Oleh: Maria D Andriana
Rumini, perempuan asal Ngawi, Jawa Timur sedang siap-siap berangkat ke Taiwan untuk menjadi pekerja, tepatnya sebagai pembantu rumah tangga. Wajahnya berseri-seri dan penuh semangat. Meski usianya sudah mencapai 34 tahun, ibu dari tiga anak itu terlihat lebih muda, energik dan siap bekerja. ‘’Saya sudah pernah bekerja di Arab Saudi dan Taiwan. Sekarang mau balik kerja ke Taiwan lagi,’’ ujar Rumini saat berada di tempat pelatihan kerja PT Sumber Kencana Sejahtera Indonesia di kawasan Kranggan, Bekasi, Selasa (11/11).
Menurutnya, ia lebih merasa nyaman bekerja di Taiwan karena pekerjaannya lebih ringan dibanding ketika bekerja di Arab Saudi. ‘’Tugas saya merawat lansia, membersihkan rumah dan memasak untuk satu orang. Jadi sangat ringan, malah bisa menonton televisi bareng majikan,’’’ katanya.
Pada saat tertentu, anak-anak majikan juga mengajaknya pesiar, dan jika Rumi perlu waktu pribadi untuk bertemu dengan sesama TKI, ia bisa meminta izin dari majikan. Para TKI di Taiwan biasa berkumpul kangen-kangenan di depan toko Indo atau taman. Telepon genggam adalah sarana untuk berkomunikasi antar mereka, bahkan untuk menelpon keluarga di Indonesia. Setiap bulan, ia digaji Rp 4,6 juta dengan kontrak selama dua tahun.
Tarini, juga berusia 34 tahun asal Lampung mempunyai pengalaman serupa. Dia sedang menunggu pemberangkatan ke Taiwan untuk yang ketiga kalinya. Ia sudah menjanda dan meninggalkan anak semata wayang yang berusia 11 tahun dalam asuhan orang tua. ‘’Saya bekerja demi masa depan anak dan untuk tabungan,’’ kata Tari yang sudah memperbaiki rumah orang tuanya dan membeli ladang seluas satu hektare di Lampung.
Meski mengaku lebih enak bekerja pada industri, seperti pengalamannya ketika bekerja pada pabrik sepatu di Tangerang, Tari kini memilih untuk merantau ke Taiwan, ketimbang bekerja di Indonesia, demi meraup penghasilan yang lebih besar.
Direktur PT Sumber Kencana Sejahtera Indonesia Hendra Yuwono Njo yang sudah berpengalaman selama 12 tahun mengelola jasa TKI itu mengatakan, setiap bulan perusahaannya bisa memberangkatkan antara 100-200 orang tenaga kerja untuk kawasan Asia Pasifik yaitu Hongkong, Taiwan, Singapura dan Malaysia.
Dalam mengelola usahanya, Hendra mengaku selalu patuh mengikuti regulasi yang ditetapkan pemerintah, meskipun ada beberapa hal yang mengganjal. ‘’Undang-Undang ketenagakerjaan menyebutkan bahwa para TKI yang bisa diberangkatkan harus berusia 21 tahun ke atas, padahal para peminatnya banyak yang berusia sekitar 18 tahun atau setelah lulus SMA,’’ katanya.
Untuk itu ia terpaksa menolak para pelamar yang berusia kurang dari 21 tahun dan menurutnya ada kesenjangan tiga tahun ketika para remaja itu lulus SMA. Kepatuhan terhadap regulasi juga dilakukan oleh PT Perusahaan Pengarah Tenaga Kerja Indonesia Swasta (PPTKIS) yang menangani pengiriman TKW ke kawasan Saudi Arabia. ‘’Kami mau bekerja profesional, mengirim TKW yang juga profesional jadi mengapa harus ambil risiko dengan pelanggaran seperti itu,’’ kata Rusdy Bahalwan saat berada di Balai Latihan Kerja Amri Marga Tama di Bekasi.
