Home » » Kambing Putih

Kambing Putih

Hidup adalah sebuah seni yang harus dinikmati dan dilakoni. Kita muncul di permukaan bumi ini adalah hasil dari sebuah persaingan yang dimenangkan oleh salah satu dari sejuta sperma sang ayah yang berjuang gigih untuk memperebutkan sebuah sel telur yang siap dibuahi dari sang ibu. Dan yang menang itu adalah kita yang berhasil hidup sekarang, setelah bersaing pula dalam kebengisan zaman, lingkungan dan penyakit. Lantas, di mana letak seninya? Apakah persaingan itu seni? Apakah kehidupan yang keras dan kejam itu seni? Apakah kesedihan dan penderitaan hidup itu seni?
Lho..! itu tergantung dari mana dan dengan kaca mata apa kita melihat. Kalau kita melihat hidup dari segi kegilaan, memang hidup itu gila. Kalau kita melihat hidup itu sedih, lucu, sadis, ataupun seni, ya memang demikianlah adanya. Semuanya tergantung dari cara kita memandang. Kalau demikian hidup itu gampang dong melakoninya, tinggal pakai saja kaca mata yang bagus dan yang baik-baik saja, sehingga kita bisa melakoni hidup dengan riang gembira. Ya, memang demikian sebaiknya, tapi susah menerapkannya. Entahlah, mengapa susah.
Kaca mata itu ada di dalam pikiran kita. Dia tidak dijual di emperan toko, di toko optik bergengsi atau di kios paranormal. Bagaimana kita berpikir tentang sesuatu, itulah kaca mata kita. Pikiran sangat dipengaruhi oleh lingkungan, pergaulan, bacaan dan wawasan. Berpikir berbeda artinya dengan berkeinginan. Banyak orang berkeinginan kaya tetapi tidak berpikir kaya. Banyak orang berkeinginan pintar tapi tidak berpikir pintar. Keinginan bersifat liar dan meluas, selalu ingin lebih dan lebih lagi. Pikiran menentukan sikap dan tindakan untuk diwujudkan. Keinginan mengharapkan sesuatu untuk diwujudkan, tanpa mempedulikan sikap dan tindakan yang mendukung. Dengan demikian jauh lebih gampang memiliki keinginan yang besar dibandingkan dengan memiliki pikiran yang besar, karena keinginan menuntut pola menyebar dan pikiran menuntut pola yang fokus.
Dua orang perempuan cantik berstatus mahasiswi memiliki cita-cita yang sama, yaitu menjadi orang kaya. Yang satu berkeinginan menjadi orang kaya, dan yang satu lagi berpikir sebagai orang kaya. Tentu saja dalam waktu dua puluh tahun hasilnya menjadi sangat berbeda. Perempuan yang berkeinginan menjadi orang kaya hidupnya kawin-cerai dengan duda kaya dan akhirnya hidup miskin menjanda. Perempuan yang berpikir sebagai orang kaya hidupnya bahagia dengan suaminya dan berhasil sebagai pengusaha. Pikiranlah yang menentukan hasil akhir untuk bersikap dan bertindak.
Karena keinginan itu sifatnya berubah-ubah dan melompat-lompat dari satu keinginan ke keinginan lainnya, maka kalau dituruti otak kita akan semakin pening dan badan semakin ceking. Contohnya, orang yang senang dunia gemerlap (dugem) akan terus berkeinginan melihat, berdansa, menyanyi dan nenggak alkohol ke dugem, bahkan sampai teler menginap di sana. Keinginan itu akan terus muncul setiap mendengar musik, melihat tarian atau mencium bau alkohol. Tentu saja keadaan ini akan semakin merunyam jika setiap ke dugem kita juga rajin nenggak narkoba dan ada lonte seksi yang memberikan servis plus. Pastilah pikiran kita meloncat-loncat tidak karuan, seperti kunyuk merindukan bulan. Si kunyuk capek sendiri berjingkrak-jingkrak semalaman mengharapkan dekapan bulan, sedangkan Sang Bulan tetap saja ngeloyor pergi tak peduli. Wahh..! Capek deh..!
Seorang artis ganteng Roy Marten tertangkap polisi dan dijebloskan ke penjara oleh hakim gara-gara ikut pesta shabu-shabu. Karena dianggap sudah kapok dan bertobat akibat hukuman jeruji besi sembilan bulan, dia ditokohkan menjadi orang yang menang melawan setan shabu-shabu. Dia menjadi orang yang sibuk diundang menjadi pembicara sebagai orang yang telah sadar dari jerat narkoba dan berusaha menyebarkan kesadarannya melalui pengalaman dan jalan hidupnya. Dia menjadi langganan pak polisi untuk berseminar tentang bahaya narkoba. Suatu hari dia ditangkap saat teler nyabu di sebuah hotel setelah habis seminar. Dengan seyum tidak bersalah dia mengatakan bahwa dirinya terjebak lagi. Waduh...! Siapa yang percaya dengan hati selicik ular?
