Benang Kusut Masalah Pupuk

thumbnail
Oleh: Rz Subagiyo
Musim Tanam 2008/2009 atau periode Oktober-Maret sudah berjalan dua bulan. Namun tidak terlihat petani melakukan penanaman padi di sawah-sawah mereka. Sebaliknya di berbagai wilayah sentra produksi padi, justru para petani tengah menjerit akibat pupuk bersubsidi yang sangat dibutuhkan ketika memasuki musim tanam menghilang. Biasnya, tidak sebatas merugikan petani karena kegiatan menanam menjadi mundur namun secara nasional berdampak pada pencapaian produksi pangan khususnya beras.
Di Kabupaten Jember, Jawa Timur, Selasa (2/12) sekitar 100 petani menghadang sebuah truk bermuatan pupuk urea bersubsidi 7,5 ton di dekat kantor Kelurahan Kranjingan, Kecamatan Sumbersari. Spontanitas aksi para petani terpaksa mereka lakukan karena sudah tidak punya cara lain untuk mendapat pupuk urea berubsidi. Meski demikian, petani tetap membeli pupuk sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp 60 ribu per sak (50 kg).
Begitu juga di Cirebon, Jawa Barat. Para petani di sejumlah kecamatan yang memiliki saluran irigasi teknis lebih baik, mulai kesulitan mendapat urea dan Za padahal mereka sudah mulai memerlukan pupuk. ‘’Sudah seminggu terakhir sulit mencari urea dan ZA di kios resmi. Kami terpaksa beli di toko lain di Pasar Losari,’’ kata Nurkamad, petani Desa Pabedilan, Cirebon. Saat itu, padi milik Nurkamad sudah ditanam tiga minggu.
Di Pekalongan, Jawa Tengah, kelangkaan pupuk yang sudah terjadi dalam beberapa hari terakhir mengakibatkan harga pupuk bersubsidi melambung hingga dua kali lipat dari HET. Harga pupuk bersubsidi di Kecamatan Lebakbarang dan Petungkriono, Pekalongan mencapai Rp 2.400 per kg (dua kali lipat dari harga eceran tertinggi (HET) yang ditentukan pemerintah Rp 1.200 kg.
Persoalan kelangkaan pupuk bersubsidi sebenarnya bukan merupakan hal baru di Indonesia, karena hampir setiap memasuki musim tanam fenomena itu pasti terjadi. Yang patut digugah adalah, apa akar permasalahan utama persoalan pupuk ini sehingga terus terjadi setiap tiba musim tanam. Apakah soal produksi, distribusi, harga atau soal transportasi? Karena masih agak suram diurai, sehingga kelangkaan pupuk yang terjadi di sejumlah besar wilayah Indonesia ini sulit untuk dicarikan solusi-solusi bijak dan serius. Ataukah ada oknum tertentu yang sengaja menciptakan kondisi ini karena hingga kini pun tampaknya belum ada solusi yang pas dari instansi berwenang untuk mencarikan solusi jitu mengatasi permasalahan ini.
Departemen Pertanian yang bertanggung jawab terhadap pengalokasian pupuk ke petani, Departemen Perdagangan yang berwenang mengatur distribusi pupuk dan Kementrian BUMN yang membawahi produsen pupuk sepertinya berjalan sendiri-sendiri tanpa koordinasi dalam menyelesaikan persoalan ini. Pada sisi lain, muncul saling menyalahkan sehingga persoalan kelangkaan pupuk semakin carut-marut bagai benang kusut yang tidak jelas ujung pangkalnya untuk diurai.
Salah satu faktor yang dianggap sebagai penyebab kelangkaan pupuk, kebiasaan petani yang selalu over menggunakan penyubur tanaman ini. Hal itu mengakibatkan kebutuhan pupuk petani sering membengkak karena pupuk yang diperlukan tidak disesuaikan dengan luas lahan. Hasil penelitian Departemen Pertanian menyebut, kebutuhan pupuk urea bersubsidi untuk 1 hektar lahan mencapai 250 kg-300 kg tetapi petani cenderung berlebihan memakai pupuk dua kali lipat dari jumlah itu.
Dirjen Tanaman Pangan Deptan, Sutarto Alimoeso mengungkapkan, saat ini para petani cenderung memupuk tanaman padi sampai 400-500 kgr sehingga kebutuhan pupuk melonjak. ‘’Padahal pemakaian pupuk secara berlebihan juga bisa menimbulkan tanah tidak subur,’’ katanya.
Pernyataan Sutarto dibenarkan Ketua Kelompok Tani Andalan (KTNA) Kecamatan Jekulo, Kudus, Sumani. Disebutkan, pemupukan untuk luas lahan 1 kotak seharusnya cukup 40 kg pupuk, tetapi petani sering memakai 70 kg. Salah seorang petani setempat beralasan mereka melakukan hal itu karena tanaman yang dipupuk sesuai aturan produksinya kurang bagus, bahkan tanaman masih terlihat merah dan tidak bisa berwarna hijau. ‘’Karena itu terpaksa saya melakukan pemupukan melebihi takaran yang dianjurkan,’’ kata Sukiran.
Berdasarkan Permentan nomor 56 tahun 2008, alokasi pupuk bersubsidi untuk sektor pertanian per 2008, untuk urea (4,5 juta ton), SP-36/Superphos (800 ribu ton), ZA (700 ribu ton), NPK (900 ribu ton) dan Organik (345 ribu ton). Sasarannya, untuk tanaman pangan, hortikulutura, perkebunan, peternakan dan perikanan budidaya khusus untuk urea masing-masing 3,03 juta ton, 387.109 ton, 926.681 ton, 12.403 ton dan 143.807 ton. Khusus November dan Desember 2008, menurut Sutarto, pemerintah memberikan alokasi tambahan pupuk bersubsidi 200 ribu ton.
Meski mengakui adanya petani yang menggunakan pupuk berlebihan namun demikian Ketua KTNA Winarno Tohir membantah jika hal itu dinilai merupakan penyebab kelangkaan pupuk. Dia mengungkapkan selama ini penyaluran pupuk subsidi dari distributor sampai ke petani hanya 40% dari alokasi yang ditetapkan. Sedangkan 60% justru tidak dinikmati petani yang berhak karena terjadi rembesan. Ada yang dijual ke sektor lain non subsidi atau dijual ke luar daerah oleh para distributor. ‘’Jadi tidak benar kalau kelangkaan pupuk akibat pemakaian petani yang berlebihan. Sebenarnya penyelewengan yang tinggi ada di tingkat distribusi. Dari laporan yang ada menunjukkan seperti itu," katanya ketika dihubungi via telepon.
Salah satu penyelewengan pupuk subsidi adalah tingginya permintaan pupuk untuk perkebunan sementara harga untuk sektor tersebut juga tinggi karena tidak disubsidi yakni Rp 6.000/kg. Berdasarkan SK Menteri Pertanian nomor 29/Permentan/OT.140/2008 tentang HET, harga pupuk bersubsidi urea (Rp 12.000 per kg), ZA ( Rp 1.050 kg), superphos (Rp 1.650 per kg), NPK phonska (Rp 1.750 kg), NPK pelangi (Rp 1.830 kg), NPK kujang (Rp 1.586 kg) dan organik (Rp 1.000 kg). ‘’Jika pupuk subsidi yang harganya Rp 1.200 per kg dijual Rp 2.000 sampai Rp 3.000, mereka masih mau menerima dan mendapatkan untung,’’ kata Winarno.
Empat Tepat
Winarno menuding, salah satu penyebab munculnya kekisruhan distribusi pupuk bersubsidi yakni Keputusan Menteri Perdagangan nomor 21/2008 yang menyebut, ‘’Penjualan pupuk bersubsidi’’ padahal menurut Peraturan Presiden menetapkan pupuk subsidi tidak untuk dijual. Begitu juga dalam Permentan sudah diatur bahwa pupuk subsidi bukan barang dagangan sehingga distributor penyalur pupuk bersubsidi sudah diberi untung atau fee namun mereka ingkar janji dengan menjual pupuk. ‘’Perlu ada revisi Keputusan Menteri Perdagangan nomor 21/2008 seharusnya bukan penjualan pupuk bersubsidi tapi pendistribusian. Selama Kemendag tidak direvisi akan repot,’’ katanya.
Lembaga-lembaga pemerintah yang bertanggung jawab pada industri dan distribusi pupuk hendaknya memperhatikan empat tepat dalam distribusi pupuk, yakni tepat jumlah, tepat harga, tepat waktu dan tepat guna. Untuk menangani distribusi pupuk sesuai empat tepat, menurut Penasehat Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), Imam Churmein tidak sulit, karena pemerintah mempunyai gas alam sebagai bahan industri pupuk dan bahkan bisa mengimpor bila kebutuhan dalam negeri tercukupi. ‘’Masalahnya, lagi-lagi pelaksanaan sehingga pupuk harus sering langka, menghilang atau melonjak harganya. Padahal pupuk menjadi sarana penting bagi tekad pemerintah melaksanakan revitalisasi pertanian,’’ ujarnya.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bahkan telah meminta seluruh aparat daerah mengawasi peredaran pupuk bersubsidi. Di hadapan sekitar 4500 penyuluh pertanian se-Indonesia pada jambore dan festival karya penyuluhan pertanian II di Cibodas, Jawa Barat beberapa waktu lalu, Presiden SBY meminta gubernur, walikota/bupati sampai kepala desa untuk memastikan pupuk bersubsidi tepat sasaran. ‘’Pupuk bersubsidi harus tepat pada sasarannya. Tidak boleh penerima pupuk subsidi itu adalah perusahaan dan lain sebagainya,’’ tegas Presiden SBY.
Bagi Winarno, seharusnya distribusi dari lini I hingga lini IV dilakukan oleh pabrik atau produsen. Namun yang terjadi justru oleh distributor swasta yang lebih mencari untung besar sehingga mereka melakukan jual beli pupuk subsidi. Dengan begitu, petani atau koperasi membeli di lini IV, tanpa lewat distributor swasta. Kalaupun ada, mereka harus sejajar dengan koperasi.
Dalam Rapat Khusus mengenai kelangkaan pupuk di Istana Wapres beberapa waktu lalu, sudah ada kesepakatan untuk menanggulangi kekurangan pupuk bersubsidi itu. Pemerintah akhirnya memutuskan penambahan 300 ribu ton. Rencananya tambahan sebanyak itu dibagi dua; 200 ribu ton ke setiap kabupaten, dan 100 ribu ton untuk operasi pasar.
Sebelumnya pupuk bersubsidi yang disediakan pemerintah sebanyak 4,3 juta ton, ditambah 200 ribu ton (4,5 juta ton). Dengan tambahan 300 ribu ton, berarti ada 4,8 juta ton pupuk bersubsidi yang disiapkan. Tambahan itu disanggupi PT Pupuk Kaltim (80 ribu ton), PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) sebanyak 40 ribu ton dan PT Petrokimia Gresik (5000 ton).
Khusus tahun 2009, semua pabrik pupuk dipacu produksi hingga mencapai 7 juta ton, dengan rincian, urea bersubsidi (5,5 juta ton) dan NPK dari 1,3 juta ton menjadi 1,5 juta ton. Selain itu, pemerintah tetap melakukan operasi pasar (OP)pupuk untuk mengatasi kelangkaan pupuk bersubsidi di tingkat petani saat musim tanaman.
Kebijakan OP dilakukan sebagai upaya memotong jalur distribusi pupuk bersubsidi dari produsen ke petani yang selama ini ruwet. Sejak 27 November 2008, OP pupuk bersubsidi mulai digelar produsen pupuk di sejumlah daerah pasca sehari DPR memanggil lima menteri dan Polri untuk membahas kelangkaan pupuk yang terjadi saat musim tanam 2008/2009. Dengan sejumlah kebijakan tersebut kini tinggal menunggu apakah petani akan benar-benar menerima pupuk sesuai empat tepat dalam distribusi pupuk yakni tepat jumlah, tepat harga, tepat waktu dan tepat guna? (Anspek)
Koran Pak Oles/Edisi 165/Desember 2008

KALEIDOSKOP PT KARYA PAK OLES TOKCER 2008

thumbnail
Gerak dan napas senantiasa seirama mengayun langkah merajut jejeran potret bayangan maupun pajangan suara.
Tekad dan aksi dipadu dalam gairah menapak kisah prestasi hari ini.
Hari kemarin bukanlah bayangan kosong. Masa lalu tidak serta merta mengubur suara-suara kehidupan yang telah lahir.
Dan, hari esok adalah rancangan gerak mekanis; sketsa visi yang dirintis dalam aura keberanian, napas kesabaran dan desis doa pengharapan!
Hari ini, saat mentari terbit, kita selalu berujar ringan, Tuhan bersama kita di sini dan sekarang. Kenapa kita enggan menabur mimpi mematangkan kesuksesan di hari kemarin?


=JANUARI=
Ramuan Pak Oles Hadir Di Tuban
Unit Gresik, Jatim melebarkan jaringan pemasaran Ramuan Pak Oles ke Tuban. Sebelumnya, pasar Lamongan telah digarap. Pergerakan strategis cabang Surabaya meningkatkan omzet sekaligus mematangkan eksistensi produk herbal asal Bali.

MLM PBN Road Show Ke P Jawa
Strategi marketing baru Ramuan Pak Oles dikemas dalam paket multilevel marketing (MLM). Awal tahun 2008, MLM Pandu Business Network (PT Balok Emas Wididana) mengadakan road show di pulau Jawa. Langkah padu sosialisasi sistem, program dan produk yang dijual dimulai dari Genteng, Banyuwangi, Jember, Surabaya, Solo, Semarang, Magelang dan berakhir Jogjakarta.

Radio Hexon Gelar Parade Band Remaja
Ada 14 band lokal remaja dari desa Pelapuan, Bengkel, Seririt, Munduk Temu, Busungbiu, Gobleg, Bengkel, Lovina dan Ringdikit di Kabupaten Buleleng tampil meramaikan Parade Band Remaja yang digagas Radio Hexon 92,8 FM, di desa Bengkel, Busungbiu. Jingle Minyak Oles Bokashi menjadi lagu wajib yang harus dimainkan para peserta. Aransemen lagu itu merupakan garapan ulang lagu Seken BTA yang dipopulerkan band XXX (Triple X) asal Kabupaten Klungkung.