Perusahaan tersebut biasa mendidik 800 calon TKW dalam satu angkatan, mereka berasal dari berbagai kota di Jawa, Sumatra, Bali, Kalimantan dan NTB. Selain memberangkatkan TKW untuk menjadi pembantu rumah tangga, perusahaan itu juga mengirim perawat profesional yang khusus untuk bertugas di bagian Unit Gawat darurat.
Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan, Meutia Hatta Swasono ketika mengunjungi Balai Latihan Kerja Luar Negeri Amri Marga Tama, Selasa memompa semangat para perawat yang siap berangkat itu. ‘’Congratulations. Kalian adalah pekerja profesional yang juga akan membawa nama baik bagi Indonesia,’’ kata Meutia Hatta dalam bahasa Inggris.
Para perawat lulusan Diploma 3 dan Strata 1 jurusan keperawatan yang dilatih lagi untuk menyesuaikan dengan kebutuhan kerja di negara tujuan, khususnya kemampuan berbahasa Inggris dan Arab serta memperdalam spesialisasi penanganan unit darurat.
‘’Saya menjelaskan kepada mereka mengenai penanganan darurat medis dan apa yang harus mereka lakukan dengan menjelaskan proses sejak ibu melahirkan hingga fungsi jantung untuk kehidupan,’’ kata guru pembimbing, Mariani Sitanggang dalam bahasa Inggris seraya membawa alat peraga organ tubuh manusia. Mariani yang pernah mengenyam pendidikan di Sydney, juga mengatakan kepada Meutia Hatta, ketika muda ia juga pernah bekerja sebagai perawat di luar negeri.
Masa Depan
Bagi sebagian besar TKW, bekerja di luar negeri adalah pilihan yang mereka ambil demi masa depan keluarga dan anak-anak. Para calon TKW tersebut mengaku tidak gentar menghadapi pemberitaan yang gencar mengenai TKW yang dianiaya. ‘’Alhamdullilah saya selalu dapat majikan yang baik," kata Sarima Bin Sabar (33) yang pernah bekerja di Kuwait tahun 2004 dan Dubai (2006).
Sarima sedang mengikuti pelatihan penyegaran sebelum diberangkatkan ke Arab Saudi oleh PT Assima Ananda Mandiri yang selama ini dikenal sebagai pengirim tenaga kerja ke negara Timur Tengah yaitu Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, Jordania, Oman dan Qatar. Selain Sarima, masih banyak para pengejar mimpi yang sedang giat belajar bahasa asing dan latihan ketrampilan di sejumlah Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI).
Direktur PT Assami Ananda Mandiri Saleh Alatas mengatakan, PJTKI biasanya bekerja profesional dan mematuhi aturan, memantau keadaan para pekerja secara rutin dan menyediakan panduan maupun saluran komunikasi apabila diperlukan. ‘’Memang ada pekerja ilegal yang biasanya ditangani sindikat penampung. Kalau melalui PJTKI yang terdaftar, pasti terjamin keamanan pekerjanya,’’ kata Saleh.
Rata-rata para calon tenaga kerja itu dilatih sekitar satu hingga dua bulan dan bila sudah berpengalaman bekerja di luar negeri, pelatihan dilakukan lebih singkat untuk penyesuaian kembali kemampuan mereka, kemudian siap diberangkatkan. Tingkat kegagalan peserta pelatihan menurut pengakuan pengelola perusahaan, sangat kecil, yaitu lebih kepada kesiapan mental dari keluarga yang memanggil pulang.
Hampir rata-rata pekerja perempuan yang sudah berkeluarga mengatakan mendapat izin dari suami mereka untuk bekerja jauh dari rumah, demi mengisi pundi-pundi keluarga. Ada berbagai cara yang dilakukan oleh mereka untuk menyimpan uang, misalnya dengan menabung sendiri dan mengirim sebagian kecil ke keluarga untuk kepentingan harian, ada pula yang mengirimnya untuk membeli tanah, membangun rumah, dan modal membuka warung makan.
