Sekretaris Palang Merah Indonesia (PMI) Cabang Medan, drg Susyanto mengatakan, masyarakat masih takut untuk mendonorkan darah, padahal ketersediaan darah di PMI sangat tergantung pada hasil donor dari warga. "Seharusnya masyarakat tidak perlu takut mendonorkan darah karena kami menjamin prosesi tranfusi darah melalui Unit Transfusi Darah (UTD) PMI aman, mulai dari awal prosesi donor sampai pada screening test yang memilah darah yang benar-benar steril," kata Suyanto di Medan, Kamis (6/11).
Belakangan ini, sebut Susyanto, sangat minim minat masyarakat yang bersedia melakukan donor darah. Tidak diketahui sebabnya, namun ini diduga karena masyarakat termakan isu bahwa penyakit menular bisa terjangkit melalui transfusi darah seperti HIV, Hepatitis dan Sipilis (penyakit kelamin kronis).
Padahal dengan mendonorkan darah, akan bermanfaat bagi kesehatan karena sirkulasi darah terus berjalan. untuk itulah kami terus menerus melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk melakukan donor. Untuk itu, kata dia, pihaknya akan terus gencar melakukan motivasi kepada organisasi kemasyarakatan, organisasi kepemudaan, kesatuan TNI dan Polri serta Lembaga-lembaga sosial lain untuk melakukan donor darah secara berkala.
Saat ini persediaan darah di PMI Medan dinilai masih cukup. Golongan darah A (18 kantong), golongan B (20 kantong) dan golongan darah O (30 kantong). Sedangkan golongan darah AB tidak ada. Itu pun, sisa dari donor yang dilakukan beberapa donor dari USU, Brimobdasu, kiriman 175 kantong darah dari Pasuruan, Jawa Timur.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Medan, dr Umar Zein mengatakan, kekurangan darah di kota Medan bisa diatasi 5% dari total penduduk Medan yang mau donor darahnya. ‘’Jika sekitar 5 persen saja mau mendonorkan darahnya dua kali dalam setahun, maka akan tersedia 200 ribu kantong darah. Dan tidak akan ada krisis darah lagi di kota Medan," katanya.
Ia juga mengakui kalau orang-orang yang bekerja di bidang kesehatan juga jarang mendonorkan darahnya, karena tidak tahu kegunaannya untuk kesehatan. Padahal dengan mendonorkan darah dapat merangsang sumsum tulang membentuk darah yang baru. ‘’Mendonorkan darah juga merupakan kegiatan sosial yang dapat membantu orang yang membutuhkan,’’ katanya.
KPO/EDISI 163/NOVEMBER 2008
Belakangan ini, sebut Susyanto, sangat minim minat masyarakat yang bersedia melakukan donor darah. Tidak diketahui sebabnya, namun ini diduga karena masyarakat termakan isu bahwa penyakit menular bisa terjangkit melalui transfusi darah seperti HIV, Hepatitis dan Sipilis (penyakit kelamin kronis).
Padahal dengan mendonorkan darah, akan bermanfaat bagi kesehatan karena sirkulasi darah terus berjalan. untuk itulah kami terus menerus melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk melakukan donor. Untuk itu, kata dia, pihaknya akan terus gencar melakukan motivasi kepada organisasi kemasyarakatan, organisasi kepemudaan, kesatuan TNI dan Polri serta Lembaga-lembaga sosial lain untuk melakukan donor darah secara berkala.
Saat ini persediaan darah di PMI Medan dinilai masih cukup. Golongan darah A (18 kantong), golongan B (20 kantong) dan golongan darah O (30 kantong). Sedangkan golongan darah AB tidak ada. Itu pun, sisa dari donor yang dilakukan beberapa donor dari USU, Brimobdasu, kiriman 175 kantong darah dari Pasuruan, Jawa Timur.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Medan, dr Umar Zein mengatakan, kekurangan darah di kota Medan bisa diatasi 5% dari total penduduk Medan yang mau donor darahnya. ‘’Jika sekitar 5 persen saja mau mendonorkan darahnya dua kali dalam setahun, maka akan tersedia 200 ribu kantong darah. Dan tidak akan ada krisis darah lagi di kota Medan," katanya.
Ia juga mengakui kalau orang-orang yang bekerja di bidang kesehatan juga jarang mendonorkan darahnya, karena tidak tahu kegunaannya untuk kesehatan. Padahal dengan mendonorkan darah dapat merangsang sumsum tulang membentuk darah yang baru. ‘’Mendonorkan darah juga merupakan kegiatan sosial yang dapat membantu orang yang membutuhkan,’’ katanya.
KPO/EDISI 163/NOVEMBER 2008


0 komentar:
Posting Komentar