Sampai tahun 2016, sekitar 20 juta anak di Asia Timur dan Pasifik diperkirakan terpaksa memasuki dunia kerja dalam usia sangat dini. Fenomena itu terjadi sebagai dampak terpuruk krisis keuangan global, kata Menteri Pengembangan Masyarakat, Pemuda dan Olahraga Singapura, Dr Vivian Balakrishnan pada pembukaan konferensi Dampak Krisis Ekonomi Global Terhadap Anak di Singapura, pekan lalu.
Singapura, sebut Vivian, mengatasi ancaman dengan menempatkan anak-anak sebagai masa depan bangsa sehingga setiap kebijakan diarahkan untuk melindungi dan menyiapkan generasi penerus. Singapura sebagai negara dengan kemajemukan yang tinggi mengakui adanya perbedaan dan menghargai anak-anak sebagai sosok yang unik lalu merancang kebijakan pembangunan yang relevan dengan kebutuhan anak-anak serta selaras dengan arah Millenium Development Goals MDG`s). ‘’Kita tidak bisa berkompromi untuk masa depan anak-anak meskipun sedang menghadapi tantangan ekonomi yang sekarang sedang terjadi,’’ ujarnya.
UNICEF mengemukakan krisis ekonomi sekarang telah mengakibatkan pendapatan masyarakat menjadi berkurang dan hal itu dapat mengancam anak-anak menjadi putus sekolah, kekurangan gizi atau nutrisi serta menghadapi kemungkinan harus terjun ke lapangan kerja dalam usia dini.
Dekan Universitas Le Kuan Yew, Prof Kishore Mahbubani menegaskan, anak-anak merupakan kelompok masyarakat yang paling rentan menghadapi ancaman krisis. Krisis global membuat keluarga miskin terancam tidak dapat memberikan nutrisi yang cukup, mengabaikan pendidikan dan proteksi kesehatan terhadap anak.
Prof Kishore memberikan gambaran bahwa kebijakan yang mengutamakan anak-anak akan dapat dilihat hasilnya 20 tahun mendatang. Bukti-bukti yang telah terjadi sebagai dampak krisis tahun 1997-1998, bisa digunakan untuk menyusun kebijakan baru dalam menghadapi krisis saat ini. Krisis keuangan kali ini mengakibatkan kenaikan harga bahan makanan dan mendorong 105 juta warga dunia masuk dalam kelompok keluarga miskin. Kondisi ini mengancam anak-anak jadi kekurangan gizi, terpaksa putus sekolah dan jadi pekerja ‘’Dengan krisis keuangan dan melambungnya harga makanan, maka keluarga miskin mendapat tekanan ekonomi yang sangat dahsyat,’’ katanya.
Sejumlah negara sudah memberikan jaring pengaman sosial seperti memberikan bantuan uang tunai, jaminan kesehatan, bantuan makanan tambahan, pendidikan gratis, tetapi masih banyak negara lain yang belum bertindak apan pun juga. Sebuah penelitian terbaru menyebut, krisis ekonomi telah mengakibatkan dampak negatif pada tingkat anemia pada ibu hamil, bayi lahir dengan bobot rendah, putus sekolah dan banyak jadi buruh anak, buruh migran dan bahkan yang lebih mengerikan yakni jadi korban perdagangan manusia.
Sesuai catatan UNICEF, selama krisis keuangan Asia pada 1997-1998, anggaran kesehatan masyarakat Thailand menurun 9.0% dan anggaran pendidikan turun 6.0%. Pada saat itu, angka kematian bayi di Indonesia meningkat 14%. Di Filipina, angka imunisasi turun 15% dan belanja untuk kesehatan masyarakat turun 6%, adapun angka pendaftaran di sekolah bagi anak-anak menurun dan jumlah anak pekerja meningkat.
Setiap tahun, total biaya peluncuran program pemberian makanan untuk anak-anak sekolah yang kekurangan gizi di seluruh dunia sebanyak 6 miliar dolar AS. Uang itu tampaknya begitu besar tetapi ini tak seberapa dibanding 8 triliun dolar AS yang digunakan pemerintah-pemerintah untuk memberi jaminan bank-bank terkaya di dunia dalam beberapa bulan terakhir, katanya. ‘’Delapan triliun dolar AS adalah 8.000 miliar dolar. Kami dapat menemukan 8.000 miliar dolar untuk memberi jaminan bank-bank kaya, tetapi kami tak dapat menemukan enam miliar dolar untuk memberi makan anak-anak dunia,’’ ujar Dr Vivian.
