Tumpek Uduh: Cara Orang Bali Hormati Tumbuhan

thumbnail
Guru besar Univesitas Udayana Prof Dr Ir Dewa Ngurah Suprapta mengingatkan, orang Bali sangat menghargai aneka jenis tumbuh-tumbuhan, karena mampu memberikan manfaat dan kehidupan bagi umat manusia maupun aneka jenis satwa lain. ‘’Begitu hormatnya orang Bali terhadap tumbuh-tumbuhan, setiap hari Tumpek Uduh (Bubuh) yang jatuh 210 hari sekali menggelar kegiatan ritual, yang khusus dipersembahkan bagi tumbuh-tumbuhan,’’ kata Prof Dewa Suprapta yang juga Kepala Laboratorium Biopestisida Fakultas Pertanian Unud di Denpasar.
Ia mengatakan, umat Hindu di Bali pada Tumpek Uduh mempersembahkan rangkaian korban suci (upakara) yang salah satu komponennya adalah bubuh sumsum, --bubur dari tepung ketan yang diberi warna hijau alami dari daun kayu sugih, ditaburi parutan kelapa dan gula merah. ‘’Tumpek Uduh, bukan hari untuk menyembah tumbuh-tumbuhan. Namun untuk memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa, agar melalui tumbuh-tumbuhan umat manusia bisa diberikan kemakmuran dan keselamatan, terhindar dari berbagai bencana,’’ ujar Prof Suprapta.
Ia menambahkan, tumbuh-tumbuhan dengan sistem perakaran yang ada, memegang partikel tanah dan menutupi permukaan tanah, sehingga saat musim hujan permukaan tanah terhindar erosi. ‘’Bisa dibayangkan bagaimana parahnya erosi dan longsor, jika seluruh permukaan tanah tidak ditutupi oleh tumbuh-tumbuhan. Dalam satu musim hujan saja, bagian tanah atas yang subur akan tergerus oleh aliran air,’’ katanya.
Namun dengan dengan adanya perakaran tumbuhan yang masuk jauh ke dalam tanah, memungkinkan sebagian air di saat musim hujan masuk dan tersimpan di dalam tanah. Air yang tersimpan dalam tanah itu akan dilepaskan secara bertahap di saat musim kemarau, sehingga ketersediaan air berkesinambungan sepanjang tahun.
Keberadaan tumbuh-tumbuhan dalam satu kawasan tertentu sangat membantu mencegah erosi dan banjir pada musim hujan dan mencegah kekeringan di musim kemarau.
Dengan demikian keberadaan tumbuh-tumbuhan di alam, tidak hanya memberi hidup dan manfaat bagi umat manusia, namun juga memberikan kehidupan terhadap berbagai jenis makluk hidup lain. Berbagai jenis burung, serangga, kupu-kupu dan hewan lainnya sangat tergantung pada keberadaan tumbuh-tumbuhan. ‘’Tumbuh-tumbuhan sangat bermakna bagi kehidupan di alam, selain memberikan kehidupan dan manfaat kepada umat manusia, juga kepada berbagai jenis makhluk hidup lainnya di alam ini,’’ tambah Prof Suprapta.
Koran Pak Oles/Edisi 169/16-28 Februari 2009

Orientasi Pers: Corong Suara Rakyat

thumbnail
Pers dalam gelanggang pergulatan kenegaraan adalah pahlawan rakyat. Meski saat ini lembaga pers telah dikelola dalam manajemen modern sebagai industri yang berorientasi profit. Tugas pers tak pernah berubah sebagai corong membawa suara rakyat bukan suara investor. Mengingat pers banyak didirikan para jutawan ataupun investor yang sekedar mencari posisi sosial tertentu di tengah masyarakat.
Itulah peran humanis pers lintas jaman yang tak pernah tergusur oleh kekuasaan maupun ideologi tertentu. Ketua Komisi I DPR RI, Theo L Sambuaga mengatakan, posisi dan peran pers nasional betul-betul strategis, sehingga amat diharapkan membangun demokrasi yang santun, beradab serta menjadi pers berwajah humanis.
"Dalam kaitan ini, maka rekan-rekan jurnalis di berbagai media (cetak, elektronik maupun `on-line`) seyogianya semakin sensitif dengan tuntutan serta kehendak hati nurani rakyat yang kini semakin mendambakan suasana anti konflik, damai serta sejahtera," ujarnya.
Pemberitaan yang berbasis `civic jurnalism` dan lebih intens memperjuangkan kepentingan rakyat banyak, lanjutnya, merupakan harapan lain seluruh masyarakat Indonesia. "Mungkin kita perlu mengingatkan terus, karenanya relasi positif antar pers dan publik harus terus dibangun. Hindarilah pendiktean atas nama pemilik modal, penguasa atau mereka yang cenderung menjadikan media sebagai sarana pencitraan pribadi, penonjolan keakuan, sementara kepentingan mayoritas yang butuh sentuhan, kurang mendapat prioritas," kata Theo Sambuaga.
Secara terpisah, seorang aktivis Partai Karya Perjuangan (Pakar Pangan), Angelina Singgiling, mengatakan, pers memang perlu lebih banyak memberitakan kebenaran ketimbang kejahatan. "Karena, kebenaran yang tidak terorganisasi apalagi jarang diekspos, akan dapat dikalahkan oleh kejahatan yang terorganisasi dan pinter memanfaatkan media demi pencitraan diri," tegasnya.
Makanya, Angelina Singgiling berharap, media harus menghindar dari berbagai kejahatan yang terorganisasi itu, dengan lebih memberi dirinya sebagai alat perjuangan kebenaran rakyat banyak.
Koran Pak Oles/Edisi 169/16-28 Februari 2009

Pers Indonesia Masih Idealis

thumbnail
7 Desember Hari Kalangwang Pers
Pers Indonesia masih ada yang memegang idealismenya sampai saat ini, ungkap sejarawan senior Anhar Gonggong. "Saya lihat pers masih menjaga idealismenya, buktinya masih banyak teman-teman saya yang bertahan menjadi wartawan, seperti Rosihan Anwar," kata Anhar Gonggong dalam seminar Penelusuran Pers Perjuangan Indonesia pada acara Konvensi Media Massa Se-Indonesia sebagai rangkaian Hari Pers Nasional di Jakarta.
Dalam masa perjuangan, Anhar mengatakan pers dan media massa mempunyai peran penting dalam menyebarkan ide berbangsa, bersatu sebagai bangsa baru dengan nama Indonesia dan juga menunjukkan betapa landasan idealisme merupakan penguat utama menuju dan menjadi Indonesia.
Setelah merdeka yaitu pada kurun 1945 -1950, pers berperan sebagai kekuatan untuk mempertahankan kemerdekaaan dengan munculnya surat kabar Merdeka pimpinan B.M Diah, Pedoman pimpinan Rosihan Anwar dan Indonesia Raya pimpinan Mochtar Lubis.
Sejalan dengan perkembangan teknologi, Anhar melihat pers tidak hanya berfungsi konvensional menyebarkan berita, teapi juga memasuki fungsi ekonomi. "Dalam perkembangannya, fungsi pers yang memasuki lembaga ekonomi itu, terdapat ruang terbuka yang dapat menggoyahkan idealisme pers," kata dosen UI itu.
Pada posisi tersebut, idealisme pers bisa menjadi taruhan bila fungsi ekonomi lebih menguat yang menyebabkan fungsi konvensional melemah. "Jika pers nasional tetap mempunyai komitmen untuk menjadi kekuatan utama, salah satu kekuatan di dalam proses mempertahankan dan mengkonsolidasikan demokrasi, maka hal itu akan tetap menjadi penopang untuk mempertahankan idealismenya," tambahnya.
Sedangkan pengamat sejarah pers, Taufik Zahren mengatakan profesi wartawan yang memberitakan kebenaran diturunkan dari tradisi kelompok "kalangwang" asal kata `kalangan` pada abad ke-14. "Kalangwang merupakan sekelompok orang yang suka keindahan dan kebenaran, dimana mereka mendominasi pada abad ke-14," katanya.
Taufik Zahren menjelaskan kalangwang mempunyai tradisi antara lain selalu bicara tentang publik, bicara tentang tatanan pemerintah atau negara, punya rasa keadilan dan kerinduan terhadap kebenaran.
Taufik juga mengusulkan agar setiap 7 Desember yang merupakan tanggal meninggalnya RM Tirto Adisuryo -- wartawan pertama Indonesia-- ditetapkan sebagai Hari Kalangwang Pers.
Koran Pak Oles/Edisi 169/16-28 Februari 2009

Setelah Rusia, Indonesia Gencar Beritakan Pornografi

thumbnail
Pakar komunikasi dari Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung Prof.Deddy Mulyana menilai Pers di Indonesia sedang mencari jati diri karena masih mengalami masa transisi pasca reformasi.
Bukti Pers Indonesia masih mencari jati diri seperti pemberitaan media saat ini seperti kebablasan, karena pers seperti baru lepas dari kerangkeng, katanya kepada Antara. "Pers kita masih mengalami geger budaya mengenai kebebasan", ucapnya terkait Hari Pers Nasional (HPN) 9 Februari 2009.
Bahkan Pers Indonesia saat ini jauh lebih bebas jika dibandingkan dengan pers luar negeri, misalnya dalam pornografi. Pada 2006 media pers di Indonesia menjadi urutan kedua setelah Rusia dalam pemberitaan pornografi.
Hal ini terkait dengan nilai berita mengenai seksualitas yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan pemberitaan yang lain yang lebih mendidik. Pemerintah saat ini belum bisa mengontrol lembaga pers, dan pers pun belum memiliki kontrol sendiri. Padahal pers adalah alat kontrol sosial. "Pers hingga saat ini seolah-olah masih berada di atas angin", kata Deddy Mulayana.
Dalam menjalankan fungsi pers, media di Indonesia cenderung lebih menampilkan informasi yang bersifat yang hiburan daripada informasi yang bersifat mendidik, khususnya media massa elektronik. "Saya lebih optimis terhadap media massa cetak dalam menjalankan fungsi pers daripada media massa elektronik" katanya.
Hal itu disebabkan karena masyarakat yang membaca jauh lebih intelek daripada hanya sekedar melihat gambar. Ini juga terkait dengan tujuan penciptaan televisi yaitu sebagai media hiburan. Padahal, secara umum, pers bertujuan untuk mencerdaskan masyarakat. "Antara pers, masyarakat dan pemerintah, ibarat lingkaran setan. masing-masing harus introspeksi diri terhadap konsekuensi fungsi", katanya.
Meskipun, Pers saat ini masih dalam proses dalam menjalankan fungsinya sebagai pilar ke empat demokrasi.
Koran Pak Oles/Edisi 169/16-28 Februari 2009

Pers Guru Bangsa

thumbnail
Sejak zaman dahulu pers sebenarnya sudah sangat berperan untuk menjadi guru bangsa. "Siapa pun paham bahwa peran pers amat besar bagi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara," kata Walikota Depok, Nur Mahmudi Ismail.
Ia mengatakan jika saja pers tidak memosisikan diri sebagai guru bangsa yang akan memberikan pelajaran berharga bagi masyarakat dari proses demokrasi ini, maka bisa jadi, seluruh kegiatan pesta demokrasi seperti pilcaleg, pilpres dan pilkada tidak akan berjalan dengan kondusif. "Tidak sedikit karir seseorang menanjak karena dukungan pemberitaan pers. Sebaliknya tidak sedikit pula yang jatuh `terbunuh` oleh pemberitaan pers," jelasnya.
Mantan menteri kehutanan dan perkebunan era pemerintahan Abdurahman Wahid tersebut mengatakan tak dapat dipungkiri bahwa pers kini sudah menjadi sebuah industri yang begitu besar dengan peralatan yang modern dan sumber daya manusia (SDM) yang luar biasa juga.
Dikatakannya terlepas masih ada kekurangan, namun yang jelas, kondisi sekarang sangat jauh berbeda dari pers masa lalu ketika pers masih sebagai alat perjuangan dan mempertahankan kemerdekaan.
Ia mencontohkan, ketika semua mata masyarakat tengah terbius dan terus ingin menyaksikan seluruh media yang menyajikan berita tentang perkembangan Palestina, beragam perasaan, opini dan aksi timbul di masyarakat semuanya termotivasi karena pemberitaan pers.
Pers seharusnya selalu berpijak pada kode etik yang menjadi "kitab suci" wartawan dalam bertindak, tanpa harus berhenti mengritik. Karena mengritik, mengawasi, mengingatkan, memberikan saran terhadap berbagai kebijakan dan tindakan yang merugikan kepentingan umum adalah sebagian dari peran utama pers.
Semua pekerja pers harus menyadari bahwa dirinya tidak ubahnya sebagai guru yang berperan untuk mendidik masyarakat. "Kehadiran pers sangat penting dalam rangka meningkatkan kualitas masyarakat dalam semua aspek kehidupan berbangsa dan bernegara," katanya.
Untuk itu, kata dia idealnya, pers berdiri di atas kepentingan semua pihak, bukan hanya masyarakat, apalagi penguasa atau bahkan pemilik modal. Posisi ini yang kerap menjadikan media pers sebagai sasaran tarik ulur kepentingan pragmatis.
Bagi proses demokratisasi, kata mantan presiden PKS tersebut, media pers adalah katalisator berlangsungnya komunikasi antar aktor demokrasi.
Melalui saluran pers yang tidak memihak, berbagai kepentingan demokratisasi disuarakan, saat mana saluran-saluran partisipasi masyarakat bagi demokratisasi kini mengalami gejala ketidakpercayaan publik. "Sesungguhnya, telah datang kesempatan bagi kalangan insan pers untuk membuktikan bahwa mereka juga layak disebut sebagai aktor demokrasi yang sesungguhnya," katanya.
Koran Pak Oles/Edisi 169/16-28 Februari 2009

