Indonesia Belum Bisa Saingi Teknologi Jepang

thumbnail
Kendati Indonesia adalah negara kaya akan sumber daya alam (SDA) tapi belum mampu menyaingi Jepang dalam hal pengelolaan dengan teknologi dan tekad yang tinggi. Jepang kini masih menjadi barometer utama bagi kawasan Asia Pasifik dalam hal pengembangan teknologi.
Imbasnya, meskipun kondisi negara sakura ini minim sumber daya alam, tapi ia memiliki kekuatan ekonomi yang didukung oleh ketangguhan SDM dan penguasaan teknologi sehingga mampu memposisikan diri sebagai negara maju.
Deputy BPPT Bidang Teknologi Informasi, Energi & Material, Dr Ir Marzan Aziz Iskandar mengatakan di Jakarta, Minggu, dalam proses alih teknologi yang dilakukan antara Indonesia-Jepang sudah cukup baik dan itu biasanya direpresentasikan oleh perguruan tinggi.
Hubungan persahabatan Indonesia - Jepang yang sudah berjalan selama 50 tahun ini, juga bisa saling menguatkan, saling menguntungkan, dan diharapkan akan mendorong kesejahteraan kedua belah pihak. Marzan di arena Indonesia-Jepang Expo 2008 di Jakarta menyebut misalnya JICA apabila memberikan kesempatan pelatihan maka itu langsung diserahkan kepada para profesor perguruan tinggi ternama di Jepang.
Proses alih teknologi ini menjadi isu penting untuk mengejar ketertinggalan. Implementasinya, segera diwujudkan melalui berbagai kerjasama seperti di bidang penelitian, riset, pertukaran pelajar, mahasiswa, beasiswa dan pendanaan proyek-proyek strategis. Proses kerjasama dalam rangka alih teknologi antara pemerintah Indonesia Jepang ini tidak hanya dilakukan oleh satu lembaga tertentu tetapi melibatkan lembaga-lembaga lain seperti BPPT, LIPI, departemen-departemen pemerintah, universitas dan LSM-LSM.
Menurut Marzan, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) sebagai salah satu lembaga pemerintah memegang peran penting dalam rangka mendukung proses alih teknologi tersebut. Hal ini dilakukan, baik melalui cara pihak Jepang datang ke Indonesia atau pihak Indonesia yang diundang ke salah satu perguruan tinggi di Negeri Sakura itu, untuk melakuan riset termasuk kunjungan ke pusat-pusat riset pemerintahan.
Ia mengatakan, dalam proses alih teknologi, hubungan kerja di antara periset kita dengan Jepang itu sangat ketimuran, dan hubungan itu sangat tergantung kepada kedekatan individu. ‘’Kalau kita baik hubungan pribadinya, maka alih teknologinya juga akan lancar. Apapun yang kita minta akan diberikan sama seperti dia memberikan kepada saudaranya sendiri. Tapi kalau sudah bicara dengan institusi, tidak semudah itu,’’ tegas Marzan.
Kendala
Di satu pihak, pada kenyataannya proses alih teknologi juga menemui beberapa kendala, diantaranya faktor bahasa dan etos kerja. ‘’Orang Jepang bahasa Inggrisnya tidak begitu aktif, dan kalaupun bicara pengucapan kita dengan Jepang itu beda. Faktor kedua, adalah etos kerja. Mereka itu kuat sekali. Kalau sudah bekerja sangat keras, dan kita harus menyesuaikan diri. Kita butuh waktu untuk itu. Yang lebih penting lagi adalah bagaimana cara menjaganya,’’ kata Marzan.
Biasanya Indonesia mendapatkan pengetahuan yang bagus, teknologinya sudah dikuasai, namun hambatannya karena sekembalinya dari Jepang, tidak punya tempat untuk mengaktualisasikan ilmu dan teknologi tersebut. ‘’Di laboratorium Indonesia tidak memiliki fasilitas seperti yang ada di Jepang. Kita fasilitas tidak ada, insentif pun juga tidak punya sehingga secara perlahan kemampuan kita terdegradasi. Nah, kalau orang Jepang `kan mereka punya kemampuan bisa dipelihara dan terus meningkat sehingga lingkungannya juga mendukung,’’ katanya.
Dari sisi pendanaan, untuk pengembangan SDM dan alih teknologi juga masih jauh dari harapan. Jepang menjadikan teknologi sebagai senjata utama mereka memenangkan persaingan global. Sebagai sebuah negara, Jepang tidak punya pilihan lain yang bisa diandalkan kecuali keunggulan dalam teknologi. ‘’Karena itu, kata kunci mereka ya penguasaan teknologi. Untuk itu mereka akan mempertaruhkan segalanya demi menghasilkan teknologi unggulan,’’ katanya.
KPO/EDISI 163/NOVEMBER 2008

Indonesia Tak Lagi Miliki Tekno Nasionalis

thumbnail
Keterkaitan antara dunia teknologi dan perkembangan masyarakat dikupas dalam buku Teknologi & Masyarakat yang baru diluncurkan Prof.Dr.(HC) Ir.Rahardi Ramelan, MSc. Buku setebal 500 halaman dan disusun selama dirinya mendekam di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Cipinang ini dibahas dalam diskusi dan bedah buku di Rektorat Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya (ITS), Jumat (7/11). ‘’Beruntung saya boleh bawa laptop, jadi masih bisa aktif menulis dan mengirim beberapa artikel ke media cetak,’’ kata Ramelan.
Arus globalisasi menjadi sorotan utama dalam buku ini. Rahardi mencoba menyodorkan pertanyaan-pertanyaan besar. ‘’Apakah kita mempunyai budaya bersaing di era globalisasi? Apa kita juga masih memegang budaya ikut-ikutan tren,’’ tanyanya kepada para hadirin.
Indonesia belum bisa melindungi diri dari dampak negatif globalisasi, karena makin bebasnya negara ini dimasuki oleh asing. ‘’Bahkan melamin dalam produk makanan China pun bisa bebas masuk,’’ kata mantan Menteri Perindustrian dan Perdagangan RI ini sambil tersenyum.
Industrialisasi, seperti diberitakan ANTARA, secara tidak langsung menyebabkan perubahan arus budaya. Ia menambahkan bahwa iptek juga termasuk bagian dari budaya, sehingga perkembangan iptek harus sejalan dengan industrialisasi. ‘’Hal itu semua bergantung pada kreatifitas dan kemandirian masing-masing,’’ kata Rahardi yang juga Guru Besar Teknik Mesin ITS ini. Indonesia harus memiliki orang-orang yang punya techno-ideology. Bagaimana cara mereka membangun teknologi dan industri dengan ideologi nasionalisme. Sayangnya, menurut pria berambut gondrong ini, di kalangan elit politik Indonesia saat ini tidak ada lagi seorang tekno nasionalis. ‘’Padahal yang disebut kemajuan industri adalah ketika kita sudah mencintai produk kita sendiri,’’ tegasnya .
Namun ia menyadari, globalisasi tidak hanya merasuki bidang ekonomi saja, melainkan semua bidang sudah dikendalikan secara global. Ia pun menyesalkan campur tangan asing atau negara-negara maju yang mengendalikan World Trade Organisation (WTO).
Rahardi menilai, industri di Indonesia yang sudah dibangun sejak lama, hancur lebur di kala masa-masa krisis moneter 1998. Ia mengambil contoh IPTN, industri penerbangan kebanggaan Indonesia ini jatuh gara-gara campur tangan IMF dan WTO di Indonesia. ‘’Saya sudah kapok menghadapi WTO, mereka ini kejam sekali,’’ katanya. Bedah buku juga menghadirkan dua pembahas, Prof Dr Ir Widi Agus Pratikto MSc (Sekjen Departemen Kelautan dan Perikanan/DKP) dari sisi teknologi dan Prof Soetandyo Wignjosoebroto MPA (Sosiolog Unair) dari sisi sosial.
Dalam ulasannya, Prof Widi sepakat dengan kemandirian industri dan teknologi di negara ini. Sekaligus memperbaiki policy (kebijakan) agar lebih tertata. Ia mendorong adanya kesatuan antara lembaga pendidikan tinggi dengan perkembangan teknologi. ‘’Seharusnya ITS mampu menjadi pioner dalam menggali potensi sumber daya yang ada di Indonesia, misalnya potensi kelautan,’’ kata Prof Widi yang juga Guru Besar Fakultas Teknologi Kelautan (FTK) ITS ini.
Sementara Soetandyo mengkritisi hubungan perubahan antara budaya dan teknologi. Menurutnya, teknologi pasti akan mempengaruhi budaya. Hal ini adalah sebuah pilihan, namun seharusnya bukan semata-mata sebagai rational choice tetapi juga moral choice. ‘’Dahulu manusia itu sekalipun kurang menguasai teknologi namun masih mampu mengontrol moral anak-anaknya, sedangkan di abad moderen, sekalipun manusia mampu menguasai teknologi namun tak lagi mampu mengontrol anak-anaknya,’’ katanya.
KPO/EDISI 163/NOVEMBER 2008

TKI Bali Hanya Tertarik Kapal Pesiar

thumbnail
Tenaga kerja Indonesia asal Bali hanya tertarik bekerja ke luar negeri di bidang kapal pesiar serta perhotelan dan restoran, di luar aktivitas itu tidak diminati. ‘’Generasi muda kita yang bekerja di kapal pesiar dikenal sangat ulet, disiplin, ramah dan kinerjanya dapat diandalkan," kata Kepala Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Kependudukan Propinsi Bali, Komang Sujaka di Denpasar, Minggu (9/11).
Animo generasi muda daerahnya bekerja di kapal pesiar dan bidang perhotelan cukup besar, terutama setelah terjadi kelesuan pariwisata dampak tragedi bom Bali 12 Oktober 2002 dan 1 Oktober 2005. TKI asal Bali yang berangkat ke luar negeri selama 2007 sebanyak 3.309 orang dengan perolehan devisa (remitansi) sebesar Rp 9,8 miliar. Sedangkan pendapatan TKI asal Bali di manca negara periode Januari-September 2008 sekitar Rp 6 miliar.
Sujaka menjelaskan, TKI asal daerahnya sebelum diberangkatkan ke luar negeri diberikan pelatihan khusus menyangkut bidang perhotelan dan restoran, sehingga memiliki keahlian sesuai bidang tugas. Bali dan Indonesia umumnya dalam pengiriman tenaga kerja bidang kapal pesiar ke manca negara bersaing ketat dengan sejumlah negara pengirim pekerja. ‘’Keterampilan, keandalan dan kemampuan menguasasi bahasa Inggris dan jenis bahasa asing lainnya merupakan kunci sukses dalam memanangkan persaingan di era global ini,’’ kata Sujaka.
Bali sendiri menerapkan kebijakan khusu soal pengiriman TKI ke luar negeri yakni calon harus memiliki keterampilan khusus dan tidak mengirim tenaga pembantu rumah tangga atau tenaga sektor non formal lain. Upaya tersebut untuk menekan sedini mungkin permasalahan yang bakal dihadapi TKI asal Bali.
KPO/EDISI 163/NOVEMBER 2008

