Sisi Romantis Warung Akame

thumbnail
OLEH: HENI KURNIAWATI
Suasana yang teduh dan asri ditawarkan oleh kolam pancing dan restoran Warung Akame yang dapat ditempuh selama 10 menit dari pusat kota Denpasar. Sekitar 20 menit dari pantai Kuta, tepatnya di Jl Pelabuhan Benoa no 7x, Denpasar. Restoran yang dibangun di atas danau menghadirkan suasa romantis. Tentu saja menambah kenikmatan bagi pemancing dan pengunjung restoran.
Area kolam pancing seluas 6 hektar. Lokasi memancing yang leluasa ini seakan menantang penghobis mancing beradu keberuntungan dengan ikan air laut. Menurut manager operasional Warung Akame, Made Widianta, pihaknya memberikan fasilitas kolam pancing dengan 9 gasebo yang dapat digunakan sebagai tempat santai sambil memancing ikan bandeng, kakap dan kerapu. Mereka dapat memilih ikan sesuai selera. Hasil pancingan dihitung per kilogram. Untuk satu kilo bandeng, pemancing dapat merogoh kocek sebesar Rp 40 ribu, kakap Rp 60 ribu/kg.
Bagi pemancing profesional telah disediakan kolam pancing master. Dalam kolam pancing master ikan yang ditangkap dilepas kembali. Restoran di tengah danau menambah nikmatnya santap bersama rekan atau keluarga setelah seharian memancing. “Kolam pancing di Akame menyediakan tiga jenis ikan yaitu kakap, ikan bandeng dan kerapu. Namun Akame terkenal dengan ikan baramundi putihnya atau yang kerap dikenal kakap. Ikan kakap ini banyak diminati pemancing. Untuk pemancing yang ingin ikannya dimasak langsung di Akame, ada biaya tambahan sebesar Rp 30 ribu/kg,” kata pria asal Lampung tengah.
Setiap Sabtu dan Minggu, Akame dibanjiri para penghobi mancing. Mereka tidak segan-segan keluarkan uang ratusan ribu untuk menyalurkan kegemarannya. Selain kolam pancing, Akame juga menawarkan berbagai masakan ala Jimbaran dan Chiness food.

KONSULTASI SEKS: Mobil Tua

thumbnail
Tanya: Suami saya umurnya 57 tahun, dan sudah pensiun. Sejak pensiun, kami sering di rumah berdua. Saya ingin sekali mengulang bulan madu saat banyak punya waktu. Sayangnya, burungnya ikut-ikutan pensiun. Malas berkotek, selalu merunduk lesu, melingkar sembunyi di saku celananya. Dia jarang melongokkan kepalanya keluar. Setiap saya mau ajak, dia bilang lemes, tidak ada setrum! Bagaimana akal?
Dari: Gung Anik, Denpasar.

Jawaban Pak Oles
Faktor usia sangat berpengaruh terhadap kecepatan ereksi. Semakin muda semakin jreng! Semakin tua semakin macet-macetan alias kurang rajin. Asal tidak macet sama sekali, masih bisa diakali. Menurut Jenifer L Floren PhD, dalam bukunya The Complete Sex Guide, setelah pria berusia 50 tahun, ereksinya perlu dilakukan rangsangan penis langsung dengan tangan atau mulut. Bahkan bila terjadi ereksi, penis tidak cukup kaku. Karena itu, harus dipahami bahwa ereksi yang kurang spontan tidak berarti kemampuan atau hasrat seksnya lemah. Ibarat mobil tua, dia bisa hidup, tapi harus didorong dulu. Maklum akinya soak atau businya mati. Jadi anda harus rajin menyerpisnya sebelum dipakai agar agak jreng! Mohon sabar dan tekun.

SOKSIOLOGI: Konsentrasi Dan Relaksasi

thumbnail
Oleh: Pak Oles
Rodney Mercado, seorang guru musik dan seniman hebat menegaskan pentingnya konsentrasi dan relaksasi untuk mencapai prestasi tinggi. Dia mengatakan bahwa, “hanya ada dua prinsip yang perlu anda pegang untuk memainkan musik yang hebat atau untuk menjalani kehidupan yang hebat: konsentrasi dan relaksasi. Hanya itu. Hanya itu saja.”
Orang hebat yang dimaksud adalah mereka yang memiliki prestasi tinggi dalam bidang apapun. Untuk menjadi orang yang berprestasi tinggi hanya diperlukan dua hal yang cukup sederhana, yaitu konsentrasi dan relaksasi. Tetapi, untuk melaksanakan dua hal yang sederhana tersebut tidaklah semudah membalik telapak tangan. Itu harus dilakukan dengan penuh kesadaran, perhatian, kewaspadaan, kepekaan.
Apapun bidang yang kita tekuni haruslah kita bisa berkonsentrasi pada bidang tersebut. Konsentrasi yang dimaksud adalah tetap fokus, detil, cepat, terarah, mendalam, peka dan intensif untuk memperdalam dan mengembangkan ilmu tersebut. Dengan konsentrasi kita tidak ragu-ragu dalam bertindak dan berkarya. Dengan konsentrasi kita mengetahui dan menyadari segala kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman yang kita miliki, sehingga seluruh potensi positif yang kita miliki bisa kita arahkan untuk kemajuan ilmu, dan seluruh potensi negatif yang kita miliki bisa kita carikan jalan keluarnya untuk memberikan hasil yang positif. Demikian pentingnya konsentrasi untuk mencapai keberhasilan tinggi, maka konsentrasi haruslah dilatih. Mereka yang berkonsentrasi adalah mereka yang tekun, jujur, ulet, kuat, cepat dan mantap. Bagaimana cara melatih konsentrasi adalah dengan setiap saat melatih kesadaran, perhatian, kewaspadaan dan kepekaan, sehingga sikap tersebut bisa menjadi gaya hidup.
Karena konsentrasi memerlukan energi tinggi yang terarah, maka perlu diseimbangkan dengan relaksasi. Relaksasi yang dimaksud adalah melemaskan seluruh otot dan syaraf yang tegang setelah berkonsentrasi, sehingga bisa disegarkan kembali. Relaksasi berarti santai, gembira dan menikmati kehidupan saat ini dalam segala suka dan duka, sehingga kita bisa menangkap makna kehidupan. Relaksasi berarti menyerap segala informasi yang bisa dihubungkan dengan bidang ilmu yang dipelajari, sehingga kita bisa melihatnya dari berbagai sudut pandang.
Untuk menjadi hebat perlu konsentrasi dan relaksasi. Hanya itu saja. Konsentrasi memerlukan energi yang yang kuat memancar untuk tetap fokus dan terus menerus. Relaksasi adalah lawan dari konsentrasi, yaitu energi yang menerima, ikhlas dan tulus. Relaksasi adalah energi yang bisa membuang segala bentuk informasi yang tidak diperlukan.
Seseorang yang memiliki prestasi biasa-biasa saja, sedikit di atas atau di bawah rata-rata, prestasi jeblok atau underdog, yang bukan prestasi juara, pastilah tidak memiliki konsentrasi dan relaksasi. Konsentrasi bukan berarti bekerja sambil mengerutkan dahi atau memicing-micingkan mata, bukan yang bekerja mati-matian sampai siang dan malam, tapi bekerja dengan fokus. Yang fokus adalah pikirannya, terarah dan waspada, akan setiap tahapan, proses dan kemajuan yang dicapai. Orang yang bekerja fokus tidak pernah merasa capai, atau bosan, karena pikirannya tidak pernah terganggu dengan segala hal yang membuatnya letih atau membosankan. Sebagai manusia, orang yang berkonsentrasi pasti pernah letih dan bosan, tapi karena pikiran yang fokus, energinya cepat pulih untuk meneruskan tugasnya, semangatnya muncul lagi dengan lebih besar, karena kegairahan dan kegigihannya untuk meraih prestasi. Mereka yang tidak berkonsentrasi akan merasakan berbagai gangguan sebagai hambatan yang melelahkan dan membosankan, yang pada akhirnya akan menurunkan prestasi, kendor, lembek dan stres.
Mereka yang tidak bisa mengendalikan pikirannya agar tetap tenang perlu belajar relaksasi. “Bagaimana bisa tenang jika masalahnya semakin ruwet, waktunya semakin sempit dikejar deadline, pengeluaran semakin membludak sedangkan pemasukannya seencrit-encrit, pekerjaan semakin menumpuk dan dikejar target, sedangkan jalan keluarnya semakin buntu dan targetnya lari semakin kencang, sementara kita berjalan tertatih-tatih karena kaki keseleo? Bagaimana bisa tenang. Coba pikir. Ngomong sih gampang bilang relaksasi dan tenang-tenang. Coba kalau kerja di lapangan, bukan di belakang meja, pinggang dan punggung sakit, otak mumet, berat badan turun drastis, perut mual dan sering mencret, burungpun bisa letoi, bahkan datang bulan bisa ngadat gara-gara stres,” keluh beberapa direktur yang lagi ngerumpi di saat jeda rapat. Dari sinilah kita bisa mengutip kembali petuah Rodney Mercado, bahwa prestasi tidak mungkin bisa dicapai oleh orang yang tidak tenang. Ketenangan memberikan kewaspadaan. Di saat menang harus tetap tenang, agar kemenangan bisa dipertahankan. Di saat kalah juga harus tetap tenang, agar kemenangan bisa direbut kembali. Kalau kita tidak tenang, panik atau lupa diri, maka dalam hitungan waktu, pastilah prestasi kita menjadi anjlok. Begitu mahal dan pentingnya nilai sebuah ketenangan, maka sikap tenang harus dikuasai.
“Mencapai prestasi itu ibarat mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Diperlukan konsentrasi dan relaksasi,” kata seorang ahli motivasi. Supir yang tidak berkonsentrasi pasti jatuh terpelanting, nabrak, terperosok atau ditabrak. Supir yang tidak relaksasi, tidak tenang, pastilah gugup, panik, tegang dan was-was menghadapi berbagai situasi di jalan. Supir yang tidak konsentrasi dan yang tidak relaksasi bernasib sama, kalau tidak ke UGD (Unit Gawat Darurat) pastilah ke kamar mayat. Bisa dipilih yang mana disukai, atau tidak memilih salah satupun dengan menguasai konsentrasi dan relaksasi.
Sebuah prosesi peletakan patung Budha yang sangat berat, kira-kira beratnya satu ton, digotong oleh 10 orang pendeta kurus menaiki tangga menuju tempat altar di daerah ketinggian. Prosesi itu dipimpin oleh ketua pendeta yang kurus pula. Ketua pendeta duduk di atas ketinggian sambil menarik benang yang diikatkan pada tangan patung Budha. Patung Budha yang berat itu digotong naik ke atas altar yang tinggi dengan kekuatan 10 pendeta kurus dan seutas benang. Musik dan doa melantun ritmis seperti gaungan bunyi serangga. Penonton melihat dengan harap-harap cemas. Secara perlahan-lahan, satu-persatu tangga dinaiki, akhirnya patung Budha bisa diletakkan di sebuah altar yang tinggi. Penonton melepas nafas lega karena selamat. Bahkan ada penonton yang duduk lemes setelah prosesi selesai karena jantungnya terlalu berdegup kencang. Sedangkan wajah pendeta-pendeta kurus itu tidak tampak letih sekalipun, dia tersenyum bahagia.
Pertanyaannya adalah: “Kekuatan apa yang bisa mendorong pekerjaan yang tidak masuk akal tersebut?” Tentu saja jawabannya karena kekuatan konsentrasi dan relaksasi. Melalui tarikan seutas benang yang dipimpin oleh ketua pendeta, seluruh kekuatan sudah terkonsentrasi untuk maju melangkahi tangga demi tangga. Mereka yakin, percaya dan fokus bisa menyelesaikan tugasnya. Dengan mendengar irama doa dan musik yang ritmis mereka bisa relaksasi, bisa tenang tanpa beban menaiki tangga.
Akhirnya tugas berat diselesaikan dengan baik dan tanpa terlihat lelah sekalipun. Sebaliknya penonton yang ragu-ragu, tidak konsentrasi, tegang dan harap-harap cemas, yang justru tidak melakukan aktivitas fisik, hanya melihat dan was-was saja, justru duduk lemas setelah pekerjaan yang dilihatnya selesai. Karena apa? Karena tidak konsentrasi dan tidak relaksasi. Semoga pelajaran ini memberi manfaat agar kita bisa menjadi generasi yang berprestasi. Memang tidak semudah membalik telapak tangan, tapi itu harus dilatih.

