RI Targetkan 300 Ribu Wisatawan Cina

thumbnail
Dubes RI untuk Cina Sudrajat mengatakan, target wisatawan Cina ke Indonesia pada 2009 sebesar 300 ribu orang atau sama dengan tahun lalu meskipun realisasi jumlah wisatawan Cina ke Indonesia pada 2008 lebih 332 ribu orang.
"Kita paham dengan adanya kontraksi ekonomi karena adanya krisis keuangan dunia jadi saya tidak mau terlalu ambisius. Seandainya 300 ribu wisatawan tercapai itu sudah bagus selama 2009," kata Dubes Sudrajat saat dihubungi dari Beijing, Selasa pekan lalu.
Dirinya mengatakan bahwa dirinya sudah mendapat info dari Departemen Pariwisata dan Kebudayaan RI bahwa wisatawan Cina ke Indonesia selama 2008 sudah mencapai lebih 332 ribu orang yang berarti mampu melampaui target sebesar 300 ribu orang.
Untuk tahun 2009, katanya, dirinya sebenarnya sangat mengharapkan bahwa kunjungan wisatawan Cina ke Indonesia bisa lebih tinggi lagi sehingga bisa mematok target lebih dari 300 ribu orang.
Tapi menurutnya, adanya kontraksi ekonomi dunia karena krisis keuangan global memaksa situasi perekonomian dunia juga berpengaruh dan ini yang menyebabkan tidak terlalu optimisnya adanya peningkatan signifikan wisatawan Cina ke Indonesia pada 2009.
"Saya belum berani pasang target melampaui 300 ribu wisatawan Cina ke Indonesia selama 2009. Bisa bertahan atau sama dengan 2008 saja sudah cukup bagus," kata dubes.
Meskipun demikian, katanya, pihak KBRI Beijing akan terus menerus melakukan upaya promosi potensi pariwisata di beberapa daerah di Indonesia kepada masyarakat Cina sehingga bisa mencapai jumlah kedatangan wisatawan Cina lebih optimal.
Pihak KBRI Beijing selama 2009 telah mengagendakan sejumlah kegiatan promosi pariwisata ke beberapa kota di Cina dalam upaya lebih memperkenalkan potensi tujuan wisata yang ada di Indonesia.
Apalagi dengan adanya fasilitas "Visa on Arrival" (VoA) bagi warga Cina yang akan berkunjung ke Indonesia, kata dubes, maka hal itu tentunya akan memudahkan warga Cina melakukan kunjungan ke Indonesia sebagai wisatawan.
Koran Pak Oles/Edisi 168/1-15 Februari 2009

Sepeda Motor, Kulkas Dan TV Untuk Olesmania

thumbnail
OLEH: Beny Uleander
PT Pak Oles & Biotor Technology yang memproduksi produk adiktif otomotif Ramuan Pak Oles (Spontan Power, Hexon dan Kudo) kembali menggelar gebyar kupon undian berhadiah. Beragam hadiah untuk konsumen olesmania di antaranya 6 unit sepeda motor, 12 kulkas, 30 TV, 100 magicom dan berbagai hadiah hiburan menarik lainnya.
Menurut Direktur PT Pak Oles & Biotor Technology Ir Agus Urson Hadi P, tata cara atau mekanisme pelaksanaan pengundian setiap pembelian Rp 50.000 dan kelipatannya mendapatkan satu kupon undian. Waktu penyelenggaraan undian selama 10 bulan, mulai tanggal 1 Februari – 30 November 2009. Dan, wilayah undian, papar Agus Urson meliputi areal pemasaran di Bali, Jawa, Jakarta, NTB dan Sulsel. Pengundian akan digelar tanggal 17 Desember 2009 di Denpasar. “Setiap konsumen yang membeli Spontan Power, Kudo atau Hexon seharga 50 ribu rupiah di konter-konter Pak Oles akan memperoleh kupon undian tersebut,” ujarnya.
Lanjut Agus Urson, permohonan rekomendasi ijin undian gratis dan promosi berhadiah sudah selesai di tingkat propinsi dan akhir Januari akan keluar ijin dari Departemen Sosial melalui Direktur Jenderal Bantuan dan Jaminan Sosial. Karena itu, launching gebyar undian baru dimulai awal Februari ini, ungkap Agus Urson.
Undian tersebut, papar Urson, bertujuan sebagai sarana promosi agar masyarakat memanfaatkan produk Biotor. Selain itu, gebyar undian berhadiah tidak lain adalah bentuk pemberdayaan masyarakat. “Salah satu cara perusahaan memanjakan olesmania,” ujarnya.
Undian dibagi untuk 6 cabang pemasaran se-Indonesia, tetapi yang terbanyak di Bali. “Ya tujuannya agar undian tersebar merata untuk semua konsumen di Indonesia yang mendapatkan kupon undian,” kata Urson.
Sedangkan pengumuman hasil penarikan undian akan diumumkan secara langsung melalui Koran Pak Oles, Tabloid Otomotif Montorku dan pemberitahuan lewar surat, telepon, fax, maupun email. Karena itu kita berharap konsumen yang mendapat kupon undian agar mengisi biodata dan indentitas diri yang lengkap dan jelas agar mudah dihubungi kelak, harap Agus Urson.

Susunan Hadiah: Jenis Hadiah: Harga Per Unit
Hadiah I : 6 Honda Supra X 125 D : @Rp 13.960.000
Hadiah II : 12 unit Kulkas 1 Pintu LG : @Rp 1.475.000
Hadiah III : 30 unit TV Colour 21’ Polytron Flat : @ Rp 1.110.00
Hadiah IV : 100 Magicom : @ Rp 195.000
Hadiah V : Hadiah Hiburan : @ Rp 50.000


Koran Pak Oles/Edisi 168/1-15 Februari 2009

Ingin Girly Plus….

thumbnail
Aura Gizella
Sesi pembukaan sebuah event otomotif sering menyuguhkan hiburan menantang. Aksi freestyle sengaja dihadirkan untuk menarik pengunjung. Kadang aksi-aksi mereka justru membahayakan. ‘’Bagi mereka beraksi gaya bebas nan ekstrim, mengangkat bahkan memutar-mutar motor layaknya berdance sama motor dianggap paling seru. Tapi kalo jatuh siapa yang disalahin,” ujar Aura Gizella tentang aksi nekat klub motor yang memeragakan free style dalam sebuah event otomotif.
Sebagai model Aura mengaku cinta pada dunia otomotif, terlebih trend modifikasi karena lebih aman. Dara manis yang tergabung dengan agency Belby Enterprise ini kepincut glamoritas modifikasi yang dinilai unik dan keren. Cewek yang hobi fashion dan dance ini berangan-angan, ingin mengaplikasi mobil girly di tunggangan harian dengan body dilabur seirama ungu, berpintu gullwing dan daleman serba klasik plus audio. (Wiliz Zuraidah)

Biodata
Nama : Aura Gizella
Panggilan : Aura
Tempat Tanggal Lahir : Denpasar, 17 Februari 1994
Tinggi/Berat Badan : 170 cm/50 kg
Pendidikan : Pelajar SMP Santo Yosep Denpasar
Orang Tua : Tika Indrawan & Ayu Rai Sri Wulan
Alamat : Jl Pulau Batanta 3, Denpasar
Prestasi :
Modelling
Dance
Theater
Motor Favorit : Honda Vario
Agency : Belby Enterprise
Jl Bhineka Nusa Kauh I Blok P/119
Telp (0361) 7430478 Dalung Permai, Badung
Lokasi Pemotretan : Dealer Bajaj, Jl Marlboro, Teuku Umar Barat Denpasar
Fotografer : Gede Sustrawan & Putu Wirnata
Koran Pak Oles/Edisi 168/1-15 Februari 2009

Pemasangan SP Pada Honda Supra X 125

thumbnail
Spontan Power (SP) adalah produk otomotif yang diciptakan Pak Oles dari butiran EM Keramik untuk menghemat bahan bakar minyak (BBM). SP juga menjaga kebersihan karburator, memperpanjang umur busi serta meningkatkan performa mesin kendaraan roda dua dan empat. Berikut langkah aplikatif pemasangan SP pada sepeda motor Honda Supra X 125. Peralatan yang disiapkan: beng plus, gunting, dan Spontan Power Motor.
Cara pemasangan:
1. Buka dek mesin (penutup bodi) bagian tengah dengan obeng plus (Gbr I)
2. Perhatikan selang bensin dari tangki ke karburator, selang bensin berwarna abu-abu dan dibungkus karet berwarna hitam.
3. Potong selang 6 cm dan hubungkan dengan kedua nepel SP yang bisa dibolak-balik (Gbr II )
4. Letakan SP di samping kiri sasis tengah (Gbr III) dan SP siap untuk digunakan.
Selamat mencoba!
Koran Pak Oles/Edisi 168/1-15 Februari 2009

Pemasangan SP Pada Honda GL

thumbnail
Tanya:
Pak Yunus yang terhormat!
Saya memakai Spontan Power pada sepeda motor sport, Honda GL. Motor tersebut jarang saya pakai. Setiap distarter aliran bensin awalnya tidak normal. Apakah pengaruh Spontan Power. Mohon penjelasan.
Pengirim: HP No: 085 230 XXXX
Jawab:
Pemasangan Spontan Power pada sepeda motor sport Honda GL harus ada penambahan selang kira-kira 25 cm. Agar tidak terjadi tekanan aliran bensin ke karburator (karburator banjir). Solusinya: perhatikan kondisi selang bensin agar tidak tertutup. Posisi Spontan Power harus lebih rendah dengan keran bensin. Lepaskan selang bensin pada nepel in karburator. Perhatikan ada tumpahan bensin atau tidak. Bila ada, artinya sirkulasi bensin lancar. Hidupkan kendaraan dalam keadaan stasioner selama 5 atau 10 menit. Bila tidak ada perubahan getaran mesin atau mesin itu mati mendadak artinya sirkulasi bensin ke karburator lancar dan aman. Selamat mencoba!
Koran Pak Oles/Edisi 168/1-15 Februari 2009

Hidup Sehat Demi Hati Anda

thumbnail
Hanya kita yang bisa mengatur dan menjaga kesehatan tubuh. Berikan yang terbaik untuk tubuh kita! (dr IM Maitriya, Sp.PD)
Oleh: Wayan Nita
Kanker hati merupakan jenis penyakit dalam yang sering dialami penduduk Indonesia. Pada umumnya, penderita kanker hati pernah terinfeksi virus Hepatitis B atau C.
Menurut spesialis penyakit dalam RSUD Wangaya, Denpasar dr. I.M. Maitriya, Sp.PD, kanker hati diakibatkan oleh gaya hidup tidak sehat. Seperti kebersihan lingkungan yang rendah, terlalu banyak mengonsumsi makanan yang berminyak, menggunakan pengawet atau pewarna, penggunaan obat-obatan dan minuman beralkohol. Selain itu, tidur terlalu malam dan bangun terlalu siang dapat merusak hati dan memicu kanker hati.
“Hati yang sudah terserang virus hepatitis B sering menyebabkan penyakit menjadi kronis. Kadang-kadang berubah menjadi tumor ganas (kanker hati). Gejala awal terserang kanker hati ini tidak khas. Seringkali pasien datang berobat sudah dalam keadaan terlambat,” ungkap dr I.M. Maitriya.
Hati merupakan organ dalam tubuh manusia yang sangat penting dalam proses metabolisme. Karena hati berfungsi mengubah racun yang diproduksi oleh tubuh menjadi unsur yang diterima oleh organ lain. Hati juga menghasilkan zat empedu yang berguna untuk mengemulsikan lemak dalam makanan.
Jia hati rusak, sebut dr Maitriya, proses metabolisme dalam tubuh terganggu. Daya tahan tubuh akan lemah dan mudah terserang penyakit. Virus yang sudah menyerang hati biasanya ditandai dengan demam, muncul benjolan di perut kanan bagian atas disertai nyeri. Badan menjadi lemas, mual hingga muntah. Namun tidak semua orang mengalami gejala seperti itu.
Dr Maitriya menganjurkan pasien dengan gejala tersebut sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter. Dan dokter biasanya melakukan serial pemeriksaan laboratorium, USG perut bagian atas dan CT Scan perut. “Pengobatan akan lebih ditekankan pada penyebabnya. Jika virus penyebabnya adalah hepatitis B maka akan diobati dulu,” ungkapnya.
Pencegahan kanker hati dimulai dengan penerapan gaya hidup sehat. Kacang tanah yang sudah lapuk dan menghitam, sebut dr Maitriya, jangan dikonsumsi lagi. Karena kacang sudah mengandung aflatoksin beracun yang berbahaya bagi tubuh. Selain itu, sebisa mungkin tidur sebelum pukul 11 malam dan bangun sebelum pukul 7 pagi. Sebab, malam hari adalah proses pengeluaran zat-zat beracun dalam tubuh, seperti pada bagian hati, empedu, paru-paru dan usus. Jadi proses detoxifikasi harus dalam keadaan tubuh rileks dan tidur agar proses terebut berjalan lancar. Sarapan pagi sangat bagus sebelum jam 9 pagi, karena waktu yang tepat untuk penyerapan gizi makanan bagi usus kecil. “Hanya kita yang bisa mengatur dan menjaga kesehatan tubuh. Jika tidak ingin sakit-sakitan, dari sekarang kita harus memberikan yang terbaik untuk tubuh,” pungkas dr Maitriya.

Tips Cegah Kanker Hati

Pola Hidup Tidak Sehat
1. Tidur larut malam.
2. Sering bangun kesiangan.
3. Jarang sarapan pagi.

Pola Hidup Sehat
1. Tidur sebelum pukul 11 malam.
2. Bangun sebelum pukul 7 pagi.
3. Sarapan pagi sangat bagus sebelum jam 9 pagi.

Makanan/Minuman Berbahaya
1. Kacang tanah yang lapuk & menghitam.
2. Makanan berminyak.
3. Makanan menggunakan pengawet/pewarna.
4. Minuman beralkohol.
Alasan
1. Kacang yang lapuk sudah mengandung aflatoksin beracun yang berbahaya bagi tubuh.
2. Malam hari adalah proses pengeluaran zat-zat beracun dalam tubuh
3. Proses detoxifikasi harus dalam keadaan tubuh rileks dan tidur agar lancar.
4. Sarapan pagi adalah waktu yang tepat untuk penyerapan gizi makanan bagi usus kecil.