Langkah Nyata Cegah Kriminalisasi Pers

thumbnail
Perlu ada langkah nyata untuk memperkuat kemerdekaan pers dan mencegah kriminalisasi atas karya jurnalistik. Menurut Wakil Ketua Dewan Pers, Leo Batubara, perlu ada program-program untuk mencegah kriminalisasi pers salah satunya dengan mengefektifkan Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 13 tahun 2008.
Surat Edaran MA tersebut berisi agar dalam penanganan perkara-perkara yang terkait delik pers hendaknya majelis hakim mendengar/meminta keterangan saksi ahli dari Dewan Pers.
Menurut Leo, surat edaran tersebut sejalan dengan ketentuan UU Pers. Oleh karena itu, pihaknya menyatakan tertantang untuk mengupayakan agar Polri dan Kejaksaan untuk turut pula mengindahkan ketentuan UU Pers tersebut. "Untuk mencegah kriminalisasi pers juga perlu ada upaya kerjasama Dewan Pers, organisasi pers, dan asosiasi hakim," katanya.
Kerja sama tersebut harus bersepakat untuk memberlakukan kasus fitnah dan pencemaran nama baik dalam pekerjaan jurnalistik tidak lagi sebagai perkara pidana melainkan sebagai perkara perdata dengan ancaman denda yang proporsional.
Leo mencontohkan, negara di Amerika Latin, Kostarika, belum melindungi pers merdeka tetapi asosiasi pers dan asosiasi hakim di negara itu bersepakat tidak mengkriminalisasi pers dalam pekerjaan jurnalistik.
Untuk mengoptimalkan kemerdekaan pers pihaknya juga berupaya untuk meningkatkan kerjasama dengan aparat penegak hukum. "Dewan Pers juga membangun sadar kenal kalangan pers, penyelenggaraan negara, politisi, pengusaha, dan masyarakat bahwa pemberlakuan pidana denda proporsional terhadap media yang menghakimi sesuai dengan UU Pers," katanya.
Selain itu, untuk mencegah kriminalisasi pers perlu pula diupayakan langkah-langkah untuk memperjuangkan amandemen pasal 28 UUD 1945. Menurut dia, agar kemerdekaan pers kokoh maka diperlukan patung hukum berstatus constitutional right. "Harus pula memperjuangkan reformasi politik hukum negara dari mengkriminalisasi pers hasil pekerjaan jurnalistik menjadi mendekriminalisasi pers," katanya.
Ia menekankan bahwa politik hukum kriminalisasi pers melumpuhkan fungsi kontrol pers, at the cost of the people dan hanya untuk melindungi elite bangsa yang bermasalah.
Koran Pak Oles/Edisi 169/16-28 Februari 2009

Iklan Sembako Murah Rugikan Petani

thumbnail
Iklan sembako murah yang ditayangkan di beberapa stasiun televisi lebih banyak merugikan petani dan peternak, karena produk yang dihasilkan dengan biaya mahal akan dibeli dengan harga murah. Guru besar Ilmu Ekonomi Produksi Fakultas Peternakan (Fapet) Universitas Brawijaya (Unibraw) Malang, Prof Dr Budi Santoso, Kamis (5/2) menyatakan, dengan adanya program maupun iklan sembako murah, membuat petani malas untuk produksi lebih banyak.
‘’Sekarang untuk apa produksi tinggi kalau pada akhirnya hanya dibeli dengan harga murah dan hasil penjualan tak mampu menutup biaya produksi. Sikap petani ini justru akan mendatangkan kerugian yang lebih besar bagi ketahanan pangan Indonesia. Karena itu, seharusnya iklan yang merugikan petani segera dihentikan agar tidak berpengaruh terhadap petani termasuk peternak untuk berproduksi lebih baik guna memenuhi ketersediaan daging, telur maupun susu di Indonesia,‘’ jelas Prof Santoso.
Menyinggung produksi sektor peternakan di Indonesia, Budi mengakui, masih jauh dari harapan, sehingga tetap mengandalkan impor untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, khususnya daging sapi dan susu. Selain pola peternakan yang rata-rata masih bersifat tradisional dengan skala kecil yakni antara 1-4 ekor/peternak, kata ketua program studi sosial ekonomi Fapet Unibraw itu, kualitas pakan dan genetik ternak di Indonesia belum memenuhi standar nutrisi ternak, sehingga yang dihasilkanpun juga rendah.
Ternak yang dihasilkan peternak, seperti dilansir Antara juga belum berorientasi pada pasar, dan ada kecenderungan hanya untuk memenuhi kebutuhan keluarga, sehingga harus ada kebijakan peningkatan jumlah ternak yang dipelihara. Usaha peternakan rakyat harus diubah paradigma dari sistem budidaya (on-farm) menjadi lebih terintegrasi dan komprehensif, yakni agribisnis yang didukung penuh para pengusaha.
Agar pengembangan agribisnis tersebut dapat meningkatkan daya saing produk sekaligus melibatkan peternak menengah ke bawah, perlu adanya strategi pengelolaan, di antaranya integrasi vertikal yang dikelola secara profesional oleh perusahaan swasta.
Integrasi vertikal yang dilakukan peternak secara bersama-sama yang tergabung dalam wadah atau organisasi lain serta kemitraan. ‘’Kalau ketiga alternatif pengelolaan ini bisa direalisasikan salah satu saja, saya yakin produksi peternakan maupun pertanian yang mendukung sektor peternakan akan mampu berkembang pesat, dan secara perlahan ketergantungan pada produk impor bisa ditinggalkan,’’ tegas Prof Santoso.
Koran Pak Oles/Edisi 169/16-28 Februari 2009

Garut Diminta Bangun Industri Pertanian

thumbnail
Deputi Menko Perekonomian Bidang Industri dan Perdagangan, Edy Putra Irawady mengharapkan Pemda Garut agar membangun industri berbasis pertanian. Pemda harus berkreatif dan berinovasi mengemas kerajinan berbahan baku kulit bahkan menyuplai sarung bantal berbasis akar wangi, katanya di Cipanas Garut, Rabu (12/2).
Kekuatan ekonomi nasional berawal dari daerah. Garut juga merupakan bagian dari pasar global yang patut memiliki jaminan ekspor yang kekuatannya terletak pada kebijakan eksekutif, kata Irawady pada lokakarya pemberdayaan industri pariwisata dan UMKM. Karena itu kebijakan pengamanan imbas krisis keuangan global patut dilakukan melalui instrumen stimulus fiskal meski bersifat sementara.
Pengamanan pasar dan trade financing (pembiayaan) dengan kredit ekspor yang kredibel pada UMKM yang memiliki prospek pembayaran. Sinkronisasi program percepatan pengembangan ekonomi Garut, selain memanfaatkan potensi juga modalitas nama Garut yang dikenal sejak lama. Garut hendaknya fokus pada pengembangan pariwisata dan industri utama yang memiliki kompetensi inti. Selain itu memanfaatkan kapasitas pelaku dan kewirausahaan, yang masih terkendala kelemahan kualitas SDM sehingga diperlukan profesional training katanya dihadapan lebih dari 150 peserta lokakarya dari berbagai kalangan.
Koran Pak Oles/Edisi 169/16-28 Februari 2009

Perlu Dirubah Kebijakan Politik Pertanian

thumbnail
Sri Sultan Hamengku Buwono X menilai, politik pembangunan pertanian di Indonesia harus berubah, agar petani mendapatkan kemakmuran, karena selama ini petani selalu dalam kondisi yang tidak berdaya. ‘’Perubahan pertanian dari yang berorientasi peningkatan produksi ke agrobisnis,’’ kata Sri Sultan dalam kuliah umum, Pembangunan Pertanian Berbasis Kearifan Lokal Untuk Menghadapi Pasar Global Demi Kemakmuran Rakyat" di Kantor Pusat Universitas Jember, Jawa Timur.
Politik pembangunan pertanian di Indonesia perlu dirubah, agar ekonomi petani dapat diberdayakan dan ditingkatkan, karena ada tiga masalah besar yang dihadapi para petani yakni lemahnya modal sosial, tingginya angka kemiskinan dan jumlah kerusakan sumber daya pertanian yang meningkat. ‘’Visi pembangunan pertanian tahun 2025 yang sesuai adalah pertanian pedesaan yang berdaya saing tinggi,’’ katanya.
Sri Sultan menyatakan, ada lima elemen sosio-budaya utama yang harus dikembangkan, yakni kompetensi sumber daya manusia (SDM), kepemimpinan lokal, tata nilai, keorganisasian dan manajemen, usaha tingkat desa dan struktur sosial berbasis penguasaan sumberdaya agraria. Pemerintah dan petani harus berani merubah kebijakan politik Indonesia.
Sri Sultan juga menawarkan konsep revitalisasi pertanian seperti yang diterapkan di Thailand dan sistem Teikei di Jepang, yang dinilainya patut dijadikan panutan Indonesia dalam pembangunan pertanian. Selama tidak ada upaya restorasi yang serius, percuma bicara tentang swa sembada pangan dan kesejahateraan rakyat, tegasnya.
Selama menjadi narasumber dalam kuliah umum, Sultan tidak berbicara dan menyinggung tentang politik kepada peserta seminar yang diikuti ratusan dosen dan mahasiswa di Unej. Saat ditanya tentang itu, Sultan mengaku, bisa menempatkan antara menjadi narasumber dan berkampanye sehingga tidak membabi buta melakukan kampanye politik. ‘’Saya tahu diri dan tidak sembarangan melakukan kampanye. Anda bisa mendengar materi saya tadi, tidak sedikitpun menyinggung masalah politik,’’ katanya.
Koran Pak Oles/Edisi 169/16-28 Februari 2009

Kudus Kekurangan Tenaga Penyuluh Pertanian

thumbnail
Kabupaten Kudus, Jawa Tengah masih kekurangan tenaga penyuluh pertanian, meski sudah ada 62 orang. Idealnya, jumlah tenaga penyuluh pertanian untuk Kudus 110 orang sesuai luas areal, kataujar Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Kudus, Budi Santoso di Kudus awal Februari. Berdasarkan catatan Dinas Ppertanian luas areal tanam musim tanam (MT) I saja mencapai 19.920 hektare. Sebanyak 62 orang tenaga penyuluh itu terdiri atas 41 tenaga berstatus pegawai negeri sipil (PNS) dan 21 orang berstatus penyuluh harian lepas (PHL).
Keterbatasan tenaga penyuluh tersebut mengakibatkan pembinaan terhadap para petani masih kurang maksimal. ‘’Terutama, pembinaan terhadap penggunaan pupuk agar tidak terlalu fanatik dengan pupuk urea saja,’’ ujarnya.
Padahal dalam rangka untuk meningkatkan hasil produksi padi, petani harus mencoba pupuk yang tidak mengganggu kesuburan tanahnya. Untuk mengatasi keterbatasan tenaga penyuluh pertanian itu, pihaknya kini mengajukan tenaga tambahan ke pemerintah sebanyak 45 orang sebagai PHL. ‘’Mudah-mudahan pemerintah merealisasikannya, mengingat kita memang membutuhkan,’’ ujarnya.
Honor yang diterima tenaga penyuluh berstatus PHL, setiap bulannya sekitar Rp250 ribu. Jumlah tersebut biasanya masih bisa bertambah, mengingat dari Dinas Pertanian setempat juga menyiapkan anggaran lain untuk itu.
Budi mengatakan, dana operasional tenaga penyuluh pertanian berasal dari Pemerintah Pusat. Selain menambah jumlah tenaga penyuluh, Dinas Pertanian Kudus jgua berupaya meningkatkan kualitas tenga penyuluh itu dengan memberikan diklat, buku-buku yang menunjang pengetahuannya tentang pertanian dan sejumlah referensi lain. Apalagi, tenaga penyuluh pertanian akan dibentuk menjadi Unit Pelaksana Teknis (UPT) penyuluh pertanian. ‘’Yang jelas, kualitas penyuluh pertanian harus lebih baik dibanding tahun-tahun sebelumnya. Setidaknya petani juga dapat menikmati kemajuan dalam pengolahan pertaniannya,’’ tukasnya.
Koran Pak Oles/Edisi 169/16-28 Februari 2009

Kuta Pertahankan Sawah Pertanian

thumbnail
Kawasan Kuta di Bali yang menjadi daerah tujuan wisata dengan sarana dan prasarana pendukung berupa restoran dan hotel dari berbagai kelas diharapkan juga mampu bertahan sebagai daerah pertanian. ‘’Lahan sawah yang ada hendaknya tetap dapat dipertahankan di tengah pesatnya perkembangan pariwisata Kuta," harap Bupati Badung Anak Agung Gede Agung, didampingi Wabup I Ketut Sudikerta, Sekda Badung I Wayan Subawa ketika bertatap muka dengan masyarakat Kuta.
Tatap muka yang dihadiri Camat, Lurah, Perbekel, Bendesa Adat dan tokoh-tokoh masyarakat itu dirangkai dengan penyerahan surat keputusan pengangkatan pegawai negeri sipil (PNS) bagi lima sekretaris desa di wilayah tersebut. Bupati Gede Agung mengharapkan, lahan persawahan yang masih tetap bertahan dapat diolah dan ditanami komoditi pertanian sehingga mendukung daerah lainnya di Kabupaten Badung untuk mempertahankan ketahanan pangan.
Badung yang masih memiliki lahan pertanian cukup luas mampu memanfaatkan secara maksimal agar meraih penghargaan dari pemerintah pusat berkat ketahanan pangan 5% melampaui sasaran. Dalam bidang kesehatan menurut Bupati Gde Agung selain memperbaiki fisik gedung Puskesmas Induk maupun puskesmas pembantu termasuk sarana prasarananya, dalam 2009 telah mengalokasikan dana APBD untuk pengadaan sepeda motor bagi seluruh Bidan puskesmas.
Fasilitas sepeda motor juga diberikan kepada seluruh Perbekel dan Lurah di wilayah kabupaten Badung. Tatap muka dengan masyarakat Kuta merupakan yang keempat, setelah sebelumnya dilaksanakan di Kuta Selatan, Kuta dan Petang. Semangat gotong royong yang dilakukan masyarakat dalam membersihkan lingkungan masing-masing sangat besar manfaatnya untuk kemajuan bersama. Pemkab Badung untuk mendukung dalam bidang kebersihan mengangkat lima orang petugas kebersihan di setiap desa/kelurahan.
Koran Pak Oles/Edisi 169/16-28 Februari 2009

