Untuk sementara kendaraan khas tradisional Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) Cikar Dokar dan Montor (Cidomo) belum saatnya dihapus atau diganti dengan jenis transportasi lainnya seperti becak.
"Cidomo atau sejenis dokar yang ditarik dengan kuda jumlahnya lebih dari 1.000 buah untuk Kota Mataram saja, sehingga dinilai membuat jalan-jalan menjadi kotor oleh kotoran kuda," kata Ketua DPRD Kota Mataram, Didi Sumardi.
Menurut Didi, cidomo merupakan salah satu mata pencaharian masyarakat Lombok, sehingga di berbagai sudut terdapat pangkalan cidomo, dengan tarif Rp1.500-Rp2.000 per orang.
"Yang perlu dipikirkan sekarang ini adalah bagaimana supaya cidomo tidak lagi membuat jalan-jalan menjadi kotor disebabkan oleh kotoran kuda," kata dia.
Dikatakan, sebenarnya sudah ada upaya yang dilakukan oleh setiap pemilik cidomo, yakni dengan memasang karung di belakang pantat kuda, sehingga jika kuda berak tidak jatuh ke jalan.
"Namun upaya tersebut dinilai kurang efektif, karena karung yang dipasang dibelakang pantat kuda terkadang kurang pas, sehingga kotoran kuda sering jatuh," kata dia.
Selain itu, Pemkot Mataram sebelumnya telah merancang membuat celana kuda yang harus dipakaikan pada setiap kuda yang akan menarik cidomo, namun hingga kini belum juga terwujud. "Karena ini belum terwujud, akhirnya Pemkot sekarang ini menetapkan jalur-jalur cidomo sehingga tidak lagi melintas di jalan protokol seperti Jalan Udayana, Langko dan Jalan Pejanggik yang menuju kantor Gubernur NTB," katanya dikutip Antara.
KPO/EDISI 163/NOVEMBER 2008
"Cidomo atau sejenis dokar yang ditarik dengan kuda jumlahnya lebih dari 1.000 buah untuk Kota Mataram saja, sehingga dinilai membuat jalan-jalan menjadi kotor oleh kotoran kuda," kata Ketua DPRD Kota Mataram, Didi Sumardi.
Menurut Didi, cidomo merupakan salah satu mata pencaharian masyarakat Lombok, sehingga di berbagai sudut terdapat pangkalan cidomo, dengan tarif Rp1.500-Rp2.000 per orang.
"Yang perlu dipikirkan sekarang ini adalah bagaimana supaya cidomo tidak lagi membuat jalan-jalan menjadi kotor disebabkan oleh kotoran kuda," kata dia.
Dikatakan, sebenarnya sudah ada upaya yang dilakukan oleh setiap pemilik cidomo, yakni dengan memasang karung di belakang pantat kuda, sehingga jika kuda berak tidak jatuh ke jalan.
"Namun upaya tersebut dinilai kurang efektif, karena karung yang dipasang dibelakang pantat kuda terkadang kurang pas, sehingga kotoran kuda sering jatuh," kata dia.
Selain itu, Pemkot Mataram sebelumnya telah merancang membuat celana kuda yang harus dipakaikan pada setiap kuda yang akan menarik cidomo, namun hingga kini belum juga terwujud. "Karena ini belum terwujud, akhirnya Pemkot sekarang ini menetapkan jalur-jalur cidomo sehingga tidak lagi melintas di jalan protokol seperti Jalan Udayana, Langko dan Jalan Pejanggik yang menuju kantor Gubernur NTB," katanya dikutip Antara.
KPO/EDISI 163/NOVEMBER 2008


0 komentar:
Posting Komentar