Pemuda ASEAN Siap Lawan Narkoba

thumbnail
OLEH: BAMBANG TUHARNO
“Apakah narkotika dan obat terlarang menguasai hidup Anda? Masyarakat Anda? Tiada tempat untuk narkotika dan obat terlarang“.
Itulah tema kegiatan lomba pidato Penanggulangan Bahaya Narkotika dan Obat Terlarang Pemuda ASEAN yang berlangsung di Dewan Raya Radio dan Televisi Brunei, 29 Februari lalu. Kegiatan ini digelar oleh lembaga BASMIDA, salah LSM di Brunei Darussalam yang membantu pemerintah untuk merehabilitasi korban narkotika dan obat terlarang bekerja sama dengan Radio dan Televisen Brunei (RTB) dan Kementerian Kebudayaan, Belia dan Sukan Negara Brunei Darussalam.
Kontributor media ini yang meliput helatan acara tersebut melaporkan, acara dibuka Ketua BASMIDA, Datin Hajah Masni binti Haji Mohd Ali. Hj M Ali mengatakan, lomba pidato penanggulangan penyalahgunaan narkotika dan obat terlarang bertujuan untuk mempererat persahabatan generasi muda di kawasan ASEAN dan menyatukan langkah dalam memberantas peredaran narkotika dan obat terlarang.
Di Brunei Darrusalam, lomba pidato terkait masalah bahaya narkotika dan obat-obat terlarang baru digelar pertama kali, dengan 10 peserta dari negara-negara ASEAN. Setiap peserta diberikan 18 pertanyaan yang harus dijawab spontan di hadapan lima Dewan Juri. Setiap peserta menjawab dalam tempo 5 menit.
Selain berpidato, sehari sebelumnya para peserta mengadakan diskusi mengenai penanggulangan narkotika dan obat terlarang di setiap negara anggota ASEAN. Mewakili Indonesia, tampil Muchamad Salyahudin Keswara atau yang akrab disapa Iko. Iko sendiri menjadi salah satu direktur LSM Wijaya Kusuma yang membantu penanganan dan pemulihan korban narkotika dan obat terlarang di Jakarta Selatan.
Dalam pidatonya, Iko menegaskan, komunikasi dan kasih sayang merupakan salah satu kunci keberhasilan mengobati penderita narkoba, termasuk komunikasi harmonis dalam keluarga turut andil dalam proses penyembuhan. Iko yang pernah kecanduan narkoba dan berhasil mengentaskan diri dari narkoba berharap, masyarakat Indonesia agar jangan memandang rendah atau jijik terhadap para pecandu.
Keluar sebagai pemenang lomba pidato adalah Jonathan Lim Kok Hoe (Brunei Darussalam), Jordan Kate Herera Bakani (Fillipina) dan SU Win Htike (Myanmar). Ikut menyaksikan acara tersebut adalah para duta besar ASEAN, guru dan murid-murid sekolah serta LSM se-negara ASEAN.

KETERANGAN FOTO: Indonesia ikut serta dalam Lomba Pidato Penanggulangan Bahaya Narkotika dan Obat Terlarang Pemuda ASEAN, 29 Perubari 2008 di Brunei Darussalam

Terapi Untuk Kesehatan Jantung

thumbnail
OLEH: HENI KURNIAWATI
Ketika harapan sudah mulai menipis, kala pengobatan modern dianggap tidak lagi menjadi satu-satunya solusi akhir penyembuhan suatu jenis penyakit yang diderita seseorang, muncul banyak alternatif tawaran penyembuhan. Dengan pemberian obat kepada pasien jantung koroner bisa melebarkan pembuluh darah koroner, terapi angioplasty dan stent (ring) atau operasi by pass, pembuluh darah koroner pun menjadi pilihan pasien sampai saat ini.
Hanya saja, ada sebagian pasien yang menderita nyeri dada tidak hilang dengan pemberian obat secara maksimal. Kehadiran pengobatan alternatif seakan memberikan angin segar bagi pasien yang tengah dirundung rasa putus asa. Terapi EECP yang beroperasi di Jl P Nusa Penida 26, Denpasar dan berkantor pusat di Bandung, misalnya dapat memberi harapan baru bagi pasien penyakit jantung koroner (PJK) yang tidak dapat disembuhkan lewat operasi by pass.
EECP merupakan terapi invantif untuk pasien PJK dengan alat manset kompressi yang dipasang mengelilingi betis, paha dan bokong. Dr Jo Suherman mengatakan, urutan pemompaan manset menciptakan gelombang tekanan balik yang memperbesar tekanan diastol, meningkatkan tekanan perfusi koroner dan perfusi jantung serta meningkatkan jumlah darah balik ke jantung kanan. Selain itu terjadi pengempisan cepat dan menurunkan tahanan pembuluh darah sistemik sehingga afterload berkurang dan kerja jantung menjadi ringan. Hal itu terjadi karena kebutuhan (konsumsi) oksigen oleh otot jantung berkurang.
“Efek hemodinamik ini menghasilkan pendayagunaan kolateral yang ada dan membentuk serta mengembangkan kolateral baru terutama di sekitar pembuluh darah koroner yang menyempit sehingga otot jantung yang kekurangan darah pada daerah penyempitan pembuluh darah dapat dibantu,” katanya.
EECP dapat memperbaiki fungsi endotel (sel-sel dinding pembuluh darah), merangsang pembentukan pembuluh darah kolateral di jantung, meningkatkan fungsi ventrikel kiri dan menyebabkan efek fisiologi training effect seperti saat olah raga. Pasien yang bisa menjalani terapi EECP merupakan pasien yang tidak merespon obat yang diminum. Orang yang mengalami gangguan aktivitas seperti nyeri dada saat olah raga atau jalan jauh. Juga bagi mereka yang takut operasi by pass, pasien yang memiliki resiko penyakit lain (anemia, diabetes dan hipertensi).
EECP tidak dapat diberikan kepada penderita yang mengalami gangguan irama jantung, pasien yang sering mengalami pendarahan dan pada ibu hamil. “Setiap pasien PJK dapat diterapi dengan EECP asal bukan orang yang mengalami jantung bocor, peradangan pembuluh darah vena atau varises besar, anoreksia, mudah pendarahan dan ibu hamil. Bagi ibu hamil tekanan yang diperoleh dari terapi EECP dapat berisiko pada keguguran,” jelas Suherman.
PJK ringan membutuhkan satu jam per hari selama sebulan atau sejam per minggu, sebagai langkah mengontrol kondisi jantung. Sedikitnya 180 jam dibutuhkan bagi pasien yang memiliki faktor PJK berat. “Pasien yang mengalami PJK berat dapat melakukan terapi jantung selama 180 jam dan satu bulan untuk PJK ringan. Terapi jantung EECP tidak membutuhkan obat seperti pengobatan modern lain,” tambah Suherman.

Peran Ibu Mengembangkan Rasa Ingin Tahu Anak

thumbnail
OLEH: HENI KURNIAWATI
Kurangnya pengetahuan ibu tentang potensi yang dimiliki setiap orang, sering membuat seorang ibu membandingkan anaknya yang satu dengan anaknya yang lain atau dengan anak orang lain yang dianggap lebih baik dari anaknya. Pada kenyataannya setiap individu memiliki keunikan sendiri dan setiap anak memiliki potensi dan kemampuan berbeda-beda yang tidak dapat disamakan. Hal tersebut dapat memicu anak tidak memiliki kepribadian sendiri dan cenderung meniru orang lain.
Yang perlu dilakukan seorang ibu, membiarkan anak berkreasi menurut karakter sendiri. Sedangkan tugas orang tua berusaha mengenali potensi anak dan memberi pendampingan agar anak dapat berkembang secara kreatif. Hal tersebut ditekankan psikolog asal Jakarta, dr Diennaryati Tjokrosuprihatono, MPsi di sela seminar kesehatan yang diadakan RSU Surya Husadha di Sanur pekan terakhir Februari lalu.
Peran orang tua wajib mengetahui potensi anak agar dapat dikembangkan secara optimal sejak dini, sehingga anak memiliki ciri khas, keunikan dan kemampuan sesuai karakter sendiri, tanpa meniru keunikan dan kemampuan orang lain. ”Sebagai orang tua harus mengetahui dan mengenali potensi anak. Apa yang menjadi keunikan anak, orang tua harus dapat mengerti dan mendukungnya sedini mungkin. Sebab semua potensi anak bisa dikembangkan dengan optimal sejak dini,” kata dr Diennaryati.
Optimalisasi kreativitas anak dilakukan sejak dini karena pada usia 3 tahun pertama merupakan masa kritis dalam perkembangan kemampuan otak seseorang. Otak bayi memiliki kemampuan menyerap informasi dari lingkungan. “Anak dapat dididik sejak lahir tetapi hal ini tidak menjadikan anak genius melainkan lebih pada anak akan sehat jasmani, lebih cerdas, luwes dan berbudaya. Dididik maksudnya memberikan rangsangan pengetahuan agar mudah ditangkap dan bukan diajari secara paksa karena menyebabkan anak tidak akan merespon sesuatu,” jelasnya.
Wakil Dekan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia ini menilai, jika menstimulasi kreativitas anak pada periode kritis tidak hanya merangsang aspek kognitif (intelektual) tetapi juga panca indera, aspek motorik (keseimbangan), komunikasi (bahasa), kecerdasan, kreativitas, aspek emosi dan sosial, moral, disiplin, konsentrasi dan ketekunan. Semua itu akan terpenuhi dengan menstimulasi lewat bermain. Tujuannya agar tugas perkembangan anak terpenuhi. Sebab bermain bagi anak adalah mutlak. Dengan bermain anak dapat menangkap berbagai hal dengan senang sehingga menumbuhkan dan mengembangkan kreativitas dan rasa ingin tahu.

