“Transinformasi Bukan Transaksional”

thumbnail
Memang tidak adil untuk keponakan saya yang masih duduk di bangku kelas IV SD, harus mengeluarkan uang seribu rupiah untuk membayar sehelai kertas tes harian. Ini dilakukan oleh guru kelasnya ketika mengadakan tes harian. Seorang temannya berbisik padanya, “Paling cuma seratus perak aja, kok, harus bayar seribu, yah?” ujarnya. Keponakan saya hanya mengangguk sambil sedikit cemberut. Itu cerita keponakan saya ketika usai pulang sekolah pada ibunya atau kakak perempuan saya yang kemudian bertanya pada saya.
“ De’, biasanya kamu kasih harga kertas ulangan berapa?” tanyanya. Saya hanya bilang, “ Gratis atuh, teh, kan cuma selembar!” jawab saya. “ Memang kenapa?” lanjut saya. Lalu berceritalah kakak saya tentang cerita putrinya tadi. Saya terkejut dan kesal juga. Bisa dibandingkan, saya yang hanya guru honorer sekolah menengah pertama memberikan lembaran kertas tes harian untuk tiga kelas sekaligus dengan cuma-cuma. Guru kelas itu dengan status PNS, menjual selembar kertas tes harian dengan harga sepuluh kali lipat harga foto kopian. Terlalu! Kegeraman saya berlanjut dengan cerita kakak saya yang ternyata guru putrinya itu yang kadang-kadang hadir dengan alasan bahwa beliau sedang sekolah lagi alias kuliah lagi, serta tidak pernah menjelaskan materi.
Misalnya, ketika membahas soal matematika, keponakan saya mendapat nilai kurang. Karena sang guru menyalahkan jawaban soal matematikanya dengan sembrangan. Berbeda ketika keponakan saya kelas satu sampai tiga dia pernah mengambil les matematika pada seorang guru yang menggunakan metode perhitungan yang mudah diingat dan dihitung dengan jari. Dari pertambahan sampai pembagian. Semua metode sang guru les tersebut tidak dibenarkan oleh guru kelasnya yang sekarang. Padahal guru kelasnya di kelas satu sampai tiga juga sampai bertanya pada guru les tersebut. Mereka sama-sama menggunakan metode yang memudahkan anak untuk menghitung matematika.
Selain pelajran matematikanya, pelajaran yang lain pun disalahkan karena salah menjawab soal IPS yang berhubungan dengan perhitungan skala peta. Metode perhitungan skala peta pernah saya jelaskan pada keponakan saya pun disalahkan karena jalannya yang salah. Saya adalah guru IPS menjadi merasa jengah dengan tindakan guru kelas keponakan saya.
Di sini saya bukan ingin menuntut bahwa tindakan guru tadi salah atau benar. Saya yakin semua pun tidak membenarkan tindakan guru kelas keponakan saya tadi. Akan tetapi, kondisi seperti ini sudah menjadi tradisi lama yang menjadi-jadi. Untuk menghentikannya, saya mungkin saja langsung menegur guru tersebut. Saya urungkan niat saya karena saya tahu tindakan saya akan berakibat negatif untuk keponakan saya. Lalu saya berikan motivasi pada keponakan saya untuk sedikit memberontak. Jika diminta ulang lagi jangan mau. Itu saya lakukan agar guru tersebut mau berubah karena reaksi dari anak-anaknya sendiri. Akhirnya sang guru mendapat reaksi karena ada yang berani menolak, sehingga guru tidak melanjutkan tindakannya.
Sekarang turun UU profesionalisme untuk guru. Di sini tentunya kita bisa merasakan apa yang seharusnya menjadi kewajiban seorang guru. Baik itu guru yang honorer dan guru PNS, ketika menyandang tanggung jawab maka setiap keluhan dari anak didik musti dan wajib diperhatikan. Guru harus bertindak profesional bukan transaksional.
Status bukan menjadi perhatian melainkan pada sisi sosok pribadi seorang guru terhadap anak didiknya. Kondisi yang menimpa pada keponakan saya atas tindakan guru di kelas. Kondisi yang tidak kondusif itu akan buruk jika ditambah dengan tidak adanya interaksi berupa komunikasi antara guru kelas dengan orang tua.
Peranan guru berada di sekolah dan peran orang tua di lingkungan rumah. Jika ini berlanjut dengan harmonis menghasilkan anak-anak yang cerdas dan kreatif. Jika dihambat dengan drastis akibatnya menimbulkan konflik dalam diri si anak. Kasus ini saya harap tidak terjadi di tempat lain. Ini mengakibatkan kerugian status sosial dalam diri seseorang yang seharusnya patut untuk digugu dan ditiru. Apa yang akan digugu dan ditiru jika input yang diperoleh melakukan hal yang menjadi konflik di setiap orang. Saya selalu berkata pada keponakan saya agar melakukan tugas di sekolah dengan baik. Itu adalah kewajiban seorang pelajar. Tapi jika yang didapat keponakan saya tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, maka orang tualah yang menjadi repot dan bingung. Mengapa begini dan begitu. Mengapa harus begini dan harus begitu.
Di sini guru justru dituntut untuk tetap mengabdi dan melayani anak didik layaknya seorang pelayan melayani pelanggan. Tapi tujuan guru lebih dari hanya melayani bahkan harus memberikan contoh yang baik. Dari ucapan, tindakan dan bahkan gurauan akan selalu menjadi sorotan. Kedua orangtua saya adalah guru dengan status pegawai negeri sipil. Dari merekalah saya belajar bagaimana menjadi guru yang ideal. Dari mereka pula saya merasakan perjuangan sebagai seorang guru. Sebagai seorang anak guru saya mendapat pendidikan dan panutan yang luar biasa. Merekalah panutan saya. Mereka memberikan pandangan yang lebih luas dan bertujuan.
Mereka pernah marah dan juga pernah menghukum saya dengan keras tapi itu berujung pada kebaikan dalam diri saya. Mereka mencurah sebagian besar waktunya untuk anak didik mereka. Bercermin dari kedua orang tua. Saya pun mengikuti jejak mereka. Memilih menjadi seorang guru.
(Komentar: Annisa Hidayati Rohimi, SPd., tinggal di Kel. Cicadas, Kec. Cibeunying, Bandung).
KORAN PAK OLES/EDISI 172/1-15 APRIL 2009

Jamu, Identitas Nasional

thumbnail
Oleh: A. Zaenurrofik*
Dalam bidang pengobatan, Indonesia mewarisi praktek pengobatan tradisional turun-temurun yang memanfatkan tanaman herbal asli Nusantara, yang populer dengan sebutan jamu.
Keberadaan jamu telah eksis sebelum obat-obatan berbahan dasar kimia marak diperdagangkan. Tak hanya dimanfaatkan untuk menyembuhkan beragam penyakit, namun juga digunakan untuk merawat kecantikan tubuh. Dalam legenda Sangkuring misalnya, kecantikan kulit Dayang Sumbi yang menawan didapat dari hasil pengolahan empon-empon (temu lawak, kunir, temu kunci, dll) yang dibalurkan ke kulitnya dan sebagian diseduh untuk diminum.
Rahasia kecantikan para putri Keraton Solo, mengilhami industri kecantikan seperti Mustika Ratu untuk mengembangkan potensi tanaman herbal Indonesia. Berkat kegigihannya mendayakan tanaman herbal Indonesia menjadi kosmetik dan obat herbal, BRAy Moeryati Soedibyo diganjar dengan anugerah “Best of the Best Entrepreneur of the Year dari Ernst & Young”, wanita satu-satunya eksekutif puncak perusahaan yang hadir di Monte Carlo, Monaco 4-8 Juni 2003 saat penganugerahan dan pertemuan tahunan E&Y. Jaringan pemasaran produk-produk obat dan kosmetika PT Mustika Ratu, juga telah menjangkau mancanegara seperti Malaysia, Singapura, Filipina, Taiwan, Jepang, Timur Tengah, Rusia, dan Belanda. Penetrasi pasar baru juga telah menjangkau Mesir, Cina, Australia, Inggris, dan Eropa Timur.
Dengan melimpahnya kekayaan tanaman herbal Indonesia, potensi jamu juga sangat besar untuk dikembangkan. Kekayaan keanekaragaman hayati Indonesia menempati urutan kedua dunia setelah Brazil. Namun dari ribuan tumbuhan yang ada di Indonesia, baru sejumlah kecil yang telah memberi sumbangan berarti bagi kesejahteraan bangsa. Menurut Charles Saerang, Ketua Gabungan Pengusaha Jamu dan Obat Tradisional Indonesia, Indonesia memiliki sekitar 9.000 spesies tumbuhan obat, namun hanya 350 spesies yang teridentifikasi dan baru sekitar 3 - 4% yang telah dimanfaatkan secara komersial.
Merawat Identitas
Jamu telah menjadi ikon baru dalam khasanah pengobatan di Indonesia, setelah sebelumnya kita berpaling dari pengetahuan warisan leluhur tersebut. Akibat masyarakat kita masih menjadikan industri farmasi sebagi kiblat dan acuan jika mengalami gangguan kesehatan. Awal keberpihakan kepada industri jamu dimulai tatkala pencanangan gerakan kembali ke alam (back to nature) dalam peringatan Hari Kesehatan Nasional pada 1998. Industri jamu dalam beragam skala bertebaran dan mengalami lonjakan kuantitas yang signifikan. Bahkan, industri farmasi seperti PT. Kimia Farma, PT. Kalbe Farma, PT. Konimex, PT. Indo Farma, tak mau ketinggalan langkah, ikut juga dalam memproduksi produk-produk jamu.
Jamu telah menjadi identitas bangsa. Kita berkewajiban untuk merawat dan menjaga identitas tersebut. Ibarat sebuah tanaman, dengan merawatnya, kita juga akan menuai hasil dari upaya perawatan tesebut. Bila kita mengabaikannya, tak akan memberikan hasil apa-apa bagi kita. Perlu sebuah ikhtiar untuk menjaga identitas tersebut dengan beragam cara yang saling mendukung dan terpadu di antara semua elemen masayarakat. Beberapa ikhtiar yang bisa dilakukan untuk menjaga identitas tersebut di antaranya;
Pertama, dukungan yang kuat dari pemerintah. Sebagai regulator, pemerintah diharapkan mampu untuk melempangkan jalan bagi pertumbuhan industri jamu. Sinergi antara Depkes, BPOM, Depperindag, Kementerian UKM dan Koperasi, akan menghasilkan suatu kebijakan yang harmonis sehingga tak terjadi kontradiksi kebijakan. Dalam sambutan membuka acara Gelar Kebangkitan Jamu Indonesia dan Pembukaan Simposium Internasional Pertama Temulawak pada tanggal 27 Mei 2008, Presiden SBY meminta Departemen Kesehatan dan Badan Pengawasan Obat dan Makanan membimbing para pengusaha jamu untuk memberikan kemudahan di dalam registrasi, perizinan, dan legalitas. Presiden juga meminta KADIN untuk ikut membantu dalam promosi dan pemasaran, serta perdagangan jamu dan obat tradisional ini, baik dalam lingkungan pasar domestik maupun pasar internasional. Presiden juga mendorong lembaga riset dan perguruan-perguruan tinggi untuk terus melakukan penelitian dan pengembangan agar kualitas jamu, obat tradisional, dan kosmetika alami semakin baik.
Kedua, menjaga kepercayaan pasar. Kemampuan penetrasi pasar jamu Indonesia yang telah merambah hingga ke mancanegara, tidak diraih dengan serta-merta. Sebelumnya, kebijakan negara tujuan ekspor seperti Malaysia, Thailand, Hongkong, Taiwan, dan Korea yang menerapkan standart mutu mereka, merupakan kendala terhambatnya ekspor jamu. Padahal, industri jamu Indonesia sendiri sebenarnya telah menerapkan sistem uji klinis atau fitofarmaka, sehingga mutu jamu lebih teruji dan terbukti khasiatnya. Kemampua menjaga kualitas ini kerap ternodai dengan ulah oknum yang tak bertanggung jawab dengan mencampurkan bahan kimia dalam jamu sehingga menurunkan kepercayaan pasar domestik dan pasar ekspor. Lansiran BPOM mengenai sejumlah daftar bahan kimia yang dicampurkan pada jamu beberapa waktu lalu turut berimbas pada industri jamu.
Ketiga, menjadikan industri kreatif seperti jamu sebagai basis perekonomian. Dalam Roadmap (peta jalan) Industri Nasional 2010 dan Visi 2030 yang disusun KADIN, industri berbasis budaya dan tradisi, seperti jamu, kerajinan kulit, rotan, dan kayu, serta rokok kretek, batik dan tenun ikat, menjadi salah satu industri unggulan penggerak penciptaan lapangan kerja. Terbukti, meski dihantam krisis, industri kreatif mampu bertahan bahkan menunjukkan peningkatan volume penjualan seperti PT. Sido Muncul yang menambah kapasitas produksinya menjadi 250 juta bungkus. Juga tak ada satupun pabrik jamu yang melakukan PHK pada pekerjanya.
Jamu nasional bisa menjadi motor penggerak potensi-potensi lain yang masih tenggelam. Nilai-nilai tradisi dalam teknik “sangkal putung” (teknik penyembuhan patah tulang tanpa melalui operasi, dan hanya melalui rangkaian gerakan menarik tulang yang patah, dan dibaluri dengan beberapa jenis tanaman) yang marak di Jawa Timur misalnya, merupakan potensi kesehatan yang tak ternilai harganya. Jangan sampai identitas bangsa kita dibajak oleh negara lain seperti batik yang dibajak oleh Malaysia dan tempe yang dibajak oleh Jepang. Untuk itulah, kewajiban kita bersama menjaga tradisi yang menjadi identitas kita bersama tersebut.
*) Peneliti Center for Social Science and Religion( CSSR), Surabaya.
KORAN PAK OLES/EDISI 172/1-15 APRIL 2009

Mewaspadai Media Televisi?

thumbnail
Oleh: Hedi Pujo Santosa*

Selamat datang di dunia simulacra -dunia yang digerakkan oleh energi libido, dunia yang tidak tahu malu dan kehilangan pesonanya, yang mengedepankan ekspresi diferensi semata.
(Jean Baudrillard).