Organisasi Lokal Kunci Atasi Krisis Pangan

thumbnail
Institut Internasional untuk Lingkungan dan Pembangunan (IIED) menyatakan, krisis pangan di seluruh dunia akan semakin parah kecuali organisasi skala kecil diberikan peran penting dalam menentukan bagaimana dan di mana bahan pangan bisa dibuat dan didistribusikan.
Dalam siaran pers yang diterima Antara, International Institute for Environment and Development. di Denpasar menyebut, peringatan itu dihasilkan setelah para perwakilan pemerintahan dan sejawat berdialog di Madrid pada 26-27 Januari lalu, dalam forum Pertemuan Tingkat Tinggi Bagi Keamanan Pangan Untuk Semua. ‘’Konferensi Madrid tentang keamanan pangan lebih didominasi oleh institusi agribisnis, finansial internasional dan lembaga perdagangan, kata Direktur Program Keberlanjutan Agrikultur, Biodiversitas dan Mata Pencaharian IIED, Michel Pimbert.
Produser pangan skala kecil diberi ruang seluas mungkin untuk menunjukkan bagaimana mereka dan organisasi lokalnya, membuat sekitar 80 persen dari total produksi pangan dunia, melestarikan biodiversitas, dan lingkungan. Publikasi Pimbert itu mengombinasikan tulisan dan foto serta video untuk menekankan betapa organisasi lokal sangat penting untuk menjamin keberlanjutan sistem pangan, lingkungan dan mata pencaharian. ‘’Kelompok-kelompok lokal seperti ini paling tepat ditempatkan untuk membangun kebijakan dan institusi yang diperlukan bagi pemerintahan untuk memberi akses kepada pangan dan sistem pangan lokal,’’ katanya dalam siaran pers itu. Publikasi IIED bagian dari rangkaian publikasi maya yang dinamakan Menuju Kedaulatan Pangan. Memperbaiki Sistem Pangan Otonom.
Menurut IIED, bagian-bagian terbaru itu meliputi perempuan petani yang termarginalisasi secara kolektif di lahan kering India, yang berinisiatif mengelola sistem distribusi publik alternatif berdasarkan pertanian yang menyandarkan diri pada kekayaan biodiversitas. Tema lain adalah eco-villages di Skotland, --organisasi lokal mengelola sistem manajemen pangan, energi dan air terintegrasi untuk mengurangi impak terhadap lingkungan dan mempertinggi kualitas hidup manusia.
Koran Pak Oles/Edisi 169/16-28 Februari 2009

14.216 Ha Lahan Kritis Di Bojonegoro Dihijaukan

thumbnail
Lahan kritis seluas 14.216 ha milik masyarakat di BOjonegoro, Jawa Timur, diproyeksikan semuanya sudah rampung dihijaukan dengan ditanami dengan berbagai macam jenis tanaman pada 2012. Kadis Kehutanan dan Perkebunan Bojonegoro, Subowo kepada Antara, Sabtu (14/2) menjelaskan, pola penanaman tanah milik masyarakat yang kritis tersebut dilakukan bersama dengan Perhutani di masing-masing wilayah.
Lahan kritis milik masyarakat di Kecamatan Malo, pola kerja samanya dengan Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Parengan, Tuban, yang daerah administrasi kawasan hutan di wilayah itu, sedangkan di Kecamatan Padangan, dengan KPH Padangan, juga KPH Bojonegoro dan KPH Ngawi.
Dalam pola penanaman lahan kritis milik masyarakat tersebut, Perhutani yang menyediakan bibit dan masyarakat yang merawat sekaligus memetik hasilnya. Melihat kondisi tanah di Bojonegoro, paling cocok tanaman jati. Pola kerja sama penanaman lahan kritis tersebut, menindaklanjuti nota kesepahaman yang sudah ditandatangani Bupati Bojonegoro, Suyoto dengan Direktur Perum Perhutani, Upik Rosalina, di Surabaya beberapa hari yang lalu.
Menurut dia, dengan pola kerja sama tersebut, diproyeksikan seluruh lahan kritis di Bojonegoro milik masyarakat seluas 14.216 ha di 26 kecamatan di Bojonegoro secara bertahap pada tahun 2012 semuanya sudah ditanami. Tetapi dalam pola kerja sama menghutankan lahan kritis milik masyarakat di luar kawasan hutan tersebut, masih akan ditindaklanjuti dengan perjanjian kerja sama dengan Perhutani sesuai wilayah masing-masing. Data Dinas Kehutanan dan Perkebunan Bojonegoro, lahan kritis 14.216 ha, yang terluas di Kecamatan Ngasem 1.1992 ha, Kedungadem 1.690 ha, Kalitidu 1.296 ha, Temayang 892 ha, Baureno 891 ha dan wilayah lain sekitar 75-500 ha.
Sementara Kepala Bagian (Kabag) Humas dan Protokol Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro, Jhony Nurhariyanto menjelaskan, di dalam nota kesepahaman No.188/01/MOU/412.11/2009 dan No. 9/SI/DIR/2009 dengan isi tentang pengembangan wisata hutan rakyat dan usaha lainnya yang ditandatangani Bupati Bojonegoro, Suyoto dan Direktur Perum Perhutani, Upik Rosalina.
Selain menghutankan lahan kritis milik masyarakat, juga dijalin kerja sama untuk pengembangan wisata hutan, mulai wisata air di Kecamatan Dander, Kecamatan Sekar, penambangan minyak tradisionil di Kecamatan Kedewan, kawasan hutan wisata Watu Jago dan api abadi Kahyangan Api di Kecamatan Ngasem. ‘’Dalam tahap awal lokasi wisata yang akan dikembangkan yaitu kawasan wisata air di Kecamatan Dander, yang akan dikembangkan sebagai obyek wisata seperti Ciputra Waterpark,’’ katanya.
Koran Pak Oles/Edisi 169/16-28 Februari 2009

Belum Maksimal, Pengembangan Agrowisata Bali

thumbnail
Bali memiliki potensi besar dalam bidang pengembangan agrobisnis dan wisata agro yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal sebagai salah satu daya tarik wisatawan ke Bali, selain keunikan seni budaya. ‘’Agrobisnis dan wisata agro dengan berbagai jenis tanaman lokal unggulan dapat dikemas sedemikian rupa menjadi paket wisata untuk menambah daya tarik Bali,’’ kata praktisi dan pelaku pariwisata Bali, Bagus Sudibya menjawab Antara di Denpasar.
Menurut Sudibya, salah satu potensi wisata agro adalah ribuan bahkan ratusan ribu pohon salak yang tumbuh subur di Desa Sibetan, Kecamatan Bebandem, Kabupaten Karangasem, daerah ujung timur Pulau Bali, yang mampu memberikan kesan tersendiri bagi pelancong yang berkunjung ke sana. Pusat perkebunan salak pertama di Pulau Dewata itu sebenarnya sudah dirintis sebagai agrowisata sejak beberapa tahun silam, namun jumlah kunjungan wisatawan ke sana masih jauh dari harapan.
Alam pedesaan dengan lingkungan asri dan pemandangan alam yang menarik itu jauh dari polusi dan keramaian kota, 20 km dari kota Amlapura, ibukota Karangasem atau 80 km timur kota Denpasar dengan kondisi jalan aspal hotmix.
Sudibya menjelaskan, salak Bali mempunyai rasa lezat dan prospek pengembangan cukup bagus cerah dalam meningkatkan pendapatan petani, sekaligus mendukung pariwisata berwawasan lingkungan. Demikian pula dapat memanfaatkan potensi agribisnis dan wisata agro dengan tanaman lokal unggulan yang ada di masing-masing kabupaten/kota se-Bali. Jika hal itu dapat dikembangkan secara maksimal akan sangat mendukung pengembangan pariwisata Bali ke depan, ujarnya.
Di Afrika Selatan misalnya, wisatawan diajak berkunjung ke perkebunan anggur plus menyaksikan proses pembuatan anggur sambil mencicipi rasa anggur. Pola dan cara itu dapat diterapkan di Bali karena buah salak mulai diolah jadi minuman kemasan yang pemasarannya sudah tembus ke sejumlah negara.
Koran Pak Oles/Edisi 169/16-28 Februari 2009

Kesuksesan Wiraswasta Berkat Networking

thumbnail
Kunci sukses seorang wiraswasta sebanyak 85 persen dipengaruhi oleh networking dan juga kepercayaan orang lain untuk berbisnis dan membangun usaha. Modal berupa finansial atau uang itu tidak terlalu bisa bertahan lama. “Yang paling dominan itu adalah kepercayaan orang lain dan jaminan," kata Direktur Utama BNI, Gatot Mudiantoro Suwondo.
Menurut Gatot M Suwondo, secara umum kesuksesan seorang wiraswasta itu ditentukan oleh hubungannya dengan orang lain dan bagaimana kepercayaan seseorang untuk membangun usaha bisnis dengannya.
Jaringan tersebut bisa diperoleh dengan banyak berteman dan mengenal siapa saja, jadi penting dalam hal ini seorang wiraswasta harus supel dalam bergaul.
Gatot yang mendapat gelar sarjana akuntansi di Universitas Mindanao State University, Marawi City, Filipina ini ini mengatakan, hal lain yang mempengaruhi kesuksesan wiraswasta itu yakni pendidikan dan berdoa. "Pendidikan itu penting, namun tidak terlalu berpengaruh karena kita lihat juga banyak pengusaha sukses dan berhasil tetapi tidak mempunyai tingkat pendidikan yang tinggi, seperti tamat perguruan tinggi," katanya.
Dia mengatakan, banyak pengusaha sukses yang tidak punya pendidikan tinggi, tetapi mereka bisa sukses dengan bekerja lebih keras dua atau tiga kali dibanding orang yang punya pendidikan.
Terkait pentingnya pendidikan tersebut menurut Gatot, berfungsi membentuk pola pikir untuk membangun usaha atau bisnis ke depannya. Selain itu, dia juga mengingatkan dalam membangun usaha seseorang harus percaya diri mengambil suatu resiko dan keputusan guna kemajuan usaha. "Percaya diri itu penting dan jangan mudah terpengaruh omongan orang lain terutama dalam mengambil keputusan," katanya dikutip Antara.
Koran Pak Oles/Edisi 169/16-28 Februari 2009

Beternak Ayam Jadi Bidang Studi Mulok

thumbnail
Beternak ayam menjadi bidang studi muatan lokal (Mulok) di SMP Hidayatul Yaqin, Desa Bajang, Kecamatan Pakong, Pamekasan, Madura, Jawa Timur. Menurut guru bidang studi keterampilan, Dedy Priyanto, memilih beternak ayam sebagai pelajaran tambahan di sekolah itu, karena sesuai dengan kebutuhan lingkungan. Apalagi lokasinya memang di daerah pedesaan. "Muatan lokal sebagaimana yang ditetapkan Dinas Pendidikan ada dua, yakni bahasa daerah dan keterampilan. Kami pilih keterampilan beternak ayam, karena menurut hemat kami sangat sesuai dengan kondisi dan kebutuhan warga disini," kata Dedy Priyanto kepada Antara.
Materi pelajaran yang disampaikan, menurut Dedy yang juga dosen di salah satu perguruan tinggi swasta di Pamekasan itu, meliputi teori dan praktik. Seperti pengetahuan tentang teknik pemeriharaan dan mencari peluang pasar. "Praktiknya, nanti kami masih mengupayakan membuatkan kandang tak jauh dari sekolah. Tempat sudah ada, yakni tanah milik yayasan dan sekarang tinggal pembangunan kandangnya," kata Dedy menjelaskan.
Ia yakin dengan adanya kurikulum muatan lokal berupa keterampilan beternak ayak seperti itu, nantinya akan jauh lebih bermanfaat bagi para siswanya dibanding jenis muatan lokal lainnya. "Soalnya kalau keterampilan teknik informasi dan komputer (TIK) sudah ada. Disamping itu kami menginginkan para siswa ini nantinya memiliki tanggungjawab moral mengembangkan perekonomian di desa melalui keterampilan yang mereka miliki sebagai bekal hidup bermasyarakat," katanya.
Hanya saja, kata Dedy, yang menjadi kendala pihak sekolah ialah dana. Saat ini lembaganya masih mencari dukungan dana dari para orang tua siswa dan sumbangan sukarelawan dari para dermawan di Pamekasan.
Mulok keterampilan beternak ayam seperti yang dilakukan SMP swasta di bawah naungan pondok pesantren asuhan K.H. Husni Tamrin ini, merupakan satu-satunya di Pamekasan, bahkan di Madura. "Sepengetahuan kami baru di SMP Hidayatul Yaqin ini. Kalaupun ada di tingkat perguruan tinggi, bukan di sekolah. Kami dinas terkait di lingkungan Pemkab Pamekasan bisa memberikan dukungan dana untuk pengembangan keterampilan peternakan ini," katanya.
Koran Pak Oles/Edisi 169/16-28 Februari 2009

Rumah “Fitnes” Barang Bekas Diserbu Pengunjung

thumbnail
Tidak semua orang dapat menyalurkan hobinya pada pusat-pusat kebugaran (fitnes center) yang umumnya memasang tarif yang cukup tinggi. Namun demikian, di Banjar Pemalukan, Desa Peguyangan, Denpasar, kini muncul rumah fitnes dengan aneka peralatan yang terbuat dari barang-barang bekas, yang tampak mulai diserbu peluhan pengunjung yang umumnya kurang mampu, demikian Antara melaporkan dari Denpasar.
Menurut beberapa pengunjung, rumah fitnes dengan alat kebugaran (fitnes) sederhana itu sejauh ini telah menjadi solusi bagi masyarakat yang hobinya tidak tersalurkan lewat rumah-rumah kebugaran mewah.
Adalah Muliawan, pemuda Banjar Pemalukan, Denpasar, yang mempunyai ide membuat alat fitnes sederhana dengan memanfaatkan barang-barang bekas yang ada di sekitar rumahnya itu. "Semua alat-alat fitnes saya buat sendiri memanfaatkan barang bekas yang ada di sekitar rumah," kata Muliawan, menjelaskan.
Dengan dibuatnya berbagai jenis alat fitnes sederhana seperti kerek, ban pres, dan barbel berbagai ukuran, diharapkan bisa mengajak pemuda di desanya untuk bisa melakukan tindakan positif dengan menyalurkan hobinya melalui olahraga ini. "Awalnya alat ini saya gunakan sendiri bersama keluarga, sekarang banyak peminat yang datang terutama para pemuda desa, anak kos dan pegawai yang tinggal di sekitar sini (Penguyangan),"tambahnya.
Bagi siapapun yang mengunakan alat fitnesnya, Muliawan mengaku tidak memunggut bayaran sepeser pun. "Setiap hari pengunjung yang datang ke sini bisa sampai 40 orang, mulai pagi sampai sore hari, biasanya yang ramai sore,"ungkapnya.
Ia merasa senang kegiatannya mendapat respon yang baik dari temanya, dan terus berupaya untuk menciptakan alat-alat fitnes yang lebih bagus walau harus dengan cara membeli. Untuk itu dirinya berharap ada pihak donatur ataupun dari pemerintah yang bisa memberikan bantuan modal atau peralatan fitnes di desanya itu.
Koran Pak Oles/Edisi 169/16-28 Februari 2009

