BBM Turun Salah, Naik Juga Salah

thumbnail
Oleh: Panca Hari Prabowo
Beberapa hari ini masyarakat mulai menikmati harga jual baru premium dan solar yang lebih murah, -- Rp 500 dan Rp 700 dari harga sebelumnya. Meski muncul pro kontra, pemerintah memiliki alasan terkait penurunan harga jual kedua jenis bahan bakar itu. ‘’Terkait inflasi pemerintah memutuskan berapa harga BBM yang tepat dan pantas. Saya sudah mengambil keputusan untuk menurunkan harga premium dan solar,’’ kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono didampingi Wakil Presiden Jusuf Kalla di Jakarta, Minggu (16/12).
Ada pergeseran harga minyak mentah dunia yang terus turun, meski sulit diprediksi. Keputusan untuk menurunkan harga premium dan solar selain didasari harga minyak dunia yang turun, juga dilandasi pertimbangan untuk menekan inflasi sehingga daya beli masyarakat dan kemampuan sektor riil bisa terjaga. Penurunan harga premium dan solar yang diumumkan Presiden lebih dilatari pada komitmen untuk meningkatkan daya beli, menggerakkan sektor riil, menjaga aspek psikologis masyarakat dan kemampuan APBN 2009 untuk menopang perekonomian.
Pembangunan infrastruktur diharapkan dapat menyerap tenaga kerja dan terus mendorong pertumbuhan ekonomi. Inti dari masalah yang dihadapi Indonesia akibat krisis keuangan global adalah perlambatan pertumbuhan ekonomi. ‘’Hampir dapat dipastikan pertumbuhan ekonomi kita turun dibandingkan rata-rata dua tahun terakhir ini yang di atas enam persen dan berpengaruh pada pengangguran yang mengemuka serta pada ekspor,’’ katanya.
Usaha pemerintah untuk menciptakan lapangan pekerjaan melalui pembangunan infrastruktur, kata Presiden Yudhoyono, akan terbatas. Karena itu diperlukan peran serta dari pihak swasta termasuk pembiayaan. Tentu ada batas lapangan pekerjaan yang dapat diciptakan dari dana pemerintah, dank arena itu penting didorong adanya public partnership sehingga lebih banyak infrastruktur yang dibangun dan lebih banyak angkatan kerja yang terserap.
Kebijakan pemerintah untuk menurunkan harga jual premium dan solar mendapat tanggapan beragam baik dari masyarakat, pengusaha SPBU maupun kalangan politisi. Dari kalangan pengusaha SPBU mengeluh karena menderita kerugian. Terkait keluhan pengusaha stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) soal margin harga pembelian premium dan solar sebelum dan setelah penurunan harga, Sri Mulyani mengatakan Menneg BUMN bersama Pertamina siap membahas kompensasi untuk kalangan pengusaha itu karena ada masalah dalam ongkos. Karena itu, perlu digulirkan ada kompensasi yang seimbang dan wajar kepada pengusaha SPBU demi mencegah terjadinya kelangkaan BBM. Per 1 Desember, kompensasi yang diminta SPBU sebesar Rp 27 miliar dengan asumsi sehari penjualan 54 kilo liter.
Dari kalangan politisi, kebijakan yang diambil Presiden Yudhoyono dan Wapres Jusuf Kalla dinilai sebagai salah satu usaha meningkatkan popularitas. Menteri Komunikasi dan Informatika M. Nuh mengatakan, penurunan harga premium dan solar tidak ada kaitannya dengan isu politik termasuk untuk menaikkan popularitas. ‘’Jangan dipandang bahwa penurunan BBM ini berkaitan dengan kebijakan politik praktis yang arahnya ke 2009 tetapi ini kebijakan publik yang tujuannya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat,’’ tegas Nuh.
Penurunan harga premium Rp 5000 per liter dan solar Rp 4800 per liter karena harga minyak di pasar dunia memang turun. Harga komoditas hampir selalu bersifat situasional dan sangat tergantung variabel-variabel termasuk penawaran dan permintaan. Saat menaikan harga BBM 24 Mei 2008 untuk mengurangi beban masyarakat, pemerintah menyuntikkan Bantuan Langsung Tunai (BLT) sebagai subsidi langsung.
Karena itu, saat ini pihaknya mengajak seluruh masyarakat untuk tidak menggunakan pendekataan curiga secara politik. ‘’Kondisinya saat ini BBM dinaikkan salah, diturunkan salah, dibiarkan juga salah. Jadi siapapun pemerintahnya berhak menentukan kebijakan maka selama kebijakan itu bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat mohon dilihat secara jernih. Ini tidak ada kaitannya dengan politik praktis atau pilpres,’’ katanya.
Penurunan harga BBM merupakan bentuk konsistensi pemerintah yang sebelumnya sudah menaikkan harga BBM karena harga minyak dunia naik. Dengan demikian konsekuensinya adalah menurunkan harga BBM saat harga minyak dunia turun. ‘’Sangat tidak konsekuen namanya kalau saat kita menaikkan BBM karena harga minyak dunia naik. Saat ini turun ya memang sudah seharusnya turun,’’ katanya. (Anspek)
Koran Pak Oles/Edisi 166/1-15 Januari 2009

Sayuran Dalam Ikatan Merah Putih

thumbnail
Jalan beraspal itu tampak tidak begitu mulus dan tidak cukup lebar. Hanya pas untuk satu kendaraan roda empat. Sepanjang tepi jalan mengikuti alur selokan tertata apik, meski tidak seperti proyek trotoar di daerah perkotaan. Air irigasi pertanian tradisional (subak) yang mengalir di selokan cukup jernih, menggenangi sawah dan kolam ikan yang terbentang di hilir Banjar Ole, Desa Marga Dauh Puri, Kabupaten Tabanan, 27 km barat laut Kota Denpasar.
Jaringan jalan sempit sekitar 2 km membelah areal pertanian Subak Mole dan Subak Sengawang dengan hamparan sawah seluas 50 hektar, meski sebelumnya hanya jalan setapak. Pelebaran jalan secara gotong royong di tahun 1996 lalu diaspal Pemkab Tabanan dengan harapan bisa menghubungkan Taman Makam Pahlawan (TMP) Pujaan Bangsa Margarana dengan obyek wisata Alas Kedaton, --tempat ratusan ekor kera dan kelelawar besar.
Jalan aspal yang dihubungkan dengan jembatan darurat (titi) dari bambu khusus pejalan kaki jadi rute Lintas Alam dan Pedusunan (LAD) ratusan peserta dalam memeriahkan peringatan HUT PWI, RRI, TVRI dan LKBN ANTARA, hari Minggu (21/12). Lintas alam dan pedusunan sejauh 7 km dengan start dan finish di depan candi TMP Margarana.
Rute yang dijajal sekitar sejam itu, para peserta harus melewati Banjar Kelaci, Subak Babakan dan Banjar Adeng serta meniti jembatan tradisional dari bambu yang melintang di atas aliran sungai kecil sebelum mendaki tebing terjal diapit jurang curam, lalu memasuki hamparan padi menguning di areal Subak Sengawang, Banjar Ole. Uniknya, Asisten Teritorial Kasdam IX/Udayana Kol Inf Sudiarja dan para peserta dikadoi cinderamata berupa secekal sayuran dalam ikatan merah putih dari petani yang sedang panen.
I Nyoman Sada (35), petani sayur-mayur menghadiahkan hasil panenan kepada setiap peserta lintas alam pedusunan. Kol Sudiarja mengaku terharu dan bangga ketika disodori seikat sayuran dengan tali pita merah putih. Seikat sayuran daun gonda dan bayam dengan pita merah putih dipersembahkan petani Desa Adat Ole, Marga.
Kawasan Desa Adat Ole dikenal sebagai daerah gerilya pahlawan nasional I Gusti Ngurah Rai dalam merebut kemerdekaan bangsa dari tangan penjajah. Di depan Pura Dalem Basa Ole yang kerap dipakai tempat bersemedi oleh I Gusti Ngurah Rai, Aster dan peserta gerak jalan LAD lainnya tiba-tiba disodori seikat sayuran berpita merah putih hasil pertanian masyarakat setempat. ‘’Wah, berpita merah putih. Ini benar-benar desa pahlawan,’’ ujar Sudiarja.
Rute yang dilalui peserta Lintas Alam dan Pedusunan menyimpan kisah heroik karena pernah dilewati pasukan Ciung Wanara pimpinan Brigjen Anumerta I Gusti Ngurah Rai (pahlawan nasional) ketika merampas sanjata NICA di Tabanan, 19 Nopember 1946. Senjata hasil rampasan lalu digunakan untuk perang habis-habisan (puputan) melawan penjajah Jepang di subak Umakaang, yang kini dikenal Puputan Margarana, yang diperingati per 20 Nopember.
Di lokasi bekas perang itu kini berdiri sebuah candi dan 1.371 tugu kecil di atas areal 10 hektar, berkait erat dengan kiprah perjuangan mempertahankan kemerdekaan RI pimpinan I Gusti Ngurah Rai (almarhum), pahlawan nasional asal Bali. Candi Pahlawan Taman Pujaan Bangsa Margarana memiliki nilai historis, mengingat kesaksikan secara kasat mata, warga Bali memberi tempat yang sangat istimewa bagi Sang Tokoh. Hingga nama I Gusti Ngurah Rai diabadikan menjadii nama jalan, bangunan dan Bandara Internasional di Tuban, patung Ngurah Rai di pertigaan Jl Bandara arteri Tuban-Sanur-Nusa Dua, di samping nama sebuah perguruan tinggi swasta di kota Denpasar.
Masyarakat Bali memberikan tempat instimewa bagi sang tokoh, Brigjen Anumerta I Gusti Ngurah Rai yang tidak bisa dipisahkan dengan Desa Marga. Bangsa Indonesia secara resmi telah memproklamasikan kemerdekaannya tanggal 17 Agustus 1945. Namun kolonial Belanda masih belum rela melepaskan wilayah jajahannya. Pertempuran berdarah habis-habisan termasuk di Desa Marga, 20 Nopember tahun 1946.
I Gusti Ngurah Rai dipercayakan memimpin pasukan tempur melawan NICA Belanda. Menurut kisahnya, lebih dari 1.000 prajurit pimpinannya memilih Banjar Ole, Desa Marga sebagai markasnya. Mereka tersebar di sejumlah rumah penduduk, sedangkan I Gusti Ngurah Rai memilih kediaman Wayan Pasek (almarhum). Arena pertempuran di lokasi lain di seberang sungai, yang kini menjadi kawasan Candi Pahlawan Taman Pujaan Bangsa Margarana. Pertempuran berlangsung sengit. Ngurah Rai bersama pasukan dengan dukungan masyarakat tidak pernah surut semangat mengusir penjajah. Bahkan nyaris menaklukkan pasukan NICA. Ketika kemenangan hendak digapai, pasukan udara NICA datang. Mereka menjatuhkan bom dari udara dan Marga hancur berantakan. Akibatnya, Kapten Ngurah Rai bersama sekitar 1.370 anggota pasukan pendukung gugur dalam medan laga.
Menelusuri tebing yang terjal dengan semak belukar sebelum melewati jalan subak yang beraspal seakan-akan menggapai kedamaian dan keheningan khas pedesaan, lengang dari bising mesin kendaraan bermotor. Kotek dan kokok ayam bersautan di pagi hari, seirama embusan angin serta mengikuti gesekan daun dan ranting bambu.
Di sini, dari kaki kampung, antara tegakan rumpun bambu, terdengar riakan air mengalir. Dingin dan bening, nyaris tidak dibiarkan mengalir leluasa karena terus dialirkan untuk genangi hamparan sawah, tambak, sawah dan kebun sayuran. Banjar berpenduduk 345 kepala keluarga (KK) atau 1.200 jiwa, memiliki lahan subur yang ditopang debit air yang besar sebagai karunia bagi para petani desa ‘pahlawan’ itu. Dari bentangan lahan sawah, tidak sejengkalpun dibiarkan telantar.
Klian Banjar Adat Ole, Pan Rasta mengaku, mayoritas warga bergantung dari sawah beternak sapi, babi, ayam, menanam sayuran dan memelihara ikan. Khusus beternak sapi, sistim pemeliharaan diikat di bawah pondok sederhana (kandang), yang terlihat menyebar di sejumlah titik di tepi sawah. Pakan cukup diambil dari pematang sawah atau sekitar selokan di tepi jalan yang ditanami rumput gajah. ‘’Beternak sapi di sini cukup menjanjikan. Pemeliharaan tidak banyak menyita waktu atau tidak merepotkan, harganya baik,’’ jelas petani I Wayan Karya (39) yang sehari-hari diakrabi Pan Angga.
Bagi warga petani di Banjar Ole, memelihara sapi ibarat menabung dengan bunga menjanjikan. Mengikuti musim, para petani larut dalam kesibukan rutinitas. Ada sekelompok petani sedang membenahi petak sawah jadi tambak udang atau kolam air tawar, yang lain sibuk menanam benih padi yang sempat jadi pusat perhatian peserta lintas alam pedusunan. (Ketut Sutika dan Yanes Setat/Anspek)
Koran Pak Oles/Edisi 166/1-15 Januari 2009

