Oleh : Pak Oles
Kalau anda ingin jadi pemimpin belajarlah dari Prabu Ramawijaya, seorang raja Ayodya Pura yang mengembara ke hutan dalam Kitab Ramayana, karena jabatan raja sudah diserahkan kepada adik tirinya, Bharata. Prabu Ramawijaya menasehati adiknya Wibisana yang selalu setia menemaninya di hutan tentang bagaimana menjadi raja yang baik untuk memimpin negara. Nasihatnya dirumuskan dalam bentuk Astabrata, yang artinya delapan sifat-sifat pemimpin. Prabu Ramawijaya memberikan nasihat Astabtrata bukan hanya kepada adiknya saja, tetapi juga untuk seluruh pemimpin di bumi, baik pemimpin kecil sampai pemimpin besar, pemimpin skala rumah tangga sampai pemimpin negara. Pokoknya pemimpin apa saja bisa mempraktekkan ajaran Astabrata kalau ingin berhasil. Prabu Ramawijaya banyak mengambil sifat-sifat pemimpin dari alam, yang merupakan hasil pemikiran yang mendalam tentang sifat-sifat alam untuk bisa diterapkan oleh pemimpin, yaitu: bumi, matahari, rembulan, angin, samudra, api, bintang, dan mendung.
Banyak di antara kita yang belum bisa membedakan antara pemimpin dan bos. Pemimpin berarti dia yang di depan memberi contoh, sedangkan bos berarti dia yang memerintah karena membayar. Pemimpin adalah dia yang melayani karena memberi contoh agar semua orang bisa melayani dengan baik, sedangkan bos adalah dia yang dilayani karena bisa ngebosi (membayar). Pemimpin bekerja untuk menggerakkan, sedangkan bos bekerja untuk menyuruh. Karena fungsi pemimpin dan bos terlihat sama dari luarnya sebagai orang besar, maka banyak pula orang yang sudah menjadi pemimpin bisa terlena menjadi bos, sehingga pengikutnya merasa tertekan karena disuruh, bukan karena diberdayakan. Oleh karena itu pengikut selalu merasakan keteduhan jika berada di dekat pemimpinnya. Di lain pihak, pengikut akan selalu merasa kepanasan jika berada di dekat bosnya, karena takut disuruh dan dimarah, jika pekerjaannya tidak sesuai bayaran.
Pemimpin memiliki sifat bumi, yang berarti dia harus ikhlas, bisa menerima keragaman watak dan tingkah laku pengikut, memiliki prinsip dan keyakinan yang kuat, serta memiliki integritas yang tinggi, yaitu kejujuran terhadap nurani dan tingkah lakunya. Raja-raja Jawa memakai gelar bumi untuk mengingatkan dirinya sebagai pemimpin agar tetap bertingkah laku seperti pemimpin, seperti gelar Pakubuwono, Mangkubumi, Amurwabumi, Amangkurat, Hanyakrawati, Cakraningrat, dsb.
Pemimpin memiliki sifat matahari, yang berarti dia harus bisa menerangi dunia dan menghapus kegelapan, memberikan kehidupan kepada mahluk lain, memiliki kesabaran dalam melaksanakan tugas, serta ikhlas dalam memberikan miliknya kepada orang lain. Sifat matahari yang lain adalah tekun dan sabar, yaitu tekun dalam mengeringkan sesuatu secara perlahan-lahan melalui panasnya, serta sabar dalam mengangkat air laut menjadi hujan.
Pemimpin memiliki sifat bulan, yang berarti dia harus tampil menyenangkan, menyejukkan, memberikan kemurahan hati dan kasih sayang. Ibarat sinar rembulan, setiap orang yang memandangnya akan merasakan kesejukan hati, sehingga dia akan selalu disayangi pengikutnya. Banyak pasangan muda-mudi yang menyatakan cintanya di bawah sinar rembulan.
Pemimpin memiliki sifat angin, yang berarti dia selalu ada di mana-mana. Setiap pengikutnya merasakan kehadirannya, walaupun pemimpin tidak berada ditempat. Angin ibarat informasi dan intelijen. Pemimpin harus mengenali dan mengarahkan berbagai informasi dan mengelola intelijen untuk mencapai tujuan organisasi. Karena angin bisa menyebabkan kehidupan atau kematian. Angin yang baik bisa menumbuhkan kehidupan, sedangkan angin busuk dan jahat bisa merusak kehidupan. Pemimpin harus bisa bersifat seperti angin yang baik, agar pengikut mendapatkan kesegaran dan kehidupan. Dia harus mengerti segala persoalan yang dihadapi rakyatnya, walaupun tidak diucapkan.
Pemimpin memiliki sifat samudra, yang berarti dia harus memiliki pikiran dan wawasan yang luas. Dia harus rendah hati, sabar, lapang dada. Samudra adalah sumber air. Pemimpin harus bisa memberi kehidupan. Samudra adalah tempat berkumpulnya segala kotoran dan limbah. Segala permasalahan dalam organisasi juga berkumpul di tangan pemimpin untuk dicarikan jalan keluarnya. Segala hujatan, kritik dan sanjungan pasti menuju pemimpin saat melaksanakan tugasnya. Dia harus tetap tenang dan sabar dalam menyelesaikan permasalahan. Dia juga harus tetap teguh dan rendah hati saat menerima sanjungan.
