Home » » Lecut Birokrat Dengan Cambuk Kinerja Hasil

Lecut Birokrat Dengan Cambuk Kinerja Hasil

Sharing Gubernur Jagung Fadel Muhammad (2)
Oleh: Beny Uleander
Provinsi Gorontalo kini terkenal sebagai lumbung jagung nasional. Kiprah sukses provinsi tersebut tidak lepas dari torehan visioner seorang Fadel Muhammad. Sosok pengusaha nasional yang kembali mengabdi di kampung halamannya sebagai gubernur. Dalam lawatannya ke Bali selama 2 hari ke Bali, 26-27 Juni lalu, Fadel membeberkan langkah reformasi dan revolusi budaya birokrasi yang mendukung pembangunan pertanian di Provinsi Gorontalo, pemekaran dari Provinsi Sulawesi Utara.
Salah satu kunci sukses revolusi pertanian yang dirintis Fadel Muhammad sebenarnya diawali dengan revolusi manajemen birokrasi. Menarik menyimak upaya Fadel melakukan pembenahan SDM di lingkup PNS yang sudah terkenal amat lamban merespon perubahan maupun tuntutan pasar. Menurut Fadel, ada tiga syarat utama seorang pemimpin dalam memajukan sebuah daerah. Pertama, harus berani membuat terobosan. Di sini, tantangan besar yang dirasakan Fadel yang besar di lingkungan swasta yaitu membangun kerja sama sinergis dengan birokrasi. Perlu diciptakan budaya birokrasi. Maklum spirit kerja swasta jauh berbeda dengan kalangan birokrat. Pekerja swasta berorientasi hasil dan kualitas kerja yang cerdas, cepat dan tepat. Fadel pun menata budaya birokrasi yang bersandar pada tiga pilar, yakni inovasi, bekerja kelompok atau team work, dan bekerja untuk membangun kepercayaan rakyat dan bukannya takut kepada gubernur, bupati ataupun camat.
Syarat kedua untuk membangun daerah dalah inovasi. Fadel memberi visi baru, “Menjadikan pemerintahan Gorontalo pemerintahan inovasi”. Semua jajaran birokrasi harus melakukan inovasi. Syarat terakhir, networking atau jaringan. “Tanpa networking tidaklah mungkin daerah akan berkembang dengan baik,” ujar pria kelahiran Ternate 20 Mei 1952.
Awalnya, Fadel mengumpulkan para birokrat yang ada di Gorontalo. Mereka diajak berdiskusi mengenai apa yang harus dikerjakan untuk membangun Gorontalo. Lantas Fadel membentangkan visinya di bidang pertanian. Membangun negara dimulai dengan memperkuat daerah. Diakui Fadel, ia amat sulit mengubah mindset (pola pikir) birokrat. Tapi Fadel tak putus asa. “Saya membawa pikiran-pikiran baru ke Gorontalo. Awalnya, mereka tersinggung. Saya membawa spirit atau semangat baru, yaitu semangat wirausaha,” ujarnya.
Ia perlahan-lahan menerapkan manajemen swasta di lingkup birokrat dengan berorientasi hasil. Caranya, Fadel membuat kontrak kinerja hasil dengan pejabat teras Gorontalo. Jika target dipenuhi, maka mereka akan memperoleh tambahan penghasilan. Jika target gagal terpenuhi, maka pejabat itu harus mengundurkan diri. Saat ditanya dari mana sumber penghasilan tambahan. Fadel dengan tangkas menyebutkan bahwa gubernur sebenarnya mendapat banyak uang kucuran berbagai proyek yang masuk di propinsi dan kabupaten. Uang yang dikumpulkan bisa mencapai Rp 800 juta. Lantas uang itulah yang dipakai untuk penghasilan tambahan kalangan pejabat PNS. Karena kontrak itulah, para birokrat lebih fokus pada bidang pekerjaan. Mereka ditekankan untuk bekerja demi merebut kepercayaan rakyat Gorontalo bukan menyenangkan atasan.
Ternyata bukan hanya pejabat eselon yang mendapat “bonus”, Fadel juga menyiapkan insentif untuk camat dan kepala desa. Syaratnya satu yaitu target panen produk pertanian terutama jagung di daerahnya terpenuhi. Fadel sukses memajukan daerah Gorontalo yang miskin melalui entrepreneur government, suatu pemerintahan wirausaha yang mempercepat pertumbuhan di Gorontalo.
Thanks for reading Lecut Birokrat Dengan Cambuk Kinerja Hasil

« Previous
« Prev Post
Next »
Next Post »

0 komentar:

Posting Komentar