OLEH: DIDIK PURWANTO
NGEMIL sambil ngobrol memang mengasyikkan. Apalagi makanan yang dibeli cepat saji dan murah. Tak hanya remaja, anak-anak dan orang tua rela antri untuk mendapat makanan cepat saji waralaba asa
l Amerika Serikat. Warga kota sudah biasa konsumsi makanan cepat saji, terlepas dari rasa sekadar ingin tahu bahkan gengsi dengan teman yang sudah pamer makan di resto kelas internasional.
Menurut Dr Gede Ngurah Indraguna Pinatih, MSc, makanan cepat saji (fast food) sangat tidak baik untuk kesehatan. Meski Indonesia memiliki makanan cepat saji seperti masakan Padang dan masakan Bali yang notabene sudah masak dan langsung bisa dinikmati, namun pengertian makanan cepat saji disini bukan pada koridor itu.
Makanan cepat saji yang dimaksud lebih pada cemilan khas waralaba internasional. Misalnya Mc Donald, KFC dan Pizza Hut. Masyarakat belum banyak mengetahui bahwa yang mereka konsumsi adalah lemak. “Makanan cepat saji lebih mementingkan rasa dan tampilan, termasuk warna. Makanan tersebut tidak 100 persen sehat karena kandungan gizi juga terbatas,” ujar Dr Indraguna.
Jika masyarakat terus konsumsi makanan cepat saji dan tidak dibarengi aktivitas untuk membakar kalori, tubuh akan terkena obesitas (kegemukan). “Kalau orang dahulu (nenek moyang) kan lain. Mereka seimbang antara yang masuk dan keluar, antara yang dimakan dan dikeluarkan (aktivitas). Jangan cuma duduk sambil nyemil saja,” tutur ahli gizi dan akupuntur ini.
Di Eropa dan Amerika sudah menggolongkan makanan cepat saji sebagai makanan sampah (junk food). “Memang camilan bukan menjadi penyebab obesitas. Namun indikasi tersebut menjadi dasar salah satu faktor resiko terkena obesitas bahkan jantung dan kencing manis.
Salah satu solusi dari makanan cepat saji yang kian diminati masyarakat adalah konsumsi makanan buatan sendiri. Dan kalau perlu ditanam, dipetik hingga masak sendiri. Makanan yang berbahan baku organik justru menjadi contoh makanan sehat dan bergizi tinggi.
Makanan yang banyak digemari masyarakat sekarang justru makanan yang sudah terkontaminasi (tercemar) racun, baik pestisida, polusi udara dan kendaraan maupun ikan dari laut yang sudah dicemari mercuri dan timbal. Belum lagi hewan yang banyak disuntik hormon pertumbuhan.
NGEMIL sambil ngobrol memang mengasyikkan. Apalagi makanan yang dibeli cepat saji dan murah. Tak hanya remaja, anak-anak dan orang tua rela antri untuk mendapat makanan cepat saji waralaba asa
l Amerika Serikat. Warga kota sudah biasa konsumsi makanan cepat saji, terlepas dari rasa sekadar ingin tahu bahkan gengsi dengan teman yang sudah pamer makan di resto kelas internasional.Menurut Dr Gede Ngurah Indraguna Pinatih, MSc, makanan cepat saji (fast food) sangat tidak baik untuk kesehatan. Meski Indonesia memiliki makanan cepat saji seperti masakan Padang dan masakan Bali yang notabene sudah masak dan langsung bisa dinikmati, namun pengertian makanan cepat saji disini bukan pada koridor itu.
Makanan cepat saji yang dimaksud lebih pada cemilan khas waralaba internasional. Misalnya Mc Donald, KFC dan Pizza Hut. Masyarakat belum banyak mengetahui bahwa yang mereka konsumsi adalah lemak. “Makanan cepat saji lebih mementingkan rasa dan tampilan, termasuk warna. Makanan tersebut tidak 100 persen sehat karena kandungan gizi juga terbatas,” ujar Dr Indraguna.
Jika masyarakat terus konsumsi makanan cepat saji dan tidak dibarengi aktivitas untuk membakar kalori, tubuh akan terkena obesitas (kegemukan). “Kalau orang dahulu (nenek moyang) kan lain. Mereka seimbang antara yang masuk dan keluar, antara yang dimakan dan dikeluarkan (aktivitas). Jangan cuma duduk sambil nyemil saja,” tutur ahli gizi dan akupuntur ini.
