Permintaan pasar ekspor produk tekstil dengan kualitas menengah ke bawah (middle low) ke Eropa dan Amerika Serikat meningkat pada saat krisis global akhir-akhir ini.
"Dampak krisis global banyak pembeli produk `high class` beralih ke middle low, sehingga permintaan produk middle low mengalami kenaikan signifikan," kata Ketua Pertekstilan Indonesia (API) Jawa Barat, Ade Sudradjat seperti dilansir Antara.
Kenaikan permintaan produk menengah untuk pasaran Eropa dan Amerika Serikat itu mencapai 20 persen. Beberapa produk midle low yang mendapatkan pasar baru itu antara lain seperti T-Shirt serta produk tekstil kelas menengah ke bawah lainnya. "Sebaliknya produk yang tidak laku produk branded atau high class, karena pasarnya beralih ke middle low," kata Ade.
Akibatnya order yang banyak masuk saat ini untuk middle low, namun Jawa Barat hanya kebagian sedikit order untuk kualitas produk itu.
Menurut Ade, kebanyakan permintaan itu masuk ke Jawa Tengah karena di sana pusatnya produksi middle low, sedangkan di Jabar sebagian besar high class. Namun sebagian order ada yang masuk Jabar, katanya.
Dikatakannya, derasnya permintaan produk kelas menengah itu, produsen TPT kualifikasi middle low memilih pasar yang cukup aman minimal hingga April 2009 mendatang.
"Hingga April 2009, produk-produk middle low masih menjadi pilihan pasar Eropa dan Amerika," kata Ade.
Namun demikian bukan tanpa kendala, karena saingan meraih pasar di Eropa dan Amerika Serikat harus bersaing dengan produk Vietnam, Cina dan Bangladesh yang memiliki biaya energi dan tenaga kerja lebih mudah dibandingkan industri di Indonesia.
Ia mencontohkan, saat ini produk TPT ke AS tahun 2007 senilai 3,8 miliar dolar AS, lebih dari 30 persen di antaranya produk middle low.
"Pangsa pasar TPT produk kita di AS masih kecil yakni sekitar tiga persen, angka itu jauh dengan market share Cina yang mencapai 38 persen," ucapnya.
Namun ia berharap dengan adanya kebijakan pemerintah memproteksi impor produk serupa ke tanah air, bisa memperkuat pasar TPT dalam negeri.
"Fokus pertama mengamankan pasar di dalam negeri, kabijakan pemerintah antara lain dengan mengurangi pelabuhan untuk import, jelas membantu produk dalam negeri untuk bisa eksis memenuhi pasar di negeri sendiri," ucap Ketua API itu.
KPO/EDISI 163/NOVEMBER 2008
"Dampak krisis global banyak pembeli produk `high class` beralih ke middle low, sehingga permintaan produk middle low mengalami kenaikan signifikan," kata Ketua Pertekstilan Indonesia (API) Jawa Barat, Ade Sudradjat seperti dilansir Antara.
Kenaikan permintaan produk menengah untuk pasaran Eropa dan Amerika Serikat itu mencapai 20 persen. Beberapa produk midle low yang mendapatkan pasar baru itu antara lain seperti T-Shirt serta produk tekstil kelas menengah ke bawah lainnya. "Sebaliknya produk yang tidak laku produk branded atau high class, karena pasarnya beralih ke middle low," kata Ade.
Akibatnya order yang banyak masuk saat ini untuk middle low, namun Jawa Barat hanya kebagian sedikit order untuk kualitas produk itu.
Menurut Ade, kebanyakan permintaan itu masuk ke Jawa Tengah karena di sana pusatnya produksi middle low, sedangkan di Jabar sebagian besar high class. Namun sebagian order ada yang masuk Jabar, katanya.
Dikatakannya, derasnya permintaan produk kelas menengah itu, produsen TPT kualifikasi middle low memilih pasar yang cukup aman minimal hingga April 2009 mendatang.
"Hingga April 2009, produk-produk middle low masih menjadi pilihan pasar Eropa dan Amerika," kata Ade.
Namun demikian bukan tanpa kendala, karena saingan meraih pasar di Eropa dan Amerika Serikat harus bersaing dengan produk Vietnam, Cina dan Bangladesh yang memiliki biaya energi dan tenaga kerja lebih mudah dibandingkan industri di Indonesia.
Ia mencontohkan, saat ini produk TPT ke AS tahun 2007 senilai 3,8 miliar dolar AS, lebih dari 30 persen di antaranya produk middle low.
"Pangsa pasar TPT produk kita di AS masih kecil yakni sekitar tiga persen, angka itu jauh dengan market share Cina yang mencapai 38 persen," ucapnya.
Namun ia berharap dengan adanya kebijakan pemerintah memproteksi impor produk serupa ke tanah air, bisa memperkuat pasar TPT dalam negeri.
"Fokus pertama mengamankan pasar di dalam negeri, kabijakan pemerintah antara lain dengan mengurangi pelabuhan untuk import, jelas membantu produk dalam negeri untuk bisa eksis memenuhi pasar di negeri sendiri," ucap Ketua API itu.
KPO/EDISI 163/NOVEMBER 2008


0 komentar:
Posting Komentar