Keterkaitan antara dunia teknologi dan perkembangan masyarakat dikupas dalam buku Teknologi & Masyarakat yang baru diluncurkan Prof.Dr.(HC) Ir.Rahardi Ramelan, MSc. Buku setebal 500 halaman dan disusun selama dirinya mendekam di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Cipinang ini dibahas dalam diskusi dan bedah buku di Rektorat Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya (ITS), Jumat (7/11). ‘’Beruntung saya boleh bawa laptop, jadi masih bisa aktif menulis dan mengirim beberapa artikel ke media cetak,’’ kata Ramelan.
Arus globalisasi menjadi sorotan utama dalam buku ini. Rahardi mencoba menyodorkan pertanyaan-pertanyaan besar. ‘’Apakah kita mempunyai budaya bersaing di era globalisasi? Apa kita juga masih memegang budaya ikut-ikutan tren,’’ tanyanya kepada para hadirin.
Indonesia belum bisa melindungi diri dari dampak negatif globalisasi, karena makin bebasnya negara ini dimasuki oleh asing. ‘’Bahkan melamin dalam produk makanan China pun bisa bebas masuk,’’ kata mantan Menteri Perindustrian dan Perdagangan RI ini sambil tersenyum.
Industrialisasi, seperti diberitakan ANTARA, secara tidak langsung menyebabkan perubahan arus budaya. Ia menambahkan bahwa iptek juga termasuk bagian dari budaya, sehingga perkembangan iptek harus sejalan dengan industrialisasi. ‘’Hal itu semua bergantung pada kreatifitas dan kemandirian masing-masing,’’ kata Rahardi yang juga Guru Besar Teknik Mesin ITS ini. Indonesia harus memiliki orang-orang yang punya techno-ideology. Bagaimana cara mereka membangun teknologi dan industri dengan ideologi nasionalisme. Sayangnya, menurut pria berambut gondrong ini, di kalangan elit politik Indonesia saat ini tidak ada lagi seorang tekno nasionalis. ‘’Padahal yang disebut kemajuan industri adalah ketika kita sudah mencintai produk kita sendiri,’’ tegasnya .
Namun ia menyadari, globalisasi tidak hanya merasuki bidang ekonomi saja, melainkan semua bidang sudah dikendalikan secara global. Ia pun menyesalkan campur tangan asing atau negara-negara maju yang mengendalikan World Trade Organisation (WTO).
Rahardi menilai, industri di Indonesia yang sudah dibangun sejak lama, hancur lebur di kala masa-masa krisis moneter 1998. Ia mengambil contoh IPTN, industri penerbangan kebanggaan Indonesia ini jatuh gara-gara campur tangan IMF dan WTO di Indonesia. ‘’Saya sudah kapok menghadapi WTO, mereka ini kejam sekali,’’ katanya. Bedah buku juga menghadirkan dua pembahas, Prof Dr Ir Widi Agus Pratikto MSc (Sekjen Departemen Kelautan dan Perikanan/DKP) dari sisi teknologi dan Prof Soetandyo Wignjosoebroto MPA (Sosiolog Unair) dari sisi sosial.
Dalam ulasannya, Prof Widi sepakat dengan kemandirian industri dan teknologi di negara ini. Sekaligus memperbaiki policy (kebijakan) agar lebih tertata. Ia mendorong adanya kesatuan antara lembaga pendidikan tinggi dengan perkembangan teknologi. ‘’Seharusnya ITS mampu menjadi pioner dalam menggali potensi sumber daya yang ada di Indonesia, misalnya potensi kelautan,’’ kata Prof Widi yang juga Guru Besar Fakultas Teknologi Kelautan (FTK) ITS ini.
Sementara Soetandyo mengkritisi hubungan perubahan antara budaya dan teknologi. Menurutnya, teknologi pasti akan mempengaruhi budaya. Hal ini adalah sebuah pilihan, namun seharusnya bukan semata-mata sebagai rational choice tetapi juga moral choice. ‘’Dahulu manusia itu sekalipun kurang menguasai teknologi namun masih mampu mengontrol moral anak-anaknya, sedangkan di abad moderen, sekalipun manusia mampu menguasai teknologi namun tak lagi mampu mengontrol anak-anaknya,’’ katanya.