Ciptakan Banyak Pengusaha

thumbnail
Guna menyerap tenaga kerja diperlukan banyak penciptaan pengusaha karena kalau sorang pengusaha menyerap 1000 tenaga kerja, maka bila diciptakan 6000 pengusaha saja akan menyerap 60 juta tenaga kerja, kata seorang usahawan nasional. "Kalau saja rotan harus dijual dalam bentuk barang jadi, tentu akan banyak pengusaha diciptakan," kata Ir. Sunoto pengusaha rotan pada bedah buku "Selamatkan Indonesia," karangan Mohammad Amien Rais di Cirebon.
Sunoto yang bertindak sebagai panelis dalam bedah buku tersebut, menjawab seorang peserta antara lain, mengatakan akibat rotan boleh dijual setengah jadi, maka pengusaha rotan di Cirebon banyak gulung tikar dan sekarang tinggal hanya 33 persen yang bertahan. "Padahal sekitar 90 persen rotan adalah milik Indonesia," katanya.
Ia mencontohkan, di Cina kerajinan funitur bisa menyerap sekitar 50 juta tenaga kerja, itu artinya sekitar 200 juta jiwa hidup dari sektor tersebut. Karena itu, sektor-sektor yang seharusnya menyerap tenaga kerja tersebut harus dilindungi, katanya.
Ditambahkannya, seorang temannya pengusaha ruetseliting mampu menyerap 1500 tenaga keja, belum lagi sektor papan dan pangan.
Sektor papan tercatat sekitar 140 item yang membutuhkan pabrik yang berarti akan lebih banyak menyerap tenaga kerja. Di bagian lain, ia mengatakan orang hendaknya cepat berubah pikiran tentang bencana seperti Lapindo menjadi berkah Lapindo. "Kalau kita berpikir bagaimana Lapindo dijadikan duit bukan hanya bencana, maka lumpur Lapindo tersebut bisa untuk membangun sekitar 50 ribu unit rumah. Manakala lumpur tersebut dijadikan batako," katanya.
Koran Pak Oles/Edisi 169/16-28 Februari 2009

Mahasiswa Berjiwa Wiraswastawan

thumbnail
Berstatus mahasiswa tidak berarti harus selalu berkutat dengan dunia kampus, sebab, peluang menjadi seorang wiraswastawan terbuka lebar bagi mahasiswa.
Adit, mahasiswa Semester VI Bahasa Inggris Universitas Diponegoro Semarang, kepada Antara mengatakan, dengan bekerja sambilan, seorang mahasiswa bisa lebih mengembangkan bakat bisnisnya.
Dia mengatakan dirinya saat ini tengah berusaha mengembangkan kemampuan di bidang bisnis dengan bekerja sambilan menjadi staff marketing sebuah distro dilingkungan kampus. "Dengan belajar bekerja seperti yang saya lakukan sekarang banyak manfaat yang bisa saya ambil. Selain menambah uang saku sehingga tidak terlalu bergantung pada orang tua, bekerja seperti ini juga sebagai investasi pribadi saya di masa yang akan datang," katanya.
Ia mengatakan, tidak perlu merasa malu karena hasil kerja itu kembali pada dirinya sendiri. Dirinya justru merasa bangga karena sudah bisa menghasilkan uang dengan jerih payahnya sendiri. "Sebenarnya setiap mahasiswa berpeluang untuk bisa menjadi wiraswastawan atau bekerja sambil kuliah, hanya saja jarang yang mau," katanya.
Berbeda dengan Adit, Bimbo, mahasiswa Fakultas Ekonomi Undip yang mempunyai distro dan factory outlet di dekat kampus membuka usahanya karena dukungan dana dari orangtua.
Dia menjelaskan, bisnis ini tidak hanya mengandalkan dana dari orangtua saja tetapi juga membutuhkan kemampuan dalam berwiraswasta, "Orangtua saya hanya memberikan modal awal, selebihnya saya yang menjalankan sekaligus bertanggung jawab pada distro itu," katanya.
Bahkan menurutnya bisnis seperti itu tidak hanya menguntungkan diri sendiri akan tetapi juga bisa membuka lapangan kerja untuk orang lain. "Sekarang saya merasa diri saya lebih berkembang dari sebelumnya, saya tidak tergantung lagi pada orang tua, bahkan saya sudah bisa menggaji orang lain yang bekerja di distro saya," katanya.
Menurut dia lingkungan sekitar kampus yang ramai sebenarnya memberikan banyak peluang bagi mahasiswa untuk berwiraswasta. Kejelian untuk melihat peluang harus dimiliki oleh mahasiswa sebelum memutuskan mulai berbisnis. "Bekerja sambilan memberi kesempatan pada mahasiswa untuk berinteraksi langsung dengan lingkungan, terlebih lagi saya bisa angsung mempraktekan ilmu ekonomi yang saya dapatkan di bangku kuliah pada saat bekerja," katanya.
Koran Pak Oles/Edisi 169/16-28 Februari 2009

Warteg Jadi Bisnis Semi Franchise

thumbnail
Usaha warung Tegal (warteg) sekarang banyak meningkat dalam sistem pemasaran, banyak di antaranya bahkan telah membuka cabang dengan "brand" yang sama seperti sistem franchise (waralaba) di Semarang.
Suharto (40), pemilik warteg di daerah Poncol, mengatakan kepada Antara, dirinya kini sudah mempunyai beberapa usaha warung serupa di Kota Semarang, selain di Poncol, warteg miliknya itu berada di Wonodri Baru, Sadewo, dan Sampangan.
"Saya tidak sendirian dalam mengelola warteg di Kota ini, saudara saya yang lain juga menjadi pengusaha warteg, bahkan jaringan bisnis keluarga ini telah memiliki 28 warung di Semarang," katanya.
Permulaan dibukanya beberapa cabang warteg pun hampir sama dengan bagaimana sistem franchise dimulai, keberhasilan usaha dari pemilik merek atau franchisorlah yang menjadi promotor awal, kemudian, franchisor akan menularkan keberhasilan usahanya kepada orang lain.
"Formula kesuksesan itulah yang membuat saudara-saudara saya tertarik juga menekuni usaha ini, mereka tertarik dengan pengalaman saya, hingga akhirnya sekarang mereka membuat warteg yang sama," katanya.
Bedanya bisnis warteg ini hanya menggunakan nama dan prosedur pemasaran yang sama dari pengelola awal (franchisor), sedangkan bisnis franchise benar-benar menggunakan semua fasilitas franchisor seperti nama, produk dan jasa, prosedur pemasaran, keahlian, sistem prosedur operasional, bahkan sampai fasilitas penunjang.
"Karena bisnis ini dijalankan oleh sesama saudara, paling-paling kami hanya berbagi menu dan resep masakan saja, sedangkan untuk urusan pengelolaan dan penjualan sendiri saya dan saudara-saudara saya bisa meniru satu sama lainnya," katanya menambahkan.
Hal yang sama juga dikatakan oleh Sanvita, pengelola dan pemilik warteg Sanvita yang juga mempunyai beberapa cabang di Semarang, dia mengatakan, bisnis ini tidak sepenuhnya menjalankan sistem seperti franchise.
"Paling-paling saya dan keluarga hanya bekerja sama untuk urusan tenaga kerja yang akan membantu berjualan dan juga masakan yang disediakan, tidak ada pembayaran nama warteg ataupun royalti untuk pemilik awal warteg seperti franchise pada umumnya," katanya menjelaskan.
Koran Pak Oles/Edisi 169/16-28 Februari 2009

Kerajinan Kotak Antik Usaha Turun Temurun

thumbnail
Kerajinan cukli dan kotak antik merupakan usaha rumah tangga yang telah turun temurun sejak ratusan tahun kini berhasil menembus pasar mancanegara. "Sebelumnya cukli dan kotak antik hanya dipasarkan untuk kebutuhan lokal, dalam beberapa tahun terakhir ini mulai diminta banyak negara," kata Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi, Kota Mataram, Drs. H. Marzuki Sahaz saat ditemui Antara.
Karena kerajinan cukli dan kotak antik merupakan hasil keturunan, maka hampir semua masyarakat dan anak-anak bisa membuat cukli dan kotak antik.
Bahkan anak-anak ikut membantu orang tuanya membuat kotak antik, tanpa melupakan sekolah, bahkan banyak anak-anak perajin di Sayang-Sayang kini telah menjadi sarjana.
Produksi kotak antik bisa mencapai dua hingga tiga set per minggu jika dikerjakan oleh dua orang, sementara harganya bervariasi antara Rp300.000-Rp2 juta per set. "Hasil kerajinan cukli dan kotak antik Sayang-Sayang dijual ke luar negeri melalui Bali dan Subayara, karena NTB hingga kini belum memiliki pelabuhan ekspor," katanya.
Dengan diekspornya berbagai jenis kerajinan NTB termasuk Kota Mataram dari Bali dan Surabaya, maka yang mendapat nama bukan NTB tetapi daerah tersebut.
Hasil kerajinan NTB dieskpor ke 28 negara seperti Belanda, Inggris, Australia, Amerika Serikat dan Selandi Baru. "Bahkan sejumlah negara seperti Belanda sering memesan kotak antik yang jumlahnya lebih dari 1.000 paket," katanya sambil menambahkan, untuk meningkatkan produksi sekalitas perajin Departemen Perindustrian memberikan bantuan alat produksi modern kepada 300 perajin di daerah ini termasuk perajin cukli dan kotak antik.
Koran Pak Oles/Edisi 169/16-28 Februari 2009


Borobudur Bisa Kalahkan Eiffel

thumbnail
Indonesia berpotensi meraup pendapatan hingga 10 miliar dolar AS dari sektor pariwisata. "Indonesia berpotensi meraup pendapatan besar tanpa harus kehilangan sumber daya pertambangan minyak dan gas," kata Komisaris Utama PT Taman Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko, S.D. Darmono.
Menurut Darmono, bila Indonesia mampu mendatangkan turis asing untuk berkunjung salah satunya ke Candi Borobudur sebanyak 10 juta per tahun potensi untuk mendapatkan 10 miliar dolar AS sangat besar.
Hal itu akan terjadi bila misalnya satu orang turis rata-rata membelanjakan dana untuk berwisata sebesar 1.000 dolar AS. "Pendapatan kita sebagian besar masih dari migas padahal kalau potensi pariwisata kita digali itu akan mendatangkan keuntungan yang tidak kalah besar," katanya.
Perancis setiap tahunnya dikunjungi sekitar 70 juta wisatawan asing yang rata-rata membelanjakan dananya sebesar 1.000 dolar AS sehingga Perancis meraup setidaknya 7 miliar dolar AS per tahun dari sektor pariwisata.
Sebagian besar wisatawan mengunjungi menara Eiffel yang usianya baru 300 tahun. Padahal Indonesia memiliki salah satu tujuan wisata istimewa yaitu Candi Borobudur yang telah berusia lebih dari 1.000 tahun.
Pengunjung Borobodur sendiri pada 2008 mencapai 3 juta orang dengan jumlah turis mancanegara sebanyak 200 ribu.
Pihaknya sedang berupaya keras untuk mendatangkan lebih banyak pengunjung ke Candi Budha terbesar di dunia itu melalui berbagai macam cara. "Ini akan membangkitkan Indonesia menuju kemakmuran yang lebih baik lagi," katanya.
Target penciptaan kunjungan 10 juta wisatawan baik mancanegara maupun domestik dalam 5-10 tahun mendatang disertai upaya untuk memberikan pelayanan yang memuaskan melebihi harapan wisatawan, kata Direktur Utama PT Taman Wisata Candi, Purnomo Siswoprasetjo.
Untuk kepentingan itu, pihaknya telah melakukan berbagai aktivitas dan kegiatan di antaranya membangun solidaritas sosial dan ekonomi dengan seluruh pemangku kepentingan khususnya di sekitar Candi Borobudur dengan Pemda setempat, LSM, pemuka masyarakat, pedagang/pengasong, seniman, dan komunitas lintas agama.
Selain itu pihaknya juga telah membangun portal baru yaitu www.borobudurpark.co.id dalam enam bahasa. "Kami juga sudah mengirimkan tim operasional melakukan `benchmarking` studi ke Singapura, Angkor Watt Kamboja, dan Malaysia untuk mempelajari obyek-obyek wisata dan `hospitality` (keramahtamahan) di negara lain," katanya.
Sebagai BUMN yang baru saja memiliki jajaran direksi dan komisaris yang baru, pihaknya juga sudah mengoperasikan seluruh kegiatan operasional perusahaan dengan teknologi komputerisasi, antara lain dalam hal e-ticketing dan on-line ticket.
PT Taman Wisata Candi yang saat ini diserahi pengelolaan Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko juga mengadakan pertemuan dengan seluruh pelaku industri pariwisata termasuk kerjasama dengan Balai Konservasi Borobudur dan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala DIY dan Jawa Tengah. "Kami juga bekerja sama dengan konsultan kelas dunia di bidang teknologi multimedia dari Austria," katanya.
Pihaknya dalam upaya untuk mendorong dan menciptakan ekonomi malam di sekitar Candi Borobudur. Sementara itu, Komisaris Utama PT Taman Wisata Candi, SD. Darmono, mengatakan, pihaknya bekerja sama dengan pihak-pihak lain dengan konsep menang-menang (win-win solution) untuk merealisasikan berbagai kegiatan dan even spesial lain untuk mendorong terciptanya kunjungan wisatawan. "Ada beberapa kegiatan yang disinergikan dengan Borobudur agar memperpanjang masa tinggal turis di Borobudur," katanya.
Sejumlah even tersebut di antaranya Cap-Go-Meh di Klenteng Hok Ang Kiong, Pementasan akbar Mahakarya Borobudur, Borobudur International Festival, Yogya Internatinal Heritage Walk, Prambanan Yogya Jazz, Waicak Festival, dan Prambanan Tawur Agung.
Koran Pak Oles/Edisi 169/16-28 Februari 2009