Perempuan Pengejar Mimpi Ke Negeri Seberang

thumbnail
Oleh: Maria D Andriana
Rumini, perempuan asal Ngawi, Jawa Timur sedang siap-siap berangkat ke Taiwan untuk menjadi pekerja, tepatnya sebagai pembantu rumah tangga. Wajahnya berseri-seri dan penuh semangat. Meski usianya sudah mencapai 34 tahun, ibu dari tiga anak itu terlihat lebih muda, energik dan siap bekerja. ‘’Saya sudah pernah bekerja di Arab Saudi dan Taiwan. Sekarang mau balik kerja ke Taiwan lagi,’’ ujar Rumini saat berada di tempat pelatihan kerja PT Sumber Kencana Sejahtera Indonesia di kawasan Kranggan, Bekasi, Selasa (11/11).
Menurutnya, ia lebih merasa nyaman bekerja di Taiwan karena pekerjaannya lebih ringan dibanding ketika bekerja di Arab Saudi. ‘’Tugas saya merawat lansia, membersihkan rumah dan memasak untuk satu orang. Jadi sangat ringan, malah bisa menonton televisi bareng majikan,’’’ katanya.
Pada saat tertentu, anak-anak majikan juga mengajaknya pesiar, dan jika Rumi perlu waktu pribadi untuk bertemu dengan sesama TKI, ia bisa meminta izin dari majikan. Para TKI di Taiwan biasa berkumpul kangen-kangenan di depan toko Indo atau taman. Telepon genggam adalah sarana untuk berkomunikasi antar mereka, bahkan untuk menelpon keluarga di Indonesia. Setiap bulan, ia digaji Rp 4,6 juta dengan kontrak selama dua tahun.
Tarini, juga berusia 34 tahun asal Lampung mempunyai pengalaman serupa. Dia sedang menunggu pemberangkatan ke Taiwan untuk yang ketiga kalinya. Ia sudah menjanda dan meninggalkan anak semata wayang yang berusia 11 tahun dalam asuhan orang tua. ‘’Saya bekerja demi masa depan anak dan untuk tabungan,’’ kata Tari yang sudah memperbaiki rumah orang tuanya dan membeli ladang seluas satu hektare di Lampung.
Meski mengaku lebih enak bekerja pada industri, seperti pengalamannya ketika bekerja pada pabrik sepatu di Tangerang, Tari kini memilih untuk merantau ke Taiwan, ketimbang bekerja di Indonesia, demi meraup penghasilan yang lebih besar.
Direktur PT Sumber Kencana Sejahtera Indonesia Hendra Yuwono Njo yang sudah berpengalaman selama 12 tahun mengelola jasa TKI itu mengatakan, setiap bulan perusahaannya bisa memberangkatkan antara 100-200 orang tenaga kerja untuk kawasan Asia Pasifik yaitu Hongkong, Taiwan, Singapura dan Malaysia.
Dalam mengelola usahanya, Hendra mengaku selalu patuh mengikuti regulasi yang ditetapkan pemerintah, meskipun ada beberapa hal yang mengganjal. ‘’Undang-Undang ketenagakerjaan menyebutkan bahwa para TKI yang bisa diberangkatkan harus berusia 21 tahun ke atas, padahal para peminatnya banyak yang berusia sekitar 18 tahun atau setelah lulus SMA,’’ katanya.
Untuk itu ia terpaksa menolak para pelamar yang berusia kurang dari 21 tahun dan menurutnya ada kesenjangan tiga tahun ketika para remaja itu lulus SMA. Kepatuhan terhadap regulasi juga dilakukan oleh PT Perusahaan Pengarah Tenaga Kerja Indonesia Swasta (PPTKIS) yang menangani pengiriman TKW ke kawasan Saudi Arabia. ‘’Kami mau bekerja profesional, mengirim TKW yang juga profesional jadi mengapa harus ambil risiko dengan pelanggaran seperti itu,’’ kata Rusdy Bahalwan saat berada di Balai Latihan Kerja Amri Marga Tama di Bekasi.
Perusahaan tersebut biasa mendidik 800 calon TKW dalam satu angkatan, mereka berasal dari berbagai kota di Jawa, Sumatra, Bali, Kalimantan dan NTB. Selain memberangkatkan TKW untuk menjadi pembantu rumah tangga, perusahaan itu juga mengirim perawat profesional yang khusus untuk bertugas di bagian Unit Gawat darurat.
Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan, Meutia Hatta Swasono ketika mengunjungi Balai Latihan Kerja Luar Negeri Amri Marga Tama, Selasa memompa semangat para perawat yang siap berangkat itu. ‘’Congratulations. Kalian adalah pekerja profesional yang juga akan membawa nama baik bagi Indonesia,’’ kata Meutia Hatta dalam bahasa Inggris.
Para perawat lulusan Diploma 3 dan Strata 1 jurusan keperawatan yang dilatih lagi untuk menyesuaikan dengan kebutuhan kerja di negara tujuan, khususnya kemampuan berbahasa Inggris dan Arab serta memperdalam spesialisasi penanganan unit darurat.
‘’Saya menjelaskan kepada mereka mengenai penanganan darurat medis dan apa yang harus mereka lakukan dengan menjelaskan proses sejak ibu melahirkan hingga fungsi jantung untuk kehidupan,’’ kata guru pembimbing, Mariani Sitanggang dalam bahasa Inggris seraya membawa alat peraga organ tubuh manusia. Mariani yang pernah mengenyam pendidikan di Sydney, juga mengatakan kepada Meutia Hatta, ketika muda ia juga pernah bekerja sebagai perawat di luar negeri.
Masa Depan
Bagi sebagian besar TKW, bekerja di luar negeri adalah pilihan yang mereka ambil demi masa depan keluarga dan anak-anak. Para calon TKW tersebut mengaku tidak gentar menghadapi pemberitaan yang gencar mengenai TKW yang dianiaya. ‘’Alhamdullilah saya selalu dapat majikan yang baik," kata Sarima Bin Sabar (33) yang pernah bekerja di Kuwait tahun 2004 dan Dubai (2006).
Sarima sedang mengikuti pelatihan penyegaran sebelum diberangkatkan ke Arab Saudi oleh PT Assima Ananda Mandiri yang selama ini dikenal sebagai pengirim tenaga kerja ke negara Timur Tengah yaitu Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, Jordania, Oman dan Qatar. Selain Sarima, masih banyak para pengejar mimpi yang sedang giat belajar bahasa asing dan latihan ketrampilan di sejumlah Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI).
Direktur PT Assami Ananda Mandiri Saleh Alatas mengatakan, PJTKI biasanya bekerja profesional dan mematuhi aturan, memantau keadaan para pekerja secara rutin dan menyediakan panduan maupun saluran komunikasi apabila diperlukan. ‘’Memang ada pekerja ilegal yang biasanya ditangani sindikat penampung. Kalau melalui PJTKI yang terdaftar, pasti terjamin keamanan pekerjanya,’’ kata Saleh.
Rata-rata para calon tenaga kerja itu dilatih sekitar satu hingga dua bulan dan bila sudah berpengalaman bekerja di luar negeri, pelatihan dilakukan lebih singkat untuk penyesuaian kembali kemampuan mereka, kemudian siap diberangkatkan. Tingkat kegagalan peserta pelatihan menurut pengakuan pengelola perusahaan, sangat kecil, yaitu lebih kepada kesiapan mental dari keluarga yang memanggil pulang.
Hampir rata-rata pekerja perempuan yang sudah berkeluarga mengatakan mendapat izin dari suami mereka untuk bekerja jauh dari rumah, demi mengisi pundi-pundi keluarga. Ada berbagai cara yang dilakukan oleh mereka untuk menyimpan uang, misalnya dengan menabung sendiri dan mengirim sebagian kecil ke keluarga untuk kepentingan harian, ada pula yang mengirimnya untuk membeli tanah, membangun rumah, dan modal membuka warung makan.
Para TKI yang pernah mendapat majikan yang baik, biasanya menjadi ingin kembali bekerja ke luar negeri, karena hasil yang diperoleh cukup besar dibanding penghasilan di dalam negeri. ‘’Kalau hari raya Imlek anak-anak majikan selalu memberi uang, demikian pula jika ada kematian. Jumlahnya lumayanlah,’’ kata Rumini.
Meneg Meutia Hatta mengharapkan, PJTKI terus-menerus meningkatkan kualitas pendidikan bagi para TKI bahkan juga meningkatkan pengiriman tenaga yang profesional. ‘’Saya melihat rata-rata fasilitas sudah bagus, tetapi memang ada beberapa yang harus ditingkatkan, misalnya kemampuan berkomunikasi dan ketrampilan kerja,’’ ujarnya.
Wajah-wajah penuh harap dan senyum ceria mengembang ketika para perempuan muda itu belajar dan mempraktekkan ketrampilan memandikan bayi, memijat lansia, menyetrika baju, menata sprei, memasak dan menata meja makan atau bahkan mengoperasikan mesin cuci, kompor gas, pemanggang roti, dan penyedot debu. ‘’Kami menyediakan pelatihan dengan strandar hotel untuk menata kamar, meja makan, membersihkan kamar mandi,’’ kata pengajar di salah satu perusahaan tersebut.
Kebanyakan perusahaan itu menyediakan peralatan rumah tangga untuk melatih calon TKW yang rata-rata datang dari kampung dan belum berpengalaman mengoperasikan alat rumah tangga modern. ‘’Ini adalah bekal untuk mereka dalam bekerja,’’ kata seorang pengajar.
‘’Doakan saya ya Bu, agar dapat majikan yang baik dan bisa bekerja,’’ kata seorang perempuan yang mengejar mimpinya itu kepada sejumlah tamu yang mengunjungi mereka bersama Meneg Meutia Hatta. ‘’Saya ingin mencari tambahan modal untuk menghidupkan warteg yang sekarang dikelola mama,’’ kata seorang gadis berusia 22 tahun asal Karawang, Jawa Barat. (Anspek)
KPO/EDISI 163/NOVEMBER 2008

Pengusaha Muda Dan Interaksi Global

thumbnail
Oleh: Joko Susilo
Interaksi dengan dunia internasional perlu dilakukan para pengusaha Indonesia guna membuka pasar dan peluang usaha baru, apalagi dalam kondisi krisis keuangan global saat ini. Ketua Kadin bidang UMKM Sandiaga Uno, saat menghadiri ASEAN 100 Leadership Forum, medio Oktober lalu mengungkapkan, permintaan ekspor dari Indonesia menurun terutama tujuan AS dan Eropa.
Menurut Sandiaga, krisis yang terjadi membuat daya beli negara AS mengalami penurunan sehingga perlu pasar baru untuk ekspor Indonesia. ‘’Dengan terjadinya krisis keuangan di AS dan Eropa akan mempengaruhi ekspor kita. Dengan kondisi ini akan dijadikan untuk melihat prospek pasar ASEAN sebagai pengganti tujuan ekspor,’’ kata Sandiaga.
Dengan keikutsertaan 30 anggota HIPMI (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia) dalam Forum internasional merupakan waktu yang tepat karena dapat dijadikan alat untuk membuka wawasan dan memperluas "network" (jaringan). ‘’Ketua HIPMI saat ini (Erwin Aksa) benar-benar ingin membuka wawasan pengusaha muda terutama di daerah bagaimana memanfaatkan peluang setelah adanya krisis global yang terjadi saat ini setelah pasar di AS dan Eropa terkena dampaknya,’’ ungkapnya.
Ketua HIPMI, Erwin Aksa mengatakan, beberapa forum internasional yang diikuti para anggotanya untuk memperbanyak interaksi dengan dunia internasional guna membiasakan pengusaha muda masuk ke ajang global. ‘’Momen ASEAN 100 Leadership Forum di Manila ini dapat kami jadikan ajang untuk membiasakan anggota HIPMI berinteraksi dengan dunia internasional. Anggota pengusaha muda yang dipimpinnya 99% bergerak di bidang sektor riil, dan 1 % bergerak di bidang pasar uang,’’ kata Aksa di Manila.
Keikutsertaan 30 anggota HIPMI merupakan delegasi terbesar dan mendapat apresiasi dari Dato Timothy Ong (ketua penyelenggara). Beberapa agenda internasional siap diikuti HIPMI, antara lain ke Cina. Upaya itu ditempuh HIPMI untuk membiasakan interaksi dengan internasional dan mencari peluang bisnis di luar negeri. ‘’Para pengusaha Indonesia sebenarnya tidak kalah dengan negara lain. Hal ini terlihat dari beberapa pengusaha yang telah membuka bisnis di negara ASEAN, seperti Grup Salim yang sudah banyak membuka usaha di Filipina,’’ ungkap Erwin.
Pemilik Bosowa Corporation itu menyatakan, grupnya sudah membuka usaha di Filipina dengan focus dalam sektor perdagangan. ‘’Sebagai pengusaha perlu membuka akses yang lebih luas dan tidak membatasi interaksi hanya dalam negeri, tetapi dengan dunia luar,’’ jelasnya.
Pembukaaan pasar di luar negeri tidak berarti pihaknya melarikan modal. Anggota HIPMI masih berkomitmen untuk menggerakkan sektor riil dari dalam negeri, tetapi pemerintah harus memberi kesempatan lebih dibanding investor asing. ‘’Jangan sedikit-sedikit mengundang investor asing, beri kesempatan dulu ke investor lokal, karena kita sebenarnya mampu kok, baik operasional maupun permodalan,’’ kata Erwin kepada ANTARA.
Investor asing, biasanya lebih tertarik pada sektor yang menggunakan teknologi tinggi sehingga kurang menyerap tenaga kerja. Berbeda dengan para investor lokal yang cenderung padat karya. Dengan banyak kesempatan usaha di dalam negeri, maka para pengusaha domestik, tidak akan membawa modalnya ke luar negeri. Untuk itu, Erwin berharap pemerintah Indonesia melihat investor lokal untuk diberi kesempatan pertama sehingga tidak banyak pengusaha Indonesia yang membawa modalnya ke luar negeri.
Presiden Komisaris Para Grup Chairul Tanjung itu menyarankan kepada para pengusaha muda untuk lebih fokus bergerak pada sektor riil. ‘’Dalam situasi krisis keuangan global, sebaiknya para pengusaha untuk kembali ke khitahnya investasi langsung ke sektor riil,’’ kata Chairul saat berbicara di hadapan 30 anggota HIPMI di Manila, Filipina, akhir pekan ini.
Menurut Chairul, sektor riil menjadi ketahanan ekonomi, untuk membangun ekonomi dalam negeri apalagi di saat bursa saham dunia mengalami penurunan kepercayaan (trust), karena orang AS sebagian besar ada di pasar modal. Di sini, terjadi penjualan besar-besar saham di pasar yang diikuti bursa lain termasuk Indonesia. Investasi di sektor riil margin yang didapat memang lebih kecil dibanding di pasar modal yang lebih menggiurkan. ’Kondisi saat ini harus mencari uang dengan mengeluarkan keringat dulu dan mendapatkan hasilnya saat panen.
Bergerak di sektor riil membutuhkan waktu panjang dan baru mendapatkan hasilnya, berbeda dengan di pasar uang yang dalam waktu singkat sudah mendapatkan untung. ‘’Fokus di sektor riil, petiklah saat sudah matang, itu akan lebih berkah,’’ jelasnya.
Bursa saham, sebut Chairul, masih akan menurun karena pasar saham AS sudah mengalami krisis kepercayaan dari masyarakat. Selain itu, turunnya harga minyak dunia yang diikuti oleh harga-harga komoditas juga akan menjadi sentimen negatif pasar saham. Kondisi dunia usaha saat ini diperkirakan akan menghadapi sulitnya likuiditas. Namun, pemilik sebuah bank swasta dan dua stasiun televisi swasta ini menyarankan jangan pesemis menghadapi krisis. ‘’Chairul Tanjung ada dalam percaturan ekonomi ini karena krisis,’’ katanya. (Anspek)
KPO/EDISI 163/NOVEMBER 2008

Guru Sejahtera, Guru Demokratis!