SMA 6 Malang Studi Ke Kebun
EM
Sekitar 227 pelajar SMAN 6 Malang, Jawa Timur melakukan studi Kenal Alam dan Lingkungan (SKAL) ke Kebun Percontohan Organik di Denpasar. Kebun yang dikembangkan Pak Oles sejak tahun 2000 itu sudah menjadi langganan para petani, peneliti, ilmuwan, pengusaha, TK hingga perguruan tinggi, dari dalam maupun luar negeri. Mereka mendatangi lokasi di Jl Pulau Roti Denpasar itu untuk menggali ilmu tentang pertanian organik dan pembuatan pupuk organic Bokashi Kotaku dan EM4.

=FEBRUARI=
HUT II Cabang Yogyakarta

Cabang Yogyakarta yang dirintis tahun 2006 kini telah berusia 2 tahun. Umur yang amat muda. Kerja keras dan disiplin tetap menjadi kunci memasarkan Ramuan Pak Oles. Yang paling penting, TL dan SPG terus digencot mengenal manfaat dan kualitas produk agar mudah menjelaskan kepada konsumen yang umumnya para pelajar dan peneliti.

Workshop APNAN Di Thailand
PT Songgolangit Persada mengirim 5 kepala staf pemasaran EM4 menghadiri workshop tahunan Asia Pasific Natural Agriculture Network (APNAN) di Kyusei Nature Farming Centre Sara Buri, Thailand. Hadir 37 peserta dari 7 negara.
Dari pengembang teknologi industri EM Indonesia hadir Ir Koentjoro Adijanto (Kepala Produksi Pupuk Bokashi Kotaku), Ir Nyoman Darma Asmara (Trainer IPSA), Sarmo Saputro (Kacab Pemasaran EM Magelang), Irkham Rosidi (Kacab Pemasaran Bali) dan Nyoman Sukamerta (Pimpinan Pabrik EM Bengkel).


=APRIL=
Lomba Melukis Anak TK
Ada 23 anak usia TK mengadu kreasi dalam lomba melukis yang digelar Radio Pak Oles FM dengan tema Aku Cinta Ramuan Pak Oles di Ruko Pak Oles, Jl Letda Kajeng, Denpasar. Kadek Dinda Ayu menjadi jawara yang berhak atas hadiah utama sepeda dayung. Juara II diraih Boy Alexander Ranco, Muhammad Rasya (III) dan juara favorit digenggam Bella. Setiap pemenang dan peserta diberikan bingkisan menarik berupa Minyak Anget Rare, Minyak Kayu Putih Boma, Madu Alam dan Minyak Oles Bokashi.

Workshop Broadcasting Network Radio Pak Oles
Kru penyiar Radio Pak Oles FM, Bokashi Raya FM, Hexon FM, operator, sekretaris dan sejumlah staf menimba penyegaran manajemen penyiaran, teknik olah vokal dan seni berbicara di depan umum (public speaking). Pengetahuan teknis manajemen penyiaran radio dipandu tim Santy Sastra Production dari Duta FM yang digawangi Putu Suprapti Santy Sastra. Sedangkan teknik berbicara di depan umum dipandu penyiar senior RRI Paul Suardi, SS yang berlangsung di ruang Intan The Grand Santhi Hotel Denpasar

MOB Jumbo Buah Tangan Olesmania
PT Karya Pak Oles Tokcer kembali menghadirkan kemasan baru Minyak Oles Bokashi berukuran besar. Nama beken Minyak Oles Bokashi (MOB) Jumbo dengan semboyan Besar itu Enak. Volume 140 ml yang dilempar ke pasar seharga Rp100 ribu. Minyak multikhasiat tersebut bisa dijadikan konsumen setia (olesmania) sebagai buah tangan (gift) bagi wisatawan yang berkunjung ke Bali. Oleh-oleh dari Bali untuk keluarga, kerabat dan sahabat tercinta.

Jelajah 7 Desa Bersama Hexonmania
Bagi Radio Hexon 92,8 FM, fans fanatik adalah sahabat terbaik. Bersama 100 fans setia Hexonmania dan 20-an karyawan PT Karya Pak Oles Tokcer, kru Radio Hexon menggeber turing menempuh rute panjang melewati 7 desa yakni Desa Bengkel, Kekeran, Busungbiu, Rengdikit, Bubunan, Seririt, Sulanya, dan Banjar. Hajatan tersebut sebagai sarana membangun keakraban di antara fans setia Radio Hexon 92,8 FM sekaligus ungkapan terima kasih.

=MEI=
Biotor Technology Tur Ke Bedugul
Sebagai ungkapan terima kasih buat pendengar, radio Pak Oles 89,8 FM memanjakan pendengarnya dengan turing ke kawasan wisata Bedugul, Tabanan. Turing yang diikuti 250 peserta itu sekaligus untuk promo dan branding produk Biotor (Spontan Power, Hexon dan Kudo).

=JUNI=
Jalan Bukit Hexon Diaspal
Sejak 16 Mei, akses jalan menuju Bukit Hexon yang terletak di antara tiga desa yakni Tempek Lobong, Tempek Panji dan Munduk Tajung, Sawan, Buleleng, diaspal secara swadaya. Jalur yang berjarak 1,6 km dari Bukit Hexon diselesaikan hanya dengan 20 kali pengerjaan oleh 30-an warga desa Tempek Lobong, Tempek Panji dan Munduk Tajung.
Pembukaan jalan membuat Bukit Hexon akan dikunjungi para pelancong. Sebab, banyak yang bisa digali dari daya tarik bukit Hexon. Seperti proyek percontohan pertanian organik dengan penanaman bahan baku industri untuk produk biotor Hexon dan Kudo, wisata otomotif ekstrim garden track dan panorama alam yang mempesona.

Varian Baru EM Keramik
Beragam aksesoris kesehatan muncul di pasaran dengan beragam bentuk. PT Karya Pak Oles Tokcer juga memproduksi keramik untuk kesehatan dengan menggunakan teknologi EM (effective microorganisms). Produk EM Keramik diproduksi dalam aneka bentuk antara lain gelang, kalung, piramid dan alat pijat. Kini EM Keramik hadir dengan varian baru. Model lama diganti dengan penambahan ornamen perak sebagai pemanis gelang dan kalung.

=JULI=
Turing Sambil Ngayah
Sekitar 150 bikers meramaikan turing yang digagas Radio Bokashi Raya Klungkung.
Dipandu empat patwal dari pihak kepolisian, peserta turing bergerak lambat menelusuri ruas jalan Diponogoro, Gajah Mada, Ngurah Rai, Flamboyan, Puputan, Tojan, dan berakhir di pelataran pura Watu Klotok. Rentetan acara juga akan diisi pesembahyangan dan “ngayah” membersihkan areal sekitar pura Watu Klotok.

Bukit Hexon Resmi Jadi Kawasan Agrowisata
Ketua Umum Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) meresmikan Bukit Hexon di Desa Lemukih, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng sebagai kawasan agrowisata terpadu di Bali utara, 18 Juli 2008. Mantan Menhankam/Pangab, Jend (Purn) H Wiranto, mengaku terkesan dengan visi dan sentuhan magis putra Bali GN Wididana dalam menggali potensi tersembunyi sebuah kawasan perbukitan yang terpencil.

=AGUSTUS=
Ultah Diwarnai Pentas Seni

HUT XI PT Karya Pak Oles Tokcer berlangsung di pelataran Radio Hexon, Desa Bengkel, Busungbiu, Buleleng. Ultah Dari Kita Untuk Kita itu digelar secara meriah dengan pentas kreativitas karyawan/ti setiap divisi termasuk cabang Jogja. Aneka pentas yang dikemas apik antara lain Joged Genjek, Topeng Bondres, Tari Topeng, Lenong Gosip hingga tarian kontemporer.

=OKTOBER=
Branding Perdana Di Nusa Penida
Ramuan Pak Oles dan Tim Biotor menggelar branding perdana di Banjar Batu Munggul, Desa Munggul, Nusa Penida, Klungkung. Kehadiran tim Biotor disambut hangat masyarakat di pulau Nusa Penida yang sudah sering mendengar Ramuan Pak Oles dan produk Biotor melalui siaran Radio Dunia Bokashi Raya 100,5 FM dari Klungkung. Tim biotor menggaet bengkel Arta Motor, Nusa Penida, Agus Jaya Motor dan Klumpu Motor serta sebuah toko elektronik yakni Yasa Elektronik. Di bengkel rekanan itu, masyarakat Banjar Batu Munggul bisa memperoleh informasi lengkap terkait produk Biotor.

=NOVEMBER=
Branding Biotor Di Tapal Kuda

Produk Biotor menggelar road show dan branding selama seminggu di daerah tapal kuda: Banyuwangi, Jember, Lumajang, Probolinggo, Bondowoso dan Situbondo. Kualitas produk yang berkutat di bidang teknologi pengirit bahan bakar minyak kian gencar disosialisasikan tim Biotor. Konter Biotor “dadakan” dan hiburan musik dangdut dari mobil OB Van Radio Pak Oles FM 89,8 sukses menarik perhatian masyarakat sekitarnya. Apalagi saat branding di setiap cabang dan unit, tim Biotor diperkuat kepala unit dan pasukan SPG yang bergerak lincah menyambangi konsumen.

Minyak Oles Bokashi Alit Dipasarkan
Konsumen yang tinggal di pelosok-pelosok pedesaan kini sudah bisa merasakan khasiat Minyak Oles Bokashi. Industri Obat Tradisional (IOT) asal Bali ini telah memproduksi kemasan mini Minyak Oles Bokashi Alit. Produk berlabel GNW itu dapat diperoleh dengan harga yang terjangkau.

=DESEMBER=
Membuka Konter Di Purwokerto Dan Kudus
Perlahan tapi pasti tim pemasaran Ramuan Pak Oles mulai menggarap wilayah Jawa Tengah. Kantor unit pun dibuka di Purwokerto dan Kudus. Masyarakat di sekitar Purwokerto dapat membeli produk Ramuan Pak Oles di Jl. Perintis Kemerdekaan No.7, Purwokerto. Sedangkan masyarakat sekitar Kudus, dapat membeli Ramuan Pak Oles di Jl. Universitas Muria Kudus (UMK) No. 41/ VIA Kudus. Pada tahun 2009, Purbolinggo, Banyumas dan Cilacap siap disasar.
Koran Pak Oles/Edisi 165/16-31 Desember 2008

Ciuman Pembuat Tuli

thumbnail
Pasangan muda yang sedang mabuk kasmaran disarankan hati-hati dalam berkencan. Seorang perempuan muda di Cina selatan kehilangan sebagian daya pendengaran, setelah pacarnya merusak gendang telinga selama ciuman penuh nafsu yang berlebihan. Demikian laporan media local belum lama ini seperti yang dikutib Reuters.
Gadis muda dari Zhuhai yang berusia 20-an tahun, di provinsi Guangdong, Cina selatan, pergi ke rumah sakit dalam keadaan telinga kirinya sama sekali tidak dapat mendengar, tulis Cina Daily.
‘’Ciuman itu mengurangi tekanan di mulut, menarik gendang telinga ke luar dan membuat telinga jadi tuli,’’ kata surat kabar tersebut, yang mengutip pernyataan seorang dokter bermarga Li dari rumah sakit tempat gadis muda itu berobat.
Pendengaran perempuan tersebut diperkirakan akan normal lagi setelah sekitar dua bulan, kata Li. ‘’Meskipun berciuman biasanya sangat aman, para dokter menyarankan masyarakat agar melakukannya dengan hati-hati,’’ sebut surat kabar itu.
Koran Pak Oles/Edisi 165/Desember 2008

Memijit Dan Mendayung

thumbnail
Tanya:
Suami saya kadang-kadang ogah kalau diajak gituan. Padahal saya sudah siap pasang aksi, berdandan dan bergaya seksi. Tapi dia itu cuek-cuek saja. Sampai saya gregetan gitu…lho. Tapi kalau dia lagi on, dayungannya mantap. Saya tidak mengerti bagaimana caranya membuat on. Mohon saran….!
Dari: Ayu, Banyuwangi.

Jawab: Mungkin suami anda lagi capek, stres, atau jenuh, sehingga syaraf seksnya konslet. Relekkan tubuh dan pikirannya dengan pijat, dielus atau diajak ngobrol yang ringan dan yang lucu. Sentuhan, pijitan kecil dipunggung akan menenangkan syaraf. Siapa tahu dengan pijitan relaksasi bisa menegangkan syaraf anunya. Dan kalau anda lagi tampil seksi dan siap tempur, mungkin pijitan bisa berlanjut sambil mendayung sampan. Selamat memijit dan mendayung….!
Koran Pak Oles/Edisi 165/16-31 Desember 2008