Kemacetan Lalu Lintas Disyukuri

thumbnail
Kemacetan lalu lintas yang terjadi di kawasan pariwisata di Bali sejak menjelang Natal hingga tahun baru patut disyukuri, karena menunjukkan sektor pariwisata cukup menggairahkan. "Kemacetan lalu lintas terutama di kawasan Kuta, Nusa Dua dan sekitarnya dipicu dengan banyaknya kendaraan dari luar Bali yang digunakan wisatawan," kata Kepala Dinas Perhubungan Informasi dan Komunikasi Provinsi Bali Ir Ida Bagus Made Parsa MM kepada Antara di Denpasar, Rabu (31/12).
Wisatawan yang datang dengan kendaraan pribadi dari berbagai kota di Pulau Jawa diperkirakan akan menikmati liburan di Bali hingga tanggal 2 atau 3 Januari 2009. Kendaraan dalam berbagai jenis dari luar daerah yang masuk ke Bali diperkirakan mencapai 3.700 unit, sehingga menambah kepadatan lalu lintas yang sehari-harinya memang sudah padat.
Hotel Melati Padat
Sementara sejumlah turis domestik kesulitan mendapat tempat menginap di Denpasar untuk menghabiskan libur akhir tahun karena hotel-hotel kelas melati juga ludes dipenuhi turis domestik itu.
Seorang petugas Hotel Warta Sari, di dekat Terminal Ubung, Denpasar, Rabu petang, menyatakan, semua hotel di kawasan ini ludes. "Kami saja harus berkali-kali menolak tamu yang datang dari Jakarta, Surabaya, dan banyak kota lain. Susah cari hotel sekarang-sekarang ini."
Hotel kelas melati itu, katanya, memiliki 30 kamar yang dijual dengan harga Rp100.000 per malam. Saat ditemui, di halaman parkir hotel yang sempit itu, terdapat enam bus besar berisikan rombongan darmawisata sekolah menengah atas dari Cianjur, Jawa Barat. "Semua kamar sudah di-`booking` rombongan ini. Yang tidak tertampung harus rela tidur di hotel tetangga. Kami sudah biasa bekerja sama seperti itu dan pihak rombongan biasanya maklum, toh jaraknya dekat sekali," kata Made Sutrisna, petugas hotel itu.
Bukan cuma di kawasan Ubung saja hotel-hotel kelas melati itu penuh, karena penginapan serupa di pinggiran Kabupaten Tabanan yang berbatasan dengan Kabupaten Badung juga demikian.
Wisma Puri yang terletak di pinggir sawah di kawasan Kapal, sebagai misal, delapan kamar yang dimiliki wisma sederhana seharga Rp30.000 per malam itu juga ludes dipenuhi turis domestik.
Satu mobil Toyota Kijang berpelat nomor Sumatra Utara parkir di dalam halaman wisma itu. "Kami harus menginap di sini karena di Denpasar tidak ada tempat lagi. Untung dapat dua kamar jadi kami sekeluarga bisa nyaman tidur selama enam hari ini," kata Johni Marpaung, warga Medan, Sumatra Utara, yang datang ke Bali sejak tiga hari lalu bersama anak-isteri dan pembantunya. Akhir tahun 2008, terjadi lonjakan jumlah turis domestik menjadi sekitar 9.000 orang per hari dari yang semula cuma 5.000 orang per hari.
Koran Pak Oles/Edisi 166/1-15 Januari 2009

Dua Belas Jalan Kemerosotan

thumbnail
Oleh: Pak Oles
Hidup ini misteri? Ya. Kita tidak mengetahui apa yang akan terjadi besok. Kita tidak mengetahui kapan berakhir. Itulah rahasianya. Apakah setiap kematian ada awal kehidupan baru? Itulah misteri. Semuanya menjadi rahasia hidup. Saat kita miskin atau jatuh, kita tidak tahu apa bisa kembali berjaya atau tidak. Di saat kita berjaya, kita juga tidak tahu kapan jatuh, jatuh secara perlahan-lahan, jatuh mendadak atau terperosok ke jurang. Itulah yang kita tidak tahu. Karena tidak tahu, maka tetaplah waspadalah, selalulah siaga.
Untuk berbuat baik susahnya minta ampun. Tetapi untuk berbuat jahat semudah membalik telapak tangan. Perbuatan baik ibarat menabung, jika dikumpulkan sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit. Perbuatan jahat ibarat menggali lubang, jika rajin dilakukan, lama-lama menjadi jurang. Menabung diperlukan komitmen dan disiplin. Mengutang dapat dilakukan secara serampangan. Jika masih ada asset yang bisa digade, hutang dipersilahkan. Jika asset sudah habis, siapa sudi berurusan dengan pengemplang?
Budha Gautama mengatakan, ada dua belas jalan kemerosotan. Yang pertama, siapa yang mencintai agama (dhamma), dialah jaya. Siapa yang membenci agama, dialah merosot. Ibarat bangunan, Agama adalah dasar yang sangat penting untuk menjaga agar bangunan menjadi kokoh. Agama itu harus dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari, bukan sekedar diucapkan, diplesetkan, bahkan dijadikan bahan guyon. Lemahnya praktek agama dalam kehidupan sehari-hari bisa direkam dari plesetan singkatan dan akronim yang ada di masyarakat, seperti: TTM (Teman Tapi Mesra) untuk selingkuh; STMJ (Sembahyang Terus Maksiat Jalan) untuk orang munafik; Selingkuh (Selingan indah keluarga utuh); BBS (Bobo-Bobo Siang) untuk selingkuh; SAL (Sex After Lunch) untuk selingkuh setelah makan siang; Muda kaya raya mati masuk sorga (untuk pencinta narkoba, pemabuk dan pemalas); Munafik (muka nabi fikiran kotor); dan masih banyak lagi contoh kata-kata baru di masyarakat yang menyiratkan bahwa kita sudah menjauhi jalan agama. Itulah jalan kemerosotan.
Yang kedua, gemar berbuat buruk, berteman dengan orang buruk adalah sebab kemerosotan. Teman yang buruk adalah ia yang mendorong kita berbuat buruk, ia yang menggerogoti, ia yang mengangguk di depan tetapi menunggingi dari belakang, ia yang benalu dan ia yang tidak membantu saat dibutuhkan.
Yang ketiga, hidup boros, malas, dan mudah marah. Membuang waktu dan uang untuk hal-hal yang tidak penting adalah sebab kemerosotan. Hidup boros dan malas menyebabkan kemiskinan. Orang malas tidak memiliki semangat. Semangat memble menutup kesempatan baik. Mudah marah adalah penyebab perpecahan, rezeki menjauh dan kehilangan banyak hal.
Yang keempat, tidak menghormati dan tidak membantu ayah dan ibu. Durhaka dan tidak meghiraukan orang tua akan menutup pintu rezeki. Doa dan harapan orang tua sangat mustajab untuk keberhasilan anaknya. Tunjukkan sikap hormat dengan perbuatan, perkataan dan pikiran yang baik, niscaya hidup bisa dihadapi dengan lebih mudah.
Yang kelima, menipu dan berdusta. Dengan menipu dan berdusta menumbuhkan kecurigaan dan ketidak-percayaan orang lain kepada kita. Apalagi yang kita tipu adalah orang suci, pemimpin agama atau rohaniawan. Dengan menipu hidup kita merosot. Penipu dan pengemplang sudah masuk daftar hitam, sehingga susah untuk bisa berkembang.
Jalan keenam, menggunakan kekayaan hanya untuk diri sendiri. Kekikiran dan egoisme menjauhkan persahabatan. Bersedekah bertujuan untuk memuliakan harta. Kekayaan yang hanya digunakan untuk diri sendiri tidak akan banyak manfaatnya, tetapi jika digunakan untuk meningkatkan kehidupan orang lain dan masyarakat luas akan meningkatkan kehidupan kita sendiri.
Jalan ketujuh, sombong dan takabur karena keturunannya, kekayaannya dan kesukuannya, bahkan merendahkan sanak saudaranya sendiri. Orang yang sombong dan takabur pasti jatuh. Kerendahan hati menjaga kejayaan.
Jalan kedelapan, menyerahkan diri pada wanita rendah, mabuk, suka minum keras, judi, menghamburkan apa yang telah dapat dicarinya. Jika salah satu dari hal tersebut sedang kita lakukan, maka lebih baik dihentikan, karena itu jalan menuju kebangkrutan. Jika belum percaya, karena lagi asyik, silakan teruskan, pasti hasilnya tinggal kolor saja.
Jalan kesembilan, selingkuh. Barang siapa yang tidak puas dengan istrinya sendiri, memelihara wanita/pria lacur, sering terlihat bersama istri/suami orang lain, itulah sebab kemerosotan. Ternyata kehidupan seks yang bebas menyebabkan kebangrutan. Karena daging seuprit hidup kita bisa terperosok. Memang kenikmatan liar harganya mahal dan berisiko tinggi.
Jalan kesepuluh. Barang siapa yang sudah lewat masa mudanya, lalu memperistri wanita remaja yang cantik, istri itu selalu membuatnya cemburu dan selalu dijaga, itulah sebab kemerosotan. Setiap hari hidupnya penuh was-was, cemburu, dan berkerja keras untuk menafkahi istrinya lahir batin, padahal tubuhnya sudah tidak mampu. Mana tahan..! Yang ini benar-benar keterlaluan. Mobil tua dipaksa ngebut oleh supir muda. Mesin bisa meledak.
Jalan kesebelas, Barang siapa memberi kekuasaan melewati batas, baik kepada seorang wanita atau pria, yang kedua-duanya bersifat pemboros, itulah sebab kemerosotan. Ibarat menyerahkan senjata tajam kepada pemabuk, tentu senjata itu bisa melukai, bahkan membunuh pemiliknya.
Jalan kedua belas. Barang siapa yang ingin menjadi pemimpin, tetapi tidak memiliki kekuatan untuk memimpin, karena keinginannya besar menginginkan kekuasaan, inilah jalan kemerosotan. Peringatan keras bagi caleg, cabup, cagub dan capres, tolong ukur-ukur dulu kemampuannya, sebelum stress dan bangkrut, jangan terlalu diporsir, karena banyak jalan menuju kejatuhan, melalui politik uang, tim sukses yang morotin, dan sumbangan-sumbangan yang ingin memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Membeli suara ibarat membeli togel, lebih banyak membangkrutkan daripada memenangkan.
Jika kedua belas jalan kemerosotan itu dijadikan kompas hidup, mudah-mudahan kebangkrutan bisa dihindari. Karena sifat manusia selalu lupa dan tidak sadar saat berjaya, saat susah baru menyesal. Eling….Eling…. Eling..!
Koran Pak Oles/Edisi 166/1-15 Januari 2009

Tua-tua Keladi

thumbnail
Tanya: Saya, seorang kakek, umur 60 tahun. Neneknya juga hampir sebaya. Walaupun tenaga saya senen kemis, tapi masih juga ada power dikit-dikit. Yang menjadi pertanyaan, justru goyangan neneknya tambah hot dan kreatif. Jadi saya harus mengimbangi dengan olah raga dan minum suplemen. Gimana ya?
Dari: Sudarto, Yogyakarta.

Jawab: Itu yang diharapkan. Tua-tua keladi, semakin tua semakin jadi. Ibarat mobil tua, kalau dirawat baik, ya tokcer juga dong. Walaupun senen kemis, alon-alon waton kelakon, biar lambat asal selamat. Kalau jalan menurun dan datar boleh ngebut. Jalan nanjak, pelan-pelan aja kek…!
Menurut hasil penelitian tentang seks, wanita yang sudah menopause ternyata masih hot juga lho…! Bahkan banyak yang menganut aliran ekspresif (bebas) dan agresif (galak) dengan pasangannya. Kenapa? Karena dia merasa bebas dan tidak takut hamil. Karena dia sudah sangat berpengalaman. Karena dia sudah sangat mengenal kemampuan pasangannya. Makanya jangan anggap enteng. Kakek-kakek harus bisa mengimbangi jurus nenek. Jangan sampai terus mengecewakan. Jangan sampai mati kutu.
Koran Pak Oles/Edisi 166/1-15 Januari 2009

Menyelamatkan Pendidikan Indonesia

thumbnail
Oleh: Agus Mutohar*
Wajah pendidikan Indonesia yang menimbulkan teror bagi siswanya ternyata bukan wacana belaka. Riset yang dilakukan oleh Dr. Nugroho dari Universitas Negeri Semarang (UNNES) yang disampaikan dalam diskusi ”Arah Pendidikan Indonesia” pertengahan November lalu membuktikan bahwa lebih dari 5 % pengajaran di sekolah menjadikan beban berat bagi siswa dan bisa mengakibatkan stress.
Pekan lalu, saya mengadakan evaluasi dan konseling akhir sebelum ujian semester bagi kelas XII. Dalam proses konseling banyak murid mengeluhkan tertekan menghadapi ujian akhir nasional (UAN) yang naik standar kelulusannya, dari 5.25 menjadi 5.5.
Pendidikan idealnya membimbing anak didik menuju puncak kreativitas bukan menjadikan tekanan bagi siswa.
Raport merah pendidikan Indonesia yang panjang adalah buah dari kesalahan landasan filosofis pendidikan yang berpusat pada konsep transfer pengetahuan.
Secara historis, sistem pendidikan Indonesia sebenarnya mengacu kepada sistem pendidikan Amerika yang dikembangkan atas reaksi AS terhadap keberhasilan Uni Soviet meluncurkan pesawat luar angkasa Sputnik pada tahun 1957.
Para pemimpin AS saat itu berada dalam kepanikan, sehingga mereformasi sistem pendidikannya agar lebih berorientasi pada penyiapan siswa untuk memasuki perguruan tinggi serta menitikberatkan pada kemampuan akademik siswa agar para lulusan mampu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK).
Anehnya, ketika Amerika Serikat telah mengubah sistem pendidikan yang berorientasi pada pengetahuan melalui proyek-proyeknya seperti “America 2000: an Educational Strategy”, justru Indonesia melanggengkan sistem tersebut lewat kebijakan-kebijakan seperti UAN.
Sistem pendidikan yang hanya berorientasi aspek kognitif hanya berpihak bagi sebagian kecil siswa. Dalam tinjuan psikologis, sistem tersebut cocok bagi manusia yang memiliki intelegensi tinggi, dan itu hanya dimiliki tak lebih dari 15 % dari populasi siswa.
Sebagian besar manusia memiliki kecenderungan lain seperti musikal, motorik, bahasa dan lainnya. Oleh karena itu, dalam proses belajar mengajar banyak siswa merasa terbebani akibat pembelajaran yang tidak sesuai bagi mereka.
Dalam situasi seperti itu, siswa seakan tidak ada pilihan lain untuk tidak mengikuti pembelajaran di kelas. Jika dibiarkan maka pendidikan justru akan menjadi teror bagi siswa.
Belajar pada Jepang
Sistem pendidikan di Jepang sangat berbeda dengan Indonesia, mereka lebih berpihak pada penyaluran bakat siswa-siswa di sekolah. Dengan strategi ini, sistem pendidikan di Jepang terutama pendidikan dasar relatif tidak sulit dan menyenangkan bagi anak-anak.
Buah dari sistem pendidikan yang unggul, Jepang menjadi negara yang besar dalam kualitas produksi, bahkan mampu menggunguli Amerika.
Selain itu, Jepang terkenal dengan keterampilan yang handal. Jepang mampu menghasilkan produk-produk terkenal dengan kualitas bagus yang merupakan buah tangan dari para pekerja yang terampil, pekerja keras, percaya diri dengan kemampuannya dan mempunyai kualitas karakter lainnya yang mendukung.
Menegok kualitas Negara kita. Kualitas SDM (Human Development Index) Indonesia tahun 2007/2008 sekarang menduduki peringkat nomor 107 yang masih tergolong rendah. Selain itu, hasil survei PERC di 12 negara juga menunjukkan bahwa Indonesia berada di urutan terbawah, satu peringkat di bawah Vietnam.
Kualitas SDM yang buruk ini merupakan efek panjang dari carut marutnya sistem pendidikan Indonesia.
Hasilnya adalah generasi yang tidak percaya diri (inferior complex), sehingga sempurnalah pencetakan SDM Indonesia yang berada dalam urutan bawah; tidak bisa bekerja, tidak terampil, tidak percaya diri, dan tidak berkarakter.
Banyak siswa tumbuh dalam kesalahan sistem pendidikan. Bakat-bakat mereka pun terabaikan dalam kungkungan pengetahuan. Yang terjadi mereka tidak menghargai pekerjaan manual yang memerlukan keterampilan, kerajinan, dan ketekunan.
Pendekatan pembelajaran yang terlalu kognitif pun telah mengubah orientasi belajar para siswa menjadi semata-mata untuk meraih nilai tinggi. Situasi ini dapat memicu para siswa untuk mengejar nilai dengan cara yang tidak jujur, seperti mencontek, menjiplak, dan sebagainya.
Dalam situasi belajar yang tidak mendukung ini, guru dituntut menjadi aktor utama sebagai agen pembaharuan. Peningkatan otoritas bagi guru dalam pendidikan sekarang ini membuka kesempatan bagi mereka untuk mengajar secara profesional.
Guru tidak harus mengajar berdasarkan pada petunjuk teknis yang lebih banyak bersifat teoritis (textbook oriented), melainkan guru memiliki kebebasan untuk mengembangkan pembelajran menjadi lebih menarik dengan mengakomodasi kemampuan dan bakat siswa.
Guru bisa memakai teori-teori pengajaran yang baru seperti contextual learning (CTL) yang menekankan pada pembelajaran berbasis realita daripada pengajaran yang hanya mentransfer pengetahuan untuk dihafalkan.
Demikian pula guru dapat diharapkan mengupayakan bahwa apa yang diajarkan dapat difahami oleh semua murid sehingga keberhasilan untuk semua murid tanpa memandang latar belakang mereka.
Hemat saya, yang terpenting adalah keseriusan (political will) dari pemerintah untuk berani mengubah arah pendidikan Indonesia menuju pendidikan yang humanis (memanusiakan manusia) bukan dehumanis (menghilangkan kemanusiaan manusia) lewat kebijakan-kebijakan yang populis. Semoga perubahan segera terjadi!
*) Pendidik, alumnus University of South Carolina, Amerika Serikat, tinggal di Kendal, Jateng.
Koran Pak Oles/Edisi 166/1-15 Januari 2009

