Optimalkan MOD Untuk Laut Indonesia

thumbnail
Oleh: Virna Puspa Setyorini
Deklarasi Kelautan Manado (Manado Ocean Declararation/ MOD) menjadi tujuan akhir dari pelaksanaan Konferensi Kelautan Dunia di Manado, Sulawesi Utara. Namun, menurut Direktur Pesisir dan Lautan Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP), Ida Kusuma W, secara sederhana Indonesia menginginkan agar laut diperhitungkan dalam setiap pembahasan di KTT Perubahan Iklim PBB. Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dimana dua per tiga bagiannya merupakan lautan. Sehingga wajar, menurut Ida, jika 60% dari 230 juta penduduknya yang hidup di pesisir menggantungkan hidupnya pada laut.
Sebagai pemilik bagian terbesar dari segitiga terumbu karang dunia, pakar lingkungan hidup Emil Salim mengatakan, tidak ada kekhawatiran untuk kekurangan pasokan sumber protein ikan. Karena kenyataanya 60 persen pasokan ikan dunia berasal dari segitiga terumbu karang ini.
Tidak heran perairan Indonesia sering menjadi incaran para pencuri ikan. Bahkan, menurut Sekjen Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara), Riza Damanik, 10 negara dalam 10 tahun terakhir secara rutin mencuri ikan di wilayah Indonesia. Ke-10 negara yang mengeruk ikan dan biota laut lainnya milik Indonesia adalah Thailand, Filipina, Taiwan, Korea Selatan, Panama, Cina, Vietnam, Malaysia, Kamboja dan Myanmar.
Penangkapan berlebih membuat ketersediaan sumber daya ikan Indonesia terancam. Selain karena pencurian ikan oleh nelayan asing, masalah lain adalah penangkapan ikan dengan cara merusak oleh nelayan asing dan Indonesia sendiri masih sering terjadi. Dirjen Kelautan Pesisir dan Pulau-pulau Kecil (KP3K) DKP, Syamsul Ma`arif mengatakan, praktik penangkapan ikan dengan menggunakan bom, racun, pukat harimau, memang jadi masalah besar. Dan merusak terumbu karang Indonesia, yang secara tidak langsung akan menggangu cadangan ikan dunia.
Riza Damanik mengatakan, rusaknya terumbu karang dan terganggunya sumber daya ikan di perairan Indonesia juga disebabkan limbah tailing yang dibuang kelaut, pestisida pertanian yang mengalir kelaut, dan limbah budidaya maupun industri yang mengalir ke laut. Tidak heran, ia mendesak pemerintah melarang industri, pertambangan, budidaya hingga pertanian, membuang limbahnya ke laut.
Rusak dan berkurangnya hutan mangrove akibat penebangan liar, reklamasi, budidaya, juga menjadi masalah bagi kehidupan terumbu karang. Semua polutan yang masuk ke laut tidak lagi dapat tersaring oleh hutan mangrove. Proses panjang dari ulah manusia yang juga mengancam terumbu karang adalah pemanasan global yang timbul dari efek rumah kaca. Karbon yang bersifat panas yang dikeluarkan kendaraan bermotor, industri, rumah tangga, terperangkap di udara dan memanaskan suhu bumi. Terumbu karang rentan terhadap panas, karena itu pemanasan global dikhawatirkan dapat merusak terumbu karang sehingga mengganggu ketersediaan pangan dunia.
Ancaman
Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar memiliki 17.480 pulau yang tersebar dari Sabang hingga Merauke, akan sulit mempertahankan jumlah tersebut akibat kenaikan muka laut sebagai dampak pemanasan global. Karena itu, menurut Emil Salim, kehilangan 2.000 pulau di tahun 2050 akibat pemanasan global tidak terhindar. Dan kondisi yang sama juga akan dirasakan negara kepulauan dan negara yang berbatasan dengan laut. Dampak hilangnya pulau-pulau di dunia sangat dasyat, karena secara otomatis wilayah kedaulatan suatu negara dapat bergeser.
Bahkan, negara-negara kepulauan kecil seperti Maladewa akan hilang dari permukaan bumi. ‘’Pulau mereka hanya 1,3 meter di atas permukaan laut, dengan peningkatan paras laut 2,53 mili meter per tahun, Maladewa akan tenggelam pada 2050,’’ ujar mantan Menteri Lingkungan Hidup ini. Untuk itu, ia mengatakan, keberhasilan Konferensi Kelautan Dunia sebagai upaya preventif bersama melindungi lautan dari dampak pemanasan global sangat diharapkan.
Laut, yang menurut pakar lingkungan hidup Emil Salim, mencapai dua per tiga luas bumi belum pernah secara serius dibahas dalam agenda pencegahan dampak pemanasan global. Selama ini hutan yang selalu menjadi topik utama dalam setiap pembahasan terkait penyerapan karbon. Padahal sebagian pakar kelautan mengatakan laut pun berpotensi menyerap karbon. Meski begitu, mantan Menteri Lingkungan Hidup ini mengatakan, kebenaran tentang kemampuan laut menyerap karbon belum sepenuhnya terbukti. Karena itu, jika Menteri Kelautan dan Perikanan Freddy Numberi berani mengatakan bahwa laut menyerap karbon lebih besar dari daratan, Emil Salim justru mengatakan daratan tetap lebih besar menyerap karbon. ‘’Setiap bagian dari laut itu berbeda-beda, karena itu perlu secara detil dilakukan penelitian. Laut di utara jelas berbeda dengan laut di selatan katulistiwa,’’ ujar dia.
Untuk itu, ia menyarankan agar ahli-ahli kelautan Indonesia sendiri yang harus meneliti kemampuan laut Indonesia menyerap karbon. Direktur Pesisir dan Lautan Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP), Ida Kusuma W mengatakan, hal yang sama. Bahwa hingga saat ini ilmuwan belum sepakat soal kemampuan laut sebagai carbon sink. Tapi itu masalah global karena harus diselesaikan secara bersama-sama. MOD terus diperjuangkan pada KTT Perubahan Iklim di Kopenhagen, bulan November 2009, agar benar-benar diterima dan diratifikasi. Dirjen Kelautan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (KP3K) DKP, Syamsul Ma`arif mengatakan, harapan Indonesia adalah MOD dapat menjadi pelengkap dalam KTT Perubahan Iklim PBB.
Inisiatif Indonesia menyelenggarakan Konfrensi Kelautan Dunia pada 11-14 Mei, di Manado, menjadi harapan besar bangsa-bangsa di dunia untuk menyelamatkan sumber daya laut, serta mengurangi dampak pemanasan global. Ida Kusuma W mengatakan draf MOD dibuat sangat universal sehingga tidak ada pihak yang akan tersakiti. Jika draf tersebut disepakati oleh negara-negara yang hadir, maka pada tahap implementasi kebijakan akan disesuaikan dengan kondisi nasional, regional maupun internasional.
Draf MOD yang berisi tentang implementasi konservasi dengan manajemen jangka panjang yang bertujuan mensukseskan pembangunan internasional yang berkesinambungan, termasuk yang ada dalam Millenium Development Goal`s (MDG`s). Dengan implementasi manajemen laut dan pesisir secara terintegrasi, termasuk membuat zonasi, dan perencanaan penggunaan wilayah pesisir untuk meminimalisir dan mengurangi resiko dan mematikan komunitas pesisir serta menghancurkan infrastruktur penting di pesisir. Upaya pencegahan perubahan iklim sesuai kerangka kerja KTT Perubahan Iklim dan Protokol Kyoto pada masa krisis finansial global, promosikan low carbon economy.
Sosialisasi pemahaman yang lebih baik dan bagaimana pemanasan global sangat berpengaruh pada ekosistem, biodiversiti laut, dan komunitas pesisir, terutama di negara berkembang. Kerja sama penelitian dan observasi untuk meningkatkan pengetahuan atas dampak pemanasan global terhadap biodiversiti laut dan perikanan termasuk manfaat. Terakhir, pertukaran informasi terkait kesiapan menghadapi hal penting, memonitor, dan memproyeksikan perubahan iklim dan variabel laut, dan untuk meningkatkan pemahaman publik pada kapasitas sistem peringatan dini.
Samarnya komitmen untuk menghentikan pencurian ikan dan sumber daya laut yang dapat membahayakan keberadaan terumbu karang membuat sejumlah LSM di dalam negeri berteriak lantang. Riza Damanik dari Kiara bersama dengan pihak LSM lainnya menyayangkan tidak adanya upaya penghentian pencurian ikan. Padahal pencurian ikan jelas merugikan Indonesia dan membuat dunia rawan pangan. Ida Kusuma mengungkapkan diperhitungkannya laut sebagai penyebab pemanasan global tentu akan menguntungkan, karena dana penelitian untuk melawan perubahan global akan juga disalurkan pada laut. Penelitian kelautan yang memang mahal akan menjadi ringan jika dukungan dana secara internasional untuk melakukan.
Namun Emil Salim mengingatkan agar Indonesia tidak boleh meminta apapun, pada siapapun untuk menyelamatkan laut maupun terumbu karang karena itu sudah menjadi kewajiban dunia. Riza mengatakan, penyerapan karbon dari laut jangan sampai untuk mendapat dana. Karena ditakutkan lebih mengancam posisi tawar Indonesia. (Anspek)
KORAN PAK OLES/EDISI 175/16-31 MEI 2009

Kontroversi Karbon Terserap Laut

thumbnail
Oleh: Citra Senjaya
Konferensi Kelautan Dunia atau World Ocean Conference (WOC) dan Coral Triangle Initiative (CTI) bakal digelar di Manado, 11-15 Mei 2009. Sejumlah isu aktual yang membahas mengenai masa depan kelautan dunia, peran laut terhadap perubahan iklim, serta dampak perubahan iklim terhadap laut, bakal dibahas dalam konferensi yang akan dihadiri oleh delegasi dari sekitar 120 negara.
Dari sejumlah isu tersebut, salah satu topik bahasan yang cukup hangat dinantikan yakni kejelasan tentang kemungkinan penyerapan karbon (carbon sink) oleh laut. Produksi karbon dioksida (CO2) berlebih memicu terjadinya efek rumah kaca yang menjadi salah satu penyebab pemanasan global.
Adapun keberadaan terumbu karang di laut berperan penting dalam proses penyerapan karbon. Menurut Peneliti Bidang Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Kurnaen Sumadiharga, penyerapan karbon dalam proses asimilasi melalui media terumbu karang dimungkinkan terjadi, khususnya di kawasan Indonesia yang sebagian besar wilayahnya terdiri dari lautan.
Proses fotosintesis mungkin dilakukan tumbuhan yang memiliki zat hijau daun atau klorofil. Terumbu karang terdiri dari unsur binatang karang bernama Polip yang melakukan simbiosis mutualisme dengan tumbuhan alga, yakni gangGang hijau. ‘’Tumbuhan inilah yang sesungguhnya melakukan proses fotosintesis, sekalipun di dalam air,’’ katanya.
Proses fotosintesis, memerlukan karbon dioksida (CO2) serta sinar matahari, yang selanjutnya menghasilkan oksigen (O2), air serta gula. Sementara CO2 yang menjadi bahan utama proses fotosintesis juga tersedia di laut. Pada malam hari, saat terumbu karang tidak melakukan asimilasi, tumbuhan ini justru menghasilkan CO2. ‘’Karbon yang dihasilkan saat malam hari inilah yang menjadi bahan utama terjadinya proses fotosintesis, ‘’ katanya.
Karena itu, lanjut dia, keberadaan terumbu karang ini harus dipelihara dan dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk mengantisipasi terjadinya perubahan iklim. Namun, sekitar 30% terumbu karang di Indonesia, saat ini dalam kondisi rusak. Menurut Kurnaen, Penyelamatan terumbu karang memerlukan kemauan politik dari banyak negara, khususnya peserta Konferensi Kelautan Dunia di Manado mendatang.
Penyelamatan terumbu karang ini memerlukan kemauan politik para pengambil keputusan terutama di tingkat menteri agar segera dapat terlaksana.
Menurut Kurnaen, para penguasa dunia di masa yang akan datang yakni mereka yang mampu menguasai sumber daya alam. Karena itu perlu upaya dari negara-negara dunia untuk turut serta dalam penyelamatan sumber daya alam, sebelum semuanya itu salah urus. Salah satu upaya yang dapat dilakukan pemerintah Indonesia, kata dia, yaitu melalui pembentukan pola pikir masyarakat untuk lebih mencintai laut. Sebagian besar wilayah Indonesia terdiri dari laut, oleh karena itu bangsa ini harus mencintai laut sebagai sumber kehidupan, katanya.
Adapun bentuk pelaksanaan dari kemauan politik tersebut, kata dia, memerlukan konsep operasional yang terbagi-bagi berdasarkan fungsi dan tugasnya. Misalnya, Indonesia sebagai salah satu negara pemilik terumbu karang, maka harus memetakan daerah yang harus dipertahankan agar aman dari kerusakan. Selain itu, pelaksanaan konsep tersebut juga akan melibatkan para nelayan tradisional sebagai salah satu kelompok yang menggantungkan hidupnya dari laut. Dengan begitu, penetapan kawasan terumbu karang yang harus dijaga keberadannya ini tidak akan tidak akan mengganggu aktivitas nelayan saat melaut. ‘’Kawasan-kawasan ini dibagi dalam beberapa zona, seperti zona tertutup, konservasi dan terbuka,’’ katanya.
Sangsi
Namun, hasil penelitian mengenai kemungkinan penyerapan karbon oleh terumbu karang ini justru disangsikan oleh aktivis lingkungan. Greenpeace Indonesia menilai proses fotosintesis pada terumbu karang dalam upaya penyerapan karbon belum sepenuhnya dapat dibuktikan secara ilmiah. ‘’Hingga saat ini belum ada hasil penelitian secara ilmiah yang menyimpulkan hasil fotosintesis terumbu karang dapat menyerap bahkan melepaskan karbon,’’ kata Juru Kampanye Bidang Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia, Arif Yanto.
Namun, jika ke depannya ternyata hasil penelitian fotosintesis melalui terumbu karang mampu menyerap karbon, tentunya hal tersebut menjadi salah satu temuan yang menggembirakan, mengingat perairan Indonesia cukup luas memiliki bentangan terumbu karang. ‘’Kami berharap mudah-mudahan ada penelitian yang mampu mengungkap bahwa fotosintesis terumbu karang mampu menyerap karbon dan dapat ditawarkan dalam perdagangan karbon kepada masyarakat dunia,’’ katanya.
Pendapat senada juga disampaikan Peneliti pada Museum Nasional Sejarah Alam Smithsonian Institution Washington Amerika Nancy Knowlton. Potensi penyerapan karbon oleh laut memang besar, akan tetapi hal tersebut dapat mengakibatkan rusaknya kehidupan biota laut. Laut menyimpan potensi penyerapan karbon besar, tetapi dampaknya bisa mengakibatkan kadar air laut menjadi asam, sehingga bisa menyebabkan kerusakan biota laut, kata Nancy, peneliti dari ASt yang juga hadir pada Konferensi Kelautan Dunia di Manado. Kerusakan biota laut seperti karang karena asidifikasi antara lain berupa pemutihan karang (bleaching), osteoporosis terumbu karang dan sedimentasi.
Asisten Deputi Pengendalian Kerusakan Pesisir dan Laut Deputi Bidang Peningkatan Konservasi Sumber Daya Alam Kementerian Lingkungan Hidup (LH), Wahyu Indraningsih menuturkan, keberadaan terumbu karang di Indonesia harus benar-benar dijaga. Selain disebabkan penggunaan bahan peledak, perubahan iklim global beberapa waktu terakhir ini juga menjadi salah satu penyebab rusaknya terumbu karang. Perubahan iklim berakibat terhadap naiknya suhu air laut. ‘’Suhu air laut yang naik dua sampai derajat Celcius dalam dua minggu berturut-turut menyebabkan kerusakan terumbu karang,’’ katanya.
Kondisi semacam ini, juga sudah mulai terindikasi di wilayah Indonesia.Menurut Wahyu, dalam WOC dan CTI, Kementerian LH juga akan menyampaikan sejumlah permasalahan kelautan dan tantangan yang dihadapi Indonesia, serta upaya-upaya untuk menghadapi. Indonesia sebagai tuan rumah WOC dan CTI, harus mampu beradaptasi dengan berbagai upaya yang dihasilkan dalam konferensi. (Anspek)
KORAN PAK OLES/EDISI 175/16-31 MEI 2009