thumbnail
Oleh: Nurani Soyomukti*
Rencana atau janji Presiden Soesilo Bambang Yudoyono untuk menaikkan gaji guru PNS minimal Rp 2 juta mulai tahun 2009 tampaknya membuat wajah-wajah guru PNS di negeri ini sumringah. Para guru tak sabar menunggu datangnya tahun baru 2009 karena waktu itulah gaji minimal guru khusus PNS, sejumlah Rp 2 juta mulai berlaku. Pertanyaan yang kemudian muncul cukup klasik. Benarkah kesejahteraan guru akan meningkatkan kualitas para pendidik sekaligus kualitas pendidikan?
Selama ini persoalan kualitas guru yang memburuk baik secara penguasaan pengetahuan maupun degradasi moral, sesungguhnya merupakan warisan sejarah pendidikan dan situasi sosial secara umum dalam kurun sejarah yang dibentuk perkembangan ekonomi-politik. Indonesia yang di zaman Soekarno ‘mengekspor’ guru-guru ke negeri Malaysia kini tinggal cerita setelah kualitas guru dan pendidikan tertinggal jauh bukan hanya dengan Malaysia, tetapi juga India dan (bahkan) Vietnam.
Konon pada era 1950-an, guru begitu dihormati karena memiliki standar kehidupan yang mapan. Tapi, perlu dicatat, khususnya para guru, apakah penghormatan terhadap seseorang semata-mata dari sisi material? Pada era 1950-an, guru-guru selain menguasai ilmu yang diajarkan, juga memiliki penguasaan bahasa asing seperti Inggris dan Belanda. Belum lagi, sikap dan ketulusan pengabdian mereka dapat menjadi teladan.
Banyak kritik yang telah dialamatkan kepada pemerintah dan pendidikan di Indonesia terkait kondisi ini. Keberadaan guru yang tidak bergairah saat mengajar, posisi mereka yang menjadi calo buku ajar, --membuat buku pelajaran harus berganti-ganti setiap tahun ajaran baru, serta keberadaan mereka sebagai pendukung kekuasaan Orde Baru melalui kebijakan mono loyalitas kepada Golkar dan pemerintah adalah kasus-kasus yang sangat sulit disembunyikan.
Upaya meningkatkan kesejahteraan guru sebenarnya sudah dilakukan sejak pemerintah Orde Baru runtuh. Kenaikan gaji yang dimulai di zaman pemerintahan Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan pemberian gaji ketiga belas yang hingga sekarang masih berlaku ternyata belum menunjukkan kualitas guru dan perbaikan sebagai ujung tombak pendidikan generasi bangsa. Artinya, tesis yang menganggap bahwa mutu guru dan pendidikan Indonesia akan meningkat dengan dinaikkan bayaran atau gaji, masih tidak cukup valid. Persoalan yang masih dominan, guru belum memiliki kebebasan. Kesejahteraan yang diberikan terbatas dan tertinggal dibanding negara-negara lain.
Laskar Pelangi
Tentu peningkatan kesejahteraan tidak akan cukup mampu merubah kualitas guru dan pendidikan jika tidak dibarengi perubahan budaya mendidik dan semangat pendidikan. Misalnya, dengan adanya ketidaksejahteraan atau kekurangan gaji, para guru tidak akan fokus mendidik karena mereka harus menghabiskan waktu untuk berpikir dan melakukan aktivitas lain di luar mengajar. Tujuannya, hanya untuk memenuhi kekurangan pedapatan. Setelah gaji mereka cukup dan tidak lagi pusing untuk ‘ngobjek’ di luar, kini sudah saatnya mereka mulai mengabdikan diri secara penuh dalam bidang pendidikan, mengajar anak-anak dengan semangat yang lebih besar dan kompetensi mengajar yang lebih kuat.
Guru-guru sekarang harus mewarisi semangat ‘Umar Bakrie’ yang meskipun kesejahteraannya terbatas atau guru era Ki Hajar Dewantoro yang mendalami makna pendidikan dengan merelakan diri sebagai pendidik mirip martir atau relawan.
Dewantoro adalah tipe pendidik yang tidak keranjingan gaji besar, bahkan hartanya direlakan agar anak-anak bumi putra tidak lagi bodoh. Tujuannya, semata-mata penyadaran dan menciptakan kebangkitan rakyat. Saat itu, Dewantoro bukan menjadi guru karena butuh pekerjaan dan gaji. Menjadi guru adalah tugas kemanusiaan. Bukankah dengan gaji yang cukup, justru harus lebih bersemangat dibanding ‘Umar Bakrie’ maupun Ki Hajar?
Mengajar dengan ketulusan adalah kata kunci pendidikan untuk pengabdian, dan sebagai proyek kemanusiaan, --bukan proyek meningkatkan gaji. Terkait pengabdian guru, kita bisa menarik pelajaran dari film Laskar Pelangi yang diputar di bioskop Tanah Air sejak 25 September lalu. Film yang diadopsi dari novel Andrea Hirata itu menceritakan seorang guru, Ibu Muslimah yang tetap semangat menunaikan tugas meski gajinya harus diutang dua bulan. Gaji diutang dua bulan saja tetap semangat. Bukankah itu tantangan bagi para guru yang gajinya justru siap dinaikkan minimal Rp 2juta per bulan?
Meski begitu, tetap harus kita perhatikan bahwa peningkatan gaji bukan satu-satunya faktor bagi kemajuan pendidikan. Faktor lain, adalah soal struktural. Para guru selama tiga dekade Orde Baru dijadikan ‘bemper’ politik kekuatan Partai Golkar. Guru dijadikan agen politik pembangunanisme dan agen pemenangan program politik Golkar. Melalui organisasi Korpri dan PGRI, mereka dijadikan proyek korporatisme negara. Akibatnya para guru tidak memiliki jiwa pembaruan dan inisiatif menggali khazanah ilmu pengetahuan serta keberanian mengembangkan inovasi pembelajaran yang terlepas dari politik pendidikan. Dalam konteks itu, jiwa dan mental demokrasi guru sengaja ditumpulkan.
Kemudian masih kuatnya politik pendidikan yang mengontrol arah dan sistem pendidikan selama tiga dekade membuat para guru seperti ‘robot’ yang dipenjara melalui tugas-tugas kedinasan stagnan. Semoga dengan cukup gaji, guru-guru Indonesia lebih independen, berkarakter dan tidak hanya tunduk pada politik pendidikan yang menghambat kemajuan bangsa. Ingat, menjadi seorang pengajar tidak sekedar menyuruh murid menghafal, pun bukan sebatas memindahkan pengetahuan, tetapi mengenalkan realitas sejati, dan bukan sekedar melatih menipu. Semoga!!!
*) Pendidik dan penulis buku Pendidikan Berperspektif Globalisasi (Arruzzmedia, Yogyakarta 2008) serta Pengelola Yayasan TABUR (Taman Belajar untuk Rakyat) Trenggalek, Jawa Timur.
KPO/EDISI 163/NOVEMBER 2008

Jerit Petani Dan Ironi Negeri Agraris

thumbnail
Oleh: Supadiyanto*
Mayoritas petani saat ini mengeluhkan kian mahal dan terus melambungnya harga pupuk di pasaran. Bahkan sejumlah petani di kawasan Jawa Tengah dan Jogja sempat mengeluh tentang kelangkaan pupuk Urea di musim tanam kali ini. Pemicunya, karena kebijakan pemerintah yang super ketat membatasi distribusi pupuk. Sebuah fenomena yang sangat ironis yang terjadi di sebuah negeri agraris, Indonesia.
Berbicara tentang masalah kesejahteraan hidup petani lokal (pribumi) sejak era Orde Lama di bawah kepemimpinan Soekarno hingga rezim Orde Baru (Soeharto), lalu bergeser ke era Orde Reformasi; nasib kaum tani negeri ini tetap dalam kungkungan penderitaan yang serba dilema. Laksana seseorang yang sudah jatuh, masih tertimpa dua tangga lagi. Naas, nasib jutaan petani Indonesia yang terus-menerus berada dalam kondisi terpuruk.
Penderitaan mereka seolah tidak akan pernah berakhir. Harapan akan perbaikan nasib (tingkat kesejahteraan), tampaknya masih agak jauh dari tapal batas negeri Katulistiwa ini. Selain harga produk pertanian di pasaran dalam negeri konon tetap kalah kompetitif dengan produk agraris luar negeri, kebijakan pemerintah juga tidak kunjung cukup untuk memperbaiki nasib mereka. Justru di tengah gencar-gencarnya HKTI memperjuangkan perbaikan kualitas hidup petani, pemerintah tampak tidak memikirkan peningkatan kesejahteraan kaum ‘petani’.
Coba lihat beras, kedelai dan buah-buahan produk transnasional seperti Thailand, Amerika Serikat dan Australia tiada henti membanjiri pasaran nasional. Implikasi buruknya, produk pertanian lokal konon masih kalah harga. Sementara harga pupuk (pabrikan) kian mencekik kalangan petani, pemerintah berkuasa seakan tidak peduli. Sektor pertanian nasional tidak menjadi skala prioritas dalam penetapan kebijakan pemerintah. Buktinya, isu krisis pangan tenggelam dalam wacana Pilkada/Pemilu yang lebih hangat untuk dibicarakan.
Wajar jika hingga detik ini, nasib petani selalu terbelit dalam jejaring kemiskinan dan penderitaan hidup yang serba pelik. Petani tidak mampu lagi membiayai anak-anak mereka hingga level perguruan tinggi. Sedangkan untuk menyekolahkan keluarganya sampai bangku sekolah menengah, sudah ketiadaan uang. Lebih parah lagi, kalau kita berbelanja di supermarket daerah Jakarta, Surabaya, Batam, Bandung, Jogja, Makassar dan Denpasar, dijamin tidak bisa menemukan apel Malang (Jawa Timur). Yang ada justru jejalan apel impor yang berlaber apel Washintong, Fiji Jepang atau apel Gala Perancis. Sangat jamak, memang.
Gempuran produk pertanian dari manca benua (impor) di negeri berpenghuni 224 juta jiwa ini sungguh di luar dugaan. Jenis buah-buahan seperti durian Petruk dari Semarang (Jawa Tengah) juga dijamin tidak ada lagi di etalase supermarket. Semua tergantikan dengan pajangan durian Monthong dari Muangthai. Anggur Probolinggo (Jawa Timur) yang manis benar, juga telah kalah bersaing dengan anggur Red Globe dari Australia dan Amerika. Di masa mendatang, lidah masyarakat negeri ini agaknya lebih terbiasa memakan gethuk, perkedel, gado-gado harus mulai membiasakan diri dengan jajanan bermerek humberger, sosis dan spagheti. Lagi-lagi ironis.
Gempuran produk pertanian dari luar negeri memang kian gencar. Keunggulan produk pangan transnasional memang perlu diakui kualitasnya. Petani dalam negeri, yang umumnya berpendidikan rendah dan kehabisan generasi muda yang mau menekuni profesi petani, menyebabkan pertahanan pangan nasional kian goyah.
Soal regenerasi petani, jelas tidak ada program kaderisasi secara utuh, apalagi sampai ada intervensi pemerintah. Para pemuda desa, sudah sungkan bekerja apalagi mau mencangkul di sawah dan ladang. Mereka lebih suka memilih merantau ke kota (metropolitan) meski di sana hanya menjadi pengangguran. Ketidakmauan para pemuda desa meneruskan profesi orang tua dan para leluhurnya, bukan tanpa alasan. Menurut mereka, menjadi petani di zaman sekarang bakal terus menderita. Sebab, hasilnya tidak sebanding dengan kerja keras mereka. Logis memang dalih itu. Harga pupuk (pabrikan) tetap mahal, ditambah biaya produksi dan perawatan lahan pertanian yang kian tidak terjangkau kian membikin mental anak muda ogah menggeluti usaha pertanian.
Padahal sejak dahulu hingga sekarang dan mungkin besok, negeri ini tetap tersohor sebagai negara agraris. Puncak kejayaan pangan nasional, justru bisa tercapai semasa rezim Orde Baru dulu, ditandai dengan kemampuan berswasembada beras, bahkan jadi negara pengekspor beras terbesar dunia. Kebijakan pemerintah di sektor pertanian yang diterapkan mantan Presiden Soeharto sungguh menjadi terobosan yang sangat progresif.
Selain penggalakan program pertanian yang disebut Panca Usaha Tani, Departemen Pertanian mengintensifkan produksi padi dalam negeri khususnya di luar Jawa. Agar kualitas produk pertanian dalam negeri terjamin, pemerintah membatasi super ketat impor produk pertanian. Benar, pemerintah memperlakukan petani sebagai ‘anak emas’. Harga pupuk pabrikan dibikin murah dan kucuran kredit usaha pertanian pun begitu.
Sejak pemerintahan Orde Reformasi berkuasa (Mei 2008), nasib dunia pertanian malah tidak karuan. Setiap pergantian pemerintahan, berganti pula kebijakan. Pada masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono - Jusuf Kalla, nasib petani bukan naik derajat kesejahteraan. Sebaliknya, semakin buruk. Adanya multi bencana alam seperti banjir, tanah longsor dan kemarau panjang kian menambah litani kegagalan panen para petani.
Beban hidup jutaan petani Indonesia akan terus menerus terpuruk, jika pemerintah tidak segera memberlakukan peraturan yang lebih pro petani. Semoga Yaaa…!
*) Pemerhati masalah publik & Managing Director ICRC Jateng - DIY
KPO/EDISI 163/NOVEMBER 2008

Salut Iklan PKS

thumbnail
Sebagai warga masyarakat yang awam saya sangat bergembira dengan kehadiran iklan Hari Pahlawan PKS yang menampilkan gambar berbagai macam pahlawan. Termasuk mantan Presiden Soeharto. Saya agak heran juga kenapa ada yang protes dan merasa dirugikan saat para pahlawan itu ditayangkan.
Ada yang protes ketika Pak Harto dianggap pahlawan dan guru bangsa, karena Pak Harto dianggap tidak layak. Ada juga yang protes ketika KH Hasyim Asyari dan KH Ahmad Dahlan ditayangkan sebagai pahlawan dalam iklan politik PKS karena dianggap merugikan NU dan Muhammadiyah. Begitulah kehidupan ini selalu diwarnai pro dan kontra.
Padahal seharusnya sebagai bangsa yang besar kita selalu menghargai jasa-jasa para pendahulu kita. Meski kita sadari tak ada seorang pun yang sempurna, mereka semua juga manusia biasa yang memiliki sisi negatif dan positif. Ketika PKS berani menampilkan iklan Hari Pahlawan dengan mengekspose gambar pahlawan dari berbagai macam kalangan dan sudut pandang ini menunjukkan bahwa PKS mempunyai cara pandang yang dewasa, punya jiwa memaafkan, dan mampu menghargai jasa-jasa para pendahulu meski bukan dari kelompoknya.
Seharusnya sikap seperti PKS inilah yang patut dicontoh dan diamalkan oleh bangsa ini. Ini adalah semangat “Bhinneka Tunggal Ika”, meskipun berbeda-beda kita tetap satu bangsa. Jangan melulu mencari perbedaan dan kesalahan. Jangan mengaku kelompoknya paling unggul. Mari kita saling bekerja sama, saling menghargai, dan saling mencintai.
(Komentar: Rosi Sugiarto, Pondok TK Al Firdaus BSB Jatisari Mijen Semarang)
KPO/EDISI 163/NOVEMBER 2008

