seluruh Bangladesh. Adapun penduduk etnis minoritas di Bangladesh sebanyak 1,2 juta orang dari seluruh populasi penduduk sebanyak 150 juta orang. Kegiatan belajar yang dimulai sejak Oktober 2001 difasilitasi oleh lembaga swadaya masyarakat Bangladesh Rural Advancement Committee (BRAC).
Namun, buta aksara tidak hanya ada di negara-negara itu. Di negara-negara yang saat ini tergolong maju pun, dahulu masyarakatnya banyak yang tergolong buta aksara. Bedanya, saat ini mereka sudah terbebas, sementara negara-negara bekas jajahan mereka masih menjadi penyandang buta aksara yang besar.
Dirjen Pendidikan Nonformal dan Informal (PNFI) Depdiknas, Hamid Muhammad, dalam sebuah kesempatan mengatakan, saat ini jumlah penduduk buta aksara telah menurun cukup signifikan menjadi 10,1 juta orang. "Angka ini menurun drastis 1,7 juta orang dibanding pada tahun 2007 yang tercatat 11,8 juta orang dan Pemerintah menargetkan pada akhir 2009 jumlah penduduk buta aksara usia 15 tahun ke atas tersisa 7,7 juta orang," katanya.
Sejak tahun 1970-an pemberantasan buta aksara menunjukkan tingkat yang tidak terlalu stabil, meskipun begitu dari tahun ke tahun menunjukkan perkembangan yang semakin baik. Selama periode tahun 1971-1980, selama 9 tahun, tingkat pemberantasan buta aksara hanya 0,17 persen per tahun. Selama 10 tahun berikutnya naik menjadi 1,76 persen per tahun.
Tingkat pemberantasan buta aksara baru menunjukkan kenaikan yang cukup signifikan selama periode tahun 1990-1993 dan 1993-2000. Pada dua periode tersebut, pemberantasan buta aksara masing-masing naik sebesar 4,57 dan 6,29% per tahun.
Bahasa Ibu
Bahasa daerah (Bahasa ibu) memainkan peran sangat penting dalam proses pendidikan, mengingat bahasa daerah merupakan bahasa yang pertama dipelajari di lingkungan keluarga. Bahasa daerah dapat digunakan sebagai bahasa pengantar dalam pembelajaran aksara untuk para penyandang buta aksara. Namun yang tak kalah penting, bahasa daerah bermanfaat sebagai sarana memberantas buta aksara.
Penggunaan bahasa daerah sebagai bahasa pengantar pengajaran sudah mulai digunakan pemerintah sebagai salah satu strategi untuk meningkatkan laju pemberantasan buta aksara. Ada kecenderungan penyandang buta aksara tidak menguasai bahasa Indonesia. Namun pada jenjang pembelajaran keaksaraan perlu diarahkan penggunaan bahasa pengantar bahasa Indonesia.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia-KBBI, Balai Pustaka, edisi ke-3, 2002, bahasa daerah dinyatakan sebagai bahasa yang lazim dipakai di suatu daerah atau bahasa suku bangsa. Berhubung cukup banyak masyarakat Indonesia yang menguasai bahasa daerah sejak awal hidup, --terjadi di pedesaan dan kota-kota kecil-- maka bahasa daerah menjadi bahasa ibu. Meski harus disadari, tidak setiap bahasa daerah serta merta menjadi bahasa ibu. Ada banyak bahasa daerah di seluruh tanah air.
Berdasarkan kamus bahasa online Ethnologue: Languages of the World, dari 7.000 bahasa di seluruh dunia, 742 bahasa (10,73 persen) di antaranya terdapat di Indonesia. Indonesia menjadi negara dengan jumlah bahasa daerah kedua terbesar setelah Papua Nugini yang memiliki 820 bahasa, namun mengalahkan India (427 bahasa), China (241 bahasa), Republik Kongo (216 bahasa), Meksiko (297 bahasa), Nigeria (516 bahasa), bahkan Amerika Serikat yang hanya memiliki 311 bahasa.
Menurut kamus tersebut, di Pulau Jawa dan Bali saja ada 20 macam bahasa, antara lain Sunda, Tengger, Madura, Betawi, Baduy, dan Bali. Demikian juga di Sumatera terdapat 49 bahasa, di Kalimantan 83 bahasa, di Sulawesi 114 bahasa, di Maluku 132 bahasa, di Nusa Tenggara 73 bahasa, serta di Papua 271 bahasa.
