Home » » Junk Food Tak Cuma Gaya Hidup

Junk Food Tak Cuma Gaya Hidup

OLEH: AGUS SALAM
SEMUA pengusaha junk food di Indonesia optimis, bisnis masakan siap saji ini akan terus berkembang. Mereka mengaku, bisnis junk food ini tidak ada matinya, karena tidak terpengaruh oleh krisis ekonomi atau kenaikan harga BBM. Bahkan bisnis ini menawarkan sistem waralaba dengan tujuan memperluas jaringan di seluruh Indonesia .
Inilah kondisi bisnis junk food di Indonesia. Meski banyak riset menyebut bahaya dibalik konsumsi junk food secara berlebihan tetapi tetap saja masakan cepat saji diminati masyarakat Indonesia.
Ket. foto: Bisnis waralaba junk food merambah kota-kota besar di Indonesia. Makanan siap saji tersebut disukai anak-anak dan remaja muda, termasuk di Kota Denpasar.

Sulit untuk dihindari, junk food sudah menjadi bagian dari gaya hidup sebagian masyarakat Indonesia. Coba tengok berbagai gerai di mal-mal, saban hari selalu dipenuhi pengunjung, dari anak-anak hingga orang dewasa. Remaja dan kaum pelajar di kota-kota besar pun sangat keranjingan berlama-lama menikmati aneka menu cepat saji itu.
Bisnis junk food tetap menjamur, lantaran tidak banyak terpengaruh oleh kondisi apapun dengan aneka menu spesifik, dari restoran cepat saji berskala internasional, nasional dan bahkan lokal.
Karena digemari, hingga kini restoran cepat saji terus memasang jurus-jurus ampuh untuk memikat pelanggan di tengah ketatnya persaingan antara restoran sejenis. Mau tidak mau, sebuah restoran cepat saji berada dalam titme bisnis yang sangat kompetitif dengan menyajikan aneka konsep outlet maupun menu khas agar tetap eksis. ‘’Kalau ingin merayakan ulang tahun untuk anak-anak, paling enak di junk food. Semuanya disediakan termasuk badut yang siap menghibur,’’ komentar Lusi (28), seorang ibu rumah tangga yang berlangganan junk food untuk hari ulang tahun anaknya.
Tidak heran, bila restoran cepat saji mendapat tempat di hati konsumen dalam beberapa tahun terakhir. Apalagi pertumbuhan mal-mal di kota-kota besar kian tak terbendung. Yang jelas, tidak sulit untuk menemukan menu-menu cepat saji imporan seperti KFC, McDonald, California Fried Chicken (CFC) dan sebagainya. Dengan memakai sistem franchise, retail atau waralaba, jaringan mereka sudah menjelajah hampir di semua kota propinsi, kabupaten bahkan kecamatan.
General Manager Operation CFC, Cecep Rakhman mengakui, pihaknya banyak melakukan inovasi baru, pengembangan produk dan pembukaan outlet di seluruh Indonesia. ‘’Kunci sukses berbisnis makanan dengan sistem waralaba juga dengan memberi kesempatan bagi masyarakat lokal ikut menjalankan bisnis restoran siap saji bersama CFC,’’ katanya bangga.
Lalu bagaimana dengan gizi yang disajikan pada menu tersebut? President Director PT Rice Bowl Indonesia, Santo mengungkapkan, konsep yang diterapkan bercermin pada sebuah resto oriental di Amerika, yang telah memiliki lebih dari 500 outlet dan sangat sukses dengan menu favoritnya.
Untuk memenuhi kebutuhan pelanggan yang mengutamakan higienitas dan kepraktisan, Rice Bowl mengusung konsep open kitchen dan table service. ’’Open Kitchen adalah semua kegiatan staf restoran yang dilakukan di dapur bisa dilihat pelanggan,’’ katanya.
Harga murah, higienis dan bergensi merupakan faktor utama mengapa jenis makanan ini diminati. Soal hasil-hasil penelitian yang dilakukan ahli-ahli gizi terhadap makanan junk food yang berpotensi merusak keesehatan, bagi masyarakat Indonesia itu soal lain, dan bahkan tidak mau tahu.
Inilah fenomena bisnis junk food. Meski merusak kesehatan tetapi tetap diminati. Malah ada industri junk food sudah berkembang sangat pesat. Sebuah perusahaan fast food ternama, dalam sehari bisa melayani 46 juta orang, melebihi jumlah penduduk Spanyol. Lebih parah lagi, junk food digalakkan melalui school lunch program.
Yang perlu diingat, konsep makanan seimbang jangan dianggap remeh apalagi untuk sekedar gengsi-gengsian. Karena cepat atau lambat akan mengikis identitas sebuah bangsa besar yang kaya akan ragam jenis makanan yang khas seperti Indonesia ini.
Thanks for reading Junk Food Tak Cuma Gaya Hidup

« Previous
« Prev Post
Next »
Next Post »

0 komentar:

Posting Komentar