Jumlah kunjungan wisatawan domestik ke Bali yang meningkat cukup signifikan pada musim libur akhir tahun 2008, merupakan kekuatan pasar yang sangat potensial untuk terus dikembangkan.
"Masih sangat banyak orang kita yang ingin berwisata ke Bali, karena berbagai hal," kata koordinator badan pariwisata "Bali Tourism Board-BTB", Ida Bagus Ngurah Wijaya, kepada Antara di Denpasar, Minggu (28/12).
Wisatawan domestik, di antaranya penasaran ke Bali karena keindahan alam, kekayaan budaya, kesamaan rasa, dan yang juga penting adalah tarifnya terjangkau mengingat ada banyak pilihan. "Inilah kenyataan yang harus dikembangkan ke depan," ucapnya.
Data Posko Terpadu Bandara Ngurah Rai menyebutkan, kunjungan wisdom setelah libur Natal (25/12) dalam sehari melebihi 9.000 orang. Sementara selama enam hari sejak digelar pengamanan Natal, Senin (22/12) tercatat 25.702 penumpang domestik yang mendarat di Bali, naik 13 persen dari periode sama libur Natal 2007.
Peningkatan kehadiran wisatawan dalam negeri itu, menurut Ngurah Wijaya, juga memberi dampak pemerataan belanja wisata. "Kalau wisatawan luar negeri berbelanja di galeri-galeri seni, maka wisatawan domestik lebih memilih ke toko-toko suvenir. Yang semacam UKM. Jadi masyarakat merasakan manfaat kehadiran mereka secara langsung. Ini bagus sekali," katanya.
Wisatawan domestik, juga hadir dalam kurun waktu dan momen yang sudah bisa diperkirakan, terutama bertepatan libur sekolah dan akhir tahun. Jumlahnya juga dapat diprediksi.
Hal itu terkait dengan kalender nasional yang mudah dilihat untuk memperkirakan kedatangan saat-saat berwisata. "Beda dengan wisatawan luar negeri. Mereka bisa hadir kapan saja, karena berasal dari negara-negara berbeda dengan kalender nasional dan kepentingan masing-masing. Jadi sebetulnya kehadiran dua kategori wisatawan ini saling melengkapi," kata Ngurah Wijaya.
Secara umum, wisatawan dalam negeri akan berbelanja suvenir di toko-toko barang kerajinan dan memilih makan di rumah-rumah makan yang cita rasanya sudah akrab di lidah masyarakat Indonesia. "Suvenir yang dibawa juga yang ringan-ringan dan ringkas, namun dalam jumlah cukup banyak. Kebanyakan untuk oleh-oleh bagi keluarga dan kerabat di daerah asal," tambahnya.
Koran Pak Oles/Edisi 166/1-15 Januari 2009
"Masih sangat banyak orang kita yang ingin berwisata ke Bali, karena berbagai hal," kata koordinator badan pariwisata "Bali Tourism Board-BTB", Ida Bagus Ngurah Wijaya, kepada Antara di Denpasar, Minggu (28/12).
Wisatawan domestik, di antaranya penasaran ke Bali karena keindahan alam, kekayaan budaya, kesamaan rasa, dan yang juga penting adalah tarifnya terjangkau mengingat ada banyak pilihan. "Inilah kenyataan yang harus dikembangkan ke depan," ucapnya.
Data Posko Terpadu Bandara Ngurah Rai menyebutkan, kunjungan wisdom setelah libur Natal (25/12) dalam sehari melebihi 9.000 orang. Sementara selama enam hari sejak digelar pengamanan Natal, Senin (22/12) tercatat 25.702 penumpang domestik yang mendarat di Bali, naik 13 persen dari periode sama libur Natal 2007.
Peningkatan kehadiran wisatawan dalam negeri itu, menurut Ngurah Wijaya, juga memberi dampak pemerataan belanja wisata. "Kalau wisatawan luar negeri berbelanja di galeri-galeri seni, maka wisatawan domestik lebih memilih ke toko-toko suvenir. Yang semacam UKM. Jadi masyarakat merasakan manfaat kehadiran mereka secara langsung. Ini bagus sekali," katanya.
Wisatawan domestik, juga hadir dalam kurun waktu dan momen yang sudah bisa diperkirakan, terutama bertepatan libur sekolah dan akhir tahun. Jumlahnya juga dapat diprediksi.
Hal itu terkait dengan kalender nasional yang mudah dilihat untuk memperkirakan kedatangan saat-saat berwisata. "Beda dengan wisatawan luar negeri. Mereka bisa hadir kapan saja, karena berasal dari negara-negara berbeda dengan kalender nasional dan kepentingan masing-masing. Jadi sebetulnya kehadiran dua kategori wisatawan ini saling melengkapi," kata Ngurah Wijaya.
Secara umum, wisatawan dalam negeri akan berbelanja suvenir di toko-toko barang kerajinan dan memilih makan di rumah-rumah makan yang cita rasanya sudah akrab di lidah masyarakat Indonesia. "Suvenir yang dibawa juga yang ringan-ringan dan ringkas, namun dalam jumlah cukup banyak. Kebanyakan untuk oleh-oleh bagi keluarga dan kerabat di daerah asal," tambahnya.
Koran Pak Oles/Edisi 166/1-15 Januari 2009


0 komentar:
Posting Komentar