Melihat Kebesaran Sultan

thumbnail
Keraton Kesepuhan Cirebon
Kunjungan wisatawan ke Keraton Kesepuhan Cirebon, Jawa Barat terus meningkat dari tahun ke tahun dan khusus tahun 2008 tercatat lebih 3000 orang.
Menurut Udin, pemandau Keraton Kesepuhan peninggalan Syarif Hidayatullah atau dikenal dengan Sunan Gunung Jati itu, ada ribuan wisatawan yang datang baik dari dari nusantara maupun wisatawan luar negeri.
Peninggalan sejarah tersebut hingga kini bisa disaksikan antara lain dua museum menyimpan barang-barang kuna seperti kendaraan (kereta kencana), alat-alat perang seperti tombak, pedang dan keris baju besi, panah dan senampan buatan Mesir, kata Udin pemandu wisata di Keraton Cirebon.
Para pengunjung ke Keraton tersebut pada umumnya ingin menyaksikan kebesaran kesultanan melalui peninggalan.
Bahkan pengujung bisa menyaksikan gedung utama Keraton di mana Sultan menerima tamu-tamu penting. Gedung utama tersebut masih digunakan hingga kini oleh keturunan Kesultanan.
Keraton yang merupakan kebanggaan masyakat Cirebon tersebut masih menyimpan barang-barang yang ratusan tahun silam dan bangunan-bangunan yang bahannya terdiri dari batu bata dan kayu.
Kayu tiang bangunan terdiri dari teras kayu laban yang konon lebih beras dari jati dan biasa digunakan sebagai bantalan rel kereta api. "Kayu tersebut kini tampaknya sudah langka" katanya.
Di samping itu, rangkaian kegiatan keraton yang dahulu dilakukan, kini masih sering diadakan, seperti mauludan.
Wisatawan sangat mudah untuk menjangkau kraton yang terletak tidak jauh dari Pelabuhan Cirebon, baik menggunakan kendaraan umum maupun pribadi.
Selain pemandu wisatawan yang senantiasa siap mengantar dan menjelaskan setiap sudut bangunan dan segala isinya, juga tersedia tiga buah buku hanya dengan Rp25 ribu rupiah pengunjung akan paham mengenai seluk beluk kesultanan tersebut.
Koran Pak Oles/Edisi 169/16-28 Februari 2009

Candi Prambanan Kian Menarik

thumbnail
Objek wisata (OW) Candi Prambanan yang mengalami kerusakan cukup parah pascagempa tektonik pada bulan Mei 2006, ternyata makin menarik wisatawan untuk mengunjunginya.
Wisatawan justru tertarik untuk melihat sejauh mana kerusakan itu terjadi dan tindak lanjut pembenahan perbaikan yang dilakukan oleh pemerintah, kata Yusri petugas dari Dinas Purbakala Jateng ketika dihubungi Antara.
Ia menambahkan, kerusakan cukup parah pada OW Candi Prambanan yang terletak di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah akibat gempa tektonik yang melanda daerah ini pada bulan Mei 2006 sampai saat ini terus diperbaiki oleh Dinas Purbakala Jateng.
Dibutuhkan waktu cukup lama, ketelitian dan kehati-hatian untuk melakukan perbaikan kembali candi yang mengalami kerusakan akibat gempa itu, termasuk yang paling parah adalah bagian tubuh dan bawah Candi Brahma yang rusak akibat gempa bumi tersebut.
Selain membutuhkan waktu cukup lama, perbaikan candi ini juga membutuhkan dana yang besar, ketelitian dan kehati-hatian serta kecermatan yang tinggi.
Bangunan Candi Brahma terletak di kompleks Candi Sewu Prambanan yang berada di wilayah Klaten Jawa Tengah dan Kabupaten Sleman, D.I.Yogyakarta.
Berdasarkan catatan yang ada, candi tempat pemujaan bagi umat Hindu ini dibangun pada hari Kamis Wage tanggal 11, bulan Margasirsa tahun Saka 778 atau tepatnya 11 November 856 Masehi.
Candi ini terdiri dari sebuah candi induk yang diapit oleh Candi Perwara yang berjumlah 240 buah dan Candi Apit sebanyak delapan buah.
Karena candi itu berjumlah cukup banyak, maka disebut pula sebagai candi Sewu (seribu).
Melihat keunikan candi ini, maka tidak mengherankan pada musim libur panjang Lebaran 2008, jumlah wisatawan yang berkunjung ke Candi Prambanan mencapai puluhan ribu orang.
Koran Pak Oles/Edisi 169/16-28 Februari 2009

Agrowisata Terpadu Di Garut

thumbnail
Garut membangun kawasan wisata terpadu, berprospek agrowisata dengan cara antara lain menjaring investor dan berbagai kemudahan, kata Bupati Garut Aceng HM Fikri.
"Para calon investor yang ingin menanamkan modalnya di bidang agro wisata di Garut akan mendapat berbagai kemudahan," katanya dilansir Antara.
Kemudahaan tersebut antara lain, perijinan termasuk meningkatkan kualitas infrastruktur, menyederhanakan birokrasi proses pengurusan usaha.
Sementara pendanaan sektor periwisata sebagai sumplemen bersumber dari APBD setempat. PAD (Pendapatan Asli Daerah) Garut dari sektor pariwisata yang kini mencapai Rp 3,5 miliar, minimal bisa ditingkatkan sebesar 20 prosen pada tahun depan.
Selain itu dilakukan upaya penguatan kemampuan manajerial yang lebih profesional, perekrutan tenaga akhli berbagai bidang termasuk bidang pariwisata, katanya.
Kebijakan Pemkab Garut dalam pengembangan Kepariwisataan dan UMKM, diarahkan ke kawasan wisata koridor puncak dan sekitarnya (SKW-C Jawa Barat).
Pariwisata tersebut akan meliputi , kegiatan wisata konvensi, wisata alam, wisata budaya dan ilmu pengetahuan (pendidikan) dengan zona pengembangannya pada wilayah utara dan selatan, katanya.
Ia mengakui, permasalahan untuk mengelola pariwisata di daerahnya, masih lemahnya kemampuan manajerial pengelolaan dan pemanfaatan produk-produk wisata.
Selain itu, lemahnya pemahaman tentang sadar wisata dan Sapta Pesona di kalangan masyarakat, khususnya di seputar obyek wisata.
Garut juga masih menghadapi terbatasnya tenaga akhli bidang kepariwisataan.
Untuk memasuki liberalisasi ekonomi dunia diperlukan perencanaan pariwisata yang baik guna mengantisipasi kebutuhan wisatawan mancanegara.
Mengenai kawasan wisata Cipanas masih dihadapkan pada masalah belum optimalnya penataan infrastruktur dan pendistribusian air panas, tambahnya.
Koran Pak Oles/Edisi 169/16-28 Februari 2009

Wisata Geothermal

thumbnail
PT Indonesia Power akan mengembangkan wisata geothermal di sejumlah Pembangkit Listrik Tenaga Panas (PLTP) yang dikelolanya. "Tahap awal wisata geothermal dikembangkan di PLTP Kamojang, yang tingkat kunjungannya sangat potensial. Kita akan kembangkan di tempat lainnya," kata Direktur Utama PT Indonesia Power, Tony Agus Mulyantono.
Menurut Tony, kawasan geothermal memiliki potensi air panas yang bisa menjadi andalan untuk dikembangkan sebagai obyek wisata untuk umum.
Wisata Geothermal selain untuk memperkenalkan PLTP dan seluk-beluk pembangkit tenaga panas bumi, juga terdapat keunikan-keunikan dari kawasan PLTP Geothermal.
Ia mencontohkan, di Kamojang terdapat Kawah Kareta yang terus mengeluarkan asap. Kawah itu sudah menjadi kawasan wisata sejak zaman Belanda.
"Konon kawah itu mengandung belerang dan sejenis obat yang bisa menyembuhkan beberapa jenis penyakit. Air panas di kawasan itu banyak dimanfaatkan oleh warga hingga saat ini," katanya.
Selain PLTP Kamojang, ada beberapa PLTP lainnya yang dapat menjadi obyek wisata seperti PLTP Darajat Garut, PLTP Gunung Salak, Wayang Windu serta yang lainnya.
Selain itu, beberapa PLTP lainnya yang akan dibuka, seperti di Gunung Tampomas, Tangkuban Parahu dan Gunung Halimun. Potensi air panas di kawasan itu juga cukup besar untuk dikembangkan menjadi obyek wisata. "Jabar memiliki potensi geothermal yang cukup besar," kata Tony.
Pengembangan wisata geothermal itu juga diharapkan mampu mendorong perekonomian warga sekitarnya, baik yang terlibat secara langsung maupun yang tidak langsung.
PT Indonesia Power juga, tambahnya, akan terus mengoptimalkan program Corporation Social Responsibility (CSR) sebagai tanggung jawab perusahaan terhadap lingkungan sekitarnya.
Koran Pak Oles/Edisi 169/16-28 Februari 2009

Memancing Di Situ Gede

thumbnail
Objek wisata alam Situ Gede di wilayah Kota Tasikmalaya, Jawa Barat yang memiliki daya tarik danau yang cukup luas, belakangan ramai diserbu wisatawan dan warga yang memiliki kegemaran memancing.
Pantauan Antara, sepanjang pesisir danau cukup banyak di tempati para pemancing, selain itu ada juga yang menggunakan rakit, bahkan ada juga yang memberanikan diri turun ke danau hanya sekedar memancing di sela-sela rawa danau.
Adit (33) salah seorang yang sedang sibuk memancing di Situ Gede mengaku memancing di Situ Gede merasa nyaman dan tenang, meskipun ikan yang didapat hanya ikan Jaer kecil. "Saya hanya merasa senang saja memancing sambil menikmati alam," katanya.
Adit warga Cilolohan masih di wilayah Kota Tasikmalaya mengaku sengaja datang ke Situ Gede meskipun jarak dari rumahnya cukup jauh, untuk itu ia biasa memancing ketika hari libur, atau di saat waktu luang.
Selain itu, kata Adit, objek wisata alam Situ Gede memiliki panorama alam yang cukup indah, dengan air danaunya yang tenang dan cukup bersih, serta banyak pohon yang membuat suasana sejuk, sehingga dinilai tempat memancing yang cukup istimewa.
Sedangkan menurut pengelola Situ Gede, Komar mengatakan selain banyaknya pengunjung yang sekedar menikmati keindahan alam Situ Gede, terkadang menjadi objek menarik bagi masyarakat yang senang dengan memancing.
Dikatakan Komar Situ Gede diakhir pekan atau hari libur di setiap pesisir danau memang selalu banyak orang yang memancing, walaupun hanya mendapatkan ikan Jaer kecil.
"Jarang mendapatkan ikan gede, apalagi dapat ikan mas," katanya.
Namun banyaknya orang yang memancing di Situ Gede kata Komar tidak pernah ada pelarangan khusus memancing dari pihak pengelola Situ Gede, pasalnya selama ini tidak ada keluhan dari pengunjung yang merasa terganggu dengan kehadiran para pemancing.
Selain itu kata Komar para pemancing ikan tidak mengotori lingkungan sekitar Situ Gede, sehingga salama ini dibiarkan dan tidak dilarang. "Biarkan saja selama masih ada ikan, bahkan adanya para pemancing menjadi daya tarik Situ Gede," katanya.
Koran Pak Oles/Edisi 169/16-28 Februari 2009

Pesona Alam Pegunungan Purworejo

thumbnail
Beraneka ragam objek wisata (OW) alam, khususnya alam pegunungan di Kabupaten Purworejo pada musim hujan saat ini secara umum masih aman dikunjungi wisatawan.
Khusus untuk OW alam Curug Muncar dan Goa Sepalawan pada musim hujan saat ini masih aman dari bencana alam tanah longsor, sehingga wisatawan tidak perlu khawatir untuk mengunjungi OW tersebut, kata Dra. Dwi Astuti, seorang pemerhati pariwisata di Purworejo.
Ketika dihubungi Antara dari Semarang, ia menambahkan, walaupun aman dari longsor, namun wisatawan diingatkan untuk berhati-hati terhadap bentuk bencana lainnya, seperti angin ribut dan guyuran hujan deras disertai petir.
OW alam di Purworejo menurut dia, tidak kalah menariknya dengan OW alam lainnya yang ada berbagai wilayah di kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah.
Bahkan pada musim libur panjang sekolah atau libur Lebaran berbagai OW alam yang ada di daerah ini selalu dikunjungi oleh ribuan wisatawan domestik, khususnya pelajar SD, SMP dan SMA dari berbagai kota di Jawa.
OW alam itu di antaranya Pantai Jatimalang di Kabupaten Purworejo, Jateng yang memiliki keindahan alam sangat eksotis.
Pantai ini memang sangat menarik untuk dikunjungi wisatawan karena memiliki perpaduan keindahan alam pantai dengan asrinya alam pegunungan di sekitarnya, sehingga menjadikan objek wisata pantai ini sebagai andalan objek wisata bagi Kabupaten Purworejo.
Ribuan wisatawan yang diperkirakan mengunjungi objek wisata yang berada di Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Purworejo ini seperti dari Solo, Cilacap, Semarang, Yogyakarta, Bandung dan Jakarta. "Apalagi jalan menuju lokasi objek wisata ini cukup baik dan lebar serta beraspal sehingga memudahkan wisatawan menuju lokasi ini untuk bersantai sambil menikmati indah, elok dan asrinya pemandangan alam pantai dan pegunungan di lokasi tersebut," katanya.
Mengenai lokasi objek wisata ini sekitar 18 km selatan kota Purworejo dengan luas areal sekitar 200 hektare.
Di sekitar pinggiran pantai ini telah dibangun gazebo oleh Pemkab Purworejo untuk tempat beristirahat para wisatawan yang mengjungi lokasi ini.
Selain pemandangan alam pantainya indah, katanya, di objek wisata ini juga terdapat tambak udang galah dan Sungai Lereng yang bisa dimanfaatkan untuk berperahu lokal wisatawan.
Selain Pantai Jatimalang, objek wisata andalan Kabupaten Purworejo adalah Curug Muncar sekitar 45 km barat laut pusat kota Purworejo dan Goa Seplawan di Desa Donorejo, Kecamatan Kaligesing.
Curug Muncar atau air terjun ini memiliki ketinggian sekitar 900 m. Bagi wisatawan yang ingin berkunjung ke objek wisata ini harus sehat benar, sebab, jalan menuju ke lokasi tersebut menanjak cukup tinggi, katanya.
Koran Pak Oles/Edisi 169/16-28 Februari 2009

