Oleh: I Ketut Sutika
Mata uang dolar yang dibelanjakan wisawatan asing di Bali belum dirasakan ribuan warga provinsi itu. Masih banyak desa pada delapan kabupaten dan kota di Bali yang disebut sebagai kantong kemiskinan. Kantong-kantong kemiskinan sebagian besar dihuni para petani, peternak maupun nelayan yang bermukim di daerah pesisir, meskipun sebagian besar kawasan pantai Bali berkembang menjadi kawasan wisata dengan sarana dan prasarana pendukung yang memadai. Puluhan hotel dan restoran yang berjejer di sepanjang pantai, dengan berbagai atraksi wisata yang menjadi daya tarik pelancong, tidak menyentuh kesejahteraan masyarakat sekitar.
Daerah wisata ternyata menyimpan keluarga miskin yang tidak berdaya dalam bidang ekonomi, tutur Gubernur Bali Made Mangku Pastika. Pria kelahiran Sanggalangit, Buleleng, 58 tahun silam itu mengatakan, hingga kini Bali masih memiliki 147.044 rumah tangga miskin, sebagian besar petani, peternak dan nelayan.
Mantan Kepala Pelaksana Badan Narkotika Nasional (BNN) yang dipercaya mengendalikan Bali sejak 28 Agustus 2008 itu telah melakukan berbagai terobosan dengan sasaran memberdayakan keluarga miskin. Antara lain, merangkul seluruh badan, dinas dan jajaran di Bali. Terobosan yang diambil bisa menuntaskan masalah kemiskinan di Bali, yaitu dengan meningkatkan pendapatan masyarakat dua kali lipat dari 2009.
Pendapatan masyarakat Bali kini rata-rata sebesar Rp 11,18 juta setahun, dapat ditingkatkan menjadi Rp 22,5 juta pada 2013. Terobosan yang dilakukan itu antara lain mengucurkan dana penguatan modal bagi usaha kecil menengah (UKM), membantu kegiatan usaha skala rumah tangga dan koperasi sebesar Rp 8,5 miliar.
Dana dari APBD Bali itu disimpan di Bank Pembangunan Daerah (BPD) untuk disalurkan lima kali lipat kepada mereka yang membutuhkan bantuan modal. Penyaluran kredit berbunga ringan, yakni 6% setahun, tanpa anggunan, itu dibatasi Rp 5 juta per orang untuk mengembangkan usaha yang bergerak dalam bidang pertanian, perikanan, dan peternakan, maupun industri kecil dan kerajinan rumah tangga.
Tidak Sulit
Guru Besar Universitas Udayana Prof Dr Dewa Ngurah Suprapta mendukung tekad Gubernur Bali Made Mangku Pastika meningkatkan pendapatan dua kali lipat masyarakat Bali. Sebenarnya tidak sulit meningkatkan pendapatan dan mensejahterakan petani Bali, kata dia, jika hasil pertanian dalam arti luas dapat diserap secara maksimal oleh restoran dan hotel berbintang yang bertaburan di daerah itu. ‘’Kalau saja restoran dan kalangan hotel berbintang mau menyerap hasil-hasil pertanian dengan harga yang memadai, itu akan mampu meningkatkan penghasilan dan kesejahteraan petani jauh lebih baik,’’ ujar Direktur Program Pascasarjana Unud.
Meski hasil pertanian Bali, seperti aneka jenis buah, sayur, ikan, dan daging sapi belum memenuhi standard internasional, kalangan pariwisata setempat harus mempunyai kemauan dan keberanian menyajikan hasil petani tersebut kepada wisatawan asing. Keberanian menampilkan Bali apa adanya, termasuk produk pertanian, kata dia, harus dirintis dan diupayakan dalam perkembangan pariwisata ke depan.
Wisatawan yang datang dari berbagai negara ingin melihat Bali seutuhnya, mulai dari alam, aktivitas budaya sampai pada hasil-hasil pertanian sekaligus menikmatinya, bukan menikmati menu makanan dan minuman seperti di negaranya. Hal itu perlu mendapat perioritas mengingat produk pertanian yang dihasilkan petani Bali selama ini sulit menembus restoran dan hotel berbintang, katanya, padahal akomodasi pariwisata itu membutuhkan hasil pertanian untuk memenuhi kebutuhan wisatawan.