Kita Perlu Jalan Baru

thumbnail
Untuk menjadi bangsa yang maju dan memiliki daya saing global, pembangunan di Indonesia memerlukan jalan baru! Carut-marut wajah reformasi selama 10 tahun terakhir menjadi bukti bahwa spirit menuju Indonesia baru masih sebatas wacana.
Agenda reformasi berantakan karena pergesekan kepentingan politik dan hegemoni kelompok aliran. Nilai-nilai Pancasila yang mengakomodir kebhinekaan dicampakkan. Perbedaan agama, budaya, adat istiadat, maupun suku kerap diperdebatkan dengan sikap batin yang jauh dari kematangan dan prinsip-prinsip kemanusiaan. Akibatnya bangsa ini mengalami kemunduran dalam menata misi kebudayaan dan kemanusiaan.
Saatnya, negara membentuk ‘dewan reformasi’ yang beranggotakan kelompok kecil lintas agama, suku dan tidak mewakili kepentingan politik partai tertentu. Mereka adalah budayawan dan filsuf yang berdiam di setiap kota/kabupaten.
Peran dewan reformasi ibarat nabi yang terus “berteriak-teriak” di jalan-jalan kebenaran. Artinya, agenda-agenda dasar reformasi di bidang pendidikan, hukum, ekonomi, politik dan pertahanan negara perlu dirumuskan dan dikawal secara strategis. Mana substansi permasalahan dari setiap bidang yang mendesak untuk diperbaharui. Mana hal-hal ideal masa lalu yang harus dipertahankan demi kemajuan bangsa.
Di bidang politik, harus diakui bahwa ada perubahan dan perbaikan amat mencengangkan di ranah demokrasi. Bila dibandingkan dengan negeri tetangga seperti Thailand dan Myanmar, kita bersyukur masih unggul dalam kematangan berdemokrasi. Namun biaya politik saat ini sangat menguras keuangan negara. Kita gagal membangun fondasi kepartaian yang kuat. Ini karena akrobat politisi di Senayan yang kerap terjebak dalam kepentingan politik temporer. Rakyat kini bingung menjatuhkan pilihan pada partai yang berjumlah puluhan itu. Bisa-bisa, pilihan rakyat pada partai tertentu karena terjebak pada “kamuflase iklan” untuk pencitraan partai.
Di bidang pendidikan selama era reformasi terjadi kemerosotan mutu pendidikan yang luar biasa. Siswa sekolah tidak terpacu lagi untuk belajar lebih gigih. Contohnya, saat ujian tiba, siswa-siswa sekolah tidak “jatuh-bangun” mempersiapkan diri. Sebaliknya, kepala sekolah dan para guru yang “pontang-panting” berpikir bagaimana agar anak didik mereka lulus ujian. Hal yang amat lucu, usai ujian kita mendengar ada kepala sekolah atau oknum guru yang dijemput polisi karena dugaan pembocoran soal ujian.
Di bidang sejarah bangsa terjadi kemunduran mahadashyat. Politik rekonsiliasi tidak berjalan lancar. Padahal sejarah masa lalu yang jelas dan terang adalah harta karun untuk membangun masa depan. Kita gagal memetakan mana sejarah kelam yang perlu diluruskan. Contohnya, generasi muda masih bingung soal fakta kelam 30 September 1965: apakah PKI sebuah partai politik saat itu punya senjata dan strategi militer untuk membunuh pucuk pimpinan militer angkatan darat yang berpengaruh saat itu? Demikian juga dosa-dosa kebijakan rezim Sukarno sampai Suharto perlu diungkapkan secara hukum, lalu dimaafkan sebagai bagian dari persoalan masa lalu. Sayang spirit reformasi ini hilang ditelan akrobat kepentingan politik. Generasi mendatang yang amat dirugikan!
Demikian pula di bidang pertahanan dan keamanan negara masih mengikuti “strategi kependudukan” militer penjajah dengan membangun pangkalan militer di Jakarta, Yogyakarta dan Surabaya. Padahal negeri ini adalah negeri kepulauan yang membutuhkan visi baru pertahanan regional. Basis-basis pertahanan militer apa salahnya ditempatkan di setiap pulau terluar di negeri ini. Dengan demikian, migrasi lokal ke pulau-pulau yang masih kosong disenergiskan dengan kebijakan transmigrasi. Rakyat merasa aman bermigrasi karena dilindungi oleh pertahanan militer.
Sementara bidang pertanian dan agroindustri yang seharusnya menjadi tulang punggung ekonomi kerakyatan tidak menjadi lokomotif perekonomian negara. Padahal dari sektor pertanianlah kita berharap tumbuh industri-industri lokal berskala nasional. Yang terjadi selama ini, Indonesia menjadi pasar produk-produk jadi pertanian dari negara lain. Ironisnya, bahan bakunya berasal dari Indonesia.
Dari catatan di atas yang masih jauh dari lengkap, agenda reformasi perlu dikawal budayawan dan filsuf, termasuk mahasiswa dan duta-duta kemanusiaan yang tersebar di berbagai kampus dan daerah! Mereka akan selalu menjaga “jalan baru” kebangkitan Indonesia.
Koran Pak Oles/Edisi 165/16-31 Desember 2008

Mitologi Sungai Gangga Dan Mitigasi Bencana

thumbnail
Oleh: Em. Lukman Hakim*
Beberapa waktu lalu umat Hindu serempak mandi di Sungai Gangga Patna India, yang merupakan salah satu dari sejumlah sungai yang disucikan (di antaranya Sungai Yamuna, Saraswati, Sindhu, Brahmaputra, Narmada, dan Kaveri). Ritual ini merupakan bagian dari kepercayaan penyucian diri berkenaan dengan festival Karthik Purnima dalam agama Hindu.
Ritual mandi di sungai Gangga menarik dicermati tidak saja karena mengandung ritual peleburan dosa (tirthayatra), tetapi lebih dari itu merupakan perlambang bagaimana penyatuan sesungguhnya antara manusia dan alam. Umat Hindu patut bersyukur karena agama Sanātana Dharma (nama lain Hindu) diturunkan di India pada sekitar 3102-1300 SM. Dapat dibayangkan jika agama terbesar ketiga ini diturunkan di Indonesia, di manakah umat Hindu akan melakukan ritual mandi suci, karena nyaris tak ada satupun sungai di negeri ini yang sepi dari bencana.
Alam Dan Manusia
Gangga dalam bahasa Sansakerta sering disebut ‘Gaṅgā’ yakni nama perempuan cantik dalam agama Hindu yang dipuja sebagai Dewi kesuburan dan pembersih segala dosa dengan air suci yang dicurahkannya. Umat Hindu percaya, jika mandi di sungai Gangga pada saat yang tepat akan memperoleh pengampunan dosa dan memudahkan seseorang untuk mendapat keselamatan.
Tak hanya itu, mereka bahkan rela menempuh perjalanan jauh untuk sekedar mencelupkan abu dari jenazah anggota keluarga ke dalam sungai Gangga. Ritual ini diyakini sebagai media untuk mengantarkan roh leluhur menuju surga. Beberapa tempat suci lain membentang di sepanjang sungai Gangga, meliputi Haridwar, Allahabad dan Benares.
Menurut sastra Hindu, Dewi Gangga merupakan ibu asuh Dewa Kartikeya (Murugan) yang sesungguhnya putera Siwa dan Parwati. Ia juga merupakan ibu Dewabrata yang dikenal sebagai Bisma dan merupakan salah satu tokoh yang paling dihormati dalam kisah Mahabharata.
Gangga disebutkan dalam RigVeda, sastra Hindu yang paling awal dan yang tersuci secara teoritis. RigVeda 3.58.6 berkata, "rumahmu yang dulu, persahabatanmu yang memberi banyak harapan, O para pahlawan, kekayaanmu berada di tepi sungai Jahnawi (JahnAvyAm)". Sloka ini diyakini merujuk kepada Gangga. Dalam RigVeda 1.116.18-19, Jahnawi dan lumba-lumba Gangga muncul dalam dua sloka yang berdekatan. Kata Gangga juga muncul dalam Nadistuti (RigVeda 10.75), yang memaparkan sungai-sungai yang membentang dari timur ke barat (Talageri, 2000).
Terlepas dari beragam penyebutan tadi, Sungai Gangga tidak saja dipercaya sebagai tempat peleburan dosa, tetapi telah nyata membawa berkah bagi seluruh rakyat India. Sebelum negara ini memiliki ekonomi yang berada dalam urutan ke-4 berdasarkan GDP dengan pendapatan sekitar AS$17,2 milyar pada 2007 dan pertumbuhan tercepat ketiga (sekitar 8%) setelah Cina (13%) dan Amerika (9,5%) yang diperoleh dari bisnis perangkat lunak dan process outsourcing, India sangat bergantung pada hasil pertanian yang bahkan menyumbang 76% dari PDB.
Seperti halnya Sungai Nil di Mesir, Lembah Indus beserta deretan sungai yang disucikan tidak saja menandai kelahiran empat agama besar; Hindu, Buddha, Jainisme, dan Sikhisme, tetapi telah berperan penting dalam memacu produktivitas pertanian. Kesuburan tanah lembah Hindustan dan keyakinan masyarakat pada sungai suci menjadi cerita awal dari kebesaran India masa kini.
Negeri Bencana
Berbeda dengan India, Indonesia yang memiliki sejumlah sungai besar yang senyatanya dapat melakukan hal sama, bahkan lebih, disibukkan dengan urusan bencana yang justru bersumber dari sungai. Setidaknya dari 33 provinsi di tanah air sebanyak 27 provinsi di antaranya rawan banjir selama 2008 dengan korban 92 orang meninggal, 9740 rumah rusak, dan 184.203 rumah terendam banjir.
Sekalipun diperkirakan puncak musim hujan baru akan terjadi pada Januari - Februari 2009, namun banjir telah melanda sejumlah daerah. Masyarakat yang tinggal di sekitar Bengawan Solo meyakini, jika pada musim kemarau air bengawan kering maka pada musim penghujan dipastikan akan terjadi banjir. Setidaknya, kekeringan yang melanda 11 provinsi pada musim lalu menjadi pertanda dimungkinkan terjadi banjir keenam sejak 1977.
Keyakinan ini sepadan dengan kepercayaan umat Hindu bahwa air sungai Gangga akan mengering pada zaman kegelapan (Kali Yuga) bersamaan dengan mengeringnya sungai Saraswati yang diikuti dengan munculnya sejumlah prahara (David Frawley, Voice of India, 2001). Sekalipun siklus dunia akan berubah dan diyakini akan sampai pada zaman kebenaran (Satya Yuga), namun tak ada catatan pasti, apakah sungai Gangga akan pulih seperti sedia kala, atau justru kebenaran dan kebatilan akan ditampakkan, sebagaimana umat Islam meyakini sebagai hari pembalasan (yaumul baast).
Tangan-tangan serakah yang memplontos hutan, baik secara legal maupun illegal, tak dapat disangkal telah menjadi sebab munculnya banjir. Ironisnya, para petinggi negeri ini justru terus menyalurkan kegemaran menanam bungalow di puncak bukit, melegalkan pengrusakan hutan untuk kepentingan pertambangan melalui UU No 19 Tahun 2004 dan PP No 2 Tahun 2008 tanpa memperdulikan akibat yang oleh Umat Hindu disebut sebagai ’Karmaphala Tattwa’ yaitu hukum sebab-akibat dalam setiap perbuatan.
Ketika banjir terjadi, istilah penyempitan DAS (Daerah Aliran Sungai) mendadak dimunculkan guna mempersalahkan warga yang tinggal di sekitar bantaran sungai. Pemerintah kemudian mencari solusi instan dengan cara memperlebar dan mengeruk sungai akibat dari proses sedimentasi. Beberapa waduk dan sudetan dibangun untuk meminimalisir terjadinya banjir. Tanpa memperdulikan nasib warga yang terusir oleh mega proyek anti banjir, pemerintah terus memohon pada lembaga keuangan asing seperti ADB, JPIC, dan ECA untuk mengucurkan dana (hutang) bagi percepatan penanggulangan banjir.
Jika DAS didefinisikan sebagai satu kesatuan ekosistem yang unsur utamanya terdiri dari sumber daya alam berupa tanah, air, vegetasi, dan manusia sebagai pelaku pemanfaat sumberdaya alam, semestinya pengelolaan DAS tidak menggunakan model watershed conservation management yang tidak menempatkan ’manusia’ sebagai bagian dari penentu keberlangsungan layanan DAS. Model yang selayaknya dikembangkan adalah water resources control and integreted management yang merupakan kesatuan antara manusia dan alam. Model ini mengarah pada terciptanya keserasian antara aspek lingkungan hidup (tata air dan tata guna tanah), aspek produksi/ekonomi (rentabilitas lahan) dan aspek sosial (manusia) yang diejawantahkan secara seimbang mulai dari hulu, tengah, dan hilir DAS.
Kondisi hutan tersisa yang secara mayoritas tidak mencapai angka ideal (30%) di wilayah Hulu DAS, perlu diprioritaskan pemulihannya dalam kerangka mitigasi bencana, dengan melibatkan masyarakat beserta kearifan lokalnya.
Masyarakat ”Kunto” Sulawesi memiliki keyakinan, barang siapa menebang pohon dengan tujuan komersil akan mendatangkan bencana bagi anak cucunya. Sementara masyarakat ”Dayak” Kalimantan percaya, jika menebang satu pohon harus menanam sepuluh pohon. Sayangnya, kearifan lokal semacam ini kerap disisihkan dalam proses penanggulangan bencana. Padahal India dengan mitologi sungai suci mampu mewujudkan keserasiaan antara kehidupan manusia dan alam.
*)Anggota BP Jatam (Jaringan Advokasi Tambang), tinggal di Jakarta.
Koran Pak Oles/Edisi 165/16-31 Desember 2008