Koran Pak Oles/Edisi 168/1-15 Februari 2009


Bintik Merah Di Paha Sembuh

thumbnail
Pengalaman U Suhanda Gunakan Minyak Oles Bokashi
Oleh: Dedi Priyono
Penyakit gatal-gatal yang menyerang tubuh memang kelihatannya amat sepele. Menunda pengobatan toh tidak sampai menyebabkan kematian. Namun bagaimana kalau rasa gatal itu amat akut. Apalagi sampai mengganggu aktifitas seseorang. Bayangkan seorang karyawan di kantor setiap saat menggaruk-garuk tubuhnya. Atau seorang manajer yang sedang memimpin rapat sesekali tangannya bergerak-gerak menggaruk bokongnya yang gatal. Terlihat seperti adegan yang menggelikan. Dan, tentunya sang manajer jadi salah tingkah di depan stafnya!
U Suhanda, seorang staf sekuriti SMA 58 Ciracas Jakarta Timur pernah merasakan pengalaman tidak enak dengan penyakit gatal-gatal yangn lama bersarang di tubuhnya. Tepat menyerang seputaran pahanya. Ada bintik-bintik merah yang menimbulkan rasa gatal tak tertahankan.
Padahal, Suhanda sudah berupaya berobat ke dokter umum maupun mencoba berbagai salep anti gatal dan jamur yang dibeli dari toko obat dan apotik. Namun hasil yang didapat nihil. Rasa gatal sekitar paha menjadi beban derita yang ditanggung ayah dua anak itu saban hari. “Awalnya badan terasa kurang enak, gatel-gatel dan ada bintik-bintik merah di bagian paha,” ungkap pria kelahiran Sukabumi pria yang merantau ke Jakarta sejak tahun 1974.
Karena penyakit gatal yang kunjung hilang, Suhanda memutuskan berobat ke dokter spesialis penyakit kulit. Resep obat luar dan dalam dari dokter yang harganya lumayan mahal dikosumsinya sesuai aturan pakai. Lagi-lagi tak membuahkan hasil. Suhanda sempat bingung bercampur rasa putus asa.
Bahkan, gatal-gatal yang dideritanya bertambah parah, bintik-bintik merahpun menyebar rata di paha. Selama dua tahun, pria berkumis ini tersiksa oleh penyakit gatalnya yang tak kunjung hilang.
Di tengah keputusasaannya, ia didatangi oleh Ria seorang SPG Ramuan Pak Oles yang sedang berpromosi di tempat tugasnya. Setelah mendengar keluh kesah Suhanda, Ria menyarankan Suhanda untuk mencoba ramuan tradisional Minyak Oles Bokashi yang terbuat dari berbagai jenis tanaman obat dengan metode fermentasi teknologi effective microorganisms.
”Benar saja, begitu Minyak Oles Bokashi dioleskan, gatel berkurang dan perlahan menghilang. Bentol-bentol yang umumnya menyebar juga tidak terjadi saat proses penyembuhan,” terang pria ini yang telah mengabdi 9 tahun di sekolah negeri unggulan tersebut.
Karena khasiatnya benar-benar terbukti, U Suhanda selalu menyiapkan minyak racikan Dr Ir GN Wididana, M.Agr itu di ruang tugas dan rumahnya. ”Setelah saya ceritakan khasiatnya, guru-guru SMA di sini (SMA 58 Ciracas- red) sekarang selalu sedia Minyak Oles Bokashi untuk menyembuhkan berbagai penyakit, termasuk pilek,” jelas Suhanda, yang kerapkali mengobati pilek dengan meneteskan Minyak Oles Bokashi ke jari tangan kemudian dimasukkan ke hidung.
Kini Suhanda telah menjadi pengguna setia berbagai produk Ramuan Pak Oles seperti Madu Jamur, Madu Malen, Madu Resi dan Gelang & Kalung EM Keramik untuk memperlancar peredaran darah dan mengatasi penyakit asam urat yang dideritanya.
Koran Pak Oles/Edisi 168/1-15 Februari 2009

Charles Saerang Impikan Jamu Jadi ‘Serbat Morning’

thumbnail
Pemilik dan pemimpin perusahaan jamu Ny Meneer Semarang, Jawa Tengah, Dr Charles Saerang, mengaku sangat bangga dengan produk jamu tradisional di tanah air.
Jamu Indonesia sekarang ini sudah semakin memasyarakat dan disukai bahkan bisa dijadikan kebanggaan, karena selain sudah menembus pasar luar negeri seperti Amerika, Eropa, Australia, Timur Tengah dan Asia, juga mampu menyerap ribuan tenaga kerja.
Namun, disayangkan ada jamu-jamu tradisional yang produknya dicampur dengan bahan kimia obat (BKO), padahal cukup banyak tanaman asli di Indonesia yang bisa digunakan untuk dijadikan jamu berkhasiat.
Ia berangan-angan dan menawarkan, produk asli Indonesia ini bisa dijadikan ikon dalam acara-acara seremonial, seperti yang dilakukan di beberapa negara.
Dicontohkan, di Jepang misalnya, dikenal dengan "tea morning", demikian pula di Brasil dan beberapa negara lainnya. "Kenapa kita (Indonesia) tidak membuat dan membudayakan jamu dengan `serbat morning` misalnya, agar jamu semakin dikenal dan menjadi ciri khas dan identitas bangsa.
Pria kelahiran Semarang pada 20 Februari 1952 dan berputra dua itu bertekad akan tetap komit untuk meningkatkan martabat jamu dengan berbagai upaya yang tidak melanggar norma, etika dan budaya.
Saat ditemui Antara di sela pelantikan pengurus DPD Gabungan Pengusaha (GP) Jamu Provinsi Jambi, pekan lalu, Charles Saerang yang menjabat Ketua Umum GP Jamu Indonesia itu menyatakan di tengah krisis global yang juga melanda Indonesia saat ini, pemerintah harus memberi perhatian terhadap industri jamu yang ada. Suku bunga yang tinggi saat ini sangat tidak menolong industri jamu terutama menengah ke bawah, ujarnya.
Koran Pak Oles/Edisi 168/1-15 Februari 2009

75% Pasien Gangguan Jiwa Usia Produktif

thumbnail
Dalam lima tahun terakhir sebanyak 75 persen pasien gangguan jiwa yang dirawat jalan, rawat inap dan berobat di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Bandung, adalah pasien usia produktif (18-24 tahun).
Ketua Komite Medik RSJ Bandung, Dr Lelly Resna SpKj, kepada Antara di ruang kerjanya, Kamis (29/1), mengatakan, jika hal tersebut dibiarkan tanpa ada penanganan serius dari berbagai pihak termasuk pemerintah, maka akan mengganggu Indeks Prestasi Manusia (IPM).
Berdasarkan data yang ada di RSJ Bandung lima tahun terakhir, jumlah pasien gangguan jiwa cenderung mengalami peningkatan. Pada tahun 2007, jumlah pasien gangguan jiwa mencapai 17.793 pasien, jumlah tersebut jauh meningkat jika dibandingkan tahun 2006 sebanyak 17.110 pasien.
Menurut Dr Lelly Resna, berdasarkan studi Bank Dunia, diproyeksikan 15 persen Hari Produktif di Indonesia akan hilang pada tahun 2020 akibat banyak penderita gangguan jiwa di usia produktif.
Pihaknya menyatakan, pembangunan kesehatan masyarakat masih berfokus pada kesehatan jasmani, sehingga pembangunan kesehatan jiwa (Mental Health) masih diabaikan dan jauh tertinggal.
Begitu pun dengan bidang pendidikan, saat ini, kata Dr Lelly, fokus utama pendidikan hanya diarahkan kepada pembangunan kognitif atau tingkat kecerdasan siswa saja.
"Masalah psikis, emosional dan perilaku siswa di tingkat sekolah sangat kurang diperhatikan oleh lingkungan sekolahnya," katanya.
Oleh karena itu, katanya, wajar bila akhir-akhir ini banyak terjadi kasus kekerasan pada anak.
Dikatakannya, dengan banyaknya pasien gangguan jiwa di usia produktif, pihaknya akan mengambil langkah promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif terhadap pasien gangguan jiwa harus lebih ditingkatkan lagi.
Menurut Dr Lelly, pasien yang berobat, dirawat jalan dan inap di RSJ Bandung, bukan saja berasal dari Bandung melainkan dari seluruh kawasan Jawa Barat.
Koran Pak Oles/Edisi 168/1-15 Februari 2009

Kasih Sayang Percepat Penyembuhan

thumbnail
Oleh: Hernawardi
Peranan keluarga dan kepatuhan pengobatan akan membantu seseorang dalam penyembuhan sakit jiwa. ’’Peranan keluarga sangat penting dalam proses penyembuhan dan mencegah relaps (kambuh),’’ ujar Kepala RSJ Mataram dr Hj Elly Rosila Wijaya, SpKJ selaku pembicara tunggal dalam seminar kesehatan jiwa bagi masyarakat umum dalam rangka peringatan HUT ke-19 Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Mataram.
Ada kesan selama ini jika ada anggota keluarga sakit jiwa cenderung untuk disisihkan. Padahal komunikasi yang baik, perhatian dan kasih sayang lebih mempercepat penyembuhan. ’’Berikan kepercayaan diri pada penderita,’’ ungkap dr Elly, sapaan akrabnya.
Selain itu, untuk kasus ketidakpatuhan terhadap pengobatan disebabkan banyak faktor. Seperti biaya yang mahal, keyakinan, budaya dan tak kalah pentingnya faktor keluarga. Jangankan untuk kepatuhan pengobatan, selama ini juga masyarakat masih jarang untuk membawa anggota keluarganya ke RSJ.
Ada kesan akan malu jika diketahui anggota keluarganya mengidap gangguan jiwa. ’’Kita ingin lakukan advokasi pada masyarakat, makanya untuk tema ulang tahun kali ini tentang advokasi,’’ katanya.
Koran Pak Oles/Edisi 168/1-15 Februari 2009

Obat Antipsikotik Atipikal Lebih Efektif

thumbnail
Penggunaan obat antipsikotik atipikal bagi pasien gangguan jiwa usia produktik (18-24 tahun),dapat mempercepat masa sembuh pasien gangguan jiwa tersebut.
Ketua Komite Medik Rumah Sakit Jiwa Bandung Dr Lelly SpKj mengatakan penggunaan obat antipsikotik atipikal jauh lebih cepat dalam membantu proses penyembuhan pasien gangguan jiwa usia produktif, dibandingkan dengan menggunakan obat konvensional atau antipsikotif tipikal. "Obat psikotik atipikal jauh lebih efektif daripada obat psikotik tipikal," katanya.
Ia mengatakan, dengan menggunakan obat tersebut, diharapkan dapat mengurangi kehilangan angka Hari Produktif di Indonesia.
Dikatakannya, kelebihan lain dari penggunaan obat antipsikotik atipikal bagi pasien gangguan jiwa ialah menghilangkan halusinasi pada pasien.
Namun menurut dia, salah satu kendala pemakaian obat antipsikotik atipikal ialah harganya yang cukup mahal, sehingga belum semua lapisan masyarakat dapat menggunakannya.
Selama ini, katanya, harga obat konvensional bagi pasien gangguan jiwa berkisar dari Rp50-100 ribu. "Harga obat antipsikotik atipikal dua kali lipat dari obat antipsikotik tipikal," katanya
Koran Pak Oles/Edisi 168/1-15 Februari 2009

12,8% Penduduk NTB Alami Gangguan Mental

thumbnail
Hasil Survei Kesehatan Mental Rumah Tangga (SKMRT) yang terbaru menyatakan, 12,8 persen penduduk di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) mengalami gangguan mental emosional. Wakil Gubernur NTB, Ir Badrul Munir, MM mengungkapkan hasil survei nasional itu saat menghadiri acara peringatan HUT ke-19 Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Mataram, di Selagalas, Kota Mataram, Selasa (27/1).
"Angka kejadian gangguan mental emosional sebesar 12 persen lebih itu menempatkan peringkat NTB di atas nasional yang mencapai 11,6 persen, dan dari 33 provinsi, NTB berada pada pringkat ke-9," ujarnya.
Munir mengatakan, tingginya angka gangguan mental itu mengharuskan seluruh jajaran RSJP Mataram untuk terus meningkatkan komitmen, dedikasi dan profesionalitas dalam memberikan pelayanan kepada para pasiennya.
RSJ Mataram pun harus mampu memberikan pelayan yang optimal kepada masyarakat yang senantiasa dilandasi perencanaan program yang selaras dengan visi dan misi Pemerintah Provinsi NTB.
Selain itu, kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap pasien gangguan jiwa juga harus terus ditingkatkan meskipun hingga kini masih ada yang memposisikan pasien penyakit jiwa sebagai komunitas masyarakat yang perlu dikucilkan."Saya berharap semua pihak terlibat aktif dalam upaya penanggulangan gangguan mental emosional itu secara simultan, bukan mengucilkan mereka," ujar Munir seperti dilansir Antara.
Sementara itu, Direktris RSJ Mataram, dr Elly Rosila W, SpKJ, mengakui, pasien RSJ Mataram makin banyak dan menunjukkan kecenderungan peningkatan dari tahun ke tahun. "Dari tahun ke tahun ada `trend` peningkatan jumlah pasien, itu menunjukkan masyarakat makin paham peran rumah sakit jiwa," katanya.
Menurut dia, dari tahun 2006 hingga 2007 terjadi peningkatan pasien RSJ Mataram sebesar 17,21 persen untuk pasien rawat jalan dan 22,93 persen pasien rawat inap.
Total kunjungan pasien yang mengalami gangguan mental emosional di RSJ Mataram pada tahun 2007 mencapai 9.206 kunjungan, sebanyak 48,29 persen di antaranya merupakan kelompok usia produktif yakni 25-44 tahun.
Saat ini, rata-rata kunjungan pasien RSJ Mataram mencapai 30 - 50 orang per hari untuk pasien rawat jalan dan 30-40 orang pasien rawat inap, bahkan dapat mencapai 70 orang dari kapasitas tampung tempat tidur aktif sebanyak 90 unit.
Ia mengatakan, hasil diagnosis pasien RSJ Mataram terbanyak terindikasi mengalami gangguan skizofrenia (masyarakat Lombok menyebutnya jogang atau gila), gangguan depresi, kecemasan dan pobia, yang pada umumnya dilatari oleh persoalan ekonomi (kemiskinan), status sosial, faktor keturunan dan pengaruh lingkungan.
"Peningkatan kunjungan pasien di RSJ Mataram itu merupakan bukti kesadaran keluarga pasien terhadap proses penyembuhan gangguan kesehatan jiwa dan gangguan mental emosional," ujarnya.
Rosila mengatakan, peran RSJ Mataram bukan hanya sebatas merawat pasien gangguan jiwa, tetapi juga berperan terhadap pencegahan proses gangguan kejiwaan.
Karena itu, ia menyarankan berbagai komponen masyarakat NTB memanfaatkan pelayanan RSJ Mataram jika ada keluarganya yang menunjukkan gejala gangguan kesehatan jiwa atau mental emosional agar ada proses penyembuhan. "RSJ mataram telah dilengkapi dengan laboratorium dan berbagai peralatan canggih yang dapat menyembuhkan gangguan kesehatan jiwa dan mental emosional," ujarnya dilansir Antara.
Koran Pak Oles/Edisi 168/1-15 Februari 2009

