Nilai Tawar Makanan Organik
OLEH: HERNAWARDI
ADA banyak ganjalan yang mendera produk makanan organic yang selama ini dikembangkan masyarakat. Karena kebanyakan produsen pada level ini tergolong industri kecil rumah tangga yang masih dilakukan secara tradisional. Begitu pula dari sisi mutu, kemasan dan penampilan produkpun sepertinya kurang layak di pasaran. Apalagi untuk merebut pasar swalayan atau menjalin kemitraan usaha dengan pengusaha ritelpun sulit mendapatkan kepercayaan.
Kadis Perindustrian dan Perdagangan (Perindag) Lombok Barat Joko Wiratno, SE, MM menyatakan,
jika hasil olahan bagus, kemasan memenuhi selera pasar dan memperhatikan kebersihan (hygenis) produk sebagaimana yang diproduk oleh PT Phonik Mas Labuapi Lombok Barat pasarannyat tidak hanya memenuhi pasar lokal atau luar daerah, pasar luar negeripun bisa ditembus.
Terkait dengan produsen makanan olahan rumah tangga ini, Joko memberi contoh jajanan opak-opak (krupuk bundar besar) krupuk khas Lombok yang bahan bakunya dari singkong, di Lombok dijadikan sebagai makanan camilan industri rumah tangga. Para perajin memperhitungkan untung ruginya dalam berusaha. “Bayangkan, kalau jajanan seperti ini dikemas lalu dipasarkan ke toko-toko atau supermarket, malah yang terjadi biaya kemasannya lebih mahal daripada isinya,” terang Joko.
Jika demikian yang terjadi, produsen pembuat makanan berbahan organik inipun menilai apakah makanan ini layak atau tidak untuk dibikinkan kemasan. Apalagi kemampuan permodalan bagi industri rumah tangga menjadi salah satu kendala untuk menghasilkan produk yang lebih baik.
Memang persoalan mutu mutu, disain, kemasan dan higenitas industri rumah tangga terutama produk olahan hasil pertanian dan semacamnya tengah diupayakan. Untuk hal ini, Disperindag Lombok Barat bekerja sama Pusat Disain Jakarta mengembangkan disain produk agar tidak monoton pada satu variasi produk. Soal peningkatan kualitas, Disperindag Lobar bekerja sama Disperindag Jakarta dalam hal disain kemasan pada produk makanan.
Joko membenarkan secara umum produk turunan atau olahan rumah tangga bagi produsen di Lobar, pemasarannya masih memenuhi kebutuhan lokal, karena industri rumah tangga kapasitas produknya masih kecil dan terbatas. Meski ada yang sudah diekspor seperti hasil rumput laut dan kacang mete, lebih disebabkan karena diproduksi secara modern.
ADA banyak ganjalan yang mendera produk makanan organic yang selama ini dikembangkan masyarakat. Karena kebanyakan produsen pada level ini tergolong industri kecil rumah tangga yang masih dilakukan secara tradisional. Begitu pula dari sisi mutu, kemasan dan penampilan produkpun sepertinya kurang layak di pasaran. Apalagi untuk merebut pasar swalayan atau menjalin kemitraan usaha dengan pengusaha ritelpun sulit mendapatkan kepercayaan.
Kadis Perindustrian dan Perdagangan (Perindag) Lombok Barat Joko Wiratno, SE, MM menyatakan,
jika hasil olahan bagus, kemasan memenuhi selera pasar dan memperhatikan kebersihan (hygenis) produk sebagaimana yang diproduk oleh PT Phonik Mas Labuapi Lombok Barat pasarannyat tidak hanya memenuhi pasar lokal atau luar daerah, pasar luar negeripun bisa ditembus.Terkait dengan produsen makanan olahan rumah tangga ini, Joko memberi contoh jajanan opak-opak (krupuk bundar besar) krupuk khas Lombok yang bahan bakunya dari singkong, di Lombok dijadikan sebagai makanan camilan industri rumah tangga. Para perajin memperhitungkan untung ruginya dalam berusaha. “Bayangkan, kalau jajanan seperti ini dikemas lalu dipasarkan ke toko-toko atau supermarket, malah yang terjadi biaya kemasannya lebih mahal daripada isinya,” terang Joko.
Jika demikian yang terjadi, produsen pembuat makanan berbahan organik inipun menilai apakah makanan ini layak atau tidak untuk dibikinkan kemasan. Apalagi kemampuan permodalan bagi industri rumah tangga menjadi salah satu kendala untuk menghasilkan produk yang lebih baik.
Memang persoalan mutu mutu, disain, kemasan dan higenitas industri rumah tangga terutama produk olahan hasil pertanian dan semacamnya tengah diupayakan. Untuk hal ini, Disperindag Lombok Barat bekerja sama Pusat Disain Jakarta mengembangkan disain produk agar tidak monoton pada satu variasi produk. Soal peningkatan kualitas, Disperindag Lobar bekerja sama Disperindag Jakarta dalam hal disain kemasan pada produk makanan.
Joko membenarkan secara umum produk turunan atau olahan rumah tangga bagi produsen di Lobar, pemasarannya masih memenuhi kebutuhan lokal, karena industri rumah tangga kapasitas produknya masih kecil dan terbatas. Meski ada yang sudah diekspor seperti hasil rumput laut dan kacang mete, lebih disebabkan karena diproduksi secara modern.
Perbaikan mutu, disain dan akses inpormasi penting dilakukan oleh produsen makanan seperti ini, jika menginginkan produknya mendapat tempat di hati konsumen. Perajin Lobar tetap dipertemukan dengan pengusaha atau pembeli yang menampung hasil produk ini setiap tiga bulan sekali. Kerja sama lain, menjalin komunikasi bersama pengusaha ritel seperti mall, supermarket atau swalayan. “Pembinaanpun tetap kita lakukan untuk meningkatkan mutu kemasan dan disain tetap. Demikian juga pada event-event atau pameran-pameran hasil produk makanan tambahan para produsen tetap diikutkan. Hal ini dilakukan disamping produsen bisa menambah wawasan mereka dalam hal peningkatan kualitas produk, juga bisa melakukan akses pasar dengan pembeli dan mengetahui banyak apa sesungguhnya yang diinginkan pasar,” kata Joko.
(Ket. foto: Joko Wiratno, Kadisperindag Lombok Barat)


0 komentar:
Posting Komentar