Sejak tahun 1951, untuk mendukung kegiatan belajar-mengajar, sebenarnya UNESCO telah mendukung digunakannya bahasa daerah, dengan pertimbangan bahasa daerah lebih dikuasai oleh para pengajar yang berada di daerah. Bahkan, dukungan ini dikuatkan dengan penetapan Hari Bahasa Ibu Internasional sejak tahun 2000, yang jatuh setiap 12 Februari, oleh lembaga tersebut.
Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO, Arief Rachman, mengatakan, pada saat ini terdapat 6.000 bahasa yang ada di dunia dan dari jumlah tersebut 50% akan musnah. Untuk meningkatkan pelestarian bahasa ibu diharapkan agar setiap anak dapat belajar lebih dari satu bahasa. ‘’Selain itu dalam sistem pendidikan dapat diajarkan bahasa ibu, bahasa nasional dan bahasa asing,’’ kata Arief.
UNESCO sangat prihatin dengan ancaman kepunahan bahasa-bahasa ibu di dunia. Dalam beberapa tahun terakhir di Indonesia, paparnya, terjadi penurunan jumlah bahasa ibu, seperti di Papua dari 273 bahasa menjadi 271 bahasa, di Sumatera dari 52 bahasa kini 49 bahasa dan di Sulawesi dari 116 bahasa turun menjadi 114 bahasa. Jika bahasa ibu punah maka punah pula budayanya. Hal yang lebih memprihatinkan, justru punahnya kemampuan bertutur dalam bahasa ibu yang ditopang dengan kemampuan membaca dan berbicara. ‘’Ketika bahasa ibu sudah tidak digunakan maka ancaman baru dihadapi masyarakat, yakni dalam waktu cepat atau lambat mereka akan kembali menjadi buta aksara,’’ tuturnya.
UNESCO sangat prihatin dengan kebijakan dan perhatian yang tidak sungguh-sungguh untuk mengatasi kepunahan itu karena generasi mendatang tidak memiliki lagi bahasa ibu. Dia menambahkan, UNESCO menjadikan tahun 2008 sebagai Peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional untuk membangkitkan kepedulian pemerintah dan masyarakat dunia melawan buta aksara.
Peran bahasa daerah juga menjadi sangat penting, seiring dengan era otonomi daerah. Ini dapat dilihat dari penjelasan Undang Undang No 20 Th 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang telah disahkan pada tanggal 8 Juli 2003, khususnya pasal 37 ayat (1) tentang butir bahasa. Dalam pasal tersebut dijelaskan, bahan kajian bahasa mencakup bahasa Indonesia, bahasa daerah, dan bahasa asing.
Penggunaan bahasa daerah sebagai pengantar dalam pemberantasan buta aksara dapat diterjemahkan secara lebih luas, dengan memanfaatkan juga sumber-sumber tertulis serta tidak tertulis lainnya, seperti buku cerita rakyat berbahasa daerah, dongeng, serta pantun daerah. Penggunaan bahasa daerah untuk membantu memberantas penderita buta aksara sudah menuai hasil yang menggembirakan. Di kampung Cibago yang terletak di Kecamatan Cisalak, Kabupaten Subang, Provinsi Jawa Barat, kegiatan ini sudah dilakukan sejak tahun 2002.
Kegiatan di Cibago ini diprakarsai oleh Balai Pengembangan Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda (BP-PLSP) Regional II Jayagiri yang berupaya mengembangkan pendekatan pemberantasan buta aksara dengan menggunakan bahasa ibu, yaitu bahasa Sunda. Yang menarik dari pedekatan pembelajaran di Cibago ini, tidak saja bahasa yang digunakan merupakan bahasa ibu, namun juga bahasa ibu tingkat tinggi, atau bahasa Sunda tingkat tinggi.
Pembelajaran di kampung Cibago ini mendapatkan apresiasi yang tinggi dari UNESCO. Dalam beberapa forum internasional yang diselenggarakan UNESiCO, nama Cibago bahakan sering dijadikan contoh sebagai contoh untuk kegiatan pemberantasan buta aksara. Bahasa dalam pembelajaran yang dilakukan terhadap masyarakat kampung Cibago ini, sama dengan bahasa yang mereka pakai untuk berkomunikasi sehari-hari.
