Krisis global di Amerika Serikat (AS) membuat sejumlah pemerintah daerah mulai membidik pasar ekspor berbagai komoditas unggulan, seperti hasil perkebunan dan perikanan ke negara non-AS dan dialihkan ke Timur Tengah (Timteng), Asia dan Eropa.
Pemerintah Kabupaten Malang, Jawa Timur, mulai membidik pasar ekspor berbagai komoditas unggulan, seperti hasil perkebunan dan perikanan ke negara non-AS dan dialihkan ke Timur Tengah (Timteng).
"Memang sekarang belum ada dampak langsung yang dirasakan pengekspor maupun pemkab. Namun, kami harus
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Malang, Ir. Syakur Kullu kepada ANTARA mengatakan pemerintah mulai memikirkan alternatif negara tujuan ekspor yang selama ini dominan dikirim ke negara "Paman Sam" itu.
Menurut Syakur, total volume ekspor berbagai komoditas dari Pemkab Malang ke-60 negara tujuan selama dua tahun terakhir ini menunjukkan peningkatan, yakni pada tahun 2006 nilai ekpsor mencapai 188 juta dolar AS, tahun 2007 naik menjadi 266 juta dolar AS, dan tahun 2008 ditarget tumbuh 7 persen. Hingga pertengahan tahun (per Juni 2008), kata dia, total ekspor pemkab sudah mencapai 122 juta dolar AS. Dia berharap, akhir tahun bisa mencapai dua kali lipatnya.
Pemerintah Kota (Pemkot) Malang juga mulai melirik pasar ekspor non-AS yang selama ini belum tergarap dengan maksimal. "Kami sudah melakukan pendekatan-pendekatan, termasuk negosiasi dengan negara tujuan melalui kedutaan dan perdagangan luar negeri. Bahkan, kami juga mulai mengkaji komoditas yang selama ini dipasok ke AS juga ditawarkan pada negara lain (non-AS)," kata Kepala Bidang Perdagangan Disperindagkop Kota Malang, Penny Indriani.
Negara tujuan ekspor Kota Malang sebanyak 33 negara, dan AS menjadi negara tujuan produk terbesar tiga perusahaan, yakni PT Niki Joyo yang menghasilkan kerajinan emas dan perak, PT Mulya Jaya Plastisindo yang menghasilkan rajutan plastik dan PT Bestwood yang mengekspor furniture. Volume ekspor Kota Malang selama dua tahun terakhir juga meningkat. Pada tahun 2006 senilai 25 juta dolar AS menjadi 28 juta dolar AS. Pada tahun 2008 dipatok naik sekitar 10 persen dari tahun 2007.
Sedangkan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang terkenal sebagai gudang tekstil akan berupaya mengalihkan pasar ekspor tekstilnya ke Jepang, India dan negara-negara Timur Tengah. "Selama ini Amerika Serikat memang merupakan pasar utama atau pasar terbesar ekspor tekstil DIY. Karena itu, untuk menghindari kerugian di kalangan industri tekstil di provinsi ini, maka pasar ekspornya akan dialihkan dari Amerika ke beberapa negara lain," kata Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) DIY Koesdarto Pramono, yang dikutip ANTARA.
Jika pasar ekspor tidak dialihkan, dikhawatirkan akan merugikan industri tekstil di DIY, sehingga pada akhirnya bisa terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap karyawan perusahaan tekstil. "Kondisi seperti itu jangan sampai terjadi, sehingga perlu diantisipasi sejak sekarang," katanya.
Ia mengatakan perlu pula dirumuskan tata niaga baru pertekstilan, di antaranya dengan membuka pasar baru di sejumlah negara yang dianggap potensial. Dengan terjadinya krisis keuangan di AS, cepat atau lambat pasti negara tersebut akan mengurangi kuota impor berbagai komoditi termasuk tekstil. "Jika itu terjadi, tentu berdampak berkurangnya pendapatan di kalangan industri tekstil di provinsi ini," katanya.
Disperindagkop berharap kalangan industri tekstil di DIY mampu membuka peluang baru di pasar domestik dengan memperluas relasi, sehingga bisa menjadi alternatif untuk memperoleh pasar potensial agar kelangsungan industri tekstil tidak terganggu. "Ini yang perlu mendapat perhatian dan dicermati kalangan pengusaha tekstil di DIY," kata Koesdarto Pramono, yang belum bisa menyebutkan angka terakhir nilai maupun volume ekspor tekstil dari DIY.
