SOKSIOLOGI
Oleh: Pak Oles
Negara kita yang jumlah penduduknya mencapai 230 juta orang memiliki 115 juta orang muda yang siap bekerja. Jumlah yang sebesar itu sangat cukup untuk menggerakkan mesin ekonomi masyarakat. Misalnya rata-rata gaji orang yang bekerja itu satu juta rupiah per bulan, maka uang yang beredar dari gaji saja mencapai 115 triliun per bulan. Sebuah jumlah uang yang cukup untuk menggerakkan ekonomi masyarakat menjadi makmur. Tapi bagaimana kenyataannya? Setengah dari jumlah penduduk yang diharapkan bekerja efektif, ternyata tidak efektif bekerja dan setengahnya lagi menyandang status pengangguran tak kentara dan pengangguran sangat kentara! Hal inilah yang membikin kita pusing tujuh keliling. Kenapa justru banyak tersedia tenaga kerja di tengah sumber daya alam yang melimpah kok sedikit sekali orang yang bisa bekerja, apalagi menciptakan lapangan kerja.
Kalau kita bisa menggugat pemerintah, presiden atau menteri tenaga kerja, yang salah satu tugasnya adalah bagaimana meningkatkan kemampuan SDM untuk mengisi dan menciptakan lapangan kerja, mungkin perkara akan bertambah seru, karena pasti yang tergugat tidak mau mengaku salah atau dipersalahkan. Walaupun kita tahu kenyatan di lapangan bahwa peran pemerintah dalam menyiapkan tenaga kerja dan menyediakan lapangan pekerjaan masih sangat minim. Misalnya diberlakukannya peraturan-peraturan yang tumpang tindih dan berbiaya tinggi untuk menjalankan bidang usaha, peraturan impor yang melemahkan daya saing produk lokal, harga BBM yang berbeda untuk industri dan masyarakat sehingga BBM menjadi langka di masyarakat.
Pelatihan dan pendidikan untuk meningkatkan kualitas SDM pencari dan pencipta lapangan kerja sebatas pada tingkat teoritis, sehingga tujuan dari pelatihan tersebut lebih dititikberatkan pada usaha untuk menghabiskan anggaran. Usaha-usaha pemerintah untuk membantu dan memberikan perlindungan hukum pada pembantu rumah tangga di luar negeri dari tindak kekerasan majikannya sangatlah lemah dan terkesan menganggap enteng masalah.
Tidaklah dapat disalahkan jika sebagian besar angkatan kerja di negeri ini ingin bekerja menjadi pegawai negeri, walaupun nombok puluhan bahkan ratusan juta rupiah, karena dari segi gengsi lebih tinggi, kerja lebih santai, gaji pasti diterima setiap bulan, walaupun malas dan tidak berprestasi ditanggung tidak dipecat oleh atasan. Tentu jika kualitas pegawai negeri yang rendah dan kuantitasnya yang tinggi akan memperlemah ekonomi masyarakat, karena sebagian besar pendapatan pajak dan retribusi yang dipungut dari rakyat habis dipakai untuk menggaji pegawai negeri, bukan untuk pembangunan masyarakat. Perekonomian yang lemah dan pengangguran yang tinggi cukup menggugah minat masyarakat untuk masuk ke ranah politik sebagai pelarian, siapa tahu dengan bersuara keras dan kritis bisa terpilih menjadi anggota DPR atau diberikan jabatan untuk mengelola perusahaan daerah atau BUMN. Jalur inilah yang sering disebut dengan jalur pintas menjadi penguasa.