Perempuan Miao Dalam Karya Zhao Chun

thumbnail
OLEH: AGUS SALAM
Bagi perupa Zhao Chun, sosok perempuan muda suku Miao seolah sebagai derai aliran sungai Yangtze yang tak habis ditimba sebagai sumber inspirasi. Puluhan bahkan bahkan mungkin ratusan karya seni telah dan akan terus lahir dari tangan melalui kanvas. ‘’Saya memilih objek perempuan Cina terutama dari Suku Miao karena merupakan titik tolak gagasan kreatif. Selain itu, tentu saja ada titik yang bisa menghubungkan karya-karya saya dengan latar belakang penciptaannya. Apalagi, saya lahir di Cina dan saya ingin menyuguhkan karya kontemporer itu ke seluruh dunia,’’ kata Zhao Chun selepas pembukaan pameran Dream di Galeri Nasional Jakarta.
Perupa kelahiran Liao Ning Shenyang, Cina, 28 tahun lalu itu fokus pada lukisan kontemporer yang terus berkembang dan merangsek tidak hanya di Asia, tapi sudah mendunia. Perupa yang sudah menggelar pameran sejak 11 tahun silam itu sering menggelar pameran di Cina, Jepang, Perancis, Malaysia dan saat ini, Indonesia.
Sumber inspirasi untuk berkarya, bagi seniman yang satu ini tidak akan pernah berakhir. Khususnya masa lalu yang berkaitan dengan pakaian adat Suku Miao, lengkap dengan aksesoris seperti gelang, kalung, giwang maupun mahkota. Semua diangkat dalam jejalan di atas medi, yang pantas memikat pengunjung dan para penikmat seni.
Sebanyak 28 lukisan yang dipamerkan hingga 11 November itu memiliki kesamaan tema dengan gaya realistik fotografis. Sebuah jenis karya yang bisa dinikmati siapa saja bahkan orang awam sekalipun. Dengan goresan lembutnya, lulusan Lu Xun Academy of Fine Arts China itu menyajikan guratan mimik tertentu pada setiap wajah perempuan yang menjadi objeknya.
Tema Dream mengacu pada impian Zhao terhadap identitas Suku Miao yang terungkap dalam goresan busana yang dikenakan plus beberapa pose yang menunjukkan aktivitas tertentu seperti meniup suling, berkipas, menengadah, meniup lilin, terlentang hingga menyeka air mata. Zhao juga menitipkan penghormatan kepada kaum perempuan dalam kemolekan, keindahan, keseksian hingga memikul beban moralitas dan budaya pada setiap karya-karyanya. Suku Miao dimaknai sebagai poin untuk kepentingan berbau turistik dan terkesan bermuatan diplomasi budayaan.
KPO/EDISI 163/NOVEMBER 2008

IBF 2008, Ajang Berburu Buku Murah

thumbnail
OLEH: AGUS SALAM
Indonesia Book Fair (IBF) 2008 banjir buku murah. Buku-buku baru hampir rata-rata di diskon 20% oleh para penerbit. Bahkan, Diskon buku dipameran ini bisa mencapai 90%. Dan serunya lagi ada buku yang hanya di jual 3000 perak. Project Officer Indonesia Book Fair 2008, Mayang Johana menyatakan, Indonesia Book Fair 2008 untuk menumbuhkan minat baca kepada masyarakat. Karena itu para penerbit diminta untuk menjual buku-buku dengan harga miring agar lebih ramai dan meriah.
Menurut Mayang, strategi ini dilakukan agar masyarakat lebih gampang mendapat buku. ‘’Saya berharap jika masyarakat mudah untuk membaca maka mudah pula menjadi penulis. Selain itu untuk memajukan industri penerbitan,’’ kata Johana. Sebanyak 84 peserta terdiri penerbit, toko buku, ATK dan sofware edukasi hadir dalam acara tersebut. Dibanding tahun 2007, gelaran IBF 2008 terkesan lebih unik karena ada mini library, best seller books corner, -- cara termudah buat pengunjung mencari buku popular--dan mobil pintar.
Di stan Penerbit Mizan, buku Laskar Pelangi justru banyak dicari pengunjung dan terkategori buku terlaris saat ini. Kehadiran Mizan di arena pameran buku selalu memberikan corak khas dalam dunia literasi dan informasi di Indonesia. Saat ini, Mizan merupakan penerbit pertama di Indonesia yang menjadi premier partner Google Bokk Search Google, --indeks raksasa di internet yang memudahkan pembaca menemukan buku-buku kelompok Mizan dengan memasukkan kata kunci yang sesuai.
Mizan sendiri untuk IBF 2008, menggelar performance art dan atraksi boneka Mio yang sangat digemari anak-anak dan keluarga. Anak-anak kadang sampai berebutan untuk bersalaman dan foto bersama boneka Mio. Mizan memberikan diskon untuk semua jenis produk, dan bahkan sampai 50%.
KPO/EDISI 163/NOVEMBER 2008

Komik Hantu Hanoi Sambut Pesta Membaca

thumbnail
Christine Albanel, Menteri Kebudayaan dan Komunikasi Perancis, telah memilih tema la jeunesse atau segala sesuatu yang berhubungan dengan jiwa muda, masa muda dan anak-anak muda, untuk memperingati edisi ke 20 Pesta Membaca (Lire en Fete) tahun ini.
Untuk itu, selama tiga hari (10-12/10), di Perancis dan 150 negara lain, ribuan acara yang berhubungan dengan membaca atau menulis digelar secara gratis. Acara ini, menurut siaran pers Pusat Kebudayaan Perancis (CCF), di Bandung, Selasa (4/11) digelar di cafe-cafe, di ruang-ruang pertunjukan, di sekolah-sekolah, bahkan di rumah sakit-rumah sakit sampai panti jompo.
Untuk merayakan Pesta Membaca ke-20 dan satu abad komik berbahasa Perancis, Pusat Kebudayaan Perancis Bandung menggelar dua Pameran Komik yakni Seabad Komik Berbahasa Perancis (14-31/10). Pameran kedua bertema, Hantu-Hantu Dari Hanoi, selama tiga hari (6-8/11). Komik itu merupakan buah karya Gerald Gorridge, seorang guru di Ecole Europeenne Superieure de l`image, (Sekolah Tinggi Gambar Eropa) di Kota Angouleme.
Ia juga bekerja untuk penerbit Jerman Alfa Comic Verlag. Semua perjalanan itu menempati sebagian besar dari kehidupannya. Karena sangat menyukai dunia Timur Jauh, ia mengelola penerbitan karya He Youzhi, ahli gambar terkenal dari Shanghai versi Perancis. Untuk festival gambar ilustrasi pertama di Beijing 2005, Gerald mengadakan pameran keliling Pelajaran Tentang Gambar-Gambar dan Asap-Asap Yang Berbicara.
Sejak 1999, Gerald memberikan master classe komik di Hanoi, Vietnam, dengan aneka rekanan. Semua itu berwujud buku penerbitan karya kolektif Ke Moi, komik baru Vietnam, album komik pertama dalam bahasa Viet. Beberapa kali Gerald bertandang ke ibu kota Vietnam untuk menangkap materi demi suksesnya album berjudul Les Fantomes de Hanoi (Hantu-hantu Hanoi), yang diterbitkan tahun 2006 dan siap untuk dipamerkan.
KPO/EDISI 163/NOVEMBER 2008

Rekayasa Media Demi Imperialisme AS

thumbnail
Judul : Neo Imperialisme Amerika Serikat
Penulis : Noam Chomsky
Penerbit : Resist Book, Yogyakarta
Cetakan : Pertama, November 2008
Tebal : xxiii + 238 halaman
Peresensi : A. Zaenurrofik*

Sebagai seorang intelektual yang kritis terhadap pemerintahannya (Amerika Serikat), nama Noam Chomsky tak mungkin dapat dilupakan karena kian melejit dan kontroversial ketika suatu kali dalam sidang di PBB, Presiden Venezuela Hugo Chavez mengangkat salah satu karya Chomsky dan menganjurkan pada hadirin sidang untuk membaca. Apalagi maksud Chavez kalau bukan untuk menunjukkan bahwa berbagai tindakan AS di dunia layak untuk menyebut negara besar ini sebagai negara imperialis.
Membaca buku Noam Chomsky Neo-Imperialisme Amerika Serikat ini kita dibawa untuk memahami bagaimana AS melakukan dominasi imperialistik ke berbagai belahan dunia, dalam aneka bentuk operasi berdarah, manipulasi media hingga hegemoni terhadap dunia intelektual akademik.
Ketika suatu rezim tidak mendukung kepentingan korporasi bisnis AS, rezim itu harus dihalangi untuk membangun negara sesuai jalan yang tidak sejalan dengan kepentingan AS. Upaya menyingkirkan rezim melalui kudeta militer, biasanya dimulai dengan mengkondisikan konstelasi politik suatu negara, dan terjadi di banyak Negara. Di Indonesia misalnya, penggulingan Soekarno tahun 1966, penggulingan Salvador Allende di Chile, sandi bertajuk Operasi Jakarta tahun 1971, Venezuela yang menggulingkan Hugo Chavez tahun 2001 (yang akhirnya gagal) dan sebagainya.
CIA mengorganisir dan membiayai pasukan paramiliter seperti di kelompok pemberontak Contra di Nikaragua untuk melawan pemerintah Sandinista, --yang meskipun pemberontakan ini tak mampu merebut kekuasaan tetapi membawa efek untuk mendeligitimasi pembangunan ekonomi karena serangan Contra dan embargo AS yang berujung pada kalahnya Sandinista dalam Pemilu tahun 1990. Dari tahun 1945 sampai akhir abad XX, AS coba menggulingkan lebih dari 40 pemerintahan asing, dan menghancurkan lebih dari 30 gerakan populis nasionalis yang berjuang melawan rezim yang tak tertahankan. Dalam prosesnya, AS telah menyebabkan kematian beberapa juta orang, dan menghukum berjuta orang lagi dalam kehidupan yang penuh penderitaan dan keputusasaan.
Tanpa mengabaikan analisa Chomsky terhadap media sebagai bagian dari upaya AS mencapai tujuan, atau apa yang disebut Chomsky sebagai upaya merekayasa sejarah (historical engineering) itu. Teori media Chomsky membawanya pada upaya menyibak peran-peran tersembunyi CIA di negara-negara ketiga yang diiringi aksi kejam tanpa dibuka media massa.
Chomsky mengamati, media terlibat dalam merekayasa sejarah (historical engineering) kala ia melihat CIA dengan orang-orangnya mengendalikan media AS pada kasus kekerasan dan konflik di Amerika Tengah (yang melibarkan Nikaragua, Honduras, El Salvador dan Costa Rica ). Media yang dikontrol CIA secara intensif terlibat dalam proyek CIA yang melakukan tindakan ‘pengiblisan kaum Sandinista’ (demonizing Sandinista) dan membela negara-negara terror ciptaan Washington (Hal 77-78).
‘’Selama enam bulan pertama setelah penandatanganan kesepakatan, tak satupun artikel mengenai kasus Guatemala yang dimuat di New York Time [media andalan CIA!], dan nyaris tak ada satupun dimuat dalam media utama AS lainnya,’’’ demikian hasil penemuan yang disampaikan seorang perempuan ahli Amerika Latin, Susannhe Jonas.
Dalam sebuah ulasan mengenai media yang terdiri dari Times, Christian Science Monitor, Miami Herald dan Wall Street Journal sejak Oktober 1987 sampai Maret 1988, Alexander Cockburn menemukan sedikit komentar tentang Guatemala dan tak ada satupun yang menyebut kian meningkatnya kekerasan politik selama November (Hal 99). Mungkin itulah yang dinamakan Chomsky sebagai aksi ‘penyaringan’ berita, demi melolos-luluskan kepentingan kekuasaan.
*) Peneliti CSSR (Center for Social Science and Religion) Jawa Timur & penulis buku: Cina, Naga Raksasa Asia.
KPO/EDISI 163/NOVEMBER 2008

Beladiri Jadi Way Of Life

thumbnail
Seni beladiri yang berkembang di masyarakat dapat dijadikan way of life. Selain menyehatkan juga membantu pola hidup yang positif. Esensi dan falsafah seni beladiri bersifat menjunjung tinggi nilai kejujuran.
Koordinator Penyelenggara Martial Arts Festival and Expo (MAFE) 2008, Budi Setiadi Ibrahim di Yogyakarta, Minggu (2/11) menyatakan, beladiri juga dapat menjadi senjata utama menghadapi persoalan hidup, baik pekerjaan, hubungan sosial maupun spiritual. Karena itu terjadi pergeseran persepsi masyarakat dari beladiri yang identik dengan olah raga keras menjadi sebuah way of life. Minimal terkandung nilai seni yang pantas dipelajari berbagai kalangan.
MAFE 2008 yang digelar di Atrium Galeria Mall Yogyakarta (29/10-2/110 dikemas dalam bentuk pameran dan demonstrasi seni beladiri. Setiap perguruan dan aliran beladiri yang tampil mengusung juga musik sebagai pendukung. Event itu diikuti 13 perguruan dan aliran seni beladiri, antara lain taekwondo, aikido, iaijitsu, tapak suci, merpati putih, perisai diri, jet kune do, taichi, jiujitsu, submission, harimurti, wushu dan kapoera. ‘’Selama ini sebagian besar orang kurang mengetahui dan mengerti tentang seni beladiri. Event ini memberi kesempatan luas kepada masyarakat untuk memperoleh informasi secara lengkap mengenai beladiri,’’ ujar Budi yang juga pelatih Taekwondo ini.
KPO/EDISI 163/NOVEMBER 2008

Pasta Gigi Bawa Tasya Rangkai Cerita Kehidupan

thumbnail
Berawal dari bintang iklan pasta gigi, Tasya berhasil merangkai cerita kehidupan masa depan terhadap kesehatan diri dan orang lain. Tasya juga semakin rajin ke dokter gigi. ‘’Saya sangat bersyukur bisa memerankan iklan tersebut karena secara tidak langsung memberikan pembelajaran bagi saya dan masyarakat luas untuk menjaga kesehatan gigi,’’ kata Tasya di Yogyakarta awal November.
Iklan tersebut diperankan sejak ia belum bisa membaca dan mengerti arti menjaga kesehatan gigi. ‘’Saat awal memerankan iklan tersebut saya masih harus dipandu karena belum bisa baca. Aku saat itu juga belum mengerti arti dari menjaga kesehatan gigi,’’ katanya. Setelah itu, ia jadi lebih tekun merawat dan menggosok gigi dengan benar.
KPO/EDISI 163/NOVEMBER 2008