Tarif RS Jiwa Semarang Melonjak

thumbnail
Tarif rawat inap di Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) dr. Amino Gondo Hutomo Semarang melonjak tajam di tengah melemahnya daya beli sebagian masyarakat akibat krisis ekonomi.
Wakil Direktur Pelayanan Medik RSJD Semarang, dr. Suprihhartini, Sp. Kj, kepada Antara mengatakan, tarif rawat inap baru di RSJD ini naik per 1 Januari 2009 setelah pihaknya mengajukan kenaikan tarif sejak 2003.
Dr Suprihhartini menjelaskan, kenaikan tarif tersebut untuk menutupi biaya operasional rumah sakit yang semakin membengkak akibat kenaikan harga berbagai barang dan jasa.
Persentase kenaikan paling tajam justru terdapat pada kelas bawah, yakni kelas III A dari semula Rp15 ribu/hari meroket menjadi Rp50 ribu/hari.
Untuk kelas II dari Rp30 ribu/hari menjadi Rp75 ribu/hari, kemudian kelas I dari Rp50 ribu/hari menjadi Rp100 ribu/hari, sedangkan kelas VIP menjadi Rp150 ribu/hari dari Rp85 ribu/hari.
Akan tetapi, katanya, bagi masyarakat pemegang kartu Jamkesmas seluruh biaya ditanggung negara. Sedangkan bagi masyarakat yang tidak mampu dan tidak mempunyai kartu Jamkesmas, dapat membuat surat keterangan tidak mampu (SKTM) yang dialokasikan untuk memperoleh Askeskin.
Ia mengakui, pada awal kenaikan tarif sempat terjadi penurunan jumlah pasien, namun itu hanya berlangsung selama tiga hingga empat hari. Namun, saat ini sudah kembali normal. "Mungkin awalnya masyarakat sempat kaget (dengan tarif baru, red.), tetapi mereka akhirnya memaklumi," katanya tanpa menyebutkan jumlah pasien.
Lebih lanjut ia mengatakan, kenaikan ini juga berdampak lebih baik terhadap pelayanan yang diberikan kepada masyarakat. "Kami terus meningkatkan kedisiplinan para pegawai, meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, dan mengadakan perbaikan poliklinik," katanya.
Koran Pak Oles/Edisi 168/1-15 Februari 2009

Eliminasi Konflik Dengan Pembangunan Mental

thumbnail
Tingginya kecenderung konflik yang berujung pada pertikaian di tingkat mahasiswa, masyarakat umum dan aparat keamanan di berbagai daerah di Indonesia, seyogyanya dapat dieliminasi dengan pembangunan mental.
"Perhatian pemerintah selama ini masih cenderung mengedepankan pembangunan fisik, sehingga indikator keberhasilan itu dilihat dari fisik saja. Padahal pembangunan diri atau mental sangatlah penting," kata pengamat sosial sekaligus psikolog asal Universitas Negeri Makassar (UNM), Dr Muh Jufri beberapa waktu lalu.
Menurutnya, upaya menjaga dan membangun pranata sosial di lapangan masih terabaikan, padahal dengan menjamin pranata sosial itu, segala pemicu konflik dapat dibahas dengan duduk bersama, mulai dari jenjang Organisasi Rukun Tetangga (ORT) atau Organisasi Rukun Warga (ORW) hingga ke level atas. "Pranata sosial itu masih terjaga pada sebagian besar masyarakat di Yogyakarta, sementara di daerah ini sudah cenderung ditinggalkan," katanya.
Sementara masih banyaknya kasus kekerasan sebagai buah dari konflik atau aksi demonstrasi di daerah in. Ia mengatakan, fenomena itu jika dicermati berasal dari rasa ketidakpuasan dari sejumlah pelayanan yang semestinya diperoleh masyarakat.
Ketidakpuasan dari kumpulan individu-individu itu kemudian terakumulasi, sehingga jika ada pemicu konflik, emosi massa gampang tersulut.
Sekaitan dengan hal tersebut, Jufri yang juga Pembantu Dekan (PD) I Fakultas Psikologi UNM ini mengatakan, untuk mengeliminasi kasus kekerasan dan konflik horisontal di lapangan, pemerintah harus berusaha memenuhi kebutuhan dasar masyarakat seperti pelayanan kesehatan, pendidikan dan transportasi. "Ketiga hal itu merupakan hak publik yang harus dipenuhi oleh pemerintah, agar tidak menimbulkan kekecewaan di kalangan publik, jika itu tidak terpenuhi," ujarnya seperti dikutip Antara.
Koran Pak Oles/Edisi 168/1-15 Februari 2009

Komang Dharma Budidaya Tanaman Hias Dengan EM4

thumbnail
OLEH: HERNAWARDI
Hobi membudidayakan tanaman hias bagi Komang Dharma (54) warga Karang Sukun, Mataram, NTB ini sudah ditekuni sejak remaja. Tak heran, segenap keluarganya, termasuk anak-anaknya sudah “tertular” hobinya tersebut.
Komang Dharma yang kesehariannya adalah karyawan Dinas Kesehatan Masyarakat (Diskesmas) NTB membuka usaha tanaman hias bernama UD Toyo Sekar Ulangun di Jalan Amir Hamzah 4X Mataram.
Berbagai jenis tanaman hias dan bunga bernilai ekonomis tinggi tersedia di UD Sekar Ulangun yang menempati areal seluas 11 are ini. 7 are di antaranya dimanfaatkan untuk mediasi tanaman hias, sisanya untuk pembibitan tanaman hias lainnya termasuk buah-buahan bervitamin.
Di balik kesuksesannya memelihara tanaman hias, ternyata ada tips yang selama ini ia rahasiakan. Rahasia keberhasilan tersebut yakni pemupukan organik dengan menggunakan produk EM4. “Saya sendiri memakai EM4 sejak kurang lebih tiga tahun lalu untuk bahan fermentasi pembuatan pupuk organik bagi semua tanaman hias di sini,” ungkap bapak tiga anak tersebut.
Komang kini tetap bisa tersenyum lega. Beberapa tanaman hiasnya seperti anggrek, aglonema, adenium, anthorium dan lainnya mampu meningkatkan nilai penjualan setiap bulannya. Rata-rata per bulannya saja omzet penjualannya berkisar Rp28 juta - Rp32 juta. Apalagi saat digelar pameran, omzet penjualan bisa lebih banyak.
Menurut Komang, EM4 sesungguhnya produk yang luar biasa bagi pertumbuhan dan perawatan tanaman hias. Meski diakuinya proses pemupukan dengan EM4 butuh waktu untuk pertumbuhan tanaman, namun hasilnya sangat mengagumkan. Pertumbuhan tanaman menjadi lebih baik, daunnya semakin tebal, bersih, daun lebih hijau dan lembut serta subur.
“Demikian juga EM4 tidak serta merta mematikan jamur pengganggu tanaman. Namun EM4 juga bisa memilih mana jamur negatif yang harus disingkirkan dan mana jamur positif yang harus dibiarkan,” ungkap anak petani ini.
Komang memutuskan untuk tetap memakai produk EM4 mengingat dari segi harga yang terjangkau, kualitasnya terjamin, volumenya lebih banyak dan bisa meningkatkan nilai jual tanaman dari harga EM4 itu sendiri.
EM4 juga merupakan produk yang sangat tepat untuk difermentasikan dalam pembuatan pupuk organik. Hasil kombinasinya dengan campuran berbagai bahan organik lainnya seperti kotoran ternak maupun dedaunan menghasilkan bau yang lebih enak, kata Komang yang juga agen UD Tanaman Hias Duta Orcid Denpasar wilayah Lombok.
Koran Pak Oles/Edisi 168/1-15 Februari 2009

Bunga Mentega; Tanaman Hias Picu Kelumpuhan?

thumbnail
Tidak semua tanaman hias aman untuk dipelihara meskipun tidak semua tanaman hias mengandung racun. "Tamanan hias itu, ada yang beracun dan ada juga yang tidak," ungkap Dosen Biologi Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung, Prof Aseng Ramlan, kepada Antara, Kamis pekan lalu.
Prof Aseng Ramlan menyatakan, masyarakat tidak perlu panik dan khawatir dengan isu tamanan beracun, karena hanya beberapa jenis tanaman hias saja yang memiliki racun.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Prof Aseng Ramlan, ada dua jenis tamanan hias yang memiliki racun, yaitu Olinder Nelium atau yang lebih dikenal dengan istilah Pohon Mentega serta pohon Bintaro/Pohon Pelindung. Olinder Nelium, ialah tanaman yang masih satu famili dengan Bunga Kamboja. Racun yang ditimbulkan dari Olinder Nelium, kata Prof Ateng, berasal dari getahnya. "Kalau kita luka, dan getah Olinder Nelium mengenai bagian lukanya, maka itu berpotensi menyebabkan kelumpuhan," katanya.
Prof Aseng Ramlan merasa prihatin karena selama ini, tamanan hias yang memiliki racun masih banyak dipelihara di pekarangan rumah atau taman-taman kota. "Wajar saja jika masyarakat tidak tahu mana tamanan hias yang beracun mana yang tidak, karena pengetahuan mereka kurang," katanya.
Aseng Ramlan berharap, pemerintah dalam hal ini, Dinas Pertamanan dapat lebih menyosialisasikan mana tanaman hias yang dapat dipelihara mana yang tidak.
Sementara masyarakat Bandung rata-rata tidak mengetahui jika ada tanaman beracun yang tumbuh di persimpangan jalan, taman-taman kota serta pekarangan rumah mereka.
Salah satunya, Tita (38), warga asal Rt 03 RW 04, Sekeloa Girang, Desa Margahayu Tengah, Kabupaten Bandung, tidak mengetahui jika tamanan yang tumbuh di pekaranganya merupakan jenis tamanan beracun. "Saya tidak tahu, kalau bunga mentega ini getahnya beracun," kata Tita kepada ANTARA, yang ditemui di pekarangannya.
Ia mengatakan, pihaknya akan segera memusnahkan Nerium Oliander (nama ilmiah untuk bunga mentega) di pekarangannya. "Oh saya pasti akan buang bunga ini (bunga mentega), kan sekarang tahu kalau bunga ini beracun," kata Tita
Pihaknya menyatakan, lebih memilih membuang bunga mentega tersebut, karena khawatir akan melukai tiga anaknya yang masih kecil. Menurut dia, sudah hampir tiga tahun lebih, ia merawat dan memelihar bunga tersebut. "Saya beli, bunga mentega ini, dari tukang bunga keliling awal tahun 2006," kata ibu tiga orang anak ini.
Sama halnya dengan Tita, Iram (23), warga asal Margaharu Raya Kota Bandung, mengatakan akan membuang bunga mentega yang ditaman ibunya dan tumbuh di depan rumahnya. "Kalau tahu dari dulu tamanam ini beracun, mana mungkin ibu saya menanamnya di depan rumah," kata Irma.
Koran Pak Oles/Edisi 168/1-15 Februari 2009

Harga Bonsai Capai 5-20 Juta

thumbnail
Penjualan tanaman kerdil bonsai tetap stabil dalam pasaran tanaman hias karena selalu diburu konsumen yang umumnya menyukai bentuk dan bunga yang unik, kata beberapa penjual tanaman hias di Jakarta.
Menurut pemilik kios tanaman hias Kalpataru Cakti Prima Utama di Palmerah, Jakarta Barat, Mumu Muslich (51), selain itu bonsai mempunyai konsumen tersendiri yang menjadi penghobi untuk membudidayakan tanaman hias ini.
Muslich mengatakan, tanaman hias kerdil seperti bonsai tidak ada masa lesu atau turun karena mempunyai konsumen yang menjadi penggemar fanatik tersendiri.
Usaha penjualan kios tanaman hias Muslich lebih mengutamakan tanaman hias bonsai seperti jenis Bonsai Cemara, Bonsai Beringin, Bonsai Kingkit dan Bonsai Karet Kimeng.
Harga yang dijual mulai Rp5 juta sampai Rp20 juta bergantung bentuk, jenis, dan umur bonsai. "Bonsai Cemara saat ini paling banyak diminati penghobi yang ingin membudidayakannya," kata Muslich.
Dalam membuat tanaman bonsai yang baru, Muslich menggunakan bibit pohon dan mencangkok tanaman yang sudah jadi. Ia juga menuturkan pentingnya jiwa seni seorang dalam membentuk dan membudidayakan tanaman Bonsai. "Kita juga harus membangun relasi dengan sesama petani bonsai untuk mengembangkan usaha ini," tutur Muslich.
Prospek usaha bonsai bisa dikatakan cerah karena omzet yang dihasilkannya pun cukup menjanjikan. Muslich mengaku dalam sebulan ia meraup keuntungan dari penjualan bonsai bisa mencapai lebih dari Rp30 juta. Saat ini ia pun telah membuka cabang di daerah Tanggerang dan Bogor.
Sementara itu penjual dan pemilik kios tanaman hias Boga Holtikultura di Condet, Jakarta Timur, Hj. Een Sukaenah (53) mengutarakan, budidaya bonsai saat ini tetap stabil bahkan cenderung meningkat menjadi trend tanaman hias. "Kalau melihat perkembangannya saat ini memang Bonsai terus meningkat dan sudah jadi trend di kalangan masyarakat pencinta tanaman hias," ujarnya.
Dalam usahanya, ia menambahkan jenis pilihan bonsai Taiwan seperti Hokkian Tea, Ulmus Parfiflora, dan Pyracanta. Jenis-jenis ini ia dapatkan langsung dari relasinya di Taiwan dan saat ini telah dikembangkan dan dibudidayakan. Dengan usaha hanya dari budidaya Bonsai, Hj Een mengaku dirinya mampu meraih omzet sedikitnya Rp20 juta.
"Saya berpikir karena jarang turun pasaran Bonsai maka tidak salah kalau lebih dikembangkan lagi. Bonsai juga bisa dikatakan seni mengerdilkan tanaman dalam pot dan memeliharanya secara teratur sehingga melahirkan bentuk keindahan melalui suatu proses pemeliharaan," jelasnya kepada Antara.
Koran Pak Oles/Edisi 168/1-15 Februari 2009