Dunia simulacra atau simulasi memang sebuah gambaran masyarakat kontemporer yang dibayangkan oleh Jean Baudrillard. Gambaran itu muncul ketika perkembangan kapitalisme akhir berhasil menempatkan teknologi komunikasi sebagai faktor paling determinan, yang mampu mengubah sebagian besar tatanan kehidupan masyarakat.
Hal yang paling menonjol dalam dunia simulasi adalah kuatnya relasi konsumsi. Pola konsumsi yang dilakukan oleh masyarakat tidak lagi melihat pada nilai guna semata, melainkan juga beroperasinya nilai-nilai tanda, bahkan terkadang konsumsi terhadap tanda ini seolah-olah melebihi kegunaannya. Ironisnya, dalam mengonsumsi sesuatu, masyarakat lebih digerakkan oleh energi libido dengan tujuan mengekspresikan perbedaan selera semata. Gambaran dunia seperti inilah sebenarnya yang sedang melanda.
Industri media kita, dunia misteri, gosip pesohor, serta berita kriminal dengan berbagai kemasan adalah produk televisi yang setiap hari memenuhi ruangan pemirsa. Salah satu ukuran sederhana untuk mengetahui kepopuleran sebuah acara televisi di mata pemirsanya adalah rating. Pada awalnya, cara yang digunakan untuk mengukur rating tergolong sederhana, karena hanya menggunakan kuisioner yang diwawancarakan kepada pemirsa televisi.
Dalam perkembangannya, alat ukur yang digunakan berkembang semakin canggih dengan alat yang bernama peoplemeter. Alat ini bisa mendeteksi perilaku menonton pemirsa dengan cara memasangnya di pesawat televisi.
Peoplementer pada dasarnya dipakai untuk melihat tingkat keseringan penonton dalam menggunakan dan memindahkan saluran selama menonton televisi. Dengan metode seperti inilah kemudian kita bisa mengetahui tingkat kepopuleran sebuah mata acara televisi di hadapan pemirsanya.
Mengapa kita harus berbicara tentang rating untuk membedah industri pertelevisian? Di sinilah awal mula perkembangan industri media televisi dimulai. Rating yang bagus dan tinggi secara otomatis akan mendongkrak perolehan iklan.
Akibatnya, apa pun yang berpotensi untuk bisa mendongkrak rating akan dilakukan. Situasi seperti inilah yang mendominasi latar belakang penayangan acara televisi yang dikritik sebagai program pembodohan bangsa, seperti dunia misteri, gosip pesohor, berita kriminal, dan sebagainya.
Mata acara yang ditayangkan televisi pada umumnya akan diselingi sekitar lima kali commercial break (waktu jeda untuk iklan), sehingga waktu tayang efektif sebuah acara yang berdurasi satu jam hanya akan menyisakan 45-50 menit. Hal ini disebabkan durasi penayangannya telah dipotong oleh waktu jeda iklan. Harga yang dipatok oleh setiap stasiun televisi pun berbeda-beda untuk setiap kali slot iklan ditayangkan.
Mata acara yang ada pada jam siar utama (prime time) yaitu sekitar pukul 19.00 sampai 21.00 dan mempunyai rating cukup bagus akan mempunyai tarif pasang iklan yang relatif lebih mahal dibandingkan dengan mata acara yang ada pada acara day time.
Penentuan jam siar utama yang ditetapkan oleh sebuah stasiun televisi biasanya didasarkan pada beberapa asumsi. Misalnya pada jam-jam tersebut pemirsa telah berada di rumah, dalam keadaan santai setelah letih bekerja, sehingga mereka diasumsikan membutuhkan informasi dan hiburan. Karena itu, televisi menjadi salah satu alternatif untuk memenuhi kebutuhan pemirsa tersebut.
Dengan asumsi seperti inilah jam siar utama ditetapkan sehingga patokan harga iklan pada jam-jam tersebut relatif tinggi, karena apa pun iklan yang ditayangkan akan mempunyai potensi untuk dilihat banyak pemirsa.
Sebuah majalah yang diperuntukkan bagi komunitas periklanan melaporkan, salah satu mata acara yang digemari pemirsa berdasarkan rating yang diperolehnya pada jam siar utama bisa menghasilkan puluhan juta rupiah untuk setiap penayangan. Padahal dalam setiap kali jeda, bisa dimunculkan 10-17 kali slot iklan. Bisa dibayangkan berapa perputaran rupiah yang akan terjadi pada satu mata acara yang mempunyai rating bagus pada jam siar utama.
Cara-cara yang dilakukan oleh sebagian stasiun televisi dalam berkompetisi dengan stasiun lain adalah mengganggu mata acara yang memiliki rating bagus dengan acara-acara yang dianggap akan dapat meraih penonton cukup banyak.
Sebagai contoh Liga Italia dan Liga Inggris yang mempunyai rating cukup bagus diganggu (head to head) dengan mata acara yang berpotensi ditonton pemirsa seperti ''Ketoprak Humor'' dan "Senggal-senggol''. Sementara itu, ''Liputan Enam Petang'' dihadapkan dengan ''Carita de Angel'' yang juga mempunyai rating cukup bagus.
Strategi head to head seperti ini sebenarnya sah-sah saja selama ada batasan etik yang tidak merugikan pihak lain seperti pemirsa dan pekerja televisi.
Bagaimana dengan tayangan untuk anak-anak?
Hari Minggu merupakan hari yang disebut sebagai karnaval kartun. Artinya mulai pukul 06.00 sampai 12.00 anak-anak kita seperti dipaksa untuk setiap saat berada di depan televisi. Dalam situasi sebuah televisi seperti ini, tentu akan terjadi benturan kepentingan antara keinginan orangtua untuk mendisiplinkan anak dalam mengatur waktu belaja dan, tayangan yang menggoda pada jam belajar anak.
Kesadaran tentang televisi sebagai sebuah industri memang membawa berbagai konsekuensi. Salah satunya kentalnya nuansa komodifikasi.
Pada sisi ini pengelola dan praktisi televisi secara sadar akan membuat berbagai ragam acara yang bisa dijual. Akibatnya, televisi sering terjebak pada budaya instan untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya dalam waktu sesaat.
Apabila tidak disadari, hal ini bisa menjerumuskan televisi pada situasi anarkis karena semua acaranya selalu didorong untuk mendapatkan keuntungan semata. Sesuai dengan sifatnya yang selalu mengikuti selera pasar, komodifikasi bisa dilakukan terhadap apa pun, bahkan terkadang menabrak nilai-nilai moral dan etika yang seharusnya dijunjung tinggi dalam masyarakat.
Melebihi Realitas
Jean Baudrillard mengatakan, dunia televisi adalah dunia yang sarat pencitraan, yakni realitas sosial senantiasa dimainkan dalam sebuah ruang pencitraan. Kaena itu, televisi seringkali menggambarkan realitas sosial melebihi realitas yang sebenarnya. Hal ini terjadi karena kuatnya kemampuan televisi dalam melakukan pencitraan, sehingga apa pun yang dicitrakan oleh televisi sering menciptakan sebuah dunia hiper atau hiperealitas.
Realitas empiris yang dicitrakan oleh televisi sering melebihi realitas sesungguhnya. Ironisnya, realitas yang dicitrakan menjadi hiperealitas biasanya adalah hal-hal sensitif yang berkaitan dengan kehidupan pribadi sosok terkenal yang menyangkut persoalan seks, perselingkuhan, perceraian, dan sebagainya.
Model jurnalistik televisi yang sekarang banyak dianut juga sedang mengalami perubahan, terutama dengan semakin kuatnya pengaruh jurnalisme tabloid atau yang dikenal sebagai upaya tabloidization (tabloidisasi).
Berdasarkan sejarahnya, media tabloid memang mengkhususkan diri pada informasi seputar orang-orang terkenal. Caranya dengan memberitakan kehidupan pribadi seseorang sehingga informasi yang dominan adalah persoalan-persoalan yang berkaitan dengan isu, gosip, rasanan yang disajikan dengan cara sensasional dan bombastis.
Tabloidisasi ternyata cukup manjur untuk menjawab persoalan di atas. Cara ini relatif tidak terlalu serius dalam model jurnalismenya akan tetapi bisa menjangkau khalayak yang sebelumnya sangat sulit dijangkau oleh media dan model jurnalisme yang serius.
Infotainmen adalah salah satu wujud bagaimana tabloidisasi telah mulai banyak dipakai oleh media televisi. Dengan kekuatan interaktifnya, infotainmen bisa dijumpai pada hampir semua stasiun televisi bakan mampu menyihir banyak penonton.
Pemirsa menjadi lebih familiar terhadap pergunjingan seputar dunia artis dan pesohor dibandingkan dengan persoalan sosial lain yang juga membutuhkan perhatian. Persoalan private yang dulu hanya bisa dibicarakan untuk konsumsi terbatas sekarang bisa dinikmati semua orang, dan bahkan dibuka lebar-lebar oleh televisi.
Telanjang
Transparansi yang ditawarkan bahkan berkesan telanjang. Artinya tidak ada lagi ruang bagi kita untuk menyembunyikan sesuatu di hadapan media. Tentu saja kebebasan seperti ini akan membawa cukup banyak persoalan, mengingat budaya kita relatif puritan dalam memandang nilai-nilai moral dan etika.
Berbagai kasus yang menyangkut kehidupan pribadi pesohor seperti perceraian, perselingkuhan, dan seksual menunjukkan telah terjadi eksploitasi besar-besaran media terhadap wilayah yang tadinya hanya diperuntukkan bagi kalangan tertentu.
Persoalan ini tentu saja tidak bisa dilihat secara linier dan sepihak, melainkan harus kita pahami dalam situasi ketika media telah berubah menjadi sebuah industri.
Lantas bagaimana tanggung jawab media? Bisakah kita menghakimi media karena munculnya begitu banyak persoalan yang dianggap oleh beberapa kalangan sebagai program pembodohan bangsa? Media memang harus selalu disikapi secara kritis, karena di samping potensi menjadi ruang bagi berkembangnya diskusi publik media juga bisa terjerembab pada munculnya eksploitasi, komodifikasi, simulasi, serta ''tabloidisasi'' yang bisa mencitrakan sesuatu melebihi realitas yang sebenarnya.
Bahkan yang lebih membahayakan adalah potensi media sebagai pemicu kemunculan pertarungan oposisi antara yang mendukung dan menentang suatu persoalan yang tengah menjadi wacana publik. Jika hal ini terjadi, fungsi informasi sebagai upaya untuk mengurangi ketidakpastian akan berubah menjadi sumber masalah dan sumber ketidakpastian.
Kesadaran lain yang bisa diungkapkan dari berbagai perseteruan kalangan artis dan pesohor dengan media adalah terjadi pertarungan sosiologis yang luar biasa baik sebelum sebuah berita ditayangkan maupun dampak yang ditimbulkannya. Hal ini terlihat dari upaya untuk mendapatkan rating yang bagus, sampai pada komodifikasi berita yang muaranya adalah profit.
Mungkinkah kita bisa melakukan dekomodifikasi agar seorang selebriti yang merasa overekspose untuk tampil di hadapan media bisa dilindungi agar eksposenya tidak berlebihan. Pada sisi yang lain masyarakat juga tidak merasa dijadikan objek tontonan semata?
Dekomodifikasi memang dimaksudkan sebagai sebuah bentuk perlindungan terhadap seseorang yang merasa tidak berdaya terhadap mekanisme pasar yang kadang-kadang anarkis. Persoalannya, bisakah kita membatasi gerak pasar sehingga bisa dihindari munculnya korban pasar selanjutnya? Inilah pekerjaan kita semua yang memang tidak ringan. Jika ini tidak berhasil, sudah selayaknya kita mewaspadai televisi.
*)Pengajar Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Undip; pemerhati sosiologi media dan sedang menempuh S3 Sosiologi di UGM.
KORAN PAK OLES/EDISI 172/1-15 APRIL 2009

Kembalikan Kemandirian Ekonomi Lokal

thumbnail
Kemandirian ekonomi lokal perlu dikembalikan sehingga Indonesia tidak lagi tergantung pada negara atau lembaga donor asing untuk menggerakkan roda perekonomiannya. "Kemandirian ekonomi Indonesia sempat terjadi setelah Indonesia membatalkan secara sepihak hasil Konferensi Meja Bundar (KMB) pada 1956," kata ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Revrisond Baswir dalam seminar Kemandirian Berbasis Ekonomi Lokal di kampus UGM Yogyakarta.
Hasil KMB secara garis besar berisi tiga hal, yaitu mematuhi IMF, mempertahankan perusahaan asing yang sudah berdiri di Indonesia serta bersedia menerima warisan utang Hindia-Belanda. "Puncak dari kemandirian itu terjadi saat Bung Karno menyatakan berakhirnya keterlibatan modal asing di Indonesia yang dikuatkan dengan Undang-Undang Nomor 16/1965, tetapi kemudian neokolonialisme itu kembali muncul pada era orde baru," katanya.
Pada saat era kemandirian tersebut, kata dia, muncul beberapa perusahaan nasional seperti Pertamina dan Perusahaan Listrik Negara (PLN). Ia mengatakan, namun kondisi perekonomian di Indonesia saat ini justry sudah memasuki tahapan melegalisasi kolonialisme. "Ini masalah besar dalam 10 tahun terakhir dan yang dihadapi adalah perang kedaulatan," ujarnya.
Pengusaha nasional Abdul Latif menegaskan, perlunya undang-undang untuk mengembalikan kemandirian ekonomi lokal yang dilengkapi payung hukum seperti peraturan pemerintah dan keputusan presiden. "Sebelumnya ada institusi yang terdiri atas pengusaha dan akademisi yang menetapkan rencana strategis untuk mengembangkan kemandirian ekonomi lokal," ujarnya.
Dalam rencana strategis yang cerdas dan dapat diaplikasikan tersebut, Abdul Latif menegaskan perlu pula ditetapkan parameter dan target yang ingin dicapai."Kemandirian ekonomi tidak lantas diartikan menutup diri dari asing, tetapi bagaimana mengembangkan ekonomi dalam negeri dengan program yang jelas," ujarnya.
Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) DIY, Jadin Jamaludin menyatakan sistem perekonomian di Indonesia tidak membangun kemandirian dan kemandirian tersebut hanya sebatas slogan,"Yang muncul adalah ketergantungan karena pada dasarnya Indonesia sudah kalah dalam permainan perekonomian dunia," katanya.
Salah satu cara yang ditawarkan Jadin adalah mengubah pola pikir pengusaha yang selalu membidik pasar luar negeri, padahal pasar domestik terbuka lebar karena populasi Indonesia adalah r 230 juta jiwa. "Ini adalah pasar yang besar dan Indonesia jangan hanya dijadikan pasar bagi pihak asing," katanya dikutip Antara.
KORAN PAK OLES/EDISI 172/1-15 APRIL 2009

