Penyakit flu burung masih terus menjadi masalah serius bagi kesehatan manusia di Indonesia. Sejak akhir Juni 2005 sampai 31 Mei 2008, tercatat 135 orang terkena penyakit ini, dan 110 orang (81,4%) meninggal dunia. "Sejak ditemukan kasus flu burung pada 2003 hingga 2008, telah menimbulkan dampak jutaan unggas mati dan 110 penderita meninggal dunia," kata Kepala Badan Informasi Publik, Suprawoto dalam acara pembukaan Dialog Interaktif Melalui Pagelaran Wayang Kulit di Pekalongan, Jawa Tengah, Minggu (13/7) malam.
Sebelum dialog digelar, Wakil Wali Kota Pekalongan, Abu Almafakhir didampingi Staf Ahli Menkominfo Bidang Media Massa, Henry Subiakto menyerahkan wayang Puntodewo kepada Dalang Ki Warsetno Slenk. Menurut Suprawoto, mewabahnya flu burung yang diidentifikasi sebagai penyebab meninggalnya ratusan orang itu telah menimbulkan kepanikan yang luas bagi masyarakat karena jenis penyakit ini bisa menular dan mengancam kesehatan manusia.
Meluasnya wabah penyakit tersebut, memacu pemerintah menetapkan sebagai kejadian luar biasa (KLB) dan berusaha untuk menanggulangi. "Pemerintah tidak menginginkan pandemi flu burung terjadi di Indonesia dan berusaha melindungi dari bahaya pandemi influenza," katanya.
Namun, pemerintah tidak mungkin memberantas penyakit itu secara maksimal tanpa kerja sama masyarakat. Selama ini, upaya pencegahan dan penanggulangan flu burung di Indonesia dilakukan melalui peningkatan kemitraan antara beberapa pihak dan membangun komunikasi dengan masyarakat. Langkah komunikasi sendiri, selain dilakukan pemerintah, juga melibatkan tokoh masyarakat, media massa, organisasi pemuda, organisasi wanita, mahasiswa, pramuka, karang taruna dan kelompok tradisional.
Sementara Ketua Komite Nasional Pengendalian Flu Burung dan Pandemi Influenza, Dr Bayu Krisnamurti dalam dialoh publik pada pameran Indonesia Livestock 2008 di Jakarta menyatakan, pemerintah sendiri sudah mengambil langkah-langkah strategi untuk menanggulangi penyakit ini, terutama pemusnahan unggas, penyemprotan desinfektan penghilang virus Avian Flu, penyuluhan dan kampanye rutin.
Selain merenggut puluhan nyawa manusia, sebut Bayu, penyakit tersebut menyisakan kerugian secara ekonomis. Total kerugian sejak 2004 hingga 2007 mencapai Rp 4,1 trilyun. Nilai tersebut belum termasuk hilangnya kesempatan kerja dan kerugian akibat berkurangnya konsumsi protein masyarakat. ‘’Dalam kasus kematian, 70 persen kasus kematian manusia akibat flu burung terjadi di Jawa Barat, Jakarta dan Banten tercatat 54 persen kasus, di Jabodetabek 63 persen kasus yang berulang (di wilayah yang sama dalam waktu singkat) terjadi di Jakarta dan Tangerang. Perkembangan virus telah mempengaruhi efektivitas 15 jenis vaksin untuk mencegah penyakit unggas se-Jabodetabek,’’ jelasnya.