Laut Bukan Lagi Penyerap Karbon

thumbnail
Oleh: Bisman Nababan PhD*
Sebelum merebaknya isu pemanasan global, di kalangan ilmiah dipahami bahwa air laut merupakan penyerap karbon (carbon sink). Namun dengan berkembangnya ilmu pengetahuan sebagai hasil dari berbagai riset tentang pemanasan global dan dampaknya, muncul pemahaman baru bahwa laut tak lagi sebagai penyerap karbon, melainkan sudah berada pada posisi sebagai penghasil karbon bersih (net carbon source).
Sesungguhnya laut dapat berfungsi sebagai penyerap karbon dan juga sebagai penyedia karbon ke atmosfer, bergantung pada kondisinya. Karbon yang diserap maupun yang dilepas ke atmosfer itu berada dalam bentuk gas karbon dioksida (CO2). Laut akan menyerap karbon bilamana tekanan parsial gas karbon dioksida di atmosfer lebih tinggi dari tekanannya di dalam air laut. Sebaliknya, laut akan melepas karbon apabila tekanan parsial gas karbon dioksida di dalam air laut lebih tinggi dari tekanannya di atmosfer.
Laut berfungsi sebagai penyerap karbon dalam dua bentuk, yakni melalui serapan pasif dan aktif. Pada serapan aktif, fitoplankton dengan kandungan klorofilnya dan bantuan sinar matahari, memanfaatkan gas karbondioksida untuk proses fotosintesis dan menghasilkan gula (karbohidrat). Pada serapan pasif, gas karbondioksida akan larut dalam air laut secara alami dengan mudah dan cepat serta membentuk asam karbonat. Reaksi bolak-balik dalam proses itu juga berlangsung dengan cepat sehingga sulit membedakan antara asam karbonat dan karbondioksida dalam air.
Air laut yang dingin serta banyak pergolakan (turbulent) cenderung menyerap karbondioksida dari atmosfer, sementara air laut yang lebih hangat serta pergerakan airnya yang lebih tenang cenderung melepas karbondioksida ke atmsofer. Pada awal 1990-an, laut diduga sebagai suatu net carbon sink dengan Lautan Atlantik Utara sebagai penyerap terbesar, sekitar 60 persen dari total laut dunia. Proses pertukaran gas karbondioksida secara pasif kurang penting dibandingkan dengan proses pertukaran secara aktif.
Proses fotosintesis merupakan aktivitas carbon sink, sebaliknya proses respirasi (penguraian gula menjadi zat lain untuk menjalankan metabolisme tubuh) oleh organisme lainnya di laut, merupakan aktivitas carbon source. Fitoplankton merupakan alga hijau berukuran mikroskopik dan berkembang dengan cepat dalam kolom air laut pada kondisi lingkungan dan unsur hara yang cukup. Dengan demikian, perairan dengan populasi fitoplankton yang baik akan bekerja efektif sebagai carbon sink.
Sebaliknya, bila proses respirasi oleh semua komunitas mahluk hidup di kolom air laut melebihi proses fofosintesis, maka kondisinya menjadi carbon source. Bila laju proses fotosintesis lebih besar dari laju respirasi yang pada kondisi normal terjadi di laut maka net carbon sink akan terjadi dan sebaliknya pada kondisi tidak normal menjadi net carbon source.
Secara teoritis, bila populasi fitoplankton di laut makin meningkat maka penyerapan gas karbondioksida dari atmosfer juga meningkat sehingga laut bisa menjadi carbon sink. Pada tahun 1980-an, John Martin, ahli oseanografi dari Moss Landing Marine Laboratories (meninggal 1993) mengatakan, penambahan zat besi ke perairan yang cukup unsur hara namun kurang zat besi akan merangsang pertumbuhan fitoplankton. Hipotesis itu telah terbukti kebenarannya.
Hasil penelitian lainnya juga menunjukkan hal yang sama. Penambahan zat besi ke dalam perairan di Laut Selatan menunjukkan perkembangan fitoplankton yang nyata dan tingkat penyerapan gas karbondioksida juga meningkat signifikan dari atmosfer (Watson et al, 2000; Watson, 1997). Pada 1988, John Martin menyarankan, penambahan zat besi buatan ke laut dapat mengubah iklim dunia dalam artian mengurangi gas CO2 dari atmosfer secara nyata.
Namun para ilmuwan banyak yang tidak setuju dengan cara seperti itu sebagai upaya untuk mengurangi gas karbondioksida di atmosfer karena beberapa faktor, seperti faktor moral dan dampak pencemaran lingkungan sebagai ekses dari zat besi yang merupakan logam berat. Tood Wood, Christopher Guay, dan Phoebe Lam (2009) dari Laboratorium Lawrence Nasional Berkeley juga menemukan bantahan terhadap hipotesis John Martin bahwa penambahan zat besi ke laut tidak akan mengubah iklim dunia.
Penelitian mereka dengan proyek SOFeX (the Southern Ocean Iron Experiment) dilaksanakan mulai 2002 di perairan antara Selandia Baru dan Antartika dengan menggunakan alat deteksi "carbon explorer" pada kedalaman 800 meter serta menguji hipotesis Apakah penambahan zat besi ke perairan akan merobah iklim dunia? Dari penelitian itu diperoleh hasil mengejutkan bahwa sebagian besar karbon dari hasil "blooming fitoplankton" hasil penambahan zat besi tersebut tidak pernah sampai ke perairan dalam (deep ocean).
Dengan demikian dapat disimpulkan, sekalipun terjadi "blooming fitoplankton" sebagai akibat penambahan zat besi, namun tidak berpengaruh nyata terhadap penyerapan gas CO2 dari atmosfer karena tidak terjadi presipitasi karbon ke laut yang lebih dalam secara nyata. Di lain pihak, peningkatan penyerapan gas CO2 secara alami oleh air laut seyogianya tidak menguntungkan karena hal ini akan meningkatkan derajat keasaman (pH) air laut. Bila derajat keasaman air laut meningkat maka hal ini akan menggangu kehidupan organisma laut lainnya terutama ikan.
Pemanasan Global
Pemanasan global yang terjadi belakangan ini sebagai akibat meningkatnya emisi gas karbon ke atmosfer telah mengakibatkan peningkatan suhu udara maupun suhu air laut secara nyata. Hal yang lebih penting dari dampak pemanasan global adalah meningkatnya suhu air laut yang mengakibatkan kemampuan air laut untuk menyerap gas karbondioksida menjadi berkurang. Gas karbondioksida mempunyai tingkat kelarutan dua kali lebih besar pada air dingin dibandingkan dengan air hangat. Laju fotosintesis dan respirasi juga sangat bergantung pada suhu.
Pada suhu yang relatif tinggi, laju fotosintesis dan laju respirasi sama-sama meningkat, namun laju respirasi meningkat lebih cepat dibandingkan dengan laju fotosintesis sehingga penglepasan gas karbondioksida menjadi lebih besar dibandingkan dengan penggunaannya dan menyebabkan laut menjadi net carbon source. Hasil penelitian Lefe`vre et al. (2004) di Lautan Atlantik Utara menunjukkan, tekanan parsial gas karbondioksida dalam air laut telah meningkat lebih cepat dibandingkan dengan tekanan parsialnya di atmosfer. Hal itu khususnya pada saat musim panas yang mengakibatkan peningkatan penglepasan gas karbondioksida ke atmosfer, padahal sebelumnya daerah ini dikenal sebagai net carbon sink. Hal yang sama juga ditemukan oleh CNRS (2009) di Lautan Hindia Selatan.
Le Quere et al. (2007) juga menyimpulkan, penyerapan gas karbondioksida oleh Lautan Selatan melemah sebesar 15 persen per dekade semenjak 1981 dan akan menjadi kurang efisien di masa depan. Hal itu akan membawa gas karbondioksida ke level yang semakin tinggi untuk jangka panjang. Pengurangan efisiensi penyerapan gas karbondioksida oleh Lautan Selatan disebabkan oleh peningkatan kekuatan angin sebagai akibat dari peningkatan gas rumah kaca di atmosfer dan pengurangan lapisan ozon jangka panjang di stratosfer.
Peningkatan kekuatan angin akan menyebabkan proses percampuran dan penaikan massa air laut dalam ke permukaan (upwelling) yang pada akhirnya meningkatkan penglepasan gas CO2 ke atmosfer. Hasil penelitian lainnya juga menunjukkan, lokasi upwelling cenderung menjadi lokasi net carbon source.
Alan Koropitan, dosen Institut Pertanian Bogor, telah melakukan penelitian di Laut Jawa dan menyimpulkan, Laut Jawa cenderung berfungsi sebagai net carbon source. Hasil itu juga didukung dengan hasil penelitian yang dilakukan di beberapa lokasi perairan Indonesia. Menurut para ahli terumbu karang dan pemanasan global, ekosistem terumbu karang juga berfungsi sebagai net carbon source. Salah satu misi projet SeaWiFS Ocean Color Satellite adalah untuk menjawab pertanyaan, apakah laut berfungsi sebagai carbon sink atau carbon source?. Dari hasil analisa data konsentrasi klorofil-a selama 10 tahun terakhir tidak ditemukan adanya peningkatan konsentrasi klorofil-a secara global. Namun sebaliknya ditemukan penurunan konsentrasi klorofil-a yang nyata khususnya di laut lepas sub-tropik (mid-gyres ocean) seperti diungkapkan Vantrepotte and Melin, 2009.
Hasil analisis Jonson Lumban Gaol (dosen IPB) terhadap data SeaWiFS untuk perairan Indonesia 10 tahun terakhir, juga menunjukkan tren penurunan konsentrasi klorofil-a khususnya laut lepas (personal communication). Hasil-hasil itu menunjukkan, secara umum, baik perairan Indonesia maupun perairan dunia, mengalami penurunan konsentrasi klorofil-a yang mengakibatkan penurunan penggunaan gas CO2 oleh fitoplankton dalam proses fotosintesis. Kecenderungan penurunan konsentrasi klorofil-a serta pemanasan global yang mengakibatkan penurunan tingkat kelarutan gas CO2 dalam air laut itu dapat disimpulkan bahwa baik perairan Indonesia maupun global cenderung berfungsi sebagai net carbon source.
*)Dosen di Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan, Fakultas Perikanan dan Kelautan, IPB.