Bahaya Laten Elitisme Pendidikan

thumbnail
Oleh: Nurani Soyomukti*
Pendidikan sebagai bagian dari hak yang elitis bukan sejarah masa kini. Kisah bahwa pendidikan tinggi hanayalah untuk anak-anak orang kaya adalah kisah yang tersaji dalam sejarah penindasan dan ketimpangan sosial dalam masyarakat kita.
Proyek privatisasi kampus sebagai isian utama status BHP, yang dalam banyak hal adalah keinginan para pemilik modal (kapitalis) yang dijalankan melalui status kampus menjadi BHP, merupakan upaya untuk semakin merunyamkan kondisi lembaga pendidikan dan masyarakat yang meradikalisasi kapitalisme (neo-liberal) era ini. Pendidikan bukan lagi dilihat sebagai pelayanan negara terhadap warga yang sifatnya wajib, tetapi sektor jasa yang diperjualbelikan. Tampaknya para elit yang mensahkan UU tersebut tidak menyadari bahwa mereka telah memenangkan proyek pemodal asing yang memang ingin menghilangkan campurtangan negara untuk mengurusi pendidikan tinggi rakyatnya.
Dalam kesepakatan WTO, sektor pendidikan termasuk dalam 12 sektor lainnya yang harus diliberalkan. Hal ini berarti pendidikan akan menjadi komoditi jasa untuk akumulasi modal. Dalam sebuah makalah disebutkan bahwa pada tahun 1999, “industri pendidikan” menyumbang 9,4 milyar dollar AS dan diramalkan naik menjadi 53 milyar dollar AS pada tahun 2003.
Tujuannya BHP (Badan Hukum Perusahaan) adalah agar negara lepas tangan negara atas pembiayaan pendidikan nasional; tentunya supaya BHP lebih leluasa mencari jejaring modal lain yang bersedia membiayai, baik dalam maupun luar negeri (Pasal 2 alternatif). Dua sisi keping mata uang dari fungsi PT BHMN dan postur BHP dapat terbaca dalam RUU BHP. PT BHMN otomatis akan menjadi BHP jika rancangan itu disahkan DPR (Pasal 55 [1] RUU BHP). Tujuannya begitu jelas, untuk menegaskan liberalisasi dan kapitalisasi berbagai sector yang ada. Pada hal pendidikan adalah termasuk sektor jasa (dan pelayanan publik).
Elitisme
Selain itu, karena adanya fakta bahwa kapitalisme selalu ingin menjadikan segala sesuatu sebagai komoditas yang dapat dijual untuk mencari keuntungan, maka PT dilihat sebagai lembaga yang dapat mendatangkan keuntungan jika dibisniskan. Maka, kedua, kapitalisme pendidikan membuat pendidikan eksklusif dan elitis karena akan dihuni oleh mereka yang mampu membelinya. Hanya kalangan kaya yang mampu dan hak-hak setiap orang untuk mendapatkan sekolah diingkari. Sekolah yang akhirnya diisi oleh anak-anak orang berduit menunjukkan adanya elitisme pendidikan.
Apa yang akan terjadi? PT akan diisi anak-anak manja yang cara pandangnya sangat borjuis dan anti-perubahan karena mereka adalah bagian dari kelas konservatif yang masuk PT bukan untuk memahami kontradiksi kelas sosial, tetapi hanya anak-anak orang kaya yang datang ke kampus untuk menunjukkan status atau gaya hidup. Berbeda ketika anak-anak orang miskin dapat masuk ke PT, mereka datang bukan hanya sekedar untuk menggapai status ’mahasiswa’, tetapi juga telah datang dengan latarbelakang yang membaca cara pandang perubahan karena mereka adalah generasi yang berada dalam kelas bawah yang lebih mampu merasakan kontradiksi dan penindasan. Sedangkan ketika kampus hanya diisi anak-anak orang kaya dan berduit, kampus akan konservatif dan hanya jadi ajang birokrasi untuk menyedot uang dengan alasan pembiayaan pendidikan kampusnya, pada hal pada kenyataannya juga banyak yang masuk ke kantong oknum birokrasi. Artinya kondisi itu juga akan memperbesar peluang korupsi di perguruan tinggi.
Di era kapitalisme modern, anak-anak kapitalis (pemodal besar) tentu saja juga mendapatkan pndidikan yang eksklusif dan khusus yang kadang telah dipastikan untuk mewarisi perusahaan-perusahaan atau kekayaan yang dimiliki orangtuanya setelah meninggal. Ekskusifitas itu kadang berlebihan, dan menunjukkan betapa egoisme para orangtua yang merupakan kalangan elit dan pmilik perusahaan-perusahaan itu. Mereka adalah para pejabat tinggi negara yang tidak mau memberikan pendidikan pada rakyatnya di negerinya sendiri, tetapi justru menyekolahkan anak-anaknya ke luar negeri. Mereka adalah para pemilik perusahaan besar yang buruhnya dibayar murah hingga tak mampu menyekolahkan anaknya, tetapi justru mengirimkan anak-anaknya ke sekolah-sekolah yang sangat mewah dan elit.
Tentu saja mereka adalah anak-anak muda yang akan menjadi pengganti orangtuanya. Mereka akan menduduki berbagai macam profesi dan jabatan. Kalau mereka menjadi hakim, mereka—kata Gibran—akan “memandang dengan muka masam pada anak-anak ladang”. Mereka akan menjadi pembela para koruptor. Kalau mereka pengambil kebijakan, mereka akan membuat rakyat menderita dengan kebijakan yang dibuatnya. Kalau mereka pengusaha, mereka tentu hanya akan membayar buruh dengan upah, akan “bersinambung dan bergabung”—begitu dalam bahasa Gibran—dengan para pejabat negara untuk menindas dan menipu rakyat.
Artinya, komersialisasi dan elitisme pendidikan tinggi akan membawa efek buruk bagi bangsa ini ke depan karena yang lahir adalah reproduksi kondisi sosial di mana ketimpangan sosial akan tetap tegak dengan berbagai efek pemiskinannya. Anak-anak dari kalangan bawah tak mampu memberdayakan diri dan memobilisasi ke arah vertikal karena pendidikan sebagai syarat terjadinya mobilisasi diisi oleh mereka yang mampu membayar lebih mahal. Pendidikan mahal dan konservatif adalah sebab-sebab dari ambruknya bangsa ini ke depan.
Elitisme pendidikan itulah yang akan melahirkan kalangan elitis yang tidak mampu memahami kebutuhan massa rakyat karena sejak awal mereka dididik dalam mnara gading kekuasaan dan dijauhkan dari massa itu sendiri. Kampus-kampus dan sekolah-sekolah mewah itu—dan kadang dipagari dengan tembok tinggi atau terletak di gedung tinggi menjulang bertingkat—tak akan melahirkan generasi-generasi yang hirau pada cita-cita pembebasan bagi umat manusia. Karena letaknya terlanjur terpisah dari masyarakat yang terus saja memanggil-manggil dan meminta keadilan. Pendidikan elitis adalah pendidikan yang justru diorganisir untuk mendukung berjalannya penindasan.
*) Pengelola Yayasan KOTEKA (Komunitas Teman Katakata) dan perawat TABUR (Taman Belajar untuk Rakyat) Jawa Timur.
Koran Pak Oles/Edisi 166/1-15 Januari 2009

UU BHP, Bukan Untuk Rakyat

thumbnail
Ditetapkannya UU BHP ternyata menjadi berita duka oleh masyarakat dan para palajar. Banyak mahasiswa yang melakukan demonstrasi terhadap pengesahan itu. Selain menggeser UU No 20 tahun 2003, UU BHP juga memberikan beban bagi masyarakat miskin.
Dengan itu, bisa dikatakan Pemerintah mulai mengabaikan pendidikan untuk rakyat miskin. Tujuan pendidikan untuk membangun etos kemajuan dan perkembangan keilmuan rakyat Idonesia, mulai dikomersialisasikan Pemerintah. Hal itu sejak ditetapkannya UU BHP yang mengandung unsur desentralisasi atau otonomi pendidikan. Kecenderungan ini akan mengakibatkan institusi pendidikan akan berlomba-lomba mencari keuntungan sebesar-besarnya dengan membebani masyarakat.
Di satu sisi, rakyat miskan semakin ketinggalan pendidikan dan perguruna tinggi swasta lambat laun akan gulung tikar. Selain UU BHP sebagai bentuk otonomi pendidikan, UU itu juga menimbulkan persaingan pendidikan komersial. Sebagaimana yang telah dikatakan oleh pengamat pendidikan dari Universitas Negeri Jakarta, dalam Diskusi Panel “Otonomi Kampus dan Peluang Perbaikan Bangsa” yang diadakan Lembaga Kajian dan Pengabdian Masyarakat Demokratis (LPPMD) Universitas Padjadjaran di Bandung, Muchlis Luddin mengatakan, UU BHP pada implementasinya memicu persaingan tinggi di antara Lembaga Kajian Pendidikan. Akibatnya, dana hibah dari Pemerintah akan kian sulit didapat. Kampus tidak lagi menjadi benteng peradaban. Padahal, lewat lembaga pendidikanlah peradaban dan nasib bangsa ini akan dipertaruhkan,” (Kompas 19/12).
Pandangan Muchlis disahkannya UU BHP itu, pendidikan hanya dibuat persaingan untuk meraup kekuasaan. Di samping itu, Perguruan Tinggi Negeri juga akan semakin leluasa mencari dana dari masyarakat. Apa lagi UU ini membuka jalan peluang bagi asing untuk memegang saham 49 persen dalam tiap satuan pendidikan tingkat menengah dan Universitas. Melihat ini, tidak semua lembaga pendidikan itu kuat secara finansial seperti halnya PTS atau lembaga pendidikan swasta. Bisa dikatakan lembaga pendidikan itu sebagai korban dari UU BHP. PTS akan kian sulit dalam menggalakkan pembiayaan. Bisa jadi PTS akan gulung tikar karena tidak adanya bantuan yang proporsional dari pemerintah. Melihat ini, tidak semua lembaga pendidikan itu kuat secara finansial seperti halnya PTS atau lembaga pendidikan swasta.
Pengesahan itu akan menutup kemungkinan rakyat semakin kehilangan pendidikan. Selain biaya sesemakin mahal, proses belajar mengajarnya juga perlu dipertanyakan. Kalau sistem pendidikan hanya dikuasai oleh orang-orang kaya, maka ini akan terjadi ketimpangan pendidikan terhadap rakyat miskin. Fenomena kebodohan masyarakat Indonesia juga akan terjadi.
(Komentar: Nur Kholis Anwar, Staf Kordinator Kjian Ilmiah Pada Lembaga Kajian Kutub Yogyakarta [LKKY])
Koran Pak Oles/Edisi 166/1-15 Januari 2009

Pemimpin Gelembung Sabun

thumbnail
Dalam sebuah refleksi Joglosemar mengungkap adanya fenomena pemimpin model gelembung sabun yang mewabah di Indonesia. Sekarang ini, orang menganggap enteng untuk menjadi pemimpin. Maka, beramai-ramailah mereka berebut jadi pemimpin lewat pemilu, pilkada maupun caleg. Mereka menganggap menjadi pemimpin bisa serba cepat. Punya duit, bisa maju pemilu, pilkada atau caleg, jadilah pemimpin.
Serba cepat, dan serba gampang ini menyerupai gelembung sabun yang cepat membesar tetapi tak berisi. Gelembung itu membuat orang tertarik tetapi sesungguhnya kosong melompong, hampa dan semu. Namanya juga gelembung sabun, ia terus membesar, tetapi cepat atau lambat, akan meletus atau mengempis. Saat itulah diketahui kesemuannya sekaligus “kosong melompong” tadi.
Celakanya saat mengempis tadi, publik terlanjur terkecoh. Iklan politik bertubi-tubi, politik pencitraan yang direkayasa apik, sampai money politics hakikatnya membangun gelembung sabun itu. Orangpun takjub berlari-lari mengikuti gelembung sabun itu. Ia meliuk-liuk bermanuver mengikuti arah angin. Sampai meletus dan orangpun kecewa.
Pemimpin model gelembung sabun ini tentu jauh dari sosok beretika maupun berkarakter. Di sini yang dominan adalah pragmatisme politik. Jangan kaget jika dewasa ini pragmatisme politik bukan lagi gejala sesaat, tetapi sudah mengakar di kalangan elite politik.
(Komentar: Rosi Sugiarto, Pondok TK Al Firdaus BSB Jatisari Mijen, Semarang)
Koran Pak Oles/Edisi 166/1-15 Januari 2009

