Kendati Indonesia adalah negara kaya akan sumber daya alam (SDA) tapi belum mampu menyaingi Jepang dalam hal pengelolaan dengan teknologi dan tekad yang tinggi. Jepang kini masih menjadi barometer utama bagi kawasan Asia Pasifik dalam hal pengembangan teknologi.
Imbasnya, meskipun kondisi negara sakura ini minim sumber daya alam, tapi ia memiliki kekuatan ekonomi yang didukung oleh ketangguhan SDM dan penguasaan teknologi sehingga mampu memposisikan diri sebagai negara maju.
Deputy BPPT Bidang Teknologi Informasi, Energi & Material, Dr Ir Marzan Aziz Iskandar mengatakan di Jakarta, Minggu, dalam proses alih teknologi yang dilakukan antara Indonesia-Jepang sudah cukup baik dan itu biasanya direpresentasikan oleh perguruan tinggi.
Hubungan persahabatan Indonesia - Jepang yang sudah berjalan selama 50 tahun ini, juga bisa saling menguatkan, saling menguntungkan, dan diharapkan akan mendorong kesejahteraan kedua belah pihak. Marzan di arena Indonesia-Jepang Expo 2008 di Jakarta menyebut misalnya JICA apabila memberikan kesempatan pelatihan maka itu langsung diserahkan kepada para profesor perguruan tinggi ternama di Jepang.
Proses alih teknologi ini menjadi isu penting untuk mengejar ketertinggalan. Implementasinya, segera diwujudkan melalui berbagai kerjasama seperti di bidang penelitian, riset, pertukaran pelajar, mahasiswa, beasiswa dan pendanaan proyek-proyek strategis. Proses kerjasama dalam rangka alih teknologi antara pemerintah Indonesia Jepang ini tidak hanya dilakukan oleh satu lembaga tertentu tetapi melibatkan lembaga-lembaga lain seperti BPPT, LIPI, departemen-departemen pemerintah, universitas dan LSM-LSM.
Menurut Marzan, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) sebagai salah satu lembaga pemerintah memegang peran penting dalam rangka mendukung proses alih teknologi tersebut. Hal ini dilakukan, baik melalui cara pihak Jepang datang ke Indonesia atau pihak Indonesia yang diundang ke salah satu perguruan tinggi di Negeri Sakura itu, untuk melakuan riset termasuk kunjungan ke pusat-pusat riset pemerintahan.
Ia mengatakan, dalam proses alih teknologi, hubungan kerja di antara periset kita dengan Jepang itu sangat ketimuran, dan hubungan itu sangat tergantung kepada kedekatan individu. ‘’Kalau kita baik hubungan pribadinya, maka alih teknologinya juga akan lancar. Apapun yang kita minta akan diberikan sama seperti dia memberikan kepada saudaranya sendiri. Tapi kalau sudah bicara dengan institusi, tidak semudah itu,’’ tegas Marzan.
Kendala
Di satu pihak, pada kenyataannya proses alih teknologi juga menemui beberapa kendala, diantaranya faktor bahasa dan etos kerja. ‘’Orang Jepang bahasa Inggrisnya tidak begitu aktif, dan kalaupun bicara pengucapan kita dengan Jepang itu beda. Faktor kedua, adalah etos kerja. Mereka itu kuat sekali. Kalau sudah bekerja sangat keras, dan kita harus menyesuaikan diri. Kita butuh waktu untuk itu. Yang lebih penting lagi adalah bagaimana cara menjaganya,’’ kata Marzan.
Biasanya Indonesia mendapatkan pengetahuan yang bagus, teknologinya sudah dikuasai, namun hambatannya karena sekembalinya dari Jepang, tidak punya tempat untuk mengaktualisasikan ilmu dan teknologi tersebut. ‘’Di laboratorium Indonesia tidak memiliki fasilitas seperti yang ada di Jepang. Kita fasilitas tidak ada, insentif pun juga tidak punya sehingga secara perlahan kemampuan kita terdegradasi. Nah, kalau orang Jepang `kan mereka punya kemampuan bisa dipelihara dan terus meningkat sehingga lingkungannya juga mendukung,’’ katanya.
Dari sisi pendanaan, untuk pengembangan SDM dan alih teknologi juga masih jauh dari harapan. Jepang menjadikan teknologi sebagai senjata utama mereka memenangkan persaingan global. Sebagai sebuah negara, Jepang tidak punya pilihan lain yang bisa diandalkan kecuali keunggulan dalam teknologi. ‘’Karena itu, kata kunci mereka ya penguasaan teknologi. Untuk itu mereka akan mempertaruhkan segalanya demi menghasilkan teknologi unggulan,’’ katanya.