Industri Makanan Terus Bertumbuh

thumbnail
Sektor industri makanan dan minuman serta tembakau dinilai sangat prospektif untuk berkembang di Indonesia. Karena sekitar 60 persen pengeluaran nasional dalam bentuk konsumsi rumah tangga dan hampir semua daerah di Indonesia pengeluaran konsumsi lebih dari 50 persen, kata Prof. Dr Bernadette Robiani, pada pidato pengukuhan sebagai guru besar tetap dalam bidang ilmu ekonomi pada Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya, di Palembang.
Menurut Bernadette Robiani, prospek industri makanan dan minuman sangat bangus. Tetapi masih banyak yang harus diperhatikan pemerintah, seperti ketergantungan terhadap bahan baku impor masih tinggi.
Ia mengatakan, akibat masih tingginya ketergantungan terhadap bahan baku impor fluktuasi nilai rupiah dan kesulitan terhadap akses bahan baku mempengaruhi kesinambungan produksi dan mendistorsi harga produk. Sehingga harga produk olahan pabrik tersebut masih tergantung dengan bahan baku jika bahan baku naik maka komoditi itu juga menjadi mahal, kata dia.
Bernadette Robiani menjelaskan, hal lain yang menjadikan produk makanan pabrikan mahal karena konsumen tidak banyak memiliki pilihan produk. Sebab perusahaan yang memproduksi makanan olahan pun terbatas karena adanya pembatasan jumlah perusahaan oleh pemerintah, ujarnya.
Prospektif industri pengolahan makana dan minuman tersebut tidak hanya menguntungkan dari segi konsumsi karena juga akan menyediakan tenaga kerja yang cukup besar bagi penduduk Indonesia. Terbukti pada periode 1971 - 2007 persentase penduduk yang bekerja di sektor tersebut meningkat 5,4 persen sedangkan pertanian menurun 17, 8 persen, tambah dia.
Bernadette menambahkan, konsentrasi empat perusahaan terbesar produk industri makanan dan minuman dalam periode lima tahun adalah minyak goreng, susu, es krim, tepung terigu, gula, mie dan minuman ringan.
Sektor industri tersebut mampu merekrut ratusan ribu tenaga kerja dan berhasil mendapatkan keuntungan sangat besar dan sampai kini prospektif berkembangnya masih sangat besar, kata dia pula.
KORAN PAK OLES/EDISI 172/1-15 APRIL 2009

Bisnis Pulsa Isi Ulang Tetap Prospektif

thumbnail
Bisnis pulsa isi ulang telepon seluler (HP) sampai saat ini masih tetap prospektif kendati persaingan di sektor ini semakin sengit.
Direktur Hitam Putih Electronic Voucher Center (HPC) Semarang, Rudi M. Alief mengatakan, saat ini saja di Semarang dan sekitarnya terdapat sekitar 10 penyalur (dealer) yang melayani ribuan gerai (counter) pulsa isi ulang di berbagai daerah.
Ia mengatakan, semula HPC Semarang di bawah manajemen HPC Yogyakarta, namun sejak Oktober 2008 memisahkan diri dengan tetap menggunakan merek HPC karena masih terikat kontrak lima tahun.
Menurut dia, sejak menerapkan manajemen sendiri, HPC Semarang malah berkembang sangat pesat, dengan 6.000 transaksi perhari dari 700 transaksi sebelumnya. Kondisi tersebut menggambarkan bahwa bila bisnis ini dikelola dengan benar maka memiliki pertumbuhan menjanjikan di masa mendatang, katanya.
Omzet penjualannya mencapai Rp1,5 miliar/hari, yang merupakan akumulasi dengan mitra kerja HPC Semarang dengan yang ada di Palangkaraya, Bekasi, Cilacap, Bukittingi. "Namun, posisi HPC Semarang tetap paling dominan, yakni 55 persen dari total omzet yang diraih bersama mitra lainnya," katanya dilansir Antara.
Ia menegaskan, dengan layanan transaksi 24 jam dan 18 jam layanan di kantor serta harga produk yang kompetitif, HPC Semarang bakal berkembang menjadi penyalur pulsa isi ulang terkemuka di Semarang dan sekitarnya. "Jumlah transaksi pada tahun depan (2010) bisa mencapai 12.000 unit perhari dengan kontribusi 65 persen disumbangkan HPC Semarang," katanya.
Ia menjamin transaksi pulsa eletronik berjalan lancar karena HPC Semarang memiliki server yang mampu mendukung layanan hingga mencapai 1.000 transaksi/detik.
Menurut dia, meski operator telepon seluler berbasis SDMA bermunculan, hingga kini penjualan pulsa tetap didominasi produk operator GSM, dengan komposisi 80 persen GSM dan 20 persen CDMA.
Berdasarkan data penjualan di HPC, penjualan pulsa elektronik paling tinggi dipegang produk Indosat disusul Telkomsel, sedangkan CDMA dikuasai Esia disusul Flexi.
KORAN PAK OLES/EDISI 172/1-15 APRIL 2009

Geliat Pasar Tradisional Saat Krisis Global

thumbnail
Oleh: Virna Puspa Setyorini
Siapa nyana, krisis finansial global, yang bagi sebagian ekonom sudah meninggalkan resesi menuju masa depresi, justru menjadi dewa penyelamat bagi pasar tradisional.
Krisis finansial sejagat yang juga dirasakan di tanah air itu, menurut sebuah survei, membuat masyarakat menjadi semakin selektif sekaligus irit.
Jika awalnya masyarakat mulai terbiasa berbelanja bahan makanan dan minuman, perawatan rumah tangga, obat-obatan, hingga perawatan tubuh ke pasar modern, kini mereka justru beralih ke pasar tradisional.
Hasil survei yang dilakukan Nielsen Indonesia terhadap 2.800 kepala keluarga di lima kota besar Indonesia, yakni Jabodetabek, Bandung, Surabaya, Medan, Semarang, menunjukkan, belanja kebutuhan rumah tangga meningkat dan tertinggi terjadi di pasar tradisional.
Peningkatan berbelanja sebesar 21 persen di pasar tradisional itu terjadi setelah harga kebutuhan rumah tangga mengalami kenaikan.
Rata-rata pengeluaran per kepala keluarga di pasar tradisional meningkat dari Rp335.000 menjadi Rp406.000 saat harga-harga kebutuhan rumah tangga naik pada 2008. "Orang menjadi lebih senang berbelanja di pasar tradisional karena masih bisa menawar untuk jenis bahan makanan segar," kata "Retail Service Director Nielsen Indonesia" Yongky Susilo.
Namun demikian, katanya, hal menarik yang terjadi adalah tingkat kunjungan masyarakat ke hypermaket justru lebih tinggi yakni delapan persen, dibanding dengan kunjungan masyarakat ke pasar tradisional yang lima persen. "Boleh jadi masyarakat pergi ke hypermarket cuma untuk `ngadem` saja, tapi kalau belanja kebutuhan rumah tangga larinya ke pasar juga," tambah Yongky.
Dengan mempertimbangkan kondisi tersebut, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Thomas Dharmawan menyarankan agar pasar tradisional memakai kesempatan krisis finansial ini untuk berbenah diri, agar konsumen semakin tertarik datang dan berbelanja.
Ia mengatakan, renovasi penting dilakukan oleh toko, warung, dan pasar tradisional agar bisa menjadi ujung tombak pemasaran produk Usaha Keil Menengah (UKM) ke seluruh wilayah dan konsumen.
Jika dengan kondisi fisik memprihatinkan masyarakat mau datang ke pasar tradisional, tentu dengan kondisi aman, nyaman, dan bersih jumlah pengunjung akan semakin meningkat.
Lebih realistis
Krisis finansial sejagat juga membuat masyarakat dunia menjadi lebih realistis dalam membelanjakan uangnya untuk konsumsi makanan dan minuman.
Jika "brand", sebelum krisis, menjadi pertimbangan masyarakat dalam berbelanja, kini pertimbangan utamanya hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar.
Contoh nyata dari kasus itu adalah tutupnya 600 gerai warung kopi "Starbucks" di Amerika Serikat pada 2008, dan diperkirakan 150 gerai akan tutup pada 2009.
Menurut Thomas, kondisi ini akan mengubah tren berbelanja masyarakat. Jika biasanya mereka membeli produk kemasan berukuran besar, kini mereka akan beralih ke kemasan kecil. "Kemasan mengecil, ukuran `mini pack` yang harganya cuma Rp1.000 akan semakin banyak. Akibatnya sampahnya memang juga jadi lebih banyak," ujar Thomas.
Turunnya pendapatan pekerja informal serta meningkatnya jumlah PHK membuat konsumsi produk kemasan kecil meningkat. Karena itu pula masyarakat tidak lagi berbelanja ke hypermarket cukup di toko atau warung dekat rumah.
Tren penggunaan kemasan berukuran kecil inilah yang menurut Thomas menggambarkan prospek pangan dan kemasan pada tahun 2009.
Ia menjelaskan bahwa desain, promosi, dan hadiah akan semakin gencar dilakukan. Inovasi kemasan dengan bahan baku lebih murah akan diupayakan. Tidak ketinggalan syarat label, mutu, halal, SNI, semakin ketat dituntut masyarakat.
Industri makanan dan minuman akan semakin menyebar ke daerah terutama di luar Jawa. Hal ini, ungkap Thomas, sebagai upaya untuk meraih pasar lebih luas dan menurunkan biaya produksi.
Hal menarik lainnya yang akan terjadi pada industri makanan dan minuman di tanah air, menurut dia, peralihan dari memproduksi produk primer ke produk olahan.
Terlepas dari itu semua, Thomas merasa yakin bahwa pertumbuhan produk makanan dan minuman pada tahun 2009 tetap terjadi 10 persen hingga 12 persen.
Dan pasar tradisionallah yang akan membantu sektor tersebut tetap tumbuh pada saat krisis finansial global yang membuat masyarakat menjadi lebih selektif dan irit dalam berbelanja.
KORAN PAK OLES/EDISI 172/1-15 APRIL 2009

Krisis Global Berkah Bagi Pegadaian

thumbnail
Oleh: Cecep Syaifuddin
Krisis keuangan global yang makin berat ternyata malahan menjadi berkah bagi Perum Pegadaian sebagai lembaga keuangan yang dapat memberikan solusi lebih cepat kepada masyarakat terhadap kebutuhan dana seketika. Pegadaian yang dianggap "dewa penolong" sangat dibutuhkan bukan saja rakyat kecil, pemilik kendaraan roda empat bahkan calon anggota legislatif (caleg) juga sangat memerlukan dana murah perusahaan itu.
Kondisi ini mengakibatkan nasabah Pegadaian makin bertambah yang diperkirakan akan mengalami kenaikan antara lima sampai 10 persen. Masyarakat lebih berani datang ke Pegadaian ke timbang bank yang saat ini memang hati-hati dalam menyalurkan kredit, karena khawatir akan menimbulkan masalah dikemudian hari.
"Makin besarnya minat masyarakat terhadap dana Pegadaian mendorong perusahaan pada tahun ini menambah 1.000 outlet di seluruh Indonesia untuk memberikan pelayanan yang lebih baik, " kata Dirut Perum Pegadaian Pusat Chandra Purnama.
Menurut dia, penambahan outlet pada pertengahan Februari telah mencapai 747 unit dan diharapkan pada April mendatang akan dapat diselesaikan sehingga total outlet Pegadaian mencapai 3.000 unit. Pada Desember 2008 ,BUMN ini mempunyai outlet sebanyak 2.000 unit, ujarnya.
Kondisi pasar seperti, lanjut dia, memicu Pegadaian meningkatkan laba bersih di atas Rp1 triliun setelah pada tahun lalu meraih laba sebesar Rp800 miliar. "Kami optimis akan meraih laba bersih di atas Rp 1 triliun karena potensi di sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) potensi masih besar," katanya.
Ia mengatakan, UMKM yang masih besar terlayani terutama di Kawasan Timur Indonesia maka dengan penambahan outlet itu semuanya dapat dilayani dengan baik.
Karena itu, penambahan outlet itu terutama difokuskan ke KTI agar Pegadaian dapat memberikan pelayanan yang lebih prima, katanya.
Menurut dia, penambahan nasabah pada tahun ini diperkirakan akan berkisar antara lima sampai 10 persen dimana nasabah Pegadaian saat ini telah mencapai 16 juta orang. Penambahan nasabah Pegadaian itu, terutama disebabkan Perbankan saat ini sangat hati-hati memberikan kredit kepada masyarakat, katanya.
Perbankan, lanjut dia, khawatir pasar saat ini semakin sulit untuk melakukan bisnis karena itu lebih baik dana yang dimiliki ditempatkan di instrumen Bank Indonesia (BI). Selain menjaga munculnya kredit bermasalah juga menjaga agar banknya tetap eksis meski perolehan labanya berkurang, ucapnya.
Berkah
Menurut dia, Pegadaian mendapat berkah dengan adanya krisis moneter itu karena banyak konsumen yang mencari kredit ke Pegadaian dengan pinjaman yang berbeda-beda sesuai dengan keingingan mereka. Selain itu karena pelayanan yang diberikan sangat cepat, setelah barang yang digadaikan ditaksir maka dana yang diperlukan masyarakat segera bisa diberikan, ucapnya.
Nasabah Perum Pegadaian pada tahun ini diperkirakan akan meningkat sekitar 10 persen, setelah perusahaan menambah outlet (gerai) sebanyak 1.000 unit dalam upaya menjaring nasabah lebih banyak. Kepala Humas Perum Pegadaian Pusat, Irianto juga mengatakan, pembangunan gerai sebanyak 1.000 unit diperkirakan akan berakhir pada 1 April 2009. "Penambahan geral itu dimaksudkan untuk bisa meningkatna penyaluran kredit Pegadaian kepada masyarakat rata-rata sebesar Rp3 triliun per bulan," ucapnya.
Karena itu, lanjut dia perusahaan menargetkan penyaluran kredit sepanjang tahun ini mencapai Rp48 triliun naik dibanding tahun lalu yang hanya Rp38 triliun.
Bahkan laba bersih perusahaan yang tahun lalu hanya Rp800 miliar diharapkan bisa meningkat mencapai lebih di atas Rp1 triliun, ujarnya.
Penyaluran kredit itu, lanjut dia akan semakin meningkat apabila ditambah dengan produk Kreasi, Kresida dan Pegadaian Syariah yang total bisa mencapai Rp3,8 triliun. Penyaluran kredit rata-rata bulanan itu bila dibanding Januari 2008 meningkat tajam yang hanya mencapai 2,28 triliun dan Desember 2008 sekitar Rp2,77 triliun.
"Kami optimis penyaluran kredit sebesar itu akan dapat dicapai, karena kebutuhan nasabah makin meningkat, sekalipun ada krisis keuangan global, " katanya.
Permintaan kredit yang paling tinggi terutama pada bulan Juni dan Juli karena kebutuhan dana masyarakat meningkat menjelang pendaftaran sekolah anak-anaknya.
Selain itu juga liburan panjang hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha. Pasar usaha Kecil Mikro dan Menengah (UMKM), menurut dia masih menjanjikan, karena Pegadaian berusaha untuk bisa menggarap lebih besar lagi.
Ditanya pemberian kredit pada Januari, Irianto mengatakan, belum diterima dari bagian data, tapi optimis pada Januari harus dapat mencapai di atas Rp3,5 triliun.
"Kami harus bekerja keras dengan penambahan outlet itu, maka jumlah kredit yang telah disalurkan semakin bertambah," ucapnya.
Pegadaian pada tahun lalu menargetkan penyaluran kredit sebesar Rp 33,7 trilliun atau rata-rata per bulan mencapai Rp 2,7 triliun. Direktur Pengembangan Syariah Pegadaian, Wasis Juhar mengatakan, peluang Pegadaian untuk bisa menyalurkan kredit yang akan disalurkan pada tahun makin besar. Apalagi sektor perbankan masih khawatir menyalurkan kredit, karena kondisi ekonomi global yang memburuk sedikit banyak berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi nasional, katanya.
Meski demikian, menurut dia ekonomi nasional masih tumbuh, apalagi investor asing masih berkenan menempatkan dana di pasar Asia, khususnya Indonesia, setelah China dan India. Karena itu krisis global yang berimbas ke Indonesia diperkirakan tidak akan berlangsung lama, apalagi pemerintah AS berusaha keras memperbaiki pertumbuhan ekonominya yang pada gilirannya akan membantu ekonomi global, ucapnya.
KORAN PAK OLES/EDISI 172/1-15 APRIL 2009