Tantangan Pariwisata Bali 2009

thumbnail
Membuat Turis Kembali Berkunjung
Derah tujuan wisata Pulau Bali perlu lebih menekankan peningkatan kualitas produk, mengingat tingkat pertumbuhan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) semakin terbatas. "Era `construction boom` pariwisata Bali kelihatannya sudah berakhir, sehingga ke depan harus dipikirkan untuk meningkatkan kualitas pelayanan," kata Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Udayana Prof Dr I Nyoman Erawan kepada Antara.
Kunjungan wisman dalam tahun 2007 tercatat 1,7 juta atau 31,64 persen dari total touris ke Indonesia sebanyak 5,5 juta. Kunjungan tersebut dalam tahun 2008 hanya meningkat sedikit dibanding tahun sebelumnya. Demikian pula dari kunjungan tahun 2003 hingga 2006 persentase peningkatannya relatif kecil. Tahun 2003 kunjungan wisman ke Bali tercatat satu juta, 2004 meningkat menjadi 1,5 juta, 2005 1,4 juta dan 2006 1,3 juta orang.
Erawan menjelaskan, proyeksi kunjungan wisman ke Bali dalam tahun 2008 diasumsikan 1,7 juta orang, meningkat menjadi 1,8 juta pada tahun 2009 dan tahun 2010 jadi 1,9 juta, tahun 2011 dua juta, 2012 sebanyak 2,1 juta dan 2013 diharapkan mencapai 2,2 juta pelancong.
Adanya upaya meningkatkan kualitas produksi pariwisata Bali diharapkan mampu meningkatkan kunjungan wisatawan, meskipun mereka sudah sering kali berliburan di Pulau Dewata.
Perekonomian Bali yang digerakkan oleh industri pariwisata telah mampu mengubah dengan cepat struktur ekonomi dari agraris ke sektor jasa. "Peran sektor tersier sangat dominan, yakni mencapai 63,03 persen dan kesempatan kerja 42,01 persen," katanya.
Tahun 1971 ketika sektor pariwisata mulai dirintis sektor primer menyumbangkan 59,07%, sekunder 7,57% dan tersier 33,36% terhadap produk domestik regional bruto (PDRB). Namun dalam perkembangan kini PDRB Bali andil terbesar dari sektor tersier yakni 63,03%n atau meningkat hampir dua kali lipat, menyusul sektor sekunder 14,81% dan sektor primer 22,16%, ujar Erawan yang dikutip Antara.
Sementara Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali, Gede Nurjaya berharap kemajuan sektor pariwisata Bali bisa diikuti oleh sektor primer lainnya, seperti pertanian yang selama ini menjadi sektor primer. "Kita melihat ada potensi yang bisa dialihkan antara sektor pariwisata dengan sektor pertanian. Langkah itu akan berjalan bila semua masyarakat bergerak kearah itu," katanya.
Sektor pertanian diharapkan bisa berjalan seiring dengan kemajuan sektor pariwisata yang kini terus mengalami peningkatan signifikan. "Sektor pertanian harusnya bisa memanfaatkan potensi sektor pariwisata yang kini terus mengalami perkembangan pesat," kata Nurjaya.
Karena meningkatnya sektor pariwisata tentu saja akan meningkatkan konsumsi produk pertanian. Kondisi paradoks sektor pertanian saat ini secara bertahap harus mulai di hilangkan.
Berdasarkan data World Tourism Organization (WTO) memperkirakan jumlah kunjungan wisatawan internasional pada tahun 2010 mencapai angka 1,048 miliar orang. Pada tahun 2020 jumlah ini akan meningkat menjadi 1,602 miliar orang.
Dari jumlah tersebut 231 juta dan 438 juta akan berada di kawasan Asia Timur dan Asia Pasifik. WTO juga memperkirakan pendapatan dari sektor pariwisata tahun 2020 mencapai 2 triliun dolar AS atau Rp12.000 triliun.
Koran Pak Oles/Edisi 166/1-15 Januari 2009

Garap Pasar Wisatawan Domestik

thumbnail
Jumlah kunjungan wisatawan domestik ke Bali yang meningkat cukup signifikan pada musim libur akhir tahun 2008, merupakan kekuatan pasar yang sangat potensial untuk terus dikembangkan.
"Masih sangat banyak orang kita yang ingin berwisata ke Bali, karena berbagai hal," kata koordinator badan pariwisata "Bali Tourism Board-BTB", Ida Bagus Ngurah Wijaya, kepada Antara di Denpasar, Minggu (28/12).
Wisatawan domestik, di antaranya penasaran ke Bali karena keindahan alam, kekayaan budaya, kesamaan rasa, dan yang juga penting adalah tarifnya terjangkau mengingat ada banyak pilihan. "Inilah kenyataan yang harus dikembangkan ke depan," ucapnya.
Data Posko Terpadu Bandara Ngurah Rai menyebutkan, kunjungan wisdom setelah libur Natal (25/12) dalam sehari melebihi 9.000 orang. Sementara selama enam hari sejak digelar pengamanan Natal, Senin (22/12) tercatat 25.702 penumpang domestik yang mendarat di Bali, naik 13 persen dari periode sama libur Natal 2007.
Peningkatan kehadiran wisatawan dalam negeri itu, menurut Ngurah Wijaya, juga memberi dampak pemerataan belanja wisata. "Kalau wisatawan luar negeri berbelanja di galeri-galeri seni, maka wisatawan domestik lebih memilih ke toko-toko suvenir. Yang semacam UKM. Jadi masyarakat merasakan manfaat kehadiran mereka secara langsung. Ini bagus sekali," katanya.
Wisatawan domestik, juga hadir dalam kurun waktu dan momen yang sudah bisa diperkirakan, terutama bertepatan libur sekolah dan akhir tahun. Jumlahnya juga dapat diprediksi.
Hal itu terkait dengan kalender nasional yang mudah dilihat untuk memperkirakan kedatangan saat-saat berwisata. "Beda dengan wisatawan luar negeri. Mereka bisa hadir kapan saja, karena berasal dari negara-negara berbeda dengan kalender nasional dan kepentingan masing-masing. Jadi sebetulnya kehadiran dua kategori wisatawan ini saling melengkapi," kata Ngurah Wijaya.
Secara umum, wisatawan dalam negeri akan berbelanja suvenir di toko-toko barang kerajinan dan memilih makan di rumah-rumah makan yang cita rasanya sudah akrab di lidah masyarakat Indonesia. "Suvenir yang dibawa juga yang ringan-ringan dan ringkas, namun dalam jumlah cukup banyak. Kebanyakan untuk oleh-oleh bagi keluarga dan kerabat di daerah asal," tambahnya.
Koran Pak Oles/Edisi 166/1-15 Januari 2009

T-Shirt "Bandoeng" Diburu Wisatawan

thumbnail
Kaos atau T-Shirt bergambar "Bandoeng Tempo Doeloe" terus diburu para wisatawan domestik yang tengah berlibur akhir tahun di Bandung.
Pemantauan Anatara, T-Shirt yang dijual berkisar Rp12.500 hingga Rp15.000 itu laris manis sejak beberapa hari lalu dan bagi wisatawan yang menginginkan T-shirt bertulisan dan gambar yang lebih berkualitas dapat membelinya dengan harga yang lebih tinggi.
"Kemarin saya habis lima lusin, lumayan pembeli meningkat sejak awal liburan lalu," kata Sodikin (35) salah seorang penjual T-Shirt Bandoeng Tempo Doeloe di Jalan Cihampelas Kota Bandung.
Baju kaos diantaranya bergambar Gedung Sate, Gedung Merdeka, Bangunan Ardeco di kawasan Braga, Gedung Geologi, Gungng Tangkuban Perahu serta gambar lainnya dijual secara lesehan oleh penjualnya. "Rata-rata pembeli memilih gambar Gedung Sate dan Gedung Merdeka, keduanya memang jadi ikon Kota Bandung," katanya.
Para pembelinya, selain warga ibukota Jakarta, juga para pelajar asal Jateng, Banten, Yogyakarta dan Lampung yang tengah melakukan study tour.
Namun tidak sedikit pembeli yang singgah di Kota Bandung sebelum mudik ke kawasan Priangan dan Jawa Tengah untuk libur Natal 2008 dan Tahun Baru 2009.
Selain T-shirt oleh-oleh khas Bandung bertuliskan "Bandoeng" , juga ada bergambar dan bertuliskan obyek wisata luar negeri sepeti Menara Eifel di Prancis, Singapura, Malaysia, Jepang dan lainnya.
Koran Pak Oles/Edisi 166/1-15 Januari 2009

Pasar Senthir Yogyakarta Kian Menarik

thumbnail
Berkat dana stimulan sebesar Rp590 juta yang digulirkan Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta, penampilan dan kondisi fisik pasar Senthir yang berada di kawasan Malioboro kini semakin menarik dan memanjakan pedagang karena tidak harus mengemasi barang dagangan ketika hujan datang.
"Dana bantuan tersebut merupakan hibah swakelola yang pelaksanaan pekerjaan dan pemeliharaannya memerlukan partisipasi masyarakat, dalam hal ini komunitas parkir selatan pasar Beringharjo," kata Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Kota Yogyakarta, Aman Yuriadijaya kepada Antara.
Sebuah "shelter" panjang siap melindungi pedagang, selain itu barang dagangan juga bisa ditata rapi pada sebuah meja yang dasarnya berwarna hijau. "Dana bantuan tersebut diberikan kepada komunitas yang tergabung dalam Paguyuban Pasar Sore, Persatuan Pedagang Kaki Lima Yogyakarta 37 (PPKLY 37) dan Paguyuban Pedagang Pasar Yogyakarta (Papasta)," katanya kepada Anara.
Dana stimulan tersebut digunakan untuk pembangunan "shelter" dan los PKL Papasta sebanyak satu paket, pembangunan "shelter" atau los PKL PPKLY sebanyak 50 unit, pengadaan meja dasar PKL Papasta sebanyak 71 unit, pengadaan angkutan barang sebanyak satu unit dan sewa gudang.
Sedangkan untuk angkutan barang diwujudkan dalam bentuk sebuah sepeda motor yang dimodifikasi dengan menambah bak pengangkut.
Pemkot Yogyakarta memberikan dana stimulan tersebut sebagai bentuk komitmen untuk mendorong kemandirian usaha mikro kecil di daerah ini.
Koran Pak Oles/Edisi 166/1-15 Januari 2009

"Pattidana", Ritual Kontak Batin Dengan Leluhur

thumbnail
Pengurus Cabang Magabudhi Kota Semarang menggelar upacara "Pattidana" atau pelimpahan jasa di Vihara Tanah Putih Semarang, Senin (29/12).
"Pattidana adalah upaya untuk melaksanakan kontak batin dengan leluhur. Kontak tersebut terjalin karena mengembangkan kebajikan-kebajikan yang diwujudkan dengan memberikan perhatian kepada leluhur yang pernah membangun kehidupan bagi kita," kata Bhikkhu Sujano dalam "dhammadesana` (khotbah) di hadapan umat Buddha.
Upacara Pattidana atau pelimpahan jasa yang diselenggarakan setiap akhir tahun oleh Pengurus Cabang Magabudhi Kota Semarang ini merupakan salah satu upacara ritual yang dimaksudkan untuk menyalurkan jasa kepada sanak keluarga yang sudah meninggal.
Dengan melakukan upacara ini diharapkan apabila mereka yang sudah meninggal dunia itu dilahirkan dalam alam yang menyedihkan dan menderita dapat mengakhiri penderitaan karena limpahan jasa oleh keturunannya.
Menurut dia, manfaat pelaksanaan upacara ini akan membantu kesulitan yang dihadapi, bagaikan jembatan yang terjalin antara leluhur dengan yang ditinggalkan.
Pandita D. Henry Basuki, sesepuh Umat Buddha di Semarang mengatakan, tidak selayaknya meninggalkan penghargaan atas jerih payah serta perjuangan para pendahulu yang sudah meninggal.
Mereka, kata dia, telah mengedepankan kemampuan yang ada serta harta benda untuk melestarikan agama Buddha di Indonesia. Peninggalan itu berupa bangunan, buku, tulisan, gagasan, maupun semangat yang tetap ada hingga sekarang ini. "Sudah selayaknya generasi penerus senantiasa memberikan penghargaan dengan cara memelihara warisan yang ditinggalkan serta meningkatkan semangat juangnya demi masa depan. Merupakan etika untuk menghargai jasa-jasanya," katanya.
Ia menyebutkan, beberapa pemuka Agama Buddha yang telah meninggal dunia antara lain Bhikkhu Khemasarano THera, bhikkhu yang cukup lama bermukim di Viahara Tanah Putih serta membina Umat Buddha sampai ke pelosok desa, MU S Mangunkawatja yang juga tokoh Taman Siswa dan pernah menjadi anggota MPRS, Pandji Bagus S yang senantiasa mengisi kekurangan biaya operasional Vihara Tanah Putih pada awal berdirinya.
Kemudian Pandita Silasuriya yang membangun stupa di atas dhammasala Vihara Tanah Putih, Pendita Sabar Alym, Pandita Reksowardoyo yang meninggalkan terjemahan Kitab Badra Santi.
Berkaitan dengan acara ini juga dilaksanakan "abaya dana" (Fang Sen) dengan cara melepaskan burung sebagai lambang dana kebebasan bagi setiap makhluk yang terbelenggu kebebasannya. Upacara ditutup dengan pelimpahan jasa dengan cara menuangkan air sebagai lambang tersalurnya jasa kepada yang telah meninggal.
Koran Pak Oles/Edisi 166/1-15 Januari 2009