KPO/EDISI 163/NOVEMBER 2008
Arus globalisasi menjadi sorotan utama dalam buku ini. Rahardi mencoba menyodorkan pertanyaan-pertanyaan besar. ‘’Apakah kita mempunyai budaya bersaing di era globalisasi? Apa kita juga masih memegang budaya ikut-ikutan tren,’’ tanyanya kepada para hadirin.
Indonesia belum bisa melindungi diri dari dampak negatif globalisasi, karena makin bebasnya negara ini dimasuki oleh asing. ‘’Bahkan melamin dalam produk makanan China pun bisa bebas masuk,’’ kata mantan Menteri Perindustrian dan Perdagangan RI ini sambil tersenyum.
Industrialisasi, seperti diberitakan ANTARA, secara tidak langsung menyebabkan perubahan arus budaya. Ia menambahkan bahwa iptek juga termasuk bagian dari budaya, sehingga perkembangan iptek harus sejalan dengan industrialisasi. ‘’Hal itu semua bergantung pada kreatifitas dan kemandirian masing-masing,’’ kata Rahardi yang juga Guru Besar Teknik Mesin ITS ini. Indonesia harus memiliki orang-orang yang punya techno-ideology. Bagaimana cara mereka membangun teknologi dan industri dengan ideologi nasionalisme. Sayangnya, menurut pria berambut gondrong ini, di kalangan elit politik Indonesia saat ini tidak ada lagi seorang tekno nasionalis. ‘’Padahal yang disebut kemajuan industri adalah ketika kita sudah mencintai produk kita sendiri,’’ tegasnya .
Namun ia menyadari, globalisasi tidak hanya merasuki bidang ekonomi saja, melainkan semua bidang sudah dikendalikan secara global. Ia pun menyesalkan campur tangan asing atau negara-negara maju yang mengendalikan World Trade Organisation (WTO).
Rahardi menilai, industri di Indonesia yang sudah dibangun sejak lama, hancur lebur di kala masa-masa krisis moneter 1998. Ia mengambil contoh IPTN, industri penerbangan kebanggaan Indonesia ini jatuh gara-gara campur tangan IMF dan WTO di Indonesia. ‘’Saya sudah kapok menghadapi WTO, mereka ini kejam sekali,’’ katanya. Bedah buku juga menghadirkan dua pembahas, Prof Dr Ir Widi Agus Pratikto MSc (Sekjen Departemen Kelautan dan Perikanan/DKP) dari sisi teknologi dan Prof Soetandyo Wignjosoebroto MPA (Sosiolog Unair) dari sisi sosial.
Dalam ulasannya, Prof Widi sepakat dengan kemandirian industri dan teknologi di negara ini. Sekaligus memperbaiki policy (kebijakan) agar lebih tertata. Ia mendorong adanya kesatuan antara lembaga pendidikan tinggi dengan perkembangan teknologi. ‘’Seharusnya ITS mampu menjadi pioner dalam menggali potensi sumber daya yang ada di Indonesia, misalnya potensi kelautan,’’ kata Prof Widi yang juga Guru Besar Fakultas Teknologi Kelautan (FTK) ITS ini.
Sementara Soetandyo mengkritisi hubungan perubahan antara budaya dan teknologi. Menurutnya, teknologi pasti akan mempengaruhi budaya. Hal ini adalah sebuah pilihan, namun seharusnya bukan semata-mata sebagai rational choice tetapi juga moral choice. ‘’Dahulu manusia itu sekalipun kurang menguasai teknologi namun masih mampu mengontrol moral anak-anaknya, sedangkan di abad moderen, sekalipun manusia mampu menguasai teknologi namun tak lagi mampu mengontrol anak-anaknya,’’ katanya.
KPO/EDISI 163/NOVEMBER 2008


0 komentar:
Posting Komentar