KORAN PAK OLES/EDISI 175/16-31 MEI 2009

Menanti Suramadu Bawa Perubahan

thumbnail
Para kyai Madura berharap proyek Jembatan Surabaya - Madura (Suramadu) yang akan diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada medio Juni 2009 mendatang dapat membawa perubahan positif bagi masyarakat setempat. Pimpinan Pondok Pesantren Al Amin, KH Idris Djauhari, salah satu kyai dari Pulau Garam itu, masyarakat Madura ingin perubahan, namun perubahan itu diharapkan dapat membawa manfaat luas bagi warga setempat. "Selesainya proyek Suramadu dapat membawa dampak positif bagi warga Madura," katanya.
Pemerintah Pusat diharapkan tak sekedar membangun industri di Madura, sebab yang juga terpenting membangun Madura dalam pengertian luas. Membangun sumber daya manusia jauh lebih penting ketimbang pembangunan fisik, harap Kyai Idris.
Sementara pemimpin pondok pesantren Attaroqi, Desa Karongan, Sampang Madura, Jawa Timur, KH Alawi Muhammad, menegaskan, perkembangan yang terjadi, apakah bidang politik, ekonomi dan keagamaan, apalagi aspek pembangunan yang membawa kesejahteraan pada masyarakat, harus disikapi positif.
Masyarakat Madura tidak anti perubahan dan pembangunan. Karena itu, terkait dengan Suramadu yang akan diresmikan dalam waktu dekat, ia berharap hendaknya dapat disikapi dengan positif. ‘’Sebab, hal ini akan membawa manfaat bagi masyarakat Madura untuk meningkatkan kesejahteraan,’’ kata Alawi.
Presiden SBY direncanakan akan meresmikan pemakaian jembatan Surabaya-Madura (Suramadu) pada medio Juni mendatang. Jembatan, yang menurut pejabat Departemen PU sebagai terpanjang di kawasan Asean, itu telah rampung 96%.
Dirjen Bina Marga, Hermanto Dardak dalam siaran persnya menyebut, jembatan Suramadu memiliki total panjang mencapai 21 km dan bentang tengah sepanjang 5,5 km. Jembatan itu bertujuan untuk memperlancar arus lalulintas antara dua daerah itu.
Dengan adanya jembatan itu maka perekonomian di Surabaya dan Madura akan lebih berkembang serta produksi akan meningkat, harapnya dalam siaran pers itu. Selain itu pembangunan jembatan Suramadu dirancang dengan tidak menghambat kegiatan nelayan dan masayarakat sekitar karena tingginya mencapai 35 m di atas permukaan laut dan lebar antar pilar tengah sepanjang 400 m.
Menurut Hermanto, lebar dan tinggi jembatan tersebut sudah mencukupi kegiatan navigasi dan telah disesuaikan dengan tinggi ombak sehingga kapal nelayan dapat melintas di bawah jembatan. Untuk sistem keamanan disesuaikan dengan batas kecepatan kendaraan dan angin serta cuaca dengan menggunakan alat, early warning system.
Untuk membangun proyek mega proyek tersebut dibutuhkan 55.000 ton besi baja dengan biaya sekitar Rp 4,5 triliun. Karena itu, supaya umur jembatan bisa mencapai 100 tahun pemeliharaan dan rehabilitasi harus terus dilaksanakan. Jembatan yang direncanakan sejak Orde Baru itu mengalami keterlambatan. Pasalnya, pemerintah mengalami keterbatasan dana dan menghadapi masalah ketika melakukan pembebasan lahan.
KORAN PAK OLES/EDISI 175/16-31 MEI 2009

Perbaiki Kesehatan Lautan

thumbnail
Oleh: Achim Steiner*
Ketika utusan lebih dari 120 negara berkumpul di Manado, Sulawesi Utara untuk menghadiri Konperensi Lautan Dunia (WOC), isu perubahan iklim jadi pemikiran utama. Samudera dan laut dunia diketahui sebagai penyerap terbesar gas rumah kaca yang dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil.
Para pakar kini memperkirakan hingga 40% CO2 yang memasuki atmosfir diedarkan melalui lingkungan laut yang berperan sangat penting untuk meredam perubahan iklim. Namun para pakar memperingatkan bahwa alam laut tidak dapat selamanya terus menyerap pencemaran yang dihasilkan oleh manusia, tanpa menimbulkan konsekuensi.
Banyak makhluk hidup di laut, dari karang dan kepiting hingga plankton pada rantai makanan, memerlukan air laut untuk membangun tengkorak mereka. PH rata-rata air di permukaan lautan telah turun dari 8,16 ke 8,05 sejak permulaan Revolusi Industri --penurunan yang kecil tapi berpotensi mempunyai dampak yang besar jika terus berlanjut.
Menghadapi ilmu pengetahuan yang cepat berkembang itu, apa yang harus dilakukan?. Pertama-tama, pemerintah harus memperkuat tekad mereka untuk mencapai kesepakatan di Conpenhagen pada pertemuan Perubahan Iklim PBB guna membawa dunia ke sebuah arah yang rendah karbon. Kedua, kita harus memperbaiki kesehatan lautan kita. Lautan harus sehat dan mempunyai ketahanan sebaik mungkin agar mereka dapat menanggulangi beban perubahan iklim-- sehingga mereka dapat terus menyediakan makanan dan banyak lagi pelayanan yang mempunyai nilai ekonomi penting bagi kita.
Hal ini berarti pemerintah harus segera menangani berbagai tantangan yang dapat melemahkan laut kita, termasuk pencemaran yang berasal dari daratan, limbah dari kapal, dan penangkapan ikan yang berlebihan di dunia, yang sebagian besar didorong oleh subsidi yang berbahaya dan mubazir sebesar hingga 35 miliar dolar per tahun. Saat ini sekitar 12% daratan dinyatakan sebagai daerah yang dilindungi, namun kurang dari satu persen lingkungan laut yang mendapat status serupa, --jadi hal ini harus diubah segera.
Sementara tingkat pencemaran, 80% dari pabrik, kota dan daerah pertanian di daratan, perlu dikurangi. Lebih dari 60 negara kini telah memiliki rencana aksi nasional dengan inisiatif UNEP secara sukarela yang dinamakan Global Programme of Action (GPA) untuk Perlindungan Lingkungan Laut dari Sumber-sumber di Daratan, dan kita mempunyai 18 perjanjian Laut Regional yang diterapkan di seluruh dunia. Ini baru permulaan, tapi hingga kini besarnya tanggapan global masih gagal mencerminkan tantangannya seperti terbukti dari makin besarnya jumlah zona mati --area laut yang kehilangan oksigen karena pupuk dan emisi kendaraan dan pelayaran yang kini berjumlah 200.
Cara-cara untuk meningkatkan kesehatan lautan harus menjadi isu kunci di Manado sebagai pengakuan atas pentingnya laut kita bagi manusia karena menyediakan ruang bernapas yang dibutuhkan sehubungan dengan perubahan iklim. Mungkin kini waktunya untuk membayar kembali. Pertama-tama, investasi pada adaptasi tidak boleh berhenti di garis pantai, --investasi pada rehabilitasi, peremajaan, dan ketahanan ekosistem pantai, dari hutan bakau hingga terumbu karang dan daerah rawa, dapat mempunyai hasil ekonomi yang sangat penting yang berhubungan dengan iklim.
Langkah-langkah tersebut termasuk melindungi masyarakat yang rentan terhadap badai, kenaikan permukaan air laut, sementara juga membantu menanggulangi emisi gas rumah kaca; menyaring pencemaran dan memperbaiki kesehatan perikanan. Mungkin, sebentar lagi, ada penghargaan yang lebih besar, --sebuah cara untuk menjadikan lautan sebagai bagian dari opsi pasar karbon. Pikirkan sejarah hutan. Usulan bahwa negara-negara berkembang seharusnya dibayar karena tidak menebang pohon pernah ditolak puluhan tahun lalu. Di Copenhagen, kesepakatan yang dicapai antara lain pembayaran hutan kepada negara-negara tropis termasuk Indonesia. Akhirnya, ekosistem darat lain mungkin dipertimbangkan termasuk daerah gambut hingga tanah. Lautan berperan untuk melawan perubahan iklim.
Memberi imbalan kepada negara-negara yang mengelola lautan secara berkesinambungan guna meningkatkan peran mereka dalam menanggulangi perubahan iklim dan mengoptimalkan produktivitas, tampaknya patut dijajaki. Manado adalah suatu kesempatan dan forum untuk mencuatkan ide-ide seperti itu. Waktu untuk memerangi perubahan iklim berlalu cepat. Kita memerlukan semua bantuan untuk menghadapi perubahan iklim, dari investasi pada penghematan energi, teknologi yang menghasilkan karbon rendah atau bahkan tanpa karbon, hingga pasar untuk mempromosikan ekosistem yang sehat - jelas pasti hutan dan mungkin samudra kita, serta laut kita juga.
*)Wakil Sekjen PBB dan Direktur Eksekutif Program Lingkungan Hidup PBB - UNEP.

KORAN PAK OLES/EDISI 175/16-31 MEI 2009

Urusan Makan, Orang Perancis Terbaik

thumbnail
Sesuai dengan reputasi mereka sebagai ahli pencicip makanan yang sangat menyukai waktu luang, orang Prancis menghabiskan lebih banyak waktu untuk tidur dan makan dibandingkan siapapun di dunia. Demikian hasil satu studi yang disiarkan pekan ini. Rata-rata orang Perancis tidur hampir 9 jam setiap malam, satu jam lebih lama dibanding rata-rata orang Jepang dan Korea Selatan, yang tidur paling sedikit dalam survei di 18 anggota organisasi bagi Pembangunan dan Kerja Sama Ekonomi (OECD).
Kendati memiliki kebiasaan tidur singkat setelah makan siang, orang Spanyol hanya menempati posisi ketiga dalam jajak pendapat itu, setelah orang Amerika --yang tidur lebih dari 8,5 jam. Meski makin banyak orang Prancis menikmati rangkaian makanan cepat saji belakangan ini atau dengan rakus melahap roti lapis di tempat kerja mereka, mereka masih menghabiskan dua jam lagi sehari hanya untuk makan.
Itu berarti pola makan mereka dua kali lebih lama dibandingkan dengan rata-rata orang Meksiko, yang hanya meluangkan waktu satu jam untuk menikmati makanan, demikian laporan Society at a Glance OECD tentang pekerjaan, kesehatan dan waktu luang di Asia, Eropa, Amerika Selatan dan Utara. Orang Jepang, yang hemat dalam hal tidur dan menyibukkan diri dalam kegiatan bolak-balik dan jam kerja serta dengan susah-payah masih berhasil menghabiskan waktu dua jam per hari untuk makan dan minum, sehingga mereka berada di belakang orang Selandia Baru.
Orang Jepang suka menghabiskan sisa waktu mereka, yang langka, untuk nonton televisi atau mendengarkan radio. Itu menyita sampai 47% waktu luas di Jepang. Sebaliknya orang Turki menghabiskan lebih dari sepertiga waktu luang untuk cengkerama dengan teman.
Survei perlihatkan bahwa pemisahan kerja dan waktu luang di beberapa negara tertentu cukup mencolok. ‘’Pria Italia miliki waktu luang hampir 80 menit sehari dibanding kaum perempuan. Kebanyakan pekerjaan tambahan bagi perempuan Italia tampaknya dihabiskan dengan membersihkan rumah,’’ kata OECD seperti dikutip kantor berita Cina, Xinhua. OECD miliki 30 anggota. Jajak pendapat itu hanya mencakup beberapa negara yang memiliki data memadai.
KORAN PAK OLES/EDISI 175/16-31 MEI 2009

Stok Buah Pasar Induk Jakarta 100 Ton

thumbnail
Stok buah segar yang didistribusikan petani dari beberapa daerah di Indonesia ke Pasar Induk Buah Kramat Jati Jakarta mencapai 1000 ton setiap hari. Jumlah tersebut didominasi 16 jenis buah, antara lain jeruk yang mencapai 400 ton setiap hari.
Kepada Antara, Asisten Operasi PD Pasar Jaya Kramat Jati, Suminto, di Jakarta, Kamis (15/5) menyatakan, buah terbanyak dipasok ke pasar induk buah adalah melon, tercatat berkisar 150-200 ton diterima pedagang setiap hari. ‘’Kedua jenis buah tersebut paling banyak dipasok karena kebetulan sedang panen di beberapa sentra produksi," kata Kepala Pedagang Buah Kramat Jati, Margono.
Pasar induk buah ini, lanjut Margono sebenarnya lebih dikenal sebagai pusat buah mangga dan duku, namun karena dua jenis itu tidak sedang panen, jumlah relatif terbatas. Ke-16 jenis buah yang saat ini banyak dipasok petani yakni pisang, nenas, jeruk, pepaya, alpukat, apel, semangka, salak, kedondong, durian, dukuh, mangga, anggur lokal, markisah, melon dan manggis.
Agus, pedagang buah di pasar itu, mengatakan, dalam kondisi panen raya pasokan buah melon segar bisa mencapai 50 truk atau 300 ton setiap hari. Buah yang dijual kepada konsumen ada yang didatangkan langsung dari petani namun sebagian melalui pedagang perantara. Data PD Pasar Jaya Kramat Jati, pasokan buah selama sepekan ini, di antaranya, jeruk 1.768 ton, melon 1.093 ton, semangka 608 ton, pepaya 336 ton, nenas 268 ton, pisang 254 ton, alpukat 201 ton, salak 178 ton, apel 156 ton, kedondong 113 ton, mangga 87 ton, markisah 78 ton dan anggur lokal 13 ton.
KORAN PAK OLES/EDISI 175/16-31 MEI 2009

Ki Mangunsarkoro Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional

thumbnail
Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa berencana mengusulkan kepada pemerintah untuk menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada tokoh Tamansiswa, Ki Sarmidi Mangunsarkoro atas perjuangan dan pengabdiannya di bidang pendidikan nasional.
"Ki Sarmidi Mangunsarkoro adalah tokoh pendidikan yang layak memperoleh gelar pahlawan nasional," kata Ki Bambang Widodo, Ketua Panitia Sarasehan Menelusuri Jejak Perjuangan Tokoh Pendidikan Nasional Ki Mangunsarkoro, di Yogyakarta, Selasa (12/5).
Sarasehan tersebut diselenggarakan dalam rangkaian memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2009 yang bertujuan menanamkan nilai-nilai kepahlawanan, keperintisan dan kesetiakawanan sosial bagi generasi muda.
Selain itu untuk menggali pendapat para pakar pendidikan, budayawan, sejarawan serta tokoh masyarakat tentang perjuangan Ki Sarmidi Mangunsarkoro dalam dunia pendidikan di Indonesia. "Dari hasil sarasehan ini kami akan mengusulkan kepada pemerintah agar Ki Sarmidi Mangunsarkoro memperoleh anugerah gelar pahlawan nasional," kata Ki Bambang Widodo.
Sementara itu, Ketua Umum Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa, Ki Tyasno Sudarto mengatakan sejak berdirinya Tamansiswa 3 Juli 1922, Ki Hajar Dewantara dan para pendiri Tamansiswa lainnya sadar bahwa bangsa Indonesia memerlukan modal pendidikan nasional sebagai bekal menuju jembatan emas kemerdekaan.
Ki Hajar Dewantara selain menciptakan konsep dasar pendidikan nasional, juga berhasil mendidik serta membina generasi bangsa dan pejuang perintis kemerdekaan Indonesia yang berjiwa nasionalis, dan salah seorang di antaranya adalah Ki Sarmidi Mangunsarkoro. "Ki Mangunsarkoro mengawali perjuangannya sejak di bangku sekolah dengan mendirikan organisasi pemuda kemudian menjadi aktivis Jong Java di Yogyakarta," katanya.
Ki Mangunsarkoro juga aktif dalam kongres pemuda dan sempat menjabat sebagai pimpinan Partai Nasional Indonesia (PNI). Pengabdian Ki Sarmidi Mangunsarkoro di Tamansiswa dimulai sebagai pamong/guru, kemudian mendirikan dan memimpin Tamansiswa Cabang Jakarta. "Dia pernah memimpin kongres nasional pertama Tamansiswa yang kemudian terpilih sebagai ketua umum Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa," katanya.
Setelah Indonesia merdeka, Ki Sarmidi Mangunsarkoro tercatat dua kali sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (P dan K) dalam dua kabinet dan mengesahkan Undang-Undang Pendidikan dan Pengajaran pada 1950. "Selama dua tahun menjabat Menteri P dan K, dia mendirikan Akademi Seni Rupa (ASRI) Yogyakarta, Konservatori Karawitan Surakarta dan ikut membidani lahirnya Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta," katanya.
Ki Sarmidi Mangunsarkoro bukan hanya guru atau politikus, tetapi dia benar-benar seorang negarawan besar dan berjasa bagi nusa dan bangsa Indonesia. "Sepantasnya jika pemerintah mempertimbangkan penghargaan terbaik untuk Ki Mangunsarkoro," kata Ki Tyasno Sudarto.
KORAN PAK OLES/EDISI 175/16-31 MEI 2009

