Bali bertekad bisa mewujudkan dalam memenuhi kebutuhan pisang yang selama ini masih mendatangkan dari luar daerah berkisar 600-700 tandan setiap harinya. "Kemandirian dalam memenuhi kebutuhan pisang itu sangat penting, karena buah pisang merupakan bagian dari kelengkapan kegiatan ritual, disamping konsumsi masyarakat," kata Kepala Dinas Pertanian Propinsi Bali Ir Wayan Badra Wismaya kepada ANTARA.
Wayan Badra mengatakan, kemandirian dalam memenuhi kebutuhan buah pisang, baik untuk keperluan ritual dan konsumsi masyarakat sehari-hari dengan mengintensifkan pengembangan tanaman pisang. Upaya itu dengan memanfaatkan tanaman pisang tahan terhadap hama penyakit layu yang selama ini menyerang tanaman pisang di Bali.
Badra menambahkan, guna mendorong masyarakat mengintensifkan tanaman pisang dilakukan upaya memperbanyak proyek percontohan (Demplot) pengembangan tanaman pisang. Pengembangan demplot tersebut menggunakan bibit berasal dari bongkol yang telah teruji tahan terhadap serangan bakteri yang menyebabkan penyakit layu pada tanaman pisang.
Demplot tersebut dibangun di sejumlah kabupaten/kota di Bali, dengan harapan pola pengembangan pisang bisa ditiru masyarakat setempat. "Kabupaten Jembrana dalam tahun 2009 akan mengembangkan tanaman pisang seluas 30 hektar," ujar Wayan Badra.
Tujuh kabupaten dan satu kota lainnya di Bali juga melakukan hal yang sama, meskipun arealnya secara terpencar-pencar di sela-sela tanaman kelapa, coklat dan cengkeh. "Cukup sulit mencari lahan dalam satu komplek untuk pengembangan pisang, karena penanaman pisang dapat dipadukan dengan jenis tanaman lain," ujar Wayan Badra.
Bali memiliki tanaman pisang sebanyak 9,1 juta pohon selama tahun 2007 menghasilkan 145.394 ton, meningkat dibanding tahun sebelumnya yang tercatat 137.361 ton yang terdiri atas berbagai jenis buah pisang.
Badra mengakui, meskipun produksi pisang meningkat, namun Bali hingga kini masih menerima pasokan pisang dari luar daerah, terutama dari daerah-daerah di Jawa Timur.
KPO/EDISI 161/OKTOBER 2008
Wayan Badra mengatakan, kemandirian dalam memenuhi kebutuhan buah pisang, baik untuk keperluan ritual dan konsumsi masyarakat sehari-hari dengan mengintensifkan pengembangan tanaman pisang. Upaya itu dengan memanfaatkan tanaman pisang tahan terhadap hama penyakit layu yang selama ini menyerang tanaman pisang di Bali.
Badra menambahkan, guna mendorong masyarakat mengintensifkan tanaman pisang dilakukan upaya memperbanyak proyek percontohan (Demplot) pengembangan tanaman pisang. Pengembangan demplot tersebut menggunakan bibit berasal dari bongkol yang telah teruji tahan terhadap serangan bakteri yang menyebabkan penyakit layu pada tanaman pisang.
Demplot tersebut dibangun di sejumlah kabupaten/kota di Bali, dengan harapan pola pengembangan pisang bisa ditiru masyarakat setempat. "Kabupaten Jembrana dalam tahun 2009 akan mengembangkan tanaman pisang seluas 30 hektar," ujar Wayan Badra.
Tujuh kabupaten dan satu kota lainnya di Bali juga melakukan hal yang sama, meskipun arealnya secara terpencar-pencar di sela-sela tanaman kelapa, coklat dan cengkeh. "Cukup sulit mencari lahan dalam satu komplek untuk pengembangan pisang, karena penanaman pisang dapat dipadukan dengan jenis tanaman lain," ujar Wayan Badra.
Bali memiliki tanaman pisang sebanyak 9,1 juta pohon selama tahun 2007 menghasilkan 145.394 ton, meningkat dibanding tahun sebelumnya yang tercatat 137.361 ton yang terdiri atas berbagai jenis buah pisang.
Badra mengakui, meskipun produksi pisang meningkat, namun Bali hingga kini masih menerima pasokan pisang dari luar daerah, terutama dari daerah-daerah di Jawa Timur.
KPO/EDISI 161/OKTOBER 2008


0 komentar:
Posting Komentar