Warga tidak perlu lagi menghafal makna kata-kata baru, karena semua sudah mereka ketahui sebelumnya. Karena itu, masyarakat menjadi lebih mudah untuk belajar membaca, menulis dan berhitung. Penggunaan bahasa Sunda ini berdampak luar biasa. Masyarakat yang sebelumnya berperilaku tertutup, berubah menjadi lebih terbuka. Mereka jadi lebih percaya diri, karena pengetahuannya bertambah. Masyarakat menjadi berani berkomunikasi, tidak saja dengan penduduk sekitar tetapi juga pendatang.
Di Jawa Tengah, sejak tahun 2007 pemberantasan buta aksara sudah dilakukan dengan menggunakan bahasa Jawa. Pelopornya, Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui penyelenggaraan Kuliah Kerja Nyata (KKN) bertema pemberatasan buta aksara. Program ini dikembangkan oleh Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (PPM) UGM. Titik beratnya adalah metode pengajaran baca-tulis dalam dua waktu bulan.
Metode ini dikembangkan bersamaan dengan program KKN Pemberantasan Buta Aksara. Program ini dilakukan sejak tahun 2007, dan hingga saat ini telah diikuti oleh lebih dari 50 universitas di seluruh Indonesia.
‘’KKN memang menjadi karakteristik UGM yang tidak bisa dipisahkan,’’ ujar penanggung jawab KKN Pemberantasan Buta Aksara, Prof Retno Sunarminingsih, yang tak lain istri Mendiknas Bambang Sudibyo.
Menurut Koordinator Program KKN PBA Wiwin Widyawati M.Hum, pelaksanaan program ini meliputi tahap pengenalan baca tulis dengan bahasa ibu dan Bahasa Indonesia, pengenalan aspek berhitung, serta ujian keaksaraan. Setelah lulus, para peserta akan mendapat sertifikat dari Depdiknas.
Menurut Wiwin, tingkat keberhasilan program mencapai 86%. Penggunaaan bahasa daerah sebagai bahasa pengantar pemberantasan buta aksara sudah dilakukan di Pulau Madura melalui program KKN yang dilakukan mahasiswa UGM. Para mahasiswa menggunakan cara jemput bola. Penggunaan berbagai bahasa daerah yang memiliki jumlah pengguna yang besar di setiap daerah diharapkan dapat lebih mempercepat laju pemberantasan buta aksara, terutama di daerah-daerah yang memiliki penderita buta aksara yang tinggi.
Di Nusa Tenggara Barat (NTB), misalnya, bahasa Sasak diperkirakan digunakan lebih 2,1 juta penduduk serta bahasa Uab Meto dan bahasa Bima yang dipakai 500-an ribu penduduk NTB, dapat dijadikan sebagai bahasa pengantar pengajaran. Di Sulawesi Selatan, yang memiliki jumlah penderita buta aksara yang cukup tinggi, penggunaan bahasa Bugis, bahasa Konjo, bahasa Mamasa serta bahasa Mamuju diharapkan dapat mempercepat pemberantasan buta aksara. (Anspek)
KPO/EDISI 162/NOVEMBER 2008

Bahasa Deskripsi Erotik Dalam Fiksi

thumbnail
Oleh: Mulyo Sunyoto
Ketika masih duduk di bangku sekolah menengah pertama, eseis Goenawan Mohamad sudah membaca novel George Orwell yang berjudul 1984 dalam versi asli. ‘’Saya baca terutama di bagian-bagian yang memuat deskripsi erotik,’’ katanya.
Pengalaman Goenawan tentu tidaklah istimewa. Karena pembaca pada umumnya secara naluriah tak akan melewatkan bagian penggambaran perilaku erotik ketika menikmati karya fiksi. Itu sebabnya para novelis menjadikan deskripsi perilaku erotik sebagai bagian tak terpisahkan dari totalitas cerita. Ada pengarang yang menjaga agar deskripsi mengenai perilaku erotik itu jangan sampai terjerumus ke dalam klasifikasi pornografis. Ada pengarang yang tak mempedulikan batas-batas klasifikasi itu.