Lebah Cerana, Lebah Lokal Asia

thumbnail
OLEH: AGUS SALAM
Sampai saat ini jenis lebah madu yang banyak dibudidayakan di Indonesia adalah Apis Cerana dan Apis Mellifera. Lebah Apis Cerana merupakan lebah lokal Indonesia yang dapat beradaptasi sangat baik dengan lingkungan setempat. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan Institut Pertanian Bogor di Kabupaten Lombok Barat, Apis Cerana merupakan lebah madu yang lebih efisien dalam mengumpulkan nektar tanaman. Namun sayangnya, produksi madunya agak rendah serta mudah kabur dari sarang.
Berbeda dengan jenis Lebah madu A. mellifera yang masuk pertama kali ke Indonesia dari Australia pada tahun 1972 oleh Pusat Apiari Pramuka. Produksi madu lebah ini cukup banyak. Dan tujuan didatangkannya, lebah Apis mellifera ini untuk memperkenalkan budidaya lebah madu secara modern kepada petani ternak serta untuk memenuhi permintaan madu konsumen dalam negeri.
Apis cerana atau lebih dikenal dengan lebah kelanceng ini. disebut juga lebah madu Asia yang tersebar di Afghanistan, Cina, Jepang dan Indonesia. Berdasarkan analisis morfometrik, A cerana dikelompokkan ke dalam empat sub spesies; Apis cerana, Apis cerana indica, Apis cerana japonica dan Apis cerana Himalaya. Sub spesies, Apis cerana ada di Cina, Afghanistan, Pakistan, India bagian Utara dan Vietnam bagian Utara. Spesies Apis cerana Indica di India Selatan, Indonesia, Fhilipina, Malaysia, Srilangka, Banglades, Myanmar dan Thailand. Apis cerana Japonica berkembang di Jepang, sedangkan Apis cerana Himalaya di sekitar pegunungan Himalaya, Nepal (Yoshida, 1998).
Apis cerana berukuran tubuh kecil, mudah kabur dari sarang (absconding) bila terusik, resisten terhadap serangan predator tawon dan parasit tungau. Lebah ini mampu beradaptasi dengan daerah tropis dan efisien dalam mengumpulkan nektar. Pada umumnya koloni lebah dipelihara di dalam sarang, baik yang dibentuk alami maupun stup buatan manusia. Produksi madu Apis cerana relatif rendah. Budidaya peternak Indonesia hanya menghasilkan madu 5-10 kg per koloni setiap tahun.
Indonesia merupakan daerah tropis yang ditumbuhi berbagai spesies tanaman. Sekitar 25.000 tanaman berbunga tumbuh subur di negeri ini. Diversitas tanaman yang sangat besar itu memungkinkan tersedianya pakan lebah sepanjang tahun, karena banyaknya jenis tanaman yang berbunga sepanjang tahun. Di dalam bunga tanaman terdapat nektar yang menjadi bahan baku utama pembuatan madu.
Di dunia, dalam penelitian yang dilakukan Institut Pertanian Bogor (IPB), sekitar 20.000 jenis lebah yang termasuk dalam super famili Apoidae, salah satunya Apidae. Hingga kini sudah diketahui 9 jenis genus Apis; Apis andreniformis, Apis cerana, Apis dorsata, Apis florea, Apis koschevnikovi, Apis laboriosa, Apis mellifera, Apis nigrocincta dan Apis nuluensis.

Instalasi Spontan Power Untuk Suzuki Katana

thumbnail
Pemasangan Spontan Power (SP) pada kendaraan Jeep Suzuki Jimmy Katana sangat berbeda dengan kendaraan jenis Jeep lain. Meski begitu, khusus merek Suzuki ada persamaan dengan jenis Jeep Suzuki lain seperti Escudo, Vitara, dan Sidekick. Pemasangan harus dilakukan sebelum filter bensin. Filter bensin untuk Jeep ini terletak dekat dengan tangki bensin, terlihat pada gambar I. Karena letak filter bensin pada casis bawah, maka pemasangan SP seperti terlihat pada gambar II.
Langkah pemasangan, persiapkan alat-alat penunjang pemasangan berupa dua buah klem bensin, 30 cm selang bensin dan tali pengikat. Lepas selang bensin dari tangki menuju ke filter bensin agar bensin tidak tumpah. Selang bensin dijepit dengan tang penjepit. Hubungkan selang yang dilepas dengan SP nepel In dan nepel Out, SP dihubungkan dengan selang yang telah tersedia sepanjang 30 cm. Ujung selang yang lain dihubungkan dengan nepel In filter bensin. Setiap sambungan harus dikeraskan dengan klem bensin (gambar III). Usahakan agar selang bensin tidak tertekuk. SP siap digunakan.
KPO/EDISI 148/MARET 2008

Dampak Pemakaian Biotor

thumbnail
KONSULTASI BIOTOR :Rubrik ini diasuh oleh Drs Yunus Sugianto, staf ahli produk PT Pak Oles & Biotor Technology. Pembaca dapat mengirim pertanyaan soal kinerja dan aplikasi Spontan Power, Hexon dan Kudo ke email yunus_biotor@yahoo.com atau sms ke Tlp Flexi (0361) 7982045, HP 08873852310 atau datang ke Bengkel Pak Oles Jl. Pulau Kawe, Gang II, No 7, Denpasar.

Tanya:
Pak Yunus Yth
Saya pengguna produk setia produk Biotor. Akhir-akhir ini saya menggunakan Kudo (vitamin BBM) dan Spontan Power (SP). Yang ingin saya tanyakan, apa dampak negatif yang bakal timbul bila takaran Kudo melebihi standar? Apakah ada perbedaan dan pengaruhnya bila pemasangan Spontan Power di sepeda motor vertikal dan horizontal.
Dari: Bpk Yanto Hp: 0852330915xxx, Bandung, Jawa Barat.

Jawaban Yunus Sugianto:
Terima kasih Pak Yanto atas pertanyaannya.
Kudo, yang lebih dikenal dengan sebutan vitamin BBM dapat digunakan untuk kendaraan berbahan bakar bensin dan solar. Kendaraan berbahan bakar bensin ada dua jenis yakni mesin 2–tak dan mesin 4-tak. Untuk mesin 2-tak dan solar, takaran Kudo boleh melebihi standar takaran. Sedangkan untuk jenis kendaraan 4-tak takaran 1 ml Kudo : 1 liter bensin. Ini harus dipatuhi sehingga efisiensi penggunaan bahan bakar sebesar 20% dapat terpenuhi. Juga penting perhatikan saat pengisian Kudo harus dilakukan sebelum isi BBM. Artinya, tuangkan Kudo sesuai jumlah liter pengisian lalu baru isi bensin di SPBU agar Kudo dapat tercampur merata dengan bensin atau solar.
Untuk pemasangan Spontan Power di sepeda motor, posisi Spontan Power harus datar atau kemiringan 15 derajat. Pada posisi ini semua butiran EM keramik terendam dengan baik dalam bensin. Untuk posisi vertikal, butiran EM keramik tidak terendam dengan bensin dan dampak pada sepeda motor, mesin akan tersendat-sendat karena kekurangan bensin atau sirkulasi BBM terhambat.

APLIKATOR: Spontan Power Hemat BBM

thumbnail
Nama : Supriadi
Umur : 38 Tahun
Pekerjaan : PNS
Alamat : Bandung
Kebetulan motor saya boros dan tarikan kurang bagus. Lalu saya coba menggunakan produk dari PT Pak Oles & Biotor Technology untuk menghemat bahan bakar yaitu Spontan Power. Tarikan motor jadi ringan dan hemat bahan bakar. Terima kasih Pak Oles.

Honda Genio 1992, Kuta

thumbnail
Borong Koleksi The Best
Soal tampilan, geberan Honda Genio memang jagonya. Tampilan bodi sportif nan mewah cukup wakili kesan modif. Meski demikian, tidak terbesit sedikit pun di benak sang owner Ronny, guna mempertahankan suguhan pabrik. Baginya, mobil kudu mendapat perhatian lebih. ‘’ Belum tentu pemberian pabrik itu baik. Ada baiknya lagi bila aku yang dandanin sendiri biar tampilan lebih mentereng, ‘’ celetuk cowok trendi ini.
Aksi dandan perdana ibarat pasien menjalani operasi wajah. Bedanya, mobil Ronny memakai material keras dengan penambahan plat depan 4 cm dan belakang 6 cm pada wide bodi custom. Anggota Secret Crew (SC) ini melabur kulit luar bodi sebagai pemanis mata dengan motif kelir Red & Gold Candy Tones dipadu uratan airbrush motif grafis bunglon paint.
Gubahan juga terjadi pada sektor kaki. Roda bawaan pabrikan digusur dengan velg LX Rozeest Luxsuri 18 inc yang dibaluti karet bunder merk Tyres Campiro HPZ-40. Interior juga nggak kalah heboh, diawali jog seat dari MB Tech menjalar pada adopsi pedal seat dan gear knop Momo.
Masih pada ruang kabin, warga yang ngendon di Jl Bhineka Jati Jaya IX/27, Kuta ini bener-bener telaten manjain kuping. Bagasi belakang yang berfungsi sebagai pengaman barang muatan, disulap dengan kehadiran seperangkat super audio yang terakit apik. Hasilnya, dentuman bass yang dihasilkan dari duo subwoofer Apache 12 inch mampu tandingi diskotik. Lewat aksinya ini, Ronny dinobatkan sebagai The Best Airbrush Graphic, Extreme Style, Wide Body hingga Killer Colour pada gelaran modifikasi belum lama berselang. (DONY/dot_montorku@yahoo.com)

DATA MODIFIKASI
Head Lamp : BMW
Stop Lamp : Mitshubishi Lancer Evo
Wide Body : Custom
Velg : LX Rozest Luxsuri
Body Colour : Red & Gold Candy Tones
Air Brush : Grafis Bunglon Paint
Head Unit : Pioner, Apple 1 Pod, Oris
Power : 2 Pcs Apache, 1 Pc Performance
Subwoofer : 2 Pcs Apache 12 Inch
Speaker : 6 pcs RTX 6 Inch
TV : Oris 7 inch
Crossover : 1 Pc Coustik
KPO/EDISI 148/MARET 2008