Hingga kini, belum banyak hotel berbintang dan restoran yang mempunyai komitmen untuk membantu petani dan pertanian di Bali, dengan alasan mutu dan kesinambungan pasokan tidak memadai. ‘’Hasil pertanian di negara manapun sangat dipengaruhi musim, tidak bisa dikuasai dan diatur sepenuhnya oleh manusia sesuai keinginannya, tetapi manusialah yang menyesuaikan dengan iklim," ujar Prof Dewa Suprapta.
Untuk itu sangat mengada-ada atau berlebihan jika pihak hotel dan restoran minta pasokan mangga dengan mutu yang sama sepanjang tahun, kata dia, padahal musim mangga hanya sekali dalam setahun. Itu menunjukkan, betapa tidak paham dan tidak mengertinya kalangan pengelola hotel dan restoran di Bali tentang pertanian. Seharusnya apapun yang dihasilkan petani, itulah yang disuguhkan kepada wisatawan.
Gubernur Pastika menyatakan keyakinannya mampu meningkatkan pendapatan petani Bali dua kali lipat tahun 2013 karena alam Bali yang subur, SDM yang berani bersaing serta cepat menyerap dan menerapkan teknologi. ‘’Kuncinya hanya mau bekerja keras, tanpa putus asa, sehingga sasaran meningkatkan pendapatan dua kali lipat bukan sebuah impian, namun dapat diwujudkan menjadi sebuah kenyataan,’’ katanya.
Fakta itu dapat terekam di Kelompok Tani Ternak Werdi Gopala Desa Pucak Sari, Subak Abian Eka Manik Merta Desa Sepang Kelod, Busungbiu, serta Kelompok Tani Ternak Niki Sato di Desa Sanggalangit, Gerokgak, Kabupaten Buleleng. Anggota kelompok yang menekuni usaha ternak sapi dengan sistem tumpang sari tanaman kopi mampu meningkatkan pendapatan dari Rp 5,7 juta pada 2005 jadi Rp 15,5 pada 2008. (Anspek)
KORAN PAK OLES/EDISI 173/16-30 APRIL 2009
Mata uang dolar yang dibelanjakan wisawatan asing di Bali belum dirasakan ribuan warga provinsi itu. Masih banyak desa pada delapan kabupaten dan kota di Bali yang disebut sebagai kantong kemiskinan. Kantong-kantong kemiskinan sebagian besar dihuni para petani, peternak maupun nelayan yang bermukim di daerah pesisir, meskipun sebagian besar kawasan pantai Bali berkembang menjadi kawasan wisata dengan sarana dan prasarana pendukung yang memadai. Puluhan hotel dan restoran yang berjejer di sepanjang pantai, dengan berbagai atraksi wisata yang menjadi daya tarik pelancong, tidak menyentuh kesejahteraan masyarakat sekitar.
Daerah wisata ternyata menyimpan keluarga miskin yang tidak berdaya dalam bidang ekonomi, tutur Gubernur Bali Made Mangku Pastika. Pria kelahiran Sanggalangit, Buleleng, 58 tahun silam itu mengatakan, hingga kini Bali masih memiliki 147.044 rumah tangga miskin, sebagian besar petani, peternak dan nelayan.
Mantan Kepala Pelaksana Badan Narkotika Nasional (BNN) yang dipercaya mengendalikan Bali sejak 28 Agustus 2008 itu telah melakukan berbagai terobosan dengan sasaran memberdayakan keluarga miskin. Antara lain, merangkul seluruh badan, dinas dan jajaran di Bali. Terobosan yang diambil bisa menuntaskan masalah kemiskinan di Bali, yaitu dengan meningkatkan pendapatan masyarakat dua kali lipat dari 2009.
Pendapatan masyarakat Bali kini rata-rata sebesar Rp 11,18 juta setahun, dapat ditingkatkan menjadi Rp 22,5 juta pada 2013. Terobosan yang dilakukan itu antara lain mengucurkan dana penguatan modal bagi usaha kecil menengah (UKM), membantu kegiatan usaha skala rumah tangga dan koperasi sebesar Rp 8,5 miliar.