KPO/EDISI 161/OKTOBER 2008
Pemerintah Kabupaten Malang, Jawa Timur, mulai membidik pasar ekspor berbagai komoditas unggulan, seperti hasil perkebunan dan perikanan ke negara non-AS dan dialihkan ke Timur Tengah (Timteng).
"Memang sekarang belum ada dampak langsung yang dirasakan pengekspor maupun pemkab. Namun, kami harus
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Malang, Ir. Syakur Kullu kepada ANTARA mengatakan pemerintah mulai memikirkan alternatif negara tujuan ekspor yang selama ini dominan dikirim ke negara "Paman Sam" itu.
Menurut Syakur, total volume ekspor berbagai komoditas dari Pemkab Malang ke-60 negara tujuan selama dua tahun terakhir ini menunjukkan peningkatan, yakni pada tahun 2006 nilai ekpsor mencapai 188 juta dolar AS, tahun 2007 naik menjadi 266 juta dolar AS, dan tahun 2008 ditarget tumbuh 7 persen. Hingga pertengahan tahun (per Juni 2008), kata dia, total ekspor pemkab sudah mencapai 122 juta dolar AS. Dia berharap, akhir tahun bisa mencapai dua kali lipatnya.
Pemerintah Kota (Pemkot) Malang juga mulai melirik pasar ekspor non-AS yang selama ini belum tergarap dengan maksimal. "Kami sudah melakukan pendekatan-pendekatan, termasuk negosiasi dengan negara tujuan melalui kedutaan dan perdagangan luar negeri. Bahkan, kami juga mulai mengkaji komoditas yang selama ini dipasok ke AS juga ditawarkan pada negara lain (non-AS)," kata Kepala Bidang Perdagangan Disperindagkop Kota Malang, Penny Indriani.
Negara tujuan ekspor Kota Malang sebanyak 33 negara, dan AS menjadi negara tujuan produk terbesar tiga perusahaan, yakni PT Niki Joyo yang menghasilkan kerajinan emas dan perak, PT Mulya Jaya Plastisindo yang menghasilkan rajutan plastik dan PT Bestwood yang mengekspor furniture. Volume ekspor Kota Malang selama dua tahun terakhir juga meningkat. Pada tahun 2006 senilai 25 juta dolar AS menjadi 28 juta dolar AS. Pada tahun 2008 dipatok naik sekitar 10 persen dari tahun 2007.
Sedangkan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang terkenal sebagai gudang tekstil akan berupaya mengalihkan pasar ekspor tekstilnya ke Jepang, India dan negara-negara Timur Tengah. "Selama ini Amerika Serikat memang merupakan pasar utama atau pasar terbesar ekspor tekstil DIY. Karena itu, untuk menghindari kerugian di kalangan industri tekstil di provinsi ini, maka pasar ekspornya akan dialihkan dari Amerika ke beberapa negara lain," kata Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) DIY Koesdarto Pramono, yang dikutip ANTARA.
Jika pasar ekspor tidak dialihkan, dikhawatirkan akan merugikan industri tekstil di DIY, sehingga pada akhirnya bisa terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap karyawan perusahaan tekstil. "Kondisi seperti itu jangan sampai terjadi, sehingga perlu diantisipasi sejak sekarang," katanya.
Ia mengatakan perlu pula dirumuskan tata niaga baru pertekstilan, di antaranya dengan membuka pasar baru di sejumlah negara yang dianggap potensial. Dengan terjadinya krisis keuangan di AS, cepat atau lambat pasti negara tersebut akan mengurangi kuota impor berbagai komoditi termasuk tekstil. "Jika itu terjadi, tentu berdampak berkurangnya pendapatan di kalangan industri tekstil di provinsi ini," katanya.
Disperindagkop berharap kalangan industri tekstil di DIY mampu membuka peluang baru di pasar domestik dengan memperluas relasi, sehingga bisa menjadi alternatif untuk memperoleh pasar potensial agar kelangsungan industri tekstil tidak terganggu. "Ini yang perlu mendapat perhatian dan dicermati kalangan pengusaha tekstil di DIY," kata Koesdarto Pramono, yang belum bisa menyebutkan angka terakhir nilai maupun volume ekspor tekstil dari DIY.
KPO/EDISI 161/OKTOBER 2008


0 komentar:
Posting Komentar