Pernah Lakoni Adegan Melayang

thumbnail
Cynthia Pricilla
Siapa sangka gadis cantik nan tinggi semampai ini bisa beralih rupa jadi hantu? Faktanya sosok Cynthia (16) berkelibat sebagai hantu di sebuah film layar lebar nasional Leak. Pengalaman unik dan menegangkan itu dilewati dalam dua bulan proses syuting bersetting panorama alam Bali dan megapolitan Jakarta. Selain senang, juga gadis blasteran Belanda ini amat khawatir. ‘’Aku harus beradegan melayang dengan sling. Diceburin ke laut pun aku pernah lakoni,’’ tuturnya.
Pengalaman seru yang lain sering ditemuinya kala melakoni profesi sebagai seorang model. Sebuah majalah motor besar ternama pernah mengontraknya sebagai foto model. Tak pelak ia harus berpose di atas kuda besi besar. Bahkan ia sempat mencicipi boncengan motor Harley Davidson. ‘’Menyenangkan. Sensasinya keren walau terasa panas saat keliling jalan. Aku ketagihan pengen lagi,” ujar Cynthia. Tapi ia berharap tampilan pemboncengnya tidak segarang kesan HD bikers yang berbadan besar. Sayang, si cantik ini belum pernah bertemu sosok bikers HD yang manis dan cute. (INDAH/hadni_wulan@yahoo.co.id)

BIODATA
Nama : Cynthia Pricilla
Panggilan : Cynthia
Tempat/Tanggal Lahir : Surabaya, 6 April 1991
Tinggi/Berat Badan : 173 cm/55 kg
Pendidikan Terakhir : Kelas III SMA PGRI 6 Denpasar
Prestasi : Best of The Best Model (1999) Jakarta
Orang Tua : Ade Sri Martiningsih
Alamat : Jl Pulau Moyo, Gg Horti III/3X Denpasar
Agency : Profile Art Entertainment
Lokasi Pemotretan : Jak Resto Handle Bar & Grill, Jl Sunset Road 153 Kuta, Bali
Motor Favorit : Harley Davidson
Fotografer : Gede Sustrawan, Putu Wirnata & Ario Agung S.
KPO/EDISI 148/MARET 2008

Emosi Rakyat Ada Batasnya!

thumbnail
OLEH: SULIS STYAWAN
Pembelajar di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dan bergiat Center for Education Urgency Studies (CEUS) FKIP UNY.

Jika mengukur takaran emosi, sejatinya, emosi 223 juta rakyat negeri ini terhadap penyelenggaraan pemerintahan negara telah sampai di ubun-ubun. Pasalnya, sudah terlalu sering pemerintah berlaku “abai” terhadap nasib rakyat (state neglect), bahkan sering menerapkan kebijakan yang membuat hati rakyat kian terluka.
Ironi
Bencana lumpur Lapindo hingga kini belum tuntas. Malah hati warga korban semburan lumpur terluka dengan kegaduhan eksekutif maupun legislatif soal perlu tidaknya penetapan status lumpur Lapindo. Apakah merupakan bencana alam murni atau bukan!
Fakta ironis serupa juga terjadi ketika proses pembahasan RUU Pemilu yang ternyata selalu diundur-undur oleh anggota DPR hingga baru disepakati awal Maret lalu. Dalam konteks ini, amat gamblang terlihat betapa para elit politik dan pejabat publik di negeri ini lebih mengutamakan kepentingan partainya (ego sektoral partai) daripada kepentingan rakyat, bangsa, dan negara.
Pun kabar mutakhir nan mengejutkan, yakni keputusan Kejaksaan Agung yang menutup mega skandal aliran dana BLBI yang merugikan negara puluhan triliun rupiah. Dugaan kasus suap Rp 6 miliar terhadap jaksa penyidik kasus BLBI, kian menambah dalam duka-lara rakyat negeri ini.
Beban rakyat
Memang, pemerintah telah menerapkan beragam kebijakan di berbagai bidang. Celakanya, beragam kebijakan yang ditempuh pemerintah itu hanya menguntungkan segelintir orang dan kian menambah berat beban hidup yang harus ditanggung oleh rakyat yang notabene sudah amat berat ini.
Selama ini pula, pemerintah juga sering memperhadapkan rakyat Indonesia pada banyak pilihan. Namun ironisnya, dari beragam pilihan itu sama sekali tak ada yang cukup layak untuk dipilih atau diambil. Pasalnya, selain memang dirasa sangat memberatkan, menyakitkan, dan bakal merugikan karena pilihan itu tak berpihak pada rakyat, juga karena di mata rakyat, beragam pilihan itu tak pernah memberikan rasa keadilan.
Betapa tidak. Mulai dari fakta harga-harga sembako (beras, minyak goreng, telur, terigu, dsb) yang kian hari kian “meroket” tak terkendali, harga kedelai yang diprediksi bakal stagnan pada kisaran Rp 7000 per kilogram hingga Juli 2008 nanti, harga pupuk yang mahal dan langka, fenomena kelangkaan BBM yang mengharuskan rakyat untuk antre --bahkan adu jotos-- sekadar untuk mendapatkan seliter minyak tanah, rakyat harus siap dengan kondisi BBM yang dibatasi mulai Mei nanti, penerapan disinsentif pemakaian listrik yang senyatanya kerap byar pet, akses kesehatan yang tetap sulit nan rumit meski punya kartu askeskin, isu-isu meresahkan seputar susu formula dan bahan makanan yang tercemar bakteri berbahaya, serta akses atas pendidikan yang bakal kian sulit pasca pemangkasan anggaran pendidikan sebesar 15 persen dari pagu APBN 2008, fakta kelaparan dan ancaman rawan pangan di berbagai pelosok negeri, dan lain sebagainya.
Ironisnya, semua itu harus terjadi di saat masyarakat kita sedang berdarah-darah dan bersusah payah menanggung beban mahaberat akibat trauma multibencana (gempa, amukan ombak, banjir, tanah longsor, dan puting beliung), yang hingga kini masih terus menghantui masyarakat dan “membombardir” berbagai daerah di penjuru negeri ini.
Pertelingkahan
Memang, sangat ironis sekaligus menggelikan jika melihat polah tingkah para pejabat-birokrat dan elit politik di tingkat eksekutif serta wakil rakyat kita di parlemen. Terkait beragam persoalan yang dihadapi rakyat, pemerintah bukannya berusaha keras mencari solusi terbaik untuk menuntaskan permasalahan tersebut, namun malah sering melakukan pertelingkahan, “berwacana akan”, main “kucing-kucingan”, dan selalu saja mencari kambing hitam.
Lihat saja, apa-apa diinterpelasikan, toh juga tak pernah jelas juntrung-nya. Terkait bencana, listrik byar pet, harga sembako yang terus melonjak, tingkat pengangguran dan kemiskinan yang masih tinggi, fakta kelaparan dan ancaman rawan pangan, kerusakan infrastruktur, terjadi inflasi, dan seterusnya, selalu ada saja yang dikambinghitamkan. Sudah jamak kita ketahui, beragam hal terkait rupa-rupa penderitaan rakyat, oleh elit politik selalu digeret ke ranah politik lalu dijadikan bahan olok-olok dan saling cerca-fitnah.
Ada batasnya
Pemerintah semestinya sadar, betapa emosi rakyat itu ada batas dan takarannya. Emosi warga Porong dengan masalah lumpurnya, memiliki takaran sendiri. Emosi jutaan rakyat miskin yang selama ini ditahan karena setiap hari harus antre BBM, emosi rakyat yang kian menumpuk karena setiap hari disuguhi fakta kenaikan harga sembako, emosi rakyat yang mulai kelaparan dan bergizi buruk di berbagai daerah, emosi rakyat miskin pemegang askeskin yang ditolak berobat ke rumah sakit, emosi para buruh pabrik yang terancam di-PHK, emosi para guru bantu, GTT, dan guru kontrak dengan masalah gajinya, serta emosi kalangan akademisi pro-wong cilik yang hampir pasti bakal meledak jika UU BHP jadi disahkan dan sebagainya. Ingat, semua emosi yang dengan beragam “panji-berdera” masalah itu ada batas dan takarannya masing-masing!
Sulit dibayangkan, seperti apa fenomena chaos (kekisruhan dan keonaran) yang bakal terjadi di tengah-tengah masyarakat kita, jika semua emosi dan kemarahan rakyat itu “meledak” dan diluapkan secara (hampir) bersamaan. Bisa dipastikan, bangsa ini benar-benar akan kisruh, onar, karut-marut hingga lumpuh!

Keniscayaan Mendialogkan Kelainan

thumbnail
OLEH: Muh Kholid AS
Aktivis Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM), tinggal di Surabaya.

Sebagai sebuah negara yang ditakdirkan sebagai tempat bertemunya berbagai agama, Indonesia setiap tahunnya selalu merayakan hari keagamaan umat berbeda dalam waktu yang berdekatan, bahkan sangat mungkin bersamaan. Dalam bulan Maret 2008 ini misalnya, terdapat tiga umat agama berbeda yang merayakan hari besar keagamaannya. Pada tanggal 7, umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi Saka 1930. 13 hari kemudian, 20 Maret, umat Islam merayakan Hari Maulid Nabi Muhammad SAW 1429 H, disusul oleh umat Kristiani merayakan wafatnya Isa al-Masih 1 hari kemudian
“Pertemuan” berbagai perayaan keagamaan umat berbeda itu tentu tidak mempunyai makna apa-apa, jika hanya dirayakan secara seremonial belaka. Namun, jika dihayati sebagai upaya pembangunan keberagamaan yang damai antaragama, maka pertemuan itu akan sangat penting sebagai pangkal pencerahan nurani dan akal pikiran menuju kematangan cara beragama yang menghargai "kelainan" (the otherness). Pertemuan itu justru menjadi langkah awal dalam mewujudkan kesejatian dialog antarumat beragama, yang tentunya diharapkan mampu membuang kecurigaan antara penganut agama yang satu dengan lainnya.
Dalam kehidupan di Indonesia, dialog antaragama merupakan kerja yang tidak bisa ditawar lagi. Sebab, hubungan antar agama di negeri ini dalam faktanya belum sepenuhnya terlepas dari konflik, meski sifatnya sebatas autistik. Berbeda dengan konflik realistik yang sudah menggunakan cara-cara kekerasan secara face to face pada masing-masing pihak, maka konflik autistik baru sebatas perbedaan dan kesalahpahaman di level pemahaman dan sikap saja. Namun konflik autistik inilah yang sewaktu-waktu berpotensi besar untuk memunculkan konflik realistik jika ada pemicunya.
Dalam kondisi “timpang” semacam inilah diperlukan kesejatian dialog sebagai “jembatan” interaksi untuk saling memahami dan menghormati. Dialog bukanlah bertujuan untuk mencari dan menentukan agama yang paling benar, tetapi ia adalah media untuk mengembangkan keberagamaan yang otentik. Dialog justru menjadi ajang penciptaan ruang publik bagi eksisnya berbagai pandangan dunia, perspektif, dan ideologi secara bersama-sama dengan spirit perdamaian, rekonsiliasi, pengampunan, nirkekerasan dan berkeadaban.
Oleh karena itu, dialog bukanlah bertujuan untuk mencari dan menentukan agama yang paling benar, tetapi hanyalah media untuk mengembangkan keberagamaan yang otentik. Dialog merupakan pangkal pencerahan nurani dan akal pikiran menuju kematangan cara beragama yang menghargai "kelainan" (the otherness). Sehingga yang diperlukan dalam kerja ini adalah sikap terbuka, semangat mau belajar satu atas yang lain, perasaan rendah hati, dan seterusnya
Dialog bukanlah sekedar pertemuan dan percakapan antar dua pihak atau lebih, tetapi ia adalah pertemuan dua pikiran dan hati mengenai persoalan bersama, dengan komitmen untuk saling belajar agar dapat berubah dan berkembang (Zakiyuddin Baidlawi: 2003). "Berubah" artinya dialog harus dijalankan secara jujur, terbuka, dan simpatik terhadap yang lain, sehingga dapat mengurangi dan mengeliminir prasangka, stereotip, dan celaan. Sedangkan "tumbuh" artinya dialog harus mengantarkan pada informasi dan klarifikasi dari sumber primer, di mana semua pihak berdiskusi secara terbuka dan tulus.
Dengan dialog diharapkan seseorang menjadi sadar dan paham tentang perbedaan sebagaimana apa adanya, sambil memahami ko-eksistensi masing-masing pihak dengan “pengakuan” dan “penghargaan” secara setara. Dialog ini tentu bukanlah berarti mengkhianati agama yang dianutnya, dalam wujud menyamaratakan semua agama sebagai kebenaran (relativity). Tetapi ia justru meniscayakan seseorang untuk meyakini agamanya sebagai kebenaran, dengan tetap menghormati jati diri orang lain, tanpa meleburkan antara satu dengan lainnya.
Sudah sewajarnya jika materi yang didialogkan adalah perbedaan, karena yang menjadi masalah dalam kehidupan memanglah “perbedaan” itu. Sebab pangkal dari sejarah “konfrontasi” di muka bumi ini dapat dipastikan penyebabnya adalah “perbedaan”, bukan persamaan. Di sinilah diperlukan pergeseran dialog dari sekedar mencari “titik temu” menuju elaborasi keunikan masing-masing agama. Dialog harus menumbuhkan pengenalan terhadap kekhasan yang dimiliki agama lain, yang diharapkan mampu menumbuhkan saling pengertian dan pemahaman tentang “perbedaan” tersebut.
Setelah memahami keunikan masing-masing pihak, barulah pemahaman terhadap agama-agama lain dilakukan dalam konteks kesamaan misi universal kemanusiaan (kalimah sawa’) secara kreatif. Universalitas ini tidak berarti harus mematikan potensi-potensi khas yang ada dalam agama tertentu, tetapi sebaliknya malah mampu tumbuh bersama dalam keragaman. Hubungan dialektis antara self dan others ini akan membentuk satu entitas yang hakiki, dalam satu hidup dan satu nafas.
Perjumpaan dan dialog yang konstruktif-berkesinambungan merupakan tugas kemanusiaan yang parennial, abadi, dan tiada titik akhir. Justru ketika manusia hidup melalui perjumpaan berbagai agama, maka ia akan mendapatkan pengalaman antarkultural (intercultural experiences). Dibutuhkan komitmen dan kesungguhan semua komunitas agama untuk bersikap inklusif dan toleran secara setara, sehingga sejauh mungkin seseorang menghindari pernyataan, penilaian, atau sikap yang menohok ke relung ideologis agama lain.

