Kawasan Malioboro telah menjadi ikon wisata malam kota gudeg Yogyakarta. Karena itu Dinas Pariwisata Seni dan Budaya Kota Yogyakarta berencana lebih mengembangkan sekaligus membenahi wisata malam, khususnya yang berada di sepanjang Jalan Malioboro.
"Wisata malam di Malioboro akan dibenahi, termasuk wisata kuliner yaitu lesehan atau pentas-pentas seni yang diadakan di sudut-sudut Malioboro," kata Kepala Dinas Pariwisata Seni dan Budaya Kota Yogyakarta Hadi Muchtar, kepada ANTARA, Minggu (12/10).
Keseriusan pemerintah kota untuk menata Malioboro sehingga dapat lebih dikembangkan sebagai kawasan wisata malam yang lebih menarik, lanjut Hadi, ialah dengan menata lampu-lampu jalan. Penataan lampu jalan tersebut direncanakan berlangsung hingga akhir November. "Setelah kegiatan tersebut selesai, wajah Malioboro di waktu malam akan lain," katanya.
Selain membenahi wisata malam, Dinas Pariwisata Seni dan Budaya juga terus menginformasikan berbagai kalender event, seperti rencana kegiatan di Taman Sari atau Keraton Yogyakarta.
Pariwisata di Kota Yogyakarta menjadi lokomotif perekonomian karena menyumbang 38 persen dari total Pendapatan Asli Daerah (PAD), di antaranya dari pajak restoran atau hotel. "Karena menjadi lokomotif ekonomi, maka kami berharap seluruh elemen pariwisata di Yogyakarta dapat memberikan pelayanan yang baik kepada wisatawan yang berkunjung," katanya.
Pada 2008, Dinas Pariwisata Seni dan Budaya Kota Yogyakarta menargetkan jumlah wisatawan yang berkunjung sebanyak 1.450.000 wisatawan. Hingga akhir September sudah tercatat satu juta wisatawan, ditambah 100 ribu wisatawan selama 10 hari libur lebaran pada Oktober. "Masih ada waktu dari pertengahan Oktober hingga akhir tahun ini," sambung Hadi.
Kondisi wilayah di Kota Yogyakarta yang sempit bila dibanding kabupaten lain di propinsi DIY, membuat pemerintah harus memutar otak untuk memaksimalkan potensi yang ada karena peluang untuk menambah tempat wisata sangat kecil. "Yang bisa dilakukan sekarang adalah mengintensifkan tempat wisata yang ada, misalnya Pasar Klitikan yang ada di Pakuncen," katanya.
KPO/EDISI 161/OKTOBER 2008
"Wisata malam di Malioboro akan dibenahi, termasuk wisata kuliner yaitu lesehan atau pentas-pentas seni yang diadakan di sudut-sudut Malioboro," kata Kepala Dinas Pariwisata Seni dan Budaya Kota Yogyakarta Hadi Muchtar, kepada ANTARA, Minggu (12/10).
Keseriusan pemerintah kota untuk menata Malioboro sehingga dapat lebih dikembangkan sebagai kawasan wisata malam yang lebih menarik, lanjut Hadi, ialah dengan menata lampu-lampu jalan. Penataan lampu jalan tersebut direncanakan berlangsung hingga akhir November. "Setelah kegiatan tersebut selesai, wajah Malioboro di waktu malam akan lain," katanya.
Selain membenahi wisata malam, Dinas Pariwisata Seni dan Budaya juga terus menginformasikan berbagai kalender event, seperti rencana kegiatan di Taman Sari atau Keraton Yogyakarta.
Pariwisata di Kota Yogyakarta menjadi lokomotif perekonomian karena menyumbang 38 persen dari total Pendapatan Asli Daerah (PAD), di antaranya dari pajak restoran atau hotel. "Karena menjadi lokomotif ekonomi, maka kami berharap seluruh elemen pariwisata di Yogyakarta dapat memberikan pelayanan yang baik kepada wisatawan yang berkunjung," katanya.
Pada 2008, Dinas Pariwisata Seni dan Budaya Kota Yogyakarta menargetkan jumlah wisatawan yang berkunjung sebanyak 1.450.000 wisatawan. Hingga akhir September sudah tercatat satu juta wisatawan, ditambah 100 ribu wisatawan selama 10 hari libur lebaran pada Oktober. "Masih ada waktu dari pertengahan Oktober hingga akhir tahun ini," sambung Hadi.
Kondisi wilayah di Kota Yogyakarta yang sempit bila dibanding kabupaten lain di propinsi DIY, membuat pemerintah harus memutar otak untuk memaksimalkan potensi yang ada karena peluang untuk menambah tempat wisata sangat kecil. "Yang bisa dilakukan sekarang adalah mengintensifkan tempat wisata yang ada, misalnya Pasar Klitikan yang ada di Pakuncen," katanya.
KPO/EDISI 161/OKTOBER 2008


0 komentar:
Posting Komentar