Pertanian Indonesia, Bukan Sekadar ”Dongeng”

thumbnail
OLEH: SULIS STYAWAN*
”Agriculture is the mother and nourishes of all other arts.” Pertanian adalah ibu dan mengayomi semua budaya lainnya. Ini dinyatakan oleh filsuf dan sejarawan Yunani, Xenophon (427–355 SM). “Manakala pertanian berjalan baik, seantero budaya lainnya raharja, manakala dia diterlantarkan, maka semua budaya lainnya rusak”.
Pernyataan berusia lebih dari dua milenium itu senyatanya masih terngiang sampai sekarang. Pejabat teras FAO sering memetiknya untuk pidato. Para ilmuwan IPB suka mengungkitkannya kembali. Pun, di banyak negara, dalil itu masih dipegang, termasuk di negara-negara yang industrinya sudah demikian berkembang.
Pertanian memang tetap menjadi sumber utama makanan sehari-hari. Ketersediaan pangan menjamin stabilitas sosial dan politik. Keamanan pangan menjamin ketahanan bangsa dan negara. Ia membuka lapangan kerja dan memberikan devisa.
Pertahanan ekonomi Indonesia di tahun sengsara 1998 ditopang oleh pertanian. Pertanian adalah satu-satunya sektor yang menggeliat di bawah himpitan krisis politik ekonomi yang demikian berat. Ekspor produk pertanian menyelamatkan ekonomi Indonesia dengan pemasukan cukup besar oleh melambungnya nilai dolar AS.
Dalam sejarah, tatkala dunia pada dasawarsa 1930 dilanda krisis ekonomi dan di ambang perang, ekspor pertanian Indonesia tetap menjadi bintang. Selepas Perang Dunia II, saat kas kerajaan Belanda bangkrut, tentaranya di Indonesia disuruh melancarkan agresi untuk merebut daerah-daerah pertanian yang subur di Jawa Barat dan Jawa Timur. Agresi militer pertama Belanda terhadap RI yang baru diproklamasikan itu pun diberi nama sandi Operatie Produkt, yakni menguasai daerah-daerah pertanian produktif.
Mantan Menteri Pertanian, Prof. Bungaran Saragih, menjernihkan persepsi tentang pertanian kita yang dinilai sebagai terbelakang. Menurut dia, pertanian kita menjadi terbelakang karena sektor-sektor lain, seperti infrastruktur, transportasi, pendidikan, perbankan, energi tidak berkembang. Mereka tidak bisa sinergi dengan sektor pertanian, bahkan menjadi beban.
Harap disadari, sekitar 70 persen kegiatan usaha dan sistem agribisnis itu berada di luar pertanian. Jadi, pertanian sulit maju dalam lingkungan yang tidak maju dan tidak mendukung.
“Fabelhaft Reich”
Bungaran Saragih pun mengingatkan tidak ada sektor lain di Indonesia yang bisa menjadi world player, bahkan big player, seperti pertanian. Kelapa sawit kita sudah nomor wahid di segi produksi. Karet Indonesia nomor dua sesudah Thailand. Kakao kita nomor tiga bahkan bisa menjadi nomor dua dalam waktu dekat. Pala dan cengkeh, nomor satu.
Kita unggul di banyak komoditas pertanian. Sementara itu, apakah kita masih dipertimbangkan dalam sektor pertambangan secara global? Dulu Indonesia nomor satu sebagai produsen nikel, timah, batu bara, tapi sekarang nomor berapa? Sekarang bahkan kita sudah keluar dari OPEC karena sudah menjadi net importer.
Indonesia memang tidak ada duanya dalam aneka produk tanaman tropis. Sudah sejak ratusan tahun lalu pertanian dan kekayaan alam kita yang berlimpah menjadi benchmark untuk kancah dunia. Alfred Russel Wallace menyebutnya ”firdaus” di Timur. Ilmuwan Belanda, Dr. Pieter Honig menuturkan dalam bukunya Science and Scientist in the Netherlands Indies (Board for the Netherlands Indies, Surinam and Curacao, New York City, 1945) tentang banyaknya jenis tanaman yang diteliti di sini dan disumbangkan dengan tulus untuk kepentingan dunia.
Presiden Soekarno juga sering membangga-banggakan Indonesia dengan mengatakan “Wir sind reich, fabelhaft reich”. Kita kaya, seperti dalam cerita dongeng. Maka kita semua patut merenungkan kembali dan menggugah keyakinan bersama tentang karunia berlimpah dari Ibu Pertiwi dan posisi yang telah dan tetap bisa kita menangkan dengan produk dari “ibu segala budaya” itu.
Semua pemerintahan RI, sejak 63 tahun lalu, senantiasa menempatkan pertanian sebagai basis pembangunan. Pertanian jualah yang menjadi batu penjuru ketika pemerintah menggencarkan pembangunan industri demi mendapatkan nilai tambah dan berdikari. Berbicara pertanian di sini adalah pertanian tanaman pangan, hortikultura, peternakan, perkebunan, dan termasuk pula perikanan.
Tapi seperti yang kita saksikan —paling gamblang pada pemerintahan yang sedang berjalan ini— langkah dan kebijakan yang ditempuh menjauh dari strategi induk tadi. Dalam penyiasatan perang, strategi-taktik-teknik harus lurus, jelas, konsisten, garisnya.
Contingency plan boleh bila keadaan memaksa, tapi penyimpangan yang sering terjadi sekarang ini apakah memang oleh keadaan memaksa? Tak baik berpurbasangka. Mungkin inkosistensi dan deviasi yang terjadi karena kegamangan atau yang sering digunjingkan orang, tidak kompaknya kabinet!
Investasi dan Belanja Pemerintah
Imbauan yang disampaikan di sini adalah janganlah kita terus-menerus terombang-ambing. Segala ikhtiar pemerintah untuk membangun kesejahteraan rakyat fokuskanlah ke pertanian yang nyata teruji dan tangguh. Tidak usah lagi menengok ke kiri dan ke kanan.
Revitalisasi pertanian yang sesungguh-sungguhnya adalah manakala kita menggalakkan pembangunan prasarana, pembinaan sumber daya alam, dan manusia, serta penanaman modal, yang dijuruskan pada sektor pertanian, dari budidaya sampai ke industri dan bisnisnya, baik untuk dalam negeri maupun mancanegara.
Investasi pemerintah di bidang infrastruktur adalah yang berpadu langsung dengan kepentingan pertanian. Demi mengenyahkan kritik sinis tentang revitalisasi pertanian, “retorika atau nyata?”, bangunlah jaringan jalan untuk transportasi produk pertanian, bangunlah jaringan irigasi.
Bila kita berkunjung ke Malaysia, kita bisa dibuat jengah melihat jalan-jalan beraspal mulus sampai ke tepi kebun dan ladang. Bangunlah pelabuhan dan dermaga, serta cold storage. Bangunlah balai benih, balai kesehatan hewan, rawatlah pabrik-pabrik pupuk dan anti-hama, serta gencarkan riset dan penyuluhan.
Belanja pemerintah untuk sarana adalah untuk pabrik, mesin-mesin, dan peralatan lainnya yang memacu produktivitas pertanian dan perkebunan. Demikian pula regulasi di bidang perindustrian, perdagangan, dan keuangan adalah yang melindungi dan menggairahkan sektor pertanian. Kita juga harus menjajakan investasi untuk infrastruktur pertanian di forum-forum infrastruktur.
Percayalah, kalau semua bersatu padu memajukan pertanian, sektor lain juga akan terhela maju. Seperti kata Xenophon, “when agriculture is well conducted, all other arts prosper; when agriculture is neglected, all other arts decay”.
*) Pegiat Center for Education Urgency Studies (CEUS) FKIP Universitas Negeri Yogyakarta (UNY);
Koran Pak Oles/Edisi 168/1-15 Februari 2009

Parodi Kantin Ke(tidak)jujuran

thumbnail
OLEH: Abd. Sidiq Notonegoro*
Tersiar kabar, “Kantin Kejujuran” yang tersebar pada beberapa sekolah yang menjadi pilot project budaya antikorupsi mengalami kebangkrutan. Tidak kurang dari 65 kantin kejujuran di sekolah-sekolah yang ada di Jawa Timur mengalami kondisi ini. Di Kabupaten Tulungagung misalnya, dari 11 sekolah yang mendirikan kantin kejujuran, 10 sekolah di antaranya yang mengalami kerugian setelah 20 hari buka. Kebangkrutan serupa juga menimpa kantin kejujuran yang ada di SMAN 1 Kediri. Padahal secara nasional, tidak kurang dari 3.000 kantin kejujuran didirikan di sekolah-sekolah di Tanah Air ini. Sangat mungkin, puluhan atau bahkan ratusan kanting kejujuran mengalami kondisi yang sama.
Realitas tersebut merupakan fakta nyata bahwa “budaya korupsi” pun telah merasuki lingkungan pendidikan. Korupsi nyata-nyata telah mengakar ke seluruh sendi kehidupan. Bahkan generasi muda (pelajar) yang diharapkan sebagai kelompok usia yang steril dari praktek korupsi pun turut tercemari. Adanya “kantin kejujuran” justru dimanfaatkan untuk melampiaskan syahwat ‘maling’nya secara semena-mena.
Memperhatikan kenyataan itu, satu sisi kita patut mengelus dada dan merasa prihatin. Impian lahirnya generasi muda yang kelak diharapkan sebagai pewaris negeri yang bertanggungjawab terpaksa --paling tidak untuk sementara-- ditangguhkan. Namun, disisi yang lain kita patut menjadikannya sebagai pelajaran yang sangat berharga bahwa secara nyata gerakan pemberantasan korupsi sedang menghadapi tantangan yang sangat terjal.
Tidak Sekedar Gagal
Namun bila kita renungkan lebih dalam, bangkrutnya kantin kejujuran di beberapa sekolah tersebut tidak semata-mata sebagai bentuk “kegagalan” sekolah dalam menanamkan budaya jujur dikalangan anak didiknya. Lebih dari itu juga merupakan sebuah “kebodohan” sekolah yang tidak mampu membaca mental dan kepribadian anak didiknya. Idealnya, sebelum mendirikan kantin kejujuran, pihak sekolah telah melakukan riset terhadap kebiasaan peserta didiknya terkait dengan aspek kejujuran.
Sesungguhnya banyak media yang bisa dimanfaatkan untuk mengukur tingkat kejujuran siswa. Misalnya, sejauh mana siswa dalam menghadapi ulangan (tes) dan atau tugas-tugas yang diberikan oleh guru. Apakah siswa cenderung menyontek, menggantungkan kepada orang lain (teman) untuk mengerjakannya atau bekerja sendiri secara optimal. Dengan berbagai metode tes, semestinya guru dan pihak sekolah bisa mengukur tingkat kejujuran siswa yang didiknya.
Harus diakui bahwa “kantin kejujuran” yang menjual barang tanpa pengawasan tidak lebih dari dagelan saja. Setiap orang berkesempatan untuk bisa mengambil barang semaunya dan sekaligus membayar semaunya. Kondisi seperti itu sama artinya memberikan kesempatan seseorang yang semula tidak punya niat untuk “korupsi”, tapi karena ada kesempatan maka dia pun ingin mencoba melakukannya. Kucing mana yang tidak tertarik dengan ikan asin di meja makan yang tanpa tudung?
Andaipun riset menyimpulkan bahwa semua siswa merupakan pribadi yang jujur. Boleh jadi sumber kebangkrutan justru terletak pada pengelola kantin itu sendiri, tapi siswa kemudian dijadikan ‘kambing hitam’nya.
Ganti Model
Eksperimen melalui model “kantin kejujuran” telah mendapatkan jawaban, bahwa mental “korupsi dan tidak jujur” telah benar-benar menggurita ke semua lini. Bila pangkal persoalannya ada pada siswa, seyogyanya pendidikan “kejujuran dan anti korupsi” menggunakan model lain yang tidak terlalu beresiko tetapi efektif.
Selain itu, “kantin kejujuran” yang nyata-nyata tidak efektif untuk mendidik siswa sebagai pribadi yang jujur, disisi yang lain justru menumbuhkan budaya konsumtif yang tidak baik bagi siswa. Ini karena yang dijual dikantin tersebut semuanya adalah barang-barang konsumtif (baca: makanan). Seyogyanya sekolah mendidik dengan pola makan yang sehat dan teratur. Yaitu dengan menganjurkan siswa untuk makan di rumah atau membawa bekal makanan dari rumah.
Dengan lebih memilih makan di rumah atau membawa bekal dari rumah, paling tidak ada 2 manfaat yang bisa dipetik. Yaitu 1) anak lebih bisa menghormati dan menghargai masakan yang dibuat oleh orangtuanya sendiri, dan 2) mendidik untuk berpola hidup hemat. Karena sejatinya, antara budaya korupsi dan budaya konsumtif ibaratnya dua sisi mata uang yang sulit dipisahkan.
Mental Akademis
Bila insan pendidikan sudi berpikir jernih, sesungguhnya budaya ilmiah dalam panggung pendidikan itu sendiri telah mengajarkan budaya antikorupsi dan budaya jujur. Masalahnya, sudahkah hal itu diterapkan dan diteladankan oleh para pendidiknya sendiri? Mentalitas akademis yang menekankan rasionalitas (logis) dan obyektifitas (jujur) dengan meletakkan kebenaran atas dasar pengetahuan (ilmu) merupakan salah satu cara ideal untuk menegakkan mental antikorupsi.
Penghargaan terhadap kebenaran ilmu pengetahuan, sangat mungkin untuk membantu mengkristalkan budaya jujur dan antikorupsi terhadap siswa. Karena hampir menjadi fenomena umum bahwa semakin tinggi penghargaan seseorang terhadap ilmu pengetahuan, semakin tinggi pula jaminan atas kejujuran dirinya. Semakin besar hasrat seseorang bergelut dengan dunia ilmu, semakin menjauhkan dirinya dari fatamorgana material.
Akhirnya, mungkin tidak ada cara yang efektif untuk menegakkan mental antikorupsi kecuali dengan mengembangkan “budaya cinta ilmu”. Karena hanya orang-orang yang memiliki ‘ilmu’ yang tinggi yang mampu memberikan jaminan kejujuran, baik dalam pengajaran ataupun keteladanan. Dan hanya sekolah tempat sarang koruptor sajalah yang tidak akan mampu meraih prestasi akademis yang optimal.
BI