SUARA REDAKSI

thumbnail
Pendobrak Tapal Batas
Raut wajah adalah ruang ekspresi getaran dan gejolak terdalam jiwa manusia. Wajah pucat menandakan jiwa yang sedang tergoncang. Wajah ketakutan mencuat saat keselamatan diri terancam. Suasana hati yang riang terpatri menjadi wajah berselimut kegembiraan. Lalu wajah-wajah kusut masai dijumpai pada individu yang frustrasi. Ibarat cermin, ketulusan jiwa terpancar pada wajah yang bersahaja. Ketegaran dan pahit getir kehidupan yang dijalani seseorang terpahat di wajahnya. Dalam refleksi kolosalnya, Charles Kingsley menyebut kecantikan wajah adalah tulisan tangan Tuhan. Terimalah itu di setiap wajah yang cantik, di setiap hari yang indah, di setiap bunga yang indah. Ada pertanda apa saat kita menyaksikan wajah-wajah gelisah dan pasrah rakyat di negeri ini pada babak awal tahun 2008 ini?
Kerumitan ekonomi global membuat pemerintah bingung. Harga minyak mentah dunia meningkat tajam melampaui prediksi pemerintah. Imbasnya, RAPBN 2008 yang rampung akhir September 2007 langsung kedaluarasa. Demikian pula harga komoditas dan pangan melonjak naik. Pelaku usaha ketar-ketir memikirkan kelanjutan investasi mereka. Pada saat yang sama, mulai mencuat berita anak-anak menderita busung lapar. Maklum, daya beli masyarakat terkapar di tangga-tangga kenaikan harga sembako. Kepasrahan di tengah kemiskinan menjadi mosaik kepedihan.
Di saat bangsa kita tengah terjerat gejala “resesi global”, terbit mentari optimisme bahwa kita akan dan harus menjadi bangsa yang memiliki harga diri dan kemandirian di bidang ekonomi. Tentu saja lantunan litani harapan ini bukan impian kosong atau khayal semu. Tanda-tanda kebangkitan Indonesia baru sudah mulai terlihat pada barisan pengusaha dan kalangan swasta yang tak mau pasrah pada situasi kelam Indonesia saat ini. Ya, kita kagum pada prestasi para chief executive officer atau CEO Indonesia. Dalam usia muda, 28-40 tahun, mereka fokus merintis karir maupun bisnis dari nol dan akhirnya mencetak prestasi gemilang di bidang usahanya.
Dalam bilik-bilik nuraninya, mereka menanam benih visioner bahwa kehidupan adalah rajutan investasi manajemen diri dan ekonomi. Dengan sikap ambisi yang positif, mereka pertama kali mendisiplin dirinya. Ini sebuah perkara tidak mudah. Sebab manusia dalam segala kerapuhannya berjuang memilah mana cita-cita dan mana keinginan. Disiplin kerja hanya tercapai bila setiap individu mulai menata kehidupan pribadi dan merumuskan cita-cita yang ingin ditorehkan dalam kehidupan yang cuma sekali ini. Dan disiplin diri adalah gerak sadar menata hasrat-hasrat liar yang kerap menghambat pertumbuhan diri. Seperti rasa malas, pasrah pada nasib, menyombongkan kepintaran “yang seujung kuku” dan sikap mental menggampangkan pekerjaan.
Kita bisa bertanya dari mana mereka menimba sumber inspirasi yang menggerakkan mereka untuk selalu menghargai waktu, bekerja keras penuh dedikasi dan tak jenuh mendorong sesamanya untuk maju. Dalam kajian pakar manajemen usaha Rhenald Kasali, perjalanan untuk menemukan jati diri dan mengeksplorasi potensi diri yang dahsyat tidak lain adalah gerak perubahan; recode DNA. Daya positif yang membangkitkan hasrat untuk maju, dalam teropong Kasali, bermuara pada kesadaran bahwa setiap manusia tercipta untuk sukses. Sayang potensi diri dengan segala keunggulan dan keunikannya sering terkubur karena lingkungan pergaulan yang salah, cara pandang yang sempit dan masih berkutat dengan pikiran-pikiran negatif bahwa hanya orang kaya saja yang akan terus sukses.
Lalu di mana titik picu yang menyebabkan terbangunnya kesadaran intelektual dan kepekaan bisnis tersebut? Kembali lagi pada mutiara kehidupan bahwa hanya orang yang rajin membacalah yang bisa menjadi pemimpin. Artinya gairah belajar tiada henti dari pengalaman, studi kepustakaan dan bercermin dari pergulatan hidup sesama mencari makna terdalam kehidupan adalah sumber inspirasi kehidupan yang tak pernah kering.
Dari secuil kisah kaum muda yang merengkuh sukses, kita memetik keyakinan mental bahwa Indonesia dapat bersaing dengan negara-negara berkembang maupun maju sekalipun. Lalu dari mana kita bisa mulai memacu atau menabur benih-benih keyakinan itu? Di bangku sekolah? Ah, mustahil cepat sukses karena tidak banyak guru yang sanggup membangkitkan potensi diri anak didik. Banyak guru yang lihai membangkitkan memori ingatan alias kemampuan menghafal teori demi kelulusan ujian. Lalu di keluarga? Memang keluarga adalah sel komunitas terkecil. Banyak generasi muda yang cerdas, berakhlak mulia dan sopan budi pekertinya, tapi menjadi pengangguran?
Belajar pada pengalaman terberi, manusia adalah makhluk yang dikaruniai kebebasan. Dalam alur ungkap sederhana, kesuksesan adalah proses individual dalam memotivasi dirinya sendiri. Melihat kegagalan sebagai bagian integral kemajuan diri dan usaha. Jatuh bangun dalam berusaha dirasakan sebagai kenikmatan tiada tara. Pengalaman gagal adalah garam yang membuat kehidupan tidak tawar. Dengan kekuatan pikiran positif mereka berucap bahwa kesuksesan adalah milik setiap manusia yang harus dicari, diperjuangkan dan dipelihara terus menerus.
Rumus kemandirian bangsa bisa kita gapai bersama dengan (1) bergerak dari wajah konsumen menuju wajah produsen. (2) Bergerak dari wajah “tuan tanah” yang malas menuju wajah “penggarap tanah” yang saling percaya. (3) Bergerak dari wajah mayoritas rakyat yang membisu menuju wajah minoritas yang berpikir kritis-konstruktif. (4) Bergerak dari wajah calon penguasa menuju wajah calon manajemen. (5) Bergerak dari wajah penonton di pinggiran sejarah menuju pendobrak pada tapal batas. (6) Bergerak dari penerima dan pelaksana menuju pencipta, penyebar dan pelaku. (7) Bergerak dari pola cendekiawan pembela rumusan baku kepada cendekiawan penggali kebenaran.

Suara Warga

thumbnail
Pasrah Pemakaian Listrik Terbatas
Mendengarkan kabar akan segera dibatasinya pemakaian listrik membuat siapapun menjerit. Masalah kenaikan harga dan kelangkaan bensin juga minyak tanah saja belum bisa diatasi. Semua lapisan masyarakat khususnya kalangan menengah ke bawah sangat tersiksa dengan keadaan ini. Tak ada satu pun yang bisa menjawab sampai kapan keadaan ini.
Tidak hanya bingung mengatur pengeluaran keluarga, penghematan pemakaian listrik pun saya lakukan. Apalagi saya hanya mendapatkan penghasilan dari usaha saya membuka tempat fotocopy. Yang sangat tergantung dengan kebutuhan listrik besar. Jika pembatasan listrik terealisasi, maka otomatis usaha saya akan terganggu. Belum lagi masalah harga kertas yang juga saya rasakan semakin mahal.
Untuk menutupi pengeluaran listrik yang membengkak tak mungkin menaikkan harga fotocopy. Akan membuat kabur semua langganan, apalagi langganan saya kebanyakan mahasiswa dan murid. Yang uangnya juga pas-pasan dan harus melakukan penghematan seperti saya. Biarlah jika memang pemakaian listrik harus dibatasi. Saya hanya bisa pasrah. Dan kalau usaha saya tidak bisa beroperasi lagi jalan satu-satunya ya hanya ditutup.
Komentar: Pan Bagus Ayu, Jl Hayam Wuruk No 88 Denpasar.