Budaya Gotong Royong Luntur

thumbnail
Budaya gotong-royong di Indonesia yang dulu bisa untuk mempersatu bangsa sudah mulai luntur atau mengalami krisis jati diri, karena kebijakan yang tidak jelas.
Hal tersebut dikatakan, Eros Djarot seorang sutradara terkenal, saat menyampaikan paparannya dalam seminar "Peran Film Dalam Pendidikan Politik Menuju Masyarakat yang Demokrasi", di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisipol) Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Sabtu (7/2).
"Kita lihat bersama sekarang ini, budaya gotong-royong atau bergandeng tangan sudah dihancurkan. Persatuan sudah tidak ada lagi, sehingga ke depan kerangka kebijakan harus diperjelas," katanya dikutip Antara.
Eros mengaku, sangat prihatin dengan kondisi sekarang ini, karena salah satunya sarana yang digunakan untuk menghancurkan nilai-nilai luhur bangsa ini adalah film. "Padahal, film merupakan bidang yang telah digelutinya selama puluhan tahun," katanya.
Masyarakat tidak sadar dan seolah tidak merasakan kecenderungan tersebut. Namun, secara tidak sadar film dan sinetron yang disaksikan selama ini semakin menjauhkan mereka dari realitas sosial, politik, budaya, dan ekonomi yang berkepribadian bangsa ini.
Semuanya diserang, dilumpuhkan, dipatahkan, dan dimatikan dan diganti dengan kultur baru seperti gaya hidup mewah, acuh tak acuh, dan individualis yang tinggi.
Hal tersebut, menurut Eros, akibat kebijakan yang tidak jelas. Namun, kalau Menteri Kebudayaan dan Pariwisata paham soal ini, segara membenahi budaya tersebut. "Sehingga, tidak perlu memboikot dan bahkan sampai melarang peredarannya," katanya.
Eros mengatakan, substansi persoalan yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini, bukanlah soal politik dan ekonomi, tetapi lebih pada krisis jati diri.
Untuk itu, lanjut dia, dalam kondisi ini dibutuhkan sosok pemimpin paham akan budaya yang bisa mengembalikan kepribadian seperti zaman dulu.
Menyinggung adanya imbauan agar masyarakat memboikot film yang berjudul "Perempuan Berkalung Sorban", karena dinilai menyesatkan dan menyakitkan umat Islam. Eros tidak mau berkomentar terlalu panjang, karena salah satu film yang disutradarinya berjudul "Lastri" juga terganjal tidak bisa meneruskan pembuatannya. "Kami tidak bisa berbicara banyak kalau sudah berbicara tentang MUI. Apalagi menyangkut fatwa yang dikeluarkan lembaga itu," katanya.
Menurut dia, lebih baik dihormati dan harus bersifat situasional. Jika orangnya ganti bisa berubah lagi. Selain itu, lanjut dia, masih banyak yang lebih penting dari pada hal tersebut seperti mengharamkan korupsi yang lebih gencar atau mengharamkan cara pembodohan masyarakat.
Koran Pak Oles/Edisi 169/16-28 Februari 2009

Band Indie Marak Di Tasikmalaya

thumbnail
Band musik indie sangat potensial untuk dikembangkan di Tasikmalaya, karena anak muda yang memiliki potensi dalam bermain musik di Tasikmalaya mulai marak.
"Band Indie di Tasikmalaya itu cukup banyak jadi perlu dikembangkan," kata ketua panitia parade musik band indie, Doy, saat menggelar acara di halaman parkir Mayasari Mall Kota Tasikmalaya, Minggu malam (9/2).
Ia mengatakan parade musik band indie akan menjadikan karya musik anak-anak muda di Tasikmalaya yang tampil dapat dinikmati masyarakat. "Itu merupakan salah satu cara untuk mengembangkan bakat dan potensi anak-anak muda Tasikmalaya dalam bermain musik di jalur band indie," katanya.
Ia berpendapat musisi band indie di Tasikmalaya cukup banyak, sehingga jumlah peserta parade band musik indie melebihi target, karena banyaknya anak-anak muda yang mendaftar. "Jumlah peserta yang ditargetkan panitia sebanyak 25 band indie, namun saat pendaftaran jumlahnya lebih dari 50 band indie, karena terbatasnya waktu, maka mereka akhirnya kami tolak dan yang tampil hanya 25 band indie," katanya.
Ia melihat antusias musisi band musik indie yang cukup banyak itu menunjukkan potensi yang perlu direspon dengan baik melalui berbagai pergelaran untuk memperkenalkan kepada masyarakat luas bahwa band indie di Tasikmalaya itu ada dan berpotensi cukup baik.
Apalagi, katanya, saat beberapa peserta band indie tampil di panggung dinilai memiliki kemampuan dalam memainkan alat musik. "Untuk itu, kami berharap melalui parade musik indie akan dapat berkembang di kancah musik nasional, yang dapat bersaing dengan musik indie di kota lain," katanya.
Selama ini, katanya, band indie hanya dikenal di kota-kota besar. "Nah, acara itu setidaknya band indie di Tasikmalaya siap bersaing dengan band indie di kota lain," katanya.
Untuk mengembangkan potensi musik indie di Tasikmalaya, katanya, direncanakan akan menggelar acara yang sama di waktu mendatang. "Ya, nanti akan selalu diadakan acara band indie karena sayang banyaknya band indie di Tasikmalaya tidak bisa ditampilkan semuanya ke hadapan masyarakat," katanya.
Koran Pak Oles/Edisi 169/16-28 Februari 2009

Berani Praktek Bahasa Inggris

thumbnail
Kesulitan seseorang belajar berbahasa Inggris selama ini karena pola pengajaran yang sangat formal dan melupakan pentingya praktik secara langsung di lapangan.
"Padahal belajar Bahasa Inggris itu harus berani praktik, kalau pengajaran di sekolah selama ini sangat formal, tertata rapi, dan sekadar mengejar kurikulum, lupa tujuan akhir yakni bisa berkomunikasi secara aktif," kata Pendiri Pusat Pendidikan Bahasa Inggris "Spec" Borobudur, Hani Sutrisno (35), dalam seminar "Revolusi Bahasa Inggris", di Magelang, Minggu (9/2).
Ia mengatakan, belajar Bahasa Inggris seringkali dianggap menjenuhkan dan sulit karena metode pengajaran yang teoritis sehingga siswa berada di dalam tekanan dan tidak senang.
Hani yang belajar bahasa secara otodidak dimulai dari kehidupan kecilnya sebagai pengasong cenderamata di Candi Borobudur itu mengatakan, belajar bahasa asing harus berani praktik, berani salah, dan berani gagal.
"Harus berani mencoba, berani salah, berani gagal, praktik di lapangan, kalau menghafal cepat lupa," katanya.
Pola pengajaran Bahasa Inggris di lembaganya yang kini membuka cabang di 16 kota di Jawa dan Sumatera, katanya, memberikan jaminan bahwa setelah dua bulan, siswa mampu berbicara dengan Bahasa Inggris. "Ada trik-trik khusus dan rumus-rumus praktis untuk menjadikan Bahasa Inggris itu mudah dikuasai," katanya.
Bupati Magelang, Singgih Sanyoto, mengatakan, pada era kesejagatan dan kemajuan teknologi yang pesat, kemampuan berkomunikasi terutama menggunakan Bahasa Inggris menjadi kebutuhan penting.
"Bahasa Inggris sudah merupakan kebutuhan yang sangat penting dan tidak bisa ditawar-tawar lagi," katanya.
Pelajaran Bahasa Inggris di sekolah, katanya, hanya terbatas selama jam belajar dengan berdasarkan kurikulum pendidikan nasional sehingga relatif sulit bagi siswa untuk mahir berkomunikasi dengan bahasa itu.
Siswa, katanya, perlu menambah jam belajar dan berlatih berbahasa Inggris melalui kursus di luar jam sekolah supaya cepat mahir dan memahami bahasa itu secara baik dan benar. "Sulit kalau hanya mengandalkan waktu yang ada di sekolah," katanya.
Koran Pak Oles/Edisi 169/16-28 Februari 2009

Mahasiswa Asing Tertarik Berbahasa Indonesia

thumbnail
Minat mahasiswa asing belajar Bahasa Indonesia dari waktu ke waktu terus meningkat, terlihat dari bertambahnya universitas luar negeri yang menjalin kerjasama dengan universitas di Indonesia.
Informasi dihimpun Antara, di Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung, jumlah mahasiswa asing dari berbagai universitas luar negeri terus bertambah, seperti dari Korea, Cina, dan sejumlah negara di Asia Tenggara.
Zhang Yi-jing, salah seorang mahasiswa asing program beasiswa dari Shanghai International Studies University (SISU), Cina mengaku masih banyak rekan di negaranya yang berminat belajar di Indonesia.
SISU Cina menawarkan dua program beasiswa belajar di Indonesia, yaitu Short Course Program berupa pendidikan selama satu semester dan Regular Course Program selama dua semester, kata mahasiswa asal Cina yang menyatakan juga berminat belajar Bahasa Sunda.
Ketertarikan Yi-jing pada bahasa Indonesia cukup besar. Sulitnya menemukan buku berbahasa Indonesia di negara asalnya, membuat ia semakin bersemangat mempelajari bahasa tersebut. "Saya kesulitan mendapatkan buku berbahasa Indonesia atau kamus Bahasa Indonesia di Cina. Bahan tentang Bahasa Indonesia hanya bisa diperoleh dari internet, jadi saya akan membeli banyak buku di sini," katanya seraya menambahkan berencana akan menyelesaikan skripsinya di Indonesia.
Para mahasiswa asal Korea yang sedang berkuliah di Unpad Bandung, seperti Kim Sun Yeo, Choi Seung-Hee dan Jo Na Yunmengaku banyak mendapatkan kesan suka dan duka, seperti mendapat teman-teman baru di Indonesia.
Diakuinya masyarakat Korea, seperti juga negara Asia lain termasuk Jepang yang memiliki perekonomian maju cenderung memiliki budaya yang lebih bebas.
Sementara masyarakat Indonesia, khususnya di Bandung masih cenderung lebih agamis. Kesan lain yang didapat, yaitu kota Bandung memiliki udara yang sejuk dengan tipikal masyarakat baik dan ramah dan alasan ini juga yang membuat mereka ingin tinggal lebih lama, bahkan ingin bekerja di Kota Bunga.
Mahasiswa asing terbanyak yang berkuliah di Unpad, yaitu dari Malaysia yang merupakan utusan dari berbagai universitas di negeri jiran itu.
Koran Pak Oles/Edisi 169/16-28 Februari 2009

PKS di Mata Publik

thumbnail
Judul : Ideologi Politik PKS: Dari Masjid Kampus ke Gedung Parlemen
Penulis : M. Imdadun Rahmat
Penerbit : Lkis, Yogyakarta
Cetakan : I Desember 2008
Tebal : xv+318Halaman
Peresensi :Zainuddin*
Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini sering kali disebut sebagai fenomena baru dalam dunia perpolitikan tanah air ini. Betapa tidak, hanya dalam satu tahun dari pendeklarasiannya pada bulan Agustus 1998, partai yang semula bernama Partai Keadilan ini berhasil mengikuti pemilu pada tahun 1999, dan mampu menjaring suara sekitar 1,36%, dari jumlah keseluruhan.
Pada tahun 2004 PKS mampu meningkatkan jumlah suara yang sangat signifikan. Partai yang karena alasan electoral threshold berganti nama menjadi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini dapat meraih suara sekitar 7,43%, meskipun sebenarnya partai ini masih kalah dibandingkan dengan partai-partai besar lain. Tapi partai ini telah mampu untuk mengungguli partai-partai besar yang telah lebih tua sejarahnya.
Partai yang lahir dari LDK anak-anak muda Tarbiyah ini juga berhasil dalam membangun basis politik di daerah-daerah. Bahkan partai ini juga mampu meraih kesuksesan besar dalam menempatkan sebagian kandidatnya yang telah diusungnya dari kepala daerah, baik dalam tingkat propinsi maupun dalam tingkat kabupaten/kota. Dengan kekuatan yang masih relatif kecil, partai yang menyebut diri sebagai “partai dakwa” ini juga mampu mempengaruhi pencaturan perpolitikan maupun pembuatan keputusan publik.
Partai ini juga mendapat sorotan dari publik karena ideologi Islam yang telah dianutnya. Partai ini secara mendasar mengamalkan doktrin perjuangan Ikhwal Muslimin (IM). Dan IM sendiri acapkali dipandang sebagai organisasi yang ingin mengubah dunia Islam secara radikal dan sering berbenturan secara fundamental dengan pemerintah dimana IM itu berada. Militansi untuk menwujudkan pemerintah yang islami dengan dasar Al-Qur’an dan As-sunah secara kaffah mendorong IM intoleran, ekslusif, dan menimbulkan keterancaman baik terhadap muslim sendiri ataupun dengan non-muslim.
Lewat buku Ideologi Politik PKS ini, M. Imdadun Rahmat mencoba menjelaskan dan mencari jawaban dari hasil hipotesis serta persoalan-persoalan seperti, sejauh mana persentuhan PKS dengan realitas kenegaraan, hadirnya kader- kader dalam diri PKS itu sendiri, serta adaptasi PKS dalam dunia politik di Indonesia.
Secara lebih luas buku ini juga bisa dijadikan bahan pertimbangan bagi pemerintah dalam pengambilan kebijakan meyangkut regulasi kehidupan keagamaan di Indonesia, khususnya menyangkut gerakan radikal yang berpotensi menimbulkan masalah, seperti konflik internal agama, konflik antar agama, bahkan disintegrasi bangsa.