Aktivitas Koperasi Dorong Pariwisata

thumbnail
Aktivitas koperasi dan usaha kecil menengah (UKM) di Bali mendorong pertumbuhan sektor pariwisata yang menjadi tumpuan harapan sebagian besar masyarakat di Pulau Dewata. "Hasil industri kecil dan kerajinan rumah tangga yang digeluti masyarakat setempat, pemasarannya lebih diintensifkan lewat koperasi dan UKM," kata Kepala Dinas Koperasi dan UKM Propinsi Bali I Wayan Suasta.
Upaya tersebut sekaligus mendorong koperasi berbasis pada usaha angota serta menata struktur permodalan anggota yang lebih mapan. Selain itu meningkatkan mutu hasil industri kecil dan kerajinan rumah tangga, mengingat sebagian besar wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Bali membeli cinderama sebagai kenang-kenangan pulang ke negaranya.
Wayan Suasta menjelaskan, upaya keterpaduan mendorong usaha industri kecil dan pariwisata diharapkan mampu memberikan dampak yang positif dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat, sekaligus semakin kokohnya wadah koperasi.
Wadah perekonomian koperasi di Bali bertambah sebanyak 936 unit selama lima tahun terakhir dari 2.330 unit pada tahun 2004 menjadi 3.266 unit pada akhir tahun 2008.
Penambahan wadah koperasi tersebut disertai modal dana sendiri dari Rp 330 miliar menjadi Rp 663,1 miliar pada periode yang sama. Demikian pula jumlah keanggotaan bertambah dari 646.201 orang pada tahun 2004 menjadi 755.004 orang pada tahun 2006 dan sekarang meningkat lagi menjadi 795.222 orang.
Volume usaha yang dikelola sebesar Rp 960 miliar pada tahun 2004 itu mengalami perkembangan yang cukup menggembirakan hingga mencapai Rp 3 triliun.
Sisa hasil usaha juga menunjukkan adanya peningkatan dari Rp 41,6 miliar pada tahun 2004 hingga akhir 2008 sebesar Rp 100,2 miliar. Wadah koperasi yang tersebar hingga pelosok pedesaan di delapan kabupaten dan satu kota di Bali seluruhnya menampung 13.149 tenaga kerja, ujar Suasta.
KORAN PAK OLES/EDISI 172/1-15 APRIL 2009

Berebutan Kopi Bukit Hexon

thumbnail
Oleh: Wayan Nita
Kopi bubuk Bukit Hexon yang baru diluncurkan ternyata menjadi rebutan konsumen saat upacara melasti; penyucian diri sebelum melaksanakan brata penyepian pada Hari Raya Nyepi.
Momentum upacara melasti dimanfaatkan oleh tim promosi PT Karya Pak Oles Tokcer untuk memasarkan produk kopi Bukit Hexon. Ada beberapa pusat melasti yang disasar tim promosi, seperti pantai Padang Galak, pantai Matahari Terbit dan pantai Tangtu di Gianyar.
Segelas kopi Bukit Hexon diberikan secara cuma-cuma kepada umat Hindu yang menggelar ritual melasti. Mereka berebutan ingin merasakan kopi racikan Pak Oles yang sudah terkenal di Bali itu. “Pengenalan produk ini merupakan langkah mendekatkan kopi Bukit Hexon kepada masyarakat secara langsung. Bulan ini adalah bulan promosi Kopi Bukit Hexon,” ungkap Putu Astana, kepala tim promosi Ramuan Pak Oles.
Kopi Bukit Hexon ini dibuat dari biji kopi organik pilihan, campuran antara biji kopi robusta dan arabika khas desa Lemukih Buleleng. Kopi organik dengan aroma coklat ini dioven dengan menggunakan teknologi penamasan EM keramik. Sehingga, sebut Putu Astana, bubuk kopi yang dihasilkan berbeda dari bubuk kopi yang lain. Rasanya pun jauh lebih nikmat, seperti semboyannya ‘Mengledet Ngantes ke Polo’ (terasa sampai ke kepala).
Ida Bagus Mayun Ardawa, salah satu umat yang ikut melasti mengakui cita rasa kopi Bukit Hexon. “Baru sekali coba rasanya mantap, capek dan panas langsung hilang. Tanak atau ampasnya juga sedikit, rasanya pas dan lain dari pada kopi yang lain. Salut buat produk kopi Pak Oles,” ungkap pria asal desa Pekraman Kesiman, Denpasar.
KORAN PAK OLES/EDISI 172/1-15 APRIL 2009

Agrowisata Bukit Hexon

thumbnail
Meretas Industri Pedesaan
Pengembangan areal Bukit Hexon di Desa Lemukih, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng sebagai kawasan agrowisata di Bali utara dirintis Dr. Ir. Gede Ngurah Wididana, M.Agr dengan visi kerakyatan. Perintis pertanian organik berbasis teknologi EM (effective microorganisms) di Indonesia itu terobsesi untuk memperkuat pembangunan bangsa yang dimulai dari desa.
Setelah sukses menyulap Desa Bengkel di Kecamatan Busungbiu, Buleleng sebagai sentra industri obat-obatan tradisional dan produsen pupuk organik Bokashi Kotaku, pria yang merintis produk Ramuan Pak Oles itu kembali melirik sebuah kawasan perbukitan yang terpencil dan terlantar dari roda pembangunan.
Bukit Hexon yang dulunya dikenal sebagai bukit Sandeh perlahan-lahan disulap menjadi areal agrowisata yang puncaknya diresmikan oleh Mantan Menham/Pangab Jend. TNI (Purn) H Wiranto. Siapa sangka, penduduk di kaki bukit yang jauh dari lalu lintas informasi kini mulai memasuki era keterbukaan. Hampir setiap pekan, ada tamu yang berkunjung ke Bukit Hexon.
Perlahan namun pasti, pembangunan sarana agrowisata mulai berjalan. Setelah akses jalan terbuka dan diaspal, pendirian bangunan fisik mulai dilakukan. Di antaranya pembangunan bale bengong, rumah panggung untuk penginapan (guest house) dari gelebek dan fasilitas MCK. Sebelumnya bersama warga setempat, Pak Oles berhasil mengalirkan air dari mata air di sisi Bukit Hexon yang kini dikonsumsi masyarakat sekitar.
Kehidupan penduduk desa yang miskin menurut Pak Oles bukan karena ketiadaan potensi. Sebaliknya desa-desa di kawasan Bukit Hexon memiliki potensi pertanian yang belum digarap optimal. Di antaranya peternakan sapi, budidaya tanaman kopi dan stroberi.
Keprihatinan itulah yang mendorong pria yang diakrab dipanggil Pak Oles itu berupaya membangun industri di desa. Ia melihat sistem pembangunan yang terpola selama ini menciptakan urbanisasi. Kepulan asap industri berhembus kencang di jantung-jantung kota. Penduduk desa pun berduyun-duyun meninggalkan desa mereka untuk menjadi buruh; kaum urban di perkotaan. Padahal itu hanyalah proses memindahkan kemiskinan dari desa ke kota.
Langkah agresif Pak Oles memproduksi Kopi Bukit Hexon adalah ikhtiar mendekatkan petani dengan konsumen. Selama ini, para petani menghadapi kendala pemasaran. Tak heran harga kopi yang rendah membuat kehidupan mereka amat sulit. “Peluang ini harus dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan masyarakat pada umumnya,” ungkap Pak Oles saat launching Kopi Bukit Hexon di Restoran Bhuana Mas Sanur, Denpasar. (BENY ULEANDER)
KORAN PAK OLES/EDISI 172/1-15 APRIL 2009

Proyek Besar Dengan Visi Besar

thumbnail
Pembangunan Bukit Hexon terbagi dalam tiga level. Level pertama, lahan berukuran 35 m x 15 m disiapkan untuk pembangunan kolam, taman bunga dan padang rumput. Level Kedua, lahan berukuran 38 m x 18 m siap dibangun wantilan. Senderan yang telah rampung digarap berada pada level ini. Selain wantilan, juga di level kedua, mulai dibangun guest house 4 kamar, sebagai tempat bermalam para pengunjung. Level ketiga, lahan setengah oval 12 m x 15 m dibuat taman. Berbagai jenis tanaman tropis maupun subtropis pastik dan sedang dikembangkan.
Produktivitas bukit cantik itu layak dijadikan ajang pengembangan daerah, ekonomi dan sosial budaya tanpa mengesampingkan keaslian eksistensi kawasan. Menurut Made Ayu Lidyawati (44), Manager Keuangan PT Karya Pak Oles Tokcer, sejauh ini pembangunan Bukit Hexon sudah menelan dana sebesar Rp 1,6 miliar. ''Ini proyek besar, karena visinya juga besar,'' tegas ibu 2 anak lulusan BPLP Nusa Dua yang masih energik ini.
Proyek Bukit Hexon digarap selama 5 tahun dengan anggaran pembangunan ditarget Pak Oles mencapai Rp 10 miliar. Tahap awal, Pak Oles sudah menggelontorkan dana Rp 1,2 miliar untuk pembelian lahan dan pengerjaan jalan menuju Bukit Hexon. Lalu, pembangunan lintasan track 2,5 km dan tempat persembahyangan (pura) menelan biaya Rp 200 juta. Informasi pembangunan dan berbagai event di Bukit Hexon sebagai taman otomotif dan areal agrowisata pun disebar luaskan di berbagai media lokal dan nasional seperti Koran Pak Oles, Tabloid Otomotif Montorku, Bali Post, Radar Bali (Jawa Pos Group), NusaBali, Bali TV, TVRI dan Antara. "Banyak pengusaha yang tidak tahu bermain informasi. Padahal informasi yang disebarkan secara rutin kepada masyarakat akan membentuk citra dan menciptakan pasar. Dan, informasi itu tidak gratis," tegas Pak Oles yang menghabiskan biaya promosi mencapai Rp 200 juta.
Di Bukit Hexon terdapat tiga pelinggih yaitu Surya, Taksu dan Jero Gede. Pelinggih Surya dan Taksu terletak di atas puncak bukit yang dinaungi pohon beringin berusia ratusan tahun. Para pemedek (peserta) harus menyusuri jalan setapak seperti tangga berjarak sekitar 1 km. Dari puncak Bukit Hexon, pengunjung bisa menikmati panorama sebagian besar wilayah Kabupaten Buleleng, indahnya sketsa malam Kota Singaraja dan sekitar kawasan pesisir, juga potret alam di Timur pulau Jawa, Banyuwangi serta sepanjang jalur utara hingga Paiton di Situbondo. Ritual pemlaspasan tiga pelinggih dilaksanakan Jumat, 12 Mei 2006 yang dipuput Mangku Merajan Pasek Bebetin, Gede Kerta. Pemlaspasan pelinggih sebagai bentuk pembersihan lokasi plus pengukuhan linggih (tempat) bertaktanya Ida Sang Hyang Widhi, Tuhan Yang Maha Esa.
Lahan yang dulunya kurang terawat itu kini sudah ditumbuhi jagung, wortel, kentang, paprika dan seledri. Mereka tumbuh bersama dengan pohon blantih, sembung, lengung dan pohon paku lemputu.
Seiring dengan kiprah Pak Oles di bidang otomotif, terbersit harapan tersemainya pilar-pilar industri otomotif yang lahir di desa. Warga daerah sekitar pebukitan nan subur dengan terpaan udara sejuk menebar kesegaran, ibarat gadis perawan yang belajar berdandan. Pola pikir masyarakat pedesaan kini berkiblat pada paham industri tumbuh dari desa. Berbasis moto Membangun Desa Membangun Bangsa, Pak Oles mengusung secuil gagasan ''Gila'' disertai praktek; Industri Dimulai Dari Desa. (Akin/Lean)
KORAN PAK OLES/EDISI 172/1-15 APRIL 2009

Cluster, Solusi Bisnis Wisata Era Krisis

thumbnail
Banyak pihak yang mengira membuat bisnis pariwisata amat sulit, membutuhkan waktu yang lama serta modal yang sangat besar, apalagi disaat krisis, pengunjung menurun, pendapatan menurun. "Padahal, masalah tersebut dapat ditanggulangi dengan sistem bisnis berbasis `cluster` atau secara harfiahnya berarti pengalokasian atau pengorganisasian," kata pakar pemasaran Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Rhenald Kasali Phd di Bandung, Sabtu (21/3).
Sistem ini memungkinkan sinergi dari semua pihak. Dengan cluster, pariwisata tidak sendirian, katanya disela-sela Seminar Sehari Saung Angklung Udjo dengan tema "Strategi Mengelola Peluang dan Ancaman Bisnis Industri Budaya dan Wisata", di Saung Angklung Udjo.
Sistem Cluster memungkinkan pihak-pihak yang selama ini berada berjauhan menjadi berada dalam satu lokasi sehingga ada semacam spesialisasi pariwisata, katanya sembari mencontohkan dengan California Wine Cluster di Amerika Serikat.
Di tempat tersebut terdapat universitas yang memneliti tentang anggur beserta hamanya sehingga bisa bersinergi dengan petani anggur yang berada ditempat yang sama untuk memproduksi anggur yang baik.
Produsen anggur juga berada ditempat yang sama bersidergi dengan tempat makan atau restoran yang lain. Hal ini bisa berkembang lagi menjadi membangun resort atau lain. "Indonesia masih kekurangan spesialis, yang ada hanya agen pariwisata yang generalis yang menyediakan segala macam bentuk pariwisata", kata Rhenald.
Padahal, bila ada spesialisasi baik bidang akademisi berupa visi maupun pengalaman dari pengusaha pariwisata maka akan terbentuk suatu pengalaman berwisata yang profesional yang mungkin tidak akan dilupakan oleh wisatawan. Tanpa perlu mengeluarkan modal yang besar, bisnis bersama sama akan melibatkan banyak pihak seperti perusahaan daerah han perusahaan privat, komunitas, peneliti, universitas, pemerintah kota atau kabupaten, maupun institusi keuangan.
Diperlukan rasa percaya yang tinggi baik keyakinan maupun kepercayaan semua pihak. Percaya bahwa Indonesia dapat melalui krisis dengan strategi-strategi jitu dan bantuan dari semua pihak, katanya.
KORAN PAK OLES/EDISI 172/1-15 APRIL 2009

