Kerajinan batik tulis Sumber Sari, Kecamatan Maesan, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, tidak diproduksi secara massal, bahkan sasaran pembelinya pun dari kalangan menengah ke atas.
"Sasaran pembeli produk kami kalangan menengah ke atas. Harganya pun bervariasi, yakni mulai Rp250 ribu sampai Rp4 juta, tergantung jenis kain dan tingkat kesulitan desain," kata Ifriko Desriandi, seorang desainer batik tulis Sumber Sari ketika ditemui Antara di Bondowoso, Minggu (28/12).
Kain yang digunakan untuk membatik, lanjut alumni arsitektur Unmer Malang ini, adalah kain katun dan sutera jenis asli tenun bukan mesin (ATBM). Kain sutera ini dibeli dari Garut, Jepara, Ciamis, Serkang Sulawesi, dan Bali.
Ia mengatakan, desain batik buatan tangan dengan menggunakan pewarna alami ini hanya diperuntukan satu produk. "Kami ingin pembeli batik tulis Sumber Sari tidak takut desainnya dipakai orang lain," katanya.
Menurut dia, sejumlah pemerintah kabupaten (pemkab) di Jatim meminta dibuatkan batik untuk pakaian khas. Misalnya, Bondowoso, menggunakan motif tanaman singkong.
Pemkab lainnya, Jember dengan batik motif tembakau, Lumajang memilih motif pisang, Situbondo memesan batik bermotif tanaman bakau, ikan, dan kerang, sedangkan Probolinggo bermotif mangga, Gunung Bromo, dan anggur.
Namun sayangkan, kata dia, batik tulis yang mulai ada sejak 1984 ini kurang mendapat perhatian dari pemkab setempat.
Bahkan, kata Ifriko, saat pameran besar menggunakan nama batik tulis Sumber Sari Jember. Pasalnya Pemkab Jember banyak memberikan bantuan.
Untuk sementara ini, pemasaran batik tulis Sumber Sari hanya memenuhi konsumen lokal, belum diekspor.
"Ya, karena tidak bisa menghasilkan produk yang banyak dalam waktu singkat," katanya ketika ditemui di lokasi pembuatan batik tulis Sumber Sari di selatan kota Bondowoso, jaraknya sekitar 15 kilometer dari pusat kota tape.
Koran Pak Oles/Edisi 166/1-15 Januari 2009
"Sasaran pembeli produk kami kalangan menengah ke atas. Harganya pun bervariasi, yakni mulai Rp250 ribu sampai Rp4 juta, tergantung jenis kain dan tingkat kesulitan desain," kata Ifriko Desriandi, seorang desainer batik tulis Sumber Sari ketika ditemui Antara di Bondowoso, Minggu (28/12).
Kain yang digunakan untuk membatik, lanjut alumni arsitektur Unmer Malang ini, adalah kain katun dan sutera jenis asli tenun bukan mesin (ATBM). Kain sutera ini dibeli dari Garut, Jepara, Ciamis, Serkang Sulawesi, dan Bali.
Ia mengatakan, desain batik buatan tangan dengan menggunakan pewarna alami ini hanya diperuntukan satu produk. "Kami ingin pembeli batik tulis Sumber Sari tidak takut desainnya dipakai orang lain," katanya.
Menurut dia, sejumlah pemerintah kabupaten (pemkab) di Jatim meminta dibuatkan batik untuk pakaian khas. Misalnya, Bondowoso, menggunakan motif tanaman singkong.
Pemkab lainnya, Jember dengan batik motif tembakau, Lumajang memilih motif pisang, Situbondo memesan batik bermotif tanaman bakau, ikan, dan kerang, sedangkan Probolinggo bermotif mangga, Gunung Bromo, dan anggur.
Namun sayangkan, kata dia, batik tulis yang mulai ada sejak 1984 ini kurang mendapat perhatian dari pemkab setempat.
Bahkan, kata Ifriko, saat pameran besar menggunakan nama batik tulis Sumber Sari Jember. Pasalnya Pemkab Jember banyak memberikan bantuan.
Untuk sementara ini, pemasaran batik tulis Sumber Sari hanya memenuhi konsumen lokal, belum diekspor.
"Ya, karena tidak bisa menghasilkan produk yang banyak dalam waktu singkat," katanya ketika ditemui di lokasi pembuatan batik tulis Sumber Sari di selatan kota Bondowoso, jaraknya sekitar 15 kilometer dari pusat kota tape.
Koran Pak Oles/Edisi 166/1-15 Januari 2009


0 komentar:
Posting Komentar