Para TKI yang pernah mendapat majikan yang baik, biasanya menjadi ingin kembali bekerja ke luar negeri, karena hasil yang diperoleh cukup besar dibanding penghasilan di dalam negeri. ‘’Kalau hari raya Imlek anak-anak majikan selalu memberi uang, demikian pula jika ada kematian. Jumlahnya lumayanlah,’’ kata Rumini.
Meneg Meutia Hatta mengharapkan, PJTKI terus-menerus meningkatkan kualitas pendidikan bagi para TKI bahkan juga meningkatkan pengiriman tenaga yang profesional. ‘’Saya melihat rata-rata fasilitas sudah bagus, tetapi memang ada beberapa yang harus ditingkatkan, misalnya kemampuan berkomunikasi dan ketrampilan kerja,’’ ujarnya.
Wajah-wajah penuh harap dan senyum ceria mengembang ketika para perempuan muda itu belajar dan mempraktekkan ketrampilan memandikan bayi, memijat lansia, menyetrika baju, menata sprei, memasak dan menata meja makan atau bahkan mengoperasikan mesin cuci, kompor gas, pemanggang roti, dan penyedot debu. ‘’Kami menyediakan pelatihan dengan strandar hotel untuk menata kamar, meja makan, membersihkan kamar mandi,’’ kata pengajar di salah satu perusahaan tersebut.
Kebanyakan perusahaan itu menyediakan peralatan rumah tangga untuk melatih calon TKW yang rata-rata datang dari kampung dan belum berpengalaman mengoperasikan alat rumah tangga modern. ‘’Ini adalah bekal untuk mereka dalam bekerja,’’ kata seorang pengajar.
‘’Doakan saya ya Bu, agar dapat majikan yang baik dan bisa bekerja,’’ kata seorang perempuan yang mengejar mimpinya itu kepada sejumlah tamu yang mengunjungi mereka bersama Meneg Meutia Hatta. ‘’Saya ingin mencari tambahan modal untuk menghidupkan warteg yang sekarang dikelola mama,’’ kata seorang gadis berusia 22 tahun asal Karawang, Jawa Barat. (Anspek)
KPO/EDISI 163/NOVEMBER 2008
Rumini, perempuan asal Ngawi, Jawa Timur sedang siap-siap berangkat ke Taiwan untuk menjadi pekerja, tepatnya sebagai pembantu rumah tangga. Wajahnya berseri-seri dan penuh semangat. Meski usianya sudah mencapai 34 tahun, ibu dari tiga anak itu terlihat lebih muda, energik dan siap bekerja. ‘’Saya sudah pernah bekerja di Arab Saudi dan Taiwan. Sekarang mau balik kerja ke Taiwan lagi,’’ ujar Rumini saat berada di tempat pelatihan kerja PT Sumber Kencana Sejahtera Indonesia di kawasan Kranggan, Bekasi, Selasa (11/11).
Menurutnya, ia lebih merasa nyaman bekerja di Taiwan karena pekerjaannya lebih ringan dibanding ketika bekerja di Arab Saudi. ‘’Tugas saya merawat lansia, membersihkan rumah dan memasak untuk satu orang. Jadi sangat ringan, malah bisa menonton televisi bareng majikan,’’’ katanya.
Pada saat tertentu, anak-anak majikan juga mengajaknya pesiar, dan jika Rumi perlu waktu pribadi untuk bertemu dengan sesama TKI, ia bisa meminta izin dari majikan. Para TKI di Taiwan biasa berkumpul kangen-kangenan di depan toko Indo atau taman. Telepon genggam adalah sarana untuk berkomunikasi antar mereka, bahkan untuk menelpon keluarga di Indonesia. Setiap bulan, ia digaji Rp 4,6 juta dengan kontrak selama dua tahun.
Tarini, juga berusia 34 tahun asal Lampung mempunyai pengalaman serupa. Dia sedang menunggu pemberangkatan ke Taiwan untuk yang ketiga kalinya. Ia sudah menjanda dan meninggalkan anak semata wayang yang berusia 11 tahun dalam asuhan orang tua. ‘’Saya bekerja demi masa depan anak dan untuk tabungan,’’ kata Tari yang sudah memperbaiki rumah orang tuanya dan membeli ladang seluas satu hektare di Lampung.