Ikan “Kancra Putih” Objek Wisata Kuningan

thumbnail
Ratusan wisatawan setiap Minggu dan hari libur mengunjungi objek wisata Cibulan, yang tersedia kolam ikan "Kancra Putih" sekaligus kolam renang di Desa Cimanis Kidul, Kecamatan Jalaksana, Kuningan (Jabar).
"Setiap hari ada saja yang berkungjung kesini, tetapi yang paling ramai pada hari libur, bahkan mencapai ribuan orang," kata Pemandu wisata Mamat kepada Antara di Cibulan, Senin (30/3).
Daya tarik wasatawan datang ke tempat itu adalah tersedianya kolam ikan "Kancra Putih," atau "Ikan Dewa" serta terdapat tujuh sumur tempat pertapaan Prabu Siliwangi yang airnya sangat bening.
Ia menjelaskan, ikan "Kancra Putih" mirip ikan emas berwarna abu-abu mendekati putih konon hanya ada di tempat itu sejak puluhan bahkan ratusan tahun.
Sekitar 500 ikan di kolam tersebut tidak pernah ada yang mengonsumsi dan walaupun beranak-pinak jumlahnya tetap tidak bertambah.
Cara pengembangbiakannya pun belum pernah ada penelitian, apakah bertelur atau beranak. Makanan ikan "Kancra Putih" adalah buah-buahan, seperti apel merah yang dikupas dan dicincang kecil-kecil, tatapi kadang kala ada pengunjung memberi makan berupa kacang-kacangan.
Keistimewaan lain, ikan yang beratnya ada yang mencapai enam kilogram tersebut tampak akrab dengan pengujung yang mandi di kolam yang cukup luas, bahkan terlihat jinak.
Kolam dengan debit air yang cukup walaupun musim kemarau tersebut memiliki air sangat bening, sehingga pengunjung bisa melihat dengan jelas atraksi ikan-ikan tersebut.
Dia mengatakan, pengunjung baik wisatawan Nusantara dan Mancanegara biasanya langsung mandi dan dapat menyewa ban pelampung khusus untuk kolam yang dalamnya mencapai tiga meter.
Untuk menjangkau tempat wisata Cibulan yang sekitar delapan kilometer dari Kuningan dan sekitar 40 kilometer dari Kota Cirebon tersebut dapat menggunakan kendaraan roda empat.
KORAN PAK OLES/EDISI 172/1-15 APRIL 2009

“Cidomo” Sulit Diganti

thumbnail
Cikar Dokar Motor (Cidomo) merupakan salah satu mata pencaharian masyarakat Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, sehingga sulit diganti dan sarana angkutan lainnya. "Sebelumnya ada wacana cidomo diganti dengan becak karena dinilai mengotori jalan, namun wacana tersebut kini hilang sendirinya," kata Ketua DPRD Kota Mataram Didik Sumadi kepada Antara.
Masyarakat Lombok masih senang menggunakan angkutan tradisional cidomo, sehingga di berbagai sudut terdapat panggalan cidomo. Cidomo tidak hanya disukai masyarakat Lombok, tetapi juga wisatawan terutama wisatawan mecanegara seperti di obyek wisata Gili (pulau kecil) Terawangan, Meno dan Gili Air.
Yang perlu dipikirkan sekarang ini adalah bagaimana supaya cidomo tidak lagi membuat jalan-jalan menjadi kotor disebabkan oleh kotoran kuda. Kalau dilihat sudah ada usaha yang dilakukan oleh setiap pemilik cidomo, yakni dengan memasang karung di belakang pantat kuda, sehingga kotoran kuda tidak jatuh ke jalan.
Namun upaya tersebut dinilai kurang efektif karena karung yang dipasang di belakang pantat kuda terkadang kurang pas sehingga kotoran kuda sering jatuh ke jalan.
Selain itu, Pemkot Mataram sebelumnya telah merancang celana kuda yang harus dipakaikan pada setiap kuda yang akan menarik cidomo, namun hingga kini belum juga terwujud. "Karena ini belum terwujud, akhirnya Pemkot sekarang ini menetapkan jalur-jalur cidomo sehingga tidak lagi melintas di jalan protokol seperti Jalan Udayana, Langko dan Jalan Pejanggik yang menuju kantor Gubernur NTB," katanya.
KORAN PAK OLES/EDISI 172/1-15 APRIL 2009

Vaksin Efektif Cegah Penyakit

thumbnail
Ikatan Dokter Anak Indonesi (IDAI) menyatakan, pemberian vaksin hingga kini masih efektif untuk mencegah beberapa penyakit berat yang dapat menimbulkan kematian dan kecacatan. ‘’Vaksin yang dimasukkan ke dalam rekomendasi jadwal imunisasi IDAI juga sudah melalui kajian ilmiah dari Satuan Tugas Imunisasi IDAI dan sudah mendapatkan ijin edar dari pemerintah,’’ kata Ketua Umum IDAI, Badriul Hegar di Jakarta.
Sebelum digunakan pada manusia, vaksin sudah diuji keamanan dan kemanjuran pada binatang, kelompok tertentu di sejumlah negara. Peredaran suatu jenis vaksin di Indonesia, harus atas izin Departemen Kesehatan dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Penggunaannya berdasarkan rekomendasi organisasi profesi terkait.
Penggunaan vaksin yang beredar di pasaran, lanjut Hegar, masih dipantau kelompok independen yakni Komite Nasional dan Komite Daerah Pengkajian dan Penanggulangan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) karena mereka yang bertanggung jawab kepada Menkes.
Mantan Ketua IDAI, Sukman T Putra mengatakan, IDAI merekomendasikan pemberian vaksin MMR (Measles, Mumps and Rubella), Hepatitis A, Hib (Haemophilus influenzae type b) untuk mencegah radang otak dan IPD (Invassive Pneumonial Disease) untuk mencegah pneumonia. Ke-4 jenis vaksin itu, sudah terbukti efektif meningkatkan kekebalan tubuh anak terhadap penyakit dan pemakaiaan direkomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Penelitian tentang efektifitas penggunaan vaksin, sudah dilakukan di negara serumpun dengan Indonesia termasuk Thailand, Filipina, Malaysia dan Singapura. Secara terpisah, Dirjen Pengendalian Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan, Prof Tjandra Yoga Aditama menyatakan, vaksinasi sangat penting dalam upaya pencegahan penyebaran penyakit infeksi. ‘’Cuma yang perlu dikaji ulang jenis vaksin, metode pemberian disesuaikan dengan perkembangan ilmu terkini. Yang belum masuk program juga perlu dikaji, baik diberikan secara luas atau tidak," jelasnya.
Pada 25 Maret pemerintah melakukan pertemuan untuk mengevaluasi dan memperbaiki pelaksanaan program imunisasi nasional. Hingga kini, vaksinasi yang sudah dimasukkan dalam program imunisasi rutin pemerintah meliputi vaksinasi DPT (Difteri, Pertusis, Tetanus), BCG (Bacillus Calmette-Guerin), Campak, Polio dan Hepatitis B.
Menkes Siti Fadilah Supari merinci, ada 11 jenis vaksin yang beredar di pasaran dalam negeri. Meski penggunaannya mungkin tidak membahayakan namun perlu tidaknya vaksin untuk anak-anak dikaji ulang. Kami dari Departemen Kesehatan ingin meninjau kembali. Pemberian vaksin itu mungkin tidak berbahaya, tetapi apakah harus, itu yang perlu dikaji. Penelitian dan pengkajian penggunaan vaksin di luar program akan diarahkan untuk mengetahui efektifitas penggunaan vaksin-vaksin tersebut terhadap peningkatan kekebalan tubuh balita untuk melawan penyakit.
KORAN PAK OLES/EDISI 172/1-15 APRIL 2009

Wanita Indonesia Jarang Deteksi Kanker Payudara

thumbnail
Wanita Indonesia masih sedikit yang melakukan deteksi dini kanker payudara karena kurangnya kesadaran tentang penyakit tersebut. "Tingkat kesadaran akan kanker payudara di negara berkembang termasuk di Indonesia hanya lima persen," kata Ketua Umum Yayasan Kesehatan Payudara Jawa Barat (YKP Jabar) Sendy Yusuf di Bandung. YKP Jabar diresmikan Rabu (18/3) antara lain dihadiri Wagub Jabar, Dede Yusuf dan staf ahli Menkes, Rahmi Kuntoro. Menurut Sendy Yusuf, YKP Jabar didirikan untuk meningkatkan kesehatan masyarakat khususnya penyakit kanker payudara. Peluang hidup wanita pengidap kanker payudara yang deteksi dini sebesar 98%. Wanita pengidap kanker payudara yang baru memeriksakan dirinya saat stadium akhir, hanya 15%. Pembukaan YKP Jabar ini sejalan dengan visi pembangunan kesehatan Indonesia Sehat 2010. Dengan YKP Jabar diharapkan masyarakat mendapat pengetahuan tentang pencegahan dan penanggulangan kanker payudara. YKP Jabar menjadi mitra RS Hasan Sadikin Bandung untuk fasilitasi para penderita.
RSHS membuka pojok layanan informasi bagi mereka yang divonis mengidap kanker payudara dan ingin tahu bagaimana cara menanggulangi penyakit ini, tutur Sendy. Peresmian YKP Jabar ditandai pemukulan gong oleh Dede Yusuf plus peluncuran website YKP Jabar, www.ykpjabar.org. Tampil juga dr Lula Kamal sebagai moderator talkshow dan Rima Melati sebagai perwakilan YKP Jakarta. Talkshow sejam itu menampilkan pembicara dr Dradjat R Suardi dan dr Teddy Hidayat.
Di kota Cimahi, Antara melaporkan bahwa dari 243 wanita yang mengidap kanker, 18,93% diindikasi terkena kanker payudara. "Dari 234 pasien kanker yang dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cibabat, Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung dan RS Mitra Kasih, 18,93 persen mengidap kanker payudara dan 15,38 persen mengidap kanker rahim," kata Wakil Direktur Pelayanan RSUD Cibabat, Kota Cimahi, Huzen Rahmadi.
Untuk mengurangi jumlah penderita kanker di Kota Cimahi, pihaknya telah mendirikan Yayasan Kanker Indonesia (YKI) di Puskesmas Cimahi Tengah (9//72008). Dengan YKI, masyarakat Cimahi dapat melakukan pemeriksaan dini terhadap bahaya kanker atau pemeriksaan papsmear. "Sampai saat ini sudah ada 172 orang melakukan pemeriksaan papsmear," katanya.
Selain itu, untuk mencegah penyakit kanker, pihaknya menerjunkan relawan dari YKI Kota Cimahi ke 15 kelurahan dan dharma wanita. Relawan bertugas sosialisasi bahaya dan pencegahan kanker. Salah satu kendala seseorang enggan melakukan pemeriksaan dini terhadap kemungkinan terjangkit kanker ialah biaya yang mahal.
KORAN PAK OLES/EDISI 172/1-15 APRIL 2009

75 Persen Tenaga Media Bertumpuk Di Kota

thumbnail
Penyebaran tanaga medis di Jawa Barat menjadi prioritas pada 2009 menyusul komposisi saat ini, 75% dari 25.000 tenaga medis masih bertumpuk di perkotaan. "Tidak meratanya tenaga medis diduga menjadi faktor pemicu tingginya angka kematian ibu dan merebaknya penyakit menular di kawasan pinggiran Jawa Barat," kata Gubernur Jawa Barat, H Ahmad Heryawan di Bandung.
Melalui Dinas Kesehatan, Jabar mulai 2009 melakukan penyebaran tenaga medis dari perkotaan ke desa-desa sehingga akses kesehatan masyarakat di pedesaan menjadi lebih dekat. Data Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Jawa Barat menyebut, ada 11.000 dokter di Jawa Barat dan 70% dokter umum. Penumpukan tenaga medis khususnya dokter terjadi di kota-kota besar seperti Kota Bandung, Bekasi dan Bogor. Akibatnya pelayanan kesehatan di kawasan Jawa Barat Selatan sedikit tertinggal. Karena itu, program pelatihan bidan desa diprioritaskan perekrutan putra daerah. Untuk menutupi kekurangan SDM kesehatan, mulai 2008 digulirkan bea siswa pendidikan untuk 1.200 calon bidang desa. Setelah lulus mereka ditempatkan di desa masing-masing.
KORAN PAK OLES/EDISI 172/1-15 APRIL 2009