Jangan Legalkan Tajen
Banyak cara dilakukan para calon pemimpin Bali dalam mengambil hati rakyatnya. Salah satu strategi mereka menjadikan tajen atau judi sabung ayam sebagai ikon Bali. Memang tajen sudah menjadi tradisi masyarakat Bali sejak dahulu kala. Namun jika tajen dilegalkan imbasnya akan semakin banyak masyarakat Bali yang mencintai judi. Mereka tidak lagi sembunyi-sembunyi untuk berjudi. Padahal judi ibarat candu yang selalu menghantui peminatnya.
Di tengah krisis ekonomi saat ini dan susahnya mencari pekerjaan membuat kaum adam Bali berpikir sabung ayam memberikan lowongan pekerjaan. Namun menurut saya yang tidak menyukai judi menganggap hal itu hanya akan merugikan diri sendiri dan keluarga. Arena tajen memang tidak membuat keonaran atau keributan tetapi banyak kejadian harta benda mereka yang terkuras. Kalau begitu akan merugikan keluarga, istri dan anak.
Legalitas tajen akan semakin membuat malas orang untuk bekerja. Hal ini karena judi dianggap menguntungkan. Anggapan bila menang akan mendapat keuntungan dua kali lipat, membius mereka untuk setia berjudi. Padahal bila saya lihat, judi justru merugikan mereka dari segala aspek kehidupan.
Dilegalkan atau tidak, tajen tetap akan ada di dalam tradisi masyarakat Bali. Dan hampir 80% kaum pria Bali menyukai tajen. Untuk itu akan mengalami kesulitan jika tajen dihapus. Selain itu, judi tidak hanya tajen saja tetapi masih banyak judi yang lain seperti biliar, ceki dan bola adil serta togel yang menghiasi wajah masyarakat Bali. Saya rasa kalau tajen dihapus maka segala jenis judi pun harus diberantas sampai akar-akarnya.
Komentar: Putu Donald, tinggal di Jl Setiabudi, Denpasar.

Kerajinan Kepompong Ulat Sutra

thumbnail
Isi Waktu Luang Yang Produktif
OLEH: NI WAYAN NITA
Ulat sutra identik dengan benang yang disulam menjadi kain cantik dengan harga mahal. Tapi siapa sangka, rumah ulat sutra atau kepompong juga dapat menghasilkan uang. Di tangan Suandewi, pemilik Suvanahana Cocooncraft, kepompong ulat sutra diubahnya menjadi perhiasan unik nan cantik. Untuk mendapatkan kepompong tidak terlalu sulit karena Suandewi punya tenaga pengepul. Baik ulat sutra murbei yang dibudidayakan maupun yang hidup di alam bebas. Dan kebanyakan kepompong tersebut didapatkannya dari Sulawesi dan Jawa.
Berawal dari kesukaanya membuat barang kerajinan, Suandewi mulai tertarik dengan kepompong. Karena ulat sutra hanya dimanfaatkan benangnya saja, sedangkan kepompongnya dibuang dan menjadi sampah. Jiwa seni dan jiwa dagang yang dimiliki Suandewi sejak kecil, membuat istri dari Budi Darma ini memanfaatkan kepompong yang dibudidayakan di Sulawesi dan Jawa. Waktu luangnya sebagai ibu rumah tangga diisi dengan membuat aneka perhiasan dari kepompong tersebut. Perhiasan pertama yang dihasilkan awalnya hanya digunakannya sendiri tapi lama kelamaan banyak temannya yang memesan.
Kepompong yang diperolehnya dari pengepul diubahnya menjadi aneka macam perhiasan. Seperti, jepit rambut, kalung, cincin, bros, giwang, hiasan sanggul, hiasan sandal hingga kap lampu. Hanya dengan harga Rp 12.000 - Rp 85.000, perhiasan cantik dari kepompong sudah bisa didapat. Tidak hanya perhiasan dengan warna asli kepompong saja (putih dan keemasan), tapi juga beraneka macam warna. Dibantu dua belas tenaga produksi, Suandewi, ibu dua anak ini membuat sendiri perhiasan tersebut dengan cara manual.
Menurut Suandewi, perhiasan yang dihasilkan awalnya dijual satu tempat dengan toko kelontong milik ibunya. Semula tidak ada keinginan untuk membuka galeri, lanjut Suandewi, tapi karena perhiasan yang dibuat semakin banyak dan pengunjungnya juga ramai. Terpaksa akhirnya membuka galeri di depan rumah, di Jl Pulau Misol Gg. VIII/5 Denpasar. Berdasarkan informasi dari mulut ke mulut, kini galeri milik Suandewi ramai dikunjungi tamu. Tak hanya dari dalam negeri, tamu asing pun banyak yang membelinya sebagai cinderamata.

Sketsa: Powerhouse Lokomotif Kebangkitan Ekonomi

thumbnail
OLEH: WURI WIGUNANINGSIH
Dalam pembukaaan gedung Gramedia Expo di Surabaya, ahli bedah bisnis, pakar manajemen pemasaran, perilaku konsumen, komunikasi dan strategi usaha Rhenald Kasali mengupas isi bukunya yang berjudul Mutasi DNA Powerhouse. Dalam buku terbitan Gramedia Pustaka Utama, Kasali memaparkan bagaimana perusahaan-perusahaan besar (powerhouse) melakukan perubahan di bawah tekanan internal dan eksternal.
Harkat dan martabat serta kesejahteraan suatu negara akan meningkat, jika mempunyai powerhouse. Sebut saja Malaysia dengan Petronas. Amerika dengan Microsoft dan Toyota yang telah mengharumkan nama Jepang. Dikatakan powerhouse adalah sebuah perusahaan besar yang menjadi lokomotif ekonomi di suatu negara dan mampu menciptakan lapangan kerja cukup besar. Selain itu, perusahaan tersebut mempunyai bidang pengembangan dan penelitian. Sehingga mempunyai hak paten sendiri. Indonesia sebenarnya memiliki Pertamina yang berpeluang menjadi powerhouse ekonomi bangsa. Sayangnya, akibat berbagai macam tantangan, saat ini Pertamina tidak lagi menjadi powerhouse.
“Mutasi DNA atau perubahan yang dilakukan oleh powerhouse selalu menimbulkan dampak yang sangat kuat bagi perekonomian suatu bangsa. Karena sebuah powerhouse mempunyai kekuatan dominan, tampak secara kasat mata powerfull. Kemudian sebuah powerhouse besar dalam segalanya. Mulai jumlah karyawan, pajak sampai keuntungan yang didapat. Karena kekuatan itulah yang menjadikan powerhouse menjadi ikon kemajuan ekonomi suatu bangsa,” kata staf pengajar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
Sebuah powerhouse tersebut akan bermutasi DNA atau melakukan perubahan, jika ada campur tangan teknis, campur tangan orang, campur tangan pemeriksaan, hukum dan legislatif. Demikian juga yang terjadi dengan Pertamina yang pernah mencapai puncak kejayaan. Kemudian merosot hingga mencapai titik paling bawah, karena terdapat ikut campur beberapa pihak. Tapi saat ini Pertamina berusaha bangkit. Petronas yang dahulu menjadi anak didiknya, sekarang jauh lebih maju dibandingkan Pertamina.
Selanjutnya ia mengibaratkan powerhouse itu seperti gajah, hewan yang bertubuh besar. Tubuh hewan yang besar itu akan menjadi kekuatan yang besar, jika dibangun oleh orang-orang yang berpikiran besar pula. Tidak hanya pemimpinnya saja, tapi juga karyawan yang berasal dari berbagai bidang dan lapisan. Karena lingkungan sangat mempengaruhi pola pikir orang-orang yang ada di dalamnya. Jika lingkungan berpikiran maju, otomatis perusahaan tersebut akan menjadi besar dan powerhouse. Dengan demikian, kesejahteraan karyawan dan masyarakat akan tercapai.

Kegagalan Picu Kesuksesan

thumbnail
OLEH: WURI WIGUNANINGSIH
Setiap orang di dunia ini pasti mendambakan hidup sejahtera, kaya dan sukses dalam karya. Terlebih dengan kondisi ekonomi yang belum juga membaik sejak krisis 10 tahun silam. Seiring dengan kondisi itu, semakin sempitnya lapangan kerja sehingga angka pengangguran pun terus meningkat. Untuk itulah, pemuda dengan jiwa pengusaha dan pebisnis yang mampu menciptakan lapangan kerja sangat dibutuhkan saat ini.
Dalam workshop di komplek Balai Pemuda Surabaya ini, hadir tiga pembicara sekaligus pengusaha muda yang sukses. Mereka adalah Ir Najikh (Presdir Kelola Mina Laut), Hendy Setiyono (Presdir Kebab Babarafi Turki) dan M Mufti Mubarok (Presdir Java Pustaka Grup). Ketiga pembicara ini pada intinya mengungkapkan latar belakang mereka menjadi entrepreneur. Selain itu juga menceritakan kunci sukses serta saran supaya tidak patah semangat bila mengalami kegagalan.
“Jika ingin memulai sebuah usaha, sebaiknya menjalankan usaha sesuai dengan hobi atau kesenangan kita. Misalnya saya suka makan, otomatis saya berpikir untuk berbisnis makanan. Sedangkan makanan yang belum ada di Indonesia adalah kebab. Ya saya memulai usaha kebab Turki di Indonesia. Setelah menemukan jenis usaha, kita harus berani bermimpi menjadi sukses dan harus berani gagal. Kalau gagal harus bangkit, bangkit dan bangkit lagi. Yang menjadi penyebab kegagalan pertama kita pelajari supaya tidak terulang lagi di kemudian hari. Kunci selanjutnya adalah harus dilaksanakan sekarang kalau memang punya ide usaha. Jangan ditunda-tunda,” kata Hendy Setiyono.
Hal senada juga diungkapkan Mufti Mubarok. Mantan wartawan dan direktur di Jawa Pos ini sebelum memulai usaha percetaan buku. Awalnya bapak dua orang anak ini menyukai tulis menulis. Sejak itulah, terpikir olehnya untuk membuat usaha yang berhubungan dengan tulis menulis. Mulai mencetak, mengumpulkan pengarang hingga memasarkan buku-bukunya sendiri. Kunci sukses berusaha lainnya adalah mempunyai ciri khas. Untuk buku produk Java Pustaka Grup ini adalah multi media. Artinya, buku tidak hanya bisa dibaca, tapi juga bisa di dengarkan melalui CD. Saat ini, multi media inilah yang sedang dikembangkannya.
Tidak berbeda juga menurut M Najikh yang dijuluki media massa sebagai raja teri. Ia mengolah teri menjadi berbagai macam makanan. Ikan teri yang diproduksinya sudah diekspor ke beberapa negara di benua Asia dan Eropa. Pengusaha yang sering menjadi teman diskusi pengusaha-pengusah muda ini membenarkan semua yang dikatakan dua nara sumber yang lain. Bahkan dia bersyukur dengan adanya krisis ekonomi yang terjadi 10 tahun lalu.
“Karena mencari kerjaan susah, akhirnya terpikir untuk melakukan usaha yang belum ditekuni orang lain. Yaitu ikan laut. Khususnya ikan teri yang kurang diminati orang bila hanya berbentuk ikan teri. Setelah diolah sedemikian rupa, sehingga menjadi ikan teri olahan, semakin diminati orang. Lingkungan sekitar juga mempengaruhi pola pikir seseorang. Wajar kalau saya jadi pengusaha. Karena keluarga besar saya memang pengusaha. Tapi kalau bukan darah pengusaha tapi kalau hidupnya di lingkungan pengusaha, dapat dipastikan pola pikirnya juga pola pikir pengusaha,” ungkapnya.