Meski mengaku lebih enak bekerja pada industri, seperti pengalamannya ketika bekerja pada pabrik sepatu di Tangerang, Tari kini memilih untuk merantau ke Taiwan, ketimbang bekerja di Indonesia, demi meraup penghasilan yang lebih besar.
Direktur PT Sumber Kencana Sejahtera Indonesia Hendra Yuwono Njo yang sudah berpengalaman selama 12 tahun mengelola jasa TKI itu mengatakan, setiap bulan perusahaannya bisa memberangkatkan antara 100-200 orang tenaga kerja untuk kawasan Asia Pasifik yaitu Hongkong, Taiwan, Singapura dan Malaysia.
Dalam mengelola usahanya, Hendra mengaku selalu patuh mengikuti regulasi yang ditetapkan pemerintah, meskipun ada beberapa hal yang mengganjal. ‘’Undang-Undang ketenagakerjaan menyebutkan bahwa para TKI yang bisa diberangkatkan harus berusia 21 tahun ke atas, padahal para peminatnya banyak yang berusia sekitar 18 tahun atau setelah lulus SMA,’’ katanya.
Untuk itu ia terpaksa menolak para pelamar yang berusia kurang dari 21 tahun dan menurutnya ada kesenjangan tiga tahun ketika para remaja itu lulus SMA. Kepatuhan terhadap regulasi juga dilakukan oleh PT Perusahaan Pengarah Tenaga Kerja Indonesia Swasta (PPTKIS) yang menangani pengiriman TKW ke kawasan Saudi Arabia. ‘’Kami mau bekerja profesional, mengirim TKW yang juga profesional jadi mengapa harus ambil risiko dengan pelanggaran seperti itu,’’ kata Rusdy Bahalwan saat berada di Balai Latihan Kerja Amri Marga Tama di Bekasi.
Perusahaan tersebut biasa mendidik 800 calon TKW dalam satu angkatan, mereka berasal dari berbagai kota di Jawa, Sumatra, Bali, Kalimantan dan NTB. Selain memberangkatkan TKW untuk menjadi pembantu rumah tangga, perusahaan itu juga mengirim perawat profesional yang khusus untuk bertugas di bagian Unit Gawat darurat.
Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan, Meutia Hatta Swasono ketika mengunjungi Balai Latihan Kerja Luar Negeri Amri Marga Tama, Selasa memompa semangat para perawat yang siap berangkat itu. ‘’Congratulations. Kalian adalah pekerja profesional yang juga akan membawa nama baik bagi Indonesia,’’ kata Meutia Hatta dalam bahasa Inggris.
Para perawat lulusan Diploma 3 dan Strata 1 jurusan keperawatan yang dilatih lagi untuk menyesuaikan dengan kebutuhan kerja di negara tujuan, khususnya kemampuan berbahasa Inggris dan Arab serta memperdalam spesialisasi penanganan unit darurat.
‘’Saya menjelaskan kepada mereka mengenai penanganan darurat medis dan apa yang harus mereka lakukan dengan menjelaskan proses sejak ibu melahirkan hingga fungsi jantung untuk kehidupan,’’ kata guru pembimbing, Mariani Sitanggang dalam bahasa Inggris seraya membawa alat peraga organ tubuh manusia. Mariani yang pernah mengenyam pendidikan di Sydney, juga mengatakan kepada Meutia Hatta, ketika muda ia juga pernah bekerja sebagai perawat di luar negeri.
Masa Depan
Bagi sebagian besar TKW, bekerja di luar negeri adalah pilihan yang mereka ambil demi masa depan keluarga dan anak-anak. Para calon TKW tersebut mengaku tidak gentar menghadapi pemberitaan yang gencar mengenai TKW yang dianiaya. ‘’Alhamdullilah saya selalu dapat majikan yang baik," kata Sarima Bin Sabar (33) yang pernah bekerja di Kuwait tahun 2004 dan Dubai (2006).