Belby Enterprise Mendidik Model Profesional

thumbnail
Oleh: Beny Uleander
Industri hiburan menjadi ladang usaha yang digarap serius Pipiet Fitria, wanita berdarah Bandung yang lahir dan besar di Surabaya.
Setelah lama bekerja di beberapa event organizer, akhirnya sejak tahun 2002, ia pun mantap mendirikan EO sendiri dengan nama Belby Enterprise.
Fokus garapan di bidang modelling, sexy dancer, cheerleaders, aerobic, management artis, party organizer dan costum. Agency Belby Enterprise sejak tahun 2004 membuka sekolah kepribadian yang mendidik calon model profesional “Saya awalnya ikut dengan teman-teman dalam sebuah event, tapi saya selalu melihat ada hal yang selalu kurang. Karena itulah saya tertantang untuk membuat sendiri event organizer lengkap dengan bagian produksinya. Model kami sering tampil dalam berbagai event expo produk di Bali Galeria,” ujarnya.
Pipiet, sapannya, mengawali karir dancer di Bandung dan Surabaya. Ia menguasai beberapa jenis tarian, termasuk tarian perut yang kini diajarkan kepada para remaja dan model yang bergabung di Agency Belby Enterprise. “Mereka diajarkan tari kontemporer, dancer, modern dance, hiphop, belly dances (tarian perut), R&B, cabaret dan cheerleaders,” sebut Pipiet.
Saat ini Agency Belby Enterprise memiliki modeling yunior 180-an orang (TK-SMP) dan senior mencapai 60-an orang yang berasal dari kalangan remaja dan mahasiswa.
Sekolah kepribadian seminggu penuh pada sore hari untuk yunior dan senior. Mereka diajarkan materi kepribadian dan tatarias. Pada hari Rabu dan Sabtu khusus mendalami kepribadian. Hari Senin dan Jumat khusus tata rias dan modeling. Sedangkan latihan diisi pada hari Selasa dan Kamis yang didampingi 6 instruktur, 3 orang fokus di bidang modeling dan sisanya mendampingi para model di bidang dances.
Selama setahun pendidikan, ada kegiatan wisuda yang bertepatan dengan hari jadi Belby Enterprise tanggal 1 Mei. Saat itu, lulusan Belby Enterprise menerima sertifikat dan piala penghargaan untuk siswa yang berprestasi. Belby Enterprise sudah melahirkan 200-an angkatan siswa modeling. Sekali wisuda bisa mencapai 100-an orang. “Model dan dancer kami sering tampil regular setiap minggu di tempat hiburan Kuta dan Nusa Dua,” ujar Pipiet.
Menurut Pipiet, tidak ada kriteria khusus untuk anak-anak TK, SD maupun SMP yang ingin bergabung dengan Agency Belby Enterprise. Karena sekolah kepribadian di Belby Enterprise khusus menanamkan rasa percaya diri anak-anak untuk tampli di depan umum. “Ada pendidikan mental untuk anak yang minder dan kurang bergaul agar bisa bersosialisasi, pede berjalan di panggung, tahu cara bergaya dan berpose di depan kamera,” urainya.
Bagi calon model senior ada persyaratan tinggi badan: 165-172 cm untuk perempuan dan untuk pria berkisar 170-an cm. Para model dituntut bisa menamplikan kecantikan secara total, luar dalam, bukan cantik secara formalitas. “Misalnya, wajah yang eksotik dan bisa mengekspresikan jati diri dengan jadi model. Tentu saja mereka harus menunjukan prestasi dan kemampuan. Jadi bakat harus nomor satu di bidang catwalk, inner beauty, cara busana, tata rambut dan sebagainya,” tukas Pipiet yang membuka studio di Komplek Pertokoan Kertha Wijaya Jl Diponegoro No. 124 Denpasar dan Jl Tangkupan Perahu, Kuta.
Koran Pak Oles/Edisi 166/1-15 Januari 2009

Meraih Kesuksesan Otentik

thumbnail
Judul: Your Great Success Starts from Now
Penulis: Thomas Sugiarto
Pengantar: Dr. Ciputra
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2008
Tebal: xxxviii + 220 halaman
Peresensi: Nurul Maghfiroh*

Sukses di usia muda merupakan idaman bagi semua orang. Apalagi dengan penghasilan 1 miliar per bulan. Hidup akan menjadi indah tanpa beban.
Thomas Sugiarto mengajak semua orang untuk hidup mulia (sejahtera). Thomas melalui buku ini ingin membagi cerita tentang kesuksesan dirinya membangun bisnis asuransi. Dia memilih meninggalkan bisnis properti papan atas yang sedang berkembang di kawasan Pondok Indah Jakarta, untuk menggeluti bidang barunya itu. Dia beranggapan bahwa memimpin perusahaan properti menyita banyak waktu. Dia ingin bebas dari belenggu itu.
Dalam buku ini, Thomas menguraikan, kebebasan financial dan waktu dapat diwujudkan dengan leveraging system (konsep bekerja dengan seribu tangan). Yaitu sebuah konsep dimana dirinya diibaratkan sebagai kepala cabang sebuah bank. Dia telah menyeleksi 20 orang terbaik dengan etos kerja dan visi yang luar biasa. Mereka dilatih dan dibina dengan sepenuh hati mulai dari level trainee, supervisor, kepala devisi, dan branch manager. Promosi diberikan bagi mereka yang melampaui target pendapatan. Pada setiap tingkatan Thomas mendapatkan overriding (presentase pembayaran) dari kesuksesan semua tim di tingkat trainee, supervisor, kepala devisi, hingga manager.
Dalam menjalankan bisnisnya ini, Thomas berprinsip “yakin bisa sebelum melihat hasil”. Inilah yang kemudian disebuat sebagai keajaiban kaum entrerpreneur. Keyakinan ini konon juga dipraktikan oleh pengusaha-pengusaha sukses di seluruh dunia, seperti Bill Gates dengan Microsofnya yang pada awalnya bermimpi pada suatu saat setiap rumah mempunyai komputer; Kolonel Sanders yang sempat ditolak 1.008 kali saat menawarkan resep ayam gorengnya, yang dikemudian hari diterima oleh Kentucky Fried Chicken yang kini menyebar ke seluruh penjuru dunia; Tony Fernandes pemilik Air Asia, yang dahulu bermimpi setiap orang dapat terbang ke banyak tempat dengan harga murah; Ciputra, yang mampu mengubah rawa-rawa menjadi Taman Impian Jaya Ancol, dan seterusnya.
Selain itu, Thomas juga mengedepankan sikap melayani bukan dilayani. Dengan sikap ini, Thomas ingin mengatakan bahwa pada dasarnya segala sesuatu dapat kita kerjakan sendiri dengan mudah jika ada semangat untuk melayani diri sendiri dan orang lain.
Buku ini menyajikan banyak fakta yang didasarkan oleh pengalaman pribadi penulis dalam menjalan bisnis. Buku ini menjadi menarik dan patut dibaca karena ditulis dengan kejujuran dan ketulusan untuk menyumbangkan ilmu kepada khalayak ramai.
Kelebihan lain buku ini juga terekam dalam penuturan atau gaya bahasa yang sederhana, mudah dipahami oleh oleh awam atau orang yang tidak mengerti sama sekali tentang bisnis. Walaupun buku ini tidak dicetak secara lux sebagaimana buku-buku entrepreneur lainnya, buku kecil ini memiliki daya dobrak yang tak kalah dengan buku-buku yang ditulis oleh para pendahulunya. Daya dobrak itu adalah believing-leraning-action (keyakinan-pembelajaran-tindakan nyata) yang tidak dimiliki oleh buku-buku sejenis.
Pada akhirnya, buku ini merupakan perwujudkan cinta kasih Thomas membeberka pengalamannya dalam memperoleh penghasilan 1 miliar per bulan yang akan mengantarkan manusia menuju kebebasan finansial. Hal ini dikarenakan, buku ini sangat inspiratif, yang mampu menularkan antusiasme dan optimisme entrepreneurship. Lebih dari itu, buku ini akan mengantarkan pembacanya menuju kesuksesan otentik.
*)Pembaca buku motivasi.
Koran Pak Oles/Edisi 166/1-15 Januari 2009

Mengatur Ritme Erotika

thumbnail
Oleh: Ahmad Zaenurrofik*
Sadar atau tidak, manusia adalah makhluk yang erotis. Kita dapat melihat bagaimana yang awalnya yang berasal dari penyatuan itu merasa ingin selalu menyatu lagi, kesepian saat terpisah dan selalu rindu akan kembali. Kebiasaan kita intim dengan seseorang akan membuat kita sepi dan rindu saat terpisah darinya, terpisah seakan membuat kita tercerabut dari (akar) keberadaan kita sendiri.
Seorang suami selalu ingin kembali saat pergi jauh dari istri, misalnya karena merantau untuk mencari uang guna menghidupi sang istri dan anak-anaknya. Tentu saja karena ia telah terbiasa melakukan hubungan intim, menyatukan tubuhnya dengan istrinya, dalam sebuah rumah yang membuat ia nyaman dan menjadi tempat bernaung —seperti burung yang juga selalu kembali ke sarang.
Lihatlah betapa perkembangan anak tergantung pada kenyamanan fisikal dan psikologis (rasa aman dan nyaman) yang didapatkan dari ibu pada awal-wal perkembangannya. Setelah keluar dari rahim dan hubungan badan itu dipisahkan setelah daging penghubung itu dipotong, bayi tetap saja mencari-cari tubuh ibu. Pertama-tama untuk menghubungkan fisiknya dengan fisik ibu adalah dengan cara mencari-cari puting susu ibu untuk dimasukkan ke dalam mulutnya.
Dan siapapun ia, laki-laki atau perempuan, sepanjang umurnya instink untuk menyatukan diri ini tetap abadi. Inilah yang membuat saya begitu yakin bahwa kita ini adalah makhluk erotis, yang dikuasai instink untuk menyalurkan energi eros dengan cara menyatukan diri dengan orang lain. Manifestasi eros adalah pada kehendak untuk menyatukan diri melalui hubungan seksual (bersetubuh) dan yang berujung pada orgasme. Eros adalah instink positif yang mendasari rasa solidaritas dan pengalaman kebersamaan dengan sesama manusia. Kita seakan merasa sakit saat oang lain, terutama orang yang dekat dengan kita, disakiti.
Dasar itulah yang digunakan oleh Nurani Soyomukti untuk menguraikan pandangannya tentang hubungan intim dalam bukunya yang berjudul “INTIMACY: Menjadikan Kebersamaan dalam Pacaran, Pernikahan, dan Merawat Anak sebagai Surga Kehidupan”. Nuansa psikoanalisis (psikologi mendalam) ala Freud dan Erich Fromm nampaknya masih mendominasi pandangan penulis sebagaimana buku-bukunya yang lain. Misalnya penulis menggunakan teori tentang ’prinsip kesenangan’ dan ’prinsip realitas’ untuk memahami bagaimana dalam banyak hal hilangnya semangat keintiman banyak terjadi akibat sejak kecil manusia terbiasa untuk menyangkal kebutuhan-kebutuhannya, serta menjauhkan diri dari penyatuan akibat ketertekanan dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan mendasarnya. Kemiskinan akibat kapitalisme didakwa sebagai penyebab hilangnya potensi keintiman dan kasih sayang dalam berbagai lembaga sosial, terutama keluarga. Akibat kemiskinan, misalnya, keluarga tercerai berai, istri tidak menghormati suami dan suami juga tertekan lalu melakukan kekerasan, anak-anakpun tak lagi diperhatikan (hlm. 12).
Nurani berangkat dari berbagai fakta yang kontradiktif di era modern, di mana di jaman di mana keterbukaan sudah terjadi akibat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, fragmentasi sosial masih terjadi bahkan dalam ranah hubungan ’eksklusif’ seperti pacaran dan pernikahan. Dalam pacaran misalnya, dikisahkan dalam buku ini, masih saja ada mahasiswa yang gaya pacarannya—menurut penulis—sangat ’menjijikkan’. Bayangkan, kuliah duduk bareng, pulang bareng, makan bareng, lalu pulang menuju kos (tak jarang yang melakukan aktivitas seksual seperti layaknya suami istri). Baru setelah libido tersalurkan, bosan lalu berpisah dan baru berinteraksi dengan yang lain atau mengurusi urusan seperti main game dan cangkrukan di pinggir jalan. Kuliah seakan hanya sampingan, yang penting adalah bagaimana menghabiskan waktu hanya pacaran dan ngeseks. Libidonya hanya untuk tubuh pasangannya dan bukan pada pengetahuan (misteri dunia yang merangsang). Nafsunya tumpul pada gadis cantik yang bernama misteri kehidupan, yang sebenarnya dapat dijadikan sebagai kekasihnya.
Padahal, kita tentu paham, interaksi dengan orang yang itu-itu saja (pacar) tidak akan membuat otak kita berkembang—tak akan menambah pengetahuan dan pengalaman kita bertambah. Kemandegan pengetahuan dilembagakan dalam interaksi dua orang yang cuek pada pengetahuan baru gara-gara keduanya hanya sibuk mengurusi hal-hal untuk melampiaskan kebutuhan-kebutuhan sempitnya.
Bayangkan, kedua orang yang tanpa pengetahuan dan wawasan bisa jadi sepakat untuk menikah dan membangun rumah tangga. Maka dapat dipastikan anak-anak dan cucu-cucunya (keturunannya) juga akan mewarisi kebodohan, mengingat sosialisasi pengetahuan itu juga didapat dari keluarga. Keluarga yang berkualitas akan melahirkan generasi yang berkualitas. Itulah yang oleh penulis disebut keintiman yang tidak produktif. Padahal cinta itu produktif dan bukan destruktif (hlm. 28).
Menguraikan berbagai bentuk keintiman yang hilang dan keintiman yang membodohkan (melenakan), penulis kemudian juga memberikan wawasan serta kiat-kiat dalam menciptakan bentuk keintiman yang humanis dan membuat masing-masing pihak menjadi produktif. Karena syarat-syarat hilangnya penindasan adalah hilangnya ketergantungan dan munculnya independensi, yang keduanya hanya mungkin jika masing-masing pihak sama-sama produktif. Produktifitas itulah kata kunci dari hubungan yang sehat dan intim dalam makna yang sebenarnya. Keintiman bukan suatu hal yang melemahkan dan melenakan, tetapi yang menguatkan. Karena organ tubuh manusia dalam berhubungan intim bukan hanya alat kelamin, tetapi juga suatu organ tubuh yang paling seksi, yaitu: OTAK!
Jadi pada tingkat tertentu, meskipun buku ini tipis, penulis telah berhasil menyuguhkan pandangannya bahwa mencintai itu membutuhkan kecerdasan. Kita akan mampu mencintai selama kita tahu, memahami, dan mengerti. Buku terbitan Prestasi Pustaka, Jakarta ini membawa kita pada pandangan yang lebih dalam tentang keintiman dan cinta, menolak anggapan awam bahwa “cinta itu buta”. Dan akhirnya mengajak kita untuk mengobati destruksi hubungan sosial dengan memulai dari hubungan yang lingkupnya kecil (pacaran, pernikahan, dan keluarga). Sebelum berkoar-koar untuk merubah tatanan makro sosial, ada baiknya kita memulai keindahan dan hubungan anti-penindasan dalam lingkup kecil kita.
*)Peneliti di CSSR (Center for Social Science and Religion) Surabaya.
Koran Pak Oles/Edisi 166/1-15 Januari 2009