Mencegah Kekerasan Dalam Pacaran

thumbnail
Oleh: Nurani Soyomukti*
Bukan rahasia lagi kalau pacaran menjadi ajang bagi hubungan dominasi. Dominasi bukan keintiman, tetapi penyimpangan relasi atau lebih tepatnya penindasan. Dan, dominasi adalah awal bagi terjadinya kekerasan dan penindasan. Pihak perempuanlah yang biasanya berada pada pihak yang tertindas. Mereka jadi korban kekerasan, mulai kekerasan emosional hingga kekerasan fisikal.
Kekerasan emosional, misalnya, pihak cowok seringkali memasung si cewek. Si cowok posesif dan cemburuan. Dan seringkali memaksakan keinginannya kepada si cewek, suka mengatur. Sebagaimana telah saya kisahkan dalam buku ‘Intimacy’ (2008), saya heran pada saat saya mendengar cerita dari seorang kawan perempuan. Dia punya teman, sebut saja namanya Bunga. Bunga punya seorang cowok yang sangat posesif. Bayangkan, si Bunga dilarang menyimpan no HP selain nomer si cowok, nomer orangtuanya, dan 3 orang temannya. Si Bunga tidak boleh keluar kecuali dengan si cowok dan kalau ada acara harus ijin atau memberi informasi pada si cowok.
Mendengar cerita ini saya hanya bisa menyeletuk: “Kok kayak Bapaknya saja pacarnya itu!”
Dan, menurut saya, Bunga bukan satu-satunya remaja yang jadi korban kekerasan (“fasisme” dan “kediktatoran”) dari hubungan eksklusif yang bernama pacaran. Tidak jarang juga terjadi pemerkosaan dalam pacaran. Si cewek diajak untuk melakukan kegiatan seksual, kadang dipaksa kalau tidak mau. Tidak jarang upaya untuk mendapatkan kepuasan seksual dilakukan dengan berbagai cara, mulai dari “rayuan gombal”, penipuan, hingga pemaksaan atau tindakan licik seperti memasukkan obat perangsang dalam nimuman si cewek.
Model hubungan semacam itu pada akhirnya bahkan berakibat fatal karena efek kekerasan akan mengakibatkan dampak psikologis di kalangan remaja perempuan. Para remaja perempuan yang sudah tidak perawan dan kemudian dicampakkan oleh cowoknya pada akhirnya masuk pada lubang hitam kehidupan, di mana ia sudah menganggap dirinya tak berguna. Hal itu dapat mengakibatkan si cewek terjerumus pada prostitusi. Masalahnya seks adalah kegiatan yang menyebabkan adiksi (ketagihan). Bayangkan berhubungan badan bukan atas kerelaan, tetapi karena upah, apakah itu keintiman? Keintiman yang palsu dan tak mengakar pada eksistensi. Karena keintiman itu punya perasaan yang nyaman saat bersama dalam jangka yang panjang dan ingin dirasakan dalam jangka yang panjang yang membuat psikologis nyaman mskipun hubungan seks telah berakhir. Pelacuran adalah keintiman spontan dan dipaksakan.
Kalau orang sudah pernah --atau terbiasa-- menikmati seks, ia selalu ingin mengulanginya. Kalau si cewek sudah dicampakkan oleh cowoknya, maka ia akan kebingungan dan ia ingin mencari cowok lain. Apalagi, setelah ketahuan sudah tak perawan, biasanya cewek dipandang “rendah”. Cowok mendatangi “cewek” semacam itu pasti hanya untuk mudah mendapatkan seks.
Kejijikan si cewek pada tubuhnya sendiri (yang sudah tak virgin) dan kebencian pada laki-laki (akibat pengalaman cowoknya yang “kurang-ajar”) tak jarang membuat cewek tak percaya lagi pada cinta, kepercayaan, dan kebaikan. Tubuhnya sendiripun dianggap lagi tak berguna. Ia berusaha menjual tubuhnya untuk kesenangan dan diperjualkan --dari kondisi semacam ini salah satu sebab kenapa perempuan menjadi pelacur (prostituted).
Sebagai pelacur, iapun dianggap “sampah masyarakat”. Masa depannya tergantung pada berapa harga yang diberikan oleh laki-laki yang membelinya. Tak ada lagi cinta, yang ada hanyalah jual-beli tubuh. Tidak ada gunanya (mengembangkan) pikiran. Yang ada adalah harga fisik (seks). Pemahaman semacam ini juga memicu para anak-anak muda, terutama mahasiswa, untuk mengurusi tubuh agar tampil cantik dan seksi agar mereka “berharga mahal” dalam transaksi sosial dalam relasi antar-individu. Kondisi inilah yang menyebabkan langgengnya kapitalisme seksualitas era ini, yang ditandai dengan terjerumusnya para kaum muda dalam lubang seksualitas dan ketidakpercayaan pada cinta akibat gaya pacaran yang penuh dengan kepalsuan dan bahkan kekerasan.
Banyak orang yang peduli tentang kekerasan yang terjadi di dalam rumah tangga (domestic violence), namun masih sedikit yang peduli pada kekerasan yang terjadi pada remaja, terutama kekerasan yang terjadi saat mereka sedang berpacaran (Kekerasan Dalam Pacaran/KDP atau dating violence). Rifka Annisa, sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang bergerak di bidang kesehatan reproduksi dan jender menemukan bahwa sejak tahun 1994-2001, dari 1683 kasus kekerasan yang ditangani, 385 diantaranya adalah KDP (Komnas Perempuan, 2002).
PKBI Yogyakarta mendapatkan bahwa dari bulan Januari - Juni 2001 saja, terdapat 47 kasus kekerasan dalam pacaran, 57% di antaranya adalah kekerasan emosional, 20% mengaku mengalami kekerasan seksual, 15% mengalami kekerasan fisik, dan 8% lainnya merupakan kasus kekerasan ekonomi. Data yang lebih baru menunjukkan bahwa selama 14 tahun terakhir, dari 3.627 kasus kekerasan terhadap perempuan yang terungkap, sekitar 26,60 persen di antaranya adalah KDP dan perkosaan. Meskipun frekuensinya cenderung menurun, tetapi setiap tahun kedua kasus tersebut masih tetap terjadi di DI Yogyakarta.
Selama periode 1994-September 2007, rekapitulasi jumlah kasus KDP dan perkosaan yang masuk Rifka Annisa mencapai 965 kasus. Kejadian KDP yang terungkap tiap tahun minimal 20 kasus, sedangkan perkosaan lima kasus.
KDP yang dimaksud meliputi segala bentuk kekerasan yang dilakukan oleh pasangan di luar hubungan pernikahan yang sah. Sementara itu, perkosaan adalah pemaksaan hubungan seksual dengan cara tidak wajar dan/tidak disukai hingga pemaksaan hubungan seksual dengan orang lain untuk tujuan komersial atau tujuan tertentu.
Berbagai macam efek buruk pacaran semacam itu tampaknya juga akan ikut mempengaruhi perkembangan psikologis kita. Kadang seseorang mengalami masa pacaran yang mengasyikkan dari segi keintiman sesaat yang memabukkan yang membuat mereka lupa diri. Mereka tak juga memikirkan untuk menikah karena situasi yang ada, hubungan intim seperti suami istri tanpa legalitas pernikahan, serta kesibukan yang lua biasa di luar itu, membuat mereka terlena.
Di jaman yang serba pragmatis dan diwarnai dengan kekerasan, manipulasi, serta hilangnya ketidakpercayaan, kita membutuhkan nilai-nilai yang harus dipegang dalam hubungan. Nilai-nilai dan tujuan berhubungan umumnya tak kita pahami, dan itulah yang menyebabkan kita gagal membangun hubungan, bahkan hubungan yang kita bangun seringkali retak di tengah jalan.
Hubungan yang dipaksakan atas dasar kekerasan di satu sisi, dan atas nama ketidakseriusan di sisi lainnya, merupakan relasi yang ternyata masih banyak terjadi di sekitar kita. Hilangnya independensi, ketidaktegasan dalam memilih karena hilangnya kemandirian dan ketidakberanian (takut) pada kebenaran merupakan relasi yang manipulatif.
Ketidakseriusan dalam hubungan di kalangan kaum muda ditunjukkan dengan membangun hubungan seperti ‘pacaran’ yang biasanya hanya dijalani karena ikut-ikutan, gengsi, atau merasa malu jika tidak punya pacar. Tujuan dan nilai-nilai yang seharusnya dipegang bagi sebuah hubungan yang ‘humanis’ dan ‘indah’—ternyata justru menghilang. Jadinya, hubungan yang kita jumpai dalam berbagai bentuknya dalam masyarakat kapitalis sekarang ini dalam banyak hal bersifat manipulatif, palsu, munafikn --serta menunjukkan ketidakberakaran manusia atas alam dan realitasnya. Keintiman (intimacy) telah hilang, toh kalau ada dipaksakan dan dipalsukan dalam hubungan yang artifisial yang bersembunyi dalam kedok yang bernama ‘pacaran’.
Dan pada tataran yang lebih luas, kita melihat hubungan sosial yang centang-perenang dan diwarnai kekerasan, kejahatan, sentimen kelompok yang sempit. Dan semua itu terus saja direproduksi oleh kekuasaan.
*)Pendidik dan pengelola Yayasan TABUR (Taman Belajar untuk Rakyat) Ds. Margomulyo, Watulimo, Trenggalek, Jatim.Koran Pak Oles/Edisi 165/16-31 Desember 2008

Agama Dan Kemiskinan

thumbnail
Kemiskinan yang melanda berbagai belahan dunia dewasa ini lebih disebabkan karena faktor-faktor politik dan ekonomi. Meski demikian, menurut Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin, agama turut andil yaitu terkait dengan "kegagalan" agama untuk memberi etika profetik bagi pembebasan diri dari kemiskinan.
Kemiskinan di dunia, selain bersifat kultural juga bersifat struktural. Yang pertama ikut dipengaruhi agama, sedang yang kedua karena sistem politik dan ekonomi dunia yang tidak berpihak kepada kaum miskin. Kapitalisme modern terutama madzhab neo-liberal telah menciptakan kesenjangan sosial, sehingga yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin.
Oleh karena itu dalam upaya mengentaskan kemiskinan dunia, memang agama perlu meningkatkan perannya dengan nilai-nilai etika dinamis, namun yang lebih mutlak perlu adanya sistem ekonomi ke arah yang berkeadilan. Memang kita perlu memacu pertumbuhan dalam perekonomian nasional tapi kita tidak bisa mengabaikan keadilan dan pemerataan.
Pengalaman Indonesia menunjukkan bahwa orientasi pembangunan ekonomi yang lebih berat pada pertumbuhan, telah meningkatkan angka kemiskinan dan pengangguran. Dalam bidang pertanian, umpamanya, industrialisasi telah menggusur lahan-lahan pertanian, dan pengabaian negara untuk memberikan proteksi kepada para petani telah menyebabkan mereka terpaksa jadi buruh tani.
Selain itu juga kita perlu mendorong para tokoh-tokoh agama untuk mengembangkan teologi manajemen kemiskinan dan berbuat nyata dalam pengentasan kemiskinan.
(Komentar: Rosi Sugiarto, Pondok TK AL Firdaus, BSB Jatisari Mijen, Semarang).
Koran Pak Oles/Edisi 165/16-31 Desember 2008

Banyak Perusahaan Akan ‘Turun Kelas’

thumbnail
Pengamat ekonomi, Mohamad Fadhil Hasan, memperkirakan banyak perusahaan akan turun kelas atau menyusut ukurannya dari usaha besar ke usaha menengah, dari menengah ke kecil, dan dari kecil ke mikro akibat krisis finansial global. "Akan semakin banyak perusahaan berskala UMKM karena `downsizing` dan munculnya perusahaan UMKM baru sebagai akibat PHK massal," kata Fadhil Hasan di Jakarta, Kamis (11/12).
Sehingga, papar Fadhil, beban UMKM akan semakin berat karena harus menampung tenaga kerja baru sementara produktivitas menurun. "Dari sisi ekspor, sektor yang paling terkena dampak adalah UMKM walaupun persentasenya jauh lebih kecil dibandingkan usaha besar," katanya.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2008, menunjukan, sektor UMKM dapat menyerap tenaga kerja sebesar 91 juta orang (97,3 persen) dan mampu menyumbang PDB Rp2.121,31 triliun (53,6 persen).
Sumbangan UMKM terhadap ekspor Indonesia juga tidak diragukan pada 2007 yaitu mencapai Rp142,8 triliun (20,02 persen) dengan total nilai investasi UMKM Rp462 triliun (47 persen).
Fakta itu mengharuskan banyak pihak untuk menyelamatkan sektor UMKM dari dampak finansial global.
Menurut Fadhil, harus dilakukan komprehensif "approach" untuk memberdayakan UMKM dari berbagai sisi di antaranya kelembagaan, kebijakan affirmative, dan akses UMKM.
"Perlu dioptimalkan ekspansi kredit seperti KUR dan kredit berskala UMKM," katanya.
Fadhil juga menyarankan dilakukannya perluasan sistem sub-kontrak dengan UMKM melalui skema usaha yang saling menguntungkan. "Dan yang tidak kalah penting adalah perbaikan sistem informasi dan rating UMKM," katanya yang dikutip Antara.
Koran Pak Oles/Edisi 165/16-31 Desember 2008

Fokus Garap Potensi Agroindustri

thumbnail
Pemerintah harus memfokuskan diri ke agroindustri dalam menghadapi krisis finansial global, karena agro industri memiliki keunggulan komparatif dari hulu hingga hilir.
"Hal ini merupakan pilihan yang berat karena semua keputusan sudah didominasi oleh pemilik modal di industri non agro, tetapi reorientasi itu tetap harus dilakukan," kata pengamat pertanian asal Universitas Gadjah Mada (UGM),Prof. Dr. Maksum kepada Antara.
Menurut Maksum, teknis reorientasi dari industri non-agro menjadi agro industri itu sangat mudah dilakukan, yaitu dengan reformasi kebijakan fiskal, moneter dan perdagangan.
"Ketika agro industri tidak dikebiri, maka akan memiliki keunggulan serta nilai tambah dalam hal ketenagakerjaan yang sifatnya padat karya dari hulu hingga hilir," katanya.
Selama ini, lanjut Maksum, paradigma pemerintah Indonesia sudah terlanjur salah kiblat karena terus menerus melindungi industri non agro dan menjadi ironi karena Indonesia menjadi pasar barang jadi dari produk pertanian padahal seluruh bahan bakunya berasal dari Indonesia.
"Bangsa Indonesia sudah cukup puas melakukan ekspor getah karet, perasan sawit, ikan segar, biji coklat dan lain sebagainya. Akan lebih memiliki nilai tambah bila bahan mentah itu diubah menjadi bahan siap pakai," paparnya.
Maksum melanjutkan, kegagalan proses industrialiasasi telah membuat agro industri nyaris stagnasi karena selalu menjadi anak tiri, terlebih pada saat ini proteksi moneter yang dilakukan pemerintah dalam bentuk penguatan nilai rupiah secara berlebihan telah merusak daya saing agro, bahkan di negara sendiri.
"Pemerintah memberikan segala dukungan dan kemudahan finansial bagi kapitalis permodalan, dan terus memanjakan industri berbasis impor, padahal potensi pertanian di Indonesia sangat besar dan terbukti tahan terhadap krisis dan kebijakan yang tidak berpihak padanya, " katanya.
Pilihan pemerintah terhadap sektor riil yang harus diutamakan sebagai kiblat perekonomian bangsa pada saat krisis global, kata Maksum, tidak cukup cerdas karena masih terus memilih industri yang padat modal dan seringkali merepotkan negara.
"Pemerintah harus melandaskan pemikirannya untuk memilih sektor riil dengan tepat sehingga tidak akan kembali terjebak, apalagi krisis ekonomi ini dampaknya bisa berlangsung sepanjang 2009," katanya.
Koran Pak Oles/Edisi 165/16-31 Desember 2008

Televisi Caplok 65% Biaya Iklan

thumbnail
Sebesar 65 persen dari total biaya iklan yang dikeluarkan aneka perusahaan di Tanah Air, sejauh ini diketahui "dicapok" industri pertelevisian. Sementara media massa lain seperti koran, majalah dan radio hanya kebagian sisanya yang 35 persen, kata Wina Armada, anggota Dewan Pers, di Kuta, Bali, Jumat (5/12).
Di depan peserta seminar nasional peranan pers di era multimedia dalam memperkokoh ketahanan bangsa, mantan Sekjen PWI itu menyebutkan bahwa media pertelevian begitu cepat dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi.
Kondisi itu telah menjadikan media penyiaran mendapat tempat di hati masyarakat, baik di lingkungan pemirsa maupun pengusaha, ucapnya.
Sejalan dengan itu, para pengusaha terbukti telah lebih banyak berpaling untuk menempatkan siaran iklannya pada media televisi.
Wina mengingatkan, sejalan dengan perannya yang lebih mendapat perhatian di masyarakat, media pertelevisian harus mampu meningkatkan kiprahnya dalam menjaga ketahanan bangsa dan keutuhan NKRI.
"Bila ini tidak dilakukan, kami khawatir akan muncul kelompok-kelompok masyarakat yang kurang peduli terhadap nilai-nilai luhur dalam upaya tetap mempertahankan NKRI," kata Wina yang dikutip Antara.
Seminar sehari yang digelar Persatuan Wartawan Multimedia Indonesia (Perwami) bekerja sama dengan Dewan Pers itu, diikuti sekitar 80 peserta dari sembilan provinsi di Indonesia.
Koran Pak Oles/Edisi 165/16-31 Desember 2008