Sarima sedang mengikuti pelatihan penyegaran sebelum diberangkatkan ke Arab Saudi oleh PT Assima Ananda Mandiri yang selama ini dikenal sebagai pengirim tenaga kerja ke negara Timur Tengah yaitu Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, Jordania, Oman dan Qatar. Selain Sarima, masih banyak para pengejar mimpi yang sedang giat belajar bahasa asing dan latihan ketrampilan di sejumlah Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI).
Direktur PT Assami Ananda Mandiri Saleh Alatas mengatakan, PJTKI biasanya bekerja profesional dan mematuhi aturan, memantau keadaan para pekerja secara rutin dan menyediakan panduan maupun saluran komunikasi apabila diperlukan. ‘’Memang ada pekerja ilegal yang biasanya ditangani sindikat penampung. Kalau melalui PJTKI yang terdaftar, pasti terjamin keamanan pekerjanya,’’ kata Saleh.
Rata-rata para calon tenaga kerja itu dilatih sekitar satu hingga dua bulan dan bila sudah berpengalaman bekerja di luar negeri, pelatihan dilakukan lebih singkat untuk penyesuaian kembali kemampuan mereka, kemudian siap diberangkatkan. Tingkat kegagalan peserta pelatihan menurut pengakuan pengelola perusahaan, sangat kecil, yaitu lebih kepada kesiapan mental dari keluarga yang memanggil pulang.
Hampir rata-rata pekerja perempuan yang sudah berkeluarga mengatakan mendapat izin dari suami mereka untuk bekerja jauh dari rumah, demi mengisi pundi-pundi keluarga. Ada berbagai cara yang dilakukan oleh mereka untuk menyimpan uang, misalnya dengan menabung sendiri dan mengirim sebagian kecil ke keluarga untuk kepentingan harian, ada pula yang mengirimnya untuk membeli tanah, membangun rumah, dan modal membuka warung makan.
Para TKI yang pernah mendapat majikan yang baik, biasanya menjadi ingin kembali bekerja ke luar negeri, karena hasil yang diperoleh cukup besar dibanding penghasilan di dalam negeri. ‘’Kalau hari raya Imlek anak-anak majikan selalu memberi uang, demikian pula jika ada kematian. Jumlahnya lumayanlah,’’ kata Rumini.
Meneg Meutia Hatta mengharapkan, PJTKI terus-menerus meningkatkan kualitas pendidikan bagi para TKI bahkan juga meningkatkan pengiriman tenaga yang profesional. ‘’Saya melihat rata-rata fasilitas sudah bagus, tetapi memang ada beberapa yang harus ditingkatkan, misalnya kemampuan berkomunikasi dan ketrampilan kerja,’’ ujarnya.
Wajah-wajah penuh harap dan senyum ceria mengembang ketika para perempuan muda itu belajar dan mempraktekkan ketrampilan memandikan bayi, memijat lansia, menyetrika baju, menata sprei, memasak dan menata meja makan atau bahkan mengoperasikan mesin cuci, kompor gas, pemanggang roti, dan penyedot debu. ‘’Kami menyediakan pelatihan dengan strandar hotel untuk menata kamar, meja makan, membersihkan kamar mandi,’’ kata pengajar di salah satu perusahaan tersebut.
Kebanyakan perusahaan itu menyediakan peralatan rumah tangga untuk melatih calon TKW yang rata-rata datang dari kampung dan belum berpengalaman mengoperasikan alat rumah tangga modern. ‘’Ini adalah bekal untuk mereka dalam bekerja,’’ kata seorang pengajar.
‘’Doakan saya ya Bu, agar dapat majikan yang baik dan bisa bekerja,’’ kata seorang perempuan yang mengejar mimpinya itu kepada sejumlah tamu yang mengunjungi mereka bersama Meneg Meutia Hatta. ‘’Saya ingin mencari tambahan modal untuk menghidupkan warteg yang sekarang dikelola mama,’’ kata seorang gadis berusia 22 tahun asal Karawang, Jawa Barat. (Anspek)
KPO/EDISI 163/NOVEMBER 2008


0 komentar:
Posting Komentar