Kepala Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan DKI Jakarta, drh Edy Setyarto mengatakan avian influenza merupakan penyakit menular yang disebabkan virus influenza yang ditularkan unggas dapat menyerang manusia. Gejala orang yang terserang penyakit ini, kata Setyarto, biasanya diawali gejala klinis seperti demam, sakit tenggorokan, batuk, nyeri otot, beringus, sakit kepala dan lemas. Dalam waktu singkat penyakit ini menjadi lebih berat berupa peradangan di paru-paru (pneumonia), bila tidak segera ditangani bisa menyebabkan kematian. Penularan pada manusia melalui udara yang tercemar virus tersebut, baik dari tinja, sengkret dan air liur unggas, serta mereka yang rentan kena virus ini adalah peternak, penjual dan penjamah unggas. (Antara/Agus Salam)
Sebelum dialog digelar, Wakil Wali Kota Pekalongan, Abu Almafakhir didampingi Staf Ahli Menkominfo Bidang Media Massa, Henry Subiakto menyerahkan wayang Puntodewo kepada Dalang Ki Warsetno Slenk. Menurut Suprawoto, mewabahnya flu burung yang diidentifikasi sebagai penyebab meninggalnya ratusan orang itu telah menimbulkan kepanikan yang luas bagi masyarakat karena jenis penyakit ini bisa menular dan mengancam kesehatan manusia.
Meluasnya wabah penyakit tersebut, memacu pemerintah menetapkan sebagai kejadian luar biasa (KLB) dan berusaha untuk menanggulangi. "Pemerintah tidak menginginkan pandemi flu burung terjadi di Indonesia dan berusaha melindungi dari bahaya pandemi influenza," katanya.
Namun, pemerintah tidak mungkin memberantas penyakit itu secara maksimal tanpa kerja sama masyarakat. Selama ini, upaya pencegahan dan penanggulangan flu burung di Indonesia dilakukan melalui peningkatan kemitraan antara beberapa pihak dan membangun komunikasi dengan masyarakat. Langkah komunikasi sendiri, selain dilakukan pemerintah, juga melibatkan tokoh masyarakat, media massa, organisasi pemuda, organisasi wanita, mahasiswa, pramuka, karang taruna dan kelompok tradisional.
Sementara Ketua Komite Nasional Pengendalian Flu Burung dan Pandemi Influenza, Dr Bayu Krisnamurti dalam dialoh publik pada pameran Indonesia Livestock 2008 di Jakarta menyatakan, pemerintah sendiri sudah mengambil langkah-langkah strategi untuk menanggulangi penyakit ini, terutama pemusnahan unggas, penyemprotan desinfektan penghilang virus Avian Flu, penyuluhan dan kampanye rutin.
Selain merenggut puluhan nyawa manusia, sebut Bayu, penyakit tersebut menyisakan kerugian secara ekonomis. Total kerugian sejak 2004 hingga 2007 mencapai Rp 4,1 trilyun. Nilai tersebut belum termasuk hilangnya kesempatan kerja dan kerugian akibat berkurangnya konsumsi protein masyarakat. ‘’Dalam kasus kematian, 70 persen kasus kematian manusia akibat flu burung terjadi di Jawa Barat, Jakarta dan Banten tercatat 54 persen kasus, di Jabodetabek 63 persen kasus yang berulang (di wilayah yang sama dalam waktu singkat) terjadi di Jakarta dan Tangerang. Perkembangan virus telah mempengaruhi efektivitas 15 jenis vaksin untuk mencegah penyakit unggas se-Jabodetabek,’’ jelasnya.
Kepala Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan DKI Jakarta, drh Edy Setyarto mengatakan avian influenza merupakan penyakit menular yang disebabkan virus influenza yang ditularkan unggas dapat menyerang manusia. Gejala orang yang terserang penyakit ini, kata Setyarto, biasanya diawali gejala klinis seperti demam, sakit tenggorokan, batuk, nyeri otot, beringus, sakit kepala dan lemas. Dalam waktu singkat penyakit ini menjadi lebih berat berupa peradangan di paru-paru (pneumonia), bila tidak segera ditangani bisa menyebabkan kematian. Penularan pada manusia melalui udara yang tercemar virus tersebut, baik dari tinja, sengkret dan air liur unggas, serta mereka yang rentan kena virus ini adalah peternak, penjual dan penjamah unggas. (Antara/Agus Salam)


0 komentar:
Posting Komentar