Ibarat orang yang ketagihan rokok, alkohol, narkoba atau maniak seks, mereka tidak mau menyalahkan dirinya sendiri sebagai sumber penyakit. Untuk berkelit dan membenarkan diri mungkin sangat tepat orang menyalahkan rokok, alkohol, narkoba atau si lonte sebagai penyebabnya dia terjerumus. Menyalahkan faktor di luar diri sendiri untuk mencari pembenaran disebut sebagai metode kambing hitam. Dengan menunjuk kambing hitam mereka menjadi bebas dari tanggung jawab yang seharusnya diselesaikannya sendiri. Seorang murid yang goblok sering menjadikan gurunya dan mata pelajarannya sebagai kambing hitam, karena gurunya tidak bisa mengajar, atau karena pelajarannya susah. Demikian juga pada karyawan yang bermasalah sering menunjuk temannya atau bosnya yang bermasalah. Untuk sementara waktu metode kambing hitam ini cocok digunakan untuk melarikan diri dari tanggung jawab. Tapi dalam jangka panjang metode ini tidak cocok lagi diterapkan, karena belangnya pasti ketahuan, yaitu kesalahan ada pada dirinya sendiri.
Sebenarnya kesalahan itu ada di mana? Kalau kita pecandu narkoba apakah narkobanya yang salah? Kalau kita rajin selingkuh, apakah alat kelamin kita yang salah. Misalkan saja, jika ingin negara kita aman dari perselingkuhan, bagaimana kalau kita sama-sama memotong alat kelamin dan menjarit lubangnya rame-rame, sehingga kita menjadi tenang dan damai tidak disibukkan oleh alat yang satu itu? Tentu saja kalau itu semua dilakukan, maka dunia akan berhenti berputar, kehilangan semangat produksi, kreativitas dan inovasi. Semuanya menjadi memble, ogah-ogahan dan stres berkepanjangan, gara-gara anunya dikebiri dan disumpal. Dan kalau kita mau berhenti mencari kambing hitam yang letaknya ada di luar diri kita sendiri, maka sudah sepantasnyalah kita sekarang belajar mencari kambing putih, yaitu diri kita sendiri.
Kesalahan ada di dalam diri sendiri yang berpusat di dalam pikiran kita. Karena pikiran kita yang salah yang mengantar kita pada jurang kesalahan. Dengan pikiran yang positif kita akan mengembangkan sikap mental positif, demikian juga sebaliknya. Dengan sikap mental positif kita mendapatkan sisi-sisi positif dari berbagai hal negatif yang kita dapatkan. Sisi-sisi positif itulah yang memicu perkembangan diri kita menjadi makhluk yang lebih berkualitas dan berprestasi.
Di sinilah letak seni menjalani hidup, yaitu bisa melakukan instrospeksi diri, melihat kesalahan dan kegagalan sebagai sebuah proses menuju kebenaran. Bisa menertawai kegagalan dan kebodohan kita sendiri sebagai sebuah proses menjadi makhluk yang lebih bijaksana. Bisa melihat hal-hal yang lucu dalam gelagat keprihatinan yang mendongkolkan. Dengan seni ini kita tidak menjadi stres menjalani kekacauan dan ketidak-pastian hidup, tapi justru menjadikan hidup lebih bergairah dan mengasyikkan. Kita harus sabar dan bijaksana menyikapi perbedaan, karena perbedaan itu ada di dalam pikiran yang berbeda, yang bisa mewarnai kehidupan dengan hasil yang berbeda pula.
Bagaimana caranya agar pikiran kita bisa fokus ke hal-hal yang bermanfaat untuk mengembangkan diri? Kita harus rajin membersihkan hati dan pikiran kita dengan ilmu dan iman, terus merenung dan bertanya ke dalam diri, mencari kesalahan dan penyebab kesalahan yang ada di dalam diri dan berusaha terus menerus memperbaikinya, mencari kambing putih yang ada di dalam diri, bukannya kambing hitam yang ada di luar diri. Dengan cara itulah kita bisa berkembang sebagai makhluk ke tingkat yang lebih tinggi.

KPO/EDISI 140/2007

Thanks for reading Kambing Putih

« Previous
« Prev Post
Next »
Next Post »

0 komentar:

Posting Komentar