KPO/EDISI 163/NOVEMBER 2008
Imbasnya, meskipun kondisi negara sakura ini minim sumber daya alam, tapi ia memiliki kekuatan ekonomi yang didukung oleh ketangguhan SDM dan penguasaan teknologi sehingga mampu memposisikan diri sebagai negara maju.
Deputy BPPT Bidang Teknologi Informasi, Energi & Material, Dr Ir Marzan Aziz Iskandar mengatakan di Jakarta, Minggu, dalam proses alih teknologi yang dilakukan antara Indonesia-Jepang sudah cukup baik dan itu biasanya direpresentasikan oleh perguruan tinggi.
Hubungan persahabatan Indonesia - Jepang yang sudah berjalan selama 50 tahun ini, juga bisa saling menguatkan, saling menguntungkan, dan diharapkan akan mendorong kesejahteraan kedua belah pihak. Marzan di arena Indonesia-Jepang Expo 2008 di Jakarta menyebut misalnya JICA apabila memberikan kesempatan pelatihan maka itu langsung diserahkan kepada para profesor perguruan tinggi ternama di Jepang.
Proses alih teknologi ini menjadi isu penting untuk mengejar ketertinggalan. Implementasinya, segera diwujudkan melalui berbagai kerjasama seperti di bidang penelitian, riset, pertukaran pelajar, mahasiswa, beasiswa dan pendanaan proyek-proyek strategis. Proses kerjasama dalam rangka alih teknologi antara pemerintah Indonesia Jepang ini tidak hanya dilakukan oleh satu lembaga tertentu tetapi melibatkan lembaga-lembaga lain seperti BPPT, LIPI, departemen-departemen pemerintah, universitas dan LSM-LSM.
Menurut Marzan, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) sebagai salah satu lembaga pemerintah memegang peran penting dalam rangka mendukung proses alih teknologi tersebut. Hal ini dilakukan, baik melalui cara pihak Jepang datang ke Indonesia atau pihak Indonesia yang diundang ke salah satu perguruan tinggi di Negeri Sakura itu, untuk melakuan riset termasuk kunjungan ke pusat-pusat riset pemerintahan.
Ia mengatakan, dalam proses alih teknologi, hubungan kerja di antara periset kita dengan Jepang itu sangat ketimuran, dan hubungan itu sangat tergantung kepada kedekatan individu. ‘’Kalau kita baik hubungan pribadinya, maka alih teknologinya juga akan lancar. Apapun yang kita minta akan diberikan sama seperti dia memberikan kepada saudaranya sendiri. Tapi kalau sudah bicara dengan institusi, tidak semudah itu,’’ tegas Marzan.
Kendala
Di satu pihak, pada kenyataannya proses alih teknologi juga menemui beberapa kendala, diantaranya faktor bahasa dan etos kerja. ‘’Orang Jepang bahasa Inggrisnya tidak begitu aktif, dan kalaupun bicara pengucapan kita dengan Jepang itu beda. Faktor kedua, adalah etos kerja. Mereka itu kuat sekali. Kalau sudah bekerja sangat keras, dan kita harus menyesuaikan diri. Kita butuh waktu untuk itu. Yang lebih penting lagi adalah bagaimana cara menjaganya,’’ kata Marzan.
Biasanya Indonesia mendapatkan pengetahuan yang bagus, teknologinya sudah dikuasai, namun hambatannya karena sekembalinya dari Jepang, tidak punya tempat untuk mengaktualisasikan ilmu dan teknologi tersebut. ‘’Di laboratorium Indonesia tidak memiliki fasilitas seperti yang ada di Jepang. Kita fasilitas tidak ada, insentif pun juga tidak punya sehingga secara perlahan kemampuan kita terdegradasi. Nah, kalau orang Jepang `kan mereka punya kemampuan bisa dipelihara dan terus meningkat sehingga lingkungannya juga mendukung,’’ katanya.
Dari sisi pendanaan, untuk pengembangan SDM dan alih teknologi juga masih jauh dari harapan. Jepang menjadikan teknologi sebagai senjata utama mereka memenangkan persaingan global. Sebagai sebuah negara, Jepang tidak punya pilihan lain yang bisa diandalkan kecuali keunggulan dalam teknologi. ‘’Karena itu, kata kunci mereka ya penguasaan teknologi. Untuk itu mereka akan mempertaruhkan segalanya demi menghasilkan teknologi unggulan,’’ katanya.
KPO/EDISI 163/NOVEMBER 2008


0 komentar:
Posting Komentar