Menghadapi Asia Free Trade Area (AFTA) 2010, Rumah Sakit (RS) di Indonesia harus mulai berpikir untuk bersaing dengan RS di kawasan Asia terutama dalam segi kualitas, keselamatan, biaya dan pelayanan kepada pasien. "Jika tidak mampu bersaing, maka rumah sakit di Indonesia akan diserbu tenaga kesehatan dari luar negeri dan kondisi tersebut adalah hal yang sangat mengkhawatirkan," kata Direktur Eksekutif Jogja International Hospital (JIH), dr Suprijanto Rijadi, di Yogyakarta, Minggu (13/7).
Rijadi mengakui, rumah sakit di Indonesia memang sudah ketinggalan banyak dari segi safety kepada pasien dibanding rumah sakit di luar negeri seperti Singapura dan Malaysia. Indonesia saat ini sudah dipandang sebagai pasar dan bukan pesaing oleh rumah sakit di luar negeri.
Salah satu cara untuk bisa bersaing dengan rumah sakit di luar negeri terutama dalam sisi kualitas dan keselamatan, sebut RIjadi, sebuah rumah sakit memerlukan sertifikat yang menyatakan layanan rumah sakit memenuhi standar internasional. Namun untuk memperoleh sertifikat tersebut sangat tidak mudah, sebab harus diperoleh dari sebuah lembaga yang disebut Joint Commision International (JCI), dan di Asia berpusat di Singapura. Jadi, secara tidak langsung suatu rumah sakit harus berpatokan pada standar yang ditetapkan Singapura.
Saat ini, satu-satunya rumah sakit di Indonesia yang memiliki sertifikat JCI adalah Siloam Hospital di Jakarta. Fakta buram ini menjadi tantangan serius yang harus dijawab. Meski banyak rumah sakit di Indonesia yang memiliki ISO, tetapi baru satu bersertifikat JCI. Lebih unik lagi, kata Rijadi, saat ini yang sudah terjadi di Indonesia, RS membeli barang keperluan medis ke luar begeri atau orang Indonesia memilih berobat ke luar negeri dan perusahaan luar negeri masuk ke Indonesia. "Untuk mengantisipasi supaya Indonesia tidak diserbu oleh tenaga medis dari luar negeri, maka langkah pertama yang harus dilakukan adalah memperbanyak tenaga medis dari Indonesia," katanya.
Sesudahnya, lanjut Suprijanto, adalah mulai membentuk suatu kesatuan yang utuh dan terpadu antara tenaga dokter dan rumah sakit sehingga menciptakan suatu manajemen yang baik. "Yang terjadi hingga saat ini adalah tenaga dokter yang merasa keenakan karena jumlah pasiennya banyak. Sehingga tidak memiliki pemikiran untuk mendahulukan pasien," katanya.
Suprijanto menegaskan, sudah saatnya setiap rumah sakit mendahulukan kepentingan pasien dan sudah saatnya pula seorang dokter hanya praktek di satu rumah sakit. Sebab, saat ini banyak dokter yang praktek di banyak rumah sakit. "Kondisi itu bisa menghambat sebuah rumah sakit mendapat sertifikat JCI," tandas Rijadi sembari menambahkan bahwa suatu rumah sakit tidak hanya menjadi tempat berobat tetapi juga bertindak layaknya hotel, bandara, mall dan bank. (Antara)
Rijadi mengakui, rumah sakit di Indonesia memang sudah ketinggalan banyak dari segi safety kepada pasien dibanding rumah sakit di luar negeri seperti Singapura dan Malaysia. Indonesia saat ini sudah dipandang sebagai pasar dan bukan pesaing oleh rumah sakit di luar negeri.
Salah satu cara untuk bisa bersaing dengan rumah sakit di luar negeri terutama dalam sisi kualitas dan keselamatan, sebut RIjadi, sebuah rumah sakit memerlukan sertifikat yang menyatakan layanan rumah sakit memenuhi standar internasional. Namun untuk memperoleh sertifikat tersebut sangat tidak mudah, sebab harus diperoleh dari sebuah lembaga yang disebut Joint Commision International (JCI), dan di Asia berpusat di Singapura. Jadi, secara tidak langsung suatu rumah sakit harus berpatokan pada standar yang ditetapkan Singapura.
Saat ini, satu-satunya rumah sakit di Indonesia yang memiliki sertifikat JCI adalah Siloam Hospital di Jakarta. Fakta buram ini menjadi tantangan serius yang harus dijawab. Meski banyak rumah sakit di Indonesia yang memiliki ISO, tetapi baru satu bersertifikat JCI. Lebih unik lagi, kata Rijadi, saat ini yang sudah terjadi di Indonesia, RS membeli barang keperluan medis ke luar begeri atau orang Indonesia memilih berobat ke luar negeri dan perusahaan luar negeri masuk ke Indonesia. "Untuk mengantisipasi supaya Indonesia tidak diserbu oleh tenaga medis dari luar negeri, maka langkah pertama yang harus dilakukan adalah memperbanyak tenaga medis dari Indonesia," katanya.
Sesudahnya, lanjut Suprijanto, adalah mulai membentuk suatu kesatuan yang utuh dan terpadu antara tenaga dokter dan rumah sakit sehingga menciptakan suatu manajemen yang baik. "Yang terjadi hingga saat ini adalah tenaga dokter yang merasa keenakan karena jumlah pasiennya banyak. Sehingga tidak memiliki pemikiran untuk mendahulukan pasien," katanya.
Suprijanto menegaskan, sudah saatnya setiap rumah sakit mendahulukan kepentingan pasien dan sudah saatnya pula seorang dokter hanya praktek di satu rumah sakit. Sebab, saat ini banyak dokter yang praktek di banyak rumah sakit. "Kondisi itu bisa menghambat sebuah rumah sakit mendapat sertifikat JCI," tandas Rijadi sembari menambahkan bahwa suatu rumah sakit tidak hanya menjadi tempat berobat tetapi juga bertindak layaknya hotel, bandara, mall dan bank. (Antara)


0 komentar:
Posting Komentar