*)Koordinator Penjaringan Buku pada Perpustakaan Hasyim As’ari, Yogyakarta.
Koran Pak Oles/Edisi 169/16-28 Februari 2009

Dari Raja Jawa menuju Tahta RI 1

thumbnail
Judul : Laku Spiritual Sultan, Langkah Raja Jawa Menuju Istana
Penulis : Arwan Tuti Artha
Penerbit : Galang Press, Yogyakarta
Cetakan : 1, Januari 2009
Tebal : 175 halaman
Harga : 30.000
Peresensi : Ahmad Hasan MS*
Nama Sri Sultan Hamengku Buwono X akhir-akhir ini makin populer di lembaran media massa. Raja Keraton Yogyakarta X yang bernama lengkap "Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Sultan Hamengku Buwono Senopati Ing Ngalaga Ngabdurrahman Sayidin Panatagama Kalifatullah Kaping Sedoso" itu dipastikan akan berlaga dalam pentas nasional melalui Pemilu 2009. Suhu politik kian memanas menyusul Sultan adalah salah satu tokoh penggerak reformasi 1998 yang memiliki basis massa cukup kuat di tengah masyarakat. Pertanyaannya, seberapa besar peluang Sultan untuk naik ke tahta RI 1?
Buku "Laku Spiritual Sultan, Langkah Raja Jawa Menuju Istana" yang ditulis oleh Arwan Tuti Artha ini berusaha menguak secara mendalam ihwal langkah Sultan menuju pentas nasional. Bagi Arwan, Sultan merupakan sosok kharismatis yang menyedot perhatian publik. Sultan bukan saja raja keraton Ngayogyakarta, yang memiliki integritas kuat dalam menjaga tradisi, akan tetapi ia juga sosok nasionalis yang senantiasa membela kepentingan bangsa.
Sebagai seorang raja, Sultan dikenal amat kuat dalam memegang prinsip. Menurut YB Margantoro dalam "meneguhkan Tahta Untuk Rakyat "(1999) bahwa Sultan adalah sosok yang menjaga betul wasiat ayahandanya, yakni Sultan HB IX, berupa lima prasyarat dalam nglunggahi jejering watu (memegang tahta kekuasaan). Pertama, harus berjanji tidak boleh berprasangka, iri pada orang lain biarpun orang lain ini tidak senang. Kedua, harus berjanji tidak melanggar peraturan negara. Ketiga, harus berani mengatakan yang benar itu benar, serta yang salah itu salah. Keempat, tidak boleh punya ambisi, kecuali ambisi itu untuk menyejahterakan masyarakat. Kelima, lebih banyak memberi daripada menerima (hal. 33).
Buku ini menarik dibaca bagi siapa saja, khususnya mereka yang concern dalam falsafah kepemimpinan Jawa. Kelebihan buku ini terletak dari gaya bahasanya yang renyah dan mudah dipahami bagi masyarakat awam sekalipun. Akan tetapi, buku ini masih memiliki kelemahan, khususnya dalam sistematika pembahasan yang meloncat-loncat dan landasan argumen yang terkadang irasional. Namun buku ini patut diapresiasi bagi semua kalangan, sebab turut memperkaya khasanah kebudayaan bangsa yang benar-benar adiluhung.

*)Pustakawan dan Peneliti Pada Pusat Studi Pancasila, UGM Yogyakarta.
Koran Pak Oles/Edisi 169/16-28 Februari 2009

Banjir, Kosmosentrisme Religius Dan Geo-Teologis

thumbnail
Oleh: Dwi Lestari ST*
Suatu bencana selalu diikuti serangkaian pertanyaan, baik filosofis-kosmologis maupun teologis. Pemikiran filosofis-kosmologis berusaha untuk mengaitkan berbagai fenomena alam dunia dengan "amarah para dewa" sebagai akibat dari ketidakseimbangan dalam tatanan kosmos. Jika setiap bencana alam selalu dipahami dan dijelaskan dalam kerangka berpikir semacam ini, maka tertutup kemungkinan bagi manusia untuk melihat bencana dari perspektif lain. Dalam perspektif Kekristenan, bencana alam ditempatkan sebagai bagian dari penyelenggaraan kekuasaan Ilahi yang tak terbatas (teodice). Dalam teologi Islam disebut "takdir atau keputusan ilahi berdasarkan kemahakuasaanNya" atau "cobaan dari Allah". Karena itu harus diterima dengan penuh keikhlasan serta kepasrahan hati.
Bencana banjir yang melanda berbagai daerah di Indonesia ini menurut hemat penulis merupakan peringatan dan panggilan terhadap kesadaran kosmosentrisme religius. Sebuah kritik terhadap paradigma antroposentrisme sekuler yang menjadikan intelektualitas manusia sebagai puncak ukuran kebenaran sehingga secara sistemik masyarakat modern telah menghancurkan habitatnya sendiri. Bencana banjir itu bukan murni fenomena alam tanpa campur tangan manusia. Kita harus mengakui bahwa kita tidak lagi memiliki kesadaran ekologis.
Kerusakan lingkungan hidup, baik sosial maupun alam, semakin terlihat kasat mata. Mempersoalkan sikap mental yang eksploitatif itu sangat penting. Tanpa mencari tahu sebab mendasar di balik sikap mental itu, maka pemecahan masalah terkait dengan pemulihan kerusakan ekologis dan penanganan dampak bencana alam tidak mungkin berdampak komprehensif.
Neo-Kosmosentrisme
Para filsuf Yunani kuno sebelum Socrates berpandangan bahwa alam semesta adalah sumber kebajikan. Manusia dianjurkan untuk berdamai dan meniru perilaku alam semesta jika ingin memperoleh keutamaan hidup. Meskipun pengetahuan mereka tentang alam semesta masih terbatas, justru dalam keterbatasannya itu mereka menjadi santun dan hormat pada alam. Pandangan kosmosentrisme ini secara perlahan digantikan oleh antroposentrisme yang dibangun oleh Socrates, bahwa ukuran kebaikan dan kebenaran itu terletak pada akal budi manusia. Untuk meraih kebaikan hidup, baik individu maupun sosial, manusia harus mengembangkan akal budinya.
Saat ini rasanya kita diajak untuk menghargai kearifan kuno. Bahwa manusia adalah bagian integral dari alam, bukan penguasa alam. Kearifan kuno mengajarkan keserasian antara habit, habitus, dan habitat. Ketika manusia sebagai habitus mengambil sikap eksploitasi dan konfrontasi terhadap habitat alamnya, maka manusia pasti kalah. Bukti kekalahan manusia ketika konfrontasi terhadap alam semakin banyak. Kini saatnya kita merenung dan menyadari betapa rapuhnya sesungguhnya posisi kita di hadapan semesta.
Sudah lama kita mendengar kata "kosmologi", yang artinya pengetahuan dan kesadaran akan keindahan dan keteraturan alam. Disebut kosmos, bukannya chaos, karena alam ini indah dan teratur. Begitulah Tuhan menciptakan. Hanyalah manusia yang memiliki potensi untuk merusak keteraturan alam, bukan makhluk lain. Namun, sehebat apa pun kekuatan manusia untuk melawan alam, tidak mungkin manusia akan bisa memenangkannya. Apa yang bisa diraih dan ditaklukkan manusia, terlalu kecil di hadapan semesta yang tak terbatas.
Lalu, di mana kebesaran manusia? Dalam Al-Qur`an di sebutkan, di samping karena akalnya, dalam diri manusia terdapat Ruh Ilahi. Jika Ruh Ilahi ini yang mengendalikan kehidupan, seseorang akan bisa merasakan nikmatnya bernyanyi dan bertawaf bersama tarian dan gerakan tawaf jagat raya. Bahkan bumi, laut, dan planet di sekitar kita, semuanya senantiasa melayani manusia.
Memasuki abad ke-21 ini, muncul sinyal hadirnya siklus kosmosentrisme religius. Kita dituntut berkawan, santun, dan mencintai alam tanpa terjatuh untuk menyembahnya sebagai Tuhan karena alam adalah jejak-jejak kebesaran dan kasihNya. Manusia harus mencintai alam, tempat di mana ia hidup. Sekalipun dalam alam cukup terdapat daya tolak, tetapi alam itu hidup berkat daya tarik. Alam dapat menjadi lestari berkat adanya rasa sayang yang timbal balik.
Geo-Teologis
Banjir dan bencana-bencana lainnya mesti juga dilihat dari perspektif tindakan ilahi yang kadang-kadang sulit dipahami oleh manusia. Artinya bahwa memang benar Allah itu mahakasih, namun dalam hakikatNya yang demikian, Ia juga bebas untuk "mengizinkan" terjadinya bencana alam untuk maksud-maksud tertentu, misalnya menghukum sekaligus sebagai media pembelajaran bagi manusia. Agar manusia tidak bersikap tamak dan sekehendak hati mengeksploitasi isi alam untuk memenuhi keinginannya sendiri.
Pada saat yang sama pula bencana alam harus dilihat dari aspek creatio continou (penciptaan yang terus-menerus atau suatu proses pembaharuan ciptaan), yaitu bahwa karya Allah dalam penciptaan bukanlah sesuatu yang sekali jadi, tetapi bahwa Allah Pencipta yang bekerja dalam sejarah itu terus-menerus memperbaharui alam semesta. Pendekatan teologis semacam ini (yang lebih dipengaruhi teologi proses) cukup menarik untuk dijelaskan dalam konteks bencana sebagai bagian integral dari sebuah proses. Bumi ciptaan Allah yang berada dalam sebuah proses "menjadi" selalu memberikan implikasi bagi umat manusia.
Dalam konteks ini pula, bencana alamiah dapat dibahas dalam kerangka sebuah eko-teologi, yakni teologi yang memandang alam semesta sebagai suatu keutuhan. Allah tidak hanya menciptakan, tetapi sekaligus aktif bekerja melalui keterlibatan manusia guna menjaga keselarasan, keseimbangan serta keberlangsungannya. Penebangan hutan yang dilakukan tanpa mempedulikan keseimbangan ekosistem sehingga menimbulkan malapetaka seperti banjir bandang. Eksploitasi kandungan bumi tanpa memperhitungkan harkat dan masa masa depan masyarakat lokal seperti di Papua, bahkan kasus semburan lumpur panas akibat pengeboran gas di Sidoarjo belakangan ini; mesti dilihat sebagai bentuk kejahatan politik yang sistematis terhadap ekologi, atau meminjam bahasa Karel Erari, sebuah ecocida yang juga berarti genocide (suatu bentuk pembantaian yang sistemis terhadap kelompok etnis tertentu) dan bahwa keduanya merupakan suatu Deicida, yakni "pembunuhan" atau sabotase terhadap kedaulatan Allah.
Manusia harus mengerti tentang antropokosmoteosentris dengan kedewasaan sosial dan mencintai alamnya. Kesadaran dan upaya menyelamatkan umat manusia dari kerusakan fisik bumi akan lebih mendorong manusia untuk melakukan transformasi sosial dan budaya ke arah kemanusiaan yang semakin tinggi. Semakin jauh ke depan, akan semakin terasa keperluan untuk mengurangi kadar pemakaian kekuasaan dan kekerasan, dalam segala rupa untuk menyelesaikan beragam problem manusia di zaman ini. Dengan demikian, akan semakin besar pula kesadaran dan pengendalian diri kemanusiawian umat manusia.

*) Mahasiswa Fakultas Ushuluddin Jurusan Aqidah dan Filsafat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Koran Pak Oles/Edisi 169/16-28 Februari 2009