Trio Kampiun Sastra 2008

thumbnail
Oleh: Mulyo Sunyoto
Sepanjang 2008, berpuluh karya sastra lahir, namun hanya ada tiga karya sastra dari tiga cabang yang agaknya bisa dikategorikan sebagai sang kampiun: "Cinta di Atas Perahu Cadik", "Bilangan Fu" dan "Jantung Lebah Ratu".
Secara berurutan, masing-masing karya sastra tersebut adalah dalam bentuk cerita pendek oleh Seno Gumira Ajidarma, novel oleh Ayu Utami dan kumpulan puisi oleh Nirwan Dewanto.
"Cinta di Atas Perahu Cadik" terpilih sebagai cerita pendek terbaik di lingkungan harian "Kompas". "Bilangan Fu" dan "Jantung Lebah Ratu" terpilih sebagai pemenang Hadiah Sastra Khatulistiwa.
Meski kemenangan Seno sebatas selingkungan sebuah koran nasional, dewan juri pemilihnya yang antara lain menyertakan sastrawan yang juga ilmuwan sastra Dr. Sapardi Djoko Damono memberi bobot kemenangan itu.
Bagi Seno, memenangi perhargaan untuk cerita pendek bukanlah hal yang luar biasa. Pengajar Program Pascasarjana Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia ini sudah berkali-kali dinobatkan sebagai peraih penghargaan sastra.
Bakat kepengarangan Seno sekitar dua dekade silam sembat dipuji master sastra Indonesia Prammodya Ananta Toer. "Dia pengarang Indonesia yang sangat berbakat," kata Pram pada wartawan majalah yang dikekola mahasiswa Univeritas Gajah Mada, "Balairung".
Kisah "Cinta di Atas Perahu Cadik" , menurut Sapardi, merupakan dongeng percintaan yang mengisyaratkan bahwa ada sesuatu dalam konvensi nilai-nilai dalam hidup yang harus dipertimbangkan kembali.
Seno tidak mengulang kisah cinta Sampek-Ingthay, cerita cinta klasik yang bertepuk sebelah tangan. Seno juga tak menuliskan kembali kisah Roro Mendut-Pronocitro dan Sang Bupati, cinta segi tiga yang membawa malapetaka itu. Seno menulis cinta segi empat, kata Sapardi.
Pencapaian yang diraih Ayu Utami dan Nirwan Dewanto pada 2008 lewat Hadiah Sastra Khatulistiwa agaknya semakin mengukuhkan keduanya sebagai sastrawan Indonesia mutakhir.
Hadiah Sastra Khatulistiwa, yang dipelopori penulis Richard Oh, termasuk cukup bergengsi dengan hadiah yang untuk ukuran Indonesia cukup lumayan, setiap pemenang mengantongi Rp100 juta. Penyair Goenawan Mohamad juga pernah meraih anugerah sastra ini.
Menurut salah satu anggota dewan juri yang juga sastrawan Hamsad Rangkuti, "Bilangan Fu" dan "Jantung Lebah Ratu" mewakili semangat sastra yang serius dan matang.
"Di tengah kemunculan banyak penulis sastra muda yang cenderung gemar bermain akrobat kata-kata, dua karya itu menunjukkan bahwa yang terpenting dalam sastra itu tetaplah gagasan yang bernas, selain juga sublimasi bahasa," kata Hamsad, yang sebelumnya juga menjadi peraih penghargaan serupa.
Bagi Ayu Utami, penghargaan ini menambah daftar pencapaian yang pernah diraih sebelumnya. Novel debutannya, "Saman" yang mendapat penghargaan sebagai novel terbaik Dewan Kesenian Jakarta, juga diganjar hadiah Prince Claus dari Belanda.
Dalam "Bilangan Fu", lewat sang protagonis, Ayu mencibir laki-laki yang meninggalkan petualangannya sebagai pemanjat tebing ulung dan memilih menjadi suami. Laki-laki yang memilih berkeluarga merosot dari satria menjadi sudra, tulis Ayu.
Kredo kepengarangan Ayu bertolak belakang dari nilai yang digaungkan kebanyakan novelis pendahulunya. Bagi Ayu, novel tidak perlu berkotbah dan menawarkan hikmah cerita.
"Jantung Lebah Ratu" agaknya kian mengukuhkan kehadiran Nirwan di blantika sastra Tanah Air. Selain menulis puisi, Nirwan rajin menulis esai sastra. "Senjakala Kebudayaan" merupakan kumpulan esai-esainya yang menegaskan sikapnya sebagai pemikir kebudayaan yang tak terbatas pada soal-soal sastra dalam negeri tapi juga sastra dunia, terutama yang belumbanyak disentuh pengamat sastra Indonesia.
Itu sebabnya Nirwan banyak mengupas sastra dunia ketiga di Amerika Latin yang baginya tak kalah bergelora dibanding sastra dunia pertama yang sudah sering ditelaah kaum akademisi bidang sastra dan budaya.
Tampaknya ketiga kampiun bidang sastra sepanjang 2008 itu masih akan memperlihatkan keunggulan mereka di tahun-tahun mendatang mengingat usia mereka yang relatif lebih muda, dibanding para sastrawan tenar Indonesia yang merupakan senior mereka seperti Goenawan Mohamad, Soetardji Calzoum Bachri dan Hamsad Rangkuti yang menginjak di atas 60 tahun.
Koran Pak Oles/Edisi 166/1-15 Januari 2009

Daya Beli Turun, Ketakutan Terbesar Pengusaha

thumbnail
Prospek Ekonomi 2009
Penurunan daya beli di dalam negeri akibat penurunan pendapatan masyarakat menjadi ketakutan terbesar dunia usaha di tanah air pada 2009.
"Jika ditanya risiko usaha seperti apa di tahun 2009, besar sekali. Pendapatan yang menurun di masyarakat bisa menjadi masalah besar," kata Ketua Komite Tetap Bidang Usaha Kecil Menengah (UKM) Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN), Sandiaga S Uno yang dilansir Antara.
Berbagai kondisi yang tidak menguntungkan saat ini dapat membuat daya beli masyarakat menurun, salah satunya belum selesainya penyesuaian harga minyak. Perlu ada stimulus agar daya beli masyarakat tetap kuat.
Untuk mengangkat daya beli masyarakat, menurut mantan Ketua Umum Badan Pengurus Pusat (BPP) Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) ini, tidak dengan cara memberikan subsidi semacam Jaring Pengaman Sosial atau Bantuan Operasional Sekolah (BOS).
Ia lebih menyarankan agar pemerintah lebih banyak mengucurkan pembiayaan untuk program sejenis Kredit Usaha Rakyat (KUR). Seperti diketahui keberadaan UKM menjadi juru selamat dalam kondisi krisis karena mampu bertahan dan menyerap banyak tenaga kerja.
Sandiaga menambahkan ada tiga hal penting yang menjadi perhatian Kadin agar pengusaha dapat melewati krisis. Pertama adalah meminta pemerintah untuk segera menyelesaikan pembangunan berbagai macam infrastruktur terutama di daerah.
"Masalah lahan selalu menjadi kendala dalam penyelesaian pembangunan infrastruktur. Belum lagi masalah Peraturan Daerah dan Peraturan Pemerintah Pusat yang sering bertabrakan," ujar dia.
Kedua adalah secepat mungkin melakukan penguatan pasar dalam negeri. Karena itu Permendag tentang aturan impor lima barang konsumsi harus segera diberlakukan.
"Kadin terkejut juga kenapa pemerintah menunda itu. Padahal negara lain sudah melakukan proteksi," katanya.
Ketiga adalah memperlonggar likuiditas perbankan, ujar Sandiaga. Hal yang bisa dilakukan Bank Indonesia segera menurunkan BI Rate.
"Bank tidak mau menyalurkan kredit sekarang. Kalau pun ada, dengan bunga kredit sampai 20 persen, ini sangat menyulitkan pihak pengusaha," katanya.
Tidak tegasnya pemerintah dalam menjalankan aturan impor untuk lima produk konsumsi tersebut juga disayangkan oleh Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI), Thomas Dharmawan.
Walaupun ia menjadi salah satu pihak yang tidak setuju diberlakukannya aturan impor tersebut, karena ditakutkan dapat menurunkan daya saing produk lokal, ketidakpastian pemberlakuan aturan impor tersebut menyulitkan pihaknya untuk melakukan koreksi harga jual produk makanan dan minuman.
Sehingga dengan telah diturunkannya harga solar oleh pemerintah pada 15 Desember lalu, belum dapat menurunkan harga jual produk makanan dan minuman di tanah air, ujar Thomas.
Koran Pak Oles/Edisi 166/1-15 Januari 2009

Pertanian Dan Usaha Mikro Tumpuan Penyelamat Krisis

thumbnail
Sektor pertanian, usaha mikro, dan sektor informal menjadi tumpuan penyelamat ekonomi Indonesia dari krisis keuangan global, kata pengamat ekonomi Universitas Diponegoro Semarang Prof. Dr. F.X. Sugiyanto yang dilansir Antara.
"Untuk itu pemerintah mestinya memberikan prioritas terhadap bidang pertanian untuk menjaga jangan sampai pertanian semakin terpuruk," katanya.
Menurutnya harus ada keberpihakan nyata dari pemerintah untuk sektor pertanian, usaha mikro, dan informal. "Pemerintah harus mengalokasikan anggaran yang lebih konkret terhadap sektor-sektor tersebut. Selain anggaran juga kemudahan-kemudahan bagi usaha pertanian, mikro, dan informal agar bisa lebih stabil," katanya.
Ditanya kemungkinan dilakukan pemberian fasilitas pajak pada perusahaan yang tidak melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) pada krisis global saat ini, dia mengatakan merupakan sesuatu yang dilematis. "Sepertinya agak sulit dilakukan, karena di sisi lain memang ada potensi pajak yang harus digali lebih banyak lagi. Kalau nanti diberikan penundaan atau pembebasan pajak saya kira kurang tepat waktunya," katanya.
Kemungkinan yang bisa dilakukan perusahaan adalah mengutang pajak, tetapi pemerintah tahun ini juga melakukan kebijakan "sunset" dalam rangka menggali lebih jauh lagi tentang pajak. "Menurut saya bukan itu kebijakan yang tepat, tetapi justru kebijakan lain yang menciptakan ongkos tinggi itu masih bisa dilakukan pemerintah," katanya.
Kalau dilakukan pemberian fasilitas pajak, maka akan banyak perusahaan meminta hal yang sama. "Kondisi ini akan mengancam posisi penerimaan negara," katanya.
Kalau ada subsidi, sebaiknya diberikan pada masyarakat bukan perusahaan, kecuali perusahaan tersebut sangat strategis dan bangkrut mungkin secara selektif bisa dilakukan penyelamatan. "Hal ini pernah kita lakukan dengan konsep bantuan likuiditas Bank Indonesia (BLBI), ternyata tidak berhasil," katanya.
Koran Pak Oles/Edisi 166/1-15 Januari 2009

Usaha Perdagangan Besar Dan Eceran Dominasi UMK

thumbnail
Usaha mikro dan kecil (UMK) di Jawa Tengah mencapai 3,66 juta yang menyerap pekerja 7,12 juta orang masih didominasi usaha perdagangan besar dan eceran.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah Indrarto Hadijanto, kepada Antara, mengatakan bahwa kondisi tersebut merupakan hasil Sensus Ekonomi 2006.
"Hasil Sensus Ekonomi 2006 tersebut sebagai data untuk bahan evaluasi, perencanaan, dan pengambilan kebijakan," katanya.
Indrarto menyebutkan, usaha perdagangan besar dan eceran mendominasi 1.571.799 unit UMK, dengan menyerap 2.515.092 pekerja.
Sekitar 48,82% UMK mengalami kesulitan dalam menggerakkan usahanya di antaranya karena terbatasnya bahan baku atau barang dagangan, pemasaran, permodalan, bahan bakar minyak (BBM), transportasi, keterampilan tenaga kerja, dan upah buruh.
Lanjut Indrarto, sebagian besar (41,10%) UMK di Jateng mengalami kesulitan pemasaran dan kesulitan modal 28,84%. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa aspek pemasaran UMK diharapkan menjadi fokus utama pemerintah dan pengusaha, dengan tetap memerhatikan aspek pemberian modal.
Kesulitan pemasaran, kata Indrarto, sebagian besar pada sektor real estate (48,38%), persewaan dan jasa perusahaan (48,38%), sektor perdagangan serta sektor akomodasi (46,62%), dan penyediaan makan (45,81%). Sedangkan sebagian besar sektor perantara keuangan mengalami kesulitan modal sebesar 46,80%.
Terkait sumber modal, sebagaian UMK Jateng menggerakkan usahanya dengan modal milik sendiri (81,79%). Hanya 18,21% UMK yang melakukan pinjaman modal dari pihak lain seperti meminjam ke bank, perorangan, dan keluarga.
"Dari seluruh UMK yang melakukan pinjaman modal, 5,98% di antaranya melakukan pinjaman ke koperasi. Selain itu, UMK menerima pelayanan modal pengadaan bahan baku, pemasaran, dan pelatihan atau penyuluhan dari koperasi," katanya.
Untuk modal usaha, Indrarto menambahkan, di Jateng sebagian besar UMK (47,54%) memiliki modal usaha di bawah Rp5 juta. Sedangkan UMK dengan modal antara Rp10juta sampai Rp24 juta rupiah dan Rp5 juta sampai Rp9 juta masing-masing sebesar 17,91% dan 15,29%.
Koran Pak Oles/Edisi 166/1-15 Januari 2009

Kelompok Makanan Dominasi Bisnis Waralaba

thumbnail
Sekitar 75 persen bisnis waralaba yang ada berkembang di Indonesia merupakan usaha dari sektor makanan. "Hingga sekarang ini, makanan memang masih mendominasi bisnis waralaba disusul kelompok minuman dan usaha jasa lainnya," kata Kasie Waralaba pada Ditjen PDN Departemen Perdagangan, Evie Kolonio.
Kelompok makanan memang memiliki khas tersendiri dibanding kelompok usaha lainnya. Terlebih lagi, kelompok usaha yang dapat diwaralabakan harus memiliki khas usaha, dan terbukti sudah memberikan keuntungan.
Artinya, usaha tersebut memiliki keunggulan atau perbedaan yang tidak mudah ditiru dibandingkan dengan usaha lain sejenis, dan membuat konsumen selalu mencari khas dimaksud. Selain itu, usaha tersebut juga memiliki standar pelayanan dan barang dan atau jasa yang ditawarkan yang dibuat secara tertulis, serta mudah diajarkan dan diaplikasikan.
Ditambah lagi, adanya dukungan yang berkesinambungan dan Hak Kekayaan Intelektual yang telah terdaftar. "Syarat-sayarat tersebut mutlak harus dipenuhi untuk dapat diwaralabakan," katanya dikutip Antara.
Menurut Evie, pengembangan usaha dengan sistem waralaba akan mendorong pengembangan usaha lebih cepat dan merek dagang lebih dikenal dan kuat.
Sementara risiko investasi pengembangan usaha model waralaba juga diklaim lebih rendah dibanding dengan usaha jenis lainnya. Sistem bisnis waralaba juga membuat posisi tawar produk/bahan baku lebih tinggi dengan biaya promosi yang efisien. Bisnis waralaba yang baik merupakan usaha yang dibutuhkan sehari-hari seperti makan, minuman, pendidikan, salon, bengkel, dan bidang ritel.
Koran Pak Oles/Edisi 166/1-15 Januari 2009