Melodrama Seorang Guru

thumbnail
Selama ini, perbincangan seputar guru seolah tidak pernah ada basinya. Alhasil, yang mengemuka adalah tentang kehidupan guru yang masih memprihatinkan dan miris.
Potret dari guru di tanah air Indonesia kiranya belumlah secemerlang di negara asing. Sebagai contoh di negara Jiran Malaysia dan Brunei, keberadaan guru sebegitu besar dihargai oleh negaranya. Ada saja penghargaan dan penghormatan khusus yang diperuntukkan buat guru selaku abdi negara.
Tidak mencengangkan kalau orang berminat untuk menjadi guru di negeri tetangga tersebut. Guru menjadi profesi idaman. Sedangkan keberadaan guru di Indonesia hingga saat ini masih belum menjanjikan, potret buram selalu dihadapi oleh mereka yang ingin memilih profesi sebagai guru atau tenaga pendidik di sekolah.
Sejauh ini, masih ada guru pendidik sekolah dasar (TK/SD), termasuk sekolah menengah masih bergelut dalam suatu proses perjuangan hidupnya. Yakni perjuangan untuk menjadi teladan sesungguhnya agar tidak sampai diolok-olok oleh muridnya karena strata sosialnya tergolong miskin.
Memberi Kesejahteraan
Untuk mengatasi persoalan guru yang semakin kompleks, pemberian apresiasi berupa tunjangan semisal gaji tambahan, belumlah dapat dikatakan solusi global dalam mempercepat kesejahteraan guru. Akar permasalahannya dikarenakan belum adanya program untuk mensejahterakan guru yang efektif.
Kendati, tidak mudah untuk mencetak pahlawan di bidang pendidikan itu. Guru sesungguhnya, yang dipandang sebagai instruktur yang membina anak didiknya hingga berprestasi itu sudah selayaknya mendapat apreseasi langsung oleh negara. Misal, untuk urusan uji kompetensi, guru dimaksud seyogyanya langsung lolos uji sekaligus berhak atas kelipatan gajinya.
Adanya, program bagi guru untuk mendapatkan kompetensi dan layak untuk lulus uji kompetensi hendaknya tidak sekadar diukur dari berkas porto-folio. Melainkan juga harus disertai, dengan bukti keterlibatannya dalam mengangkat prestasi anak didiknya. Mengingat penyaluran anggaran untuk mensejahterakan para guru melalui pos anggaran kesejahteraan guru itu mesti tepat sasaran.
Konsekuensinya, perlu memotivasi guru supaya makin giat mencetak prestasi anak didiknya. Hal yang sama, seyogyanya diikuti pula oleh para dosen yang dituntut sanggup mencetak prestasi mahasiswanya. Dosen juga diharapkan mampu mengusung perguruan tinggi di negeri ini agar membuat prestasi seperti halnya dilakukan para guru tingkat, SD, SMP dan SMA.
Kesejahteran guru dan dosen, memang mutlak menjadi milik mereka para pahlawan tanda jasa. Hanya saja arah kebijakan yang taktis dan strategis negara juga semestinya tandas dan tegas. Hak dapat diberikan kepada mereka, apabila memang pantas untuk mendapatkan dengan prestasi yang terukur dan terarah berstandar kinerja dan prestasi.
Pemimpin yang terpilih di 2009 diharapkan mampu membawa kebijakan-kebijakan yang memihak kepada nasib guru. Sehingga guru tidak lagi menjadi melodrama dan selalu terpinggirkan.
(Komentar: Hamam Burhanuddin, guru SMA Darul Ulum Bringin Semarang, hamamburhanudin@gmail.com)
Koran Pak Oles/Edisi 168/1-15 Februari 2009

Pria Lebih Mudah Tularkan AIDS

thumbnail
Kaum pria lebih mudah menyebarkan virus AIDS melalui sperma daripada wanita. "Wanita lebih mudah tertular AIDS dibanding pria," kata Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN), Dr. Nafsiah Mboi SpA, MPH.
Nafsiah Mboi mengemukakan, virus AIDS tidak hidup di udara bebas, melainkan hanya hidup di darah, air susu, air mani, cairan vagina dan air susu ibu. Dalam hubungan seks, seorang pria yang positif AIDS dapat dengan mudah mennyebarkan virus AIDS kepada lawan jenisnya. "Sperma pria yang mengandung virus AIDS itu dapat dengan mudah menyatu dengan darah wanita," tuturnya dikutip Antara.
Nafsiah memberi demonstrasi sederhana cara penularan virus AIDS dari pria yang terinfiksi kepada wanita sehat. Wanita itu diibaratkan sebagai cangkir minuman kemasan yang kosong, kemudian diisi air oleh pria.
Sebaliknya, kata isteri mantan gubernur NTT dua periode, 1978-1988, Ben Mboi, virus AIDS yang dimiliki oleh seorang wanita sulit menyebar ke tubuh pria, kecuali alat vital yang dimiliki pria tersebut mengalami luka. "Namun jika dilakukan secara terus menerus, dimungkinkan pria tersebut dapat terinfeksi AIDS," katanya.
Menurut dia, pria yang memiliki istri lebih dari satu tidak akan tertular AIDS. "AIDS tidak melihat surat nilah, melainkan prilaku seks baik wanita maupun pria. Sepanjang hubungan seks itu hanya dilakukan untuk istri, itu tidak akan menimbulkan penyakit," kata Nafsiah tersenyum.
Penularan AIDS hanya dapat terjadi melalui seks bebas, hubungan pria dengan pria dan narkoba melalui jarum suntik. "Cara penularan yang tidak mudah itu membuat kami yakin virus AIDS dapat dicegah dengan penguatan iman, menjauhi narkoba dan menggunakan kondom saat melakukan hubungan intim dengan seseorang yang bukan pasangan," katanya.
Koran Pak Oles/Edisi 168/1-15 Februari 2009

53% Pengguna Narkoba Kalangan Usia Sekolah

thumbnail
Pusat Informasi Masyarakat Anti Narkoba Sumatera Utara (Pimansu) mencatat, sekitar 53persen jumlah pengguna narkoba di Sumut sepanjang tahun 2008 merupakan kalangan usia sekolah, yakni pelajar dan mahasiswa.
Persentase itu menjadi bukti bahwa pelajar dan mahasiswa sangat rentan terhadap penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba, kata Direktur Pimansu, Drs. Zulkarnain Nasution, MA. "Jumlah itu masih data yang muncul di permukaan, belum lagi kasus yang belum berhasil diungkap pihak kepolisian," katanya menambahkan.
Nasution menjelaskan, sepanjang tahun 2008 Pimansu mendata hampir seluruh kasus penyalahgunaan narkoba yang berhasil diungkap polisi dan diberitakan media.
Dalam pendataan itu, didapatkan 255 kasus penyalahgunaan narkoba yang 133 kasus atau sekitar 53 persen diantaranya dilakukan pelajar dan mahasiswa.
Dari jumlah 133 kasus itu, pelaku yang paling banyak ditahan adalah kalangan pelajar SLTP dan SLTA yang berjumlah 126 kasus. "Sedangkan dari mahasiswa hanya berjumlah tujuh kasus," katanya.
Menurut dia, kasus penyalahgunaan narkoba di kalangan usia sekolah paling banyak terjadi di Kota Medan dengan 60 kasus, disusul Kabupaten Deli Serdang dengan 18 kasus dan Kabupaten Asahan 15 kasus.Sedangkan Kota Binjai dan Kota Tanjung Balai masing-masing mengalami 10 kasus. "Semua data itu menjadi bukti bahwa bahaya narkoba sudah `mewabah` ke seluruh daerah dan kalangan usia, termasuk usia sekolah," katanya dilansir Antara.
Koran Pak Oles/Edisi 168/1-15 Februari 2009

Kondom Pembenar Seks Bebas?

thumbnail
Anjuran untuk menggunakan kondom untuk mencegah penularan virus HIV melalui hubungan badan, bukan berarti menjadi pembenar bagi masyarakat untuk melakukan aktivitas seks bebas. Hal tersebut disampaikan oleh Spesialis HIV/AIDS dari World Vision Indonesia (WVI), dr Ronald S Gunawan, MA kepada Antara di sela-sela Pembekalan Informasi HIV dan AIDS Untuk Partai Politik yang digelar WVI di Jayapura, Kamis (22/1). ‘’Memakai kondom adalah pilihan untuk melindungi diri dan pasangan dari penularan HIV, tapi tidak berarti karena aman LALU setiap orang boleh melakukan hubungan dengan yang bukan pasangannya,’’ ujarnya.
Berdasarkan laporan survei AIDS per 31 Maret 2008 yang dikeluarkan oleh Dinas Kesehatan Provinsi Papua, jumlah orang yang terinveksi HIV dan pengidap AIDS menunjukkan kecenderungan yang semakin meningkat. Jumlah ini paling banyak terdapat pada golongan masyarakat yang berusia antara 20 hingga 30 tahun.
Papua menjadi salah satu daerah yang paling tinggi jumlah penduduknya terinveksi HIV sekaligus terbanyak pengidap AIDS di Indonesia. Data yang diperoleh Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Papua mencatat hingga Bulan Maret 2008, kasus HIV/AIDS di Papua mencapai 3.955 kasus terdiri atas 2.182 kasus inveksi HIV dan 1.773 kasus pengidap AIDS.
Sesuai data, warga yang menderita infeksi HIB sebanyak 604 kasus dan 383 positif pengidap AIDS. Terus bertambahnya kasus HIV/AIDS di Papua disebabkan beberapa faktor yang saling terkait. Masalah HIV/AIDS bukan hanya masalah kesehatan sehingga penyelesaian pun menuntut keterlibatan lintas sektor, tegasnya.
Faktor pertama, tingginya pengidap penyakit kelamin di Papua. Orang yang terjangkit penyakit seksual lebih mudah terinveksi HIV. Banyaknya orang yang sakit kelamin lebih disebabkan karena pelayanan kesehatan yang masih minim terutama di daerah-daerah terpencil. Faktor kedua, masalah sosial. Berdasarkan pengamatannya, Ronald menilai kebanyakan masyarakat di Papua memiliki pasangan seks sebelum menikah lebih dari satu. ‘’Pasangan seks multi partner seperti ini lebih besar probabilitasnya untuk tertular HIV,’’ tegasnya.
Faktor ketiga, masalah pendidikan dan pengetahuan mengenai HIV/AIDS. Ronald mencontohkan di beberapa negara, materi tentang HIV/AIDS dimasukkan sebagai bagian dari pelajaran di sekolah. Dengan begitu anak-anak usia sekolah bias memahami sejak dini tentang penyakit ini. ‘’Di Indonesia, jangankan anak sekolah, para guru pun mungkin belum paham betul soal HIV/AIDS,’’ ujar dokter yang juga seorang antropolog ini.
Pengetahuan dan informasi soal HIV/AIDS yang benar, penting untuk mencegah segala kemungkinan penularan. Faktor keempat, masalah ekonomi terkait akses masyarakat untuk memperoleh pelayanan pendidikan dan kesehatan. Orang yang tidak mampu, tidak mudah untuk mendapatkan akses pendidikan dan kesehatan. Padahal dua bidang ini sangat berpengaruh terhadap penularan HIV/AIDS.
Karena itu, penyelesaian masalah tingginya angka HIV/AIDS di Indonesia memerlukan penanganan holistik dan komprehensif dengan melibatkan banyak pihak dari berbagai bidang. Bukan hanya bidang kesehatan, tapi ekonomi, pendidikan, sosial budaya, hukum bahkan politik yang berkaitan dengan kepemimpinan tangguh dan kuat untuk menyusun regulasi serta rencana strategis.
Koran Pak Oles/Edisi 168/1-15 Februari 2009

Remaja Dan Kesehatan Reproduksi

thumbnail
Persoalan tentang kesehatan reproduksi serta penyakit HIV dan AIDS tidak hanya dapat dipandang sebagai problem biologis, tetapi juga akibat ketimpangan relasi kuasa. Menurut Pelaksana Daerah Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Soepri Tjahjono, Kamis (22/1), cara pandang bahwa kesehatan reproduksi serta HIV dan AIDS hanya sebagai problem biologis telah mempengaruhi pengembangan agenda dan program intervensi pemenuhan hak kesehatan reproduksi dan seksual, serta penanggulangan penyakit HIV dan AIDS.
Dengan cara pandang itu, program kegiatan pemenuhan hak kesehatan reproduksi serta penanggulangan HIV dan AIDS telah menempatkan rakyat sebagai obyek agenda perubahan sosial. ‘’Pengalaman PKBI DIY menggunakan cara pandang biologis telah memberikan pelajaran berharga mengenai apa yang dicapai dalam perubahan sosial,’’ katanya.
Selain terjebak dalam nalar charity, cara pandang biologis juga memunculkan penyalahan terhadap rakyat saat gagal programy. Penyalahan ini melahirkan stigma dan diskriminasi terhadap komunitas remaja jalanan, gay, waria, lesbian, laki-laki dan perempuan pekerja seks. ‘’Kekeliruan program itu telah mendorong tumbuhnya kesadaran kritis dalam merumuskan agenda perubahan sosial PKBI DIY,’’ katanya.
Karena itu, melakukan pergeseran paradigma dari problem biologis dan kesalahan perilaku jadi problem relasi kuasa, dari lembaga swadaya masyarakat (LSM) sebagai agen perubahan menjadi rakyat (komunitas) sebagai aktor perubahan dan menjadikan identitas sebagai sesuatu yang harus diperjuangkan merupakan agenda terpenting.
Pergeseran tersebut menuntut ketersediaan kerangka teori yang bisa digunakan sebagai pijakan. Saat ini multi kulturalisme dipandang sebagai kerangka teori yang paling pas dan mampu membedah persoalan relasi kuasa dan perjuangan identitas terkait isu kesehatan reproduksi, seksualitas, HIV dan AIDS serta kekerasan berbasis gender.
Koran Pak Oles/Edisi 168/1-15 Februari 2009

