Home » » Bisnis Isi Ulang Parfum Cerah Dibidik Warga Berkantong Tipis

Bisnis Isi Ulang Parfum Cerah Dibidik Warga Berkantong Tipis

Usaha parfum isi ulang yang aromanya mirip dengan aslinya menjamur di berbagai kota besar di Indonesia. Di Semarang dan Denpasar, toko isi ulang parfum menjamur karena digemari oleh sebagian besar masyarakat kelas menengah.
Pantauan Antara di sejumlah toko parfum isi ulang di Semarang, menemukan parfum-parfum seperti merk Bulgari, Paris Hilton, J-Lo, Beckham, Dunhill, dan Blubery of London di toko-toko penjual parfum isi ulang.
Parfum isi ulang ini digemari masyarakat karena harganya bisa terjangkau, mengingat jika parfum asli bisa harganya mencapai ratusan ribu hingga jutaan rupiah per botol. Parfum mirip asli ini hanya berkisar puluhan ribu rupiah per botol.
Ridwan (50), pemilik toko di daerah Kauman Semarang, mengaku sudah menjalani bisnis ini sejak 1997. Pria yang menjalani bisnis ini secara tidak sengaja ini mengaku mendapat hasil Rp1 juta dengan jumlah konsumen rata-rata 50 orang per hari.
Harga yang ditawarkan cukup terjangkau, "Kalau bibit parfum per mililiter harganya Rp1.000, jadi tiap botol yang berisi 30 ml harganya sekitar Rp20 ribu sampai Rp35 ribu," katanya.
Akibatnya, kata dia, toko yang seharusnya buka mulai pukul 13.00 hingga 22.00 WIB terpaksa mundur sampai pukul 24.00 WIB karena kebanjiran pembeli.
Selain parfum khas Paris, dia mengatakan, juga menjual parfum khas Timur Tengah seperti Sultan, Apple Jin, 1000 Bunga, dan Silver. Penggemar parfum khas Timur Tengah ini rata-rata adalah orang keturunan Arab, santri, dan paranormal.
Meskipun bisnis serupa banyak bermunculan, ia mengaku, sudah memiliki pembeli tetap, bahkan di antaranya ada yang tidak untuk dirinya sendiri tetapi dijual lagi ke orang lain.
Edi (40), pemilik gerai parfum yang terdapat di Mal Ciputra, mengakui menjalani usaha seperti ini selama dua tahun.
Pemilik gerai yang di lantai tiga ini mengaku mendapat omzet sebesar Rp1 juta per hari. Bibit parfum yang dijual adalah bibit parfum dari Eropa serta bibit parfum khas Timur Tengah.
Dia juga melayani dalam bentuk sudah jadi dengan campuran alkohol atau metanol. "Kadang ada pembeli yang takut bila menggunakan alkohol tidak bisa digunakan untuk salat jadi bisa diganti menggunakan methanol," katanya.
Dia menambahkan, antara alkohol dengan metanol hampir sama kualitasnya. Campuran alkohol lebih tahan lama dibanding metanol dan efek samping ke kulit tidak ada, hanya saja bagi orang yang memiliki kulit sensitif sebaiknya bila menyemprotkan jangan sampai terkena kulit. Munculnya parfum isi ulang ternyata memberikan dampak yang cukup besar, mengingat bagi masyarakat berkantong tipis lebih senang membeli parfum seperti ini.
Di gerai parfum DP Mal yang menjual parfum asli, misalnya, pembeli rata-rata hanya 5-10 orang per hari dengan omzet Rp500 ribu sampai Rp3 juta per hari karena harganya cukup mahal antara Rp200 ribu hingga Rp2 juta. "Pembeli di sini sedikit mas, hanya orang-orang tertentu yang menginginkan kualitas terbaik saja dari parfumnya. Rata-rata kurang dari 10 orang per hari," kata Tuti, penjaga gerai yang buka di DP Mal dan Mal Ciputra.
KPO/EDISI 163/NOVEMBER 2008
Thanks for reading Bisnis Isi Ulang Parfum Cerah Dibidik Warga Berkantong Tipis

« Previous
« Prev Post
Next »
Next Post »

0 komentar:

Posting Komentar