Jangan Panik Hadapi Anak

thumbnail
Shahnaz Haque
Selebritis Shahnaz Haque menyerukan kepada orang tua untuk memperkenalkan kembali permainan tradisional kepada anak-anak karena selain menyehatkan tubuh juga mengurangi kebiasaan lama-lama menonton televisi. Permainan lompat tali, kata Shahnaz di Jakarta, Kamis (13/11), juga sebagai latihan mengelola emosi anak. Shahnaz menyarankan agar anak-anak tidak lebih dari dua jam ada di depan televise, apalagi ditemani makanan bisa berdampak pada obesitas (kegemukan).
Langkah yang bisa dilakukan orang tua, lanjutnya, dengan memberi bacaan buku menarik dan memecah konsentrasi dengan berdiri di depan televisi. ‘’Atau kita sering bolak-balik ke depan televisi sehingga anak yang tadinya sangat konsentrasi menonton bisa buyar karena kehadiran kita di depan televisi itu. Kita harus kritis melihat keadaan. Karena kalau anak dibiarkan berlama-lama di depan televisi apalagi dengan program-program yang lebih banyak tidak memberikan keteladanan akan membahayakan anak-anak kita,’’ katanya
Dari pengalaman ke beberapa daerah, sebut Shahnaz, ada kesamaan problematika mendidik anak. Seperti anak menangis, itu bisa diatasi dengan menggendong. Sebenarnya cara terbaik menggendong anak yang sedang menangis dengan posisi dada anak menghadap ke depan, bukan mendekapkan si anak di dada orang tua.
Untuk mendidik anak zaman sekarang, pinta Shahnaz, orang tua jangan panik. Sebagai suami istri, harus menerapkan ketentuan satu komando. Bagi Shahnaz, kemajuan teknologi seperti internet dan permainan berbasis teknologi informasi, tidak harus dimusuhi. ‘’Yang penting kita melakukan pendampingan kepada anak-anak sehingga anak-anak tahu mana yang boleh mana yang tidak boleh. Buat saya dan keluarga yang penting anak-anak saya kelak tumbuh menjadi anak yang tangguh. Dengan anak yang tangguh mudah-mudahan bisa mengatasi segala persoalan yang dihadapi,’’ ujarnya.
KPO/EDISI 163/NOVEMBER 2008

Kunjungan Turis Australia Meningkat

thumbnail
Bali Tempat Liburan Favorit
Pelancong Australia akan tetap menjadikan Bali sebagai tujuan utama berlibur, karena lokasinya dekat dan dinilai memiliki daya tarik tersendiri dibandingkan destinasi di negara lainnya.
"Apapun kendalanya, termasuk adanya ancaman terorisme, warga Australia akan tetap berharap bisa berlibur ke destinasi kita," kata koordinator gabungan asosiasi kepariwisataan "Bali Tourism Board" Ida Bagus Ngurah Wijaya kepada Antara.
Ngurah Wijaya beralasan bahwa warga Australia yang diistilahkan sebagai bangsa Eropa di Asia itu banyak mengetahui perkembangan Bali, termasuk masalah penjagaan keamanan yang dinilai cukup baik.
Data yang dilansir Antara, kunjungan turis Australia semakin ramai ke Bali bahkan sudah bertambah hingga 56 persen menjadi 226.799 orang selama Januari-September 2008, jika dibandingkan periode sama 2007 sebanyak 145.567 orang.
Persentase tertinggi peningkatan jumlah kunjungan turis asing ke Bali adalah Australia, menyusul Cina 53 persen dari 61 ribu menjadi 93 ribu orang, demikian dilaporkan Dinas Pariwisata Bali yang dilansir Antara.
Bertambah banyaknya turis Australia ke daerah ini karena pulau Dewata dijadikan sebagai tujuan utama berlibur sebab lokasinya dekat dan dinilai memiliki daya tarik tersendiri dibandingkan destinasi di negara lainnya.
Apalagi dengan dieksekusinya terpidana mati kasus bom Bali I, Amrozi, Imam Samudra dan Muklas, pekan lalu, diharapkan akan semakin memacu kunjungan turis Australia yang terbang langsung ke daerah ini.
Semakin banyak turis negeri tetangga ini datang ke Bali, karena mereka banyak mengetahui perkembangan daerah yang selama ini juga dijuluki pulau seribu pura, termasuk masalah penjagaan keamanan yang dinilai cukup baik.
Ida Bagus Ngurah Wijaya punya keyakinan warga Australia tetap berharap bisa berlibur di daerah ini, sehingga tetap berada di peringkat kedua terbanyak setelah Jepang. Tidak saja turis Australia diharapkan semakin ramai ke Bali juga masyarakat internasional lainnya sehingga mampu mencapai di atas dua juta kunjungan turis ke Bali selama 2008 dan sekarang sudah pada angka 1.479.079 orang.
KPO/EDISI 163/NOVEMBER 2008

MICE Dan Wisata Bahari Menjadi Tema VIY 2009

thumbnail
Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (Depbudpar) menetapkan melanjutkan program Visit Indonesia Year dan untuk tahun 2009 mengambil tema wisata MICE (Meeting Incentive Convension and Exhibition) dan wisata bahari.
Sekjen Depbudpar, Wardiyatmo, dalam satu acara diskusi kepariwisataan di Jakarta, mengatakan, Depbudpar memilih wisata MICE dan wisata bahari sebagai VIY 2009 karena dua bidang wisata tersebut merupakan sektor wisata yang tidak terpengaruh dengan kondisi keamanan suatu negara.
"Meeting itu tidak terpengaruh oleh suasana apapun," kata Wardiyatmo seperti dilansir Antara.
Sedangkan wisata bahari, katanya, merupakan wisata minat khusus di mana lokasi wisatanya berada di daerah yang sepi dan jauh dari keramaian.
Pada kesempatan terpisah, Dirjen Pemasaran Depbudpar, Sapta Nirwandar, mengatakan, program VIY 2009 MICE and Marine Tourism cukup kuat dan relevan mengingat tahun 2009 Indonesia akan melakukan pesta demokrasi (Pemilu) dan menjadi tuan rumah konferensi dunia World Ocean Conference (WOC) di Manado, Sulut.
"Dua produk unggulan yaitu wisata bahari dan wisata konvensi menjadi primadona untuk meraih target 8 juta kunjungan wisman tahun 2009," kata Sapta.
Sedangkan Asosiasi Kongres dan Konvensi Indonesia (Indonesia Conference and Convention Association/ INCCA) mendukung keputusan pemerintah yang menetapkan VIY 2009 dengan tema wisata konvensi dan wisata bahari.
"Hal itu (penyelenggaraan VIY 2009) sudah menjadi keputusan antara pemerintah dan industri pariwisata untuk melanjutkan VIY, karena kalau penyelenggaraaan VIY hanya sekali itu tidak efektif," kata Ketua Umum Asosiasi Kongres dan Konvensi Indonesia (Indonesia Conference and Convention Association/ INCCA), Iqbal Allan Abdullah.
Dia mengatakan, untuk penyelenggaraan VIY pada tahun-tahun mendatang akan dibuat fokus dengan suatu tema yang dipilih agar menarik minat segmentasi pasar yang dituju tersebut.
Mengenai pemilihan VIY 2009 yang terfokus pada wisata konvensi, Iqbal mengatakan, hal itu berdasarkan data profil wisman yang datang ke Indonesia sebanyak 40,1 persen bertujuan untuk MICE. "Dari data itu terlihat pasar MICE Indonesia besar dan peluang ke depan masih besar," katanya.
Selain itu, MICE merupakan sektor wisata yang tidak sensitif terhadap isu-isu yang mengganggu pariwisata pada umumnya, misalnya keamanan dan terorisme, karena pada umumnya wisman dengan tujuan MICE datang karena tugas dari institusinya. "MICE dipilih karena pada 2009 ada pemilu dan pilpres yang rentan terhadap keamanan, dan industri wisata yang tidak sensitif terhadap itu adalah MICE," kata Ketua INCCA tersebut.
Gahawisri (Gabungan Pengusaha Wisata Bahari) juga menyatakan mendukung keputusan pemerintah yang menetapkan VIY 2009 dengan tema wisata konvensi dan wisata bahari.
Sekjen Gahawisri, Didien Junaedy, mengatakan, tinggal bagaimana implementasi di daerah untuk VIY 2009 tersebut dengan penyiapan infrastruktur, kelembagaan dan SDM untuk mendukung hal itu.
"Untuk mengembangkan wisata bahari, SDM harus disiapkan, diinventarisasi dari tiap kabupaten, harus mengecek infrastruktur, misalnya bandara, pelabuhan, dermaga-dermaga di pulau kecil, juga akses transportasi lainnya," kata Didien.
Selain itu, katanya, daerah-daerah berpotensi wisata bahari juga perlu mengembangkan dan mengemas produk wisata bahari yang bisa dijual.
"Kalau satu produk dari destinasi wisata bahari jelas dengan pengemasannya, kita bisa promosikan dan kita bisa membantu mencarikan investasinya," katanya.
Didien melihat hal yang perlu diperhatikan adalah membina masyarakat agar mempunyai kesadaran wisata (tourism minded) karena wisata bahari berbasis masyarakat. "Wisata bahari harus berbasis masyarakat, dimana keikusertaan masyarakat itu mutlak perlu," katanya.
KPO/EDISI 163/NOVEMBER 2008

Air Terjun Benang Setukel Ramai Dikunjungi

thumbnail
Obyek wisata air terjun Benang Setukel dan Kelambu di Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB) mulai ramai dikunjungi wisatawan baik asing maupun nusantara.
"Selama ini masyarakat dan wisatawan hanya mengenal air terjun di Sinang Gila, di Kabupaten Lombok Barat bagian utara atau sekitar 100 km utara Mataram," kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata NTB, Drs. Lalu Gita Ariadi kepada Antara.
Untuk menuju obyek wisata air terjun Benang Setukel dan Kelambu dapat ditempuh dengan menggunakan kendaran roda dua dan empat walaupun jalan menuju ke Setukel masih jalan tanah.
Karena air terjun Benang Setukel dan Kelambu mulai didatangi wisatawan, maka pemerintah harus segera membenahi infrastruktur termasuk merintis jalan,membangun berbagai fasilitas terutama tempat beristirahat seperti berugak.
Obyek wisata air terjun Benang Kelambu ramai dikunjungi masyarakat terutama setelah Hari Raya Idul Fitri, ribuan masyarakat datang untuk mandi sehari suntuk.
Air terjun Benang Kelambu di samping indah juga dapat menjadi obat dan menyembuhkan berbagai jenis penyakit dan ini menjadi daya tarik trsendiri bagi wisatawan.
"Kunjungan wisatwan ke Benang Setukel, diharapkan mampu mendongkrak target kunjungan wisatawan ke daerah ini dan hingga akhir 2008 dapat mencapai 500.000 wisatwan," katanya.
Meningkatnya jumlah wisatawan yang berkunjung ke NTB terlihat dari jumlah tamu yang menginap di hotel berbitang selama Agustus 2008 sebanyak 20.523 orang terdiri atas tamu luar negeri 6.592 orang dan dalam negeri 13.931 orang.
Jumlah tersebut meningkat dibanding Juli 2008 sebanyak 18.625 orang terdiri atas tamu luar negeri 5.370 orang dan dalam negeri 13.255 orang.
"Sedangkan rata-rata lama menginap, yakni 3,36 hari untuk Agustus dan jika dibandingkan dengan Juli 2008 yang mencapai 2,98 hari, maka terjadi kenaikan 0,58 hari," katanya.
KPO/EDISI 163/NOVEMBER 2008

Makin Ramai Turis India Ke Bali

thumbnail
Wisatawan India ke Bali makin ramai yakni rata-rata 2.169 orang per bulan atau 17.354 orang selama Januari-Agustus 2008, naik jika dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya 1.700 orang per bulan.
"Saya yakin wisatawan mancanegara asal India, jumlahnya akan bertambah terus berlibur ke pulau Dewata, mengingat adanya banyak persamaan budaya," kata pengamat dan praktisi Pariwisata, Cokorda Agung kepada Antara di Denpasar.
"Potensi menarik wisatawan dari India sangat besar, apalagi negeri Baratha itu menjadi salah satu sasaran promosi pariwisata Indonesia yang dimulai tahun 2008 selain terhadap negara potensial lainnya," kata dia.
Ia memuji upaya pemerintah yang menyiapkan kantor perwakilan Departemen Pariwisata dan Kebudayaan di sejumlah kota besar di India seperti di Delhi dan Mumbai dalam upaya mempermudah promosi pariwisata Indonesia.
Wisatawan India ke Indonesia, tentu tujuan utamanya adalah Bali, yang memiliki keyakinan yang sama yakni Agama Hindu namun pelaksanaannya sedikit berbeda sehingga banyak masyarakat India yang tertarik ke pulau ini.
Pemerintah India juga membuka kantor pusat kebudayaannya di pulau Dewata yang maksudnya untuk mempererat tali persahabatan diantara umat manusia, sehingga dengan harapan adanya saling mengunjungi diantara kedua bangsa ini.
Masyarakat Bali sudah banyak melakukan kunjungan wisata ke berbagai obyek wisata menarik di India sambil melakukan perjalanan suci "metirtayatra" ke tempat-tempat suci seperti Pura tempat persebahyangan umat Hindu setempat.
Masyarakat India juga mulai tertarik berkunjung ke pulau Dewata, tidak saja berlibur juga banyak tokoh-tokoh spiritual negeri itu khusus terbang ke Bali untuk bisa membagi pengetahuan tentang kedamaian diri dan dunia.
Tokoh-tokoh Brahma Kumaris Spiritual Dunia (BKWSU) Mount Abu India, yang sering terbang ke Bali untuk bisa membagi-bagikan pengetahuan spiritual kepada masyarakat setempat juga diikuti dari siswa Brahma Kumirs seluruh dunia.
Sementara Dada JP Vaswani, seorang pemimpin spiritual yang sangat terkenal dari Sadhu Vaswani Centre di India, tamu dari sekolah Taman Rama Denpasar, mengaku senang setelah beberapa hari bersama masyarakat pulau Dewata. Banyak dan sering tokoh spiritual melakukan perjalanan suci ke Bali, tentu akan memberikan dampak positif terhadap perkembangan kepariwisataan, mengingat Bali sangat mendukung pengembangan pariwisata spiritual dunia, kata Cok Agung.
KPO/EDISI 163/NOVEMBER 2008