Di Eropa dan Amerika sudah menggolongkan makanan cepat saji sebagai makanan sampah (junk food). “Memang camilan bukan menjadi penyebab obesitas. Namun indikasi tersebut menjadi dasar salah satu faktor resiko terkena obesitas bahkan jantung dan kencing manis.
Salah satu solusi dari makanan cepat saji yang kian diminati masyarakat adalah konsumsi makanan buatan sendiri. Dan kalau perlu ditanam, dipetik hingga masak sendiri. Makanan yang berbahan baku organik justru menjadi contoh makanan sehat dan bergizi tinggi.
Makanan yang banyak digemari masyarakat sekarang justru makanan yang sudah terkontaminasi (tercemar) racun, baik pestisida, polusi udara dan kendaraan maupun ikan dari laut yang sudah dicemari mercuri dan timbal. Belum lagi hewan yang banyak disuntik hormon pertumbuhan.

Hal ini makin diperparah oleh regulasi pemerintah karena kurang waspada terhadap makanan beracun. Bahkan ada juga makanan transgenik, makanan yang anti pembusukan karena perubahan susunan genetik. Karena baru berkembang 15 tahun lalu, penelitian tentang efek-efek pemakaian makanan transgenik belum dapat ditemukan. Contoh bahan sayuran yang sudah transgenik adalah kentang, wortel dan tomat. “Ciri-cirinya dapat dibandingkan dengan kualitas sayur hasil petani dengan sistem pertanian biasa. Warna sayur transgenik lebih segar dan lama membusuk. Beda dengan sayur biasa dari petani kita,” tambahnya.
Mamara Rimba Sakti, Manajer Pizza Wong Ndeso malah membantah makanan khas ini sebagai makanan sampah (junk food). Masyarakat sudah terlalu biasa terhadap makanan cepat saji (fast food) terutama dari waralaba internasional. “Karena masyarakat masih senang nongkrong maka saya juga mengikuti selera pasar untuk membuat selera sesuai pasar tapi modifikasi,” ujar Rimba.
Dengan motto Pizza Wong Ndeso Rasa Wong Kota Harga Kaki Lima ini lebih mengandalkan pizza khas Itali sebagai menu andalan. Terinspirasi dari lawakan Tukul Arwana, Agung Hidayat membuat nama-nama sesuai yang dibawakan pelawak asal Semarang itu seperti Pizza Super Katrok, Pizza Super Culun, Pizza Campur Wong Cilik hingga minuman khas seperti Sexy Blue, Coklat Chips bahkan Shisa (rokok hisap khas Arab).
“Kami menjamin tanpa ada pengawet dan pewarna buatan. Usaha ini dibuat memang terinspirasi dari Wong Katrok, Tukul Arwana. Saya berharap bisa ketemu dia di lain waktu,” tambah Agung Hidayat, pemilik Pizza Wong Ndeso yang berdiri pada awal 2007 dan sudah miliki tiga outlet di Bali itu. Harga menu yang ditawarkan berkisar Rp 14.500 hingga Rp 29.500 untuk pizza dan Rp 4000 sampai Rp 9000 untuk minuman.
Mamara Rimba Sakti, Manajer Pizza Wong Ndeso malah membantah makanan khas ini sebagai makanan sampah (junk food). Masyarakat sudah terlalu biasa terhadap makanan cepat saji (fast food) terutama dari waralaba internasional. “Karena masyarakat masih senang nongkrong maka saya juga mengikuti selera pasar untuk membuat selera sesuai pasar tapi modifikasi,” ujar Rimba.
Dengan motto Pizza Wong Ndeso Rasa Wong Kota Harga Kaki Lima ini lebih mengandalkan pizza khas Itali sebagai menu andalan. Terinspirasi dari lawakan Tukul Arwana, Agung Hidayat membuat nama-nama sesuai yang dibawakan pelawak asal Semarang itu seperti Pizza Super Katrok, Pizza Super Culun, Pizza Campur Wong Cilik hingga minuman khas seperti Sexy Blue, Coklat Chips bahkan Shisa (rokok hisap khas Arab).
“Kami menjamin tanpa ada pengawet dan pewarna buatan. Usaha ini dibuat memang terinspirasi dari Wong Katrok, Tukul Arwana. Saya berharap bisa ketemu dia di lain waktu,” tambah Agung Hidayat, pemilik Pizza Wong Ndeso yang berdiri pada awal 2007 dan sudah miliki tiga outlet di Bali itu. Harga menu yang ditawarkan berkisar Rp 14.500 hingga Rp 29.500 untuk pizza dan Rp 4000 sampai Rp 9000 untuk minuman.


0 komentar:
Posting Komentar