OLEH: DIDIK PURWANTO
Obsesi untuk menjadi koperasi yang mandiri dengan variasi usaha dan target mencapai omzet Rp 1 milyar merupakan impian anggota Koperasi Karya (Kopkar) Pak Oles. Keinginan tersebut terlontar dari hasil Rapat Anggota Tahunan (RAT) yang dilaksanakan di Jl Tukad Balian Denpasar, Jumat (26/1). Selama periode Juli 2005 sampai 31 Desember 2006, berhasil membukukan laba Rp 200.715.000 dengan total aset Rp 766.857.000.
Seperti diungkap Manajer Keuangan, M Ayu Lidyawati, laba diperoleh dari subsidi penjualan EM keramik, kontribusi bunga pinjaman, warung koperasi dan usaha lain yang selama ini dijalankan. Dalam RAT juga dibagikan sisa hasil usaha (SHU) Rp 80 juta.
Sekitar 70% SHU diberikan secara tunai kepada anggota pada Maret 2007 dan sisanya diberikan dalam bentuk voucher belanja di warung koperasi atau pijat di Usadha Oles. Dengan semakin bertambah modal, Kopkar Pak Oles diyakini lebih maju dan berkembang. Selama ini, modal terbesar diperoleh dari bunga simpan pinjam anggota. Karena itu, koperasi simpan pinjam harus terus diaktifkan. ‘’Jadikan koperasi simpan pinjam sebagai tulang punggung karyawanta, semakin banyak kita belanja dan meminjam, semakin banyak peluang memenangkan hadiah,’’ ujar Lidyawati.
Yoyok Kuncoro selaku Ketua Kopkar mengatakan, pihaknya siap menambah usaha pada tahun 2007 melalui layanan pembayaran rekening listrik, air dan telepon, layanan tabungan simpanan sukarela dan deposito dengan bunga menarik, kerja sama usaha dengan sistem bagi hasil serta usaha cetak kartu nama.
Obsesi untuk menjadi koperasi yang mandiri dengan variasi usaha dan target mencapai omzet Rp 1 milyar merupakan impian anggota Koperasi Karya (Kopkar) Pak Oles. Keinginan tersebut terlontar dari hasil Rapat Anggota Tahunan (RAT) yang dilaksanakan di Jl Tukad Balian Denpasar, Jumat (26/1). Selama periode Juli 2005 sampai 31 Desember 2006, berhasil membukukan laba Rp 200.715.000 dengan total aset Rp 766.857.000.
Seperti diungkap Manajer Keuangan, M Ayu Lidyawati, laba diperoleh dari subsidi penjualan EM keramik, kontribusi bunga pinjaman, warung koperasi dan usaha lain yang selama ini dijalankan. Dalam RAT juga dibagikan sisa hasil usaha (SHU) Rp 80 juta.
Sekitar 70% SHU diberikan secara tunai kepada anggota pada Maret 2007 dan sisanya diberikan dalam bentuk voucher belanja di warung koperasi atau pijat di Usadha Oles. Dengan semakin bertambah modal, Kopkar Pak Oles diyakini lebih maju dan berkembang. Selama ini, modal terbesar diperoleh dari bunga simpan pinjam anggota. Karena itu, koperasi simpan pinjam harus terus diaktifkan. ‘’Jadikan koperasi simpan pinjam sebagai tulang punggung karyawanta, semakin banyak kita belanja dan meminjam, semakin banyak peluang memenangkan hadiah,’’ ujar Lidyawati.
Yoyok Kuncoro selaku Ketua Kopkar mengatakan, pihaknya siap menambah usaha pada tahun 2007 melalui layanan pembayaran rekening listrik, air dan telepon, layanan tabungan simpanan sukarela dan deposito dengan bunga menarik, kerja sama usaha dengan sistem bagi hasil serta usaha cetak kartu nama.


0 komentar:
Posting Komentar