Membatik Bukan Hanya Milik Komunitas Jawa

thumbnail
Aktivitas membatik saat ini bukan hanya milik komunitas Jawa, tetapi telah menyebar ke berbagai wilayah di seluruh Indonesia sebagai salah satu upaya melestarikan peninggalan budaya bangsa ini.
"Upaya itu membuat eksistensi batik sebagai produk warisan budaya bangsa tetap terjaga dan terpelihara di negeri ini," kata Humas Sahabat Batik --kelompok anak muda peduli batik--, Retno Dewati dilansir Antara.
Ia mengatakan, terlalu sederhana jika eksistensi batik dimaknai hanya sebatas nilai ekonomis, karena sesungguhnya batik telah menjadi bagian yang terintegrasi dengan kehidupan masyarakat Indonesia.
Dalam hal ini, menurut dia, batik merupakan eksistensi yang tidak lepas dari proses warisan generasi ke generasi yang keberadaannya telah melampaui periode waktu yang cukup panjang dan tidak lekang oleh perubahan zaman.
Oleh karena itu, pengertian dan pemahaman masyarakat terhadap tingginya nilai batik sebagai warisan budaya bangsa harus selalu ditumbuhkan sehingga mereka tetap memiliki kesadaran untuk mempertahankan eksistensi batik di negeri ini dan berupaya agar lebih dikenal di mancanegara.
"Upaya itu harus dilakukan agar batik tidak diklaim sebagai milik negara lain. Langkah positif itu tidak berlebihan jika batik diakui oleh masyarakat global sebagai identitas bangsa Indonesia, karena batik telah begitu lekat dan dekat dengan masyarakat Indonesia," katanya.
KPO/EDISI 163/NOVEMBER 2008

Penggalian Situs Babadan Dihentikan

thumbnail
Penggalian situs peninggalan Kerajaan Kadiri di Dusun Babadan, Desa Sumbercangkring, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri, Jawa Timur dihentikan sementara.
"Pengggalian ini kami hentikan sementara karena data yang kami peroleh sudah cukup," kata arkeolog dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Trowulan, Danang Wahyu Utomo di Dusun Babadan, dikutip Antara.
Sebelumnya dia dan dua tim penggalian BP3 Trowulan telah melakukan penggalian di Situs Babadan. Tim kedua bekerja mulai 1 November 2008.
Dalam penggalian itu, lanjut Danang, timnya sudah bisa meraba keberadaan situs berupa candi tempat pemujaan setelah menemukan beberapa fragmen candi, di antaranya gapura (kala), relief pada pagar candi, dan beberapa arca dewa.
Hanya saja saat ditemukan, struktur bangunan itu sudah rusak berat karena tertimbun tanah dalam waktu yang relatif lama. Mengenai waktu dilanjutkannya penggalian, Danang mengaku belum bisa memastikan. "Kami harus menyampaikan laporan dan analisis temuan itu dulu," katanya.
Selama ini biaya penggalian Situs Babadan yang tak jauh dari lokasi ditemukannya Situs Tondowongso itu ditanggung sepenuhnya oleh pihak BP3 Trowulan.
Sementara itu pihak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kediri masih menunggu penjelasan lebih lanjut dari pihak BP3 Trowulan mengenai hasil penggalian dan analisis temuan Situs Babadan.
"Jadi sampai sekarang kami belum bisa memastikan, apakah nantinya lahan itu dibebaskan atau tidak," katanya sambil menambahkan, pihaknya telah mengajukan anggaran untuk proses penggalian itu dalam Perubahan Anggaran Keuangan (PAK) 2008.
KPO/EDISI 163/NOVEMBER 2008

Ruang Publik Kampung Kian Terkikis

thumbnail
Ruang publik yang diartikan secara umum sebagai ruang yang dapat diakses dan dimanfaatkan secara bebas oleh warga kampung kini semakin terkikis untuk kepentingan komersil dan personal.
"Proses kapitalisasi dan privatisasi yang menggerus ruang tidak hanya terjadi di perkotaan saja tetapi juga terjadi di kampung yang menjadi bagian tak terpisahkan dari sebuah kota," kata Dewan Pakar Pusat Lingkungan Hidup Universitas Gadjah Mada (UGM) Ir Bakti Setiawan PhD dalam acara peringatan Hari Persatuan Nasional Jerman di Yogyakarta, Rabu (5/11).
Mulai tergerusnya ruang publik di kampung, menurut dosen Teknik Arsitektur UGM itu, disebabkan tekanan ekonomi yang semakin tinggi sehingga masyarakat kampung mencoba bertahan dengan mengorbankan ruang publik yang dimilikinya.
Kondisi tersebut dapat dilihat diantaranya melalui pemanfaatan ruang-ruang terbuka di kampung untuk kepentingan komersil seperti pendirian kios yang kemudian menghilangkan `jalan rukunan` yang semula ditujukan sebagai perwujudan kerukunan warga dengan menyisihkan sebagian tanahnya untuk kepentingan jalan kampung.
Langkah Pemerintah Kota Yogyakarta yang membeli tanah untuk kemudian dijadikan sebagai ruang publik, dalam kacamata Bakti yang juga menjabat sebagai Ketua Program Studi Magister Perencanaan Kota dan Daerah UGM, justru akan melemahkan semangat warga untuk menjaga ruang publik tersebut.
"Mereka justru akan berpikir, toh Pemkot Yogyakarta akan membeli ruang publik itu, sehingga seharusnya uang dari APBD yang dipakai membeli tanah itu akan lebih bermanfaat bila digunakan untuk pemberdayaan masyarakat sehingga mereka tetap bisa mempertahankan ruang publik yang ada," kata Bakti.
Tergerusnya ruang publik karena tekanan ekonomi yang semakin berat tersebut juga berakibat pada hilangnya modal sosial di masyarakat seperti budaya gotong royong yang selama ini menjadi bagian dari tradisi bangsa Indonesia.
Tawuran antarremaja, anak sekolah atau bahkan mahasiswa yang kerap terjadi, juga disebabkan kurangnya ruang publik untuk membebaskan ekspresi. Jika `mall` yang banyak berdiri disebut mampu menggantikan ruang publik yang hilang, justru di dalam bangunan tersebut seseorang tidak bisa memerdekakan ekspresinya.
KPO/EDISI 163/NOVEMBER 2008

Cidomo Belum Saatnya Diganti

thumbnail
Untuk sementara kendaraan khas tradisional Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) Cikar Dokar dan Montor (Cidomo) belum saatnya dihapus atau diganti dengan jenis transportasi lainnya seperti becak.
"Cidomo atau sejenis dokar yang ditarik dengan kuda jumlahnya lebih dari 1.000 buah untuk Kota Mataram saja, sehingga dinilai membuat jalan-jalan menjadi kotor oleh kotoran kuda," kata Ketua DPRD Kota Mataram, Didi Sumardi.
Menurut Didi, cidomo merupakan salah satu mata pencaharian masyarakat Lombok, sehingga di berbagai sudut terdapat pangkalan cidomo, dengan tarif Rp1.500-Rp2.000 per orang.
"Yang perlu dipikirkan sekarang ini adalah bagaimana supaya cidomo tidak lagi membuat jalan-jalan menjadi kotor disebabkan oleh kotoran kuda," kata dia.
Dikatakan, sebenarnya sudah ada upaya yang dilakukan oleh setiap pemilik cidomo, yakni dengan memasang karung di belakang pantat kuda, sehingga jika kuda berak tidak jatuh ke jalan.
"Namun upaya tersebut dinilai kurang efektif, karena karung yang dipasang dibelakang pantat kuda terkadang kurang pas, sehingga kotoran kuda sering jatuh," kata dia.
Selain itu, Pemkot Mataram sebelumnya telah merancang membuat celana kuda yang harus dipakaikan pada setiap kuda yang akan menarik cidomo, namun hingga kini belum juga terwujud. "Karena ini belum terwujud, akhirnya Pemkot sekarang ini menetapkan jalur-jalur cidomo sehingga tidak lagi melintas di jalan protokol seperti Jalan Udayana, Langko dan Jalan Pejanggik yang menuju kantor Gubernur NTB," katanya dikutip Antara.
KPO/EDISI 163/NOVEMBER 2008

Bisnis Isi Ulang Parfum Cerah Dibidik Warga Berkantong Tipis

thumbnail
Usaha parfum isi ulang yang aromanya mirip dengan aslinya menjamur di berbagai kota besar di Indonesia. Di Semarang dan Denpasar, toko isi ulang parfum menjamur karena digemari oleh sebagian besar masyarakat kelas menengah.
Pantauan Antara di sejumlah toko parfum isi ulang di Semarang, menemukan parfum-parfum seperti merk Bulgari, Paris Hilton, J-Lo, Beckham, Dunhill, dan Blubery of London di toko-toko penjual parfum isi ulang.
Parfum isi ulang ini digemari masyarakat karena harganya bisa terjangkau, mengingat jika parfum asli bisa harganya mencapai ratusan ribu hingga jutaan rupiah per botol. Parfum mirip asli ini hanya berkisar puluhan ribu rupiah per botol.
Ridwan (50), pemilik toko di daerah Kauman Semarang, mengaku sudah menjalani bisnis ini sejak 1997. Pria yang menjalani bisnis ini secara tidak sengaja ini mengaku mendapat hasil Rp1 juta dengan jumlah konsumen rata-rata 50 orang per hari.
Harga yang ditawarkan cukup terjangkau, "Kalau bibit parfum per mililiter harganya Rp1.000, jadi tiap botol yang berisi 30 ml harganya sekitar Rp20 ribu sampai Rp35 ribu," katanya.
Akibatnya, kata dia, toko yang seharusnya buka mulai pukul 13.00 hingga 22.00 WIB terpaksa mundur sampai pukul 24.00 WIB karena kebanjiran pembeli.
Selain parfum khas Paris, dia mengatakan, juga menjual parfum khas Timur Tengah seperti Sultan, Apple Jin, 1000 Bunga, dan Silver. Penggemar parfum khas Timur Tengah ini rata-rata adalah orang keturunan Arab, santri, dan paranormal.
Meskipun bisnis serupa banyak bermunculan, ia mengaku, sudah memiliki pembeli tetap, bahkan di antaranya ada yang tidak untuk dirinya sendiri tetapi dijual lagi ke orang lain.
Edi (40), pemilik gerai parfum yang terdapat di Mal Ciputra, mengakui menjalani usaha seperti ini selama dua tahun.
Pemilik gerai yang di lantai tiga ini mengaku mendapat omzet sebesar Rp1 juta per hari. Bibit parfum yang dijual adalah bibit parfum dari Eropa serta bibit parfum khas Timur Tengah.
Dia juga melayani dalam bentuk sudah jadi dengan campuran alkohol atau metanol. "Kadang ada pembeli yang takut bila menggunakan alkohol tidak bisa digunakan untuk salat jadi bisa diganti menggunakan methanol," katanya.
Dia menambahkan, antara alkohol dengan metanol hampir sama kualitasnya. Campuran alkohol lebih tahan lama dibanding metanol dan efek samping ke kulit tidak ada, hanya saja bagi orang yang memiliki kulit sensitif sebaiknya bila menyemprotkan jangan sampai terkena kulit. Munculnya parfum isi ulang ternyata memberikan dampak yang cukup besar, mengingat bagi masyarakat berkantong tipis lebih senang membeli parfum seperti ini.
Di gerai parfum DP Mal yang menjual parfum asli, misalnya, pembeli rata-rata hanya 5-10 orang per hari dengan omzet Rp500 ribu sampai Rp3 juta per hari karena harganya cukup mahal antara Rp200 ribu hingga Rp2 juta. "Pembeli di sini sedikit mas, hanya orang-orang tertentu yang menginginkan kualitas terbaik saja dari parfumnya. Rata-rata kurang dari 10 orang per hari," kata Tuti, penjaga gerai yang buka di DP Mal dan Mal Ciputra.
KPO/EDISI 163/NOVEMBER 2008

