Home » » Kaum Muda Menjawab Tantangan Kompetisi Global

Kaum Muda Menjawab Tantangan Kompetisi Global

Tantangan kaum muda Indonesia dalam kompetisi global meliputi pengembangan SDM dengan membuat terobosan di bidang iptek dan pengembangan intelektualitas lewat membaca. Kemampuan SDM yang terbatas menjadi faktor kelemahan terutama yang dialami para mahasiswa Indonesia. Bahkan, selain terpuruk dalam prestasi, juga masih sangat terpuruk dalam pengembangan diri.
Kemampuan SDM Indonesia yang terbatas itu menyebabkan tenaga kerja Indonesia (TKI) bekerja pada sektor-sektor kurang potensial seperti pembantu rumah tangga, pelayan di kapal pesiar dan pekerja kebun di luar negeri.
Kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM) dalam kompetisi global yang sangat kompetitif diakui Deputi bidang Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kebudayaan LIPI, Prof Dr Dewi Fortuna Anwar di Jakarta, Rabu (12/11), sebagai tantangan terberat yang dihadapi Indonesia terkini. Karena itu, pengembangan kualitas kelompok kaum muda dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, kebudayaan dan penghargaan terhadap perbedaan pendapat dan berekspresi multak dilakuan secara serius.
Dalam kaitan ini Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), sebut Prof Dewi, siap mengadakan seminar Implementasi Kebebasan Berekspresi dalam Pengembangan Kualitas Sumber Daya Manusia dan Iptek Bagi Generasi Muda. Seminar di Jakarta itu menghadirkan Prof Kecin Boyle dari Essex University dan Prof Cherian George dari School of Comunication dan Informastion Nanyang Technological University.
Dewi mengatakan, seminar ini juga didukung forum The Asia-Europe Meeting (ASEM) untuk mempromosikan tingkatan kerja sama negara-negara Asia dan Eropa. ‘’Sejak 1997, ASEM gencar mempromosikan pemahaman bersama dan kerjasama antara Eropa dan Asia di bidang dialog politik terutama dalam hal isu hak asasi manusia,’’ ujarnya.
Seperti dilansir ANTARA, pendidikan merupakan faktor penentu utama pengembangan informasi dan perekonomian masyarakat abad 21. Pendidikan yang berkualitas sangat menuntut pemenuhan kebebasan berekspresi seluas mungkin. ‘’Kebebasan berekspresi dan memperoleh informasi melalui media juga merupakan hal vital dalam pembangunan berkelanjutan,’’ tambahnya.
Sementara itu, Rhenald Kasali meminta agar bangsa Indonesia harus melakukan terobosan untuk bisa bangkit dari keterpurukan ekonomi maupun social. Terobosan itu perlu dilakukan karena masyarakat Indonesia saat ini cenderung frustasi dan kurang semangat untuk melakukan perubahan guna memperbaiki kondisi, tegas Kasali kala menyampaikan orasi budaya Melakukan Perubahan dan Manajemen Negara di gedung Penerbit Kanisius Yogyakarta, Selasa (11/11) malam.
Menurut salah seorang motivator Indonesia itu, saat ini budaya curiga lebih dominan, baik di tingkat elite politik maupun di masyarakat, sehingga dapat diibaratkan kekuasaan presiden saat ini sudah digerogoti dan tidak kuat lagi siapapun presidennya, apalagi DPR sangat berkuasa. Pada zaman pemerintahan Soeharto, penguasa menerapkan sistem sentral ekonomi. Tetapi, bukan konsep komunis yang dijaga militer sehingga kebijakan ini cukup kuat.
Saat ini konsep tersebut lebih banyak pada desentralized atau market ekonomi dengan aktor utama adalah konsumen, baru rakyat atau pemerintah daerah. Pada sistem sentral, yang diutamakan adalah pusat. ‘’Saat ini memang aneh. APBN selalu devisit tetapi 80 persen APBD justru surplus. Untuk membangun dan memulai mengembangkan perubahan akan lebih baik atau lebih menjanjikan jika dimulai dari daerah,’’ katanya.
Yang lebih parah, sebut Kasali, saat ini tingkat loyalitas sudah sulit diharapkan karena lebih didominasi oleh kompetisi yang mulai berkembang ke mana-mana. Budaya jalan pintas yang selama ini banyak diandalkan dan tidak mau bekerja keras harus dirombak dan diganti dengan terobosan untuk mencari atau menemukan hasil yang lebih baik.
‘’Budaya-budaya konflik yang dulu atau yang kini sering mengemuka harus dihilangkan dan diganti kolaborasi. Budaya saling curiga harus dipupus dengan sikap saling percaya. Budaya mencela yang sekarang banyak dilakukan seperti terkait dengan kebijakan, harus segera diganti dengan sikap mendukung. Begitu pula budaya pengerahan massa, harus digeser dengan dialog-dialog," tegasnya.
Untuk mencapai cita-cita dan perubahan yang lebih baik, tidak cukup hanya mengandalkan popularisme, tetapi harus ditopang dengan prestasi dan menghapus budaya prosedur, serta digantikan dengan hasil. Sebab, prosedur yang saat ini ada sudah sangat tua dan telah menggurita sehingga justru menghambat pencapaian hasil. Acara yang diadakan Penerbit Kanisius Yogyakarta bekerja sama Impulse ini dihadiri kalangan penulis buku, penerbit, mahasiswa dan pakar. (Albert Kin Ose M)
KPO/EDISI 163/NOVEMBER 2008
Thanks for reading Kaum Muda Menjawab Tantangan Kompetisi Global

« Previous
« Prev Post
Next »
Next Post »

0 komentar:

Posting Komentar