ISFI Tetapkan Sertifikasi Profesi Apoteker

thumbnail
Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia (ISFI) berlakukan Sertifikat Kompetensi Profesi Apoteker (SKPA) terhadap semua apoteker di Indonesia pada 2009. Wakil Sekjen ISFI, Drs Arel St S Iskandar, MM, Ap di Bandung mengatakan, semua apoteker harus mengikuti uji kompetesi untuk mendapatkan Sertifikat Kompetensi Profesi apoteker (SKPA).
Berdasarkan data dari ISFI jumlah apoteker di Indonesia mencapai 27 ribu orang, namun yang mempunyai SKPA hanya sekitar 9000 apoteker. Standar kompetensi ini sangat dibutuhkan dalam era globalisasi sekarang ini. Banyak apoteker yang berasal dari luar negeri yang bekerja di Indonesia dan apoteker Indonesia yang bekerja di luar negeri. Untuk itu diperlukan sebuah standar kompetensi yang harus dipatuhi seluruh apoteker. Ada kecenderungan masyarakat pertanyakan kualitas apoteker yang bekerja di apotek. ‘’Kalau berbicara tentang kualitas berbeda dengan akreditasi. Kualitas berhubungan dengan standarisasi. ISFI sedang menyusun standar tersebut,’’ ucap Arel.
Untuk menyusun standar, ISFI bekerja sama Asosiasi Perguruan Tinggi Farmasi Indonesia (APTF), dan Departemen Pendidikan Nasional. Bahkan jika diperlukan, ISFI mengadopsi bahan-bahan dari luar negeri. Hingga kini belum ada sekolah Apoteker di Indonesia yang terakreditasi, meski total apoteker melebihi rasio ideal terhadap jumlah penduduk.
Jumlah Perguruan Farmasi Indonesia (PTF) mencapai 63 PTF. Setiap tahun PTF menghasilkan 3500 sarjana Farmasi. ISFI menilai jumlah sarjana yang dihasilkan PTF setiap tahun sudah melebihi jumlah yang diharapkan. Di luar negeri peran apoteker sangat dibutuhkan. Bahkan tenaga apoteker digunakan di kantin sekolah-sekolah. Di Indonesia, apoteker hanya bekerja di apotek dan rumah sakit, padahal urusan pemeriksaan makanan yang terindikasi ada melamin bisa diserahkan kepada apoteker.
KORAN PAK OLES/EDISI 172/1-15 APRIL 2009

NTB Kekurangan Dokter Spesialis

thumbnail
Tenaga dokter spesialis di Nusa Tenggara Barat (NTB) sangat terbatas, sehingga menjadi kendala dalam menangani pasien. Kepala Dinas Kesehatan NTB, H. Ismail di Mataram, Sabtu (28/3) mengatakan, jumlah dokter spesialis di NTB hanya 66 orang sementara yang dibutuhkan lebih dari 100 orang. Ada 66 dokter spesialis bertugas di Rumah Sakit Umum (RSU) Provinsi dan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten dan Kota.
Kekurangan dokter spesialis juga disebabkan banyaknya dokter spesialis yang memasuki masa pensiun, bahkan RSUD Sumbawa dan Dompu hingga kini belum memiliki dokter spesialis. ‘’Jumlah tenaga medis di NTB yakni dokter spesialis 66 orang, dokter umum 357 orang, dokter gigi 115 orang dan perawat 3.787 orang,’’ katanya.
Menurut Ketua Komisi IV DPRD NTB, TGH Muharrar Mahfud mengatakan, untuk mengatasi kekurangan dokter spesialis kini sebanyak 20 dokter di NTB segera melanjutkan pendidikan untuk menjadi dokter spesialis. Yang menjadi kendala setelah lulus menjadi dokter spesialis banyak daerah yang berebut dan menawarkan insentif cukup besar antara Rp15 juta hingga Rp 25 juta per bulan.
Untuk mengikat para dokter yang menjadi dokter spesialis dengan biaya Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) NTB, tidak lari maka dilakukan penandatangnan Mou yang disaksikan DPRD NTB. Dokter yang lulus jadi dokter spesialis harus kembali atau mengabdi di daerah asal minimal 10 tahun. Dengan keberangkatan 20 orang dokter untuk sekolah dokter spesialis seperti spesialis mata, dalam, THT dan bedah tidak mengganggu pelayan di berbagi rumah rakit di daerah ini. Agar betah tinggal di daerah ini, pihak eksekutif dan legislatif siap menambah insentif para dokter spesialis minimal Rp 5 juta.
KORAN PAK OLES/EDISI 172/1-15 APRIL 2009

Serangan Jantung Erat Kaitan Dengan Gen

thumbnail
Cegah Dengan Berolahraga
Oleh: Nusarina
Serangan jantung yang dapat mengakibatkan kematian mendadak biasanya dikaitkan dengan pola hidup yang tidak sehat, seperti sering mengonsumsi makanan tinggi lemak dan tidak banyak bergerak.
Namun, sejumlah peneliti internasional baru-baru ini menemukan sembilan gen variasi baru yang dapat menyebabkan seseorang rentan terhadap kematian mendadak akibat serangan jantung. Hampir setengah merupakan gen baru yang tidak diduga siapapun terkait biologi jantung, kata Dan Arking dari Fakultas Kedokteran Universitas Johns Hopkins.
Dalam jurnal Circulation bulan lalu, kelompok Arking melaporkan telah menemukan gen tunggal yang meningkatkan risiko kematian akibat serangan jantung. Penelitian baru itu mengidentifikasi gen tersebut ditambah sembilan gen baru yang memodifikasi waktu kontraksi jantung, sebuah ukuran yang dikenal dengan interval QT. Interval QT mencakup waktu dari permulaan depolarisasi ventrikel sampai dengan akhir repolarisasi ventrikel. Karena itu, interval QT meliputi seluruh peristiwa listrik yang terjadi pada ventrikel. Durasi interval QT sesuai dengan kecepatan denyut jantung.
Semakin cepat denyut jantung, semakin cepat jantung berepolarisasi untuk mempersiapkan kontraksi berikut, dan akibatnya interval QT semakin pendek. Pada umumnya, interval QT terdiri atas hampir 40% dari siklus jantung normal bila diukur dari satu gelombang R ke gelombang R berikutnya. Arking menyebutkan orang dengan interval QT yang panjang memiliki risiko lebih tinggi mengalami kematian mendadak akibat serangan jantung.
Menurut American College of Cardiology, kematian mendadak akibat serangan jantung dialami lebih dari 400.000 orang per tahun di AS. ‘’Kematian mendadak akibat serangan jantung merupakan problem nyata. Anda tidak akan mendapat kesempatan kedua,’’ kata Arking.
Hasil penelitian terhadap 15.842 orang menunjukkan bahwa jika memiliki 10 varian gen, seseorang punya peluang lebih besar untuk miliki interval QT yang panjang. Serangan jantung dapat meningkatkan risiko memiliki ritme jantung yang tidak normal, tetapi orang yang mewarisi risiko genetik ini sering tidak pernah diketahui. "Masalahnya adalah orang-orang tersebut tidak memiliki faktor risiko. Mereka tidak memiliki kolesterol tinggi, dan tidak kegemukan. Dalam beberapa kasus, genetika mungkin menjadi satu-satunya harapan bagi sebagian dari orang-orang tersebut," kata Arking.
Langkah yang perlu dilakukan, coba mengidentifikasi seberapa besar peran setiap gen dalam meningkatkan resiko. Penemuan mungkin menawarkan satu langkah bagi pembuatan obat baru. Serangan jantung terjadi ketika aliran darah yang melewati suatu bagian otot jantung terblokir. Bila tidak teratasi cepat, bagian otot jantung akan rusak karena kekurangan pasokan oksigen, lalu otot akan mati. Dr Arief L Hakim dalam Konsultasi Online menyebut, serangan jantung paling sering terjadi akibat dari suatu keadaan yang disebut Penyakit Jantung Koroner (PJK) atau Coronary Artery Disease (CAD).
Pada PJK terjadi penimbunan lemak yang disebut plak selama bertahun-tahun di dinding arteri koroner, --pembuluh nadi yang memasok darah bagi otot jantung. Meskipun menempel pada dinding arteri, plak kadang dapat terkoyak atau terlepas sehingga merangsang tubuh untuk membentuk gumpalan darah atau clot pada tempat terlepasnya plak tadi.
Clot bisa terbentuk cukup besar sehingga memblokir seluruh pasokan darah yang ditujukan memberi makan otot jantung. Selama terjadi serangan jantung, bila pemblokiran arteri koroner tidak tertangani dengan cepat, otot jantung akan sedikit demi sedikit mengalami kematian dan berubah menjadi jaringan parut (scar tissue).
Kerusakan otot jantung ini mungkin tidak tampak jelas dari luar, atau mungkin juga menimbulkan masalah yang besar dan berkepanjangan. Semua itu tergantung pada berat-ringannya derajat kerusakan otot, serta seberapa besar daerah yang mengalami kerusakan.
Tindakan cepat pada gejala dini serangan jantung dapat menyelamatkan nyawa dan memperkecil resiko kerusakan otot jantung. Penanganan dini paling efektif dilakukan dalam 1 jam sejak timbulnya gejala pertama. Tanda dan gejala serangan jantung yang paling sering terjadi adalah rasa nyeri (biasanya hebat) atau tidak nyaman pada dada-sensasi seperti ditekan, seperti diperas, seperti digigit, seperti terisi penuh, atau nyeri pada dada tengah yang lebih sering menjalar ke dada kiri, satu atau dua tangan, tubuh bagian atas, tembus hingga punggung, leher, rahang bawah, atau ulu hati.
Napas terasa berat dan pendek, dapat terjadi bersamaan atau sebelum terjadinya nyeri pada dada. Tanda lain adalah mual, muntah sensasi melayang atau seperti mau pingsan, dan keluar keringat dingin. Jika mengalami gejala tersebut, segera ke rumah sakit. Bila gejala tersebut hilang dalam waktu kurang dari lima menit, tetap hubungi dokter.
Olah Raga Wajib
Kalau anda mengalami serangan jantung, lakukan olah raga guna mempercepat pemulihan dan pencegahan lebih lanjut bagi diri anda dari serangan jantung berikutnya, demikian hasil suatu studi. Menurut beberapa peneliti Swiss pekan ini, fungsi pembuluh darah meningkat setelah empat pekan olah raga di kalangan orang yang berolah raga. Kegiatan fisik jangka panjang dan berlanjut menjadi kunci bagi pencegahan serangan jantung lain.
Tim Swiss tersebut meneliti 209 orang yang selamat dari serangan jantung guna mengukur dampak beragam jenis olah raga dan apa yang terjadi ketika orang menghentikan kegiatan fisik rutin. Semua relawan diberi tugas untuk menjalani pelatihan aerobik, olah raga ketahanan tubuh guna membina kekuatan, gabungan keduanya, atau tak berolah raga sama sekali.
Setelah empat pekan, fungsi pembuluh darah di ketiga kelompok olah raga meningkat tak peduli apa pun jenis olah raga yang mereka jalani, kata para peneliti tersebut. Tak ada peningkatan di kalangan pria dan wanita yang tak berolah raga. Para peneliti itu juga meminta sebagia relawan di dalam kelompok olah raga menghentikan kegiatan fisik. Mereka mendapati bahwa setelah satu bulan, semua manfaat positif dari olah raga sirna. (Anspek)
KORAN PAK OLES/EDISI 172/1-15 APRIL 2009

Gali Potensi Desa Budaya

thumbnail
Desa budaya di wilayah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi objek wisata yang layak dijual kepada wisatawan, baik mancanegara maupun nusantara. "Desa budaya adalah desa yang masyarakatnya masih memiliki dan melestarikan kehidupan budaya serta memegang kuat adat-istiadat. Desa seperti ini bisa dijadikan paket kunjungan wisatawan," kata Ketua Yayasan Widya Budaya Yogyakarta Widi Utaminingsih.
Ia mengatakan di wilayah Provinsi DIY menyimpan banyak desa budaya. Tetapi untuk menjadi desa budaya yang layak dijual kepada wisatawan harus diseleksi dan dibenahi terlebih dulu. "Untuk mewujudkan desa budaya, perlu dipilih satu atau dua desa budaya sebagai percontohan, dan kemudian dikemas dalam paket wisata. Diharapkan nantinya tumbuh sendiri desa budaya yang lain," kata Widi yang yayasannya bergerak di bidang studi pengembangan budaya dan pariwisata berbasis potensi lokal.
Kriteria desa budaya yang layak jual adalah kondisi masyarakatnya masih memegang budaya dan adat setempat, memiliki atraksi seni budaya, arsitektur rumah masih asli pedesaan, dan terletak di kawasan yang bernuansa alam pedesaan. Wisatawan saat mengunjungi desa budaya diharapkan menginap di rumah penduduk selama beberapa hari agar mereka bisa menikmati kehidupan warga desa yang masih asl, mulai saat bangun pagi hingga malam hari menjelang tidur. "Wisatawan bisa ikut petani bekerja membajak sawah, atau ikut mengerjakan usaha kerajinan warga setempat. Bisa menikmati makanan seperti yang dikonsumsi warga desa itu. Sedangkan pada malam hari, wisatawan disuguhi atraksi kesenian tradisional setempat," katanya.
Ia mengatakan optimistis jika desa budaya dikemas dalam paket wisata yang baik dan menarik, akan diminati wisatawan, sehingga mereka berkunjung dan menginap di desa itu. Desa budaya di DIY lebih spesifik, karena daerah lain tidak memiliki seperti yang dimiliki daerah ini. Meski di DIY saat ini banyak dimunculkan desa wisata, namun pada dasarnya desa budaya berbeda dengan desa wisata. "Desa budaya yang ditonjolkan adalah sisi potensi kehidupan budaya yang dimiliki warga setempat, sedangkan desa wisata yang dikedepankan suasana alam pedesaan dan kehidupan warganya yang masih tradisional," katanya.
Dengan demikian, pasar paket wisata ini tidak hanya ditujukan bagi wisman, tetapi juga wisnus khususnya pelajar dari berbagai daerah di Indonesia. Jika desa budaya sudah terwujud, para pelaku usaha wisata di daerah ini tinggal menindaklanjuti dengan mempromosikannya, baik di dalam maupun luar negeri.
KORAN PAK OLES/EDISI 172/1-15 APRIL 2009