Pemimpin memiliki sifat api. Dia harus memiliki ketegasan dan keberanian untuk menghukum yang bersalah. Dalam menghadapi musuh, penjahat dan penipu, pemimpin melawannya dengan ketegasan. Sifat api adalah menghanguskan. Dengan ketegasannya dia membakar yang merusak organisasi.
Pemimpin berwatak bintang. Dia merupakan ikon organisasi, yang mampu memberikan contoh, petunjuk dan guru. Bintang tetap bersinar sebagai petunjuk dan arah organisasi. Jika bintang tidak bersinar, maka seluruh awak kapal akan kehilangan arah. Bintang merupakan panutan, keindahan, kemuliaan. Jika seorang pemimpin kehilangan keindahannya, tidak menjadi panutan karena perbuatannya sudah melenceng, maka dia ibarat bintang yang redup sinarnya. Secara perlahan-lahan dia akan dilupakan pengikutnya.
Pemimpin berwatak mendung. Mendung berarti kewibawaan. Kekuatan mendung menimbulkan perasaan was-was. Pemimpin yang berwibawa menimbulkan keseganan dan rasa hormat dari pengikutnya. Mendung juga mendatangkan hujan yang memberikan kesuburan bagi bumi.
Krisis yang sering terjadi di dalam organisasi adalah krisis kepemimpinan. Stephen Covey dan Peter Drucker sebagai pakar menejemen dan kepemimpinan mengakui hal tersebut. Apa yang dikatakan oleh Stephen Covey dan Peter Drucker sama dengan wejangan Prabu Ramayana tentang Astabrata. Cuma dalam bahasa yang berbeda.
Pemimpin itu tidak dilahirkan, tapi hasil dari proses pelatihan dan praktek terus menerus. Tidak ada pemimpin yang muncul tanpa latihan dan praktek. Agar seorang pemimpin bisa memiliki sifat bumi, matahari, bulan, angin, samudra, api, bintang dan mendung mendung, dia harus menjalani latihan dan praktek yang sangat keras setiap hari. Sifat rendah hati, tekun, membahagiakan, merakyat, bertanggung-jawab, tegas, menjadi panutan dan berwibawa adalah hasil dari latihan dan praktek. Jika seorang pemimpin sudah melakukan praktek Astabrata, maka segala teori kepemimpinan tidak dipergunakan lagi.
Kalau anda ingin jadi pemimpin belajarlah dari Prabu Ramawijaya, seorang raja Ayodya Pura yang mengembara ke hutan dalam Kitab Ramayana, karena jabatan raja sudah diserahkan kepada adik tirinya, Bharata. Prabu Ramawijaya menasehati adiknya Wibisana yang selalu setia menemaninya di hutan tentang bagaimana menjadi raja yang baik untuk memimpin negara. Nasihatnya dirumuskan dalam bentuk Astabrata, yang artinya delapan sifat-sifat pemimpin. Prabu Ramawijaya memberikan nasihat Astabtrata bukan hanya kepada adiknya saja, tetapi juga untuk seluruh pemimpin di bumi, baik pemimpin kecil sampai pemimpin besar, pemimpin skala rumah tangga sampai pemimpin negara. Pokoknya pemimpin apa saja bisa mempraktekkan ajaran Astabrata kalau ingin berhasil. Prabu Ramawijaya banyak mengambil sifat-sifat pemimpin dari alam, yang merupakan hasil pemikiran yang mendalam tentang sifat-sifat alam untuk bisa diterapkan oleh pemimpin, yaitu: bumi, matahari, rembulan, angin, samudra, api, bintang, dan mendung.
Banyak di antara kita yang belum bisa membedakan antara pemimpin dan bos. Pemimpin berarti dia yang di depan memberi contoh, sedangkan bos berarti dia yang memerintah karena membayar. Pemimpin adalah dia yang melayani karena memberi contoh agar semua orang bisa melayani dengan baik, sedangkan bos adalah dia yang dilayani karena bisa ngebosi (membayar). Pemimpin bekerja untuk menggerakkan, sedangkan bos bekerja untuk menyuruh. Karena fungsi pemimpin dan bos terlihat sama dari luarnya sebagai orang besar, maka banyak pula orang yang sudah menjadi pemimpin bisa terlena menjadi bos, sehingga pengikutnya merasa tertekan karena disuruh, bukan karena diberdayakan. Oleh karena itu pengikut selalu merasakan keteduhan jika berada di dekat pemimpinnya. Di lain pihak, pengikut akan selalu merasa kepanasan jika berada di dekat bosnya, karena takut disuruh dan dimarah, jika pekerjaannya tidak sesuai bayaran.