Dana dari APBD Bali itu disimpan di Bank Pembangunan Daerah (BPD) untuk disalurkan lima kali lipat kepada mereka yang membutuhkan bantuan modal. Penyaluran kredit berbunga ringan, yakni 6% setahun, tanpa anggunan, itu dibatasi Rp 5 juta per orang untuk mengembangkan usaha yang bergerak dalam bidang pertanian, perikanan, dan peternakan, maupun industri kecil dan kerajinan rumah tangga.
Tidak Sulit
Guru Besar Universitas Udayana Prof Dr Dewa Ngurah Suprapta mendukung tekad Gubernur Bali Made Mangku Pastika meningkatkan pendapatan dua kali lipat masyarakat Bali. Sebenarnya tidak sulit meningkatkan pendapatan dan mensejahterakan petani Bali, kata dia, jika hasil pertanian dalam arti luas dapat diserap secara maksimal oleh restoran dan hotel berbintang yang bertaburan di daerah itu. ‘’Kalau saja restoran dan kalangan hotel berbintang mau menyerap hasil-hasil pertanian dengan harga yang memadai, itu akan mampu meningkatkan penghasilan dan kesejahteraan petani jauh lebih baik,’’ ujar Direktur Program Pascasarjana Unud.
Meski hasil pertanian Bali, seperti aneka jenis buah, sayur, ikan, dan daging sapi belum memenuhi standard internasional, kalangan pariwisata setempat harus mempunyai kemauan dan keberanian menyajikan hasil petani tersebut kepada wisatawan asing. Keberanian menampilkan Bali apa adanya, termasuk produk pertanian, kata dia, harus dirintis dan diupayakan dalam perkembangan pariwisata ke depan.
Wisatawan yang datang dari berbagai negara ingin melihat Bali seutuhnya, mulai dari alam, aktivitas budaya sampai pada hasil-hasil pertanian sekaligus menikmatinya, bukan menikmati menu makanan dan minuman seperti di negaranya. Hal itu perlu mendapat perioritas mengingat produk pertanian yang dihasilkan petani Bali selama ini sulit menembus restoran dan hotel berbintang, katanya, padahal akomodasi pariwisata itu membutuhkan hasil pertanian untuk memenuhi kebutuhan wisatawan.
Hingga kini, belum banyak hotel berbintang dan restoran yang mempunyai komitmen untuk membantu petani dan pertanian di Bali, dengan alasan mutu dan kesinambungan pasokan tidak memadai. ‘’Hasil pertanian di negara manapun sangat dipengaruhi musim, tidak bisa dikuasai dan diatur sepenuhnya oleh manusia sesuai keinginannya, tetapi manusialah yang menyesuaikan dengan iklim," ujar Prof Dewa Suprapta.
Untuk itu sangat mengada-ada atau berlebihan jika pihak hotel dan restoran minta pasokan mangga dengan mutu yang sama sepanjang tahun, kata dia, padahal musim mangga hanya sekali dalam setahun. Itu menunjukkan, betapa tidak paham dan tidak mengertinya kalangan pengelola hotel dan restoran di Bali tentang pertanian. Seharusnya apapun yang dihasilkan petani, itulah yang disuguhkan kepada wisatawan.
Gubernur Pastika menyatakan keyakinannya mampu meningkatkan pendapatan petani Bali dua kali lipat tahun 2013 karena alam Bali yang subur, SDM yang berani bersaing serta cepat menyerap dan menerapkan teknologi. ‘’Kuncinya hanya mau bekerja keras, tanpa putus asa, sehingga sasaran meningkatkan pendapatan dua kali lipat bukan sebuah impian, namun dapat diwujudkan menjadi sebuah kenyataan,’’ katanya.
Fakta itu dapat terekam di Kelompok Tani Ternak Werdi Gopala Desa Pucak Sari, Subak Abian Eka Manik Merta Desa Sepang Kelod, Busungbiu, serta Kelompok Tani Ternak Niki Sato di Desa Sanggalangit, Gerokgak, Kabupaten Buleleng. Anggota kelompok yang menekuni usaha ternak sapi dengan sistem tumpang sari tanaman kopi mampu meningkatkan pendapatan dari Rp 5,7 juta pada 2005 jadi Rp 15,5 pada 2008. (Anspek)
KORAN PAK OLES/EDISI 173/16-30 APRIL 2009


0 komentar:
Posting Komentar