Desa Wisata, Inti Pariwisata Indonesia

thumbnail
Desa wisata sebenarnya menjadi inti keberadaan pariwisata Indonesia, sehingga jika mampu membangun desa wisata dengan baik, berarti mampu menyelesaikan sekitar 65 persen masalah kepariwisataan di negeri ini.
Direktur Pemberdayaan Masyarakat Ditjen Pengembangan Destinasi Pariwisata Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (Depbudpar) Bakri ketika meresmikan Desa Wisata Sidoakur di Sidokarto, Kecamatan Godean, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sabtu (21) mengatakan, karena itu potensi desa wisata di negeri ini bisa menjadi unggulan pengembangan pariwisata.
"Bali dan DIY merupakan provinsi yang memiliki desa wisata terbanyak dan beragam jenisnya, sehingga bisa menjadi alternatif kunjungan wisata di kedua wilayah provinsi itu. Desa wisata di dua daerah tersebut memiliki ciri khas serta kelebihan masing-masing," katanya.
Keberagaman desa wisata di kedua provinsi itu di mata wisatawan nusantara (wisnus) khususnya para pelajar dinilai sangat menarik, sehingga mereka memiliki keinginan untuk mengunjungi desa wisata tersebut, sambil belajar hidup di alam pedesaan. "Para pelajar yang datang dari kota besar tidak lagi menjumpai kegiatan menggarap sawah dengan cara tradisional, yaitu membajak dan mencangkul sawah, maupun menanam padi," katanya.
Ia mengatakan mereka akan merasa tertarik untuk mencoba kehidupan di alam pedesaan seperti itu, dan untuk itu desa wisata dapat ditawarkan kepada wisatawan.
Untuk mengelola desa wisata perlu sumber daya manusia (SDM) yang terlatih dan memiliki kemampuan yang memadai dalam melayani wisatawan nusantara maupun mancanegara. "Sehingga, diharapkan wisatawan merasa puas saat berkunjung ke desa wisata," katanya.
Ia menyebutkan kemampuan yang harus dikuasai pengelola desa wisata antara lain dalam hal penyajian makanan yang higienis bagi wisatawan, membina jaringan wisata dengan biro perjalanan wisata maupun pemandu wisata, dan kemampuan lainnya.
Pada kesempatan tersebut, ia juga berharap agar keberadaan desa wisata di Bali dan DIY bisa menjadi contoh bagi pembangunan desa wisata di daerah lainnya.
Menurut dia, pembangunan desa wisata memperoleh perhatian dari pemerintah pusat, terbukti dengan diluncurkannya Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri khusus pariwisata. "Program khusus pariwisata itu diluncurkan pada awal 2009, namun belum diresmikan, karena ada hambatan yaitu dananya belum turun," katanya.
Namun, kata dia, dalam waktu dekat segera direalisasikan.
Kendala Pemasaran
Desa Wisata di wilayah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) saat ini berkembang pesat, seiring dengan perkembangan pembangunan pariwisata di daerah ini, kata Kepala Dinas Pariwisata DIY M Tazbir.
Ia mengatakan dari pendataan desa wisata di DIY saat ini tercatat ada 60 desa wisata, dan dari jumlah itu 40 di antaranya berada di wilayah Kabupaten Sleman. "Jadi, Kabupaten Sleman memiliki potensi desa wisata yang bisa menjadi unggulan pariwisata di kabupaten itu. Dari 40 desa wisata di Sleman, seluruhnya sudah layak `jual`, termasuk di antaranya Desa Wisata Sidoakur ini, "katanya.
Banyaknya desa wisata di DIY memang menghadapi kendala pemasaran, sebab tidak semua desa wisata yang ada mampu memasarkan keberadaan desa wisata itu denga baik, sehingga banyak wisatawan yang mengunjungi atau menginap di desa wisata setempat.
Desa wisata untuk bisa dikunjungi wisatawan memang perlu proses panjang dan tidak mungkin secara instan. "Tidak mungkin wisatawan langsung datang menginap di desa wisata setelah dibuka secara resmi," katanya.
Menurut Tazbir, perlu promosi, pemasaran dan pengelolaan yang intensif agar desa wisata laku dijual. "Untuk itu, pihak pengelola desa wisata perlu diberi pelatihan mengenai berbagai pengetahuan, antara lain mengenai manajemen desa wisata, promosi dan pemasaran, penyediaan makanan yang higienis serta menjalin jaringan dengan biro perjalanan wisata," katanya.
Desa Wisata Sidoakur merupakan desa wisata kedua di Kabupaten Sleman yang memiliki basis lingkungan, setelah Desa Wisata Sukunan yang memiliki basis lingkungan dengan unggulan pengolahan sampah. Desa Wisata Sidoakur memiliki keunggulan sebagai wisata lingkungan, karena di desa wisata ini terdapat pengolahan sampah mandiri dan pengolahan MCK komunal. Lokasi desa wisata tersebut sekitar 10 km ke arah barat dari kota Yoogyakarta. Fasilitas yang dimilikinya meliputi rumah budaya joglo berkapasitas 100 orang, rumah budaya limasan dengan kapasitas 100 orang. Desa-desa tersebut dikelilingi sawah untuk pertanian organik, serta pengolahan tanah secara tradisional.
KORAN PAK OLES/EDISI 172/1-15 APRIL 2009

Promosi Kurang, Tingkat Hunian Belum Maksimal

thumbnail
Ketua Forum Komunikasi Desa Wisata Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Haryono mengatakan tingkat hunian sejumlah desa wisata di Sleman belum maksimal, karena kurangnya promosi.
"Padahal beberapa desa wisata di Sleman di antaranya Desa Tanjung, Brayut, Tlogoadi dan Trumpon memiliki dan menyimpan eksotisme luar biasa berupa suasana alam pedesaan yang masih asli," katanya.
Menurut dia, tanpa promosi yang intensif memang sulit bagi desa wisata untuk mendatangkan wisatawan, apalagi ada sekitar 40 desa wisata di wilayah Kabupaten Sleman, sehingga persaingannya ketat. "Jika dalam satu bulan ada kunjungan wisatawan, dan menginap di desa wisata, itu dianggap sudah baik. Namun, bagi desa wisata yang sudah terkenal, mengenai kunjungan wisatawan tidak menjadi masalah," katanya.
Ia mengatakan desa wisata di Kabupaten Sleman sampai saat ini masih layak jual, karena tidak hanya memiliki potensi dari pemandangan alam desa yang masih asli dan menawan, tetapi juga kehidupan keseharian masyarakat setempat yang spesifik. "Selain itu, desa wisata tersebut juga memiliki kekayaan berupa aneka seni budaya dan atraksi kesenian yang layak untuk dinikmati wisatawan yang datang ke desa tersebut," katanya.
Sementara itu, Ketua Forum Silaturahmi Insan Pariwisata (Fosipa) Indonesia Sarbini menilai jika keberadaan desa wisata di wilayah DIY agak sulit dikembangkan, karena desa wisata dibentuk hanya untuk kepentingan sesaat ketika ada kunjungan wisatawan. "Desa wisata baru dibentuk dan dipromosikan jika akan menerima kedatangan tamu wisatawan mancanegara (wisman) maupun wisatawan nusantara (wisnus)," katanya.
Menurut dia, desa wisata adalah desa yang umumnya dikelola warga setempat, dan suasananya masih alami serta memiliki potensi khas desa itu yang layak ditawarkan kepada wisman maupun wisnus. "Sejumlah atraksi kesenian setempat maupun fasilitas penginapan ala desa serta potensi yang dimiliki desa tersebut disiapkan guna menyambut dan memberikan layanan rombongan wisatawan yang akan menginap di desa setempat," katanya.
KORAN PAK OLES/EDISI 172/1-15 APRIL 2009

Setiap Tahun Dikunjungi 2.000 Orang

thumbnail
Desa wisata di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) saat ini baru dikunjungi antara 1.000 hingga 2.000 orang per desa per tahun. "Bahkan ada sejumlah desa wisata yang dikunjungi wisatawan kurang dari jumlah itu," kata Kepala Dinas Pariwisata DIY M Tazbir.
Jumlah pengunjung sebanyak itu merupakan kondisi nyata dari keberadaan desa wisata di DIY, sehingga perlu disikapi para pengelola dengan kerja keras mempromosikan desanya. "Jadi, jangan terburu-buru menyalahkan karena wisatawan yang datang jumlahnya tidak banyak. Sebab, mendatangkan wisatawan agar mengunjungi desa wisata bukan pekerjaan mudah, dan perlu waktu," katanya.
Ia mengatakan untuk mengupayakan agar wisatawan bersedia mengunjungi desa wisata, perlu disiapkan tenaga pengelola yang handal dan memiliki kemampuan dalam hal manajemen desa wisata. "Termasuk kemampuan memasarkan dan mempromosikan desa wisata," katanya.
Tazbir mengatakan pihaknya berupaya membantu dengan program pelatihan bagi sumber daya manusia (SDM) pengelola desa wisata. Di masa mendatang, kata dia, pelatihan itu terus dikembangkan agar desa wisata menjadi alternatif kunjungan wisatawan ke daerah ini.
Namun, modal utama yang penting dalam mengelola desa wisata adalah masyarakat setempat yang mendukung desanya menjadi objek wisata. Sebab, tanpa dukungan tersebut keberadaan desa wisata tidak akan berkembang. "Di DIY saat ini ada 60 desa wisata, dan terbanyak berada di wilayah Kabupaten Sleman yang jumlahnya mencapai 40 desa," katanya.
Secara terpisah Ketua Forum Silaturahmi Insan Pariwisata (Fosipa) Indonesia, Sarbini mengatakan jumlah desa wisata di DIY terlalu banyak, sehingga sulit untuk membina dan mengembangkan menjadi objek wisata yang menarik. Idealnya jumlah desa wisata di tiap kabupaten di provinsi ini antara tiga hingga lima desa, sehingga memudahkan pembinaan dan pengembangannya.
Ia menyebut contoh di Kabupaten Sleman yang memiliki 40 desa wisata, jumlah itu terlalu banyak. "Mestinya di Kabupaten Slema paling banyak lima desa wisata, sehingga pengembangannya bisa optimal, dan bisa menarik minat wisatawan untuk mengunjunginya," katanya.
Sarbini menilai desa wisata di DIY agak sulit dikembangkan, karena biasanya desa wisata dibentuk hanya untuk kepentingan sesaat ketika ada rencana wisatawan mengunjungi desa itu. "Desa wisata dibentuk hanya ikut-ikutan, dan baru dipromosikan jika akan menerima kedatangan tamu, baik wisatawan mancanegara (wisman) maupun wisatawan nusantara (wisnus)," katanya.
Ia mengatakan desa wisata adalah desa yang umumnya dikelola warga setempat, dan suasananya masih alami serta memiliki potensi khas desa setempat yang layak ditawarkan kepada wisatawan. "Selain itu, sejumlah atraksi kesenian setempat maupun fasilitas penginapan ala desa serta potensi lainnya yang dimiliki disiapkan untuk menyambut dan memberikan layanan kepada rombongan wisatawan yang akan menginap di desa tersebut ," katanya.
KORAN PAK OLES/EDISI 172/1-15 APRIL 2009

Ubah UKM Jadi UBB

thumbnail
Istilah usaha kecil dan menengah (UKM) perlu dihapus, diganti dengan istilah usaha bakal besar (UBB). Modalnya adalah empat hal yaitu membulatkan tekad, tahan banting, berani mengambil resiko dan bersyukur. Bila ada bank yang persulit pinjaman modal, tinggalkan saja. Cari bank lain, sebab bukan peminjam yang memerlukan bank, tetapi justru bank yang memerlukan peminjam.
(Bob Sadino, pengusaha sukses)

Ikon wirausaha Indonesia, Bob Sadino menilai, istilah usaha kecil dan menengah (UKM) tidak layak lagi dipakai karena secara psikologis menyebabkan pelaku usaha merasa kerdil dan gampang merengek-rengek. ‘’UKM perlu dihapus, diganti dengan istilah usaha bakal besar (UBB),’’ katanya dalam Seminar dan Pameran UKM yang digelar Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) di Batam, Sabtu (28/3).
Penggantian istilah saja bukan alat kesuksesan karena untuk menjadi pelaku UBB, orang harus bersandar pada empat hal yaitu membulatkan tekad, tahan banting, berani mengambil resiko dan bersyukur. Semua ini merupakan modal sehingga pelaku usaha tidak merengek-rengek kala sulit mendapat pinjaman investasi dari bank.
Dengan modal mental wirausaha sejati, Bob menyatakan, pelaku UBB dapat mengoreksi ulah perbankan yang biasa memakai kata-kata manis memberi bantuan, padahal ada berbagai kewajiban bagi para peminjam.
Karena itu, menurut Bob, bila ada bank yang persulit pinjaman modal, tinggalkan saja. Cari bank lain, sebab bukan peminjam yang memerlukan bank tetapi justru bank yang memerlukan peminjam. Sebelum bersandar pada empat penguat UBB, pelaku harus menyiapkan kondisi mental nan optimistis, tidak takut merugi, tidak berharap dan tidak takut melangkah. ‘’Takut melangkah sebab memperhitungkan teori sekolahan, menyebabkan orang tidak belajar mengenai akibat dari suatu tindakan," kata pemilik tunggal Grup Kem Chicks.
Tampil dengan gaya yang khas, bercelana pendek di podium dan beberapa kali menyatakan ikhlas menyebut goblok pada penanya dari UKM maupun pembina, Bob berujar, untuk menjadi wirausaha sukses, pelaku harus memburu resiko sebesar-besarnya. "Kalau gagal, itulah resiko,’’ tandas Bob di hadapan Ketua Umum PB Hipmi Erwin Aksa dan 200 pelaku UKM.
Resiko tidak untuk dijauhi, tapi harus diubah jadi peluang, ujar Bob yang pekerjakan 1.000 karyawan dengan memperlakukan mereka sebagai anggota keluarga meski tidak seorangpun punya hubungan darah dengan dirinya.
Krisis Jadi Peluang
Sementara krisis finance yang terus menebar virus secara global merupakan petunjuk bagi manusia untuk melihat realita agar berani membuat perubahan. Ahli ilmu pemasaran Universitas Indonesia (UI), Rhenald Kasali Phd menegaskan, Indonesia harus berani mengubah termasuk pola pikir memandang krisis menjadi titik tolak menuju keberhasilan, pinta Kasali pada seminar bertema Strategi Mengelola Peluang dan Ancaman Bisnis Industri Budaya dan Wisata di Saung Angklung Udjo Jl Padasuka Bandung, Sabtu (21/3).
Ekonomi Singapura 99% dikuasai internasional, karena itu terkena dampak sampai 99%. Berbeda dengan Indonesia yang masih domestik. Hanya 20% yang dimiliki pihak asing, dan itu berarti hanya 20% dampak krisis. Di pihak lain, wisata tidak akan mati karena pergeseran wisatawan domestik yang biasanya libur ke luar negeri memilih libur di negara sendiri. Ia minta para pelaku pariwisata untuk tidak meremehkan wisatawan domestik.
Kepada peserta seminar Rhenald mengatakan, turisme tidak sekadar wisata, tetapi lebih pada tempat yang masih kuat memiliki budaya, adat istiadat dan cerita. Indonesia miliki semua itu, dan tinggal pebisnis pariwisata mengemas.
KORAN PAK OLES/EDISI 172/1-15 APRIL 2009