PKL Dan Hegemoni Kapitalisme

thumbnail
OLEH: Abd. Sidiq Notonegoro
Pengajar di FAI Univ. Muhammadiyah Gresik.

Tidak kurang dari 300 lapak pedagang kaki lima (PKL) di kawasan Gembong, Kapasari dan Kalianyar Surabaya dirobohkan oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Pemkot Surabaya. Salah satu alasan yang dilontarkan Pemkot Surabaya dalam penggusuran tersebut ialah agar kawasan lalulintas di jalan-jalan tersebut kembali lancar. Sebab, dalam kesimpulan Pemkot bahwa faktor utama penyebab kemacetan tersebut ialah keberadaan para PKL tersebut.
Agar tampak penggusuran tersebut tidak semena-mena, Pemkot sebelumnya telah memberikan tawaran rekolasi kepada PKL tersebut. Pemkot menyediakan tempat yang sekiranya dapat digunakan oleh PKL untuk menggelar dagangannya. Sayangnya, pemberian alternatif lokasi tersebut tidak disertai dengan hasil ‘uji kelayakan’ apakah tempat tersebut representatif untuk PKL. Karena relokasi tidak semata-mata memberi tempat kepada pedagang untuk menggelar dagangannya, tetapi juga sejauh mana para pembeli sudi untuk mendatangi tempat-tempat tersebut.
Dengan kata lain, rekolasi yang ditawarkan oleh Pemkot memiliki makna ‘pembunuhan’ secara pelan-pelan terhadap para PKL. Dengan tidak lakunya dagangan PKL ditempar relokasi tersebut, secara otomatis pedagang pun akan gulung tikar dan atau tidak kerasan untuk berjualan ditempat yang baru tersebut. Dengan demikian, kawasan rekolasi tersebut lambat laun juga akan kembali ke pihak Pemkot karena dapat dipastikan akan ditinggalkan begitu saja oleh PKL.
Di sisi yang lain, PKL pun tidak mungkin lagi untuk berjualan kembali ke tempat asal. Sebab dengan adanya relokasi tempat tersebut, Pemkot pun kian memiliki kewenangan untuk melakukan penggusuran dengan tanpa memberikan tawaran relokasi lagi. Satu-satunya jalan yang bisa ditempuh oleh PKL ialah kucing-kucingan dengan Satpol PP.
Ketimpangan Pembangunan
Menjamurnya PKL di Surabaya tidak semestinya disikapi secara semena-mena oleh Pemkot. Terlebih lagi bila penyikapan tersebut cenderung melanggar etika kemanusiaan karena berpotensi menimbulkan tindakan-tindakan represif dan anarkhis. Bukankah sudah menjadi pemandangan umum bagaimana arogansinya pasukan Satpol PP tatkala menjalankan tugas dalam menghadapi kelompok masyarakat kelas bawah semacam ini ?
Semestinya Pemkot Surabaya bisa menyikapinya secara arif berkaitan dengan menjamurnya PKL di Surabaya. Salah satunya ialah memandang bagaimana perkembangan sektor pembangunan dan perekonomian di kawasan-kawasan lain disekitar Surabaya. Misalnya : Sidoarjo, Gresik, Mojokerto, Lamongan dan Bojonegoro. Menjamurnya PKL di Surabaya merupakan parameter tentang gagalnya pembangunan di Jawa Timur secara keseluruhan.
Selain itu, tidak bisa dipungkiri bahwa melubernya PKL ke jalan-jalan utama --sehingga menimbulkan kemacetan yang kerapkali sulit untuk diurai-- merupakan dampak dari tidak akomodatifnya Pemkot terhadap pedagang kecil tradisional. Sebaliknya, Pemkot tampak lebih berpihak kepada kalangan pemilik modal yang memang sangat menjanjikan keuntungan, baik bagi APBD ataupun pribadi-pribadi tertentu di lingkungan Pemkot. Inilah sesungguhnya ketidakadilan dan sekaligus fakta ketimpangan dalam pembangunan yang dibangun oleh Pemkot Surabaya.
Menjamurnya pusat-pusat perbelanjaan modern --- yang dikuasai oleh kaum kapitalisme --- secara tidak terkendali, yang kemudian menyebabkan tergusurnya pedagang-pedagang kecil dari tempat-tempat yang semula dipandang strategis --- dan sekaligus tidak mengganggu ketertiban umum --- tidaklah perlu ditutup-tutupi oleh Pemkot. Maka sesungguhnya menjamur jumlah dan melubernya PKL ke jalan-jalan merupakan konsekwensi logis dari kebijakan tersebut.
Dan untuk mendukung argumentasi di atas, bukankah Walikota Surabaya sendiri, Bambang DH pernah berujar bahwa persoalan PKL di Surabaya sesungguhnya bukan semata-mata persoalan Pemkot Surabaya saja. Tetapi merupakan persoalan akumulasi persoalan yang ada di daerah-daerah sehingga memaksa warganya bermigrasi ke Surabaya?
Kalau dikaitkan dengan pernyataan tersebut, membanjirnya PKL masuk di kawasan Surabaya juga semestinya menjadi tanggungjawab Pemprov. Jawa Timur. Tidaklah tepat bila Pemprov Jatim lepas tangan dengan maraknya penggusuran-penggusuran terhadap PKL di Surabaya sebagai urusan Pemkot Surabaya. Apapun logikanya, ketidak-seimbangan perkembangan pembangunan dan potensi ekonomi antara Surabaya dengan kabupaten/kota lainnya di Jawa Timur merupakan faktor penting dalam mengamati masalah PKL ini.
Masalah Kedisiplinan
Lepas dari persoalan diatas, sesungguhnya yang menjadi faktor utama Pemkot Surabaya bukanlah persoalan menjamurnya PKL di Surabaya. Apapun alasannya, pertumbuhan ekonomi Surabaya yang relatif sangat pesat dibandingkan daerah-daerah lain secara alamiah menarik minat masyarakat daerah untuk berduyun-duyun mengadu nasib ke Surabaya. Sehingga meski tanpa berbekal keahlian atau pengetahuan yang cukup, mereka nekad untuk bergumul berkompetisi di metropolitan ini.
Tapi yang kemudian menjadi persoalan Pemkot Surabaya ialah sulitnya untuk mendisiplinkan para PKL tersebut. Yang memang tidak bisa dipungkiri, ketidak-disiplinan PKL tersebut secara langsung cukup merugikan pengguna fasilitas sosial yang lain. Misalnya jalan raya ataupun trotoar jalan yang semestinya bisa dimanfaatkan oleh para pejalan kaki.
Yang terpenting bagi Pemkot Surabaya sesungguhnya bukanlah melakukan ‘amputasi’ terhadap PKL. Tetapi semestinya Pemkot membuat solusi-solusi bagaimana merelokasi mereka dengan tanpa mengurangi potensi rejeki mereka. Relokasi tanpa mempertimbangkan potensi pasar yang bakal diterima oleh PKL hanyalah ‘bom waktu’ yang sewaktu-waktu bisa menjadi persoalan yang serius bagi Pemkot. Salah satunya ialah berlipat-gandanya pengangguran dan kemiskinan di Surabaya, yang kemudian bermuara pada meningkatnya jumlah tindak kriminal dan juga gelandangan dan pengemis (gepeng).
Karena itu, kearifan merupakan hal yang tidak bisa dinafikan begitu saja oleh Pemkot. Penggusuran yang bertujuan untuk membangun ketertiban dan menguraikan kemacetan memang harus diusahakan. Tapi jangan sampai melanggar norma-norma kemanusiaan dan kehidupan. PKL juga manusia yang butuh makan dan punya keluarga.

Bebas, Distribusi Susu Formula Di RS

thumbnail
OLEH: NI WAYAN NITA
Setiap bayi yang baru lahir hendaknya langsung mendapat ASI. Tapi banyak faktor yang membuat ibu tidak dapat menyusui. Di sini, peran rumah sakit atau bidan yang menolong persalinan sangat diperlukan guna membantu kelancaran pemberian ASI dan mengatasi agar bayi tidak kekurangan cairan.
Salah satu cara, menurut Dirut RS Puri Raharja Denpasar, dr Made Molin Yudiasa, MARS, dengan memberikan susu formula. Tapi fungsi susu formula hanya sebagai pengganti ASI dalam waktu sementara. Jika ibu siap menyusui maka pemberian susu formula dihentikan. Jadi dalam keadaan darurat, susu formula dapat diberikan kepada bayi. Sedangkan RS hanya sebagai pihak yang bertanggung jawab pada pelayanan kesehatan pasien. Untuk itu, RS harus selektif memberikan susu formula.
Menurut dr Yudiasa, susu formula dan makanan bayi tidak boleh sembarangan diedarkan (masuk) ke rumah sakit. Produk yang bisa diedarkan di RS harus punya izin pemasaran departemen kesehatan dan BPOM, di samping sudah diseleksi seorang dokter anak dan ahli gizi RS. Mengapa? Karena susu formula tidak hanya diberikan pada bayi, tapi juga pasien yang dirawat. Pemberian susu ke pasien juga melibatkan ahli gizi dan dokter yang merawat pasien agar sesuai kebutuhan setiap pasien. Dan sebelum diberikan kepada pasien, susu sudah harus melewati proses sterilisasi dan pemasakan agar aman.
Menyikapi masalah susu formula yang konon tercemar akhir-akhir ini, dr Yudiasa yang juga Ketua Persi Cabang Bali ini menegaskan, pihaknya tidak kwatir untuk membagi susu di rumah sakit. Karena sebelum masalah itu muncul, pihak rumah sakit sudah menyeleksi untuk diberikan kepada pasien. Khusus RS bersalin, dianjurkan melaksanakan program sayang ibu dan anak. Dengan cara langsung memberikan susu eksklusif dari saat bayi baru lahir hingga enam bulan. “Distribusi susu ke dalam rumah sakit harus melewati prosedur dan tidak boleh menjadi monopoli salah satu pihak semata,” tegasnya.
Disebutkan, pemberian susu formula kepada balita sesungguhnya tidak penting. Boleh dikasih boleh juga tidak. Karena susu formula hanya bersifat pelengkap. Yang penting pemberian makanan padat yang harus memenuhi standar gizi yang dibutuhkan bayi sesuai umur. Yang tidak boleh dilupakan adalah kebersihan produk, dari botol hingga pemanasan susu sebelum diminum.