Indonesia Jepang Expo 2008

thumbnail
Ciptakan Kerjasama Semua Sektor
OLEH: AGUS SALAM

Tak melulu soal ekonomi, Indonesia Jepang juga menjalani kerjasama yang erat dalam bidang kebudayaan, seni budaya, pertukaran pelajar dan lain-lain. Terbukti dengan diselenggarakannya kerjasama pameran Indonesia Jepang Expo 2008 di Kemayoran, Jakarta beberapa waktu lalu.
Hubungan Indonesia Jepang tak bicara hanya soal hubungan sejarah, tapi perjalanan sejarah selama 50 tahun telah memberikan pemahaman baru dalam kerjasama.Kerjasama ekonomi, pariwisata, kebudayaan dan lain-lain, menjalin bentuk-bentuk kerjasama yang saling menguntungkan.
Menurut Ketua Perhimpunan Persahabatan Indonesia Jepang Rachmat Gobel, acara ini merupakan kontribusi nyata dalam perayaan 50 tahun persahabatan Indonesia Jepang diikuti 100 lembaga pemerintah dan swasta.
‘’Keberhasilan sejumlah kegiatan yang terkait dengan perayaan 50 tahun hubungan Indonesia Jepang bukanlah keberhasilan dari segala-galanya, akan tetapi awal sukses 50 tahun mendatang yang akan dibangun bersama kedua negara,’’ katanya.
Modal 50 tahun hubungan kedua negara diharapkan dapat membangun semangat untuk memperluas dan memperkuat kerjasama hubungan ke arah yang lebih baik lagi. ’’Ini akan menjadi pekerjaan rumah baik bagi pemerintah, pengusaha, mahasiswa, maupun masyarakat lainnya,’’ katanya.
Meski mungkin beberapa sektor mengalami penurunan, tapi Indonesia dan Jepang tetap merupakan satu sinergi penting yang saling melengkapi. Misalnya, departemen keuangan telah mengeluarkan tiga peraturan untuk menopang implementasi kesepakatan kerja sama ekonomi Indonesia-Jepang (Economic Partnership Agreement).
Penerapan kerja sama ekonomi kedua negara itu diharapkan bisa memperkuat investasi dan industri domestik, selain mendorong pertumbuhan ekspor ke Jepang hingga 12 persen menjadi US$5,46 miliar.
Bagi Indonesia, Jepang merupakan negara mitra dagang terbesar dalam hal ekspor-impor. Ekspor Indonesia ke Jepang bernilai US$23,6 miliar (statistik Pemerintah RI ), sedangkan impor Indonesia dari Jepang adalah US$6,5 miliar sehingga bagi Jepang mengalami surplus besar impor dari Indonesia (tahun 2007).
Sementara data selama Januari-Mei 2008, menunjukkan Jepang merupakan tujuan ekspor terbesar dengan pangsa 12,28 persen senilai US$5,46 miliar. Pencapaian itu di atas Amerika Serikat dengan nilai US$5,13 miliar.
Komoditi penting yang diimpor Jepang dari Indonesia antara lain minyak, gas alam cair, batubara, hasil tambang, udang, pulp, tekstil dan produk tekstil, mesin, perlengkapan listrik, dan lain-lain.
Di lain pihak, barang-barang yang diekspor Jepang ke Indonesia meliputi mesin-mesin dan suku-cadang, produk plastik dan kimia, baja, perlengkapan listrik, suku-cadang elektronik, mesin alat transportasi dan suku-cadang mobil.
Dalam jumlah investasi langsung asing di Indonesia dari tahun 1967 hingga 2007, Jepang menduduki tempat pertama dengan angka 13,3 persen secara keseluruhan. Di Indonesia terdapat sekitar 1000 perusahaan Jepang yang beroperasi berdasarkan investasi langsung. Jumlah investasi yang sudah disetujui mencapai US$35 miliar. Perusahaan-perusahaan tersebut mempekerjakan lebih dari 200.000 orang Indonesia.

Order Tekstil “Middle Low” Meningkat

thumbnail
Permintaan pasar ekspor produk tekstil dengan kualitas menengah ke bawah (middle low) ke Eropa dan Amerika Serikat meningkat pada saat krisis global akhir-akhir ini.
"Dampak krisis global banyak pembeli produk `high class` beralih ke middle low, sehingga permintaan produk middle low mengalami kenaikan signifikan," kata Ketua Pertekstilan Indonesia (API) Jawa Barat, Ade Sudradjat seperti dilansir Antara.
Kenaikan permintaan produk menengah untuk pasaran Eropa dan Amerika Serikat itu mencapai 20 persen. Beberapa produk midle low yang mendapatkan pasar baru itu antara lain seperti T-Shirt serta produk tekstil kelas menengah ke bawah lainnya. "Sebaliknya produk yang tidak laku produk branded atau high class, karena pasarnya beralih ke middle low," kata Ade.
Akibatnya order yang banyak masuk saat ini untuk middle low, namun Jawa Barat hanya kebagian sedikit order untuk kualitas produk itu.
Menurut Ade, kebanyakan permintaan itu masuk ke Jawa Tengah karena di sana pusatnya produksi middle low, sedangkan di Jabar sebagian besar high class. Namun sebagian order ada yang masuk Jabar, katanya.
Dikatakannya, derasnya permintaan produk kelas menengah itu, produsen TPT kualifikasi middle low memilih pasar yang cukup aman minimal hingga April 2009 mendatang.
"Hingga April 2009, produk-produk middle low masih menjadi pilihan pasar Eropa dan Amerika," kata Ade.
Namun demikian bukan tanpa kendala, karena saingan meraih pasar di Eropa dan Amerika Serikat harus bersaing dengan produk Vietnam, Cina dan Bangladesh yang memiliki biaya energi dan tenaga kerja lebih mudah dibandingkan industri di Indonesia.
Ia mencontohkan, saat ini produk TPT ke AS tahun 2007 senilai 3,8 miliar dolar AS, lebih dari 30 persen di antaranya produk middle low.
"Pangsa pasar TPT produk kita di AS masih kecil yakni sekitar tiga persen, angka itu jauh dengan market share Cina yang mencapai 38 persen," ucapnya.
Namun ia berharap dengan adanya kebijakan pemerintah memproteksi impor produk serupa ke tanah air, bisa memperkuat pasar TPT dalam negeri.
"Fokus pertama mengamankan pasar di dalam negeri, kabijakan pemerintah antara lain dengan mengurangi pelabuhan untuk import, jelas membantu produk dalam negeri untuk bisa eksis memenuhi pasar di negeri sendiri," ucap Ketua API itu.
KPO/EDISI 163/NOVEMBER 2008

Kartel Ancam Perekonomian

thumbnail
Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Syamsul Maarif mengatakan, kehadiraan kartel dapat mengancam perekonomian bangsa.
"Tindakan seperti itu sangat mengganggu atau mendistorsi mekanisme pasar. Oleh karena tindakan kartel baik dalam negeri maupun luar negeri harus diminimalkan atau ditiadakan," kata Syamsul Maarif di Bali saat menghadiri pertemuan kerja sama ekonomi Asia Pasifik (APEC) ke-4, di Bali, Rabu (5/11) lalu.
Dikatakan, sejumlah negara di dunia telah melarang kegiatan kartel yang dilakukan oleh para pelaku usaha karena itu bertentangan dengan hukum persaingan usaha.
"Jika itu dibiarkan berkembang sudah tentu akan menguntungkan perusahaan tertentu, karena mereka berhak mengatur boleh dan tidaknya melakukan ekspor ke negara tertentu," ucapnya.
Melalui pertemuan kerja sama ekonomi Asia Pasifik (APEC) ke-4 ini diharapkan dapat saling bertukar informasi yang difokuskan pada isu-isu terkait dengan kebijakan persaingan usaha.
Ia mengatakan, konsep kerja sama tersebut tentunya didasari pemikiran bahwa peningkatan kecakapan dan keahlian dalam kebijakan persaingan usaha.
"Kita harapkan dapat memberikan masukan positif bagi para penyusun kebijakan persaingan usaha dalam melakukan perencanaan dan penyusunan kebijakan tepat yang nantinya akan diimplementasikan," katanya.
Hal senada juga diungkapkan perwakilan dari "The Competition Policy and Law Group" (CPLG), Toru Aizeki. Ia mengatakan, perlu ada pembahasan lebih lanjut antar anggota APEC, sehingga dalam usaha perdagangan saling menguntungkan.
"Dalam pertemuan ini kita akan bahas mengenai dampak kebijakan persaingan usaha, walau di masing-masing negara dalam implementasinya ada perbedaan," katanya.
Kegiatan APEC yang berlangsung selama dua hari, 6-7 November itu diikuti sejumlah negara, di antaranya Australia, Jepang, Cina, Indonesia dan Malaysia.
KPO/EDISI 163/NOVEMBER 2008

Budidaya Ikan Keramba Di Mataram Berkembang Pesat

thumbnail
Budidaya ikan dengan menggunakan keramba di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB) berkembang pesat, karena dinilai mampu meningkatkan pendapatan masyarakat.
"Anehnya lagi budidaya ikan keramba tersebut dipelopori oleh Remaja Masjid yang ada di daerah ini," kata Walikota Mataram, H. Moh. Ruslan, dikutip Antara.
Budidaya ikan keramba dipusatkan di sepanjang kali jangkuk Mataram dan terbanyak mulai dari Lingkungan Parigi hingga Gapug atau sekitar satu kilometer.
Dikatakan, pihaknya akan membantu dalam mengembangkan budidaya ikan keramba karena usaha tersebut harus didukung. Sebab ada sejumlah masyarakat yang datang ke kota yang menanyakan kapan walikota akan melepas ikan di perairan umum termasuk di kali Jangkuk.
Menurut Ketua Remaja Masjid Lingkungan Perigi, Baihaki, bagi remaja yang melakukan budidaya ikan keramba diberikan bantuan Rp1 juta untuk satu kelompok dan setiap kelompok beranggotakan tiga orang.
Dana sebesar Rp1 juta tersebut dipergunakan untuk membuat keramba dan membeli makanan ikan. Usaha ini mulai dilakukan tiga bulan lalu dan kini sebagian keramba sudah mulai panen.
Budidaya ikan keramba cukup menjanjikan, karena harga ikan nila atau mujahir terus naik, sebelumnya harga ikan nila Rp15.000 per kg, kini naik menjadi Rp20.000 per kg.
"Setiap keramba mampu menampung 400 ekor hingga 600 ekor ikan nila dan dapat dipanen setelah berumur tiga hingga empat bulan," katanya.
"Para remaja masjid tergugah untuk mengembangkan ikan keramba, setelah melihat hasil keramba yang berlimpah di Gegutu dan Sayang-Sayang Kota Mataram," katanya.
KPO/EDISI 163/NOVEMBER 2008

Sentra Patung Di Jepara Sepi Transaksi

thumbnail
Perajin patung dan aneka kerajinan seni lainnya di Desa Mulyoharjo, Kecamatan Kota, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah saat ini merasakan sepinya transaksi penjualan benda seni sebagai dampak krisis finansial global.
Meskipun krisis tersebut terjadi di luar negeri, kata salah satu perajin patung, Masduri, di Jepara, kepada Antara, Jumat (7/11), dampaknya dirasakan para perajin patung di desa ini, karena sekitar 90 persen pembelinya merupakan warga asing.
Ia mengatakan, lesunya transaksi penjualan mulai dirasakan perajin patung sejak awal September 2008 lalu. Bahkan, pengambilan serta pembayaran pesanan dari pembeli asal Amerika sempat tertunda selama tiga bulan lebih, akibat terjadi krisis finansial. "Awalnya, selang satu bulan (Oktober) pesanan akan diambil sekaligus pelunasan pembayaran, namun baru terlaksana selang tiga bulan," katanya.
Hingga kini, pihaknya memang masih merasakan dampak krisis tersebut, karena pembeli dari negera Eropa dan Asia belum melakukan transaksi kembali. Bahkan, sejumlah perajin ada yang mengalami sepi transaksi sejak tiga bulan terakhir. Juga tidak ada orang asing yang berlalu lalang mengunjungi sentra perajin patung hingga pekan ini, dibanding sebelumnya yang selalu ramai.
Padahal, kata dia, setiap transaksi dengan pembeli asing, nilainya mencapai Rp50 juta, sedangkan pembeli lokal hanya berkisar Rp5 juta-an. "Sementara ini, perajin lebih menggantungkan transaksi dari pembeli domestik," ujarnya.
Pernyataan serupa juga diungkapkan perajin patung lainnya, Tono. Ia mengatakan, pihaknya masih menggantungkan transaksi dari pembeli domestik. Sebelumnya, pihaknya sering menjadi langganan pembeli dari Amerika, Prancis, dan Italia. "Saat ini saya sedang menyelesaikan pesanan dari pembeli asal Bali dengan nilai transaksi berkisar Rp6 juta-an," ungkapnya.
Karya seni yang dihasilkan berupa souvenir unik, seperti cermin unik dari batang pohon jati, asbak unik, altar, dan sejumlah karya seni unik lainnya yang dijual dengan harga antara Rp30.000 hingga Rp200 ribu per unit.
KPO/EDISI 163/NOVEMBER 2008

Incomtech 2008 Hadirkan 300 Perusahaan IT

thumbnail
OLEH: AGUS SALAM
Sebagai salah satu pameran komputer terbesar di Indonesia, Indocomtech 2008 merupakan wujud perkembangan teknologi informasi. Konfergensi dunia semakin menguat karena itu pameran Indocomtech diharapkan bisa menjadi ajang untuk bertukar informasi teknologi terbaru,’’ kata Ketua Yayasan Apkomindo, G Hidayat Tjokrodjojo.
Menurut Hidayat, pameran di Jakarta Convention Centre (JCC) tersebut diprakarsai Apkomindo dan menjadi gelaran Indocomtech XVI dengan tema New World of IT. Indocomtech 2008 diikuti 300 perusahaan IT termasuk vendor, dealer dan dua asosiasi pedagang. Selain pameran juga digelar Indonesia Game Show yang pertama, Asia Pacific ICT Award dan konferensi hacker.
Pengunjung pameran bisa mencari notebook, flashdisk, memory, hardisk atau sekadar melihat-lihat perkembangan TI terbaru. Acara itu dimeriahkan dengan para vendor, pemain notebook/netbook seperti Toshiba, Acer, HP, Lenovo, Asus, Zyrex, Benq, Fujitsu, NEC, Wearnes, MSI, ECS, Dell, Vendor printer, kamera digital, memory card, software dan ISP.
‘’Kehadiran Indosat di ajang Indonesia Games Show ini merupakan bagian dari komitmen Indosat untuk selalu memberikan layanan yang disesuaikan dengan kebutuhan segmen pelanggannya secara lebih spesifik. Selain itu, kami berharap akan dapat mensosialisasikan berbagai layanan bernilai lebih dari produk-produk Indosat, termasuk game-game yang menarik,’’ kata Natasatria Adhitianto dari Group Head Gaming and Content Indosat.
KPO/EDISI 163/NOVEMBER 2008