Jika tujuan penggambaran atau deskripsi mengenai perilaku erotis itu adalah untuk merangsang naluri seksual pembaca, seperti dijelaskan Webster`s New Explorer Dictionary, penggambaran itu bisa dikategorikan sebagai pornografi. Dalam novel terbaru Ayu Utami Bilangan Fu misalnya, deskripsi perilaku erotik jelas tidak dimaksudkan untuk merangsang seksual pembaca karena sang pengarang tak membuat deskripsi jasmaniah-harfiah. Sebaliknya, Ayu sengaja mengaburkan adegan erotik lewat bahasa metaforik, yang sebetulnya bisa saja dianggap lebih merangsang fantasi seksual pembaca.
Di halaman 38 novel setebal 531 pagina itu, Ayu membahasakan adegan seks dengan pilihan kata berikut: ‘’Di dalam kamar kubiarkan Marja memicu kudanya untuk berlari lebih cepat lagi. Kubiarkan ia menaji si kuda dengan sanggurdinya yang tak berbelas kasih. Ia mengucapkan segala sumpah serapah yang terdengar oleh seluruh dunia dan kata-kata kotor pada kuda yang mulai kehilangan control’’.
Diksi metaforik dalam pasase itu seperti kuda, menaji, sanggurdi, igunakan pengarangnya untuk menghindari lukisan-lukisan verbal-vulgar yang biasa digunakan kalangan pengarang novel picisan.
Tak vulgar
Dalam God of Small Things, bahasa harafiah dipakai Arundhaty Roy untuk melukisan percintaan erotik antara Ammukuty, seorang janda, dengan jejaka yang digandrunginya, Velutha. Meskipun bisa dicap pornografis, deskripsi tentang percintaan erotis yang digubah Arundhaty jauh dari kesan porno yang vulgar. Kenapa? Sebab Arundhati meletakkan adegan erotik itu dalam bingkai situasi yang tegang. Sang lelaki dalam ancaman disiksa warga setempat karena nekat bercinta dengan wanita dari kasta tinggi sementara dia sendiri dari golongan sudra.
Bahasa harfiah yang melukisan tubuh manusia yang sedang bercinta antara lain diwujudkan dalam kalimat berikut: ‘’Ammu menjulurkan lidahnya dan mengecapkannya di ceruk kerongkongan lelaki itu. Di cuping telinganya. Ia menarik kepala lelaki itu ke arahnya dan mencium mulutnya. Ciuman berkabut....’’
Namun, untuk adegan hubungan intim, Arundhati tidak seharfiah saat ia melukisan adegan ciuman, yang menurut banyak kalangan belum porno banget, meskipun Lembaga Sensor Film (LSF) suka menggunting pita seluloid yang berisi adegan ciuman.
Inilah deskripsi Arundhaty untuk adegan porno yang disampaikan dalam diksi dan frasa metaforik: ‘’Sepasang mata yang berkabut menatap sepasang mata yang berkabut dalam tatapan mesra, dan seorang wanita yang berkilauan membuka dirinya pada seorang lelaki yang berkilauan. Wanita itu selebar dan sedalam sungai di saat banjir. Lelaki itu menyelam ke dalam airnya. Wanita itu dapat merasakan lelaki itu bergerak semakin dalam dan semakin dalam di dalam dirinya. Sibuk sekali. Hingar bingar..."
Dengan menggunakan bahasa metaforik, pengarang maupun penerjemah akan terhindar dari peluang terjerat oleh pasal-pasal yang kini sedang diperjuangkan DPR untuk disahkan menjadi hukum positif dengan lebel UU Pornografi. Fiksi yang menguraikan perilaku erotis dengan bahasa yang denotatif, menurut kritikus Milan Kundera, tidak akan sedahsyat yang menggunakan kiasan atau metafora.
Terkait metafora, pengarang Putu Wijaya mengamini Kundera. Putu selalu menghadirkan tamsil, ibarat, kiasan dan metafora dalam fiksi-fiksi gubahannya. Semua medium ekspresi itu diramu dan disampaikan untuk menghadirkan pekabaran yang memukau. Syahdan, para pengarang pun tak henti-hentinya mengeksplorasi dan mencita bahasa metaforik, termasuk ketika mereka mendeskripsikan perilaku erotis dalam karya-karya fiksi mereka. (Anspek)
KPO/EDISI 162/NOVEMBER 2008