Waspadai Alergi Susu Pada Anak

thumbnail
OLEH: HENI KURNIAWATI
Anak sehat merupakan idaman setiap orang tua agar dalam pertumbuhan dan perkembangan tetap sehat. Namun, sulit dipungkiri bila balita juga rawan terkena alergi makanan (susu sapi).
Fase kritis tumbuh kembang anak bisa sampai usia dua tahun. Pada masa tersebut, seorang balita sering mengalami gangguan nutrisi yang menyebabkan alergi akibat belum maksimalnya pertumbuhan fisik. Karena itu, alergi yang sering mendera seorang balita harus segera diwaspadai karena dapat menyerang seluruh jaringan tubuh. Gejala itu sering dijumpai kulit balita, sistem pernafasan, saluran pencernaan. Jika dibiarkan, justru berdampak buruk pada penyerangan terhadap jantung dan paru.
Menurut dokter spesialis anak RSU Sanglah, dr I Putu Gede Karyana, SpA, pada usia kurang dari tiga tahun anak rawan terkena alergi makanan (susu Sapi). Gejala itu terjadi karena sistem tubuh masih belum bekerja secara baik. Kurang lebih 6-8% bayi terkena alergi makanan atau susu formula, 50% alergi susu sapi, telur, kedelai dan kacang-kacangan. Sebagian kecil protein susu sapi keluar melalui ASI.
Alergen susu sapi karena produk itu mengandung kurang lebih 25 macam protein. Casein (80%) dan whey (20%). Keduanya dapat bersifat alergen. Salah satu protein yang ada dalam Whey yaitu β-laktoglobulin yang sudah cukup menimbulkan gejala alergi. "Organ tubuh bayi baru lahir masih rentan dan sensitif. Jumlah protein dalam susu formula tinggi bisa mempengaruhi ginjal untuk bekerja lebih keras. Hal ini menyebabkan terjadinya alergi, sensitisasi bayi melalui ASI. Untuk itu dibutuhkan asupan nutrisi yang lebih lengkap. Gizi sehat dan seimbang meliputi karbohidrat 55-67%, lemak 20-30%, protein 13-15%,” kata dr Karyana
Sebagai pencegahan, sebut dr Karyana, dilakukan dengan pemberian ASI eksklusif dan diet susu partially (full hydrolized) atau susu elemental. Menunda susu sapi 6-12 bulan, makanan padat seperti telur 12-24 bulan, kacang atau sea food 24-48 bulan. Susu hipoalergenik hanya baik untuk pencegahan, bukan untuk mengatasi alergi.
Yang terbaik, lanjutnya, pemberian susu berbasis soya karena dianggap mampu mengurangi efek alergi pada bayi karena mineralisasi tulang sama dengan susu sapi. Kecuali fosfor lebih rendah, alkali fosfatase lebih tinggi dan osteopenia lebih banyak. Jumlah protein formula soya mirip nutrien susu sapi karena lemak bersumber dari minyak sayur, karbohidrat maltodekstrin, cornstarch dan sukrosa.
Semua formula soya diakui bebas laktosa. “Pencegahan dapat dilakukan dengan eliminasi pada bayi yang mengalami alergi susu sapi. Bayi dan anak yang terbukti alergi susu sapi harus dihindari secara dini. Bayi yang mendapat ASI harus dihindari makanan yang berbasis susu sapi. Bayi yang mendapat PASI (Penganti ASI) lebih baik mengunakan PASI berbasis soya atau susu formula berbasis asam amino.

ASI Cermin Kasih Sayang Orang Tua

thumbnail
Inez Tagor
OLEH: HENI KURNIAWATI

Kesibukannya sebagai artis dan presenter tidak membuat wanita cantik, Inez Tagor melupakan tugasnya sebagai seorang ibu. Baginya, memiliki anak merupakan karunia Tuhan yang tidak terhingga. Anak bagi Inez merupakan hadiah Tuhan yang tidak boleh disia-siakan. Kasih sayang dan perhatian kepada keluarga terutama anak tetap menjadi nomor satu dibanding karier.
“Dengan kasih sayang dan perhatian saya dapat mempengaruhi emosi anak. Pemberian air susu ibu (ASI) merupakan bentuk kasih sayang dan perhatian terutama sejak anak lahir. Dengan ASI ikatan emosi antara ibu dan anak terjalin dengan lebih erat. Sejak dalam kandungan anak dapat merasakan kasih dan perhatian orang tuanya,” tegas Inez menjawab media ini di sela-sela seminar Pentingnya Nutrisi Dan Stimulasi Pada Balita di Sector Bar Inna Grand Bali Beach Sanur, pekan terakhir Februari lalu.
Memilih untuk mengurus anak dan menyusui sendiri memang menjadi sebuah pilihan terberat karena seabrek aktivitas yang juga harus dijalankan. Untuk itu, Inez lebih memilih berhenti shuting dan memberikan seluruh waktu buat anak dengan memberikan ASI secara maksimal. Baginya, ASI lebih baik daripada susu formula. Meski begitu, Inez tidak menafikan manfaat susu formula sebagai pengganti ASI kala sedang beraktivitas.
’’Bagi saya, yang paling penting adalah ASI eksklusif. Ketika saya mengandung, saya memilih untuk merawat anak saya sendiri agar anak-anak saya mendapat ASI eksklusif yang maksimal. Namun bukan berarti setelah diberi ASI eksklusif selama 6 bulan, langsung diganti susu formula. ASI tetap diberikan selama kurang lebih dua tahun untuk tumbuh dan kembang anak,” tegas ibu tiga anak ini.
Saking fanatiknya sama ASI, mantan presenter Jelang Siang Trans TV ini, tidak mau jika anaknya minum susu instan selain ASI ketika sedang tidak bersama anaknya. Ia lebih suka menyimpan air susu ke dalam botol. “Saya memiliki anak kembar dan usia mereka sudah empat belas bulan. Mereka sudah bisa sedikit ditinggal-tinggal. Meskipun demikian saya tetap memberi mereka ASI yang saya simpan dalam botol dan saya taruh di freezer agar tahan lama. Saya lebih percaya kandungan nutrisi di dalam ASI daripada susu formula,” urai pemilik nama asli Tienezia Sri Cendani ini.

ASI Vs Susu Formula

thumbnail
OLEH: HENI KURNIAWATI
Air Susu Ibu (ASI) yang diyakini mengandung banyak asupan zat bergizi sangat dibutuh seorang anak untuk pertumbuhan, perkembangan dan kecerdasan diri. ASI eksklusif merupakan makanan pemberian Tuhan kepada seorang bayi. Tidak ada makanan yang jauh lebih enak dan sehat bagi seorang bayi selain ASI. Karena itu, bayi yang mendapat ASI eksklusif selama 6 bulan pertama, jarang terserang diare.
Menurut dr I Putu Gede Karyana, SpA, ASI mudah diserap sistem pencernaan bayi. Bahkan bayi yang tidak diberi ASI eksklusif berpeluang 14,2 kali lebih sering terkena diare. ASI mengandung gizi yang tinggi, zat anti bodi, sel-sel leukosit, enzim dan hormon yang melindungi bayi terhadap berbagai infeksi. Meski begitu tidak jarang seorang ibu lebih memilih memberi susu formula kepada anaknya.
“Susu formula merupakan media yang baik bagi pertumbuhan bakteri sehingga kontaminasi mudah terjadi terutama jika persiapan dan pemberian kurang mengindahkan segi anti septik. Susu formula disusun agar komposisi dan kadar nutrisinya memenuhi kebutuhan bayi secara fisiologis serupa komposisi ASI, namun beberapa peran ASI belum mampu digantikan susu formula seperti bakteriostatik, anti alergi atau peran psikososial. Hal tersebut terjadi karena bayi sebelum berusia enam bulan, sistem pencernaan bayi belum optimal dan belum mampu menolak faktor alergi ataupun kuman yang masuk,” tandas dokter Spesialis Anak RSU Sanglah Denpasar ini.
Susu formula, sebut dr Karyana, merupakan formula pertama yang dapat memenuhi semua kebutuhan nutrisi bayi selama 6 bulan pertama. “ASI memiliki kandungan protein alfa laktalbumin 27 persen dari jumlah total protein. Susu formula yang terjual di pasaran saat ini lebih banyak didominasi protein beta laktoglobulin, yaitu pecahan protein whey yang hanya terdapat dalam kandungan susu sapi. Itu tidak ada pada susu manusia atau ASI. Kandungan beta laktoglobulin dalam susu formula cukup tinggi, yakni mencapai 27 persen. Kandungan protein alfa laktalbumin hanya 11 persen,” tegas Karyana.
Sementara pakar ASI dari FKUI-RSCM Prof dr Rulina Suradi, Sp. A (K), IBCLC menyatakan, dalam ASI terdapat zat pembentuk sel-sel otak terutama DHA dalam kadar tinggi. ASI mengandung whey (protein utama dari susu yang berbentuk cair) lebih banyak daripada casein (protein utama dari susu yang berbentuk gumpalan) atau 65:35. Komposisi itu menyebabkan protein ASI mudah diserap tubuh bayi. Di susu formula, tidak semua kandungan zat gizi dapat diserap tubuh bayi. Misalnya, protein susu sapi tidak mudah diserap karena mengandung lebih banyak casein. Perbandingan whey : casein susu sapi sebesar 20:80.
Dokter Karyana mengakui, frekuensi diare yang dialami seorang bayi karena konsumsi ASI eksklusif sekitar 41,7%, prosentase jarang diare 36,1% dan diare sering 5,6%. Hal itu bisa dipicu oleh beberapa faktor, baik bayi maupun perilaku ibu. Sedangkan diare pada bayi yang konsumsi susu formula sekitar 58,3%, diare jarang 5,6% dan diare sering 52,8%. Dari perbandingan ini, bisa disimpulkan bahwa prosentase bayi yang mengalami diare sering lebih banyak dibanding diare jarang. Hal tersebut bisa dipengaruhi faktor kebersihan dalam persiapan, alergi dan proses pencernaan bayi yang belum sempurna.

Perbandingan nutrisi pada ASI dan susu formula

ASI Susu ; Formula (SF)

Kandungan zat gizi: DHA ; DHA
Whey 65% ; Whey 20%
Casein 35% ; Casein 80%
Enzim pencernaan: Mudah dicerna ; Sulit dicerna
Immunoglobulin: Produksi kelenjar getah bening lebih banyak (ASI) ;
Hanya sedikit produksi kelenjar getah bening (SF)
Kolostrum: Produksi protein tinggi ; Sedikit kolostrum
Bifidus: Produksi bakteri lactobasillus ; Tidak miliki Bifidus

Sesuai rekomendasi WHO/UNICEF dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), bayi harus diberi ASI eksklusif selama 6 bulan pertama, dilanjutkan MPASI (makanan pendamping ASI) yang bergizi. ASI masih diteruskan sampai dua tahun atau lebih sesuai keinginan ibu dan anak. ASI mampu memenuhi kebutuhan kalori 100% untuk bayi (0-6 bulan), 70% (6-12 bulan) dan 30% (di atas 12 bulan).