Semakin Parah Perilaku Seks Bebas Kaum Remaja

thumbnail
Menurut hasil survey yang dilakukan salah satu lembaga, 63% remaja di Indonesia usia sekolah SMP dan SMA sudah melakukan hubungan seksual di luar nikah dan 21% di antaranya melakukan aborsi. ‘’Hasil survai terakhir suatu lembaga survey yang dilakukan di 33 provinsi tahun 2008, sebanyak 63 persen remaja mengaku sudah mengalami hubungan seks sebelum nikah,’’ kata Direktur Remaja dan Perlindungan Hak-Hak Reproduksi Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional Pusat (BKKBN) M Masri Muadz, saat Peluncuran SMS Konsultasi Kesehatan Reproduksi Remaja di Serang, akhir tahun lalu.
Ia mengatakan, persentasi remaja yang melakukan hubungan seksual pra nikah mengalami peningkatan jika dibanding tahun-tahun sebelumnya. Berdasar data penelitian pada 2005-2006 di kota-kota besar mulai Jabotabek, Medan, Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Makassar, masih berkisar 47,54% remaja mengaku melakukan hubungan seks sebelum nikah.
Namun, hasil survey terakhir tahun 2008 meningkat 63%. Perilaku seks bebas remaja saat ini sudah cukup parah. Peranan agama dan keluarga sangat penting mengantisipasi perilaku remaja tersebut. Ada beberapa faktor yang mendorong anak remaja usia sekolah SMP dan SM melakukan hubungan seks di luar nikah, antara lain pengaruh liberlisme atau pergaulan hidup bebas, faktor lingkungan dan keluarga yang mendukung ke arah prilaku serta pengaruh perkembangan media massa.
Tidak heran bila para remaja sangat rentan terhadap resiko kesehatan seperti penularan penyakit HIV/AIDS, penggunaan narkoba dan penyakit lain. Data Departemen Kesehatan hingga September 2008, dari 15.210 penderita AIDS atau orang yang hidup dengan HIV/AIDS di Indonesia 54% adalah remaja.
Kupang
Hasil survei Knowledge Attitude Practice (KAP) Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mencatat, sebanyak 31% remaja di Kota Kupang sudah pernah melakukan hubungan seks. ‘’Survei itu dilakukan pada tahun 2006 dengan mengambil sampel 500 responden siswa SMP dan SMA,’’ kata Direktur Pelaksana Harian PKBI NTT Markus Ali Brandi dalam workshop tentang Kesehatan Reproduksi, Infeksi Manular Seksual (IMS) HIV-AIDS dan Prilaku Seksual Remaja Sekolah, di Kupang, Jumat (23/1).
Dari hasil survei itu menunjukkan, 18,8% kasus HIV/AIDS di Kota Kupang terjadi pada remaja usia 15-24 tahun, 318 kasus IMS pada remaja (11-24 tahun) dengan orientasi seksual (gay) dengan tingkat pengetahuan kesehatan produksi IMS, HIV dan AIDS masih sangat rendah. Pada tahun 2008 dilakukan survei kembali.
Dalam survei itu melibatkan remaja sekolah pada tiga sekolah menengah sebanyak 3.759 orang dengan responden yang terlibat sebagai sampel survei 356 orang. Lokasi survei dilakukan pada SMP Negeri 6, SMAN 3 dan SMKN 1 dengan waktu survei 13-23 Desember 2008 namun hasilnya belum diumumkan.
Dia menambahkan, tujuan survei untuk memperoleh gambaran komprehensif soal kapasitas pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi remaja (KRR), IMS dan HIV-AIDS guna menentukan strategi intervensi program KRR dan HIV-AIDS bagi remaja sekolah. Selain itu, untuk mengidentifikasi kebutuhan remaja terhadap layanan program KRR dan HIV-AIDS spesifik remaja berbasis sekolah, serta mengaktualisasikan data KRR dan IMS, HIV-AIDS di kalangan remaja untuk kepentingan pengembangan program kesehatan reproduksi remaja. Data penduduk Kota Kupang menurut Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2007 tercatat 279.046 jiwa, 21,3% berusia 10-19 tahun. Sebanyak 44,31% dari total remaja di Kupang sedang sekolah di 37 SMP dan 40 SMA/SMK.
Samarinda
Di Samarinda, Antara melaporkan bahwa sebanyak 36 dari 300 siswa/siswi (12%) di Samarinda (Kalimantan Timur) mengaku pernah melakukan hubungan badan (seks). ‘’Survei pada 2008 terhadap sejumlah siswa/siswi di Samarinda, dari 300 sampel yang kami ambil di setiap sekolah, 12 persen atau 36 siswa/siswa mengaku pernah melakukan hubungan seks di luar nikah," kata Relawan PKBI Samarinda, Yuda, di Samarinda, Selasa (20/1) mengungkapkan hasil survei PKBI (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia) cabang Samarinda.
Survei itu dilakukan pada 8 SMU/SMK di Samarinda periode September hingga Oktober 2008. Namun, hasil itu jauh menurun ketimbang survei 2004 yakni 21% dari 300 remaja termasuk siswa/siswi mengaku pernah berhubungan seks. Ironisnya, survei yang dilakukan menggunakan metode kuesioner itu menunjukkan, 14 hubungan seks dilakukan di sekolah, 28% responden mengaku melakukan di rumah.
Umumnya, lanjut Yuda, siswa melakukan hubungan badan di luar nikah dengan PSK (Pekerja Seks Komersial), sisanya teman sekolah, dan siswi melakukan hubungan seks dengan pacar dan sesama teman sekolah. ‘’Hubungan badan dilakukan di sekolah saat jam istrahat maupun ketika usai belajar. Sementara responden yang menjawab melakukan di rumah mengaku melakukan saat kedua orang tua tidak berada di rumah,’’ ujar relawan PKBI Samarinda.
Penyebab terjadinya hubungan seks di bawah umur itu diperkirakan didominasi faktor nafsu (kurangnya moral) dan mengikuti trend (pergaulan bebas). ‘’Rumusan hasil survei itu kami telah serahkan ke bapak Wakil Walikota samarinda, Syaharie Jaang, sebagai rekomendasi bagi pengambil kebijakan untuk pengawasan di sekolah,’’ katanya.
‘’Kami berharap, temuan itu bisa menjadi landasan bagi Pemerintah Kota samarinda, khususnya Dinas Pendidikan untuk melakukan pengawasan di sekolah. Hasil ini juga kami harapkan dapat memberi masukan kepada orang tua agar lebih ketat lagi mengawasi anaknya, baik di rumah maupun di luar rumah,’’ kata Yuda.
Survei dilakukan pada delapan SUM/SMK di Samarinda itu juga sebagai OT (Outrech Worker) PKBI Samarinda, dengan menentukan kriteria sekolah, baik sedang dan buruk. Pihaknya menentukan sampel secara acak pada delapan sekolah dengan klasifikasi, sekolah baik, sedang dan buruk. Pada setiap sekolah, pihaknya mengambil masing-masing 300 sampel baik pria (siswa) maupun wanita (siswi). Kecenderungan dari hasil survei itu, pria di bawah umur lebih banyak melakukan hubungan seksual di luar nikah ketimbang wanita, tanpa menyebut perbandingan pria dan wanita yang menjadi sampel survei.
Koran Pak Oles/Edisi 168/1-15 Februari 2009

Menakar Untung Nelayan Bali

thumbnail
Oleh: I Ketut Sutika
Bali sudah cukup lama identik dengan gemerincing dolar wisatawan saat liburan sambil menikmati panorama alam dan keunikan seni budayanya. Kesan ini, tidak sepenuhnya sesuai kenyataan di tengah kehidupan masyarakat. Kantong-kantong kemiskinan masih ada di sejumlah banjar dan desa di 8 kabupaten dan kota Denpasar.
Kantong-kantong kemiskinan itu termasuk di daerah pesisir, meski kawasan pantai di Bali sebagian besar telah berkembang sebagai kawasan wisata dengan sarana dan prasarana pendukung dalam jumlah memadai. Puluhan hotel dan restoran yang berjejer di sepanjang garis pantai ditopang dengan ragam atraksi wisata yang sanggup menjadi daya tarik pelancong untuk mengunjungi Bali berulang kali tanpa merasa jenuh itu ternyata masih menyisakan nokta buram, terutama keluarga miskin yang tidak berdaya secara ekonomis.
Gubernur Bali, Made Mangku Pastika menyebut, hingga kini Bali masih memiliki 147.044 rumah tangga miskin, 3.850 kepala keluarga (KK) di antaranya kalangan nelayan yang bermukim di pesisir pantai. Upaya yang digelontor Mangku Pastika justru merangkul seluruh badan, dinas dan jajaran untuk menuntaskan masalah kemiskinan selama lima tahun masa kerja, plus meningkatkan pendapatan masyarakat dua kali lipat dari sekarang.
Pendapatan perkapita masyarakat Bali yang rata-rata Rp 11,18 juta diharapkan lebih ditingkatkan jadi Rp 22,5 juta pada tahun 2013. Salah satu terobosan yang dilakukan, dengan mengucurkan dana penguatan modal bagi usaha kecil menengah (UKM), membantu kegiatan usaha skala rumah tangga dan koperasi sebesar Rp 8,5 miliar. Dana dari APBD Bali disimpan di Bank Pembangunan Daerah (BPD) dan disalurkan lima kali lipat kepada mereka yang membutuhkan bantuan modal.
Penyaluran kredit berbunga ringan, 6% setahun tanpa anggunan dibatasi Rp 5 juta per orang, cukup sebagai modal untuk mengembangkan usaha skala rumah tangga, baik peternakan, perikanan maupun industri kecil dan kerajinan rumah tangga yang berkembang pesat di pelosok-plosok pedesaan Pulau Dewata.
Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Bali, Ir Gusti Putu Nuriartha menjelaskan, dari kucuran dana Rp 8,5 miliar untuk penguatan modal usaha, sektor perikanan dan kelautan kebagian Rp 2 miliar. Sisanya mendukung pengembangan bidang peternakan, koperasi maupun usaha industri kecil dan kerajinan rumah tangga. Penguatan modal tersebut sudah direalisasi kepada 49 kelompok nelayan, pembudidaya dan pengolahan ikan, masing-masing Rp 50 juta. Dana tersebut dikelola kelompok untuk membantu permodalan bagi anggota. Sesuai pengamatan Antara di lapangan, sasaran peningkatan pendapatan dua kali lipat pada 2013 telah tercapai, berkat upaya memberikan bantuan mesin tempel, jaring, alat tangkap dan pembinaan.
Kelompok nelayan Merta Asih Desa Bunutan, Kecamatan Abang, Kabupaten Karangasem, daerah ujung timur Pulau Bali misalnya, diberi bantuan 52 unit perahu motor tempel yang sebelumnya 5-9 PK. Dengan bantuan tersebut pendapatan nelayan meningkat 178,5% dari rata-rata Rp 2,1 juta menjadi Rp 5,8 juta per orang sebulan. Dalam setahun rata-rata meningkat Rp 25,2 juta menjadi Rp 70,2 juta dari sasaran yang ingin dicapai Rp 22,5 juta per kapita per tahun.
Nelayan saat menggunakan perahu motor tempel 5-9 PK hasil tangkapan sekitar 100 ekor, dengan harga rata-rata Rp 1.200/ekor, sehingga penghasilan Rp 120.000, dikurangi bahan bakar minyak (BBM) Rp 50.000. Pendapatan bersih jadi Rp 70.000 per hari atau Rp 2,1 juta sebulan, atau sama dengan Rp 25,2 juta setahun.
Setelah diberi bantuan perahu motor tempel 15 PK, aktivitas nelayan menangkap ikan jadi semakin jauh ke tengah laut. Hasil tangkapan juga lebih banyak, rata-rata 225 ekor Rp 270.000, dikurangi biaya BBM Rp 75.000 sehingga penghasilan bersih Rp 195.000 per orang sehari atau Rp 5.850.000 sebulan (Rp 70,2 juta setahun).
Untuk budidaya rumput laut yang ditekuni sebagian besar masyarakat pesisir di Kecamatan Nusa Penida, --pulau yang terpisah dengan daratan Bali yang secara administratif masuk Kabupaten Klungkung, melalui program pembinaan, pemberian subsidi benih dan alat produksi mampu meningkatkan pendapatan masyarakat.
Sebelum adanya program pemberian subsidi benih masyarakat hanya mengembangkan rumput laut rata-rata tiga are (300 m) per orang setiap panen selama 45 hari, pendapatan Rp 1.350.000 atau setiap are Rp 450.000. Setelah mendapat bantuan setiap nelayan mengembangkan lima are (500 m) untuk memperoleh Rp 2.250.000 setiap panen selama 45 hari, meningkat Rp 900.000 (66,6%). Untuk budidaya ikan lele di Desa Pering, Kabupaten Gianyar mempunyai prospek sangat cerah, karena seseorang yang memelihara lele di atas kolam seluas satu are (100 m) dalam 45 hari masa panen hasil penjualan Rp 11 juta, dikurangi biaya produksi Rp 7 juta dan untung bersih Rp 4 juta.
Koran Pak Oles/Edisi 168/1-15 Februari 2009

Pasar Ekspor Bidik Produk Ramah Lingkungan

thumbnail
Produk kerajinan yang berbahan baku ramah lingkungan masih tetap disukai di pasar ekspor pada 2009 sehingga dapat menjadi peluang besar bagi para perajin Indonesia agar lebih banyak mengekspor produk kerajinan semacam itu.
Direktur Asosiasi Pengembangan Industri Kerajinan Republik Indonesia (APIKRI) Amir Panzuri di Yogyakarta, Jumat mengatakan produk kerajinan yang ramah lingkungan adalah yang bahan bakunya dari alam yang bisa dikembangkan dan selalu bisa terbarukan. ‘’Bukan dari bahan baku dari bahan tambang yang untuk memperolehnya bisa merusak lingkungan. Juga bukan bahan baku dari barang yang langka dan tidak bisa terbarukan,’’ katanya.
Ia mencontohkan produk kerajinan ramah lingkungan yang memiliki prospek baik di pasar ekspor di antaranya anyaman serat daun pandan. Jenis kerajinan ini, menurut dia bahan bakunya bisa diperoleh dengan mudah dan diperbarui dengan penanaman kembali jenis tanaman pandan tersebut. Selain itu, produk kerajinan dengan bahan baku dari kayu pohon cepat tumbuh dan tidak harus merusak lingkungan alam, misalnya bambu, sengon, mahoni dan sonokeling. ‘’Bahan baku jenis itu mudah diperoleh dan bukan tanaman langka,’’ katanya.
Mengenai produk kerajinan dari bahan serat pandan, ia mengatakan produk ini memiliki prospek baik untuk ekspor ke berbagai negara. Sedangkan di Kabupaten Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), menurut dia yang memiliki potensi besar adalah tanaman pandan. Karena itu, pihaknya bekerjasama dengan perajin serat di Kabupaten Kulonprogo berupaya mengembangkan tanaman pandan di kawasan Pantai Congot, kabupaten setempat.
Upaya mengembangkan tanaman pandan di pantai itu dimulai pada Mei 2008 dengan menanam 5.000 bibit pandan. ‘’Kami mengharapkan dalam waktu dua tahun mendatang tanaman pandan sudah bisa dipanen dan dimanfaatkan daunnya untuk dijadikan serat bagi bahan baku aneka kerajinan serat yang sampai sekarang banyak digeluti warga Kulonprogo,’’ katanya.
Pngembangan tanaman pandan di kawasan pantai Congot diharapkan dapat membuka lapangan kerja baru, karena masyarakat setempat bisa memiliki usaha kerajinan dari bahan serat tersebut. Kawasan pantai di wilayah Kabupaten Kulonprogo memang potensial ditanami pandan, namun selama ini belum dibudidayakan dengan baik dan hanya dibiarkan tumbuh secara liar. Padahal serat daun pandan maupun daun pandan sendiri jika dikeringkan bisa menjadi bahan baku kerajinan yang memiliki nilai jual tinggi.
Koran Pak Oles/Edisi 168/1-15 Februari 2009

