Pengurus Cabang Magabudhi Kota Semarang menggelar upacara "Pattidana" atau pelimpahan jasa di Vihara Tanah Putih Semarang, Senin (29/12).
"Pattidana adalah upaya untuk melaksanakan kontak batin dengan leluhur. Kontak tersebut terjalin karena mengembangkan kebajikan-kebajikan yang diwujudkan dengan memberikan perhatian kepada leluhur yang pernah membangun kehidupan bagi kita," kata Bhikkhu Sujano dalam "dhammadesana` (khotbah) di hadapan umat Buddha.
Upacara Pattidana atau pelimpahan jasa yang diselenggarakan setiap akhir tahun oleh Pengurus Cabang Magabudhi Kota Semarang ini merupakan salah satu upacara ritual yang dimaksudkan untuk menyalurkan jasa kepada sanak keluarga yang sudah meninggal.
Dengan melakukan upacara ini diharapkan apabila mereka yang sudah meninggal dunia itu dilahirkan dalam alam yang menyedihkan dan menderita dapat mengakhiri penderitaan karena limpahan jasa oleh keturunannya.
Menurut dia, manfaat pelaksanaan upacara ini akan membantu kesulitan yang dihadapi, bagaikan jembatan yang terjalin antara leluhur dengan yang ditinggalkan.
Pandita D. Henry Basuki, sesepuh Umat Buddha di Semarang mengatakan, tidak selayaknya meninggalkan penghargaan atas jerih payah serta perjuangan para pendahulu yang sudah meninggal.
Mereka, kata dia, telah mengedepankan kemampuan yang ada serta harta benda untuk melestarikan agama Buddha di Indonesia. Peninggalan itu berupa bangunan, buku, tulisan, gagasan, maupun semangat yang tetap ada hingga sekarang ini. "Sudah selayaknya generasi penerus senantiasa memberikan penghargaan dengan cara memelihara warisan yang ditinggalkan serta meningkatkan semangat juangnya demi masa depan. Merupakan etika untuk menghargai jasa-jasanya," katanya.
Ia menyebutkan, beberapa pemuka Agama Buddha yang telah meninggal dunia antara lain Bhikkhu Khemasarano THera, bhikkhu yang cukup lama bermukim di Viahara Tanah Putih serta membina Umat Buddha sampai ke pelosok desa, MU S Mangunkawatja yang juga tokoh Taman Siswa dan pernah menjadi anggota MPRS, Pandji Bagus S yang senantiasa mengisi kekurangan biaya operasional Vihara Tanah Putih pada awal berdirinya.
Kemudian Pandita Silasuriya yang membangun stupa di atas dhammasala Vihara Tanah Putih, Pendita Sabar Alym, Pandita Reksowardoyo yang meninggalkan terjemahan Kitab Badra Santi.
Berkaitan dengan acara ini juga dilaksanakan "abaya dana" (Fang Sen) dengan cara melepaskan burung sebagai lambang dana kebebasan bagi setiap makhluk yang terbelenggu kebebasannya. Upacara ditutup dengan pelimpahan jasa dengan cara menuangkan air sebagai lambang tersalurnya jasa kepada yang telah meninggal.
Koran Pak Oles/Edisi 166/1-15 Januari 2009
"Pattidana adalah upaya untuk melaksanakan kontak batin dengan leluhur. Kontak tersebut terjalin karena mengembangkan kebajikan-kebajikan yang diwujudkan dengan memberikan perhatian kepada leluhur yang pernah membangun kehidupan bagi kita," kata Bhikkhu Sujano dalam "dhammadesana` (khotbah) di hadapan umat Buddha.
Upacara Pattidana atau pelimpahan jasa yang diselenggarakan setiap akhir tahun oleh Pengurus Cabang Magabudhi Kota Semarang ini merupakan salah satu upacara ritual yang dimaksudkan untuk menyalurkan jasa kepada sanak keluarga yang sudah meninggal.
Dengan melakukan upacara ini diharapkan apabila mereka yang sudah meninggal dunia itu dilahirkan dalam alam yang menyedihkan dan menderita dapat mengakhiri penderitaan karena limpahan jasa oleh keturunannya.
Menurut dia, manfaat pelaksanaan upacara ini akan membantu kesulitan yang dihadapi, bagaikan jembatan yang terjalin antara leluhur dengan yang ditinggalkan.
Pandita D. Henry Basuki, sesepuh Umat Buddha di Semarang mengatakan, tidak selayaknya meninggalkan penghargaan atas jerih payah serta perjuangan para pendahulu yang sudah meninggal.
Mereka, kata dia, telah mengedepankan kemampuan yang ada serta harta benda untuk melestarikan agama Buddha di Indonesia. Peninggalan itu berupa bangunan, buku, tulisan, gagasan, maupun semangat yang tetap ada hingga sekarang ini. "Sudah selayaknya generasi penerus senantiasa memberikan penghargaan dengan cara memelihara warisan yang ditinggalkan serta meningkatkan semangat juangnya demi masa depan. Merupakan etika untuk menghargai jasa-jasanya," katanya.
Ia menyebutkan, beberapa pemuka Agama Buddha yang telah meninggal dunia antara lain Bhikkhu Khemasarano THera, bhikkhu yang cukup lama bermukim di Viahara Tanah Putih serta membina Umat Buddha sampai ke pelosok desa, MU S Mangunkawatja yang juga tokoh Taman Siswa dan pernah menjadi anggota MPRS, Pandji Bagus S yang senantiasa mengisi kekurangan biaya operasional Vihara Tanah Putih pada awal berdirinya.
Kemudian Pandita Silasuriya yang membangun stupa di atas dhammasala Vihara Tanah Putih, Pendita Sabar Alym, Pandita Reksowardoyo yang meninggalkan terjemahan Kitab Badra Santi.
Berkaitan dengan acara ini juga dilaksanakan "abaya dana" (Fang Sen) dengan cara melepaskan burung sebagai lambang dana kebebasan bagi setiap makhluk yang terbelenggu kebebasannya. Upacara ditutup dengan pelimpahan jasa dengan cara menuangkan air sebagai lambang tersalurnya jasa kepada yang telah meninggal.
Koran Pak Oles/Edisi 166/1-15 Januari 2009


0 komentar:
Posting Komentar