KPID Minta Siaran Radio Hexon Lebih Spesifik

thumbnail
Oleh: Wayan Nita
Secara prinsip, kehadiran Radio Hexon cukup bermanfaat bagi masyarakat luas di Kecamatan Busungbiu, Buleleng. Hal tersebut terdengar dari berbagai masukan elemen masyarakat saat Evaluasi Dengar Pendapat yang dihadiri anggota Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Bali di Gedung IPSA (Institut Pelatihan Sumber Daya Alam) Bengkel, Buleleng, Kamis (13/11). Selaku pemilik PT Radio Hexon Agrocity, Gede Ngurah Wididana alias Pak Oles turut hadir didampingi Dewa Komang Merta selaku Administrator Radio Hexon serta seluruh kru penyiar.
Seperti disampaikan Komang Merta, KPID Bali diwakili 5 orang, antara lain Suryawan (Koordinator Perizinan), Sumadiasa (Pemberitaan), IB Mahendra dan Putu Gede Suardika. ‘’Pada intinya Radio Hexon yang langsung dibangun di kawasan pedesaan itu, KPID Bali meminta harus lebih spesifik dalam menggarap segmen-segmen siaran,’’ kata Komang Merta.
Radio yang didirikan di desa Bengkel itu untuk memberi informasi kepada masyarakat, baik berupa hiburan, pendidikan, pertanian, politik, sosial dan budaya. Khusus pertanian, media yang cukup intensif menyiarkan informasi tentang kesehatan, pertanian dan teknologi tersebut diharapkan bisa menggugah kaum muda untuk bangkit membangun desanya sendiri. Pada kesempatan tersebut, Ketua Majelis Madya Pakraman Buleleng, Made Rimbawa dan Ketua PHDI Pakraman Buleleng, Putu Wilase didaulat menjadi panelis.
Selain informasi, materi budaya daerah dan keagamaan menjadi salah satu fokus program siaran. Seperti Pesantian disiarkan setiap Rabu dan Sabtu selalu mendapat respon sangat banyak dari para pendengar, Dharma Wacana yang selalu ditunggu karena membuka wawasan masyarakat desa tentang agama. ‘’Dari siaran ini, sudah dilombakan Utsawa Dharma Gita untuk masyarakat Busung Biu,’’ tambahnya.
KPO/EDISI 163/NOVEMBER 2008

Minyak Oles Bokashi 5 Ml Mulai Dipasarkan

thumbnail
Oleh: Wayan Nita
Untuk lebih menyasar konsumen yang tinggal di pelosok-pelosok pedesaan, Industri Obat Tradisional (IOT) Bokashi memproduksi dan sudah memasarkan produk Minyak Oles Bokashi dalam kemasan 5 ml. Upaya itu dilakukan agar konsumen yang tinggal di daerah pedesaan dapat merasakan khasiat produk berlabel GNW itu dengan harga yang terjangkau.
Gede Ginarka, Kepala Pemasaran Bali mengakui, kemasan Minyak Oles Bokashi 5 ml sudah beredar sejak September lalu dengan target pasar, masyarakat pedesaan dengan perekonomian menengah ke bawah dan bagi konsumen yang desanya jarang dikunjungi tim SPG. ‘’Selama ini, mereka agak sulit untuk membeli Minyak Oles Bokashi dan sering kali mereka harus ke kota dengan mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Sekarang tidak perlu lagi menunggu kedatangan tim SPG,’’ kata Ginarka.
Titik pemasaran kemasan produk ini, sebut Ginarka, lebih ke warung-warung kelontong. ‘’Karena di desa banyak ada warung kelontong sehingga konsumen pecinta Minyak Oles Bokashi bisa membeli ukuran 5 ml. Selain di Bali, juga sudah bisa diperoleh di semua daerah pemasaran seperti di Jawa Timur, Jawa Barat, Jakarta, Banten, Yogyakarta, Jawa Tengah, Makassar, NTB dan Lampung. Produk ini tidak dibawa SPG Pak Oles tetapi langsung dijual oleh para pemilik warung. Jadi jika ada kebutuhan mendesak, tinggal beli di warung-warung. ‘’Soal khasiat, tidak ada yang berbeda dengan kemasan ukuran besar. Meskipun ukuran kecil tapi khasiatnya pasti tokcer,” tegas Ginarka.
KPO/EDISI 163/NOVEMBER 2008

Cabang Jakarta Siap Gandeng Puskesmas

thumbnail
Doni, salah satu TL Unit Pesona Khayangan Depok menyatakan, sejumlah Puskesmas di Depok dan Jakarta yang memesan banyak produk Ramuan Pak Oles sesuai permintaan konsumen. Karena itu, petugas Puskesmas mengusulkan adanya kerja sama antara kedua pihak dalam hal pemasaran.
‘’Beberapa Puskesmas besar di Jakarta dan Depok sudah menyatakan kesediaannya untuk bekerja sama. Mudah-mudahan bisa menjangkau ke semua Puskesmas di Jadebotabek,’’ harap Doni.
KPO/EDISI 163/NOVEMBER 2008

Tukang Ojek Depok Pakai Spontan Power

thumbnail
OLEH: DEDI PRIYONO
Setelah menggandeng bengkel-bengkel dan komunitas roda dua di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek), Tim Biotor mulai fokus membidik mereka yang berprofesi sebagai tukang ojek. Tim gawangan Bayu Kartika Yasa ini, mendatangi salah satu pangkalan Ojek di daerah Kukusan Kota Depok. Kedatangan tim biotor disambut hangat oleh para tukang ojek. Bagi sebagian penggeber roda dua itu, trio produk otomotif yang dipasarkan PT Pak Oles & Biotor Technology sudah cukup akrab. Tanpa sungkan, Hexon (Vitamin Oli) dan Kudo (Vitamin BBM) langsung ditawar. Bahkan, beberapa motor ojek sudah memakai Spontan Power (SP).
Rohmad, salah seorang tukang ojek mengaku, mereka di pangkalan Kukusan Depok sebelumnya mengenal produk otomotif asal Bali itu melalui tabloid oomotif MONTORKU dan Koran Pak Oles yang didistribusikan secara gratis oleh tim marketing. Tim Biotor yang dipimpin Ibrahim ke pangkalan ojek, ujar Rohmad, sangat membantu mereka untuk lebih irit BBM. ”Spontan Power saya akui dapat menghemat pemakaian BBM. Itu saya sudah buktikan sendiri. Konsumsi BBM bisa irit 15 sampai 20 persen. Lalu buat perawatan mesin, saya coba pakai Kudo dan Hexon,” kata Rohmad meyakinkan.
‘’Pengguna kendaraan roda dua dan roda empat merupakan pasar potensial yang patut digarap termasuk para tukang ojek yang saban hari bekerja dengan sepeda motor. Penghasilan yang sedikit memaksa mereka untuk mencari solusi menghemat BBM. Produk Spontan Power bisa menjadi salah satu solusinya,’’ kata Ibrahim, yang memberikan keringanan kepada para tukang ojek dengan system cicil untuk pembelian SP.
Tawaran Ibrahim langsung disambut dengan pembelian 10 SP, di samping Kudo dan Hexon. ”Sejak pakai Spontan Power saya sudah tidak begitu cepat untuk isi bensin. Penghasilan yang saya bawa pulang juga bertambah,’’ ujar Banjir, yang lebih dahulu memakai SP di kuda besinya.
KPO/EDISI 163/NOVEMBER 2008

NITRO Ultah, Biotor Ikut Jadi Sponsor

thumbnail
OLEH: DEDI PRIYONO
Salah satu komunitas roda membangun eksistensi diri lewat wadah Neo Independent Tiger Rider Organization (NITRO) merayakan HUT Kedua. Acara ultah itu digelar di Pantai Anyer Cibeurem Cilegon, Jawa Barat, pada minggu ketiga Oktober lalu.
Di bawah terik matahari dan hembusan lembut angin pantai, Stan Pak Oles & Biotor Technology yang menjadi salah satu sponsor pendukung paling ramai dipadati bikers. Rupanya mereka ingin mengetahui ketiga produk otomotif asal Bali yakni Spontan Power, Hexon dan Kudo. Mereka tertarik pada produk penghemat BBM seperti Spontan Power yang banyak diperbincangkan bikers bahwa SP dapat menghemat BBM hingga 20 persen. ‘’Antusias mereka cukup tinggi. Biker dari HMPC Lampung banyak yang membeli dan memasang Spontan Power,” kata Iing Adiwijaya, Tim Biotor Jakarta.
Bersama dua rekan yakni Cahyo dan Ibrahim, Iing bisa melayani biker baik yang pesan maupun bikers yang sekedar ingin tahu manfaat produk. Untuk Spontan Power, sebut Iing, sudah banyak dipakai klub-klub sepeda motor Tiger.
Geberan pesta selama dua hari tersebut dihadiri sekitar 2000 bikers dan diisi aneka kegiatan bikers, games dan hiburan live musik. Sebelum pulang, para bikers gelar turing thunder yang diikuti HTML, Detik, TC 125, Pulsaria, JBC, Sniper dan HMPC, serta bikers asal Cilegon, Jogyakarta, Lampung dan Jatim.
KPO/EDISI 163/NOVEMBER 2008

Tumor Jinak Hilang Berkat Minyak Oles Bokashi

thumbnail
Nama: Indriatmono, 48 tahun, PNS, tinggal di Banyumanik, Semarang.
Pengalaman:
Ada benjolan kecil di tubuh saya yang pelan-pelan tumbuh sebesar bola pingpong. Kata dokter itu tumor jinak. Dalam istilah Jawa disebut uci-uci. Saya pun naik ke meja operasi untuk pengangkatan tumor tersebut. Tapi beberapa tahun kemudian benjolan itu tumbuh kembali. Atas saran SPG Pak Oles, saya ditawari Minyak Oles Bokashi sebagai alternatif pengobatannya. Ternyata setelah saya olesi secara rutin, benjolan itu lama-lama menyusut dan kecil. Kini, alhamdulillah, benjolan itu sudah hilang.
KPO/EDISI 163/NOVEMBER 2008

Minyak Oles Bokashi Atasi Sakit Perut

thumbnail
Nama: Ristina Irnawan, 19 tahun, tinggal di Kel. Paminggir, Kec. Garut, Bandung.
Pengalaman:
Saat saya sedang sakit perut dan mules, tetangga saya memberi Minyak Oles Bokashi. Saya langsung mencoba minum sekitar tiga tetes dicampur air hangat serta mengoleskannya di bagian perut. Selang dua puluh menit, rasa sakit itu hilang sama sekali. Sejak hari itu sampai sekarang saya selalu memakai Ramuan Pak Oles.
KPO/EDISI 163/NOVEMBER 2008

Minyak Oles Bokashi Sembuhkan Herpes

thumbnail
Nama: Susilowati Budiningsih, 52 tahun, PNS, tinggal di Salatiga, Jawa Tengah.
Pengalaman:
Ibu saya menderita diabetes akut. Setiap hari ia selalu minum bermacam-macam obat dan disuntik insulin. Suatu ketika punggung ibu saya terkena herpes/dompo. Saya sempat panik kalau herpes tersebut menjalar ke bagian tubuh yang lain dan susah sembuhnya. Lalu punggung ibu saya langsung diolesi pakai Minyak Oles Bokashi. Alhamdulillah, sehari kemudian herpesnya mengering dan punggung ibu saya sembuh seperti semula.
KPO/EDISI 163/NOVEMBER 2008

Madu Sekar Turunkan Berat Badan

thumbnail
Nama: Lina Karlina, 20 tahun, pelajar, tinggal di Desa Pakuwon, Garut, Jawa Barat.
Pengalaman:
Saya mengenal Ramuan Pak Oles dari ayah saya. Beliau menyarankan saya mengonsumsi Madu Sekar untuk menurunkan berat badan. Awalnya saya memang ragu, tetapi karena terbuat dari madu dan bahan alami saya mencobanya. Saya rutin mengonsumsi Madu Sekar ditambah dengan olah raga teratur. Beberapa bulan kemudian, berat badan saya turun sampai 17 kg. Memang pada bulan pertama tidak langsung turun signifikan tapi karena teratur mengonsumsinya saya dapat merasakan khasiatnya. Berat badan yang sudah turun pun tidak naik kembali.
KPO/EDISI 163/NOVEMBER 2008

EM Keramik Atasi Pegal-pegal

thumbnail
Nama: Toekiman, 48 tahun, PNS, tinggal di Semarang.
Pengalaman:
Saya menderita pegal-pegal di seluruh tubuh usai melakukan banyak pekerjaan. Jalan jauh sedikit sudah ngos-ngosan. Akhirnya badan jadi lemah tak bertenaga. Beruntung ada SPG Pak Oles yang menyarankan saya memakai Gelang EM Keramik. Saya rutin memakainya setiap hari dan waktu tidur malam. Ternyata badan saya jadi segar bugar dan rasa pegal-pegal hilang. Selain itu, stamina saya selalu terjaga.
KPO/EDISI 163/NOVEMBER 2008

Parem Lantik Hangatkan Badan

thumbnail
Nama: Wayan Swenda, 73 tahun, petani, tinggal di Banyuatis, Singaraja.
Pengalaman:
Di usia yang sudah semakin tua, tentu banyak keluhan atau rasa sakit yang saya rasakan seperti pegal-pegal, nyeri persendian, masuk angin dan lain sebagainya. Beruntung saya selalu menggunakan setiap hari produk Pak Oles seperti Parem Lantik dan Minyak Oles Bokashi. Sejak menggunakan dua produk tersebut, saya masih bisa bertani di ladang dan badan juga masih terasa segar dan hangat.
KPO/EDISI 163/NOVEMBER 2008

Stamina Stabil Minum Madu Resi

thumbnail
Nama: Dayatno, 49 tahun, pekerjaan waker, tinggal di Semarang.
Pengalaman:
Saat ada SPG Pak Oles menawarkan berbagai Ramuan Pak Oles, saya sempat meragukan khasiatnya. Setelah saya menggunakan Minyak Oles Bokashi dan minum Madu Resi, barulah saya percaya. Berkat minum Madu Resi, badan terasa segar dan tenaga serta stamina selalu stabil. Dengan memakai Minyak Oles Bokashi, saya jarang masuk angin lagi.
KPO/EDISI 163/NOVEMBER 2008

Krim Saribing Haluskan Kulit

thumbnail
Nama: Rizki Nevy Anisa, 20 tahun, tinggal di Cimahi, Bandung.
Pengalaman:
Di wajah saya terdapat noda-noda hitam yang membuat saya tampil kurang percaya diri. Beruntung saya mendapatkan Krim Saribing racikan Pak Oles. Setelah saya memakai Krim Saribing selama sebulan, alhamdulillah, noda-noda hitam di muka saya hilang. Muka saya terlihat halus dan semakin cerah.
KPO/EDISI 163/NOVEMBER 2008