Sekaa Pesantian Menuju Pendidikan Non Formal

thumbnail
Kelompok (sekaa) pesantian, yakni seni olah sastra dan apresiasi teks sastra Bali kuno (kekawin) yang berkembang di Bali dalam beberapa tahun belakangan dapat diterapkan secara permanen sebagai pendidikan non-formal di bawah binaan Departemen Agama.
"Hal itu sangat dimungkinan untuk bisa mendapat bantuan dana pembinaan dari Departemen Agama seperti halnya pondok pesantren," kata Drs I Gusti Made Ngurah, dosen senior Insitut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar.
Mantan Kakanwil Agama Provinsi Bali itu menilai, kehadiran sekaa-sekaa pesantian yang berkembang di pelosok pedesaan perlu pembinaan secara lebih intensif.
Untuk itu perlu adanya dukungan dana, yang selama ini masalah tersebut belum berhasil diatasi. Oleh sebab itu perlu kerja keras dan perjuangan agar sekaa pesantian mendapat pengakuan sebagai lembaga pendidikan non-formal.
Gusti Ngurah menyebutkan, lembaga pendidikan non-formal itu dapat diformat sedemikian rupa, dengan melibatkan anak didik mulai dari tingkat sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), sekolah menengah atas (SMA), serta penduduk dewasa hingga orang tua.
Sekaa pesantian yang berkembang pesat, baik di kalangan masyarakat perkotaan maupun pedesaan di Bali mempunyai peran penting dalam mendukung kelestarian dan pengembangan seni budaya Bali. "Melalui aktifitas sekaa pesantian mampu mencetak kader-kader seniman dan budaya Bali," ujarnya.
Hal senada juga diungkapkan Dosen Fakultas Sastra Universitas Udayana Drs Nengah Medera MHum, yang menyebutkan bahwa kelompok pesantian selama ini lebih banyak "dihuni" orang-orang dewasa dan orang tua, dan hanya sebagian kecil saja dari kalangan generasi muda.
Kelompok tersebut dalam aktifitasnya pada malam hari, melakukan pembahasan secara mendalam mengenai konsep nilai yang terkandung dalam karya sastra agama.
Forum tersebut pada akhirnya menyepakati seperangkat nilai yang dipakai acuan berperilaku dalam memuliakan hidup manusia. Dengan demikian kegiatan pesantian menjadi media penerusan nilai-nilai universal dalam budaya Hindu kepada generasi penerus.
Nengah Medera yang pernah menerima Dharma Kusuma, penghargaan tertinggi dalam bidang seni dari Pemerintah Provinsi Bali itu menambahkan, kegiatan apresiasi dan diskusi sekaa pesantian menggunakan bahasa daerah Bali sebagai mediumnya.
Kegiatan tersebut secara tidak langsung memberikan pelatihan pemakaian bahasa daerah Bali yang baik dan benar, di samping pemahaman dan pengenalan sastra Bali dan Jawa kuno.
Hampir di setiap banjar, desa di kota maupun pedesaan di Bali telah terbentuk sekaa pesantian, bahkan merambah ke kantor-kantor instansi pemerintah maupun swasta. "Mereka itulah pendekar-pendekar seni budaya Bali yang senantiasa rela berkarya untuk pengorbanan suci (yadnya) tanpa pamrih, tanpa banyak menuntut untuk tetap lestari dan kokohnya seni budaya Bali," ujar Nengah Medera.
Kegiatan yang mengumandangkan pembacaan ayat-ayat suci agama Hindu secara tidak langsung mampu merubah prilaku seorang sesuai tuntutan norma agama. "Kalau dicermati seserorang yang awalnya menjalani kehidupan yang serba gelap antara lain pemabuk dan penjudi, setelah mendapat pembinaan dalam sekaa pesantian akhirnya sadar dan taat pada norma agama," tutur Nengah Medera.
KORAN PAK OLES/EDISI 175/16-31 MEI 2009

Pendidikan Belum Berpihak Kepada Orang Miskin

thumbnail
Dualisme kebijakan yang dilakukan pemerintah dalam dunia pendidikan saat ini telah menjadikan pendidikan tidak lagi berpihak kepada kaum miskin dan menghasilkan lulusan yang pragmatis. "Bahkan, dalam konteks lebih luas kebijakan itu memungkinkan terjadinya ketimpangan dalam proses integrasi nasional bangsa," kata pengamat pendidikan dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Said Tuhuleley.
Menurut dia pada dialog refleksi pendidikan dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional, dualisme kebijakan tersebut meliputi kebijakan pemerintah yang telah memberikan dana bantuan operasional sekolah (BOS) dan klausul Undang-undang (UU) Badan Hukum Pendidikan (BHP).
BOS dinilai cukup membantu proses peningkatan mutu pendidikan di sekolah. Dengan adanya BOS, sebenarnya pemerintah telah selangkah lebih maju dalam mengupayakan peningkatan mutu pendidikan sekolah di negeri ini.
Namun, di sisi lain klausul UU BHP telah menjadikan pendidikan bagaikan barang komoditas yang dilempar ke pasar dengan memberikan otonomi kepada perguruan tinggi untuk menarik pungutan bagi mahasiswa yang memiliki materi berlebih. "Dengan fenomena itu biaya pendidikan pun menjadi semakin tidak terjangkau untuk kaum miskin. Tanpa klausul BHP pun, perguruan tinggi sebenarnya sudah memungut sumbangan berlebih bagi calon mahasiswa," katanya.
Oleh karena itu, hanya mahasiswa dengan materi berlebih yang dapat mengenyam pendidikan di sekolah yang berkualitas bagus, sedangkan kaum miskin cukup bersekolah di lembaga pendidikan yang kualitasnya kurang bagus. "Padahal, tumpuan harapan orang miskin untuk mendapat pendidikan yang berkualitas dengan harga terjangkau bukan hanya hak orang miskin, namun juga merupakan kewajiban negara," katanya.
Ia mengatakan, akibat dualisme kebijakan itu lulusan sarjana di negeri ini menjadi pragmatis, karena mereka cenderung hanya berpikir bagaimana mencari pekerjaan yang dapat "balik modal" sesuai dengan biaya kuliah yang telah dikeluarkan dengan harga tinggi.
Bahkan, dalam konteks lebih luas manusia Indonesia pun terkotak-kotak menjadi kasta, antara golongan si kaya dan si miskin. Perbedaan kasta itu dapat terjadi karena perbedaan pungutan dalam lembaga pendidikan. "Sangat disayangkan jika hal itu memungkinkan terjadinya ketimpangan dalam proses integrasi bangsa," katanya.
Sehubungan dengan hal itu, pemerintah perlu mendorong peran pemerintah daerah (pemda) untuk sektor pendidikan dan menyadarkan pengelola pendidikan untuk menghapus segala hal yang berbau pungutan.
Menurut dia, kecenderungan untuk melakukan pungutan merupakan penyakit yang sudah menjadi kebiasaan lembaga pendidikan di negeri ini. Penyakit ini harus diberantas karena pungutan hanya menghambat orang miskin untuk mengenyam pendidikan. "Untuk itu, ideologi yang harus diberlakukan di negeri ini adalah kebijakan yang berpihak kepada orang miskin. Kebijakan itu harus diterapkan dalam bidang apa saja, termasuk dalam bidang pendidikan," katanya.
KORAN PAK OLES/EDISI 175/16-31 MEI 2009

SMK Potensial Cetak Wirausahawan

thumbnail
Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) potensial mencetak wirausahawan baru dengan sistem pendidikan yang mengutamakan praktik dan teori yang kuat.
Direktur Pembinaan SMK Depdiknas, Joko Sutrisno dalam seminar revitalisasi pendidikan kewirausahaan di Yogyakarta, Senin pekan lalu, mengatakan untuk bisa menjadi wirausahawan diperlukan materi pembelajaran keterampilan yang mudah diadaptasi oleh siswa serta pengembangan pengajaran teknik industri.
Ia mengatakan keterampilan yang mudah diadaptasi tersebut dapat dikuatkan melalui berbagai cara, di antaranya penguasaan matematika dan ilmu pengetahuan, menguasai bahasa internasional, dan memiliki kemampuan dasar dalam teknologi informasi.
"Untuk mendukung program pengembangan pendidikan wirausaha di SMK, pemerintah telah mengalokasikan dana sebesar Rp24 miliar pada 2009 untuk SMK di seluruh Indonesia sebanyak 7.746 sekolah sesuai dengan program keahlian di masing-masing wilayah," katanya.
Selain potensial mencetak wirausahawan, kata dia, lulusan SMK juga siap terjun ke dalam pasar kerja karena telah dibekali dengan keterampilan dari sekolah. "Dari data survei tenaga kerja nasional pada 2007, lulusan SMK yang diterima di dunia kerja mencapai lebih dari 40 persen, sedangkan lulusan SMA hanya 30 persen," ujarnya.
Dalam tiga tahun terakhir, jumlah siswa lulusan sekolah menengah pertama (SMP) yang berminat melanjutkan ke SMK semakin meningkat. Pada 2006, perbandingan jumlah siswa SMA dan SMK adalah 60 persen dibanding 40 persen atau 3.591.846 siswa SMA dan 2.401.732 siswa SMK. Perbandingan itu pun berubah pada 2007, yaitu 56 persen untuk SMA atau 3.686.219 siswa dengan 44 persen siswa SMK atau sebanyak 2.864.962 siswa. Ia mengatakan, pada 2008 jumlah siswa SMK kembali bertambah, yaitu 46 persen atau 3.290.396 siswa dibanding siswa SMA sebanyak 54 persen yaitu 3.863.744 siswa.
Menurut dia, beberapa kendala yang masih dihadapi oleh SMK di antaranya kekurangan tenaga guru yang hampir merata di seluruh SMK di Indonesia serta masih minimnya peralatan praktik atau umur peralatan yang sudah tua sehingga tidak lagi sesuai dengan perkembangan dunia industri. "Usaha yang telah dilakukan untuk memajukan SMK di antaranya bekerja sama dengan dunia industri, seperti keberhasilan siswa SMK merakit komputer dan laptop atau sepeda motor," katanya.
KORAN PAK OLES/EDISI 175/16-31 MEI 2009

Pendidikan Gratis Tidak Dijadikan Slogan

thumbnail
Ketua Umum Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa, Ki Tyasno Sudarto minta program pendidikan gratis tidak dijadikan slogan untuk kepentingan kampanye menarik simpati rakyat.
Di sela kegiatan Sarasehan Menelusuri Jejak Perjuangan Tokoh Pendidikan Ki Sarmidi Mangunsarkoro di Pendapa Tamansiswa Yogyakarta, Selasa pekan lalu, ia mengatakan mestinya pendidikan tidak hanya dijadikan slogan, tetapi harus direalisasikan untuk kepentingan pemerataan memperoleh pendidikan untuk rakyat Indonesia. "Program pendidikan gratis itu yang penting dapat dirasakan seluruh rakyat Indonesia dan Tamansiswa jelas akan mendukung program tersebut," katanya.
Namun jika kenyataannya pemerintah menggratiskan biaya pendidikan, tetapi komite sekolah mengharuskan siswa membayar uang gedung, berarti semua itu hanya slogan dan membodohi rakyat.
Menurut dia, terkait pendidikan gratis, sebenarnya Ki Hajar Dewantara sudah mengajarkan bahwa pendidikan akan bermafaat bagi bangsa jika penyebarannya merata.
Pendidikan yang tidak merata akan kurang bermanfaat bagi pengembangan bangsa karena akan membuat jurang perbedaan antara yang terpelajar dengan yang kurang terpelajar. "Karena itu konsep pendidikan Tamansiswa lebih dulu memilih membangun sarana pendidikan untuk kepentingan yang lebih luas. Artinya, pendidikan itu harus bisa dinikmati oleh sebanyak-banyaknya rakyat Indonesia," katanya.
Menyinggung konsep pendidikan nasional, ia mengatakan pendidikan tidak boleh dipisahkan dari jati diri bangsa sendiri dan harus menjadi pedoman untuk melangkah ke masa depan.
Ia berharap sistem pendidikan nasional yang dipilih bangsa Indonesia dalam era globalisasi adalah pendidikan yang mengedepankan nilai-nilai kepribadian bangsa Indonesia. "Dengan demikian bangsa Indonesia akan bisa bertahan dalam arus globalisasi. Sejumlah negara mampu bertahan dalam arus globalisasi karena memiliki jiwa nasionalis tinggi seperti yang ditunjukkan Amerika, Jepang, Cina, dan Korea," katanya.
KORAN PAK OLES/EDISI 175/16-31 MEI 2009

Luka Memar Hilang Tanpa Bekas

thumbnail
Nama: Asep Rustandi Spd, 42 tahun, karyawan swasta, tinggal di Bandung.
Pengalaman:
Dengan adanya ramuan Minyak Oles Bokashi betul-betul terasa khasiatnya sangat anpuh, saya pernah mencoba untuk mengobati
Anak saya terjatuh membentur tembok. Mukanya memar dan terdapat luka di bawah matanya. Tanpa banyak basa-basi, saya langsung pakai Minyak Oles Bokashi dengan cara dilulurkan. Aalhamdulillah, beberapa hari kemudian luka memar hilang tanpa bekas. Saya mengucapkan terima kasih kepada Allah SWT bahwa Minyak Oles Bokashi betul-betul bisa menyembuhkan luka, pegal pada tulang dan terutama masuk angin.
KORAN PAK OLES/EDISI 175/16-31 MEI 2009

