Usaha mikro dan kecil (UMK) di Jawa Tengah mencapai 3,66 juta yang menyerap pekerja 7,12 juta orang masih didominasi usaha perdagangan besar dan eceran.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah Indrarto Hadijanto, kepada Antara, mengatakan bahwa kondisi tersebut merupakan hasil Sensus Ekonomi 2006.
"Hasil Sensus Ekonomi 2006 tersebut sebagai data untuk bahan evaluasi, perencanaan, dan pengambilan kebijakan," katanya.
Indrarto menyebutkan, usaha perdagangan besar dan eceran mendominasi 1.571.799 unit UMK, dengan menyerap 2.515.092 pekerja.
Sekitar 48,82% UMK mengalami kesulitan dalam menggerakkan usahanya di antaranya karena terbatasnya bahan baku atau barang dagangan, pemasaran, permodalan, bahan bakar minyak (BBM), transportasi, keterampilan tenaga kerja, dan upah buruh.
Lanjut Indrarto, sebagian besar (41,10%) UMK di Jateng mengalami kesulitan pemasaran dan kesulitan modal 28,84%. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa aspek pemasaran UMK diharapkan menjadi fokus utama pemerintah dan pengusaha, dengan tetap memerhatikan aspek pemberian modal.
Kesulitan pemasaran, kata Indrarto, sebagian besar pada sektor real estate (48,38%), persewaan dan jasa perusahaan (48,38%), sektor perdagangan serta sektor akomodasi (46,62%), dan penyediaan makan (45,81%). Sedangkan sebagian besar sektor perantara keuangan mengalami kesulitan modal sebesar 46,80%.
Terkait sumber modal, sebagaian UMK Jateng menggerakkan usahanya dengan modal milik sendiri (81,79%). Hanya 18,21% UMK yang melakukan pinjaman modal dari pihak lain seperti meminjam ke bank, perorangan, dan keluarga.
"Dari seluruh UMK yang melakukan pinjaman modal, 5,98% di antaranya melakukan pinjaman ke koperasi. Selain itu, UMK menerima pelayanan modal pengadaan bahan baku, pemasaran, dan pelatihan atau penyuluhan dari koperasi," katanya.
Untuk modal usaha, Indrarto menambahkan, di Jateng sebagian besar UMK (47,54%) memiliki modal usaha di bawah Rp5 juta. Sedangkan UMK dengan modal antara Rp10juta sampai Rp24 juta rupiah dan Rp5 juta sampai Rp9 juta masing-masing sebesar 17,91% dan 15,29%.
Koran Pak Oles/Edisi 166/1-15 Januari 2009
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah Indrarto Hadijanto, kepada Antara, mengatakan bahwa kondisi tersebut merupakan hasil Sensus Ekonomi 2006.
"Hasil Sensus Ekonomi 2006 tersebut sebagai data untuk bahan evaluasi, perencanaan, dan pengambilan kebijakan," katanya.
Indrarto menyebutkan, usaha perdagangan besar dan eceran mendominasi 1.571.799 unit UMK, dengan menyerap 2.515.092 pekerja.
Sekitar 48,82% UMK mengalami kesulitan dalam menggerakkan usahanya di antaranya karena terbatasnya bahan baku atau barang dagangan, pemasaran, permodalan, bahan bakar minyak (BBM), transportasi, keterampilan tenaga kerja, dan upah buruh.
Lanjut Indrarto, sebagian besar (41,10%) UMK di Jateng mengalami kesulitan pemasaran dan kesulitan modal 28,84%. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa aspek pemasaran UMK diharapkan menjadi fokus utama pemerintah dan pengusaha, dengan tetap memerhatikan aspek pemberian modal.
Kesulitan pemasaran, kata Indrarto, sebagian besar pada sektor real estate (48,38%), persewaan dan jasa perusahaan (48,38%), sektor perdagangan serta sektor akomodasi (46,62%), dan penyediaan makan (45,81%). Sedangkan sebagian besar sektor perantara keuangan mengalami kesulitan modal sebesar 46,80%.
Terkait sumber modal, sebagaian UMK Jateng menggerakkan usahanya dengan modal milik sendiri (81,79%). Hanya 18,21% UMK yang melakukan pinjaman modal dari pihak lain seperti meminjam ke bank, perorangan, dan keluarga.
"Dari seluruh UMK yang melakukan pinjaman modal, 5,98% di antaranya melakukan pinjaman ke koperasi. Selain itu, UMK menerima pelayanan modal pengadaan bahan baku, pemasaran, dan pelatihan atau penyuluhan dari koperasi," katanya.
Untuk modal usaha, Indrarto menambahkan, di Jateng sebagian besar UMK (47,54%) memiliki modal usaha di bawah Rp5 juta. Sedangkan UMK dengan modal antara Rp10juta sampai Rp24 juta rupiah dan Rp5 juta sampai Rp9 juta masing-masing sebesar 17,91% dan 15,29%.
Koran Pak Oles/Edisi 166/1-15 Januari 2009


0 komentar:
Posting Komentar