Pengguna narkotika dan obat-obatan berbahaya (narkoba) kalangan remaja usia sekolah semakin mengkhawatirkan. ‘’Setiap tahun, pengguna narkoba meningkat sekitar 15 persen,’’ kata Kepala Bidang Pencegahan Badan Narkotika Provinsi (BNP) Jawa Tengah (Jateng), Agus Ali usai semiloka Advokasi Pencegahan, Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN) bagi Kepala Sekolah di Semarang, Selasa.
Menurut Agus, sebagian besar pengguna narkoba adalah remaja usia sekolah, sehingga pihaknya berencana untuk membahas permasalahan itu dengan pihak sekolah. ‘’Daerah di Jateng yang paling rawan peredaran narkoba adalah Semarang dan kota pelabuhan seperti Tegal dan Cilacap,’’ kata Agus.
‘’Dalam semiloka tahap pertama ini, kami mengundang sebanyak 60 kepala sekolah tingkat SLTP-SMU baik negeri dan swasta se-Kota Semarang, namun jumlah peserta justru melebihi kapasitas undangan,’’ katanya.
Hal tersebut, katanya, membuktikan bahwa penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar sudah sangat meresahkan. "Mereka (para pelajar) adalah sasaran empuk para pengedar narkoba, sebab mereka sedang dalam proses pencarian jatidiri sehingga mudah terjerumus dalam penyalahgunaan narkoba," katanya.
Semiloka tersebut untuk sosialisasi kepada pihak sekolah terutama para kepala sekolah yang paling bertanggung jawab terhadap proses pendidikan di sekolah. Dengan penyalahgunaan narkoba, tentu proses pembelajaran menjadi terhambat. Kepala Bidang Monitoring dan Pengembangan (Kabid Monbang) Dinas Pendidikan Kota Semarang, Nana Storada mengatakan, sosialisasi pertama yang paling efektif dilakukan di sekolah.
Dalam semiloka tahap pertama, pihak-pihak yang terkait akan bekerja sama dalam merumuskan dan mengusahakan agar materi tentang narkoba masuk dalam kurikulum pendidikan. Materi bisa dimasukkan dalam muatan lokal atau disisipkan dalam mata pelajaran agama atau pendidikan kewarganegaraan (PKN). Selain narkoba, kata Nana, dalam materi tersebut bisa ditambah masalah HIV dan kesehatan reproduksi. Upaya itu melibatkan BNP, Badan Narkotika Kota (BNK) dan Granat.
KORAN PAK OLES/EDISI 173/16-30 APRIL 2009
Menurut Agus, sebagian besar pengguna narkoba adalah remaja usia sekolah, sehingga pihaknya berencana untuk membahas permasalahan itu dengan pihak sekolah. ‘’Daerah di Jateng yang paling rawan peredaran narkoba adalah Semarang dan kota pelabuhan seperti Tegal dan Cilacap,’’ kata Agus.
‘’Dalam semiloka tahap pertama ini, kami mengundang sebanyak 60 kepala sekolah tingkat SLTP-SMU baik negeri dan swasta se-Kota Semarang, namun jumlah peserta justru melebihi kapasitas undangan,’’ katanya.
Hal tersebut, katanya, membuktikan bahwa penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar sudah sangat meresahkan. "Mereka (para pelajar) adalah sasaran empuk para pengedar narkoba, sebab mereka sedang dalam proses pencarian jatidiri sehingga mudah terjerumus dalam penyalahgunaan narkoba," katanya.
Semiloka tersebut untuk sosialisasi kepada pihak sekolah terutama para kepala sekolah yang paling bertanggung jawab terhadap proses pendidikan di sekolah. Dengan penyalahgunaan narkoba, tentu proses pembelajaran menjadi terhambat. Kepala Bidang Monitoring dan Pengembangan (Kabid Monbang) Dinas Pendidikan Kota Semarang, Nana Storada mengatakan, sosialisasi pertama yang paling efektif dilakukan di sekolah.
Dalam semiloka tahap pertama, pihak-pihak yang terkait akan bekerja sama dalam merumuskan dan mengusahakan agar materi tentang narkoba masuk dalam kurikulum pendidikan. Materi bisa dimasukkan dalam muatan lokal atau disisipkan dalam mata pelajaran agama atau pendidikan kewarganegaraan (PKN). Selain narkoba, kata Nana, dalam materi tersebut bisa ditambah masalah HIV dan kesehatan reproduksi. Upaya itu melibatkan BNP, Badan Narkotika Kota (BNK) dan Granat.
KORAN PAK OLES/EDISI 173/16-30 APRIL 2009


0 komentar:
Posting Komentar