Gatal Hilang Berkat Minyak Oles Bokashi

thumbnail
Nama: Maria Anastasia Marni, 58 tahun, guru TK, Semarang.
Pengalaman:
Awalnya saya sekeluarga pernah merasakan gatal akibat gigitan nyamuk dan lain sebagainya. Namun sejak menggunakan Minyak Oles Bokashi, dengan cara diminum maupun dioleskan pada kulit yang gatal-gatal seperti tangan dan badan sekarang sudah sembuh. Tinggal bekas lukanya saja. Kinipun bekasnya sudah berkurang. Padahal saya belum habis menggunakan Minyak Oles satu botol, tetapi sudah merasakan khasiatnya.
KORAN PAK OLES/EDISI 175/16-31 MEI 2009

Madu Geruh Atasi Maag

thumbnail
Nama: Chaeroni, 59 tahun, PNS, tinggal di Semarang.
Pengalaman:
Sudah tiga bulan saya menderita sakit maag. Tiap hari saya merasakan sakit pada hulu hati. Saya pun pernah opname di rumah sakit, tapi kadang-kadang masih terasa sakit. Di kantor saya didatangi sales Pak Oles yang mendengarkan keluhan saya. Lalu saya disarankan minum Madu Geruh dan dicampur Minyak Oles Bokashi tiga tetes tiap satu sendok makan. Alhamdullillah, seminggu kemudian, rasa sakit pada hulu hati saya berkurang dan sembuh. Terima kasih Pak Oles.
KORAN PAK OLES/EDISI 175/16-31 MEI 2009

Masker Madu Hitam Kencangkan Kulit Wajah

thumbnail
Nama: Ny. Titik Sumiyati, 53 tahun, PNS, tinggal di Semarang.
Pengalaman:
Sudah setahun saya berlangganan aneka produk Pak Oles seperti Minyak Oles Bokashi, Madu, Krim Saribing, dan Masker Madu Hitam. Yang saya rasa paling berkesan di hati adalah Masker Madu Hitam. Selain harganya yang terjangkau, manfaat untuk kulit muka saya sangat terasa sekali. Dulu kulit muka saya kusam, tidak cerah dan kurang halus. Setelah saya rutin menggunakan Masker Madu Hitam, hasilnya memuaskan. Dalam waktu lima bulan saja, wajah saya menjadi kencang dan halus. Terima kasih Pak Oles.
KORAN PAK OLES/EDISI 175/16-31 MEI 2009

Madu Sekar Turunkan Berat Badan

thumbnail
Nama: Lestari, 49 tahun, ibu rumah tangga, tinggal di Semarang.
Pengalaman:
Saya mempunyai masalah berat badan. Saya telah berupaya untuk menurunkan berat badan. Meski berbagai obat sudah saya minum, namun hasilnya belum memuaskan. Sejak saya mengonsumsi Madu Sekar, perut jadi tambah langsing, berat badan turun dan badan terasa sehat. Saya juga memakai Minyak Oles Bokashi untuk mengatasi rasa gatal, digigit serangga, luka tergores serta memar.
KORAN PAK OLES/EDISI 175/16-31 MEI 2009

Aktivitas Lancar Berkat Ramuan Pak Oles

thumbnail
Nama: Andi Amir Pata, 50 tahun, PNS, tinggal di Makassar, Sulsel.
Pengalaman:
Saya menggunakan Ramuan Pak Oles di antaranya Madu Jamur, Madu Resi dan Minyak Oles Bokashi untuk mengobati lengan saya yang sedang sakit. Sejak minum Madu Jamur dan memakai Minyak Oles Bokashi, keluhan sakit yang saya alami berangsur-angsur membaik dan saya bisa beraktivitas dengan lancar. Madu Jamur, Madu Resi dan Minyak Oles Bokashi selalu tersedia di rumah.
KORAN PAK OLES/EDISI 175/16-31 MEI 2009

Madu Jamur Atasi Asam Urat

thumbnail
Nama: Sistramawati, 43 tahun, PNS, tinggal di Garut, Jabar.
Pengalaman:
Saya sudah lama menderita asam urat. Padahal saya sudah minum berbagai macam obat dan jamu tradisional. Memang sembuh sesaat, tapi tak lama kemudian kembali kambuh. Atas saran teman, saya minum Madu Jamur dengan rutin selama dua bulan. Alhamdulillah setelah minum Madu Jamur sesuai aturan, sakit asam urat saya sembuh. Sedangkan untuk mengatasi perut kembung saya menggunakan Minyak Oles Bokashi.
KORAN PAK OLES/EDISI 175/16-31 MEI 2009

Badan Segar Minum Madu

thumbnail
Nama: Hj. Tuti Trisnawani, 56 tahun, PNS, tinggal di Semarang.
Pengalaman:
Secara umum bisa dikatakan saya sehat. Tetapi saya selalu menjaga dan merawat kesehatan secara rutin dengan minum Madu Resi racikan Pak Oles. Setelah sarapan pagi, saya minum satu sendok makan Madu Resi. Saya juga minum Madu Geruh satu sendok makan pada sore hari dan olahraga ringan setiap hari. Berkat kedua madu tersebut, badan saya menjadi segar sepanjang hari.
KORAN PAK OLES/EDISI 175/16-31 MEI 2009

Terapi ARV Baru Dinikmati 20 Ribu ODHA

thumbnail
Terapi pengobatan anti retroviral (ARV) baru dinikmati 20 ribu orang dengan HIV/AIDS (ODHA) di Indonesia dari total penderita menurut Badan PBB untuk AIDS (UNAIDS) 270 ribu kasus. Hal tersebut dikatakan Prof Dr Zubairi Djoeban Sp.PD, Manager Unit Pelayanan Terpadu HIV/AIDS RS Dr Cipto Mangunkusumo (RSCM) pada seminar Peran Tenaga Kesehatan dalam Penanggulangan HIV/AIDS dan menyongsong Internasional Congress on AIDS in Asia and the Pasific (ICAAP) ke-9, di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI) Jakarta, Jumat (8/5).
Jumlah yang mendapatkan pengobatan ARV tersebut bagi orang terinfeksi HIV/AIDS telah berobat. Selain itu, jumlah obat ARV juga terbatas. Penderita HIV/AIDS di Indonesia yang terus meningkat tersebut, tercatat dari laporan data estimasi tahun 2002 ada 108 ribu kasus, 2006 oleh Depkes ada 193 ribu kasus dan tahun ini estimasi UNAIDS 270 ribu kasus. ‘’Jumlah estimasi itu, kalau dibanding dengan Vietnam masih lebih rendah. Tapi kita masih jauh di atas Iran dan Pakistan,’’ katanya.
Ia mengatakan, dari data internasional jumlah menderita HIV/AIDS terus mengalami peningkatan dan di Indonesia sudah diupayakan untuk melakukan penekanan terhadap penyebaran virus itu, tapi semua yang dilaksanakan masih belum cukup. Untuk kasus baru terinfeksi HIV/AIDS di Jakarta sendiri mencapai lebih dari 100 pasien per bulan. Mereka yang terinfeksi HIV/AIDS sekitar 30-93% adalah pengguna narkotik suntik.
Masalah tersebut, kata Zubairi, memerlukan penanganan yang lebih serius dari berbagai pihak sekelian dilakukan terapi dengan pengobatan ARV, juga diperlukan peran tenaga kesehatan. Petugas kesehatan sebagai komponen dalam pendekatan berbagai pelayanan kesehatan kepada pasien yang harus memiliki kemampuan dalam menganalisa suatu persoalan dan merumuskan formulasi perencanaan yang efektif. Bahkan, dalam pelayanan terhadap orang terinfeksi HIV harus sedini mungkin sehingga dapat melakukan langkah penanganan yang tepat dan tidak jatuh ke stadium lanjut.
Tenaga kesehatan tidak hanya berperan dalam hal promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitasi saja, tapi juga memiliki kontribusi secara holistik dan komprehensif. Untuk mendukung itu semua, tenaga kesehatan harus dapat bekerja sama dengan berbagai sektor seperti LSM, aktivis yang peduli HIV/AIDS, pemerintah maupun lembaga donor agar program yang telah diprioritaskan dapat dijalankan secara efektif, efisien, dan berkesinambungan.
KORAN PAK OLES/EDISI 175/16-31 MEI 2009

Masalah Perawat Indonesia Di Jepang Diidentifikasi

thumbnail
Perwakilan RI di Tokyo dan Osaka kini sedang identifikasi kesulitan pelaksanaan program pengiriman perawat dan caregivers (perawat kaum lanjut usia) asal Indonesia ke Jepang. Hal itu disampaikan pejabat KBRI Tokyo dan Konsulat Jenderal RI di Osaka tentang perkembangan perawat dan caregivers Indonesia yang sedang bekerja di berbagai rumah sakit dan panti jompo di Negeri Sakura. ‘’Kami sudah menerima berbagai masukan, yang intinya perlu dibicarakan lebih lanjut di tingkat kementerian kedua negara terutama yang menyangkut soal pelaksanaan ujian nasional untuk memperoleh sertifikasi keperawatan dan caregivers bagi perawat Indonesia,’’ kata Kepala Fungsi Ekonomi KBRI Tokyo M. Abas Ridwan.
Menurut Abas, yang baru saja mengikuti kegiatan temu wicara dengan para caregivers Indonesia, para perawat dan careivers mengakui sulit untuk memperoleh sertifikasi karena bahasa yang digunakan dalam ujian tersebut adalah bahasa Jepang dengan huruf kanji. Materi yang diujikan memang sebetulnya hanya menyangkut pelaksanaan teknis yang sudah dipahami tenaga kerja Indonesia, tapi ternyata sulit juga.
Pada acara yang digelar di Nihon Seinen Keikan Hotel, Shinjuku, Tokyo, Abas menanyakan kepada para caregivers tentang persoalan yang dihadapi. Abas meminta caregivers dan pihak Jepang untuk tidak segan-segan memberikan masukan.
Acara yang dibuka Wakil Menteri Dalam Negeri dan Komunikasi Jepang Hirohiko Nakamura itu sebagai upaya pemerintah Jepang membangun komunikasi dengan pekerja asing. Penerimaan perawat Indonesia sebagai bagian dari kerja sama strategis Indonesia-Jepang di bawah payung Economic Partnership Agreement (EPA).
Nakamura mengemukakan berbagai masukan memang diperlukan guna menghindari salah pengertian dan demi suksesnya program penerimaan perawat di Jepang. Jepang sangat membutuhkan tenaga perawat asing mengingat lonjakan kelompok masyarakat lanjut usia yang kian membengkak. Dari 127, 5 juta populasi Jepang, sekitar 25% merupakan lanjut usia. Keadaan ini menjungkirbalikan komposisi kependudukan Jepang seperti piramida terbalik karena kelompok usia kerja produktif dan anak-anak kian menurun.
Persoalan sulitnya ujian nasional juga diakui oleh pihak Konsulat Jenderal (KJRI) Osaka yang juga aktif mengumpulkan data-data mengenai keberadaan perawat Indonesia. Konsul Penerangan KJRI Osaka Masni Eriza mengatakan, pihaknya memang membentuk tim monitoring yang bertugas mencegah timbulnya kesalahpahaman dalam program ini. ‘’Jauh sebelum kedatangan para perawat kami sudah mengidentifikasi kemungkian persoalan yang muncul yang diperoleh dari sejumah kalangan, termasuk mahasiswa Indonesia dan perguruan tinggi di wilayah Kansai,’’ kata Masni Eriza.
Menurut salah seorang caregivers Indonesia, Yani Oktafyani, ujian nasional menggunakan huruf Kanji Jepang memang menyulitkan, padahal sebetulnya substansi pekerjaan sudah sangat kami kuasai. "Kalau bisa diganti ke huruf hiragana dan juga dalam bahasa Ingris kami merasa lebih mudah untuk menjawab soal-soal, sehingga kesempatan meraih sertifikat internasional (Jepang, red) bisa kami peroleh dengan mudah juga,’’ kata Yani. Hal serupa pernah dikemukakan salah satu pimpinan RS di Yokohama yang merasa perlu dilakukan penyesuaian agar program ini bisa berlangsung terus karena Jepang sangat membutuhkan perawat asing.
KORAN PAK OLES/EDISI 175/16-31 MEI 2009

Bayi Penderita Gizi Buruk Di Mojokerto Meningkat

thumbnail
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mojokerto mencatat angka bayi di bawah lima tahun (balita) penderita gizi buruk meningkat hingga 60 penderita dalam triwulan pertama tahun 2009. ‘’Pada triwulan pertama ini tercatat 60 balita di Kabupaten Mojokerto menderita gizi buruk,’’ kata Kadinkes Mojokerto, Noer Windijantoro saat dikonfirmasi Antara di Mojokerto, Kamis (14/5).
Indikasi gizi buruk yang dimaksud yakni balita yang memiliki tubuh tidak sesuai antara ketinggian dan berat badan. "Jumlah tersebut lebih banyak dibanding periode yang sama tahun 2008 yang mencapai 45 balita," katanya.
Balita yang menderita gizi buruk, dialami balita yang berusia antara satu hingga lima tahun. Dari pendeteksian Dinkes di 27 puskesmas pembantu, balita gizi buruk hingga saat ini belum diketahui satupun yang mendapat perawatan intensif. ‘’Penyebabnya rata-rata karena berat badan menurun, sakit diare atau mengonsumsi makanan yang tidak sehat,’’ katanya.
Untuk menyatakan seorang balita menderita gizi buruk, tidak hanya ditentukan pada indikator berat badan semata, melainkan juga diukur secara proporsional, antara berat dan ketinggian badan. Dari situ, jika ada balita yang dicurigai kesehatan tubuh balita berangsur terus menurun, maka bisa dikategorikan masuk dalam stadium tiga.
KORAN PAK OLES/EDISI 175/16-31 MEI 2009