Mungkin ada yang salah dalam pemimpin kita mengelola negeri ini. Dari segi letak geografis kita sangat berdekatan dengan negara tetangga yang lebih makmur, misalnya Malaysia, Singapura dan Australia. Cuma beberapa jam perjalanan naik pesawat dari negara kita. Letak negara yang berdekatan pun bisa menyebabkan ketimpangan kemakmuran rakyatnya, seperti misalnya Korea Utara dan Korea Selatan, Jerman Barat dan Jerman Timur, Irian Barat dan Irian timur, Kalimantan dan Brunei. Walaupun suku bangsa dan ras dari kelompok manusia yang hidup berdekatan itu sangat mirip, tapi nasibnya bisa berbeda seratus delapan puluh derajat, yang satu hidup miskin-melarat dan yang lainnya kaya-makmur. Dari sinilah kita bisa melihat bahwa nasib hidup suatu kelompok masyarakat sangat ditentukan oleh kualitas pemimpinnya. Semakin bermutu dan semakin visioner kualitas pemimpin untuk kehidupan masyarakatnya, maka kehidupan masyarakatnya akan semakin sejahtera. Sebaliknya semakin pemimpinnya tidak bermutu dan semakin mementingkan dirinya sendiri, maka kehidupan masyarakatnya akan semakin melarat karena ditindas oleh pemimpinnya sendiri.
Pembangunan negeri yang amburadul, salah arah dan tambal sulam yang kita alami sekarang ini mungkin perlu kita renungkan untuk mendapatkan jawabannya. Bangsa kita sangat tidak menghargai waktu. Dari segi budaya bahasa sering kita dengar jawaban dan penjelasan yang tidak pasti dengan istilah “kira-kira, mungkin, belum pasti, coba-coba, akan diusahakan, dalam proses, dll,” yang menandakan bahwa bangsa kita ini memang kurang menghargai waktu. Karena kita tidak menghargai waktu, maka kita tidak juga menghargai prestasi orang lain dan prestasi diri sendiri, tidak menghargai uang dan tidak menghargai keseriusan orang lain. Istilah yang sering kita dengar untuk menganggap enteng keseriusan orang lain, adalah dengan berkomentar “begitu aja kok repot.”
Setiap organisasi pasti mengeluhkan kualitas SDM yang kurang memadai dalam berbagai bidang. Ribuan sekolah dan lembaga pendidikan dan pelatihan negeri dan swasta sudah didirikan untuk memenuhi kualitas SDM yang dibutuhkan. Kenyataannya kita tetap saja tidak mampu memasok SDM yang berkualitas sesuai permintaan. Mungkin sistim pendidikan kita perlu ditata kembali agar tidak terlalu banyak menghasilkan SDM sampah, karena hanya sebagian kecil yang bisa lolos dalam memasuki dunia kerja.
Karena SDM kita tidak menghargai waktu, maka hasil yang dicapai dalam setiap usaha yang salah satu keberhasilannya bisa diukur dengan waktu pastilah amburadul. Misalnya pencapaian target, memulai dan menyelesaikan proyek, mengatur jadwal pertemuan, kunjungan kerja, jadwal transaksi bisnis dan termin membayar hutang, semuanya itu pasti berhubungan dengan waktu. Jika kita tidak menghargai waktu, maka segala hal yang berhubungan dengan waktu, uang dan prestasi pastilah bermasalah. Bencana alam banjir dan tanah longsor, tabrakan kereta, kemacetan lalu lintas, mewabahnya flu burung dan demam berdarah yang terjadi di negeri kita adalah hasil dari kerja kita yang tidak menghargai waktu. Karena kita tidak menghargai waktu, maka kita menganggap enteng masalah. Karena kita menganggap enteng, maka kita kurang fokus dan tidak berprestasi. Karena kita kurang fokus dan tidak berprestasi, maka masalah demi masalah rajin menghampiri kita yang tidak siap menghadapi masalah.
Yang dimaksud kita di sini adalah pemimpin yang menghasilkan SDM cekak dan dari SDM cekak menghasilkan pemimpin cekak. Istilah cekak berarti serba kurang. Maka janganlah disalahkan jika ajakan pemimpin untuk “bersama kita bisa,” diubah oleh SDM kita yang cekak menjadi “bersama kita binasa.” SDM kita harus ditata lagi agar tidak bertambah cekak. Siapa tahu mereka bisa menambah plesetan yang lebih parah lagi. Sebagai pemimpin, kuping boleh panas, tapi hati harus tetap dingin, tangan tetap bekerja, pikiran tetap fokus, jangan ragu-ragu, kerjakan sekarang sampai tuntas.....!
