Perajin patung dan aneka kerajinan seni lainnya di Desa Mulyoharjo, Kecamatan Kota, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah saat ini merasakan sepinya transaksi penjualan benda seni sebagai dampak krisis finansial global.
Meskipun krisis tersebut terjadi di luar negeri, kata salah satu perajin patung, Masduri, di Jepara, kepada Antara, Jumat (7/11), dampaknya dirasakan para perajin patung di desa ini, karena sekitar 90 persen pembelinya merupakan warga asing.
Ia mengatakan, lesunya transaksi penjualan mulai dirasakan perajin patung sejak awal September 2008 lalu. Bahkan, pengambilan serta pembayaran pesanan dari pembeli asal Amerika sempat tertunda selama tiga bulan lebih, akibat terjadi krisis finansial. "Awalnya, selang satu bulan (Oktober) pesanan akan diambil sekaligus pelunasan pembayaran, namun baru terlaksana selang tiga bulan," katanya.
Hingga kini, pihaknya memang masih merasakan dampak krisis tersebut, karena pembeli dari negera Eropa dan Asia belum melakukan transaksi kembali. Bahkan, sejumlah perajin ada yang mengalami sepi transaksi sejak tiga bulan terakhir. Juga tidak ada orang asing yang berlalu lalang mengunjungi sentra perajin patung hingga pekan ini, dibanding sebelumnya yang selalu ramai.
Padahal, kata dia, setiap transaksi dengan pembeli asing, nilainya mencapai Rp50 juta, sedangkan pembeli lokal hanya berkisar Rp5 juta-an. "Sementara ini, perajin lebih menggantungkan transaksi dari pembeli domestik," ujarnya.
Pernyataan serupa juga diungkapkan perajin patung lainnya, Tono. Ia mengatakan, pihaknya masih menggantungkan transaksi dari pembeli domestik. Sebelumnya, pihaknya sering menjadi langganan pembeli dari Amerika, Prancis, dan Italia. "Saat ini saya sedang menyelesaikan pesanan dari pembeli asal Bali dengan nilai transaksi berkisar Rp6 juta-an," ungkapnya.
Karya seni yang dihasilkan berupa souvenir unik, seperti cermin unik dari batang pohon jati, asbak unik, altar, dan sejumlah karya seni unik lainnya yang dijual dengan harga antara Rp30.000 hingga Rp200 ribu per unit.
KPO/EDISI 163/NOVEMBER 2008
Meskipun krisis tersebut terjadi di luar negeri, kata salah satu perajin patung, Masduri, di Jepara, kepada Antara, Jumat (7/11), dampaknya dirasakan para perajin patung di desa ini, karena sekitar 90 persen pembelinya merupakan warga asing.
Ia mengatakan, lesunya transaksi penjualan mulai dirasakan perajin patung sejak awal September 2008 lalu. Bahkan, pengambilan serta pembayaran pesanan dari pembeli asal Amerika sempat tertunda selama tiga bulan lebih, akibat terjadi krisis finansial. "Awalnya, selang satu bulan (Oktober) pesanan akan diambil sekaligus pelunasan pembayaran, namun baru terlaksana selang tiga bulan," katanya.
Hingga kini, pihaknya memang masih merasakan dampak krisis tersebut, karena pembeli dari negera Eropa dan Asia belum melakukan transaksi kembali. Bahkan, sejumlah perajin ada yang mengalami sepi transaksi sejak tiga bulan terakhir. Juga tidak ada orang asing yang berlalu lalang mengunjungi sentra perajin patung hingga pekan ini, dibanding sebelumnya yang selalu ramai.
Padahal, kata dia, setiap transaksi dengan pembeli asing, nilainya mencapai Rp50 juta, sedangkan pembeli lokal hanya berkisar Rp5 juta-an. "Sementara ini, perajin lebih menggantungkan transaksi dari pembeli domestik," ujarnya.
Pernyataan serupa juga diungkapkan perajin patung lainnya, Tono. Ia mengatakan, pihaknya masih menggantungkan transaksi dari pembeli domestik. Sebelumnya, pihaknya sering menjadi langganan pembeli dari Amerika, Prancis, dan Italia. "Saat ini saya sedang menyelesaikan pesanan dari pembeli asal Bali dengan nilai transaksi berkisar Rp6 juta-an," ungkapnya.
Karya seni yang dihasilkan berupa souvenir unik, seperti cermin unik dari batang pohon jati, asbak unik, altar, dan sejumlah karya seni unik lainnya yang dijual dengan harga antara Rp30.000 hingga Rp200 ribu per unit.
KPO/EDISI 163/NOVEMBER 2008


0 komentar:
Posting Komentar