Sebagai warga masyarakat yang awam saya sangat bergembira dengan kehadiran iklan Hari Pahlawan PKS yang menampilkan gambar berbagai macam pahlawan. Termasuk mantan Presiden Soeharto. Saya agak heran juga kenapa ada yang protes dan merasa dirugikan saat para pahlawan itu ditayangkan.
Ada yang protes ketika Pak Harto dianggap pahlawan dan guru bangsa, karena Pak Harto dianggap tidak layak. Ada juga yang protes ketika KH Hasyim Asyari dan KH Ahmad Dahlan ditayangkan sebagai pahlawan dalam iklan politik PKS karena dianggap merugikan NU dan Muhammadiyah. Begitulah kehidupan ini selalu diwarnai pro dan kontra.
Padahal seharusnya sebagai bangsa yang besar kita selalu menghargai jasa-jasa para pendahulu kita. Meski kita sadari tak ada seorang pun yang sempurna, mereka semua juga manusia biasa yang memiliki sisi negatif dan positif. Ketika PKS berani menampilkan iklan Hari Pahlawan dengan mengekspose gambar pahlawan dari berbagai macam kalangan dan sudut pandang ini menunjukkan bahwa PKS mempunyai cara pandang yang dewasa, punya jiwa memaafkan, dan mampu menghargai jasa-jasa para pendahulu meski bukan dari kelompoknya.
Seharusnya sikap seperti PKS inilah yang patut dicontoh dan diamalkan oleh bangsa ini. Ini adalah semangat “Bhinneka Tunggal Ika”, meskipun berbeda-beda kita tetap satu bangsa. Jangan melulu mencari perbedaan dan kesalahan. Jangan mengaku kelompoknya paling unggul. Mari kita saling bekerja sama, saling menghargai, dan saling mencintai.
(Komentar: Rosi Sugiarto, Pondok TK Al Firdaus BSB Jatisari Mijen Semarang)
KPO/EDISI 163/NOVEMBER 2008
Ada yang protes ketika Pak Harto dianggap pahlawan dan guru bangsa, karena Pak Harto dianggap tidak layak. Ada juga yang protes ketika KH Hasyim Asyari dan KH Ahmad Dahlan ditayangkan sebagai pahlawan dalam iklan politik PKS karena dianggap merugikan NU dan Muhammadiyah. Begitulah kehidupan ini selalu diwarnai pro dan kontra.
Padahal seharusnya sebagai bangsa yang besar kita selalu menghargai jasa-jasa para pendahulu kita. Meski kita sadari tak ada seorang pun yang sempurna, mereka semua juga manusia biasa yang memiliki sisi negatif dan positif. Ketika PKS berani menampilkan iklan Hari Pahlawan dengan mengekspose gambar pahlawan dari berbagai macam kalangan dan sudut pandang ini menunjukkan bahwa PKS mempunyai cara pandang yang dewasa, punya jiwa memaafkan, dan mampu menghargai jasa-jasa para pendahulu meski bukan dari kelompoknya.
Seharusnya sikap seperti PKS inilah yang patut dicontoh dan diamalkan oleh bangsa ini. Ini adalah semangat “Bhinneka Tunggal Ika”, meskipun berbeda-beda kita tetap satu bangsa. Jangan melulu mencari perbedaan dan kesalahan. Jangan mengaku kelompoknya paling unggul. Mari kita saling bekerja sama, saling menghargai, dan saling mencintai.
(Komentar: Rosi Sugiarto, Pondok TK Al Firdaus BSB Jatisari Mijen Semarang)
KPO/EDISI 163/NOVEMBER 2008


Ada sisi menarik yang layak direfleksikan. Diakui atau tidak, klaim kelompok masih begitu kentara pada dua organisasi sosial keagamaan di Indonesia yang justru mengambil sikap saling terbelah. Hasyim Asy’ari sebagai ulama pejuang yang mendirikan Nahdlatul Ulama sering kali dianggap hanya milik NU. Begitu pun Ahmad Dahlan yang dianggap hanya sebagai milik Muhammadiyah. Kita juga sering kali mendengar pernyataan-pernyataan yang justru menonjolkan sisi kelompok, seperti meneruskan cita-cita Nahdlatul Ulama dan/atau meneruskan cita-cita Muhammadiyah. Fenomena ashabiyah seperti itu kerapkali tampak sampai ke tingkat akat rumput. Sebagai organisasi keislaman seharusnya yang ditekankan adalah meneruskan visi Islam yang rahmatan lil ’alamin dan Islam sebagai ustadziyatul ’alam. NU dan Muhammadiyah secara metode memang beda, tapi substansi tujuan tidak memiliki perbedaan satu sama lain.
BalasHapusKlaim kelompok terhadap tokoh tertentu memang berbahaya bagi proses pembelajaran generasi. Kita ingin agar Hasyim Asya’ari dan Ahmad Dahlan menjadi milik bangsa seluruhnya, bukan bangsa NU atau bangsa Muhammadiyah. Tak ada salahnya mempelajari pemikiran dua tokoh ulama pejuang itu di lembaga pendidikan NU dan Muhammadiyah. Dengan klaim tokoh pada organisasi tertentu, anak-anak bangsa bukan kader NU dan Muhammadiyah terlihat jarang mempelajari pemikiran Hasyim Asya’ari dan Ahmad Dahlan karena telah ”dikurung” pada kelompok tertentu. Padahal, pemikiran dua tokoh itu berkontribusi bagi pembangunan negeri ini yang layak menjadi referensi siapa pun. Wallahu a’lam.