360 Polisi Di Makassar Jaga Ratusan Demonstran Wanita

thumbnail
Tuntut Pelayanan Kesehatan Gratis
Polwiltabes Makassar, Kamis pekan lalu, mengerahkan kekuatan penuh 360 personil untuk mengamankan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sulawesi Selatan (Sulsel) dari sekitar seratus pengunjuk rasa yang menuntut pelayanan kesehatan gratis. Demonstran yang 99 persen adalah kaum wanita, dari Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Serikat Rakyat Miskin Indonesia (SRMI) Sulsel, dengan seragam merah, berorasi depan tangga Gedung DPRD. Di depannya berdiri brikade Polwan yang dilapis polisi laki-laki.
Meski begitu, tidak terjadi ketegangan antarpolisi dan demonstran, malah orasi kocak yang disampaikan seorang Korlap membuat para Polisi tertawa. "Kita jangan takut ditembak sama pak polisi, karena polisi lahir dari seorang ibu. Kita tidak boleh berhenti menuntut kesehatan gratis. Agar ibu-ibu bisa menabung untuk sekolah anak, agar kelak mereka juga menjadi polisi," ujar salah seorang Ibu saat orasi.
Kapolwiltabes Makassar, Kompol Burhanuddin Andi mengatakan, mereka mengerahkan kekuatan penuh dengan mengerahkan 360 personil atau dua pertiga dari jumlah personil. Kekuatan tersebut sama dengan kekuatan yang dikerahkan untuk mengamankan kampanye pemilihan legislatif lalu, demo Badan Hukum Pendidikan (BHP), dan kejadian besar lain. "Ini kesiapan Polri dalam menjaga ketertiban. Apalagi laporan yang diterima Poltabes, mereka akan mengerahkan 500 orang," ujarnya.
Sebelum pengunjuk rasa datang, Burhanuddin mengingatkan kepada anggotanya untuk melaksanakan pengaman sesuai dengan standar pengaman. "Melempar itu masih wajar, jangan sampai ada yang terpancing, apalagi sampai mau melakukan penembakan. Mereka adalah saudara kita. Apa yang kalian lakukan tanggungjawab saya. Saya yang akan dipecat," katanya saat memimpin apel.
KORAN PAK OLES/EDISI 175/16-31 MEI 2009

Bisnis Kuliner Makin Moncer

thumbnail
Bisnis kuliner di tengah krisis ekonomi saat ini kian moncer. Sebagai salah satu usaha kecil dan menengah (UKM), bisnis kuliner masih menjanjikan untuk dikembangkan. "Asalkan dikerjakan dengan tekun dan sabar usaha ini cukup menjanjikan meskipun dalam kondisi krisis," kata Astuti Manikoro, salah satu peserta Festival Makanan Warisan Enak, di UKM Gallery, Smesco Indonesia, Jakarta.
Kegiatan tersebut akan berlangsung hingga 16 Mei dan diikuti 30 peserta dari berbagai pelaku kuliner. Ragam makanan khas nusantara dipamerkan dalam kegiatan itu.
Astuti dalam festival tersebut memamerkan makanan khas tradisional asal Jogyakarta `jadah manten`. Jadah manten adalah makanan khas dengan bahan baku daging, ketan, santan kental, lalu dibakar. "Usaha ini sudah turun temurun dari nenek kami. Sekarang saya bersama saudara mengembangkannya di Jakarta," kata Astuti yang mengaku mempekerjakan 10 karyawan.
Menurut dia, usaha `home industry` ini cukup menggembirakan karena selalu mendapat pesanan dari kantor maupun usaha `catering`. "Dalam satu minggu pasti ada pesanan," kata Astuti yang membuka usahanya di Jalan Wijayakusuma Raya, Cilandak, Jakarta Selatan.
Meskipun usaha ini menjanjikan, sambungnya, ia kerap terkendala oleh naiknya bahan baku di pasaran. Dia mencontohkan, daging cincang yang sebelumnya berharga hanya Rp 60 ribu per kilogram, sekarang naik menjadi Rp 67 ribu per kilogram. Demikian pula dengan harga beras ketan dari Rp 8.000 naik menjadi Rp 9.000 per kilogram. "Kenaikan harga-harga bahan baku kue sudah berlangsung dua bulan terakhir," katanya.
Akibat naiknya harga bahan baku, menurut Astuti, ia juga ikut menaikkan harga produksinya dengan tetap menjaga kualitas produksi, baik cita rasa maupun ukurannya.
"Jadah manten ini dulunya kami jual Rp 4.500 satu buah, sekarang kami naikkan harganya menjadi Rp 5.000," kata Astuti merinci.
Selain jadah manten, dia juga memproduksi kue tradisional seperti mentho, HK pisang, HK jagung dan mendut. Semua makanan khas Jogyakarta etrsebut dibandrol dengan harga Rp 2.000 per buah.
Tira, pelaku usaha kuliner lainnya yang juga ikut dalam Festival Makanan Warisan Enak, di UKM Gallery, Smesco Indonesia tersebut, mengaku bisnis makanan yang ia geluti berupa `bebek ireng Suroboyo` cukup diminati warga Jakarta. "Permintaan layanan antar belakangan ini naik. Hampir setiap hari ada pengiriman," katanya.
Tira membuka usahanya di Jalan Kapten Tendean dengan beberapa menu antara lain paket bebek super yang dihargai Rp 25 ribu per porsi. Ia juga menyediakan paket bebek Peking dengan harga per porsi Rp 30 ribu.
Kendati permintaan relatif meningkat, Tira juga diperhadapkan dengan naiknya harga bahan baku. Harga bebek misalnya, yang semula hanya Rp 32 ribu per ekor, sekarang naik menjadi Rp35 ribu per ekor. "Kami juga ikut menyesuaikan harga, sebab kalau bahan baku sudah naik, pasti sangat sulit untuk turun," katanya menambahkan.
KORAN PAK OLES/EDISI 175/16-31 MEI 2009

Patung Kepala Monyet Tembus Pasar Turki

thumbnail
Kerajinan patung kepala monyet yang terbuat dari kelapa kering hasil karya Jumari warga dusun Jethak, Kecamatan Godean, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) berhasil menembus pasar di Turki. "Hingga saat ini kami sudah tiga kali mengirimkan kerajinan patung kepala monyet ke ke Turki," kata Jumari saat ditemui ANTARA di arena Pameran Potensi Daerah Kabupaten Sleman.
Menurut dia, rata-rata dalam sekali pengiriman mencapai 750 hingga 1.500 buah patung kepala monyet dari bahan kelapa kering. "Untuk pasaran lokal kami bisa memasarkan di seputar Malioboro Yogyakarta dan beberapa objek wisata lainnya," katanya.
Kelapa kering yang selama ini hanya dibuang, ditangan Jumari, warga Jethak I, Kecamatan Godeandapat diubah menjadi menjadi barang kerajinan yang menarik dan memiliki nilai ekonomi."Saya sudah memulai usahanya sejak 25 tahun yang lalu. Ide pembuatan patung kepala monyet diperoleh saat berziarah ke Gunung Kawi, Jawa Timur," katanya.
Ia mengatakan, di wilayah tersebut banyak perajin yang membuat patung wajah manusia dari buah kelapa yang sudah kering. "Namun karena proses pembuatan patung kepala manusia dari kelapa tersebut cukup rumit, maka saya memutuskan membuat patung kepala monyet," katanya.
Lebih lanjut ia mengatakan, proses pembuatan kerajinan patung kepala monyet dari buah kelapa kering ini cukup mudah dan tidak memerlukan waktu yang lama. "Alat yang dipergunakan pun cukup sederhana, yakni hanya mempergunakan pisau cutter," katanya.
Buah kelapa yang sudah kering, dilubagi untuk mengeluarkan airnya, setelah itu sabut yang masih menempel pada buah kelapa kering tersebut siap diukir menjadi berbagai patung kepala monyet. "Bahan baku kelapa kering ini diperoleh dari wilayah Godean dan sekitarnya serta dari wilayah kabupaten Kulonprogo," katanya.
Menurut dia, buah kelapa dibeli seharga Rpv500 per buah. Apabila sudah menjadi produk kerajinan, sebuah patung kepala monyet dihargai antara Rp 10.000 hingga Rp 15.000 tergantung besar kecilnya. "Kendala kerajinan ini pada masalah pengeringan terutama pada musim hujan, karena untuk mendapatkan hasil sempurna pengeringan memakan waktu satu bulan," katanya.
Ia menambahkan, dalam seharinya rata-rata mampu memproduksi 10 buah patung kepala monyet dari kelapa kering. "Apabila sedang mendapatkan pesanan dalam jumlah yang banyak saya dibantu seluruh anggota keluarga," katanya.
KORAN PAK OLES/EDISI 175/16-31 MEI 2009

Membangun Merek Indonesia

thumbnail
Oleh: Eko Listiyorini
Sungguh ironis, saat peluncuran kampanye "100% Cinta Indonesia" di Balai Sidang Senayan Jakarta, di sisi lain ratusan orang antri mengular untuk membeli sepatu "Crocs" merek Amerika Serikat, buatan Cina yang sedang dijual sepertiga harga normalnya.
Mungkin benar yang dikatakan Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu beberapa waktu lalu, masyarakat kelas menengah atas perlu dicuci otak agar mulai cinta produk dalam negeri. "Hasil pembicaraan dengan pelaku ritel menyimpulkan memang konsumen kita masih `import minded`," ujar Mari.
Itulah agaknya yang menyebabkan produsen garmen lokal mengambil nama-nama berbahasa asing untuk menarik minat konsumen lokal. The Executive, Hammer, Nail merupakan beberapa merek lokal yang cukup dikenal di Indonesia.
Merek-merek berbahasa asing itu mungkin juga diambil agar mempermudah penetrasinya ke pasar Internasional. Tapi, sebelum bisa merajai dunia, pasar domestik haruslah dikuasai.
Dan di saat pasar ekspor menurunkan permintaannya, pasar domestiklah yang diharapkan menyerap hasil produksi agar sektor industri tetap bisa bergerak dan PHK terhindarkan.
Dengan tujuan itulah pemerintah menggiatkan kembali kampanye cinta produk dalam negeri akhir-akhir ini. Tak tanggung-tanggung, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla pun menjadi bintang iklannya.
Dalam iklan cinta produk Indonesia itu Presiden SBY dengan bangganya memamerkan dasi batik sutra Pekalongan sementara Wakil Presiden JK menunjukkan sepatu kulit dari Cibaduyut.
Perlu dukungan
Kualitas produk Indonesia tak perlu diragukan lagi. Itulah sebabnya banyak produk Indonesia yang diekspor dan diberi merek oleh sang pembelinya. Contohnya, sepatu merek Nike dan Adidas yang diproduksi beberapa pabrik di Tangerang.
Tak mengherankan pula jika pameran kerajinan Indonesia seperti Inacraft selalu dinanti-nanti dan dikunjungi puluhan ribu orang. Tapi pameran dan promosi saja tak akan cukup menanamkan kecintaan pada produk dalam negeri.
Perlu dukungan lebih bagi produk lokal yang sudah dikenal masyarakat maupun yang potensial untuk menjadi kebanggaan bangsa. Awal 2009 ini, Depdag menerbitkan Permendag 56/2008 terkait pengetatan impor lima produk termasuk garmen. Aturan itu dinilai cukup membantu di saat krisis. Sayangnya, aturan itu hanya berlaku sementara saja.
Masyarakat selama ini lebih mudah mendapatkan barang impor baik yang mahal maupun murah dari pada produk lokal. Hal itu disebabkan karena beberapa mal dan toserba lebih memprioritaskan produk impor dari pada merek lokal.
Pembangunan merek lokal harus didukung kebijakan pemerintah dari hulu hingga ke hilir. Mulai dari produksi hingga pemasaran.
Pengembangan merek
Bukan hanya pengusaha besar yang mulai sadar akan pentingnya sebuah merek atas produk yang dijualnya. Usaha Kecil Menengah (UKM) pun menyadarinya.
Makanan ringan yang dijual asongan di KRL dan bis kota seperti kacang telur, kerupuk kulit, bahkan permen jahe ada mereknya. Memang masih sederhana, hanya selembar kertas bertuliskan nama produsen dan alamatnya. Tapi cukup untuk konsumen mengenali produk yang dipilihnya.
Merek tak hanya menjadi alat promosi produk namun juga menjadi jaminan bagi konsumen atas kualitas produk yang dibelinya. Untuk itulah, Departemen Perdagangan menargetkan 60 merek produk UKM lokal tercipta setiap tahunnya. "Pengusaha menengah pasti mampu membuat merek sendiri. Porsi pemerintah adalah membantu UKM," ujar Sekjen Depdag, Ardiansyah Parman.
Direktur Bina Usaha, Ditjen Perdagangan Dalam Negeri, Depdag, Dede Hidayat mengatakan pihaknya bersedia membantu UKM memberikan konsultasi terkait pembuatan merek atau kemasan. "Kami bersedia memberikan pendampingan saat bernegosiasi dengan peritel modern dalam rangka pemasaran dan menghubungkan UKM dengan produsen kemasan berskala kecil sekitar 5.000-10.000 unit," kata Dede.
Saat ini juga, Depdag sedang melakukan inventaris terhadap produk-produk lokal unggulan yang pantas untuk dikembangkan mereknya dan dipromosikan ke dunia internasional.
Depdag menargetkan bisa membawa 200 merek produk Indonesia untuk dipromosikan di pasar regional maupun internasional. Salah satunya dengan memasukkannya ke gerai-gerai ritel moderen internasional dan membawanya ke pameran-pameran di luar negeri.
Pembangunan merek Indonesia memang tak bisa dilakukan dalam satu atau dua tahun saja. Promosi dan kampanye harus dilakukan secara kontinyu, kalau tidak maka semua upaya hanya akan sia-sia. Siapa lagi yang akan cinta produk Indonesia kalau bukan bangsanya sendiri? (Anspek)
KORAN PAK OLES/EDISI 175/16-31 MEI 2009