Oleh: Pak Oles
Negara kita yang jumlah penduduknya mencapai 230 juta orang memiliki 115 juta orang muda yang siap bekerja. Jumlah yang sebesar itu sangat cukup untuk menggerakkan mesin ekonomi masyarakat. Misalnya rata-rata gaji orang yang bekerja itu satu juta rupiah per bulan, maka uang yang beredar dari gaji saja mencapai 115 triliun per bulan. Sebuah jumlah uang yang cukup untuk menggerakkan ekonomi masyarakat menjadi makmur. Tapi bagaimana kenyataannya? Setengah dari jumlah penduduk yang diharapkan bekerja efektif, ternyata tidak efektif bekerja dan setengahnya lagi menyandang status pengangguran tak kentara dan pengangguran sangat kentara! Hal inilah yang membikin kita pusing tujuh keliling. Kenapa justru banyak tersedia tenaga kerja di tengah sumber daya alam yang melimpah kok sedikit sekali orang yang bisa bekerja, apalagi menciptakan lapangan kerja.
Kalau kita bisa menggugat pemerintah, presiden atau menteri tenaga kerja, yang salah satu tugasnya adalah bagaimana meningkatkan kemampuan SDM untuk mengisi dan menciptakan lapangan kerja, mungkin perkara akan bertambah seru, karena pasti yang tergugat tidak mau mengaku salah atau dipersalahkan. Walaupun kita tahu kenyatan di lapangan bahwa peran pemerintah dalam menyiapkan tenaga kerja dan menyediakan lapangan pekerjaan masih sangat minim. Misalnya diberlakukannya peraturan-peraturan yang tumpang tindih dan berbiaya tinggi untuk menjalankan bidang usaha, peraturan impor yang melemahkan daya saing produk lokal, harga BBM yang berbeda untuk industri dan masyarakat sehingga BBM menjadi langka di masyarakat.
Pelatihan dan pendidikan untuk meningkatkan kualitas SDM pencari dan pencipta lapangan kerja sebatas pada tingkat teoritis, sehingga tujuan dari pelatihan tersebut lebih dititikberatkan pada usaha untuk menghabiskan anggaran. Usaha-usaha pemerintah untuk membantu dan memberikan perlindungan hukum pada pembantu rumah tangga di luar negeri dari tindak kekerasan majikannya sangatlah lemah dan terkesan menganggap enteng masalah.
Tidaklah dapat disalahkan jika sebagian besar angkatan kerja di negeri ini ingin bekerja menjadi pegawai negeri, walaupun nombok puluhan bahkan ratusan juta rupiah, karena dari segi gengsi lebih tinggi, kerja lebih santai, gaji pasti diterima setiap bulan, walaupun malas dan tidak berprestasi ditanggung tidak dipecat oleh atasan. Tentu jika kualitas pegawai negeri yang rendah dan kuantitasnya yang tinggi akan memperlemah ekonomi masyarakat, karena sebagian besar pendapatan pajak dan retribusi yang dipungut dari rakyat habis dipakai untuk menggaji pegawai negeri, bukan untuk pembangunan masyarakat. Perekonomian yang lemah dan pengangguran yang tinggi cukup menggugah minat masyarakat untuk masuk ke ranah politik sebagai pelarian, siapa tahu dengan bersuara keras dan kritis bisa terpilih menjadi anggota DPR atau diberikan jabatan untuk mengelola perusahaan daerah atau BUMN. Jalur inilah yang sering disebut dengan jalur pintas menjadi penguasa.
