Prof Suryani
Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Prof Dr dr Luh Ketut Suryani SpKj (K) mengingatkan perlu mengkaji pembatasan jumlah anak dalam program keluarga berencana (KB) sebagai langkah antisipatif. "Masyarakat kita sudah bisa merencanakan sendiri berapa jumlah anak yang diinginkan. Karena itu saatnya pemerintah mempertimbangkan pelaksanaan program KB yang tidak lagi disertai tuntutan pembatasan dua anak," katanya di Denpasar, Senin (14/7).
Gagasan tersebut disampaikan untuk mengantisipasi kecenderungan perkembangan global di sejumlah negara, yang kini mulai kesulitan menambah generasi baru akibat keengganan warganya menjalani proses mengandung dan melahirkan. Psikiater yang lebih banyak berkonsentrasi pada perkembangan anak dan keluarga itu memberi contoh Cina dengan jumlah penduduk terbesar di dunia, kini mulai "mengimpor" wanita dari negara lain karena jumlah penduduk laki-laki jauh lebih banyak.
Singapura banyak menawarkan "iming-iming" untuk mendapatkan tambahan penduduk dari negara lain melalui program pemberian beasiswa dan lapangan pekerjaan hingga betah dan bersedia beralih kewarganegaraan. Prof Suryani yang sejak diluncurkan program KB tidak setuju dengan pembatasan dua anak itu mengatakan, yang lebih diperlukan dewasa ini adalah perencanaan keluarga dari sisi pemberian kesempatan dan peningkatan pendidikan.
Kemudian penyediaan berbagai fasilitas yang diperlukan bagi pertumbuhan balita, anak-anak, remaja hingga dewasa, sehingga akan menjadi generasi yang tumbuh secara wajar, mendapatkan segala hal yang diinginkan. "Sekarang ini balita kita, anak-anak, remaja hingga dewasa, banyak yang tumbuh dalam lingkungan yang memprihatinkan. Tidak didukung fasilitas bermain yang sesuai kebutuhan dalam masa pertumbuhan. Anak-anak dan remaja terpaksa main bola di jalanan, karena tidak tersedia lapangan," katanya.
Anak-anak dan remaja tumbuh menjadi pribadi yang tidak peduli dan berwatak beringas, karena tidak menjalani kesempatan bersosialisasi di masyarakat. "Itu karena anak-anak dan remaja kita hanya nonton tv, disuguhi `game` di rumah atau di tempat persewaan," ucap Prof Suryani yang memiliki enam anak dengan masa kelahiran secara beruntun.
Ia memunculkan gagasan peniadaan pembatasan jumlah anak juga berdasarkan pengalaman pribadi melahirkan dan membesarkan enam anak secara beruntun, tanpa perlu diatur harus dengan jarak tertentu atau bahkan "istirahat" dulu sekian tahun. "Punya enam anak secara beruntun itu sama dengan mengurus satu anak. Adiknya akan belajar dari kakaknya. Akan terus begitu. Karena itu kunci keberhasilannya ada pada ketepatan dalam membimbing dan membesarkan anak terdahulu," katanya.
Untuk membantu para orangtua, guru taman kanak-kanak dan guru sekolah dasar agar tepat dalam membimbing dan mendidik anak-anak, Prof Suryani bersama putranya, dr Tjokorda Bagus Jaya Lesmana, menerbitkan buku Biarkan Anak Berkembang Wajar bekerja sama Telkomsel dalam program peduli pendidikan. Buku setebal 227 halaman, terdiri sub judul Perkembangan Mental Anak, Pengalaman Membesarkan Anak, Dampak Pengalaman Masa Kanak-Kanak dan Menatap Masa Depan Cerah itu, diharapkan bisa menjadi tambahan bekal pengetahuan orang tua, guru TK hingga SD untuk membimbing anak didik. (Antara)
Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Prof Dr dr Luh Ketut Suryani SpKj (K) mengingatkan perlu mengkaji pembatasan jumlah anak dalam program keluarga berencana (KB) sebagai langkah antisipatif. "Masyarakat kita sudah bisa merencanakan sendiri berapa jumlah anak yang diinginkan. Karena itu saatnya pemerintah mempertimbangkan pelaksanaan program KB yang tidak lagi disertai tuntutan pembatasan dua anak," katanya di Denpasar, Senin (14/7).
Gagasan tersebut disampaikan untuk mengantisipasi kecenderungan perkembangan global di sejumlah negara, yang kini mulai kesulitan menambah generasi baru akibat keengganan warganya menjalani proses mengandung dan melahirkan. Psikiater yang lebih banyak berkonsentrasi pada perkembangan anak dan keluarga itu memberi contoh Cina dengan jumlah penduduk terbesar di dunia, kini mulai "mengimpor" wanita dari negara lain karena jumlah penduduk laki-laki jauh lebih banyak.
Singapura banyak menawarkan "iming-iming" untuk mendapatkan tambahan penduduk dari negara lain melalui program pemberian beasiswa dan lapangan pekerjaan hingga betah dan bersedia beralih kewarganegaraan. Prof Suryani yang sejak diluncurkan program KB tidak setuju dengan pembatasan dua anak itu mengatakan, yang lebih diperlukan dewasa ini adalah perencanaan keluarga dari sisi pemberian kesempatan dan peningkatan pendidikan.
Kemudian penyediaan berbagai fasilitas yang diperlukan bagi pertumbuhan balita, anak-anak, remaja hingga dewasa, sehingga akan menjadi generasi yang tumbuh secara wajar, mendapatkan segala hal yang diinginkan. "Sekarang ini balita kita, anak-anak, remaja hingga dewasa, banyak yang tumbuh dalam lingkungan yang memprihatinkan. Tidak didukung fasilitas bermain yang sesuai kebutuhan dalam masa pertumbuhan. Anak-anak dan remaja terpaksa main bola di jalanan, karena tidak tersedia lapangan," katanya.
Anak-anak dan remaja tumbuh menjadi pribadi yang tidak peduli dan berwatak beringas, karena tidak menjalani kesempatan bersosialisasi di masyarakat. "Itu karena anak-anak dan remaja kita hanya nonton tv, disuguhi `game` di rumah atau di tempat persewaan," ucap Prof Suryani yang memiliki enam anak dengan masa kelahiran secara beruntun.
Ia memunculkan gagasan peniadaan pembatasan jumlah anak juga berdasarkan pengalaman pribadi melahirkan dan membesarkan enam anak secara beruntun, tanpa perlu diatur harus dengan jarak tertentu atau bahkan "istirahat" dulu sekian tahun. "Punya enam anak secara beruntun itu sama dengan mengurus satu anak. Adiknya akan belajar dari kakaknya. Akan terus begitu. Karena itu kunci keberhasilannya ada pada ketepatan dalam membimbing dan membesarkan anak terdahulu," katanya.
Untuk membantu para orangtua, guru taman kanak-kanak dan guru sekolah dasar agar tepat dalam membimbing dan mendidik anak-anak, Prof Suryani bersama putranya, dr Tjokorda Bagus Jaya Lesmana, menerbitkan buku Biarkan Anak Berkembang Wajar bekerja sama Telkomsel dalam program peduli pendidikan. Buku setebal 227 halaman, terdiri sub judul Perkembangan Mental Anak, Pengalaman Membesarkan Anak, Dampak Pengalaman Masa Kanak-Kanak dan Menatap Masa Depan Cerah itu, diharapkan bisa menjadi tambahan bekal pengetahuan orang tua, guru TK hingga SD untuk membimbing anak didik. (Antara)


0 komentar:
Posting Komentar