Pembeli Asing Jenuh Dengan Desain Bali

thumbnail
Pembeli di luar negeri saat ini dinilai sudah merasa jenuh dengan hasil berbagai jenis kerajinan di Bali yang dari tahun ke tahun tidak ada perubahan desain. "Pada era global sekarang ini, desain merupakan keunggulan. Produk kerajinan Bali ini harus menganut desain plus, yakni yang sesuai dengan kebutuhan pasar," kata Direktur Mitra Bali, Agung Alit.
Lelaki yang banyak membina ribuan perajin di Pulau Dewata ini mengatakan, kalau masalah desain ini tidak segera dipikirkan, dikhawatirkan akan berdampak pada produk kerajinan dari Bali yang tidak laku di pasaran. "Sekarang di Bali ini membutuhkan pusat desain. Mungkin ISI (Institut Seni Indonesia) Denpasar bisa memikirkan masalah ini, sehingga hasil kerajinan dari Bali tetap memiliki daya tarik di masyarakat luar," ujarnya.
Menurut dia, sebagai salah satu pusat kerajinan yang sudah dikenal di dunia, Bali seharusnya sudah memiliki pusat desain, seperti di Filipina. Peran itu dikembangkan oleh pemerintah maupun oleh perguruan tinggi seni.
Pengusaha yang dikenal peduli dengan lingkungan sehingga perajin binaannya diajak menggunakan bahan yang ramah alam itu mengemukakan bahwa perkembangan desain produk kerajinan memang tidak secepat dunia "fashion". "Mengenai desain ini, kita tidak bisa berharap banyak pada para perajin. Demikian juga juga pemasaran. Di Mitra Bali, kami sudah mulai membangun pusat desain yang idenya bisa dari permintaan pembeli, dari kami sendiri dan dari perajin. Cuma dari perajin tidak bisa banyak yang diharapkan," ujarnya.
Ia seringkali mengingatkan kepada perajin binaannya agar betul-betul memperhatikan permintaan desain dari pembeli luar negeri karena hal itu merupakan peluang pasar yang berdampak pada pembelian berikutnya. "Di Mitra Bali, kami selalu berimprovisasi jika ada permintaan desain dari pembeli. Kami mencoba memberikan desain yang lebih baik dari pada permintaan pembeli itu sendiri," katanya.
KORAN PAK OLES/EDISI 175/16-31 MEI 2009

Museum Ranggawarsita Gelar Pameran Wayang Sambut Wisatawan Asing

thumbnail
Museum Jawa Tengah Ranggawarsita di Semarang menggelar pameran wayang bertajuk "The Wayang: Special Exhibition Days", 13-15 Mei untuk menyambut kedatangan wisatawan asing.
Kepala seksi Pelayanan dan Tata Usaha Pameran Museum Ranggawarsita Semarang, PS Indiah, Kamis (14/5), mengatakan pihaknya sering menyelenggarakan berbagai kegiatan yang berbeda untuk menyambut kedatangan wisatawan asing, antara lain peragaan batik, pertunjukan barongsai dan kesenian tradisional lainnya. "Kali ini kami sengaja memilih menggelar pameran wayang, karena koleksi wayang yang kami miliki cukup lengkap, dan ini kesempatan yang baik bagi kami untuk memamerkannya," katanya.
Selain itu, menurut dia, wayang merupakan potensi daya tarik wisata yang dimiliki masyarakat Jawa, tetapi kurang dimanfaatkan hingga optimal.
Ia mengatakan Museum Ranggawarsita sudah beberapa kali dikunjungi wisatawan asing dari berbagai negara sejak Desember 2008. "Mereka sengaja diajak singgah di Semarang, dan ini dimanfaatkan untuk mempromosikan potensi wisata yang ada di Kota Semarang, salah satunya Museum Ranggawarsita," katanya.
Namun, ia mengakui tidak semua wisatawan asing singgah di Semarang, karena setelah kapal pesiar yang ditumpanginya berlabuh di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, ada wisatawan asing yang langsung menuju Candi Borobudur atau ke Yogyakarta.
Ia menyebutkan rombongan wisatawan asing kali ini berasal dari Jerman. Mereka menggunakan kapal pesiar "Hanseatic", yang Kamis (14/5) berlabuh di Semarang. "Jumlahnya sekitar 100 wisatawan, 10 orang di antaranya singgah terlebih dahulu di museum ini, dan lainnya memilih langsung ke Candi Borobudur," katanya.
Dalam pameran tersebut ditampilkan 11 jenis wayang antara lain wayang beber, wayang kulit purwa, wayang golek menak, wayang kancil, wayang sadat, wayang klithik, wayang kaper, wayang suket, dan wayang potehi.
Menurut dia, semua jenis wayang yang dipamerkan merupakan koleksi museum, namun tidak semuanya dipajang pada hari-hari biasa. "Sebagian sengaja disimpan, dan baru dipajang saat ada pameran seperti ini," katanya.
Secara terpisah, Kepala Sub Bagian Tata Usaha Museum Ranggawarsita Gunarso mengatakan pihaknya memiliki koleksi berbagai jenis wayang. "Melalui pameran ini, kami ingin mempublikasikan bahwa Museum Ranggawarsita memiliki koleksi wayang yang cukup lengkap, sekaligus mengenalkan jenis-jenis wayang yang ada kepada mereka (wisatawan asing, red.)," katanya kepada ANTARA.
Ia berharap dengan adanya pameran ini para wisatawan asing menjadi tertarik, dan selanjutnya sepulang mereka ke negara asalnya dapat mengenalkan serta mempromosikan potensi wisata yang dimiliki Jateng.
KORAN PAK OLES/EDISI 175/16-31 MEI 2009

Bali Punya Konsep Pertahanan Budaya

thumbnail
Leluhur orang Bali mempunyai konsep dalam upaya mempertahankan, melestarikan dan menjaga keutuhan seni budaya dari pengaruh budaya luar. "Konsep pertahanan itu dengan tetap membuka diri, termasuk di era globalisasi sekarang, tanpa harus menutup diri dari pengaruh dunia luar," kata Guru Besar Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar, Prof. Dr. Ida Bagus Gunadha, MSi.
Gunadha yang juga Direktur Program Pascasarjana UNHI mengatakan, dengan konsep pertahankan itu orang Bali mampu menyeleksi pengaruh seni budaya luar yang positif, yang kemudian dipadukan dengan budaya setempat dengan tetap menekankan aspek estetika dan keindahan. "Sedangkan nilai-nilai budaya luar yang tidak cocok dengan kondisi di Bali ditolak sehingga seni budaya Bali tetap mencerminkan keindahan, keunikan dan kelestarian yang mampu menjadi salah satu daya tarik wisatawan mancanegara," ujarnya.
Ia menilai, konsep mempertahankan diri tersebut dalam beberapa tahun belakangan mengalami pemudaran, bahkan manusia Bali sedang mengalami kegamangan dan kebingungan identitas sosial budaya di tengah gelombang perubahan yang begitu cepat.
"Bahkan ketegangan semakin memuncak ketika penduduk lokal dan kebudayaannya semakin terpinggirkan oleh derasnya arus globalisasi yang berujung pada perubahan karakter orang Bali," katanya.
Untuk itu, menurut dia, diperlukan penguatan identitas sebagai upaya mempertahankan jati diri dan manusia Bali dari penetrasi budaya global.
Menurut dia, upaya tersebut perlu dilakukan mendesak dengan membangkitkan kembali kesadaran manusia Bali yang berkarakter kritis dan selektif terhadap pengaruh budaya asing yang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia.
Dikatakannya, upaya tersebut diharapkan mampu menjadikan karakter kebudayaan Bali semakin mapan sekaligus menjadi panduan sikap dan perilaku masyarakat dalam aktifitas desa pekrama (desa adat).
Dengan demikian, katanya, karakter kehidupan di desa pekraman dengan segala aktivitasnya mampu menjadi identitas manusia Bali, yakni manusia yang religius, menghargai persaudaraan dan kebersamaan dalam konteks persaudaraan (menyama braya). "Manusia Bali senantiasa berupaya mewujudkan kehidupan yang harmonis dan serasi sesama umat manusia, lingkungan dan Tuhan Yang Maha Esa (Tri Hita Karana) yang menjadi komitmen sekaligus tujuan hidup," ujar Gunadha.
KORAN PAK OLES/EDISI 175/16-31 MEI 2009

Pemda Jatim Minim Perhatian Terhadap Budaya

thumbnail
Pengamat budaya Universitas Jember, Ayu Sutarto, menilai Pemerintah Jawa Timur kurang serius memperhatikan kesenian dan budaya padahal peranan pusaka budaya cukup penting dalam kehidupan masyarakat.
"Ada niat baik pemerintah Provinsi Jatim untuk memperhatikan budaya Indonesia, namun dalam pelaksanaannya sangat minim," kata Ayu Sutarto dalam seminar nasional dengan tema "Pemetaan dan Pembacaan Budaya di Provinsi Jawa Timur Dalam Kaitannya Dengan Industri Kreatif" di Fakultas Sastra Unej, dalam rangka Pekan Chairil Anwar 2009.
Menurut dia, produk-produk kebudayaan dapat memberi harapan bagi kesejahteraan masyarakat, namun Pemprov Jatim dan masyarakat kurang kreatif dalam mengemas produk kebudayaan sebagai komoditi.
"Produk kebudayaan bisa menjadi komoditi berupa benda-benda budaya dan kreativitas individu untuk menghasilkan sesuatu yang berharga," katanya menerangkan.
Ia menjelaskan, banyak budaya Indonesia yang bisa dikemas dengan industri kreatif sehingga menghasilkan uang, tanpa harus menjual budaya Indonesia kepada negara lain.
"Banyak negara yang sukses mengembangkan kebudayaan yang didukung penuh oleh pemerintah, seperti Jepang, Malaysia dan Amerika Serikat.
Peranan pemerintah, kata dia, sangat minim untuk mengembangkan budaya sehingga terkesan budaya Indonesia hanya sebagai simbol dan tidak bisa menjadi lahan kreativitas untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
"Saya berharap, ada perhatian pemerintah terhadap nilai budaya agar budaya Indonesia tidak punah," katanya berharap.
Pada tataran konsep, kata dia, Pemprov Jatim sudah memberikan perhatian terhadap pusaka budaya, namun belum ada manfaat yang bisa dirasakan nyata oleh masyarakat, baik melalui aspek politis maupun aspek ekonomis.
"Kesenian tradisional hanya nampak besar pada gelombang semangat untuk bangkit, sedangkan usulan program yang nyata untuk membangun kesenian tersebut tidak ada," tuturnya.
Ia menegaskan, ada tiga hal yang harus dilakukan Pemprov Jatim yakni membangun keyakinan bahwa pusaka budaya bisa memberikan manfaat sosial-ekonomi, para pelaku budaya harus melakukan inovasi kreatif untuk merespons zaman dan menumbuhkan partisipasi di kalangan investor dan lembaga pendidikan formal atau non-formal.
KORAN PAK OLES/EDISI 175/16-31 MEI 2009

Jelang Pilpres, Pariwisata Indonesia Garap Pasar Domestik

thumbnail
Menjelang Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden Juli mendatang, pariwisata Indonesia difokuskan garap pasar domestik atau pilar "inbound". "Menjelang Pilpres kami akan memperkuat jumlah kunjungan wisatawan agar tidak turun," kata Direktur Jenderal Pemasaran Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, Sapta Nirwandar, di Jakarta, Rabu (13/5).
Pihaknya berkonsentrasi menggarap pasar domestik mengingat beberapa pasar pariwisata Indonesia utama selama ini sedang digempur krisis finansial global seperti Jepang, Korea Selatan, dan Singapura. "Memang kondisi sekarang sedang sulit, Amerika Serikat juga babak belur termasuk Eropa," katanya.
Oleh karena itu, pihaknya berharap posisi jumlah kunjungan wisman di Indonesia tetap stabil bahkan ditargetkan meningkat sampai April 2009.
"Kita harapkan posisi kita sampai April bagus. Apalagi April diperkirakan naik itu berarti plus tidak defisit. Juni-Juli kita harapkan plus-plus. Dan kalau itu terjadi target kunjungan 6,5 juta wisatawan tahun ini akan tercapai," katanya.
Ia menegaskan, jika kondisi sedang krisis seperti saat ini, sudah saatnya Indonesia memperkuat pasar domestik untuk mensubstitusi menurunnya pilar `outbound` (luar negeri).
Pihaknya akan mengupayakan berbagai hal di antaranya dengan mengadakan pameran untuk konsumen termasuk juga merancang paket perjalanan wisata domestik yang selama ini belum terlampau populer.
Jumlah kunjungan wisman ke Indonesia secara kumulatif meningkat pada periode Januari-Maret 2009 dibandingkan periode yang sama pada 2008.
Pada Januari 2009 tercatat jumlah wisman yang berkunjung 474.930 naik 8,44 persen dibandingkan tahun lalu. Februari terjadi penurunan sebanyak 9,43 persen dari 465.449 pada 2008 menjadi hanya 421.555. Pada Maret wisman yang berkunjung 511.314 atau naik 1,85 persen dibandingkan tahun lalu yang hanya 502.041 wisman.
KORAN PAK OLES/EDISI 175/16-31 MEI 2009

Kinerja Polisi Pariwisata Rendah

thumbnail
Ketidaktanggapan dalam menyelesaikan masalah dan ketidakramahan, adalah dua penyebab utama ketidakpuasan penduduk lokal terhadap kiprah polisi pariwisata (Polpar) di Pulau Dewata.
Dari kenyataan itu, menunjukkan bahwa kinerja Polpar masih rendah dilihat dari aspek kemampuan dalam mencegah kejahatan serta peningkatan rasa aman dan nyaman, demikian terungkap dalam acara penelitian tahap akhir jajak pendapat tentang polisi pariwisata di wilayah Bali, di gedung Rupatama Polda Bali di Denpasar, Jumat (15/5).
"Dari segi jumlah, keberadaan Polpar memang masih sedikit yakni 388 personel. Untuk ke depannya, kita masih harus dilakukan pembahas, sehingga keberadaan polisi `turis` itu sesuai dengan harapan semua pihak," kata Direktur Pengamanan Wisata Polda Bali Kombes Pol I Gusti Made Adhi S Putra.
Sementara Komisaris Polisi Jepang, Takeuchi Naoto, mengatakan selama lima tahun kerja sama Japan International Cooperation Agency (JICA) dengan Kepolisian Republik Indonesia dalam pengamanan pariwisata, sudah ada banyak kemajuan dibanding dengan hasil penelitian sebelumnya.
Menyangkut keberadaan Polpar, Naoto menyebutkan sejauh ini masyarakat belum begitu banyak yang tahu. Untuk itu, Polpar perlu lebih mendekatkan diri ke masyarakat, sekaligus mampu melakukan upaya pengamanan yang lebih baik.
Di samping itu, tulis reporter ANTARA, kemampuan Polpar juga harus terus ditingkatkan melalui pelbagai pelatihan-pelatihan, terutama kemampuan dalam menguasai bahasa asing, ucapnya. Hadir dalam acara penelitian jajak pendapat tersebut tampak Wakapolda Bali Brigjen Pol Ketut Adria dan sejumlah petugas dari JICA, Kapoltabes Denpasar Kombes Pol Alit Widana serta para Kapolres se-Bali.
KORAN PAK OLES/EDISI 175/16-31 MEI 2009

