Oleh: HERNAWARDI
Ardi_31@yahoo.com
KECAMATAN Narmada di Kabupaten Lombok Barat dikenal sebagai daerah penghasil buah-buahan berbagai jenis. Tak mengherankan wilayah yang kaya akan air ini dijadikan sentra industri buah di Lombok Barat. Karena kecamatan ini dikenal sebagai penyetok komoditi buah-buahan, itulah yang mengilhami kelompok Usaha Dagang (UD) Warna Sari, Suranadi, Narmada untuk menghasilkan produk turunan dan makanan olahan yang bahan bakunya sebagian besar dari bahan organik (alami)..jpg)
Sudah 15 tahun jalan kelompk usaha yang beranggotakan 10 orang ini dan kebanyakan anggotanya ibu-ibu rumah tangga tetap bertahan hingga sekarang. Meski sejumlah kendala terutama pada akses pasar yang belum memadai, juga berkenaan dengan mutu dan disain produk yang masih sangat lemah.
Ardi_31@yahoo.com
KECAMATAN Narmada di Kabupaten Lombok Barat dikenal sebagai daerah penghasil buah-buahan berbagai jenis. Tak mengherankan wilayah yang kaya akan air ini dijadikan sentra industri buah di Lombok Barat. Karena kecamatan ini dikenal sebagai penyetok komoditi buah-buahan, itulah yang mengilhami kelompok Usaha Dagang (UD) Warna Sari, Suranadi, Narmada untuk menghasilkan produk turunan dan makanan olahan yang bahan bakunya sebagian besar dari bahan organik (alami).
.jpg)
Sudah 15 tahun jalan kelompk usaha yang beranggotakan 10 orang ini dan kebanyakan anggotanya ibu-ibu rumah tangga tetap bertahan hingga sekarang. Meski sejumlah kendala terutama pada akses pasar yang belum memadai, juga berkenaan dengan mutu dan disain produk yang masih sangat lemah.
(Ket. foto: Pembuatan dodol tradisonal di UD Assalam Karang Baru)
Usaha produk turunan pimpinan Wiriadi yang berlokasi di Jalan Lintas Narmada, Sesaot, Lombok ini umumnya pengerjaan dari prosesing bahan baku hingga ekspansi pasarnya masih dilakukan secara alamiah, tanpa sentuhan teknologi tepat guna baik bantuan pemerintah maupun lembaga swasta lainnya. Meski demikian, soal rasa dan hasil produk yang dikemas oleh UD ini tak akan pernah mengecewakan konsumen, termasuk soal rasa.
Produk andalan tersebut diantaranya ada kerepek sirsak, tape, keripik nangka, keripik singkong, keripik talas, tempani, kacang ijo, keripik lele, rengginang, ubi, telur asin, kacang asin, dodol nangka yang rasanya lembut harum mewangi hingga madu asli.Hanya saja yang masih menjadi kendala di UD Warnasari menyangkut pemasaran yang selama ini kalah bersaing dengan produk sejenis yang diolah secara modern. Hal ini bisa dimaklumi, karena masih diolah serba tradisional dengan memenuhi kebutuhan pasar lokal. Ada juga permintaan dari Bali, Malang, Surabaya dan Jakarta dalam jumlah yang sangat terbatas,” jelas Eli Sunarti, pengurus kelompok usaha UD Warna Sari.
Upaya lebih memperkenalkan produk UD Warna Sari pada konsumen di luar daerah bisa dilakukan misalnya melalui kunjungan tamu-tamu luar daerah yang berkunjung baik untuk tujuan wisata maupun aktivitas lain. Momen ini juga dinilai tepat untuk melakukan negosisasi pemasaran dan transaksi penjualan. Kendala yang masih membelit usaha produk turunan hasil pertanian secara umum terletak pada persoalan mutu, desain produk dan emahnya kemasan.
“Terus terang kita masih lemah dalam disain, mutu, kualitas dan higenis produk. Hal ini wajar karena pengerjaan masih dilakukan secara tradisonal. Tak satupun diolah dengan mesin. Pernah dapat bantuan mesin pengolahan krupek nangka dari Dinas Pertanian, namun sudah tak berfungsi karena anggota lebih senang membuat secara tradisonal,” ungkap Wiriadi.
Usaha pengolahan makanan dari hasil pertanian tanaman pangan seperti yang dijalankan UD Warna Sari untuk memenuhi permintaan pasar juga sangat bergantung pada ketersediaan bahan baku yang ada. Sementara bahan baku yang diperoleh biasanya musiman. Seperti membuat dodol nangka, krupek singkong, kacang ijo atau bahan-bahan lain. Buah-buahan kan sifatnya musiman. Jadi kalau sudah musiman bahan baku tak sulit.
Untuk lebih meningkatkan akses pasar dan keinginan konsumen, anggota UD Warna Sari juga mendapatkan berbagai pelatihan baik dari Disperindag, Pertanian maupun Dinas terkait. Bahkan pelatihan hygenitas makanan dari Balai Pengawasan Obat makanan (BPOM) Mataram untuk pengawetan dan mutu produk pernah diikuti.


0 komentar:
Posting Komentar