Harga Makanan Turun Akhir Januari

thumbnail
Penurunan harga solar pada tanggal 15 Desember tidak serta merta menurunkan harga produk makanan dan minuman, namun penurunan baru akan terjadi pada akhir bulan Januari 2009.
"Harga produk makanan dan minuman baru turun bulan Januari 2009, setelah tahun baru dan setelah hari raya Imlek," kata Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI), Thomas Dharmawan.
Tren penurunan harga produk ini memang ada setelah harga solar turun. Pada setiap penurunan harga memang jumlahnya tidak terlalu besar, tetapi penurunannya akan terjadi beberapa kali seperti saat terjadi kenaikan.
Beberapa kendala yang menyebabkan harga produk makanan dan minuman tidak langsung turun adalah karena waktu yang belum tepat, nilai tukar rupiah yang masih tidak stabil, kebijakan impor lima produk konsumsi yang masih berubah, dan perlu waktu lama untuk mengganti kemasan.
"Kita itu kalau mau ganti kemasan atau hanya merubah angka atau tulisan di kemasan harus seijin BPOM. Nah kalau akhir tahun gini BPOM itu sibuk untuk tutup tahun, jadi tetap lama selesainya," ujar Thomas.
Ia menjelaskan bahwa produsen memilih untuk tidak menurunkan harga jual produknya sampai permintaan dari konsumen menurun setelah hari raya imlek yang jatuh pada tanggal 26 Januari 2009.
"Produsen kan memang sengaja menunggu sampai semua hari raya itu lewat, kan kemarin lebaran haji, terus nanti natal dulu, baru tahun baru, terakhir baru imlek. Makanya kemarin saya usulkan ke Mendag (Menteri Perdagangan) aturan impor diberlakukan setelah semua itu lewat," katanya.
Terkait dengan adanya aturan impor lima produk konsumsi, Thomas merasa hal tersebut dapat menyebabkan produk lokal kehilangan daya saingnya. Selama ini, menurut dia, keberadaan produk impor justru membuat produsen lokal memutar otak untuk lebih efisien dalam berproduksi, sehingga produknya memiliki daya saing.
Koran Pak Oles/Edisi 166/1-15 Januari 2009

Bibit Tanaman Buah Miliki Prospek Bisnis

thumbnail
Yogyakarta
Aneka bibit tanaman buah khususnya yang ditanam di pot, kini memiliki prospek untuk bisnis, sehingga menjadi trend bagi penggemar tanaman hias, dan banyak `diburu` terutama pada musim hujan.
"Permintaan akan berbagai jenis bibit tanaman buah cenderung meningkat setiap harinya, bahkan permintaan tidak saja dari para penggemar tanaman hias di Yogyakarta, tetapi juga dari luar daerah," kata M Nazir petani dan pedagang tanaman hias asal Kabupaten Sleman, Yogyakarta kepada Antara.
Nazir mengatakan menghadapi trend bibit tanaman buah tersebut, rata-rata para pedagang tanaman hias menambah stok bibit tanaman buah unggulan yang didatangkan langsung dari berbagai daerah asalnya.
Bibit tanaman buah unggulan itu terutama yang memiliki khasiat sebagai obat, sehingga banyak dicari para penggemar tanaman hias. Pertimbangan mereka, karena bibit tanaman buah itu mengandung obat, disamping memiliki nilai lebih sebagai tanaman hias.
"Jenis tanaman tersebut memang harus didatangkan dari pelosok desa di berbagai daerah di luar Kota Yogyakarta, karena di wilayah kota sudah jarang ditemui tanaman buah yang berkhasiat sebagai obat," katanya.
Mengenai prospek bisnis tanaman hias di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), ia mengatakan saat ini makin merebak karena banyak `pemain` baru, baik dari dalam maupun luar daerah ini yang menekuni dan terjun ke bisnis itu. "Hampir setiap hari selalu ada penyelenggaraan pameran dan bursa tanaman hias, bahkan tidak hanya di satu tempat, tetapi di beberapa tempat secara bersamaan. Bahkan, menjadi pasar tanaman hias yang tetap," kata M Nasir yang memiliki banyak `kios` tanaman hias di Yogyakarta.
Dahulu, kenang Nazir, mereka masih sebagai konsumen dan pembeli, namun setelah lama menggeluti tanaman hias, mereka beralih menjadi pelaku bisnis tanaman hias, sehingga kahadirannya meramaikan bursa tanaman hias.
Dampak makin merebaknya pelaku bisnis tanaman hias di daerah ini menjadikan kondisi bisnis ini cenderung menjadi sepi pembeli.
Menurut dia, kondisinya memang pasang surut dan sulit diprediksi, tergantung situasinya. Namun demikian, pelaku bisnis tanaman hias di Yogyakarta kini banyak mengeluh karena sepi pembeli.
Sementara itu, Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) DIY Bambang Wibowo mengatakan sampai sekarang daerah ini masih menjadi pasar potensial untuk bisnis tanaman hias, sehingga menjadi tujuan utama para pedagang tanaman dari berbagai daerah untuk memasarkan dagangannya.
"Sebagai pasar potensial, Yogyakarta belum tertandingi dibanding provinsi lain di Indonesia. Sebab, hampir tiap hari ada pameran dan bursa tanaman hias, dan tidak hanya di satu tempat, tetapi di banyak tempat," katanya.
Ia mengatakan, selain "diserbu" pedagang tanaman hias dari luar daerah, pembeli tanaman hias juga datang dari berbagai kota di luar DIY.
Sedangkan produk tanaman hias yang dipasarkan selain dari hasil budidaya petani daerah ini, juga dari petani di berbagai daerah lain seperti Wonosobo, Kopeng dan Tawangmangu di Jawa Tengah, Tulungangung dan Blitar di Jawa Timur. "Keadaan seperti itu membuktikan bahwa daerah ini menjadi pasar potensial bisnis tanaman hias, karena hampir setiap hari terjadi transaksi dengan nilai yang cukup besar," katanya.
Koran Pak Oles/Edisi 166/1-15 Januari 2009

Batik Tulis Sumber SariBondowoso Bidik Kalangan Atas

thumbnail
Kerajinan batik tulis Sumber Sari, Kecamatan Maesan, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, tidak diproduksi secara massal, bahkan sasaran pembelinya pun dari kalangan menengah ke atas.
"Sasaran pembeli produk kami kalangan menengah ke atas. Harganya pun bervariasi, yakni mulai Rp250 ribu sampai Rp4 juta, tergantung jenis kain dan tingkat kesulitan desain," kata Ifriko Desriandi, seorang desainer batik tulis Sumber Sari ketika ditemui Antara di Bondowoso, Minggu (28/12).
Kain yang digunakan untuk membatik, lanjut alumni arsitektur Unmer Malang ini, adalah kain katun dan sutera jenis asli tenun bukan mesin (ATBM). Kain sutera ini dibeli dari Garut, Jepara, Ciamis, Serkang Sulawesi, dan Bali.
Ia mengatakan, desain batik buatan tangan dengan menggunakan pewarna alami ini hanya diperuntukan satu produk. "Kami ingin pembeli batik tulis Sumber Sari tidak takut desainnya dipakai orang lain," katanya.
Menurut dia, sejumlah pemerintah kabupaten (pemkab) di Jatim meminta dibuatkan batik untuk pakaian khas. Misalnya, Bondowoso, menggunakan motif tanaman singkong.
Pemkab lainnya, Jember dengan batik motif tembakau, Lumajang memilih motif pisang, Situbondo memesan batik bermotif tanaman bakau, ikan, dan kerang, sedangkan Probolinggo bermotif mangga, Gunung Bromo, dan anggur.
Namun sayangkan, kata dia, batik tulis yang mulai ada sejak 1984 ini kurang mendapat perhatian dari pemkab setempat.
Bahkan, kata Ifriko, saat pameran besar menggunakan nama batik tulis Sumber Sari Jember. Pasalnya Pemkab Jember banyak memberikan bantuan.
Untuk sementara ini, pemasaran batik tulis Sumber Sari hanya memenuhi konsumen lokal, belum diekspor.
"Ya, karena tidak bisa menghasilkan produk yang banyak dalam waktu singkat," katanya ketika ditemui di lokasi pembuatan batik tulis Sumber Sari di selatan kota Bondowoso, jaraknya sekitar 15 kilometer dari pusat kota tape.
Koran Pak Oles/Edisi 166/1-15 Januari 2009

Montorku Gandeng Belby Enterprise

thumbnail
Model Bersanding Dengan Bajaj & Chopper
Oleh: Beny Uleander

Pesona kecantikan ragawi dalam akrobat seni dan desain selalu melahirkan selebaran keindahan. Wanita cantik dengan tubuh seksi di tangan pengarah gaya membuat kesan pencitraan penuh kreasi dan sensasi. Itulah sketsa visi dirajut Tabloid Montorku setiap edisi dengan menampilkan aneka pose model otomotif.
Di penghujung tahun 2008, Montorku menggandeng Agency Belby Enterprise menggelar pemotretan model di tiga lokasi berbeda, Rabu-Kamis (17-18/12).
Ada 12 model Belby Enterprise yang didampingi owner, Pipiet Fitria dan dipandu pengarah gaya Buyung tampil atraktif dalam setiap sesion pemotretan. Di antaranya Feby Shinta Dewi (19), Theodora Ajeng S K (22), Anedda Sindy Intan Pandini (19), Raden Ajeng Rina Purnamasari (16), dan I Gusti Ayu Audra Indira (19). Lokasi pemotretan pertama di Main Dealer Motor Bajaj, Jl Malboro Denpasar. Lokasi kedua dan ketiga terkesan eksentrik milik Chopper Heaven di Jl Dewi Sri dan Jl Melasti, Kuta.
Menurut pendiri Agency Belby Enterprise, Pipiet Fitria, model yang siap ditampilkan di Montorku justru model senior. Selama ini, model Belby Enterprise kerap tampil dalam event pameran produk maupun acara hiburan di daerah wisata Kuta dan Nusa Dua. Di dunia otomotif bukan hal baru bagi para model. “Model kami sebelumnya pernah dipotret sebagai model motor besar,” ujar Pipiet yang merintis Belby Enterprise sejak tahun 2002.
Buyung, salah satu instruktur Belby Enterprise yang menjadi pengarah gaya mengaku para model bisa cepat menyesuaikan diri dengan gerak dan karakter motor yang ingin ditampilkan. “Mereka sudah memiliki basic, dan tinggal dipoles saja,” tegasnya.
Menyinggung penampilan model terganjal UU Pornografi, Buyung dengan lugas mengatakan, dalam dunia model yang ditampilkan adalah aktivitas seni. “Apalagi kegiatan in door dengan seni menjadi mediasi. Mereka tampil causual tapi seksi,” ujarnya.
Di mata model Andda Sindy Intan Pandini (19), pengalaman pemotretan dengan latar motor besar terbilang baru tapi menantang. Awalnya Sindy, demikian sapaannya, merasa canggung. Tapi akhirnya mahasiswi New Media yang bergabung dengan Agency Belby Enterprise sejak 2006 bisa cepat beradaptasi.
Koran Pak Oles/Edisi 166/1-15 Januari 2009

KPID Serap Aspirasi Fans Radio Bokashi

thumbnail
Oleh: Wayan Nita
Kiprah Radio Dunia Bokashi Raya 100,5 FM di Kabupaten Klungkung kian matang menggarap segmen budaya Bali. Hal ini terungkap dalam Evaluasi Dengar Pendapat dari berbagai komponen masyarakat Kabupaten Klungkung yang dihadiri anggota Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Bali di Hotel Tower, Klungkung, Selasa (16/12).
Gede Ngurah Wididana alias Pak Oles sebagai pendiri PT. Radio Dunia Bokashi Raya turut hadir didampingi Dewa Anom Administratur Radio Dunia Bokasi Raya serta seluruh kru penyiar. Selain itu, hadir berbagai elemen masyarakat Kabupaten Klungkung di antaranya pengurus OSIS SMA dan SMP, dinas pendidikan, PHDI Klungkung, PHDI Pusat dan fans Bokashimania.
Kehadiran anggota KPID Bali dalam Evaluasi Dengar Pendapat guna menyerap aspirasi fans Radio Bokashi dan komponen masyarakat sebagai rekomendasi untuk KPI Pusat mengeluarkan keputusan kelayakan siaran. “Surat itu dikeluarkan setelah dilaksanakan dengar pendapat dengan masyarakat Klungkung. Kami akan membuat surat rekomendasi yang akan diserahkan ke KPI Pusat,” ungkap Ketua KPID Bali Komang Suarsana.
Menurut Administratur Radio Dunia Bokasi Raya Dewa Anom, radio tersebut dipancarkan luas mencakup daerah pesisir selatan Bali. Siaran radio dapat diterima di Gianyar, Klungkung, Bangli, Karangasem dan sebagian wilayah Denpasar. Luasnya jaringan siaran bertujuan untuk memberikan informasi yang berkualitas di bidang kesehatan, pertanian, pendidikan dan kebudayaan kepada masyarakat sekitar.
Visi luas salah satu radio grup Pak Pak Oles ini adalah mendukung pembangunan di daerah, mengahadirkan informasi yang mempercepat pembangunan dan menciptakan lapangan pekerjaan. “Para pengusaha lokal juga turut diuntungkan, karena bisa memanfaatkan media radio untuk memasarkan produk mereka,” sebut Dewa Anom.
Materi siaran didominasi program seni budaya Bali, terutama kesenian lokal seperti acara Masatua Bali (dongeng Bali), Dharma Wacana, dan tembang-tembang Bali. Selain itu, rutin dilaksanakan dialog interaktif baik on air dan off air.
Salah satu acara off air yang pernah digelar adalah penyuluhan safety ridding keliling Klungkung bekerjasama dengan pihak kepolisian setempat. Sedangkan dialog interaktif seperti halo polisi dan dunia otomotif juga selalu ada setiap minggu. Program-program lain seperti siaran pendidikan sukses melibatkan keikutsertaan aktif instansi pendidikan, sekolah-sekolah dan para siswa. “Yang sudah positif adalah materi siaran pendidikan untuk anak TK. Nama acaranya Kumpul Bocah” pungkas Dewa Anom.
Koran Pak Oles/Edisi 166/1-15 Januari 2009