Di Balik Peningkatan Standar Unas

thumbnail
Oleh: Nurani Soyomukti*
Permendiknas No 78/2008 menetapkan standar kelulusan dalam ujian nasional (unas) 5,50 dengan nilai minimal 4,0 paling banyak di dua mapel dan 4,25 di mapel lain. Angka ini naik 0,25 dibanding tahun lalu. Tampaknya tidak muncul reaksi yang cukup kuat mengenai kebijakan ini sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Pro-kontra tentang standardisasi angka kelulusan Unas kali ini tampaknya hampir tidak terjadi.
Ujian nasional adalah sarana untuk menentukan lulus atau tidaknya anak didik yang telah menempuh pendidikan tingkat tertentu. Proses pembelajaran harus dilihat dari berbagai aspek. Dan saya berani bertaruh bahwa aspek yang paling penting adalah kualitas-kualitas yang dapat diukur. Jadi, ketika masih banyak orang memperdebatkan UN tanpa melihat masalah yang paling penting dalam proses pembelajaran kita, saya melihat bahwa perdebatan tersebut tidaklah berkualitas—mungkin hanya perdebatan politis. Masalah standardisasi UN tidak akan banyak berkaitan dengan bahasan yang sedang saya perbincangkan angkat dalam buku ini.
Standardisasi yang sekarang ramai diperdebatkan adalah standardisasi menurut logika kapitalisme karena ukuran kualitas pendidikan Indonesia dibuat berdasarkan para pengambil kebijakan kapitalistik. Pemerintah selalu berargumen bahwa standar UN dengan nilai yang ditetapkan untuk mengeksekusi anak didik lulus atau tidak, didasarkan pada perbandingan kualitas pendidikan Indonesia dengan negara-negara lain. Ditingkatkannya nilai standard kelulusan disesuaikan dengan kepentingan kapitalisme global. Jadi, masalahnya bukanlah dipatoknya standard—bagaimanapun patokan untuk mengevaluasi segala sesuatu sangat penting. Yang masalah adalah dalam kepentingan apa standard itu dibuat dan bagaimana standard itu dibuat dengan dimulai dengan persiapan yang matang, demokratis, dan serius dalam proses pembelajaran.
Jadi ada semacam kelucuan kalau kita menelisik debat kusir standardisasi ujian nasional itu! Di satu sisi pemerintah, melalui Departemen Pendidikan, harus membuat patokan agar di mata kapitalis asing dan negara-negara Barat Indonesia terkesan serius dalam membuat patokan arah pendidikannya—setidaknya dari caranya menaikkan standard kelulusan. Standard itulah yang ingin ditunjukkan oleh pemerintah: “Ini lho, negaraku punya standard lulusan pendidikan sebegini bagus, pasti layak bersaing dalam kapitalisme global!”
Sayangnya, dengan jelas diketahui bahwa peran pemerintah selalu memakai double standard: ketika berbicara mengenai standard kelulusan dan aturan pendidikan mereka bersuara lantang, tapi ketika berbicara alokasi anggaran pendidikan mereka diam seribu bahasa. Alokasi anggaran yang sudah terealisasikan hanya sekitar 8,5% dari anggaran yang seharusnya 20% dari APBN. Alokasi anggaran yang ada diturunkan menjadi BOS (Bantuan Operasional Sekolah), dana ini lebih menitik beratkan pada proiritas perbaikan gedung dan penambahan alat praktek belajar-mengajar. Anggaran untuk memperbaiki kualitas guru dan kurikulum ternyata tidak disentuh.
Kepentingan
Para guru dan beberapa pekerja sekolah yang menyetujui kebijakan pemerintah, selain punya tujuan politis, memang telah memiliki sekolah yang maju—tentu saja sekolah favorit yang fasilitasnya bagus, yang dimasuki anak-anak yang lulus dari sekolah tingkat sebelumnya yang bernilai bagus—tentu saja sekolah ini sangat mahal. Mereka adalah sekolah yang memang terbukti selalu meluluskan siswa-siswanya meskipun standard UN yang titetapkan tinggi.
Sedangkan para guru yang menolak standard kelulusan punya kepentingan untuk melihat anak-anak didiknya lulus semua. Sayangnya, tujuannya adalah agar sekolahnya laku dan tidak punya citra buruk. Karena sekali ketahuan kalau banyak yang tidak lulus dari sekolah tersebut, citra sekolahnya akan buruk. Orangtua yang mengirimkan anaknya ke sekolah itu akan marah-marah dan kadang bernada provokasi agar para orangtua lain jangan menyekolahkan anaknya ke sekolah tersebut. Di tengah berjalannya era perdagangan sekolah, tentu pihak sekolah tidak ingin kalau sekolahnya “tidak laku”.
Itulah yang menyebabkan para guru di sekolah tersebut memanipulasi dengan berbagai cara agar murid-muridnya lulus. Tak heran, jika kecurangan UN adalah gejala yang semarak. Mulai dari guru yang membocorkan jawaban pada siswa-siswanya. Bocornya soal yang masih menjadi rahasia negara sebelum siswa mengerjakannya pada saat hari H ujian. Hingga berbagai macam kecurangan yang selalu menjadi bahan berita media.
Ketidaklulusan pun semakin besar. Berbagai mediapun memberitakan—kadang agak didramatisir—berbagai akibat dari UN, seperti adanya anak yang bunuh diri karena tidak lulus; anak yang rela dicabuli dukun yang dimintai tolong agar lulus mengerjakan soal UN; aksi demonstrasi menolak UN dan gugatan hukum (class action) terhadap pemerintah yang sebagai pengambil kebijakan UN yang dianggap salah; dan berbagai macam “gonjang-ganjing” Ujian Nasional. Kritik terhadap kebijakan ini juga dimanfaatkan oleh faksi-faksi politik yang ingin mendeligitimasi pemerintah untuk tujuan politik tertentu.
Jadi dari kasus semacam itu, yang ingin saya tegaskan adalah bahwa “gonjang-ganjing” UN itu tidak mencerminkan tuntutan masyarakat akan sebuah model pendidikan baru yang mampu menjawab bukan hanya masalah pendidikan Indonesia itu sendiri, tetapi juga proses mencetak manusia-manusia Indonesia ke depan—lebih tegas lagi pendidikan yang mampu membebaskan manusia dari belenggu ketidakadilan yang membuatnya tak menjadi manusia yang sebenarnya (bodoh, tertindas, putus-asa, pasif, tanpa peran sejarah).

*)Voluntary Educator (Pengajar Sukarelawan) dan Penulis Buku “Pendidikan Berperspektif Globalisasi” (Januari 2008) dan “Metode Pendidikan Marxis-Sosialis: Antara Teori dan Praktek” (Desember 2008), tinggal di Surabaya.
Koran Pak Oles/Edisi 169/16-28 Februari 2009

Koruptor Haram, Golput Dan Rokok Halal

thumbnail
Ketika Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa; rokok dan golput haram, lahir tanggapan dari berbagai elemen agama Islam yang ada di Indonesia. Mereka berpandangan bahwa rokok hukumnya mubah. Sepertinya MUI tidak memiliki kesadaran penuh bahwa fatwa tersebut banyak merugikan masyarakat bawah terutama para petani tembakau dan pabrik rokok yang ada di Indonesia.
MUI seharusnya lebih luas melihat dampak dan harus mempertimbangkan banyak hal misalnya keputusan tidak boleh bertolak punggung dengan rakyat. Mempertimbangkan publik. Inilah yang menjadi dasar sebuah fatwa. Kita lihat, apakah fatwa itu memunculkan pro-kontra atau tidak. Adakah dasar untuk menganalisis sebuah fatwa? Anehnya ulama MUI ini menghalalkan koruptor padahal ini sudah jelas-jelas merugikan masyarakat? Mestinya korupsi inilah hukumnya haram.
Fatwa haram sepantasnya bukan ditujukan pada masalah rokok atau golput, tapi kepada koruptor. Ini sangat terlihat bahwa MUI atau ulamanya tidak memiliki kharisma apa-apa dalam menangani fenomena masyakarat. Termasuk di antaranya soal bunga bank atau efek negatif tontonan infotaiment. Kenyataannya tayangan tersebut tetap laris manis dan memperoleh rating yang sangat tinggi.
Pertanyaan yang muncul, mengapa MUI yang merupakan kumpulan ulama-ulama cerdik bisa mengeluarkan fatwa yang kontroversial dalam masyarakat? Bukankah ada yang lebih penting yang bisa dibahas dalam kemaslahatan umat seperti korupsi? Sebenarnya apa yang diinginkan MUI mengeluarkan fatwa haram? Padahal Al-Qur’an dan Hadist tidak ada yang mengatakan rokok dan golput itu haram.
Fatwa golput itu haram yang dikeluarkan menjelang pelaksanaan Pemilu 2009 menimbulkan kesan bahwa MUI sudah terasuki penyakit politik yang kronis.
Fatwa memang sangat penting tapi dengan mempertimbangkan banyak cara. Jangan sampai fatwa terjebak pada simulasi politik yang kurang mencerdaskan masyarakat. Para ulama dan politisi sejatinya menyadari bahwa masyarakat selama ini sudah resah dengan fatwa-fatwa haram yang melebihi porsinya. Lebih baik fatwa MUI lebih pada bagaimana mengupas para koruptor yang mengambil milyaran rupaih uang rakyat dialokasikan pada kesejahteraan sosial. Itu jauh lebih bermakna bagi masyarakat daripada hanya membangun kata-kata kosong dalam mimpi indah dalam ruang kosong.
(Komentar: Matroni el-Moezany, bergiat di Center For Developing Islamic Education (CDIE) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta).
Koran Pak Oles/Edisi 169/16-28 Februari 2009

Minum Madu Jamur Atas Asam Urat

thumbnail
Nama: L.R Sagiman, 65 tahun, satpam, tinggal di Salatiga, Jateng.
Pengalaman:
Sudah lama saya menderita asam urat dan sering kumat-kumatan di bagian jempol kaki kanan dan kiri. Rasa sakit timbul pada malam hari sehingga saya sering tidak bisa tidur. Untuk mengatasi keluhan saya ini ada seseorang yang menyarankan saya untuk mengonsumsi Madu Jamur atau menggunakan Gelang EM Keramik Ramuan Pak Oles. Akhirnya saya rutin minum Madu Jamur. Mudah-mudahan hasilnya maksimal. Terima kasih Pak Oles.
Koran Pak Oles/Edisi 169/16-28 Februari 2009
thumbnail
Minyak Oles Bokashi Untuk Keluarga
Nama: Widi Restutisari, 27 tahun, ibu rumah tangga, tinggal di Boyolali, Jateng.
Pengalaman:
Minyak Oles Bokashi memang manjur! Itulah ungkapan perasaan saya setelah merasakan khasiatnya. Kulit saya yang sensitif mudah sekali merasa gatal, entah digigit nyamuk ataupun ketika berada di tempat yang kurang terjaga kebersihannya. Atas saran SPG Pak Oles saya mulai menggunakan Minyak Oles Bokashi yang banyak manfaatnya itu. Alhamdulillah, keluarga saya juga merasa cocok menggunakan Minyak Oles Bokashi. Saya juga sering menggunakannya untuk mandi rempah. Aroma terapinya membuat badan saya menjadi segar dan bersemangat lagi.
Koran Pak Oles/Edisi 169/16-28 Februari 2009

Wasir Saya Akhirnya Sembuh

thumbnail
Nama: Suparmanto, 47 tahun, swasta, tinggal di Kediri, Jatim.
Pengalaman:
Sejak tahun 1995, saya menderita sakit wasir yang selau kambuh setelah habis berkendaraan ataupun bekerja berat. Sudah berkali-kali saya berobat ke mana-mana mengikuti saran keluarga dan kerabat, tapi belum sembuh juga. Saat ke Yogya, saya diperkenalkan dengan Poleng dan Minyak Oles Bokashi. Lalu saya mulai rutin menggunakannya sesuai aturan pakainya. Alhamdulillah penyakit wasir yang mengganggu aktivitas saya sembuh. Hingga sekarang saya masih memakai Minyak Oles Bokashi. Khasiatnya terbukti dan harganya tidak mahal. Terima kasih Pak Oles atas karyanya yang tokcer…!
Koran Pak Oles/Edisi 169/16-28 Februari 2009

Sakit Gigi Pun Hilang

thumbnail
Nama: Riwayati, 29 tahun, ibu rumah tangga, tinggal di Desa Kalisari, Ungaran Barat, Semarang. Pengalaman:
Pertama kali saya mengenal Minyak Oles Bokashi dari suami saya. Awalnya saya tidak percaya kalau Minyak Oles Bokashi mampu menyembuhkan berbagai penyakit. Saat sakit gigi, saya coba obati dengan Minyak Oles Bokashi. Hasilnya benar. Dalam waktu singkat sakitnya sembuh. Untuk anak saya beri minum Madu Geruh. Hasilnya sejak usia 1,5 tahun anak saya sudah tidak ngompol lagi. Selain itu, nafsu makannya sangat bagus. Terima kasih Pak Oles berkat ramuan Pak Oles keluarga saya jadi sehat selalu.
Koran Pak Oles/Edisi 169/16-28 Februari 2009

Penyakit Asam Urat Berkurang

thumbnail
Nama: J. Kadarisman, 46 tahun, karyawan sebuah BUMD, tinggal di Semarang.
Pengalaman:
Saya menderita penyakit asam urat pada bagian lutut kaki. Kalau berjalan kaki saya merasa sakit sekali di telapak kaki saya. Ada SPG Pak Oles yang datang ke kantor saya menawarkan produk Ramuan Pak Oles, yaitu Madu Jamur dan Minyak Oles Bokashi. Saya rutin mengonsumsi Madu Jamur dan Minyak Oles Bokashi dengan cara dicampur. Alhamdulillah penyakit asam urat saya berkurang. Terima kasih Pak Oles.
Koran Pak Oles/Edisi 169/16-28 Februari 2009

Minyak Oles Bokashi Kempeskan Uci-uci

thumbnail
Nama: Umul Hidayah, 40 tahun, PNS, tinggal di Purworejo.
Pengalaman:
Sudah lama saya menderita uci-uci (benjolan) yang sangat mengganggu. Kebetulan ada SPG Pak Oles yang datang ke kantor menawarkan Minyak Oles Bokashi. Menurut SPG itu, minyak racikan Pak Oles itu bisa mengempeskan uci-uci. Akhirnya saya tertarik membelinya. Saya telah membuktikan khasiatnya/ Uci-uci saya kempes setelah rutin diolesi dengan Minyak Oles Bokashi. Akhirnya sampai sekarang saya sekeluarga mengonsumsi produk Pak Oles lainnya. Pak Oles memang sahabat keluarga.
Koran Pak Oles/Edisi 169/16-28 Februari 2009

Anak Saya Sembuh Dari Diare

thumbnail
Nama: Karyana Firmansyah, 36 tahun, PNS, tinggal di Garut.
Pengalaman:
Anak saya mengalami diare yang tak kunjung sembuh meski sudah dibawa ke dokter dan minum obat-obatan. Beruntung seorang saudara saya menyarankan untuk mencoba Minyak Oles Bokashi yang diteteskan ke dalam air hangat lalu diminum anak saya. Alhamdulillah diare anak saya mengalami perubahan dan akhirnya sembuh.
Koran Pak Oles/Edisi 169/16-28 Februari 2009

Minyak Bokashi Hilangkan Gatal-Gatal

thumbnail
Nama: Yati Rochayati. S, 53 tahun, PNS, tinggal di Ds Pangauban, Kec. Cisurupan, Garut.
Pengalaman:
Saya seorang pegawai dengan aktivitas pekerjaan yang padat sekali. Badan saya sering mengeluarkan keringat yang banyak. Tapi sejak saya memakai Minyak Oles Bokashi, alhamdulillah, tidak ada keluhan. Bila tangan terasa gatal saya selalu mengolesinya. Jika batuk kami juga sering minum Minyak Oles Bokashi sesuai aturan. Ternyata Minyak Bokashi dapat diandalkan sampai sekarang keluarga kami selalu memakainya. Dan saya memakai produk Pak Oles lainnya seperti Madu Hitam yang khasiatnya sudah saya rasakan.
Koran Pak Oles/Edisi 169/16-28 Februari 2009