Sayuran Magelang Masuk Pasar Nasional

thumbnail
Produk sayuran dari berbagai tempat di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, telah memasuki pasar berskala nasional sehingga para pelaku usaha agro di daerah itu harus mempertahankan mutu produksinya.
"Sayuran panenan petani selain dipasok untuk Magelang dan sekitarnya juga untuk pasokan antarpulau," kata Pejabat Bupati Magelang, Warsono, dalam sambutan tertulis pada Pembukaan Pasar Tani Gemilang tahun 2008 yang dibacakan Asisten Sekretaris Daerah Bidang Pemerintahan Pemerintah Kabupaten Magelang, Rohadi Pratoto, di Magelang, Sabtu (6/12).
Salah satu bukti peningkatan produk pertanian di daerah yang dikelilingi lima gunung (Gunung Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Pegunungan Menoreh) itu dengan dibangunnya dua Sub Terminal Agrinisnis (STA) yakni di Sewukan (lereng Gunung Merapi) dan Ngablak (Merbabu).
STA sebagai tempat pemasok produk sayuran dari Magelang ke berbagai daerah seperti Semarang, Yogyakarta, Purwodadi, Bandung, dan Jakarta.
Sejumlah pulau di luar Jawa yang menjadi sasaran pasokan produk sayuran dari Magelang antara lain Kalimantan dan Riau. "Baik untuk pasar tradisional maupun modern," katanya.
Ia menjelaskan, pemasaran sebagai bagian dari pengembangan agro mulai dari hulu hingga hilir, memegang peranan penting dalam sistem agribisnis.
Tetapi, katanya, aspek pemasaran masih dirasakan petani dan pelaku usaha pertanian sebagai kendala karena kurangnya informasi atas berbagai peluang agribisnis.
"Oleh karenanya dibutuhkan informasi berbagai peluang dalam agribisnis," katanya.
Ia juga mengatakan, posisi tawar petani relatif lemah antara lain karena kepemilikan lahan yang sempit, penerapan input dan teknologi pertanian yang sederhana, dan kemampuan pemasaran produk yang rendah.
Pasar Tani Gemilang, katanya, sebagai salah satu terobosan untuk meningkatkan posisi tawar petani produsen sayuran di daerah itu karena mendekatkan mereka dengan konsumen. "Pasar Tani Gemilang sebagai ajang pemasaran hasil pertanian segar maupun olahan, manfaatkan secara optimal juga untuk promosi lain supaya menarik masyarakat luas dan pelaku usaha agribisnis untuk membaca peluang pasar," katanya dilansir Antara.
Koran Pak Oles/Edisi 165/16-31 Desember 2008

Gunakan Produk Domestik

thumbnail
Nur Mahmudi
Penggunaan produk dalam negeri akan memperkuat jati diri bangsa Indonesia. "Krisis global yang melanda dunia saat ini, membuat kita harus memperkokoh diri sendiri, untuk itu gunakanlah produk dalam negeri," ajak Walikota Depok Nur Mahmudi Ismail yang dilansir Antara.
Penggunaan produk dalam negeri berarti juga ikut menciptakan lapangan pekerjaan dan membuat ekonomi rakyat menjadi kuat.
Ia meminta warga untuk tidak panik menghadapi adanya krisis keuangan global tersebut. Banyak cara yang bisa dilakukan oleh masyarakat seperti untuk tidak bersikap boros, menghindari gaya hidup mewah, mencintai produk dalam negeri dan yang tak kalah penting adalah mengembangkan sikap inovatif serta bekerja keras.
Sikap bangga akan produk dalam negeri selama ini selalu ia tanamkan setidaknya di lingkungan pemerintahannya.
Masyarakat, kata dia, harus mulai memperkokoh sikap pribadi dengan pola hidup tidak boros, seperti memilih makanan yang tepat, berkualitas, namun tidak mahal, serta mencintai produk dalam negeri sehingga bisa memberikan penghasilan kepada masyarakat Indonesia sendiri.
Menurut Nur Mahmudi, Kota Depok tidak akan terlepas dari pengaruh luar yang terkena krisis global. Negara-negara di Eropa sudah mulai terkena dampaknya, tentunya tidak terkecuali dengan Indonesia.
Untuk itu ia meminta kepada warga Depok, untuk bisa memanfaatkan potensi ekonomi yang dimiliki wilayah tersebut, untuk memperkuat sektor ekonomi keluarga.
Koran Pak Oles/Edisi 165/16-31 Desember 2008

Cleft Center FKG Unpad Tangani 10.000 Pasien CBL

thumbnail
Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung melalui cleft center telah berhasil menangani dan melakukan perawatan terhadap sekurangnya 10.000 orang penderita celah bibir dan langit (CBL), demikian Website Unpad, Jumat pekan lalu.
Perawatan terhadap sekitar 10.000 orang penderita CBL itu dilakukan bekerjasama dengan Yayasan Pembina Penderita Celah Bibir & Langit (YPPCBL) yang telah berlangsung selama periode 1979-2008, kata Dekan FKG Unpad Prof Eky Setiawan kepada Rektor Unpad Prof Ganjar Kurnia pada peresmian Klinik Kelas Pengantar Bahasa Inggris (KPBI) dan Klinik Bagian Konservasi Gigi Rumah Sakit Gigi & Mulut (RSGM) di Jalan Sekeloa Selatan, Bandung, Kamis (4/12).
FKG Unpad juga memiliki keunggulan sebagai satu-satunya yang memiliki tim bedah ortognatif di Indonesia. Dekan FKG Unpad memperlihatkan beberapa gambar yang menunjukkan proses bagaimana awalnya seseorang dengan kecenderungan rahang dan susunan gigi tidak sempurna, yang kemudian mengalami berbagai rangkaian pembedahan hingga akhirnya menjadi jauh lebih cantik.
Rektor Unpad Prof Ganjar mengapresiasi keberhasilan yang telah dilakukan sivitas akademika FKG menjelang usia ke-50 pada tahun 2009. Hal yang perlu dicermati adalah relung pasar yang dimiliki FKG, misalnya sebagai satu-satunya yang memiliki tim bedah ortognatif itulah yang perlu dikembangkan dan diunggulkan sebagai ciri khas, katanya.
Melihat berbagai fasilitas berharga mahal yang dimiliki FKG, Prof Ganjar mengimbau agar setiap fakultas juga bekerja sama dengan pihak ketiga yang tepat agar pengadaan fasilitas belajar mengajar menjadi lebih baik. Ada logo sponsor pun tidak apa.
Beberapa bagian dari Klinik KPBI ini akan dimanfaatkan oleh para dosen dan mahasiswa FKG untuk proses belajar mengajar, terutama praktikum kelas berpengantar bahasa Inggris atau mahasiswa asing. Pada bagian ruang lainnya, juga disediakan fasilitas yang dapat dimanfaatkan oleh seluruh mahasiswa FKG.
Dekan FKG, Prof Eky Setiawan menuturkan sejarah berdirinya FKG di tahun 1959, tepatnya tanggal 1 September. Ketika itu, FKG memanfaatkan sebuah rumah di kawasan Jalan Cisangkuy. Tahun 1967, FKG pindah ke Jalan Maulana Yusuf, dan selanjutnya pada tahun 1976 pindah ke Kompleks Unpad di Jalan Sekeloa Selatan. Mulai tahun 1986, FKG memulai aktivitas di Unpad kampus Jatinangor hingga kini.
Perkembangan FKG hingga tahun 2008 dengan jumlah mahasiswa seluruh jenjang yaitu sarjana, profesi, spesialis mencapai 1.170 orang dengan dosen mencapai 144 orang. Tampak perbandingan jumlah dosen dan mahasiswa berada di angka yang ideal, yaitu 1:9. Seluruh aktivitas penyelenggaraan pendidikan didukung oleh 56 orang tenaga kependidikan. Mahasiswa KPBI di FKG sendiri ada 115 orang. Pada tahun 2009 FKG juga akan bekerja sama dengan PT Univeler Indonesia untuk menyediakan ambulance perawatan gigi.
Koran Pak Oles/Edisi 165/16-31 Desember 2008

Media TV Pengaruhi Perilaku Konsumtif

thumbnail
Perilaku konsumtif remaja di Kabupaten Jember, Jatim dipengaruhi oleh media televisi, kata akademisi dari Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisip) Universitas Jember (Unej), Djoko Susilo dan Sri Yuniati dalam acara kolokuium "Hasil Penelitian Unej" yang di gelar di aula Lembaga Penelitian Unej, Jumat (5/12).
Menurut Djoko, pertumbuhan media televisi di Indonesia membawa perubahan terhadap pola penggunaan media, terutama di kalangan remaja. Banyak tayangan yang disajikan menjadi alat yang kuat untuk merubah perilaku remaja yang konsumtif.
Ia mengemukakan, tujuan penelitiannya untuk mengetahui hubungan antara pola penggunaan media televisi dan perilaku konsumtif remaja di kabupaten Jember.
Acara koloikuium Hasil Penelitian Universitas Jember dilaksanakan sejak Selasa (25/11) hingga Jumat (5/12)."Kita ingin mengukur seberapa jauh pengaruhi media TV terhadap perilaku konsumtif remaja," katanya menjelaskan
Joko menerangkan, hasil kesimpulan penelitiannya diperoleh melalui survei dari populasi remaja yang berusia 16-18 tahun di Kabupaten Jember. Pemilihan sample menggunakan "Cluster Random Sampling" dengan jumlah 100 orang. "Hasilnya menunjukkan, derajat korelasi antara pola penggunaan media televisi dan perilaku konsumtif remaja sebesar 0,48 persen," katanya.
Lanjut Djoko, terdapat hubungan positif dan signifikan antara pola penggunaan media televisi dan perilaku konsumtif remaja di Jember, dengan koefisien determinasi sebesar 0,22.
Hal ini berarti, varian yang terjadi pada variabel perilaku konsumtif remaja di Jember sebesar 22,55 persen ditentukan oleh penggunaan media dan selebihnya 77,45 persen ditentukan variabel luar. "Perilaku konsumtif remaja di Jember dipengaruhi oleh penggunaan media televisi," tegasnya seperti dilansir Antara.
Koran Pak Oles/Edisi 165/16-31 Desember 2008

Bali Jamfest 2008: Dari, Oleh Dan Untuk Bali

thumbnail
Sukses kedua kalinya dituai Pregina Enterprise yang menyuguhkan Bali Jamfest 2008, konser musik Bali paling akbar sepanjang sejarah – dari, oleh dan untuk orang Bali. Gelaran musik kolosal yang berlangsung di Stadion Ngurah Rai, (5-6/12) lalu mampu menyedot lebih dari 12.000 penonton dengan menyuguhkan lebih dari 70 musisi asal Bali seperti Superman Is Dead, Navicula, Kanan Lima, Dialog Dini Hari, Di Ubud, Lolot, Trio Kirani, Ed Eddy Residivis, Dewa Budjana, Wayan Balawan, Ayu Laksmi dan lain-lain.Suguhan musik insan Bali dengan fasilitas panggung super megah di kiri dan kanan, didukung tata suara serta tata cahaya ultra canggih, bukan sekedar fiesta – pesta hura-hura semata. Panitia penyelenggara patuh dan konsisten menjalankan sisi filantropisnya ‘yang sudah lalu, yang akan datang, yang masa depan’ dengan menyumbangkan sebagian dari hasil usaha untuk menjaga kelestarian budaya Bali.
Marketing Area Manager PT HM Sampoerna Tbk. Wilayah Bali, Wahju Adi Wahana menyatakan dengan tema 'Dari Bali Untuk Bali' yang diusung pada tahun ini, para musisi Bali merasa tertantang untuk berkreasi dalam penampilan mereka. Tidak hanya sekedar menghibur, namun memberikan makna di setiap penampilannya, terlihat sekali dari aksi mereka untuk memberikan pengalaman tak terlupakan kepada music maniacs Bali dan sekitarnya.
Agung Bagus Mantra dari Pregina menambahkan selama dua hari, antusiasme pengisi acara sangat besar, buktinya banyak sekali para musisi Bali yang ingin bergabung dalam acara ini. ‘’Kita berikan kesempatan kepada mereka untuk mewakili warga Bali dalam mengekspresikan persembahannya kepada masyarakat Bali. Begitu juga dengan semua pihak yang terlibat dalam event ini, sudah menunjukkan kepeduliannya untuk memajukan musisi asal Bali dan perkembangan industri musik,’’ pungkasnya. (YUNI)
Koran Pak Oles/Edisi 165/16-31 Desember 2008

Museum Kartun Indonesia Miliki Koleksi 800 Buah

thumbnail
Museum kartun pertama di Indonesia berlokasi di Kuta Bali, sejak diresmikan 13 Maret 2008 kini telah memiliki koleksi sebanyak 800 buah. "Kami berharap museum kartun yang pertama di Indonesia dan di Asia Tenggara ini, mampu memberi gambaran dan perkembangan kartun di tanah air," kata Direktur Museum Kartun Indonesia, A. Adelie pekan lalu kepada Antara.
Museum yang berdiri di atas lahan 1.600 m2 dilengkapi galeri kartun karya kartunis terkenal, seperti GM Sidartha, Gatot Eko Cahyono, dan Janggo Paramartha. "Koleksi museum yang dipajang dan dapat dinikmati pengunjung setiap harinya sebanyak 176 buah. Dan setiap tiga bulan sekali akan diganti dengan koleksi lain," katanya.
Di museum itu, selain menampilkan aneka peristiwa sejarah Indonesia dalam bentuk kartun, kata Adelie, para pengunjung juga dapat melihat aneka kartun para tokoh di Indonesia.
Di antaranya Presiden pertama Indonesia Soekarno, mantan Presiden Soeharto, Megawati Soekarnoputri, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, hingga tokoh perjuangan hak buruh Marsinah.
Dengan membayar tiket masuk Rp20.000 untuk dewasa dan pelajar Rp5.000 per orang, pengunjung dapat melihat aneka kartun karya beberapa kartunis, seperti para tokoh dari beberapa negara yakni Osama bin Laden, Aung San Su Kyi, Presiden Amerika Serikat George Bush, dan pemimpin Libya Mohamar Khadafi.
Secara umum, kartun yang dipajang di museum ini menceritakan perjalanan sejarah kartun di Indonesia dan peran kartunis serta karyanya dalam sejarah bangsa Indonesia dan juga dunia. "Tujuan yang ingin kita capai adalah agar kartunis dan karyanya bisa sejajar dengan pelukis dan lukisannya. Karya kartun tidak kalah pentingnya dengan karya lukis," kata Adelie kepada Antara.
Koran Pak Oles/Edisi 165/16-31 Desember 2008