Retas Stigma Sarjana Cari Pekerjaan

thumbnail
Pola pikir mahasiswa Indonesia sudah saatnya diarahkan untuk memiliki jiwa besar menjadi wirausaha plus menghilangkan paradigma mencari kerja. Gugahan itu disampaikan, Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Siliwangi Tasikmalaya, Prof Kartawan pada seminar Meningkatkan Wawasan Tentang Dunia Usaha dan Memotivasi Untuk Menjadi Usahawan Muda Bagi Para Mahasiswa di Kampus Univeristas Siliwangi (Unsil) belum lama ini.
Pada seminar yang mayoritas dihadiri mahasiswa jurusan managemen Unsil, Prof Kartawan berpendapat, mahasiswa harus berani menjadi wirausaha sejati. Selama sekitar 80% paradigma mahasiswa saat ditanya dosen tentang masalah masa depan pasca kuliah, akan menjawab mencari kerja. Sedangkan di negara maju, mahasiswa punya pandangan berbeda, yakni siap menciptakan pekerjaan.
Dengan mengubah paradigma mahasiswa agar memiliki motivasi menjadi seorang pengusaha, bangsa Indonesia akan maju. Namun untuk menjadi enterprenuer, kata Prof Kartawan, harus percaya diri dan jangan merasa takut bangkrut untuk coba berwirausaha. ‘’Selama ini masyarakat masih ada yang berpikir bahwa kesuksesan dalam usaha adalah faktor keturunan bahkan bergantung kepada makmurnya suatu negara. Untuk menjadi enterprenuer bukan masalah kaya atau miskin suatu negara tapi yang ada, benar atau tidak cara mengelolah,’’ tegasnya.
Jika di satu negara memiliki 2% enterprenuer dari total penduduk, lanjut Prof Kartawan, negara tersebut akan makmur dan sejahtera. ‘’Saya berharap semua yang ada di sini (peserta seminar) mudah-mudahan bisa mnjadi agen perubahan untuk lebih maju dalam berwirausaha,’’ ujarnya.
Tidak Cukup Teoritis
Para pelajar maupun mahasiswa tidak cukup hanya peroleh pelajaran yang bersifat teoritis, namun sejak di bangku sekolah harus dibekali jiwa kewirausahaan. ‘’Agar setamat dari tempatnya menuntut ilmu, mereka tidak hanya berorientasi untuk mencari pekerjaan tapi juga mampu membuka lapangan pekerjaan baru,’’ kata pengamat pendidikan Universitas Sumatera Utara (USU), Zulnaidi Mhum, di Medan, Minggu (29/3).
Persoalan utama yang dihadapi pemerintah pusat maupun daerah, justru tingginya angka pengangguran di kalangan pemuda atau para lulusan sekolah maupun universitas. Ini terjadi bukan karena tidak ada lapangan pekerjaan, tapi lebih disebabkan oleh kurangnya keahlian para lulusan sesuai kebutuhan perusahaan pencari kerja.
Dengan bekal ilmu kewirausahaan, selain membuka suatu bidang usaha, mereka akhirnya dapat menciptakan lapangan kerja dan merekrut tenaga-tenaga kerja baru. Hingga kini masih banyak pelajar yang berorientasi jadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) setamat dari pendidikan. Padahal, lowongan PNS yang tersedia tidak sebanding jumlah lulusan yang dicetak lembaga-lembaga pendidikan.
KORAN PAK OLES/EDISI 172/1-15 APRIL 2009

Wanita Pembuat Keputusan Akhir

thumbnail
Sebuah hasil survei menunjukkan 59,6% wanita Indonesia menganggap mereka sebagai pembuat keputusan akhir dalam rumah tangganya dan angka prosentase itu ternyata lebih tinggi dibanding rekan-rekan mereka di Australia dan Singapura.
‘’Sungguh menarik melihat lebih dari 50% wanita Indonesia menganggap diri mereka sebagai pembuat keputusan akhir bagi rumah tangga mereka dan ini merupakan prosentase lebih besar dibanding Australia dan Singapura,’’ kata Vice President Communications, Asia Pacific, Middle East and Africa Mastercard Worldwide, Georgette Tan via press release yang diterima Antara di Jakarta, Selasa (30/3).
Tan menjelaskan, angka-angka itu diperoleh via survei MasterCard Worldwide Index of Women`s Advancement. Survei itu untuk melihat perkembangan di Indonesia terkait peran serta wanita dalam dunia kerja, perolehan pendidikan tingkat perguruan tinggi dan persepsi soal peran manajerial dan pendapatan.
Wanita merupakan segmen terpenting bagi perusahaan. Mastercard bisa menyediakan pengetahuan dan angka-angka untuk membantu berbagai perusahaan lebih menyadari untuk menjangkau kelompok wanita. Survei menunjukkan, peran sosio ekonomi wanita Indonesia menurun pada 2008 dibanding 2007.
Nilai indeks mengalami penurunan karena jumlah wanita per 100 pria yang menganggap bahwa mereka memegang posisi manajer (43 wanita dibanding 100 pria) mengalami penurunan dari tahun 2007 (52 wanita per 100 pria). Jumlah wanita dibanding pria yang menganggap pendapatan di atas median sedikit menurun. Sekitar 80 wanita per 100 pria jadi 75 wanita per 100 pria. Angka di bawah 100 berarti, ada ketidaksamarataan wanita lebih berperan. Angka 100 menunjukkan, wanita dan pria miliki peran yang proporsional.
Mastercard miliki komitmen memberdayakan wanita lewat berbagai program, antara lain U21 Global Scholarship for Women in Travel and Tourism yang diluncurkan 2006 yang memberi kesempatan bagi wanita karir untuk mengembangkan kemampuan managemen dan mengoptimalkan potensi.
KORAN PAK OLES/EDISI 172/1-15 APRIL 2009

Indonesia Jadi Tenaga Kerja Dunia

thumbnail
Dr Petrus Mamuko, Msc, Dosen Pascasarjana Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Kusuma Negara Jakarta mengatakan angkatan kerja Indonesia miliki kesempatan besar untuk menjadi tenaga kerja dunia. Sekarang perusahaan di berbagai negara mengalami penyusutan jumlah tenaga kerja karena banyak tenaga kerja dewasa di dunia yang memasuki usia pensiun, kata Petrus yang juga Direktur SDM PT Conoco Philip di Bandung. "Ada 14 juta kesempatan bagi para angkatan kerja di Indonesia seiring dengan penyusutan jumlah tenaga kerja itu," katanya.
Indonesia kini sedang terkena dampak krisis global. Kesempatan kerja adalah fungsi dari pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini sedang mengalami masalah akibat krisis keuangan global. Ada banyak kesempatan bisnis global di luar negeri seperti Eropa, Amerika, Australia dan New Zealand.
Itu bisa menjadi kesempatan bagi orang Indonesia karena rendahnya pertumbuhan penduduk di negara-negara itu. Indonesia miliki banyak universitas dan perguruan tinggi yang melahirkan jutaan angkatan kerja. Australia dan New Zealand kekurangan sarjana IT dan akuntan.
Rektor Universitas Negeri Semarang (Unnes), Prof Sudijono Sastroatmodjo di Semarang, Senin (30/3) menyatakan, peta pendidikan dunia sudah mengalami perubahan sebagai sebuah kecenderungan global yang tengah terjadi, kata Prof Sudijono pada a Dies Natalis ke-44 Unnes di auditorium Unnes.
Perubahan tersebut, kata Rektor, ditandai dengan munculnya pusat-pusat pendidikan unggulan terbaru. "Antara lain, Malaysia, Singapura dan Cina. Munculnya pusat-pusat pendidikan unggulan diiringi mengalirnya dana investasi untuk riset dan pengembangan. ‘’Gejala tersebut harus diwaspadai sebab tidak mustahil pendidikan nasional khususnya Unnes mengalami ketertinggalan,’’ kata Rektor.
Meski begitu, perubahan peta pendidikan dunia tetap membuka peluang bagi pendidikan nasional untuk masuk dalam dunia kompetisi global, di samping pesatnya perkembangan riset untuk memajukan ekonomi masyarakat. Sejak akhir 2008, Unnes terus mengembangkan visi menjadi universitas kelas internasional. Minimal Unnes mulai menerima mahasiswa dari dan mengirim mahasiswa ke luar negeri, serta mendatangkan dosen dari luar negeri.
KORAN PAK OLES/EDISI 172/1-15 APRIL 2009

Pariwisata Vs Pesta Demokrasi

thumbnail
Oleh: Hanni Sofia
Pariwisata Indonesia boleh jadi merupakan sektor yang paling terkena dampak rangkaian pesta demokrasi Pemilu 2009, termasuk kampanye. Sayangnya, sektor tersebut ibarat anak tiri dalam visi politik partai-partai karena nyaris tidak ada partai politik yang menyinggung peran sektor pariwisata dalam visi politik.
Padahal, pariwisata berpotensi mendatangkan devisa tertinggi melebihi sektor migas yang selama ini menjadi penyumbang pendapatan negara paling besar. Namun sayangnya hal itu belum tergarap sempurna, akibatnya sektor pariwisata di Tanah Air harus mampu bertahan dari terjangan dan ancaman yang ada.
Setelah krisis finansial global, Pemilu plus rangkaian kegiatan lain harus menjadi salah satu bahan pertimbangan menentukan kebijakan. Tahun ini pemerintah menarget jumlah kunjungan wisatawan asing 6,5 juta melalui program promosi Visit Indonesia 2009. Sementara wisatawan nusantara terjaring 226 juta.
Berkah
Banyak kalangan yang menganggap proses Pemilu akan mengganggu sektor pariwisata di Tanah Air, termasuk ancaman tidak tercapainya target kunjungan wisatawan karena alasan keamanan termasuk ancaman dirugikannya sektor periwisata secara keseluruhan. Faktanya, Pemilu justru jadi berkah bagi sektor itu.
Ketua Umum PHRI (Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia), Yanti Sukamdani mengatakan, tingkat hunian hotel di Indonesia pada Januari-Maret meningkat 60%. ‘’Saya justru melihat momen Pemilu memberikan dampak yang sangat positif bagi tingkat hunian hotel-hotel di seluruh Indonesia yang mencapai rata-rata 60 persen setiap hotel,’’ kata Yanti. Padahal, antara Januari-Maret setiap tahun justru tergolong sepi atau maksimal tingkat hunian 40%.
Secara umum tingkat hunian hotel di Indonesia terkait Pemilu meningkat 10-15%. Sejak Januari-Maret, grafik pengunjung hotel stabil, tetapi tepat Pemilu digelar 9 April tingkat hunian rata-rata menurun alias sepi di beberapa hotel acuan. Namun itu tidak akan berlangsung lama, sebab Juni-Juli, kembali meningkat terkait dimulainya liburan panjang sekolah. Bulan-bulan itulah terjadi peak season baik di dalam maupun di luar negeri. Minat wisatawan untuk mengunjungi Candi Borobudur dan candi-candi lain di sekitarnya tidak surut, kata Presdir PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko, Purnomo Siswoprasetjo.
Proses Pemilu tidak berpengaruh nyata terhadap penurunan pengunjung yang memilih paket wisata candi. Penurunan yang terjadi sebulan terakhir lebih disebabkan karena hari-hari bukan musim libur. Memang sempat terjadi penurunan jumlah pengunjung 5-10% beberapa waktu terakhir di dua tujuan wisata candi utama yaitu Borobudur dan Prambanan. Borobudur dan Prambanan pada hari-hari biasa dibanjiri minimal 2.000 wisatawan per hari.
Proses kampanye yang berjalan aman dan damai mendorong aktivitas dunia pariwisata tetap berjalan baik. Pemilu 2009 terasa lebih kondusif dibanding Pemilu 2004. PT Taman Wisata Candi yang saat ini diserahi tugas mengelola Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko.
Terkait Pemilu, perusahaan travel manajemen ternama, Panorama Tours tetap optimisme. "Panorama tetap optimis dengan menargetkan 3000 kursi untuk musim liburan sekolah tahun ini," kata Director of Sales & Distribution Panorama Tours, Helen Xu.
Meski Pemilu, menurut Helen, pemerintah telah menerapkan banyak kebijakan yang sangat mendukung sektor pariwisata untuk berkembang, termasuk di antaranya pembebasan biaya fiskal bagi WNI yang memiliki NPWP.
Bukan hanya soal fiskal, beberapa insentif lain mendorong usaha yang bergerak di sektor wisata termasuk travel manajemen. Contonya, beberapa perusahaan penerbangan menghapus fuel surcharge dan penawaran harga paket wisata yang lebih murah dibanding periode yang sama 2008 terutama dari supplier tour di luar negeri. Jelang liburan Juni-Juli, Panorama Tours sudah meluncurkan paket-paket wisata liburan baru bagi pelanggan.
MICE Terancam
Meski begitu, Pemilu tidak hanya membawa cerita manis, tapi juga mendatangkan ancaman pahit bagi sektor tertentu. Perusahaan travel manajemen, Maestro Indonesia sebagai salah satu anggota ASITA (Association of The Indonesian Tours & Travel Agencies), menyatakan, sektor industri MICE (Meeting Incentive Convention and Exhibition) Indonesia kian seret dan menurun 40%-50%, kata Director of Sales Maestro Indonesia, Mieke.
Pengembangan MICE, sebut Mieke, sudah sangat anjlok mendekati Pemilu. Even dan ekshibisi tingkat nasional maupun internasional untuk gelar di Indonesia dari pihak asing menurun drastis. Padahal, Januari-Maret pada tahun-tahun non Pemilu, justru peak season untuk international maupun national meeting. Untuk pertemuan lingkup nasional, lebih banyak dilokasikan di Jakarta, dan nyaris kosong untuk luar Jakarta. Maestro Indonesia saat ini fokus menangani turis-turis kawasan Rusia karena sudah mulai menurunnya permintaan paket pariwisata dari Negara AS, Jepang, Korea dan lain-lain akibat krisis finansial global.
Menurut Mieke, proses Pemilu 2009 jelas berpengaruh bagi sektor pariwisata dengan mendorong banyak wisatawan dalam maupun luar negeri beralih wisata ke tempat lain. "Mereka lebih banyak merasa tidak nyaman, tidak bisa bergerak lebih lanjut karena masih menunggu pergantian pemerintahan. Kalaupun untuk menentukan anggaran wisata kemudian tetap masih menunggu kebijakan pemerintahan terpilih,’’ katanya.
Pemerintah sendiri telah menetapkan Marine and Mice sebagai tema wisata dalam Visit Indonesia Year 2009 dengan mengandalkan 10 destinasi utama MICE (Jakarta, Bali, Yogyakarta, Surabaya, Batam & Bintan, Manado, Padang & Bukittinggi, Makassar, Medan dan Solo).
Direktur MICE Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, Nia Niscaya mengatakan, secara umum tada peluang promosi MICE, meski cenderung terjadi penurunan pasar karena krisis finansial global. Krisis tersebut, akan berpengaruh pada lama tinggal yang lebih singkat, jumlah grup lebih kecil, pengeluaran dolar lebih rendah dan pengurangan variasi layanan. Namun pasar pertemuan para asosiasi justru berkembang karena adanya kepentingan untuk mencari solusi dan memperkuat kepentingan anggota. (Anspek)
KORAN PAK OLES/EDISI 172/1-15 APRIL 2009