Bisnis Sandal Ban Bekas

thumbnail
OLEH: HERNAWARDI
Bagi seseorang yang memiliki naluri bisnis, barang tak berharga bisa dibuatnya menjadi barang berharga bernilai jual tinggi. Umpamanya ban bekas, Jika selama ini banyak ditemukan potongan ban bekas di tempat pembuangan sampah (TPS) atau banyak bergelantungan di bengkel-bengkel sepeda motor, namun yang terjadi di Lingsar, Lombok Barat, NTB, justru barang bekas yang satu ini sungguh berharga dan sayang jika harus dibuang percuma.
Daya kreatif dan motivasi bisnis Yudamadi (38) warga Lingsar untuk membuat kerajinan sandal dari ban bekas ternyata bisa menghasilkan uang. Ban bekas yang selama ini banyak diabaikan masyarakat, ia sulap menjadi sebuah kerajinan alas kaki alias sandal.
Terhitung sejak lima tahun lebih Yudamadi menekuni usaha kerajinan yang satu ini. Semenjak puitus sekolah SMA, Yuda, sapaan akrabnya mencoba peruntungan hidup menjadi guide atau pemandu wisata. Kemampuannya berkomunikasi dalam bahasa Inggris, rupanya menjadi alasannya untuk terjun sebagai guide. Iapun tak belajar dari kursus atau pelatihan sejenis lainnya. Namun ia belajar dari pengalamanannya secara otodidak karena sering mangkal di daerah pariwisata.
Pekerjaan itu dilakoninya dari tahun 1994-2003 di kawasan wisata Bali. Namun pupuslah harapan Yuda bergelut dengan profesinya itu. Kasus bom Bali saat itu meluluhlantahkan perkerjaannya , praktis wisatawan jadi sepi. Orderpun ikut berpengaruh. Akibat dari semua itu, Yuda balik kampung dan memulai usaha barunya sebagai perajin sandal bekas.
Keinginan menjadi perajin sandal bekas, datang begitu saja, tanpa terpikir sebelumnya. Namun setelah memulainya ternyata mengasyikkan juga. Keterampilan itulah yang membuat masyarakat di lingkungannya mulai banyak yang memesan, terutama para sekeha gendang beleq baik yang ada di lingsar maupun luar lingsar.
Kerajinan sandal Yuda lambat-laun berkembang dengan pesatnya seiring dengan pesanan yang semakin banyak mengalir. Menurut konsumennya, sandal buatan Yuda bentuknya indah dan nyaman dipakai. Itung-itung sebulannya ia berhasil menyelsaikan 180 lebih pasang sandal yang dianyamnya sendiri, itupun tanpa bantuan karyawan.
Selama Yuda menekuni usaha ini banyak motif lahir dari kreasinya. Sebutlah misalnya seperti motif jamur, jaka tingkir yang banyak talinya, model jempol, model slop dan banyak yang lain. Dari sekian model tersebut yang paling banyak dicari model jaka tingkir. “Hampir 80 pasang lebih dipesan jika ada yang minta,” tukas Yuda.
Berbicara pemasaran Yuda mengaku, hingga saat ini sandalnya sudah bisa dipasarkan ke Bali, Sumbawa, Bima bahkan ke Aceh sekalipun. Harganya untuk satu pasang Rp 12.500 baik ukuran besar maupun kecil. Namun banyak juga teman guidenya yang menjualnya hingga Rp 70-80 ribu per pasang.
Dari sisi keuntungan, Yuda mengaku cukup lumayan. Dari modal pembelian ban bekas Rp 6-7 ribu Yuda bisa menarik keuntungan hingga Rp 25 ribu untuk satu buah ban. Sandal buatan Yuda ini tak kalah dengan sandal merk lain seperti homy ped. Sandal ban bekas Yuda cukup kuat, empuk dan elastis di kaki apalagi musim hujan. ‘’Selain terampil bikin sandal dari ban bekas, saya juga bisa perbaiki beduq. Jika ada beduq yang rusak hubungi saya,” canda Yuda ngakak.
Koran Pak Oles/Edisi 168/1-15 Februari 2009

Pegal-pegal Akhirnya Berkurang

thumbnail
Nama: Rahayu Sarwitri, 56 tahun, dosen, tinggal di Kel. Potrobangsan, Kec. Magelang Utara.
Pengalaman:
Seiring dengan bertambahnya usia, badan saya setiap pagi terasa pegal-pegal sehingga mengganggu aktivitas saya saat mengajar. Namun saya berterimakasih bisa bertemu dengan SPG Pak Oles yang menawari saya Kalung EM Keramik. Mula-mula saya ragu, tapi setelah saya coba ternyata pegal-pegal di badan saya berkurang. Alhamdulillah sampai saat ini tidak terasa lagi dan anggota keluarga saya pun memakai Kalung EM Keramik.
Koran Pak Oles/Edisi 168/1-15 Februari 2009

Kutil Mengelupas Lalu Hilang

thumbnail
Nama: Bi Narsih, pengasuh, tinggal di Rowokangkung, Lumajang.
Pengalaman:
Anak saya berumur sembilan tahun. Tubuhnya banyak ditumbuhi kutil sebesar ketumbar. Ada yang tumbuh di daun telinga, jari tangan, punggung, pantat dan lutut. Dalam kecemasan dan kekhawatiran itulah saya dibelikan Minyak Oles Bokashi isi 12ml oleh seorang teman sebagai obat alternatif. Dengan sabar dan penuh harap saya oleskan secara rutin pagi dan sore pada kutil-kutil yang terdapat pada tubuh anak saya. Alhamdulillah, sedikit-demi sedikit kutilnya mengelupas sampai akhirnya hilang tanpa bekas.
Koran Pak Oles/Edisi 168/1-15 Februari 2009

Flu Hilang Dan Badan Kembali Fit

thumbnail
Nama: Aris Budi Prastya, 38 tahun, guru, tinggal di Garut, Jabar.
Pengalaman:
Bila saya terserang flu badan terasa pegal-pegal. Jawabannya adalah Minyak Oles Bokashi! Karena saya rasakan setelah minum Minyak Oles Bokashi yang dicampur dengan air putih, terutama saat terserang flu dan badan pegal-pegal, maka badan cepat kembali fit dan influensa hilang. Apalagi Minyak Oles Bokashi termasuk obat herbal yang bebas dari zat kimia.
Koran Pak Oles/Edisi 168/1-15 Februari 2009

Jerawat Cepat Mengering

thumbnail
Nama: Mega Dewiyanti, 20 tahun, swasta, tinggal di Banyumanik, Semarang.
Pengalaman:
Minyak Oles Bokashi membuat jerawat cepat kering. Minyak Oles Bokashi juga dapat mengatasi gigitan serangga, untuk minyak pijat dan kerokan. Saya juga menggunakan Krim Saribing untuk menghaluskan wajah dari bekas jerawat. Setiap hari, saya rutin menggunakan Krim Saribing biar wajah tetap halus. Terima kasih atas produk-produk Pak Oles yang memang tokcer.
Koran Pak Oles/Edisi 168/1-15 Februari 2009

Asam Urat Berangsur Sembuh

thumbnail
Nama: D Syahbudin, 64 tahun, pekerjaan buruh, tinggal di Desa Muarasanding, Kec. Garut, Bandung
Pengalaman:
Saya sudah lama menderita penyakit asam urat. Meski saya sudah sering berobat ke dokter, namun hasilnya hanya sementara. Asam urat memang hilang, tapi beberapa hari kemudian muncul lagi. Lalu saya coba minum Madu Jamur dan memakai Minyak Oles Bokashi. Alhamdulillah setelah rutin saya menggunakan kedua produk itu sesuai aturan pakai, berangsur-angsur asam urat saya sembuh dan tidak kambuh lagi.
Koran Pak Oles/Edisi 168/1-15 Februari 2009

Bersyukur Berat Badan Turun

thumbnail
Nama: Maryuni, 28 tahun, ibu rumah tangga, tinggal di Wujil Bergas, Semarang.
Pengalaman:
Saya mengenal Ramuan Pak Oles dari seorang SPG yang datang berjualan ke rumah saya. Kebetulan saya mengalami masalah berat badan. Lantas saya tertarik membeli Madu Sekar. Setelah saya minum Madu Sekar secara rutin, alhamdulillah, berat badan saya turun. Saya bersyukur bisa merasakan khasiat alami Madu Sekar racikan Pak Oles.
Koran Pak Oles/Edisi 168/1-15 Februari 2009

Wajah Bersih Alami Tanpa Bedak

thumbnail
Nama: Yuli Widihastuti, 29 tahun, Guru TK, tinggal di Boyolali, Jateng.
Pengalaman:
Semula saya ragu untuk memakai produk kecantikan Pak Oles. Maklum kulit wajah saya pernah rusak karena memakai kosmetik tertentu. Setelah membaca informasi di Koran Pak Oles, saya akhirnya mencoba Krim Saribing dan Masker Madu Hitam. Alhamdulillah dengan keyakinan hati, dalam dua minggu, muka saya lebih bersih dan kerutan muka memudar. Saya menjadi lebih PD dan wajah tetap bersih alami walaupun tanpa bedak.
Koran Pak Oles/Edisi 168/1-15 Februari 2009

Bengkak Di Kaki Kempes

thumbnail
Nama: Rahmat Hidayat, 27 tahun, wiraswasta, tinggal di Desa Lebakjaya, Kec. Karangpawitan, Kab. Garut, Jabar.
Pengalaman:
Usai menjalani operasi, kaki saya bengkak. Berkat saran SPG Pak Oles, saya mulai memakai Gelang EM Keramik pada bagian kaki yang bengkak. Selang beberapa hari pemakaian, bengkak pada kaki saya mulai kempes. Sekarang saya tidak hanya memakai Gelang EM Keramik saja, tetapi juga memakai Minyak Oles Bokashi, aneka Madu Pak Oles serta Hexon dan Kudo untuk sepeda motor saya.
Koran Pak Oles/Edisi 168/1-15 Februari 2009

Meneguhkan Islam Mazhab Indonesia

thumbnail
Judul: Mengindonesiakan Islam; Representasi dan Ideologi
Penulis: Dr. Mujiburrahman
Penerbit: Pustaka Pelajar, Yogyakarta
Cetakan I: Desember 2008
Tebal: xxii+438 halaman
Peresensi: Juma Darmapoetra*