Madu Geruh Atasi Badan Letih

thumbnail
Nama: Henny Widowati, 55 tahun, bekerja di Dinas Perkebunan, tinggal di Semarang.
Pengalaman:
Sebelum kenal Ramuan Pak Oles saya suka minum berbagai jenis obat-obatan untuk mengatasi setiap keluhan sakit saya. Sekarang setiap kali diserang flu atau badan letih, saya pasti mengonsumsi Madu Geruh dan Minyak Oles Bokashi. Kini anggota keluarga saya mulai minum Madu Geruh dan memakai Minyak Oles Bokashi. Kami merasakan banyak keluhan penyakit yang bisa sembuh. Ramuan Pak Oles memang nyata hasilnya.
Koran Pak Oles/Edisi 165/Desember 2008

Cegah Ketombe Pakai Minyak Oles Bokashi

thumbnail
Nama: Endang, 37 tahun, ibu rumah tangga, tinggal di Semarang.
Pengalaman:
Saat acara arisan, ada seorang SPG Pak Oles yang menjelaskan khasiat Ramuan Pak Oles. Lantas saya tertarik membeli Minyak Oles Bokashi yang banyak khasiat untuk kesehatan kulit dan penyakit dalam. Kebetulan saya mempunyai keluhan batuk dan diare. Saya langsung minuam tiga tetes Minyak Oles Bokashi dicampur segelas air hangat dan menggosokkannya di bagian perut serta kerongkongan. Terbukti khasiatnya, batuk dan diare saya bisa sembuh. Saya juga mengunakan Minyak Oles Bokashi untuk mengatasi ketombe.
Koran Pak Oles/Edisi 165/Desember 2008

Irit BBM Pakai Spontan Power

thumbnail
Nama: Wimpi Kuspian, 18 tahun, pelajar, tinggal di Desa Mangkurakyat, Cilawu, Garut, Bandung.
Pengalaman:
Motor saya Suzuki Smash lumayan boros bensin, terutama untuk perjalanan jauh. Pada suatu hari saya bertemu SPG Pak Oles yang menawarkan Spontan Power untuk mengirit bensin motor. Saya coba memasangnya pada motor Smash saya. Hasilnya luar biasa, motor saya jadi lebih irit BBM, handal dan mesinnya gak cepat rusak. Saya juga memakai Hexon vitamin oli mesin untuk perawatan kendaraan agar mesin jadi lebih awet.
Koran Pak Oles/Edisi 165/Desember 2008

Mesin Tidak Berisik Pakai Spontan Power

thumbnail
Nama: Mulyadi, 49 tahun, tinggal di Desa Mandalamekar, Cimenyan, Bandung.
Pengalaman:
Saya menggunakan produk Biotor produksi PT Pak Oles & Biotor Technology yaitu Spontan Power dan Hexon vitamin oli mesin untuk sepeda motor Astrea 800 rakitan tahun 1985. Saya merasakan keunggulan produk Biotor yaitu irit bahan bakar, pengapian stabil, mesin tidak berisik dan tenaga mesin meningkat. Dengan uang bensin Rp 10.000, motor saya bisa digunakan selama lima hari perjalanan dari rumah ke kantor. Saya juga mengonsumsi Madu Jamur dan Madu Geruh agar stamina tetap fit.
Koran Pak Oles/Edisi 165/Desember 2008

Wasir Sembuh Pakai Minyak Oles Bokashi

thumbnail
Nama: Akhmad Sahuri, 69 tahun, aparat desa, tinggal di Desa Ngamplang, Cilawu, Garut, Bandung.
Pengalaman:
Selama bertahun-tahun saya mengalami penyakit wasir (ambeien) yang tak kunjung sembuh. Padahal saya sudah mengonsumsi berbagai macam obat. Beruntung saya mendapatkan Minyak Oles Bokashi. Alhamdulillah, setelah saya minum dan mengoleskan minyak itu di tempat wasir, penyakit tersebut berangsur sembuh.
Koran Pak Oles/Edisi 165/Desember 2008

Badan Segar Minum Madu Jamur

thumbnail
Nama: Seti Yasih, 55 tahun, PNS, tinggal di Janggli Tlawah, Candisari, Semarang.
Pengalaman:
Pekerjaan di kantor menumpuk setap hari. Akibatnya, badan saya sering kaku dan kecapean. Mungkin juga karena kebanyakan duduk dan kurang olah raga. Saya juga mempunyai gejala wasir. Saya coba minum Madu Jamur dan mengolesi badan saya dengan Minyak Oles Bokashi setiap hari. Badan saya segar kembali. Begitu juga wasir yang sering saya olesi pakai Minyak Oles Bokashi lama-kelamaan sembuh.
Koran Pak Oles/Edisi 165/Desember 2008

Nyeri Punggung Sembuh Berkat Minyak Oles Bokashi

thumbnail
Nama: Nining Herawati, 30 tahun, tinggal di Bandung.
Pengalaman:
Punggung dan lutut saya sering sakit dan nyeri. Apalagi kalau saya berkerja berat terasa capek sekali. Saya mulai mengoleskan Minyak Oles Bokashi secara rutin pada punggung dan lutut yang sakit. Selang dua hari, keluhan yang saya rasakan selama ini langsung sembuh total. Saya juga minum Madu Jamur untuk mengatasi asam urat serta Krim Saribing dan Masker Madu Hitam untuk menghilangkan flek hitam pada wajah saya.
Koran Pak Oles/Edisi 165/Desember 2008

Madu Rocky Untuk Perokok

thumbnail
Nama: Kusnadi, 45 tahun, pekerjaan driver, tinggal di Semarang.
Pengalaman:
Saya sempat mengalami sakit dada dan batuk sampai mengeluarkan dahak. Mungkin ini akibat saya sering merokok. Sudak berbagai macam obat saya coba minum, namun belum ada hasilnya. Untung saya mendapatkan solusi yaitu Madu Rocky khusus untuk perokok. Dalam empat bulan terakhir ini saya rutin minum Madu Rocky. Ada perubahan yang saya rasakan. Badan terasa sehat dan bugar.
Koran Pak Oles/Edisi 165/Desember 2008

Bali Pilih Pariwisata Basis Ekonominya

thumbnail
Adanya pemekaran wilayah di Sunda Kecil pada tahun 1958 secara tidak sengaja Bali memilih pengembangan sektor pariwisata sebagai basis perekonomian daerah dengan mengandalkan seni budaya dan pesona alamnya, kata Ketua Lembaga Penelitian Universitas Nusa Cendana Kupang, NTT Dr Fred Benu.
Ia menilai pilihan Bali saat itu tidak salah, terbukti kemajuan ekonomi Bali mengalami perkembangan pesat melampaui dua provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Ketika Bali, NTB dan NTT masih tergabung dalam satu Provinsi Sunda Kecil sebelum tahun 1958 memiliki akses insfrastruktur yang relatif tidak jauh berbeda satu sama lainnya.
Namun setelah terpisah, Bali memiliki ekspektasi besar tentang kekuatan daya dorong pariwisata daerah. "Tampaknya pengembangan sektor pariwisata daerah tidak bersinergi secara konstruktif dengan pengembangan insfrastruktur khususnya transportasi di NTB dan NTT," kata Dr Fred Benu.
Bahkan pengembangan infrastruktur diintegrasikan dengan sektor non pariwisata khususnya bidang pertanian, baik di NTB maupun NTT.
Bali sendiri sejak awal tidak mengalami hambatan yang berarti dengan infrastruktur sektor pertanian dengan sistem subak yang sudah melembaga dan berkembang secara baik. "Sebenarnya tidak ada salah dengan pilihan pengembangan insfrastruktur transportasi yang diintegrasikan dengan bidang pertanian, sesuai basis ekonomi masing-masing daerah," katanya.
Pengembangan infrastruktur jalan dan transportasi menjadi keharusan bagi dinamika ekonomi suatu wilayah. Pendekatan kebijakan tersebut belum cukup karena masih memerlukan adanya kebijakan penguatan sumber daya manusia.
Selain itu adanya kesiapan menghadapi keterbukaan pasar dan persaingan yang semakin ketat. Pendekatan tersebut kurang dilakukan Pemerintah NTT dan NTB beserta seluruh pemangku kepentingan lainnya.
Dengan demikian tatanan sosial-ekonomi masyarakat kurang akomodatif terhadap tuntutan perubahan, berbeda halnya dengan Bali yang sejak awal sudah memilih sektor pariwisata sebagai lokomotif pengembangan ekonomi, sehingga betul-betul siap, bahkan mampu bersaing dengan daerah tujuan wisata di mancanegara, ujar Fred Benu. (Beny Uleander/Ant) Koran Pak Oles/Edisi 165/16-31 Desember 2008

BIL Berada Di Jalur "Golden Triangle"

thumbnail
50 Tahun Sunda Kecil
Pembangunan Bandara Internasional Lombok (BIL) dalam tahap kontruksi yang diharapkan bisa beroperasi mulai September 2010. Dari segi geografis, kehadiran bandara tersebut cukup strategis karena berada pada "Golden Triangle" destinasi wisata utama dunia. "Bali ada di sebelah barat. Pulau Komodo di timur dan Tana Toraja, Sulawesi Selatan ada di sebelah utara yang mudah dijangkau dengan penerbangan yang tidak begitu lama," kata Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) H.M. Zainul Majdi, M.A. ketika tampil sebagai pembicara dalam seminar "50 Tahun Sunda Kecil Berlalu" di Kuta, Rabu (10/12).
Selain itu juga didukung dengan mengembangkan kawasan pariwisata Pantai Putri Mandalika di Lombok Tengah di atas lahan 1.250 hektare. "Pembangunan bandara yang disinggahi pesawat berbadan lebar akan memacu pertumbuhan ekonomi, pengembangan wilayah, dan menggerakkan sektor-sektor produksi," kata Gubernur Zainul.
Pembangunan bandara internasional tersebut, tambah Gubernur Zainul Majdi, diimbangi dengan sarana dan prasarana pendukung sebagai daerah tujuan wisata.
Kawasan pariwisata tersebut dikelola dua perusahaan untuk menjadikan daerah tersebut berkelas dunia. "Tahapan kontruksi pengembangan kawasan wisata tersebut direncanakan tahun 2009 untuk sarana pendukung pariwisata maupun infrastrukturnya," katanya.
Ciptakan Pariwisata Terpadu
Sementara Gurubesar Fakultas Ekonomi Universitas Udayana Prof Dr I Nyoman Erawan menilai transportasi udara dan laut perlu mendapat prioritas dan penanganan secara tuntas, jika ingin menciptakan industri pariwisata terpadu antara daerah tujuan wisata Pulau Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT).
"Pemerintah pusat mempunyai peran sangat strategis mewujudkan pariwisata terpadu di tiga propinsi bekas wilayah Propinsi Sunda Kecil," kata Nyoman Erawan di Denpasar.
Ia mengatakan, peran pemerintah pusat sangat penting dalam membuka akses transportasi darat, udara dan laut, sekaligus mempercepat pembangunan daerah tertinggal. "Terwujudnya industri pariwisata terpadu sekaligus mampu meningkatkan pemerataan kunjungan wisatawan yang selama ini ke Bali untuk melanjutkan perjalanan ke NTB dan NTT," ujar Erawan.
Meski demikian perlu kajian secara lebih mendalam termasuk berbagai aspek lainnya dalam mengembangkan pariwisata terpadu tiga propinsi antara Bali, NTB dan NTT.
Hasil kajian tersebut menjadi dasar dalam menyusun rencana pengembangan industri pariwisata yang kini sangat diharapkan NTB dan NTT dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan tingkat kesejahteraan masyarakat.
Ia mengatakan, perekonomian Bali yang digerakkan oleh industri pariwisata telah mampu mengubah dengan cepat struktur ekonomi dari agraris ke sektor jasa. Peran sektor tersier sangat dominan, yakni mencapai 63,03 persen dan kesempatan kerja 42,01persen.
Kondisi ekonomi Bali menunjukkan, NTT semakin ketinggalan dibanding Bali dan NTB. Bali pada 1971 ketika struktur ekonomi bersifat agratis tingkat pendapatan perkapita 70 dolar AS, meningkat menjadi Rp11,18 juta pada 2007.
Sedangkan pendapatan perkapita masyarakat NTB sekarang baru Rp7,3 juta dan NTT hanya Rp3,6 juta, bahkan 60 persen dari 4,4 juta jiwa penduduknya berada di bawah garis kemiskinan. (Beny Uleander/Ant)
Koran Pak Oles/Edisi 165/16-31 Desember 2008