Mungkin ada yang salah dalam pemimpin kita mengelola negeri ini. Dari segi letak geografis kita sangat berdekatan dengan negara tetangga yang lebih makmur, misalnya Malaysia, Singapura dan Australia. Cuma beberapa jam perjalanan naik pesawat dari negara kita. Letak negara yang berdekatan pun bisa menyebabkan ketimpangan kemakmuran rakyatnya, seperti misalnya Korea Utara dan Korea Selatan, Jerman Barat dan Jerman Timur, Irian Barat dan Irian timur, Kalimantan dan Brunei. Walaupun suku bangsa dan ras dari kelompok manusia yang hidup berdekatan itu sangat mirip, tapi nasibnya bisa berbeda seratus delapan puluh derajat, yang satu hidup miskin-melarat dan yang lainnya kaya-makmur. Dari sinilah kita bisa melihat bahwa nasib hidup suatu kelompok masyarakat sangat ditentukan oleh kualitas pemimpinnya. Semakin bermutu dan semakin visioner kualitas pemimpin untuk kehidupan masyarakatnya, maka kehidupan masyarakatnya akan semakin sejahtera. Sebaliknya semakin pemimpinnya tidak bermutu dan semakin mementingkan dirinya sendiri, maka kehidupan masyarakatnya akan semakin melarat karena ditindas oleh pemimpinnya sendiri.
Pembangunan negeri yang amburadul, salah arah dan tambal sulam yang kita alami sekarang ini mungkin perlu kita renungkan untuk mendapatkan jawabannya. Bangsa kita sangat tidak menghargai waktu. Dari segi budaya bahasa sering kita dengar jawaban dan penjelasan yang tidak pasti dengan istilah “kira-kira, mungkin, belum pasti, coba-coba, akan diusahakan, dalam proses, dll,” yang menandakan bahwa bangsa kita ini memang kurang menghargai waktu. Karena kita tidak menghargai waktu, maka kita tidak juga menghargai prestasi orang lain dan prestasi diri sendiri, tidak menghargai uang dan tidak menghargai keseriusan orang lain. Istilah yang sering kita dengar untuk menganggap enteng keseriusan orang lain, adalah dengan berkomentar “begitu aja kok repot.”
Setiap organisasi pasti mengeluhkan kualitas SDM yang kurang memadai dalam berbagai bidang. Ribuan sekolah dan lembaga pendidikan dan pelatihan negeri dan swasta sudah didirikan untuk memenuhi kualitas SDM yang dibutuhkan. Kenyataannya kita tetap saja tidak mampu memasok SDM yang berkualitas sesuai permintaan. Mungkin sistim pendidikan kita perlu ditata kembali agar tidak terlalu banyak menghasilkan SDM sampah, karena hanya sebagian kecil yang bisa lolos dalam memasuki dunia kerja.
Karena SDM kita tidak menghargai waktu, maka hasil yang dicapai dalam setiap usaha yang salah satu keberhasilannya bisa diukur dengan waktu pastilah amburadul. Misalnya pencapaian target, memulai dan menyelesaikan proyek, mengatur jadwal pertemuan, kunjungan kerja, jadwal transaksi bisnis dan termin membayar hutang, semuanya itu pasti berhubungan dengan waktu. Jika kita tidak menghargai waktu, maka segala hal yang berhubungan dengan waktu, uang dan prestasi pastilah bermasalah. Bencana alam banjir dan tanah longsor, tabrakan kereta, kemacetan lalu lintas, mewabahnya flu burung dan demam berdarah yang terjadi di negeri kita adalah hasil dari kerja kita yang tidak menghargai waktu. Karena kita tidak menghargai waktu, maka kita menganggap enteng masalah. Karena kita menganggap enteng, maka kita kurang fokus dan tidak berprestasi. Karena kita kurang fokus dan tidak berprestasi, maka masalah demi masalah rajin menghampiri kita yang tidak siap menghadapi masalah.
Yang dimaksud kita di sini adalah pemimpin yang menghasilkan SDM cekak dan dari SDM cekak menghasilkan pemimpin cekak. Istilah cekak berarti serba kurang. Maka janganlah disalahkan jika ajakan pemimpin untuk “bersama kita bisa,” diubah oleh SDM kita yang cekak menjadi “bersama kita binasa.” SDM kita harus ditata lagi agar tidak bertambah cekak. Siapa tahu mereka bisa menambah plesetan yang lebih parah lagi. Sebagai pemimpin, kuping boleh panas, tapi hati harus tetap dingin, tangan tetap bekerja, pikiran tetap fokus, jangan ragu-ragu, kerjakan sekarang sampai tuntas.....!


0 komentar:
Posting Komentar