6 Desa Wisata Tidak Beraktivitas Lagi

thumbnail
Sebanyak enam dari 39 desa wisata di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), kini tidak beraktivitas lagi sehingga tidak ada agenda acara yang disiapkan untuk menyambut kedatangan wisatawan.
Ketua Forum Komunikasi Desa Wisata Kabupaten Sleman, Haryono di Yogyakarta, Jumat (15/5), mengatakan saat mendata desa wisata di Sleman pihaknya menemukan enam desa yang aktivitasnya tidak terlihat lagi, bahkan ada yang sama sekali tidak memiliki kegiatan apa pun.
Desa wisata yang tidak beraktivitas dan cenderung "mati suri" itu antara lain desa wisata Sendari, Pajangan, Grogol, Candi Abang dan Ngamboh. Cukup disayangkan jika desa wisata tersebut tidak lagi beraktivitas terkait upaya promosi untuk menarik minat wisatawan berkunjung ke desa itu," katanya.
Padahal, kata dia, desa-desa itu punya potensi pariwisata yang bisa dijual kepada wisatawan. “Saya berharap desa wisata tersebut dapat bangkit lagi dan bersama-sama pengelola serta warga setempat menghidupkan kembali kegiatan desa dan menawarkannya sebagai objek wisata alternatif," kata Haryono yang juga Ketua Pengelola Desa Wisata Ketingan Sleman.
Menurut dia, dalam mengembangkan desa wisata, peran masyarakat dan tokoh desa menjadi dominan, karena itu pengelola desa hendaknya melibatkan mereka.
Ia berharap para pengelola dan warga setempat bersedia menghidupkan kembali kegiatan di desa wisata itu, apalagi enam desa wisata tersebut memiliki potensi yang berbeda dengan desa wisata lain di Sleman.
Prospek desa wisata di Sleman cukup bagus dan jika dikembangkan dengan baik akan menjadi objek wisata alternatif di DIY. Selain itu, berkembangnya desa wisata berdampak pula pada peningkatan pendapatan warga setempat. "Warga bisa menyewakan rumahnya menjadi `home stay` atau membuka warung makan sehingga warga di sekitar desa wisata dapat meningkatkan kesejahteraannya," katanya dilansir ANTARA.
Ia mencontohkan, desa wisata Ketingan, Tirtoadi, Mlati, Sleman selama 2008 dikunjungi lebih dari seribu wisatawan termasuk wisatawan mancanegara (wisman)..
Soal promosi, kata dia, Forum Komunikasi Desa Wisata di Kabupaten Sleman telah menyebarkan `leaflet` ke pompa bensin, terminal bus dan tempat umum lainnya. Hasilnya, jumlah pengunjung di bebrapa desa wisata di Sleman mencapai lebih dari seribu orang khususnya pada hari libur akhir pekan atau libur lebaran. "Saya sering menerima telepon dari Jakarta. Sambutan mereka terhadap desa wisata di Sleman cukup bagus," katanya.
KORAN PAK OLES/EDISI 175/16-31 MEI 2009

Philip Kotler-Hermawan Kartajaya Duta Pariwisata Indonesia

thumbnail
Dua ahli marketing ternama, Philip Kotler dan Hermawan Kartajaya segera dinobatkan sebagai Duta Pariwisata Indonesia. "Kami akan menganugerahkan pin emas Visit Indonesia kepada Philip Kotler dan Hermawan Kartajaya," kata Direktur Jenderal Pemasaran Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, Sapta Nirwandar, di Jakarta, Rabu pekan lalu.
Philip Kotler selama ini kondang dengan sebutan "The Father of Modern Marketing" (Bapak Pemasaran Dunia), sedangkan Hermawan Kartajaya memiliki julukan "One of 50 Gurus who have shaped the future of marketing" (Salah satu dari 50 guru yang membentuk masa depan pemasaran).
Keduanya akan disemati pin sebagai Duta Pariwisata Indonesia oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Jero Wacik dan rencananya akan disaksikan langsung oleh Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono. "Rencananya penyematan pin akan dilaksanakan pada 27 Mei 2009 pukul 19.00 WIB di Museum Nasional, Jakarta," katanya.
Sapta mengatakan, pengangkatan kedua tokoh menjadi duta pariwisata Indonesia berdasarkan pada antusiasme keduanya dalam memasarkan pariwisata Indonesia pada setiap "event" komunitas marketer se-dunia. "Selain itu, juga merupakan bagian dari strategi pemasaran pariwisata horizontal," katanya seperti ditulis ANTARA.
Tahun ini pihaknya menggunakan strategi promosi "prominent person" (orang terkemuka) untuk memperluas pemasaran pariwisata Indonesia.
Pihaknya berharap kedua tokoh itu dapat memperkenalkan pariwisata Indonesia kepada dunia luas sehingga diharapkan semakin banyak wisman berkunjung.
KORAN PAK OLES/EDISI 175/16-31 MEI 2009

Tiga Gili Akan Dikunjungi Wartawan Malaysia

thumbnail
Objek wisata Gili (pulau kecil) Gili Terawangan, Gili Meno, dan Gili Air di Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB) menjadi salah satu objek yang akan dikunjungi 30 wartawan Malaysia. "30 wartawan dan sejumlah Biro Perjalanan Malaysia akan berkunjung ke Lombok, NTB pada 30 Mei hingga 2 Juni 2009 untuk melihat berbagai objek wisata di daerah ini," kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata NTB, Lalu Gita Ariadi, Jumat (15/5).
Objek wisata tiga gili ramai dikunjungi wisatawan mancanegara maupun nusantara karena keindahan alam bawah lautnya, terutama dengan adanya blue coral atau karang biru merupakan spesies langka.
Menurut penelitian, keindahan karang biru di dunia ini hanya bersisa di dua tempat, yakni di Indonesia dan Laut Karibia. Numun kini terumbu karang yang masuk kategori karang langka tersebut terancam rusak akibat seringnya perahu nelayan maupun kapal-kapal pesiar membuang jangkar di perairan pantai di objek wisata tiga gili yang menjadi area tumbuhnya karang biru.
Untuk menjaga lelestarian karang biru tersebut dibangunnya jetty (dermaga) di tiga gili tersebut, maka kapal pesiar maupun para nelayan diharapkan tidak lagi membuang jangkar di laut.
Pemandangan alam bawah laut khususnya terumbu karang yang merupakan salah satu daya tarik wisata di pulau kecil itu bisa diselamatkan dan objek wisata ini tetap menjadi "magnet" untuk menyedot wisatawan berkunjung ke NTB.
Pembangunan jetty di tiga gili itu berkaitan dengan upaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata NTB untuk menyukseskan program nasional Visit Indonesia 2008.
"Untuk menyukseskan program tersebut, NTB menargetkan angka kunjungan wisatawan sebanyak 600.000 orang, sementara tahun 2012 ditargetkan sejuta kunjungan," katanya.
KORAN PAK OLES/EDISI 175/16-31 MEI 2009

Guide Harus Cerdas Jual Yogya

thumbnail
Pemandu wisata (guide) di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) harus cerdas menjual objek wisata Yogyakarta kepada wisatawan mancanegara (wisman) sehingga diharapkan mereka tertarik dan terkesan mengunjungi daerah ini. "Pemandu wisata juga harus mampu menceritakan kondisi objek wisata dengan cara yang menarik, jangan monoton seperti selama ini," kata Ketua Forum Silaturahmi Insan Pariwisata (Fosipa) Indonesia, Sarbini,di Yogyakarta, Kamis pekan lalu.
Pemandu wisata perlu menceritakan sisi lain dari yang selama ini telah diceritakan kepada wisman agar mereka tidak jenuh terhadap objek wisata tersebut. "Yogyakarta memiliki banyak objek wisata yang dapat dijual kepada wisman asalkan pemandu wisata mampu mengangkat cerita yang ada di balik objek wisata tersebut dengan cara menarik," katanya.
Misalnya, kata dia, kawasan alun-alun ttara Yogyakarta bisa menjadi objek wisata sendiri jika dikemas dalam cerita yang menarik. Selama ini alun-alun hanya diceritakan sebagai bagian milik Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, tetapi belum diungkapkan filosofi yang terkandung di dalamnya.
Menurut dia, mestinya alun-alun utara diceritakan sebagai bagian filosofi pemerintahan Kerajaan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Jadi bukan hanya tanah lapang yang digunakan untuk kepentingan keraton. "Lapangan Tiananmen di Beijing Cina saja mampu menyedot banyak wisatawan, padahal hanya lapangan biasa, dan terkenal setelah terjadinya tragedi berdarah yang menimpa aktivis demokrasi di negeri itu," katanya.
Ia mengatakan, para pemandu wisata merupakan ujung tombak menjual objek wisata di DIY dan diharapkan mampu membuat wisatawan untuk kembali mengunjungi daerah ini. "Pemandu wisata perlu setiap saat meningkatkan pengetahuan dan kemampuan memandu sehingga wisatawan yang datang mengunjungi objek wisata di DIY selalu puas dan terkesan," katanya.
Menurut dia, peran pemandu wisata penting dalam menjual objek wisata di DIY, namun masih perlu terus dipromosikan dengan gencar baik di dalam maupun luar negeri, meski DIY sudah dikenal sebagai daerah tujuan wisata. "Promosi tersebut bertujuan mengingatkan dan mengenalkan kembali serta memulihkan citra pariwisata DIY sebagai destinasi pariwisata unggulan," katanya.
Menurut dia, meski DIY sudah lama dikenal sebagai daerah tujuan wisata unggulan, promosi pariwisata tetap diperlukan untuk menarik minat wisatawan mengunjungi daerah ini. "Jika tidak dipromosikan lagi secara gencar, DIY sebagai tujuan wisata akan semakin ditinggalkan dan dilupakan. Apalagi daerah tujuan wisata lain di Indonesia terus menggencarkan promosi," katanya.
KORAN PAK OLES/EDISI 175/16-31 MEI 2009

Pola Produksi Pupuk Mengarah Ke Majemuk

thumbnail
Menteri Perindustrian Fahmi Idris mengatakan pola produksi pupuk harus diarahkan pada pupuk majemuk yang dibutuhkan sektor pertanian di dalam negeri. Ada tiga aspek produksi yang menjadi masalah dalam industri pupuk, antara lain pola pengembangan pupuk majemuk. Artinya, pupuk majemuk harus jadi pola produksi pupuk yang dibutuhkan sektor pertanian untuk masa depan, Fahmi.
Pada Breakfast Meeting Penyelarasan Kebijakan Perpupukan Nasional Menuju Kemandirian Pangan yang Berkelanjutan, Fahmi mengatakan, kebutuhan pupuk majemuk diperkirakan terus berlipat ganda. Selama 2009, kebutuhan pupuk NPK sebesar 1,5 juta ton dan diperkirakan meningkat hingga 9,1 juta ton pada 2010. Peningkatan kebutuhan pupuk NPK diproyeksikan terus naik hingga 23,2 juta ton pada 2025.
Selain pupuk majemuk, kebutuhan pupuk organik yang pada 2009 hanya 450 ribu ton diperkirakan meningkat menjadi 12,2 juta ton pada 2010 dan mencapai 18,8 juta ton pada 2025. Pemerintah memang sedang mendorong penggunaan pupuk majemuk untuk mengurangi penggunaan pupuk urea yang berlebihan. Pemerintah juga mendorong penggunaan pupuk organik untuk mengembalikan kondisi lahan pertanian yang mulai menurun tingkat kesuburan. Pupuk organik merupakan suatu keharusan untuk diproduksi.
Terkait masalah pasokan gas ke pabrik pupuk yang selama ini selalu menjadi perdebatan, Menperin mengatakan perlu dicarikan solusinya segera. Salah satu masalah yang sering dikeluhkan produsen pupuk adalah soal harga gas yang masih menggunakan kurs dolar AS. ‘’Seperti perusahaan keramik yang membeli gas dari PGN dengan menggunakan mata uang dolar AS, sedang diusulkan untuk diubah,’’ tegas Fahmi.
Masalah lain, adanya perbedaan harga pupuk yang sangat jauh akibat belum adanya standarisasi harga gas. Padahal pemasoknya hanya satu yakni BP Migas. Kalau beda harga, tidak masalah, tapi masuk akal. Ia mencontohkan, harga di pupuk PT PKT sebesar 4,2 dolar AS per MMBTU; PT Kujang seharga 5,2 dolar AS per MMBTU; PT Semen Gresik sebesar 5 dolar AS lebih per MMBTU; PT PIM sebesar 4,25 dolar AS per MMBTU; PT Pusri sebesar 3,3 dolar AS per MMBTU. Sementara harga pupuk urea yang dijual ke petani sama.
Selain harga, masalah lain yang juga sering dikeluhkan produsen pupuk adalah persoalan kontinuitas dan suplai gas. Pabrik pupuk umumnya berlokasi jauh dari sumur gas. Yang paling dekat hanya PT PKT dengan jarak antara pabrik dengan sumur gas 36 kilometer. ‘’PT Kujang jauh antara pabrik dengan sumur, PT PIM dekat. Jadi, saya tegaskan, masalah pupuk di jalur hilir adalah soal harga gas, kontinuitas suplai gas serta jarak antara sumur gas dengan pabrik,’’ jelasnya.
KORAN PAK OLES/EDISI 175/16-31 MEI 2009