Koran Pak Oles/Edisi 167/16-31 Januari 2009
Singapura, sebut Vivian, mengatasi ancaman dengan menempatkan anak-anak sebagai masa depan bangsa sehingga setiap kebijakan diarahkan untuk melindungi dan menyiapkan generasi penerus. Singapura sebagai negara dengan kemajemukan yang tinggi mengakui adanya perbedaan dan menghargai anak-anak sebagai sosok yang unik lalu merancang kebijakan pembangunan yang relevan dengan kebutuhan anak-anak serta selaras dengan arah Millenium Development Goals MDG`s). ‘’Kita tidak bisa berkompromi untuk masa depan anak-anak meskipun sedang menghadapi tantangan ekonomi yang sekarang sedang terjadi,’’ ujarnya.
UNICEF mengemukakan krisis ekonomi sekarang telah mengakibatkan pendapatan masyarakat menjadi berkurang dan hal itu dapat mengancam anak-anak menjadi putus sekolah, kekurangan gizi atau nutrisi serta menghadapi kemungkinan harus terjun ke lapangan kerja dalam usia dini.
Dekan Universitas Le Kuan Yew, Prof Kishore Mahbubani menegaskan, anak-anak merupakan kelompok masyarakat yang paling rentan menghadapi ancaman krisis. Krisis global membuat keluarga miskin terancam tidak dapat memberikan nutrisi yang cukup, mengabaikan pendidikan dan proteksi kesehatan terhadap anak.
Prof Kishore memberikan gambaran bahwa kebijakan yang mengutamakan anak-anak akan dapat dilihat hasilnya 20 tahun mendatang. Bukti-bukti yang telah terjadi sebagai dampak krisis tahun 1997-1998, bisa digunakan untuk menyusun kebijakan baru dalam menghadapi krisis saat ini. Krisis keuangan kali ini mengakibatkan kenaikan harga bahan makanan dan mendorong 105 juta warga dunia masuk dalam kelompok keluarga miskin. Kondisi ini mengancam anak-anak jadi kekurangan gizi, terpaksa putus sekolah dan jadi pekerja ‘’Dengan krisis keuangan dan melambungnya harga makanan, maka keluarga miskin mendapat tekanan ekonomi yang sangat dahsyat,’’ katanya.
Sejumlah negara sudah memberikan jaring pengaman sosial seperti memberikan bantuan uang tunai, jaminan kesehatan, bantuan makanan tambahan, pendidikan gratis, tetapi masih banyak negara lain yang belum bertindak apan pun juga. Sebuah penelitian terbaru menyebut, krisis ekonomi telah mengakibatkan dampak negatif pada tingkat anemia pada ibu hamil, bayi lahir dengan bobot rendah, putus sekolah dan banyak jadi buruh anak, buruh migran dan bahkan yang lebih mengerikan yakni jadi korban perdagangan manusia.
Sesuai catatan UNICEF, selama krisis keuangan Asia pada 1997-1998, anggaran kesehatan masyarakat Thailand menurun 9.0% dan anggaran pendidikan turun 6.0%. Pada saat itu, angka kematian bayi di Indonesia meningkat 14%. Di Filipina, angka imunisasi turun 15% dan belanja untuk kesehatan masyarakat turun 6%, adapun angka pendaftaran di sekolah bagi anak-anak menurun dan jumlah anak pekerja meningkat.
Setiap tahun, total biaya peluncuran program pemberian makanan untuk anak-anak sekolah yang kekurangan gizi di seluruh dunia sebanyak 6 miliar dolar AS. Uang itu tampaknya begitu besar tetapi ini tak seberapa dibanding 8 triliun dolar AS yang digunakan pemerintah-pemerintah untuk memberi jaminan bank-bank terkaya di dunia dalam beberapa bulan terakhir, katanya. ‘’Delapan triliun dolar AS adalah 8.000 miliar dolar. Kami dapat menemukan 8.000 miliar dolar untuk memberi jaminan bank-bank kaya, tetapi kami tak dapat menemukan enam miliar dolar untuk memberi makan anak-anak dunia,’’ ujar Dr Vivian.
Koran Pak Oles/Edisi 167/16-31 Januari 2009


0 komentar:
Posting Komentar