NTT Jangan Tiru Pariwisata Bali

thumbnail
50 Tahun Sunda Kecil
Dalam memacu pembangunan untuk mensejahterakan masyarakat, pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) lebih bijak menitikberatkan pembangunan pertanian, bukan meniru Bali dengan pariwisatanya. Hal ini dikemukakan Gurubesar Fakultas Pertanian Universitas Udayana Prof Dr I Wayan Windia pada seminar "50 Tahun Sunda Kecil Berlalu" di Kuta, Bali, Rabu (10/12).
"Dalam mengangkat tingkat kesejahteraan masyarakat tidak perlu meniru Bali dalam pengembangan pariwisata, meskipun Bali cukup sukses dengan pariwisatanya," kata Prof Windia.
NTT dan NTB memiliki potensi besar dalam bidang pertanian harus digarap secara maksimal untuk dalam mengatasi masalah kemiskinan. "Pengembangan pertanian dalam arti luas di sektor primer mampu meningkatkan pendapatan lima kali lipat dibanding menggarap sektor sekunder," ujar Prof Windia.
Oleh sebab itu kelembagaan yang menghimpun dan mewadahi petani harus diperkuat seperti halnya subak di Bali.
Pembangunan sektor pertanian dalam arti luas harus mendapat prioritas, tanpa mengenyampingkan aspek-aspek pembangunan lainnya.
Sementara Gubernur NTT Drs Frans Lebu Raya mengatakan, berbagai kendala dan hambatan yang dihadapi dalam memacu pembangunan, masih mempunyai harapan dan peluang untuk berkembang lebih baik di masa mendatang.
Pemerintah bersama masyarakat terus berjuang mengurangi berbagai keterbatasan. Peluang lebih baik menyangkut bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan, insfrastruktur, tata ruang dan aspek pembangunan lainnya.
Bali, NTB dan NTT sebelumnya menjadi satu-kesatuan yang tergabung dalam Provinsi Sunda Kecil. Pemerintah pusat Sejak tahun 1958 atau 50 tahun silam memisahkannya menjadi tiga propinsi.
Dalam perkembangannya dari tiga propinsi tersebut Bali dengan pariwisatanya mengalami perkembangan pesat dengan tingkat pendapatan per kapita mencapai Rp10,8 juta. Sedangkan pendapatan per kapita masyarakat NTB baru Rp7,3 juta dan NTT hanya Rp3,6 juta, bahkan 60 persen dari 4,4 juta jiwa penduduknya berada di bawah garis kemiskinan. (Beny Uleander/Ant)
Koran Pak Oles/Edisi 165/16-31 Desember 2008

Nusra Simpan Banyak Persoalan

thumbnail
50 Tahun Sunda Kecil
Kawasan Nusa Tenggara dahulu bernama Provinsi Sunda Kecil dengan Singaraja sebagai ibukotanya. Kini Nusa Tenggara yang terdiri dari Bali, NTB dan NTT memerlukan perhatian yang sungguh-sungguh, karena menyimpan banyak persoalan, potensi sekaligus berkah jika mau dipahami dan digarap secara cermat, ungkap Prof. Dr. I Gde Parimartha.
"Kita berharap Sunda Kecil yang kini terdiri atas Bali, NTB dan NTT dipahami secara benar potensi dan keberadaannya, sekaligus dikembangkan secara sinergis sebagai bagian dari NKRI," kata Guru Besar Fakultas Sastra Universitas Udayana.
Ia mengatakan, secara antropologis kepulauan Nusa Tenggara dihuni beragam suku bangsa, bahasa dan tradisi yang berbeda-beda. Bali, misalnya, dihuni penduduk mayoritas suku Bali, Lombok suku Sasak, Bugis, Mandar, Melayu, Sumbawa suku Tau Semawa, Flores penduduk campuran Melayu, Papua, suku Solor yang bercampur dengan orang Timor Portugis.
Sementara di Timor terdapat orang Timor yang lebih menunjukkan ciri Melanesia dan orang Belu dengan ciri Melayu. Ciri Melanesia yang kuat nampak pada orang-orang Atoni Timor (di Timor Tengah) yang secara fisik ciri-cirinya dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yakni tipe Papua dan Negrito.
Parimartha menambahkan, hubungan suku-suku tersebut telah berjalan sejak lama dan terjadi komunikasi dan hubungan yang saling menguntungkan satu sama lainnya.
Berbagai hasil pertanian maupun perikanan laut diperdagangkan ke pulau-pulau kecil yang ada di sekitarnya dan kondisi tersebut membawa daya tarik bagi kedatangan orang di luar Sunda Kecil.
Namun pada perkembangannya sekarang Nusa Tenggara Barat dan Timur masih ketinggalan dibanding daerah lainnya di Indonesia, khususnya dibandingkan Bali dan Jawa.
Dalam era otonomi daerah NTT dan NTB perlu mendapat perhatian lebih besar dari pemerintah pusat, disamping kemampuan dari masing-masing pemkab, pemkot dan pemprov di daerah tersebut, ujarnya.
Pariwisata Berkembang Bervariasi
Sektor pariwisata Bali, NTB dan NTT, bekas provinsi Sunda Kecil sebelum dimekarkan 50 tahun silam, kini masing-masing mengalami perkembangan dengan intensitas yang bervariasi.
"Pariwisata Bali berkembang signifikan, bahkan menjadi `icon` pariwisata nasional, namun dua saudara kembarnya NTB dan NTT masih jalan tertatih-tatih dengan segala keterbatasan," kata Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Mataram Dr Prayitno Basuki.
Ia mengatakan, sejumlah indikator ekonomi, sosial dan budaya menunjukkan fenomena ketimpangan perkembangan pariwisata di ketiga provinsi tersebut.
Salah satu indikator tersebut menyangkut insfrastruktur penunjang pariwisata, transportasi, akomodasi, informasi pariwisata, sarana dan prasarana penunjang.
Indikator lainnya yang sangat mempengaruhi perkembangan pariwisata menyangkut kebersihan dan kesehatan.
Bali sejak adanya pemekaran wilayah Provinsi Sunda Kecil pada tahun 1958 secara tidak sengaja memilih pengembangan sektor pariwisata sebagai basis perekonomian daerah dengan mengandalkan seni budaya dan pesona alamnya.
Kondisi itu menyebabkan pariwisata Bali mengalami perkembangan pesat, berbeda dengan NTB dan NTT yang 50 tahun silam sama-sama bergabung dalam satu wilayah yaitu Provinsi Sunda Kecil.
Prayitno Basuki dalam makalah berjudul "Kesenjangan infrastruktur pariwisata kawasan Nusa Tenggara" pada seminar "50 tahun Sunda Kecil berlalu" mengungkapkan, meskipun pariwisata NTB dan NTT belum berkembang seperti yang diharapkan, hingga saat ini belum ada satupun pemerintah kabupaten/kota yang mendukung kebijakan dan alokasi anggaran berpihak pada pariwisata.
Alokasi dana untuk promosi pariwisata tidak sebanding dengan pendapatan asli daerah (PAD) yang bersumber dari sektor pariwisata.
Ia mencontohkan, Lombok Barat dengan PAD sebesar Rp 18 miliar per tahun hanya mengalokasikan dana untuk pembangunan bidang pariwisata Rp2 miliar atau sekitar 15 persen dari potensi pemerimaan bidang pariwisata.
Untuk meningkatkan perkembangan pariwisata NTB dan NTT dengan harapan bisa mengikuti kemajuan pariwisata Bali perlu pengembangan insfrastruktur pariwisata jangka menengah yang didasarkan atas hasil kajian akademik yang profesional, ujarnya.
Lebih lanjut ia menambahkan, perlu memaksimalkan kerjasama antar kawasan pariwisata, baik menyangkut promosi maupun pelayanan, disamping meningkatkan dukungan pemerintah propinsi, kabupaten/kota terhadap pengembangan pariwisata.
Selain itu membangun insfrastruktur pariwisata secara holistik yang mampu meningkatkan pelayanan kepada wisatawan, harap Prayitno Basuki. (Beny Uleander/Ant)
Koran Pak Oles/Edisi 165/16-31 Desember 2008

Bangunan Cagar Budaya Jadi Pusat Bisnis

thumbnail
Banyak benda cagar budaya yang memiliki kekayaan historis, arsitektur kolonial, dan budaya di Indonesia berubah fungsi menjadi pusat bisnis, seperti hotel, perkantoran maupun pusat perbelanjaan.
Ini terjadi, akibat hukuman yang ringan yaitu penjara 10 tahun dan denda Rp100 juta, membuat banyak benda cagar budaya berubah fungsi dan situs sejarah berpindah ke tangan kolektor kaya, kata Edi Burhan, dosen dari Fakultas Sastra dan Sejarah Universitas Jember di Banyuwangi, Rabu, 10/12.
Misal, penjara Suka Miskin di Bandung yang sekarang berubah menjadi mal. Padahal di penjara tersebut, pernah mendekam para pahlawan kemerdekaan. Satu diantara tokoh yang pernah merasakan pengapnya penjara tersebut adalah Bung Karno.
Edi menambahkan, generasi muda juga tidak mengetahui lagi rumah Laksamana Tadeshi Maeda. Rumah tersebut sarat nilai sejarah, karena pernah dijadikan tempat merumuskan teks proklamasi. Belum lagi gedung Pelni dan BPD Makassar juga berubah menjadi pusat bisnis.
Rumah residen Besuki di Besuki, Situbondo yang dibangun sekitar tahun 1700-an, saat ini dikuasai Polres setempat beralih menjadi sarang burung walet.
Ironisnya, beberapa batu bata merah yang berukuran tebal sudah hilang. "Mungkin dijual oleh oknum, karena ingin mendapatkan banyak uang," kata Edi berasumsi.
Salah satu pemilik "supermarket" ingin menyulap penjara Jember menjadi mal. Bangunan yang dibuat sekitar tahun 1880 yang lokasinya strategis di depan alun-alun, menurut pemilik modal besar,sangat ideal untuk usaha perdagangan.
"Namun, berkat usaha Fakultas Sastra dan Sejarah Unej menggelar seminar cagar budaya dan melakukan dengar pendapat dengan DPRD Jember, berhasil menggagalkan rencana alih fungsi rumah tahanan Jember jadi mal," katanya dikutip Antara.
SMP Negeri 3 Surabaya yang berada di jalan Praban yang merupakan bangunan cagar budaya hingga kini tetap bertahan. "SMP ini dibangun sekitar abad XIX. Banyak siswa SMP ini yang ikut bertarung melawan penjajah dalam perang 10 November 1945," katanya menambahkan.
Banyuwangi memiliki benda dan situs bersejarah. Misalnya, situs Umpak Songo di Muncar diduga dibangun pada abad XIII. Situs ini merupakan peninggalan Wirabhumi.
Sedangkan topeng barong Kemiren yang dibuat ratusan tahun lalu hingga kini masih terawat, karena dikeramatkan oleh penduduk. Topeng ini hanya dipakai saat acara sedekah bumi atau ider bumi. "Bila tidak dikeramatkan, mungkin saja akan digunakan menjadi topeng monyet," kata Edi bergurau.
Upaya untuk melestarikan cagar budaya, menurut Edi, segera membentuk tim peneliti dan pelestarian situs Blambangan dan cagar budaya di Banyuwangi. Melakukan inventarisasi bangunan bersejarah dan studi lapangan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Kemudian bangunan bersejarah dibuatkan Perda. Terakhir, tim pelestarian situs dan bangunan cagar budaya mengusulkan situs budaya lokal berubah menjadi situs budaya nasional.
Koran Pak Oles/Edisi 165/16-31 Desember 2008

Ditemukan 5 Spesies Ikan Di Perairan Nusa Penida

thumbnail
Lima spesies ikan baru ditemukan di Nusa Penida, Bali dalam Program Marine Rapid Assessment Nusa Penida. Kelima spesies ini sebagian besar adalah ikan karang berukuran kecil dengan pola warna yang unik.
"Dalam penelitian di perairan Nusa Penida selama 10 hari akhir bulan November lalu, kami menemukan beberapa spesies baru, dan kini dalam penelitian lebih lanjut," kata Direktur Program Marine Conservation International Indonesia, Ketut Sarjana Putra kepada Antara.
Putra juga mengatakan perairan Nusa Penida memang telah lama diprediksi memiliki kekayaan bahari yang melimpah. Hal ini karena Nusa Penida berada di antara dua samudra yakni India dan Pasifik.
Kelima spesies baru ini ditemukan saat dilakukan Program Marine Rapid Assessment Nusa Penida. Program ini awalnya melakukan inventarisasi keanekaragaman karang, ikan karang, moluska dan ekinodermata serta kondisi oseanografi di perairan Nusa Penida. Namun ternyata para peneliti dikejutkan dengan temuan emas spesies ikan baru ini.
"Saya sangat bersemangat dan penasaran akan spesies yang baru ditemukan ini. Saya ingin segera menelitinya lebih lanjut," kata ahli ikan dunia dari Amerika Serikat, Gerald Allen.
Kelima ikan yang ditemukan antara lain Chromis sp., Priolepis 33 sp., Priolepis 11 sp, Pseudochromis sp., dan Trimma sp.
Gerald Allen mengatakan spesies ikan yang ada di perairan Nusa Penida adalah campuran dari spesies ikan di Samudera Hindia dan Pasifik, bahkan sering ditemukan spesies hasil persilangan ikan dua samudera. Hal ini membuat Nusa Penida menjadi lokasi yang unik secara ekologi.
Gerald Allen mengatakan dirinya yakin 90 persen, kelima spesies ikan yang ditemukan adalah spesies baru namun ia masih memerlukan penelitian lebih lanjut.
"Saya sudah cukup lama berkecimpung di dunia ini. Dengan melihat langsung, saya cukup yakin spesies ini adalah spesies baru. Tapi karena ukurannya kecil maka perlu penelitian secara ilmiah," kata Allen.
Gerald Allen mengatakan satu ciri yang membuatnya yakin kelima spesies ini adalah pola warna yang berbeda yang dimiliki ikan tersebut. Namun untuk penelitian lebih lanjut, Allen akan meneliti ciri-ciri spesies itu seperti skala, sirip, proporsi tubuh, tulang sirip dan bentuk ekor.
Nusa Penida merupakan gugusan tiga pulau kecil yang terletak di tenggara Pulau Bali, yaitu Nusa Penida, Lembongan dan Ceningan.
Program Marine Rapid Assessment Nusa Penida merupakan suatu kajian cepat mengenai kondisi keanekaragaman hayati ekosistem pesisir dan laut di Nusa Penida.
Program Marine Rapid Assessment Nusa Penida terlaksana berkat kolaborasi CI-Indonesia dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Kementerian Negara Riset dan Teknologi, Balai Riset Kelautan dan Perikanan Departemen Kelautan dan Perikanan, The Nature Conservacy, yang didukung oleh Balai Konservasi Laut Daerah, Southeast Asia Center for Ocean Research and Monitoring (SEACORM), Pemerintah Provinsi Bali, Pemerintah Kabupaten Klungkung, Yayasan Bahtera Nusantara, Universitas Udayana dan Universitas Warmadewa.
Koran Pak Oles/Edisi 165/16-31 Desember 2008

