Home » » Pengusaha Muda Dan Interaksi Global

Pengusaha Muda Dan Interaksi Global

Oleh: Joko Susilo
Interaksi dengan dunia internasional perlu dilakukan para pengusaha Indonesia guna membuka pasar dan peluang usaha baru, apalagi dalam kondisi krisis keuangan global saat ini. Ketua Kadin bidang UMKM Sandiaga Uno, saat menghadiri ASEAN 100 Leadership Forum, medio Oktober lalu mengungkapkan, permintaan ekspor dari Indonesia menurun terutama tujuan AS dan Eropa.
Menurut Sandiaga, krisis yang terjadi membuat daya beli negara AS mengalami penurunan sehingga perlu pasar baru untuk ekspor Indonesia. ‘’Dengan terjadinya krisis keuangan di AS dan Eropa akan mempengaruhi ekspor kita. Dengan kondisi ini akan dijadikan untuk melihat prospek pasar ASEAN sebagai pengganti tujuan ekspor,’’ kata Sandiaga.
Dengan keikutsertaan 30 anggota HIPMI (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia) dalam Forum internasional merupakan waktu yang tepat karena dapat dijadikan alat untuk membuka wawasan dan memperluas "network" (jaringan). ‘’Ketua HIPMI saat ini (Erwin Aksa) benar-benar ingin membuka wawasan pengusaha muda terutama di daerah bagaimana memanfaatkan peluang setelah adanya krisis global yang terjadi saat ini setelah pasar di AS dan Eropa terkena dampaknya,’’ ungkapnya.
Ketua HIPMI, Erwin Aksa mengatakan, beberapa forum internasional yang diikuti para anggotanya untuk memperbanyak interaksi dengan dunia internasional guna membiasakan pengusaha muda masuk ke ajang global. ‘’Momen ASEAN 100 Leadership Forum di Manila ini dapat kami jadikan ajang untuk membiasakan anggota HIPMI berinteraksi dengan dunia internasional. Anggota pengusaha muda yang dipimpinnya 99% bergerak di bidang sektor riil, dan 1 % bergerak di bidang pasar uang,’’ kata Aksa di Manila.
Keikutsertaan 30 anggota HIPMI merupakan delegasi terbesar dan mendapat apresiasi dari Dato Timothy Ong (ketua penyelenggara). Beberapa agenda internasional siap diikuti HIPMI, antara lain ke Cina. Upaya itu ditempuh HIPMI untuk membiasakan interaksi dengan internasional dan mencari peluang bisnis di luar negeri. ‘’Para pengusaha Indonesia sebenarnya tidak kalah dengan negara lain. Hal ini terlihat dari beberapa pengusaha yang telah membuka bisnis di negara ASEAN, seperti Grup Salim yang sudah banyak membuka usaha di Filipina,’’ ungkap Erwin.
Pemilik Bosowa Corporation itu menyatakan, grupnya sudah membuka usaha di Filipina dengan focus dalam sektor perdagangan. ‘’Sebagai pengusaha perlu membuka akses yang lebih luas dan tidak membatasi interaksi hanya dalam negeri, tetapi dengan dunia luar,’’ jelasnya.
Pembukaaan pasar di luar negeri tidak berarti pihaknya melarikan modal. Anggota HIPMI masih berkomitmen untuk menggerakkan sektor riil dari dalam negeri, tetapi pemerintah harus memberi kesempatan lebih dibanding investor asing. ‘’Jangan sedikit-sedikit mengundang investor asing, beri kesempatan dulu ke investor lokal, karena kita sebenarnya mampu kok, baik operasional maupun permodalan,’’ kata Erwin kepada ANTARA.
Investor asing, biasanya lebih tertarik pada sektor yang menggunakan teknologi tinggi sehingga kurang menyerap tenaga kerja. Berbeda dengan para investor lokal yang cenderung padat karya. Dengan banyak kesempatan usaha di dalam negeri, maka para pengusaha domestik, tidak akan membawa modalnya ke luar negeri. Untuk itu, Erwin berharap pemerintah Indonesia melihat investor lokal untuk diberi kesempatan pertama sehingga tidak banyak pengusaha Indonesia yang membawa modalnya ke luar negeri.
Presiden Komisaris Para Grup Chairul Tanjung itu menyarankan kepada para pengusaha muda untuk lebih fokus bergerak pada sektor riil. ‘’Dalam situasi krisis keuangan global, sebaiknya para pengusaha untuk kembali ke khitahnya investasi langsung ke sektor riil,’’ kata Chairul saat berbicara di hadapan 30 anggota HIPMI di Manila, Filipina, akhir pekan ini.
Menurut Chairul, sektor riil menjadi ketahanan ekonomi, untuk membangun ekonomi dalam negeri apalagi di saat bursa saham dunia mengalami penurunan kepercayaan (trust), karena orang AS sebagian besar ada di pasar modal. Di sini, terjadi penjualan besar-besar saham di pasar yang diikuti bursa lain termasuk Indonesia. Investasi di sektor riil margin yang didapat memang lebih kecil dibanding di pasar modal yang lebih menggiurkan. ’Kondisi saat ini harus mencari uang dengan mengeluarkan keringat dulu dan mendapatkan hasilnya saat panen.
Bergerak di sektor riil membutuhkan waktu panjang dan baru mendapatkan hasilnya, berbeda dengan di pasar uang yang dalam waktu singkat sudah mendapatkan untung. ‘’Fokus di sektor riil, petiklah saat sudah matang, itu akan lebih berkah,’’ jelasnya.
Bursa saham, sebut Chairul, masih akan menurun karena pasar saham AS sudah mengalami krisis kepercayaan dari masyarakat. Selain itu, turunnya harga minyak dunia yang diikuti oleh harga-harga komoditas juga akan menjadi sentimen negatif pasar saham. Kondisi dunia usaha saat ini diperkirakan akan menghadapi sulitnya likuiditas. Namun, pemilik sebuah bank swasta dan dua stasiun televisi swasta ini menyarankan jangan pesemis menghadapi krisis. ‘’Chairul Tanjung ada dalam percaturan ekonomi ini karena krisis,’’ katanya. (Anspek)
KPO/EDISI 163/NOVEMBER 2008
Thanks for reading Pengusaha Muda Dan Interaksi Global

« Previous
« Prev Post
Next »
Next Post »

0 komentar:

Posting Komentar