Pemimpin memiliki sifat bumi, yang berarti dia harus ikhlas, bisa menerima keragaman watak dan tingkah laku pengikut, memiliki prinsip dan keyakinan yang kuat, serta memiliki integritas yang tinggi, yaitu kejujuran terhadap nurani dan tingkah lakunya. Raja-raja Jawa memakai gelar bumi untuk mengingatkan dirinya sebagai pemimpin agar tetap bertingkah laku seperti pemimpin, seperti gelar Pakubuwono, Mangkubumi, Amurwabumi, Amangkurat, Hanyakrawati, Cakraningrat, dsb.
Pemimpin memiliki sifat matahari, yang berarti dia harus bisa menerangi dunia dan menghapus kegelapan, memberikan kehidupan kepada mahluk lain, memiliki kesabaran dalam melaksanakan tugas, serta ikhlas dalam memberikan miliknya kepada orang lain. Sifat matahari yang lain adalah tekun dan sabar, yaitu tekun dalam mengeringkan sesuatu secara perlahan-lahan melalui panasnya, serta sabar dalam mengangkat air laut menjadi hujan.
Pemimpin memiliki sifat bulan, yang berarti dia harus tampil menyenangkan, menyejukkan, memberikan kemurahan hati dan kasih sayang. Ibarat sinar rembulan, setiap orang yang memandangnya akan merasakan kesejukan hati, sehingga dia akan selalu disayangi pengikutnya. Banyak pasangan muda-mudi yang menyatakan cintanya di bawah sinar rembulan.
Pemimpin memiliki sifat angin, yang berarti dia selalu ada di mana-mana. Setiap pengikutnya merasakan kehadirannya, walaupun pemimpin tidak berada ditempat. Angin ibarat informasi dan intelijen. Pemimpin harus mengenali dan mengarahkan berbagai informasi dan mengelola intelijen untuk mencapai tujuan organisasi. Karena angin bisa menyebabkan kehidupan atau kematian. Angin yang baik bisa menumbuhkan kehidupan, sedangkan angin busuk dan jahat bisa merusak kehidupan. Pemimpin harus bisa bersifat seperti angin yang baik, agar pengikut mendapatkan kesegaran dan kehidupan. Dia harus mengerti segala persoalan yang dihadapi rakyatnya, walaupun tidak diucapkan.
Pemimpin memiliki sifat samudra, yang berarti dia harus memiliki pikiran dan wawasan yang luas. Dia harus rendah hati, sabar, lapang dada. Samudra adalah sumber air. Pemimpin harus bisa memberi kehidupan. Samudra adalah tempat berkumpulnya segala kotoran dan limbah. Segala permasalahan dalam organisasi juga berkumpul di tangan pemimpin untuk dicarikan jalan keluarnya. Segala hujatan, kritik dan sanjungan pasti menuju pemimpin saat melaksanakan tugasnya. Dia harus tetap tenang dan sabar dalam menyelesaikan permasalahan. Dia juga harus tetap teguh dan rendah hati saat menerima sanjungan.
Pemimpin memiliki sifat api. Dia harus memiliki ketegasan dan keberanian untuk menghukum yang bersalah. Dalam menghadapi musuh, penjahat dan penipu, pemimpin melawannya dengan ketegasan. Sifat api adalah menghanguskan. Dengan ketegasannya dia membakar yang merusak organisasi.
Pemimpin berwatak bintang. Dia merupakan ikon organisasi, yang mampu memberikan contoh, petunjuk dan guru. Bintang tetap bersinar sebagai petunjuk dan arah organisasi. Jika bintang tidak bersinar, maka seluruh awak kapal akan kehilangan arah. Bintang merupakan panutan, keindahan, kemuliaan. Jika seorang pemimpin kehilangan keindahannya, tidak menjadi panutan karena perbuatannya sudah melenceng, maka dia ibarat bintang yang redup sinarnya. Secara perlahan-lahan dia akan dilupakan pengikutnya.
Pemimpin berwatak mendung. Mendung berarti kewibawaan. Kekuatan mendung menimbulkan perasaan was-was. Pemimpin yang berwibawa menimbulkan keseganan dan rasa hormat dari pengikutnya. Mendung juga mendatangkan hujan yang memberikan kesuburan bagi bumi.
Krisis yang sering terjadi di dalam organisasi adalah krisis kepemimpinan. Stephen Covey dan Peter Drucker sebagai pakar menejemen dan kepemimpinan mengakui hal tersebut. Apa yang dikatakan oleh Stephen Covey dan Peter Drucker sama dengan wejangan Prabu Ramayana tentang Astabrata. Cuma dalam bahasa yang berbeda.
Pemimpin itu tidak dilahirkan, tapi hasil dari proses pelatihan dan praktek terus menerus. Tidak ada pemimpin yang muncul tanpa latihan dan praktek. Agar seorang pemimpin bisa memiliki sifat bumi, matahari, bulan, angin, samudra, api, bintang dan mendung mendung, dia harus menjalani latihan dan praktek yang sangat keras setiap hari. Sifat rendah hati, tekun, membahagiakan, merakyat, bertanggung-jawab, tegas, menjadi panutan dan berwibawa adalah hasil dari latihan dan praktek. Jika seorang pemimpin sudah melakukan praktek Astabrata, maka segala teori kepemimpinan tidak dipergunakan lagi.


0 komentar:
Posting Komentar