Belum Standar WHO
Konsumsi protein hewani di Indonesia dewasa ini baru mencapai 4,7 gram per kapita per hari, jauh di bawah standar organisasi kesehatan dunia (WHO) yang menetapkan 6 gram per kapita per hari. Kebutuhan daging tingkat nasional tahap pertama dipasok komoditas unggas yang persentasenya mencapai 55%, kata Guru Besar Universitas Udayana, Prof Dr Ida Ayu Made Sukarini, M.Agr di Denpasar.
Dosen Fakultas Peternakan Unud itu menjelaskan, kebutuhan daging secara nasional dipasok dari ternak sapi sebesar 23% dan 22% lainnya dipenuhi daging jenis ternak lain. Merebaknya penyakit flu burung pada unggas, menyebabkan ternak sapi berpeluang untuk dikembangkan sebagai komoditas penghasil daging yang bermutu, ujar Prof Ayu Sukarini.
Hal itu dipertegas Direktur Budidaya Ternak Ruminansia Departemen Pertanian, Indonesia secara nasional pada 2008 membutuhkan satu juta bibit sapi induk untuk memenuhi kebutuhan daging bagi masyarakat. Dari kebutuhan tersebut baru separuhnya dapat dipenuhi dan sisanya harus diimpor dari Australia. "Minimnya pemenuhan kebutuhan bibit sapi, karena hasil kelahiran ternak masih kurang atau produktivitas ternak lokal masih rendah," jelas guru besar tetap bidang ilmu produksi ternak.
Sapi Bali tercatat satu-satunya sumber plasmanutfah yang menjadi aset nasional mempunyai fungsi genetis dan nilai ekonomis yang cukup tinggi untuk dikembangkan sebagai ternak potong. Sapi Bali memiliki sejumlah keunggulan antara lain tingkat reproduksi tinggi seperti angka kebuntingan mencapai 80-90%, tingkat kelahiran 75-85% dan karkas 56%. Selain itu kualitas daging sangat baik, bahkan sama dengan mutu daging sapi impor, katanya. (Antara)
Konsumsi protein hewani di Indonesia dewasa ini baru mencapai 4,7 gram per kapita per hari, jauh di bawah standar organisasi kesehatan dunia (WHO) yang menetapkan 6 gram per kapita per hari. Kebutuhan daging tingkat nasional tahap pertama dipasok komoditas unggas yang persentasenya mencapai 55%, kata Guru Besar Universitas Udayana, Prof Dr Ida Ayu Made Sukarini, M.Agr di Denpasar.
Dosen Fakultas Peternakan Unud itu menjelaskan, kebutuhan daging secara nasional dipasok dari ternak sapi sebesar 23% dan 22% lainnya dipenuhi daging jenis ternak lain. Merebaknya penyakit flu burung pada unggas, menyebabkan ternak sapi berpeluang untuk dikembangkan sebagai komoditas penghasil daging yang bermutu, ujar Prof Ayu Sukarini.
Hal itu dipertegas Direktur Budidaya Ternak Ruminansia Departemen Pertanian, Indonesia secara nasional pada 2008 membutuhkan satu juta bibit sapi induk untuk memenuhi kebutuhan daging bagi masyarakat. Dari kebutuhan tersebut baru separuhnya dapat dipenuhi dan sisanya harus diimpor dari Australia. "Minimnya pemenuhan kebutuhan bibit sapi, karena hasil kelahiran ternak masih kurang atau produktivitas ternak lokal masih rendah," jelas guru besar tetap bidang ilmu produksi ternak.
Sapi Bali tercatat satu-satunya sumber plasmanutfah yang menjadi aset nasional mempunyai fungsi genetis dan nilai ekonomis yang cukup tinggi untuk dikembangkan sebagai ternak potong. Sapi Bali memiliki sejumlah keunggulan antara lain tingkat reproduksi tinggi seperti angka kebuntingan mencapai 80-90%, tingkat kelahiran 75-85% dan karkas 56%. Selain itu kualitas daging sangat baik, bahkan sama dengan mutu daging sapi impor, katanya. (Antara)


0 komentar:
Posting Komentar