Karyawan Tirta Yatra Ke Tiga Pura

thumbnail
Oleh: Putu Wirnata
Hidup, kesehatan dan pekerjaan adalah anugerah Sang Pencipta yang patut disyukuri. Kesadaran ini mendorong staf manajemen dan kru pemasaran Ramuan Pak Oles cabang Bali menggelar acara persembahyangan (tirta yatra) ke tiga pura, Sabtu (27/12). Dirut PT Karya Pak Oles Tokcer GN Wididana ikut serta didampingi Kacab Bali Nyoman Ginarka dan Kepala Personalia Komang Yuliarsana.
Persembahyangan pertama di Pura Ulun Danu Batur yang berlokasi di Desa Kalangganyar, Kecamatan Kintamani, Bangli. Lalu rombongan melanjutkan perjalanan menuju Pura Puncak Penulisan, Kintamani, Bangli. Pura terakhir yang dikunjungi adalah Pura Pucak Bukit Sinunggal yang merupakan salah satu Pura Dang Kahyangan di Bali utara, tepatnya di Desa Tajun, Kubutambahan, Singaraja.
Usai persembahyangan, Pak Oles, sapaan akrab GN Wididana, memberikan motivasi spiritual kepada kru pemasaran. “Kita sebagai umat beragama harus mau melestarikan budaya dan tidak terlepas dari ikatan Palemahan, Pawongan, Pahrayangan (hubungan manusia dengan manusia, hubungan dengan masyarakat sekitar, dan hubungan dengan alam lingkungan),” pesan Pak Oles.
Tirta yatra ini, papar Pak Oles, juga dimaksudkan untuk mencari jati diri. Saat monumental untuk mengevaluasi hidup pribadi, mematangkan tekad untuk berbuat baik, menghindari godaan untuk berbuat jahat dan berupaya menyucikan pikiran. “Jika ketiga hal ini dilaksanakan dengan baik niscaya jati diri yang dicari pasti tercapai,” ungkap pengusaha asal Singaraja itu.
Koran Pak Oles/Edisi 166/1-15 Januari 2009

Dogler, Anggur Kesehatan Berbahan Alami

thumbnail
Oleh: Wayan Nita
Minuman anggur sudah dikenal sejak zaman Babilonia, Mesopotamia, Mesir hingga Romawi klasik sebagai minuman istimewa untuk upacara pesta maupun perjamuan resmi di istana kerajaan. Selain mampu menghangatkan tubuh, minum anggur secara rutin bermanfaat untuk menjaga kesehatan.
Salah satu minum kesehatan yang terbuat dari buah anggur lokal adalah Dogler. Bahan baku anggur didatangkan dari daerah Buleleng yang difermentasi dengan larutan EM4. Selain buah anggur organik, minuman kesehatan ini juga dicampur dengan rempah-rempah. Seperti jahe, cengkeh dan kayu manis. Bahan-bahan herbal tersebut juga organik, karena semua bahan baku ditanam dengan pupuk organik.
Menurut kepala team marketing Dogler Putu Astana, minuman kesehatan ini diproses secara higienis. Sehingga masyarakat aman mengkonsumsi minuman anggur ini.
Dijelaskan Astana, anggur menawarkan kombinasi alami dari asam buah, gula alami, dan berbagai sifat astringent yang membantu membersihkan jaringan sel tubuh. Buah anggur sendiri banyak mengandung asam malat, asam bebas, tannin, asam volatile. Jika difermentasi, anggur menghasilkan energi untuk aktivitas tubuh yang selalu sehat. Selain itu,kandungan boron pada buah anggur ini sangat tinggi yang dapat membantu pencegahan osteoporosis. Zat katekin yang terdapat pada kulit buah anggur setelah mengalami proses fermentasi dapat berguna untuk menghaluskan kulit. “Proses fermentasi buah anggur menggunakan larutan EM4 memakan waktu selama satu bulan agar diperoleh hasil yang berkualitas,” ungkap Putu Astana.
Penambahan tanaman obat tradisional merupakan keunggulan Dogler sebagai minuman kesehatan yang alami. Jahe, misalnya, mempunyai efek memperkuat khasiat bahan lain yang dicampurkan pada proses pembuatan obat. Sedangkan cengkeh, mempunyai sifat menghangatkan, mempertajam rasa dan aromatik. Konsumsi cengkeh dapat membantu memperlancar kerja usus, sehingga pencernaan menjadi lancar. Begitu juga dengan kayu manis yang mempunyai sifat pedas, sedikit manis, hangat dan wangi sehingga dapat menambah nafsu makan. Komposisi bahan ramuan Dogler sangat lengkap dan alami, sehingga cocok untuk kesehatan.
Manfaat yang bisa dirasakan dengan mengonsumsi anggur ini adalah meningkatkan stamina, sebagai antioksidan, menghilangkan pegal, nyeri sendi dan merangsang proses regenerasi kulit. Karena mengandung alkohol 8%, maka Dogler hanya boleh dikonsumsi orang dewasa. Dogler diminum tiga kali sehari setelah makan cukup satu sloki saja. Minum Dogler secara kontinyu juga dapat menekan kolesterol, melancarkan pencernaan dan menyegarkan badan, asal penggunaannya tidak berlebihan.“Bahkan wanita pun boleh minum anggur kesehatan ini. Karena dapat melancarkan haid, mengurangi bau tak sedap, mengurangi keluhan keputihan dan juga membantu menghaluskan kulit. Tapi pantangan untuk wanita hamil,” pungkas Putu Astana.
Koran Pak Oles/Edisi 166/1-15 Januari 2009

Dua Tahun Eksitensi Radio Hexon

thumbnail
Mengangkat Derajat Masyarakat Desa Dengan Informasi
Oleh: Wayan Nita

Tepat tanggal 11 Desember 2008, Radio Hexon genap berusia dua tahun. Sebuah usia yang masih amat muda bagi sebuah institusi media informasi. Kini radio yang bermarkas di Desa Bengkel, Banyuatis, Buleleng itu dikenal sebagai radio pedesaan. Tak banyak perusahaan yang mau mendirikan radio di tengah desa yang terpencil. Tapi berbeda dengan Radio Hexon yang dirintis Dr Ir GN Wididana, M.Agr alias Pak Oles.
Visi radio ini sangat sederhana tapi bermakna dalam: “Membangun Desa Membangun Bangsa”. Karena itu, fokus siaran Radio Hexon menukik pada informasi pertanian organik dan kebudayaan, termasuk hidangan hiburan musik Bali.
Kecepatan informasi yang disiarkan lewat radio lebih menguntungkan masyarakat desa yang jarang membeli koran. Itulah sebabnya, siaran radio menjadi pilihan masyarakat pedesaan dalam menyerap informasu. Gelombang Radio Hexon 92,8 FM dipancarkan luas meliputi Singaraja (9 kecamatan), Baturiti, Abiansemal, Kintamani, Wongsorejo, Madura dan Banyuwangi.
Menurut Administrator Radio Hexon Dewa Komang Merta, siaran radio Hexon dimulai pukul 06.00 hingga 22.00 WITA. Bentuk atau format siaran disesuaikan dengan segmen pendengar radio agar tidak lepas dari sasaran. Program-program yang bernuansa budaya lokal selalu dikembangkan. Hingga akhirnya siaran radio dapat diterima oleh semua jenis umur. “Sebagian besar acara siaran mengangkat tema seni budaya, tapi ada juga siaran tentang berita daerah dan nasional. Tak ketinggalan, informasi produk kesehatan Ramuan Pak Oles,” ungkap Dewa Komang Merta.
Banyak ilmu yang disampaikan lewat Radio Hexon ini, terutama yang berkaitan dengan dunia pertanian. Karena, sebut Dewa Komang Merta, latar belakang produk yang diracik Pak Oles adalah produk pertanian dan kesehatan berbasis teknologi EM. Apalagi mayoritas masyarakat Desa Bengkel adalah petani. Meski begitu, Radio Hexon tetap menggarap siaran hiburan yang menyasar kawula muda pedesaan. Masyarakat dilibatkan dalam acara interaktif tanya jawab seputar teknologi EM setiap hari Kamis.
Selama dua tahun mengudara, ungkap Komang Merta, Radio Hexon banyak memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar. Pengetahuan masyarakat tentang teknologi EM meningkat terkait teknik pengolahan sampah menjadi pupuk organik, peternakan, perikanan maupun perkebunan.
Kru penyiar direkrut dari warga desa Bengkel sebagai upaya memberdayakan masyarakat sekitar. Selain memberikan hiburan yang berkualitas, Radio Hexon diharapkan selalu dekat dengan fans sehingga interaksi antara awak Radio dengan pendengar dapat selalu terjaga dengan baik ”Siaran pesantian yang jadi unggulan dan selalu dinanti tetap disiarkan setiap hari Rabu dan Sabtu,” pungkas Dewa Ciko, sapaan Komang Merta.
Koran Pak Oles/Edisi 166/1-15 Januari 2009

Minyak Oles Bokashi Atasi Flu

thumbnail
Nama: I Ketut Miari, Karangasem, Bali.
Pengalaman:
Saya coba untuk berbagai informasu tentang khasiat alami Minyak Oles Bokashi, obat tradisional yang sudah terkenal di Bali dan beberapa propinsi di Indonesia. Minyak Oles Bokashi menjadi terkenal karena banyak orang yang batuk, gatal-gatal atau alergi kulit sembuh. Jika saudara sesak nafas akibat flu atau masuk angin segera gunakan Minyak Oles Bokashi agar cepat sembuh. Napas pun menjadi lancar.
Koran Pak Oles/Edisi 166/1-15 Januari 2009

Madu Resi Rangsang Nafsu Makan

thumbnail
Nama: Astuti, 37 tahun, pegawai swasta, tinggal di Bandung.
Pengalaman:
Saya pernah mengalami nafsu makan berkurang dan sering sakit-sakitan, Alhamdulillah setelah minum Madu Resi, saya bisa sehat seperti sediakala. Selain itu, saya juga merasakan khasiat Minyak Oles Bokashi antara lain, mengatasi pegal-pegal, otot kaku, gatal-gatal, sariawan dan sakit kepala. Terima kasih kepada PT Karya Pak Oles Tokcer atas solusi kesehatan keluarga kami.
Koran Pak Oles/Edisi 166/1-15 Januari 2009

Ayam Kesayanganku Sembuh

thumbnail
Nama: Bagus Kurnia Sakti, anggota Polri, tinggal di Bantul, Yogyakarta.
Pengalaman:
Ayam kesayanganku sakit, tidak mau makan dan ngantuk terus. Ayamku juga mengeluarkan kotoran berwarna abu putih. Kebetulan ibuku selalu menyediakan Minyak Oles Bokashi. Langsung saja saya meneteskan Minyak Oles Bokashi sebanyak tiga tetes ke dalam mulut ayam. Selang beberapa jam, ayamku sudah sehat lagi dan mau makan. Ternyata Minyak Pak Oles sangat berguna bagi keluarga dan juga ayam kesayanganku.
Koran Pak Oles/Edisi 166/1-15 Januari 2009

Mual Berkurang Minum Minyak Oles Bokashi

thumbnail
Nama: Ny Tri Wahyu W, 38 tahun, ibu rumah tangga, tinggal di Semarang.
Pengalaman:
Saya mengenal Ramuan Pak Oles waktu ada demo seorang SPG Pak Oles dalam sebuah arisan. Kemudian saya penasaran ingin mencoba salah satu produk Pak Oles. Lantas saya tertarik pada Minyak Oles Bokashi yang katanya multi fungsi. Setelah saya mengonsumsinya, rasa mual pada perut saya berangsur hilang. Saya juga menggunakan Minyak Oles Bokashi untuk mengobati luka akibat kena minyak panas dan air panas.
Koran Pak Oles/Edisi 166/1-15 Januari 2009

Tulang Puggung Nyeri MOB Obatnya

thumbnail
Nama: Sri Wahyuni, 30 tahun, wiraswasta, tinggal di Semarang.
Pengalaman:
Saya seorang ibu rumah tangga yang punya home industri kerupuk. Saya banyak bekerja sehingga kurang istirahat sehingga punggung saya sering nyeri. Setiap bangun tidur, saya harus dipijat suami baru bisa bangun. Lalu ada SPG Pak Oles menyarankan agar memakai Minyak Oles Bokashi. Ternyata setelah saya coba hasilnya nyata. Keluhan yang saya rasakan selama ini sembuh. Saya juga memakai Krim Saribing dan Massker Madu Hitam untuk menghaluskan kulit wajah.
Koran Pak Oles/Edisi 166/1-15 Januari 2009

Madu Rocky, Madu Para Perokok

thumbnail
Nama: Parno, 46 tahun, PNS, tinggal di Semarang.
Pengalaman:
Saya tergolong perokok aktif. Sehari saya bisa habiskan sebungkus rokok sehingga saya sering radang tenggorokan dan batuk. Ada SPG Pak Oles yang menawari Madu Rocky. Katanya Madu Rocky adalah madunya para perokok. Ternyata benar juga, baru saya minum sekali, khasiatnya sudah terasa. Tenggorokan saya jadi lega dan batukpun reda. Saya juga suka olahraga badminton. Sebelum minum Madu Rocky, nafas saya cepat ngos ngosan, tetapi sekarang saya menjadi lebih bersemangat dalam berolahraga dan nafas jadi lebih panjang.
Koran Pak Oles/Edisi 166/1-15 Januari 2009

Gelang EM Keramik Atasi Kesemutan

thumbnail
Nama: Syakirotum Kholishoh, ibu rumah tangga, tinggal di Gresik, Jatim.
Pengalaman:
Tangan saya sering kesemutan dan terkadang terasa cekot-cekot. Suatu hari saya didatangi seorang sales Pak Oles yang menawarkan produknya. Lantas saya tertarik dengan Gelang EM Keramik lalu membelinya. Setelah memakainya selama beberapa hari, alhamdulillah, tangan saya tidak kesemutan lagi dan rasa cekotnya mulai berkurang. Kebetulan saya membuka toko obat, sehingga saya sekarang menjual berbagai macam Ramuan Pak Oles.
Koran Pak Oles/Edisi 166/1-15 Januari 2009

Maag Sembuh Minum Minyak Oles Bokashi

thumbnail
Nama: Nenk W, 24 tahun, tinggal di Bandung.
Pengalaman:
Saya sudah lama menderita penyakit maag. Perut saya terasa mual, sakit seperti ditusuk-tusuk. Sudah berbagai cara saya lakukan demi menghilangkan sakit maag, namun belum juga ada hasilnya. Tapi sejak menggunakan Minyak Oles Bokashi secara rutin pagi dan sore, alhamdulillah, lama kelamaan sakit maag saya berkurang. Saya tidak perlu ke dokter lagi. Cukup dengan minum Minyak Oles Bokashi dicampur air hangat, perut saya langsung normal tanpa ada rasa mual dan sakit lagi.
Koran Pak Oles/Edisi 166/1-15 Januari 2008

Mengasah Akal Budi Dan Empati

thumbnail




Kartun Gus Harsanta