KISAH SUKSES: IR KETUT RIKSA
OLEH: BENY ULEANDER
Aula pertemuan Institut Pengembangan Sumber Daya Alam (IPSA), Desa Bengkel, Buleleng, yang biasa diguna
kan untuk diskusi dan mendengar pemaparan teoritis aplikasi teknologi effective microorganisms (EM) mendadak sepi. Suara berisik para peserta kursus teknologi EM ditelan udara keheningan. Wajah mereka terkesima diam menyimak jawaban tulus Ir Ketut Riksa. Ya, pakar teknologi EM ini disodorkan sebuah pertanyaan menggugat dari seorang peserta. “Apakah teknologi EM sebuah teknologi pertanian penuh tipuan, hasil rekayasa dan hanya popular berkat kemampuan pembicara menyampaikan argumen yang meyakinkan peserta kursus?”
Dengan penuh kerendahatan hati, Ketut Riksa menjawab bahwa para peserta kursus memiliki kemampuan intelektual dan nurani untuk bisa membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik bagi dirinya. Dirinya sendiri berbicara tentang apa yang ia lihat, dalami dan praktekkan seputar teknologi EM. “Saya seorang pensiunan PNS yang merasa terpanggil untuk membagi pengetahuan soal teknologi EM yang saya yakini sebagai teknologi pertanian ideal untuk masa depan. Dan, semua yang saya bicarakan tidak saya pertanggungjawabkan kepada anda kalian tetapi akan saya pertanggung-jawabkan kepada Tuhan,” ujarnya dengan suara penuh wibawa sehingga peserta kursus terdiam.
Ir Ketut Riksa sudah 7 tahun mengabdi di PT Songgolangit Persada. Mantan Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bangli ini sering menjadi pembicara dalam berbagai pertemuan soal teknologi EM. Ia juga kerap membuat dan merencanakan demplot-demplot percontohan lahan pertanian yang menggunakan pupuk padat Bokashi Kotaku dan EM4. Kini di usia senjanya, Riksa mengaku tetap memiliki komitmen yang kuat untuk pempopulerkan teknologi EM sampai akhir hayatnya.
Untuk mencapai swasembada pangan nasional, Riksa berharap negara kita bisa mencontohi Korea Selatan yang sejak tahun 2000 memproklamasikan pertanian organikberbasis teknologi EM. Hasilnya, dalam tiga tahun mereka sudah mencapai swasembada pangan. “Mereka juga dapat minum air yang dulu bekas kubangan kerbau.Sebuah hal yang tidak mungkin mereka alami kalau masih mengandalkan pupuk kimiawi,” tegas pria yang semasa jadi PNS aktif sudah mengusulkan agar teknologi EM menjadi pilihan pemerintah daerah untuk meningkatkan hasil pertanian.
OLEH: BENY ULEANDER
Aula pertemuan Institut Pengembangan Sumber Daya Alam (IPSA), Desa Bengkel, Buleleng, yang biasa diguna
kan untuk diskusi dan mendengar pemaparan teoritis aplikasi teknologi effective microorganisms (EM) mendadak sepi. Suara berisik para peserta kursus teknologi EM ditelan udara keheningan. Wajah mereka terkesima diam menyimak jawaban tulus Ir Ketut Riksa. Ya, pakar teknologi EM ini disodorkan sebuah pertanyaan menggugat dari seorang peserta. “Apakah teknologi EM sebuah teknologi pertanian penuh tipuan, hasil rekayasa dan hanya popular berkat kemampuan pembicara menyampaikan argumen yang meyakinkan peserta kursus?”Dengan penuh kerendahatan hati, Ketut Riksa menjawab bahwa para peserta kursus memiliki kemampuan intelektual dan nurani untuk bisa membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik bagi dirinya. Dirinya sendiri berbicara tentang apa yang ia lihat, dalami dan praktekkan seputar teknologi EM. “Saya seorang pensiunan PNS yang merasa terpanggil untuk membagi pengetahuan soal teknologi EM yang saya yakini sebagai teknologi pertanian ideal untuk masa depan. Dan, semua yang saya bicarakan tidak saya pertanggungjawabkan kepada anda kalian tetapi akan saya pertanggung-jawabkan kepada Tuhan,” ujarnya dengan suara penuh wibawa sehingga peserta kursus terdiam.
Ir Ketut Riksa sudah 7 tahun mengabdi di PT Songgolangit Persada. Mantan Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bangli ini sering menjadi pembicara dalam berbagai pertemuan soal teknologi EM. Ia juga kerap membuat dan merencanakan demplot-demplot percontohan lahan pertanian yang menggunakan pupuk padat Bokashi Kotaku dan EM4. Kini di usia senjanya, Riksa mengaku tetap memiliki komitmen yang kuat untuk pempopulerkan teknologi EM sampai akhir hayatnya.
Untuk mencapai swasembada pangan nasional, Riksa berharap negara kita bisa mencontohi Korea Selatan yang sejak tahun 2000 memproklamasikan pertanian organikberbasis teknologi EM. Hasilnya, dalam tiga tahun mereka sudah mencapai swasembada pangan. “Mereka juga dapat minum air yang dulu bekas kubangan kerbau.Sebuah hal yang tidak mungkin mereka alami kalau masih mengandalkan pupuk kimiawi,” tegas pria yang semasa jadi PNS aktif sudah mengusulkan agar teknologi EM menjadi pilihan pemerintah daerah untuk meningkatkan hasil pertanian.


0 komentar:
Posting Komentar