Islam diturunkan ke dunia sesuai dengan bahasa umatnya. Islam diturunkan di Mekah sehingga ajaran dan hukum yang berlaku sesuai dengan budaya dan tradisi yang berlaku di Arab. Sedangkan Islam yang berada di negara selain Mekah, juga sesuai dengan kondisi sosio-kultural daerah tersebut.
Islam bersifat universal. Islam sesuai dengan konteks sosio-kultural masyarakat di mana ia berkembang. Islam adalah shalihun fi kulli zamanin wa makanin (Islam cocok sesuai kondisi zaman dan tempat di manapun).
Ketika sayap Islam melebar ke seluruh belahan bumi, maka Islam Arab tidak boleh tidak harus beradaptasi dan berakulturasi dengan tradisi dan budaya di tempat lain seperti Afrika, Eropa, Amerika, Asia, dan Australia. Dalam konteks ini, Islam yang masuk ke Indonesia, harus disesuaikan dengan budaya di Indonesia. Sehingga Islam akan dengan mudah diterima oleh masyarakat. Gagasan dan konsep “pribumisasi Islam” ala Gus Dur dan “Islam Keindonesiaan” versi Cak Nur dapat dipahami dalam konteks ini. Gagasan tentang “pribumisasi Islam” atau “Islam keindonesiaan” merupakan dua wajah “ijtihad” dalam konteks ibadah ghairu mahdhah sedangkan ibadah mahdhah sudah ada ketetapan dari Tuhan, tidak bisa diubah atau ditambah.
Tidak berbeda dengan kedua tokoh di atas, Dr. Mujiburrahman dalam buku “Mengindonesiakan Islam; Repsentasi dan Ideologi” juga berasumsi bahwa Islam yang ada di Indonesia harus berlaku sebagaimana adat istiadat dan budaya Indonesia. Karena, tidak mungkin semua ajaran Islam Arab diterapkan di Indonesia. Secara geografis dan kultur budaya, keduanya sangat berbeda dan tidak akan menemukan titik equilibrium. Sehingga adanya reinterpretasi terhadap Islam yang membumi (mengindonesia) menjadi pilihan yang cukup strategis di tengah perdebatan alot antara ideologi Arabisasi Islam atau Islam ala Indonesia (mengindonesiakan Islam).
Ketika arabisasi yang menjadi pilihan, maka konsekwensinya adalah adanya puritanisme (pemurnian ajaran) Islam. Adanya arabisasi Islam dalam konteks Indonesia termanifestasikan oleh gerakan yang berafiliasi dalam konsep “Mengislamkan Indonesia”. Sedangkan “pribumisasi Islam” termanifestasikan dalam konsep “Mengindonesiakan Islam”. Konsep ini, sangat kental dengan tradisionalisme dan bisanya diidentifikasikan sebagai masyarakat sinkretis. Sedangkan konsep Mengislamkan Indonesia identifikasi dari modernisme biasanya lebih dikenal dengan semangat purifikasi. Keduanya merupakan domain yang kuat memegang kendali keagamaan yang cukup krusial di Indonesia. Sekarang kita tinggal memilih apakah akan memakai konsep “mengislamkan Indonesia” yang anti terhadap kebudayaan dan tradisi seperti Wahabiyah dan kawan-kawan ataukah “mengindonesiakan Islam” seperti NU dkk, yang ramah terhadap budaya dan tradisi lokal tanpa menggadaikan esensi dan subtansi ajaran Islam.
Keduanya merupakam manifestasi keagamaan bangsa Indonesia yang majemuk, multikultural dan bhineka. Walaupun kita tidak bisa menafikan adanya kelompok lain yang juga memiliki pengaruh cukup kuat. Keduanya merupakan representasi dan ideologi yang menancap kuat di tanah Indonesia.
Dengan mengambil sampel dari masyarakat Banjar, terutama di Amuntapai dan Martapura, penulis melaporkan bahwa masyarakat di sana masih menggunakan akar-akar tradisionalisme dalam praktek “keagamaannya”, seperti adanya tradisi Mandi Hamil, “Apung Mawar”, Pengantinan dan lain sebagainya.
Dalam hal ini, pertentangan antara kelompok tradisionalis dan puritanis seakan tidak bisa dihindari kembali. Kelompok tradisionalis akan menganggap bahwa praktek keagamaan semacam itu akan semakin merekatkan hubungan harmonis dengan masyarakat umum. Sedangkan kelompok Puritanis akan menganggap bahwa itu merupakan sebuah pelecehan terhadap agama karena telah mencampurkan agama dan budaya yang cenderung bertentangan. Agama berada di wilayah ketuhanan sedangkan budaya di wilayah manusia.
Adanya pro-kontra seputar praktek keagamaan semacam ini merupakan corak Islam Indonesia. Selama keduanya masih berada dalam jalur yang bisa ditoleransi maka bentuk pro-kontra merupakan sunnatullah yang memang harus terjadi. Tetapi, ketika pro dan kontra itu menjurus pada pertentangan dan konfrontasi secara fisik, bukan merupakan bentuk perbedaan yang diharapkan.
Melihat fenomena di atas, maka konsep dan gagasan mengenai mengindonesiakan Islam, setidaknya harus memegang prinsip keterbukaan dan saling menghargai merupakan hal vital dalam konteks keagamaan Indonesia. Karena Indonesia dibangun atas keberagaman, kemajemukan dan keberbedaan yang mentradisi dalam ranah kehidupan masyarakat Indonesia.
Kebhinekaan budaya Indonesia merupakan bentuk akulturasi dari berbagai budaya di Indonesia, seperti Hindhu-Budha, animisme dan dinamisme yang kemudian bercampur dan berakulturasi dengan nilai-nilai kenabian dan keilahian yang diusung oleh Islam. Sehingga dari sini, Islam Indonesia akan tampil dengan wajah yang berbeda dari asalnya, di Arab. Di sini, kita bisa melihat kelihaian para penyebar Islam dalam menyebarkan Islam di Indonesia. Mereka berani memasuki budaya masyarakat yang sudah lama berkembang kuat dengan senantiasa mengadaptasikan dengan Islam.
Perasan sari pati ide pemikiran penulis dalam buku ini, yaitu mengusung konsep bagaimana Islam yang ada di Indonesia diaplikasikan sesuai dengan kultur dan tradisi yang berkembang dalam masyarakat Indonesia. Karena, tidak semua ajaran Islam yang diturunkan di Arab, Mekah sesuai dengan budaya Indonesia. Adanya perbedaan yang ada di Banjar agar tidak menjadi pemicu permusuhan dan kekacauan, karena subtansinya, Islam memang tidak bisa dipisahkan dari kebudayaan dan tradisi manusia.
Dalam hal ini, adanya reinterpretasi merupakan jalan yang tidak bisa dihindari agar Islam itu terasa fleksibel, universal dan membumi. Bukankah Islam itu, sesuai di setiap zaman dan tempat? Kita tidak bisa menghomogenkan sesuatu yang heterogen. Karena akan bertentangan dengan hukum alam dan konsekwensinya akan muncul permusuhan, pengrusakan, kekacauan dan tidak adanya sikap saling menghormati dan menghargai sesama.
*)Aktif pada Central for Cultural Research (CCR), Adab Faculty UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Aktif di LKKY, Yogyakarta.
Koran Pak Oles/Edisi 167/16-31 Januari 2009

Syeikh Fakhruddin Wisata Spiritual Di Bali

thumbnail
Syeikh Fakhruddin (29) yang mengaku sebagai keturunan Uwais Al Qorny, salah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW, melakukan serangkaian kegiatan wisata religius di Bali.
Tokoh Islam dunia kelahiran Amerika Serikat yang sekolah dan dibesarkan di Afrika itu, di antaranya menyampaikan ceramah di Jalan Umalas Lestari 8X, Kerobokan, Kuta, Kabupaten Badung, Minggu petang (11/1).
Ia melakukan serangkaian kegiatan wisata religius di Bali atas undangan Tina Gondokusumo, dalam upaya penyegaran bertepatan tahun baru Masehi 2009 dan tahun baru 1430 Hijriyah.
Menurut Julien Lanes dari Rumah Ngamen, yang membantu penyelenggaraan kegiatan tersebut, Syeikh Fakhruddin banyak mewarisi keislaman Uwais al-Qorny yang dikenal banyak menyebarkan syariat Islam di Afrika, Eropa, Amerika Serikat.
Syeikh Fakhruddin merupakan salah seorang murid Syeikh Hasan Cisie yang mengislamkan banyak selebritas Amerika Serikat seperti Mike Tyson dan beberapa pebasket terkenal.
Kegiatan bertema "Dasar-dasar Islam dan Islam Bukan Teroris" tersebut diadakan oleh Tina Gondokusumo atas dasar kesolidaritasan dan cinta antar umat beragama.
Syeikh Fakhruddin menekankan pemahaman tentang dasar-dasar Islam, guna menghilangkan anggapan yang terkait dengan terorisme, melalui metode tasawuf (etika dan keharmonisan dengan non muslim).
Metode ini banyak pengikutnya dan di Indonesia diperkirakan lebih dari 10 juta orang, sehingga Syeikh Fakhruddin berkenan memprioritaskan datang ke Bali.
Meski kelahiran Amerika, Syeikh Fakhrudiin Owaisi itu besar dan belajar di Kota Madinah selama 18 tahun. Dia kemudian meraih Magister di Universitas Islam Afrika Selatan.
Imam Besar di The Hout Bay Mosque dan kepala Sunni Ulama Council di Capetown Afrika Selatan itu, selain banyak berceramah di Afrika, juga keliling Eropa dan Amerika Serikat guna menebarkan keharmonisan sesama umat manusia.
"Pengikut Tasawuf di Indonesia cukup banyak. Kabarnya mencapai 10 juta orang. Karena itu saya bersedia hadir di sini guna menebarkan keharmonisan agar tersebar ke seluruh dunia," katanya dalam penjelasan melalui juru bicara Ustadz Dang Faturachman.
Di hadapan ratusan anggota Majelis Taklil Istiqomah, Forum Study Islam Bali (FOSIBA), komunitas lokal, penganut agama lain dan anak-anak yatim-piatu, Syeikh Fakhruddin berharap kedamaian akan merambah dari daerah wisata internasional Bali ke seluruh dunia, termasuk Jalur Gaza.
Koran Pak Oles/Edisi 167/16-31 Januari 2009

Dehumanisasi Model Pendidikan Kapitalis

thumbnail
Judul: Metode Pendidikan Marxis Sosialis: Antara Teori dan Praktik
Penulis: Nurani Soyomukti
Penerbit: Ar-Ruzz Media, Yogyakarta
Cetakan: Pertama, Desember 2008
Tebal: 316 Halaman
Peresensi: Khoridatul Anisah*

Pendidikan, umumnya dipahami sebagai kegiatan mulia yang selalu mengandung kebajikan dan berwatak netral atau bebas nilai. Pandangan ini masih dominan hingga saat ini meskipun tiga dasawarsa yang lalu telah dibongkar oleh Paulo Freire dan Ivan Tillich. Keduanya memandang bahwa penindasan dan selubung nilai yang halus senantiasa berusaha ditanamkan dalam kesadaran semua yang terlibat dalam aktivitas pendidikan. Pendidikan bukan merupakan konsep yang bebas nilai.
Nilai-nilai ini sangat dipengaruhi oleh keyakinan, ideologi, dan kepentingan dari pemangku kepentingan pendidikan tersebut. Pendidikan ibarat perahu kecil yang terjepit di antara dua karang besar yakni, apakah pendidikan akan memberikan dan mengukuhkan dominasi atas selubung dan ilusi penindasan tersebut, ataukah pendidikan menjadi sarana pembebasan atas dominasi dan penindasan yang telah mapan.
Nurani Soyomukti berusaha untuk melanjutkan tradisi kritik atas dominasi dan penindasan model pendidikan kapitalis yang telah mapan. Sebelum membongkar borok model pendidikan kapitalis, penulis menancapkan dasar berpikir yang sangat dipengaruhi oleh teori-teori Karl Marx seperti filsafat materialisme dialektika dan konsep-konsep ekonomi Marxis. Laiknya pengikut tradisi Marxis yang setia, penulis menempatkan ekonomi sebagai faktor determinan yang berfungsi menjadi basis penyangga, dan pendidikan sebagai bangunan atas atau supra struktur.
Corak produksi masyarakat yang kapitalis, menentukan bangunan pendidikan di atasnya akan seperti apa. Pendidikan berfungsi untuk melayani dan menstabilkan corak produksi tersebut. Secara sukarela dan tanpa sadar banyak dari kita yang menjadi pelayan bagi kepentingan kapitalis yang masuk lewat penidikan. Ketundukan sukarela untuk melayani kepentingan kapital inilah yang oleh Gramsci diistilahkan sebagai hegemoni.
Termanifestasi dalam pendidikan, hegemoni mengambil bentuk melalui kurikulum sebagai media yang sangat penting untuk mereproduksi cara pandang yang sesuai dengan kapitalisme. Semua sekolah kapitalis memiliki “kurikulum tersembunyi” (hidden curriculum) untuk tujuan memaksakan ideologi kapitalis masuk kelas. Kurikulum tersembunyi di sekolah merujuk pada norma-norma, nilai-nilai, dan sikap di bawah sadar yang seringkali ditransmisikan secara halus lewat relasi-relasi sosial di sekolah dan kelas. Dengan menekankan pada aturan konformitas, pasifitas, dan ketertundukan, hidden curriculum menjadi salah satu media sosialisasi yang kuat dan dapat berguna untuk memproduksi model-model pribadi yang siap menerima hubungan sosial dan sruktur kekuasaan yang sedang bekerja.
Kurikulum menentukan pelajaran apa yang harus diberikan pada murid dan apa yang harus diajarkan guru. Hal itu juga akan menentukan apa yang dimasukkan pada pikiran anak didik dan guru, akhirnya juga pengetahuan apa dan macam apa (di mana keberpihakannya) yang harus diajarkan di sekolah. Kurikulum dalam pengertian modern dipahami sebagai himpunan pengalaman peserta didik yang menjadi objek pembahasan dan praktek belajar mengajar. Subjek materi dan proses belajar mengajar dalam kurikulum seharusnya bersumber dari dari realitas konkrit keseharian peserta didik sendiri.
Kurikulum tersembunyi bukan satu-satunya pangkal dehumanisasi model pendidikan kapitalis. Komersialisasi pendidikan yang bermuara pada elitisme pendidikan juga menjadi biang keladi bahwa pendidikan telah berubah fungsinya karena tidak lagi mampu melayani kebutuhan dasar nan pokok masayarakat secara luas tanpa diskriminasi dan diakses dengan keluaran biaya yang rendah. Sekolah telah mengimitasi model organisasi perusahaan. Elemen-lemen pendidikan di sekolah tidak jauh berbeda dengan tata kelola perusahaan yang tujuan akhirnya adalah untuk berproduksi.Guru dipersonifikasikan sebagai manajer yang mempunyai otoritas dalam menentukan tujuan dan aktivitas apa yang dilakukan bagi anak didiknya, seperti manajer perusahaan yang mempunyai kewenangan menentukan tujuan produksi buruhnya. Murid yang mirip dengan buruh hanyalah obyek yang tunduk pada majikan. Upah buruh adalah gaji, sedangkan upah murid adalah nilai yang tertera dalam raport. Sama seperti buruh dalam kapitalisme, para murid juga mengalami alienasi dan ketertindasan dari hasil dan proses belajar yang ada (hal. 187).
Seolah tidak ingin terjebak dalam gaya koboi yang segera setelah menuntaskan kejahatan meninggalkan locus-nya, dan tidak memberikan alternatif jawaban yang konkrit, penulis tidak hanya saja melancarkan kritik terhadap model pendidikan kapitalis, namun juga menawarkan alternatif jawaban atas kritikannya tersebut. Sosialisme menjadi jawaban atas kritik yang dilancarkannya. Pendidikan sosialisme bertujuan untuk membongkar ilusi-ilusi kemapanan dan selubung penindasan supaya manusia bisa menemukan kembali kemanusiaannya yang telah tercerabut akibat proses pendidikan yang tidak humanis. Ini berarti tugas utama pendidikan sosialis adalah melakukan refleksi kritis terhadap ideologi dominan menuju ke arah transformasi sosial. Membangun ruang kesadaran agar sikap kritis terhadap sistem dan struktur keadilan, serta melakukan dekonstruksi dan advokasi menuju sistem pendidikan dan sosial yang lebih adil. Dengan lain perkataan, tugas pendidikan adalah “memanusiakan” kembali manusia yang mengalami dehumanisasi karena sistem dan struktur yang tidak adil.
Supaya tidak hanya menjadi angan kosong model ideal yang dicitakan, penulis melengkapi dengan capaian-capaian beberapa model pendidikan di negera-negara yang menganut atau pernah menganut paham sosialis ( hal. 203-240) seperti di Uni Soviet (sekarang Russia ), Cina , Kuba, dan Venezuela. Sejumlah data-data keberhasilan dan capaian yang cukup signifikan berhasil digapai oleh negara-negara yang menganut model pendidikan sosialis tersebut. Di semua negara-negara tersebut, dari sisi anggaran pendidikan misalnya, mengalami lonjakan yang cukup fantastis. Sebutlah misalnya di Uni Soviet yang mengalami peningkatan anggaran sampai 10 kali lipat sejak rejim Bolshevik berkuasa. Demikian pula dengan capaian sumber daya manusia yang bisa diukur dari kuantitas maupun kualitas keluaran dari model lembaga pendidikan sosialis tersebut.
Buku yang disajikan dengan menggunakan paradigma kritis ini, secara jitu berhasil menelanjangi bangunan pendidikan kapitalis yang banyak mengandung ilusi-ilusi di dalamnya. Sebuah karya yang cukup provokatif mengenai pendidikan di tengah praktik pendidikan yang paradoksal di negeri kita.
*)Guru pada Madrasah Aliyah Persiapan Negeri Cimahi.
Koran Pak Oles/Edisi 167/16-31 Januari 2009