Limbah tulang dan tanduk di Rumah Potong Hewan (RPH) Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB) memiliki nilai ekonomis tinggi terutama bagi para perajin. ‘’Untuk itu, puluhan kilogram limbah tulang dan tanduk produksi RPH Mataram langsung dibeli oleh perajin untuk disulap menjadi berbagai jenis aksesoris menarik,’’ kata Kabid Peternakan, Dinas Pertanian, Kelautan dan Perkikanan Kota Mataram, Diyan Riatmoko di Mataram.
Berbagai kerajinan yang terbuat dari tulang dan tanduk seperti kalung, liontin, gelang, anting dan pernak-pernik disuguhkan bagi wisatawan baik asing maupun nusantara. Perajin mampu mengolah limbah tulang dan tanduk untuk dijadikan uang yang nilainya puluhan juta rupiah, yang sekaligus dapat meningkatkan sekejahteraan masyarakat terutama perajin. ‘’Limbah kulit dijadikan kerupuk kulit dengan harga untuk kulit psapi jantan Rp 20.000 per kg sementara kulit sapi betina lebih murah Rp 10.000 per kg karena lebih tipis," katanya.
Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan setempat, H. Marzuki Sahaz menjelaskan, di daerah ini banyak sentra kerajinan selain sentra kerajinan tanduk dan tulang juga kotak antik. Produksi kotak antik bisa mencapai dua hingga tiga set per minggu jika dikerjakan oleh dua orang, harganya bervariasi antara Rp 300.000 sampai Rp 2 juta per set. ‘’Hasil kerajinan cukli dan kotak antik serta tulang dan tanduk dijual ke luar negeri melalui Bali dan Subayara, karena NTB hingga kini belum memiliki pelabuhan ekspor,’’ katanya.
Dengan diekspornya berbagai jenis kerajinan NTB termasuk Kota Mataram dari Bali dan Surabaya, maka yang mendapat nama bukan NTB tetapi daerah.
"Jumlah usaha formal tercatat 1.235 unit dan non formal 175 sentra sementara potensi seluruhnya mencapai 4.054 unit dan ini masih perlu dikembangkan dengan menyerap 10.432 tenaga kerja. Akhir 2008 sekitar 300 perajin termasuk perajin cukli dan kotak antik diberi bantuan berupa alat produksi modern.
KORAN PAK OLES/EDISI 173/16-30 APRIL 2009
Berbagai kerajinan yang terbuat dari tulang dan tanduk seperti kalung, liontin, gelang, anting dan pernak-pernik disuguhkan bagi wisatawan baik asing maupun nusantara. Perajin mampu mengolah limbah tulang dan tanduk untuk dijadikan uang yang nilainya puluhan juta rupiah, yang sekaligus dapat meningkatkan sekejahteraan masyarakat terutama perajin. ‘’Limbah kulit dijadikan kerupuk kulit dengan harga untuk kulit psapi jantan Rp 20.000 per kg sementara kulit sapi betina lebih murah Rp 10.000 per kg karena lebih tipis," katanya.
Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan setempat, H. Marzuki Sahaz menjelaskan, di daerah ini banyak sentra kerajinan selain sentra kerajinan tanduk dan tulang juga kotak antik. Produksi kotak antik bisa mencapai dua hingga tiga set per minggu jika dikerjakan oleh dua orang, harganya bervariasi antara Rp 300.000 sampai Rp 2 juta per set. ‘’Hasil kerajinan cukli dan kotak antik serta tulang dan tanduk dijual ke luar negeri melalui Bali dan Subayara, karena NTB hingga kini belum memiliki pelabuhan ekspor,’’ katanya.
Dengan diekspornya berbagai jenis kerajinan NTB termasuk Kota Mataram dari Bali dan Surabaya, maka yang mendapat nama bukan NTB tetapi daerah.
"Jumlah usaha formal tercatat 1.235 unit dan non formal 175 sentra sementara potensi seluruhnya mencapai 4.054 unit dan ini masih perlu dikembangkan dengan menyerap 10.432 tenaga kerja. Akhir 2008 sekitar 300 perajin termasuk perajin cukli dan kotak antik diberi bantuan berupa alat produksi modern.
KORAN PAK OLES/EDISI 173/16-30 APRIL 2009


0 komentar:
Posting Komentar