Warisan Budaya Batik Perlu Dihakciptakan

thumbnail
Untuk melindungi pembatik dan menjaga motif-motif batik tradisional Indonesia, maka perlu segera dikeluarkan pengukuran atau standardisasi hak cipta atas hasil karya busana batik dan motif batik.
Namun batik sebagai warisan budaya harus tetap dapat dimiliki masyarakat umum, kata pengusaha batik Indonesia, Josephine Komara pada Konferensi Internasional HAKI ke-2 di Nusa Dua, Bali, pekan lalu.
"Selembar batik memiliki hak intelektual dari si penciptanya. Maka untuk itu diperlukan standardisasi melalui HAKI bagi para desainer batik atau pencipta motif batik itu sendiri," kata pengusaha yang biasa disapa Bu Bin atau Obin itu.
Apalagi jerih payah seorang pencipta tidak ada harganya sama sekali saat mengetahui ciptaannya ditiru pihak lain tanpa seizin si pencipta. Obin sendiri mengaku pernah mengalami kenyataan buruk, yakni baju dan selendang (scarf) ciptaannya ditiru perancang terkenal dunia.
"Pengalaman di Jepang, ada gadis yang mengenakan ciptaan saya. Pertama kali saya merasa terharu. Tetapi setelah melihat label yang digunakan, saya kaget, karena bukan label saya," kata Obin.
Menurut dia, batik telah ada di Nusantara secara turun-temurun dan merupakan warisan budaya bangsa Indonesia. Motif dan desain batik beragam dan berbeda-beda di setiap daerah. Karena merupakan warisan budaya, maka batik agak sulit untuk diklasifikasikan dalam HAKI.
Karena itu motif batik yang telah turun-temurun ada di masyarakat, sebaiknya diklasifikasikan khusus dan dinamakan warisan budaya bersama. Ia mengusulkan motif-motif tradisional batik sebaiknya diklasifikasikan sebagai hak cipta dari leluhur.
Konsep ini, menurut Obin, lebih bermakna simbolik, etnik dan mempunyai nilai moral yang tinggi. Sedangkan teknik membatik secara tradisional sebaiknya diklasifikasikan sebagai pengetahuan bersama.
Namun apabila seorang pembatik menciptakan baju dengan motif baru, maka ia berhak menghakciptakan karyanya. Hak cipta untuk sebuah desain baru adalah sebuah keharusan. "Saya selalu yakin bahwa hak cipta merupakan bentuk dasar penghormatan bagi intelektualitas dan cara pandang seseorang," tambah Obin seperti dilansir Antara.
Koran Pak Oles/Edisi 165/16-31 Desember 2008

Devisa Pariwisata Capai 91 Triliun

thumbnail
Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) tahun 2008 diperkirakan 6,3 juta, jumlah itu lebih rendah dari yang ditargetkan dalam tahun kunjungan wisata (Visit Indonesia Year) sebanyak tujuh juta wisatawan.
"Dari jumlah kunjungan itu, Indonesia setidaknya menerima devisa dari pariwisata sebesar Rp7,4 miliar dolar AS atau lebih dari Rp91 triliun," kata Direktur Jenderal Pemasaran Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, Sapta Nirwandar saat menghadiri "Indonesia MICE Corporate Travel Mart 2008", di Kuta, Jumat, 5/12.
Jumlah devisa dari sektor pariwisata tersebut diperoleh dengan mengalikan jumlah wisman dan pengeluaran rata-rata wisman per kunjungan.
"Hasil penelitian yang kita lakukan `spending money` wisman per kunjungan mencapai 1.178 dolar AS," katanya.
Belanja tamu asing 2008 meningkat cukup signifikan, dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya 976 dolar AS.
Tahun 2007, jumlah penerimaan devisa dari sektor pariwisata hanya mencapai jumlah 5,3 miliar dolar AS. Ada peningkatan devisa dibandingkan tahun 2007 sebesar 2,1 miliar dolar AS.
"Kita memang tidak bisa mencapai target jumlah kunjungan, namun cukup bangga dengan devisa yang kita terima dari sektor pariwisata," katanya.
Pertumbuhan Pariwisata Dunia Hanya 4%
Sementara laporan Antara menyebutkan krisis ekonomi global mulai menggoncang pertumbuhan industri pariwisata. World Tourism Organization (WTO) memperkirakan 2009 akan terjadi pelambatan pertumbuhan jumlah kunjungan wisatawan di dunia hanya empat persen.
"Asia Tenggara pertumbuhan hanya 6,2 persen, sedangkan Indonesia masih optimis di atas 10 persen," kata Direktur Meeting, Incentive, Conference and Exhibition (MICE) Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Nia Niscaya di Denpasar, Kamis (4/12) lalu.
Nia mengatakan, krisis global yang melanda dunia tentu akan berdampak terhadap sektor pariwisata khususnya MICE. Sesuai perkiraan WTO akan terjadi pelambatan terhadap jumlah kunjungan wisata dunia. Perkiraan WTO untuk Asia Tenggara semula adalah 12,4 persen, namun akibat krisis direvisi menjadi hanya 6,2 persen.
"Pertumbuhan jumlah kunjungan 2008 hingga bulan Oktober lebih dari 13,5 persen. Kita belum bisa memprediksi pertumbuhan 2009 dengan jelas, namun menunggu data hingga akhir Desember," katanya di sela pembukaan Indonesia MICE and Corporate Travel Mart 2008 di Hotel Aston Denpasar awal pekan lalu.
Pemerintah pusat tampaknya akan menggunakan sejumlah skenario sesuai estimasi pertumbuhan yang dikeluarkan WTO sebanyak empat hingga enam persen. Walau di tengah kekhawatiran dunia ada harapan, sebab PATA menyatakan kondisi pariwisata Indonesia masih cukup bagus.
"Kami masih memiliki optimisme terhadap pasar MICE. Dari jumlah permohonan dukungan kegiatan ada peningkatan yang cukup banyak. Bahkan ada peningkaan sekitar 50 persen dibandingkan tahun lalu," ucapnya.
Tahun lalu Direktorat MICE memberikan dukungan kepada 66 kegiatan. Total kegiatan yang masuk dalam data Direktorat MICE 420 kegiatan nasional dan 209 internasional.
Lebih lanjut Nia mengatakan, tahun 2008 MICE didanai oleh pemerintah sebesar Rp24 miliar, sementara untuk mendukung event dana yang dialokasikan sekitar Rp15 miliar. Kontribusi MICE terhadap total kunjungan mencapai 41,2 persen pada tahun 2007.
"Kita perkirakan tahun 2008 kontribusi MICE lebih besar dibanding dengan tahun 2007 lalu," ucapnya.
Sementara Panca Rudolf Sarungu dari Raja MICE mengatakan, total peserta IMCTM 2008 sebanyak 110 resort, tempat konvensi dan penyedia fasilitas MICE yang bertindak sebagai seller.
"110 perusahaan yang ikut merupakan bagian dari 200 top anggota American Express Corporate Business dari Singapura, Malaysia, India dan Indonesia," katanya.
Koran Pak Oles/Edisi 165/16-31 Desember 2008

Mata Minus Bisa Melahirkan Normal

thumbnail
Oleh: Wayan Nita
Gangguan penglihatan memang menganggu semua aktifitas. Pengobatan yang disarankan bagi penderita rabun jauh (mata minus) hanya dengan menggunakan kacamata. Aktivitas menjadi terbatas dengan menggunakan kacamata. Penampilan pun menjadi kurang menarik dengan aksesoris pengobatan ini. Kecenderungan semakin lama minus pada mata akan semakin meningkat. Hanya pada minus kecil saja yang bisa disembuhkan, itu pun tidak 100%.
Pada wanita dengan minus tinggi (diatas 4) lebih berresiko terjadinya perlukaan pada mata (Ablatio Retina). Perlukaan ini dapat menyebabkan retina robek, lepas atau terkelupas, yg biasa terjadi akibat kehamilan dan persalinan. Tapi menurut dr Indah, Sp.M, dokter yang bertugas di poli mata RSUP Sanglah ini, tidak semua wanita mempunyai resiko retina robek. Wanita dengan minus tinggi tidak perlu khawatir untuk melahirkan anak secara normal. Tentu, selama hamil harus mendapat perhatian dokter kandungan dan dokter mata.
Robekan pada retina, kata dokter yang diakrabi dr Iin itu, rentan terjadi pada penderita mata minus 4 sampai 7, sedangkan di atas minus 7 justru jarang kena. Selain itu, pernah mengalami benturan keras di mata, memiliki riwayat keluarga yang menderita retina robek. Tapi, sebut ibu dua anak ini, ada metode penanggulangan untuk menangani robek pada retina mata, yakni melalui operasi. Jika masa kehamilan ditemukan gejala penipisan maka dilakukan dengan bantuan forcep, saat kepala janin sudah siap keluar.
“Pertimbangan boleh melahirkan normal tergantung minus mata, besarnya janin, luas pinggul dan factor lain yang berhubungan dengan mudahnya persalinan atau tidak,” ungkap dokter yang juga praktek di Apotek Puri Farma ini.
Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mencegah terjadinya penipisan pada retina mata ini. Kebiasaan mengejan saat BAB dapat memicu penipisan pada retina mata. Untuk memudahkan saat BAB, pasien dianjurkan sering konsumsi serat buah dan sayur. Selain itu, kurangi angkat benda berat. Bagi wanita hamil yang ingin persalinan normal, hendaknya selalu konsultasi tentang kondisi mata ke dokter mata maupun dokter kandungan.
‘’Periksakan mata secara berkala untuk mengetahui kondisi mata. Terlebih bagi wanita dengan minus mata tinggi. Sehingga jika terdeteksi ada robekan pada retina segera dapat diatasi sebelum terjadi kebutaan,’’ ujar dr Iin.
Koran Pak Oles/Edisi 165/16-31 Desember 2008

Gangguan Pandangan Jauh Serang 1 Miliar Orang

thumbnail
Lebih dari satu miliar orang di seluruh dunia pada 2005, diperkirakan, terserang presbyopia atau gangguan yang berhubungan dengan usia dalam melihat benda pada jarak dekat. Selain itu sebanyak 410 juta orang berada dalam kondisi tak dapat melakukan tugas yang mengharuskan pandangan dekat, demikian satu laporan di dalam jurnal AS Archives of Ophthalmology, terbitan Desember.
Para peneliti di University of New South Wales di Australia meramalkan bahwa prevalensi presbyopia di seluruh dunia akan naik jadi 1,4 miliar orang paling lambat 2020 dan 1,8 miliar orang pada 2050.
Presbyopia terjadi bersamaan dengan bertambahnya usia, saat lensa mata kehilangan kelenturan dan kemampuan untuk memusatkan perhatian pada benda dalam jarak dekat. Meskipun demografis penduduk dan psikologi yang diketahui menunjukkan bahwa presbyopia biasa terjadi atau hampir universal pada orang yang lebih tua dari 65 tahun, perkiraan langsung mengenai prevalensi jarang dilakukan," kata para penulis.
Jumlah total orang yang menderita presbyopia sangat menarik, sebagai tanda bagi jumlah perhatian terbesar kesehatan masyarakat: jumlah orang dengan daya pandang yang tak seimbang akibat presbyopia yang tak benar atau di bawah kebenaran dan dampak pada jiwa mereka.
Mereka menganalisis banyak survei untuk memperkirakan prevalensi global mengenai presbyopia dan angka yang menunjukkan kondisi tersebut diperbaiki dan ketidakseimbangan daya pandang jika keadaan tak diperbaiki.
Mereka kemudian menggunakan Bank Data Internasional dari Biro Census AS untuk meramalkan kemungkinan perkiraan bagi masa depan. Dengan menggunakan proyeksi dari jajak pendapat itu, para peneliti memperkirakan 1,04 miliar orang secara global menderita presbyopia pada 2005, 517 juta dari mereka yang tidak berkacamata (kacamata yang tak sesuai).
Perkiraan tersebut dilandasi atas keterangan terbaik yang ada, tulis para peneliti itu. ‘’Lebih banyak penelitian epidemiologi mengenai prebyopia diperlukan untuk mengurangi perkiraan dan generalisasi yang diperlukan bagi perkiraan global yang lebih baik,’’ kata para peneliti tersebut dilansir Antara.
Koran Pak Oles/Edisi 165/16-31 Desember 2008

ASI Satu Jam Pertama Bantu Keselamatan Bayi

thumbnail
Konselor air susu ibu (ASI) Dinas Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Amiruddin mengatakan, pemberian ASI pada satu jam pertama setelah persalinan akan membantu memastikan keselamatan bayi yang dilahirkan. ‘’Berdasarkan penelitian, menyusui pada satu jam pertama kehidupan menyelamatkan lebih dari satu juta bayi, karena itu masyarakat perlu digerakkan untuk memberikan ASI pada satu jam pertama agar dapat menyelamatkan bayi,’’ katanya pada acara sosialsiasi desa siaga di Yogyakarta, Sabtu (29/11).
Selain itu, masyarakat dianjurkan untuk melakukan kontak kulit dengan bayi segera setelah lahir, kemudian dilanjutkan dengan menyusui pada satu jam pertama. ‘’Setiap institusi yang berkaitan dengan kesehatan dianjurkan untuk menjadikan program menyusui pada satu jam pertama sebagai tindakan preventif serta memastikan keluarga dan masyarakat betapa pentingnya menyusui pada satu jam pertama,’’ ujar Amiruddin.
Mereka harus aktif menganjurkan dan memastikan bayinya diberi kesempatan mendapat ASI pada satu jam pertama. Ia mengatakan, strategi yang harus dilakukan untuk menempuh progam itu adalah mengembangkan dan menerapkan legislasi yang melindungi perilaku pemberian ASI pada satu jam pertama menyusui.
Selanjutnya, meningkatkan kepedulian para pengambil keputusan, tokoh masyarakat, masyarakat luas dan keluarga tentang pentingnya menyusui pada satu jam pertama. ‘’Selain itu mengupayakan agar semua petugas dan sarana pelayanan kesehatan mendukung perilaku menyusui yang optimal,’’ katanya.
Sementara pihak rumah sakit diharapkan menilai tempat persalinan dan hambatan pelaksanaan menyusui pada satu jam pertama, serta menganjurkan semua pihak untuk mencatat dilaksanakan atau tidak tindakan mulai menyusui pada satu jam pertama.
Yang juga penting, monitoring dan evaluasi pelaksanaan program menyusui pada satu jam pertama. Sedangkan petugas kesehatan perlu pendidikan dan latihan tentang bagaimana membantu tindakan menyusui pada satu jam pertama itu. Karena itu, para pengambil kebijakan perlu menganjurkan sarana persalinan dan institusi kesehatan terkait untuk memasukkan program menyusui pada satu jam pertama sebagai indikator kualitas layanan ibu dan bayi yang terbaik.
Koran Pak Oles/Edisi 165/16-31 Desember 2008