Banyak jamu dan obat tradisional produk Indonesia yang beredar di Semenanjung Malaysia ternyata palsu. Hal itu terungkap dalam forum dialog Pemangku Kepentingan (Stakeholders) Produk Obat Tradisional Indonesia yang digelar KBRI Kuala Lumpur yang dibuka Dubes RI untuk Malaysia, Dai Bachtiar.
Tampil sebagai pembicara Ketua umum gabungan pengusaha jamu, Charles Saerang, pejabat Kementerian Perdagangan Dalam Negeri dan Hal Ehwal Pengguna (Perlindungan Konsumen) Malaysia, Hasmi Mohamad, pejabat Kementerian Kesehatan Malaysia, Ghazaki Mansor, pejabat BPOM, Sabar Hariandja, pejabat Departemen Perdagangan RI, Yayang Sudaryana. ‘’Dari jamu Indonesia ilegal yang beredar di Malaysia adalah 70 persen adalah jamu palsu, dan 30 persen lagi ilegal karena termasuk kategori produk yang tidak terdaftar (belum lulus uji) di Kementerian Kesehatan Malaysia. Yang 30 persen ini adalah jamu asli (bukan palsu)tapi masuk tanpa kelulusan Kementerian Kesehatan dan Perdagangan Dalam Negeri Malaysia,’’ kata Charles.
Di Indonesia terdaftar 400 produk dan merek jamu. Sekitar 50 persen atau 200 produk jamu Indonesia masuk ke Malaysia. Sebanyak 20 persen yang beredar di Malaysia didistribusikan oleh agen atau distributor resmi yang ditunjuk pemegang merek, sedangkan 80 persen dimasukan ke Malaysia oleh pihak ketiga atau distributor tak resmi.
Dalam menangani banjirnya produk jamu palsu di Malaysia, ketua asosiasi jamu Indonesia itu mengatakan, tidak setuju jika dilakukan operasi setiap bulan sekali karena akan membuat takut pengguna dan membuat citra jamu Indonesia buruk di pasar Malaysia. ‘’Kami melakukan pendekatan dan edukasi kepada distributor di Malaysia. Kami menarik produk jamu palsu kemudian kami ganti dengan yang asli secara diam-diam sehingga tidak membuat panik pasar,’’ katanya.
Charles mengatakan, forum dialog ini sangat penting. Diharapkan Kementerian Perdagangan Dalam Negeri dan Kementerian Kesehatan - Malaysia, KBRI dan kami perlu aktif melakukan kampanye, edukasi dan promosi kepada pengguna jamu di Malaysia agar tahu bagaimana membandingkan jamu asli dan palsu. "Diperkirakan, penjualan jamu palsu di Malaysia sekitar Rp 165 juta per bulan," kata Charles yang sering ke Malaysia. Jaringan distribusi jamu Indonesia di semenanjung Malaysia relatif kuat meliputi semua negara bagian, kecuali di Malaysia Timur yakni di Sabah dan Sarawak.
Sementara kepala pemberantasan pemalsuan label dan barang tiruan dari Kementerian Perdagangan Dalam Negeri dan Hal Ehwal Pengguna (Perlindungan Konsumen) Malaysia, Hasmi Mohamad mengatakan, selama ini baru satu perusahaan Indonesia yang melaporkan kepada pemerintah Malaysia bahwa produknya dipalsukan di Malaysia. ‘’Kami sudah melakukan operasi dan membongkar kedai jamu dan obat tradisional produk Indonesia di Malaysia, terutama di kawasan Chow Kit, atas laporan masyarakat dan bukan permintaan produsen Indonesia,’’ katanya. Malaysia mengimpor obat-obatan dan jamu dari Indonesia pada tahun 2007 mencapai 6,5 juta dolar AS.
Koran Pak Oles/Edisi 166/1-15 Januari 2009
Tampil sebagai pembicara Ketua umum gabungan pengusaha jamu, Charles Saerang, pejabat Kementerian Perdagangan Dalam Negeri dan Hal Ehwal Pengguna (Perlindungan Konsumen) Malaysia, Hasmi Mohamad, pejabat Kementerian Kesehatan Malaysia, Ghazaki Mansor, pejabat BPOM, Sabar Hariandja, pejabat Departemen Perdagangan RI, Yayang Sudaryana. ‘’Dari jamu Indonesia ilegal yang beredar di Malaysia adalah 70 persen adalah jamu palsu, dan 30 persen lagi ilegal karena termasuk kategori produk yang tidak terdaftar (belum lulus uji) di Kementerian Kesehatan Malaysia. Yang 30 persen ini adalah jamu asli (bukan palsu)tapi masuk tanpa kelulusan Kementerian Kesehatan dan Perdagangan Dalam Negeri Malaysia,’’ kata Charles.
Di Indonesia terdaftar 400 produk dan merek jamu. Sekitar 50 persen atau 200 produk jamu Indonesia masuk ke Malaysia. Sebanyak 20 persen yang beredar di Malaysia didistribusikan oleh agen atau distributor resmi yang ditunjuk pemegang merek, sedangkan 80 persen dimasukan ke Malaysia oleh pihak ketiga atau distributor tak resmi.
Dalam menangani banjirnya produk jamu palsu di Malaysia, ketua asosiasi jamu Indonesia itu mengatakan, tidak setuju jika dilakukan operasi setiap bulan sekali karena akan membuat takut pengguna dan membuat citra jamu Indonesia buruk di pasar Malaysia. ‘’Kami melakukan pendekatan dan edukasi kepada distributor di Malaysia. Kami menarik produk jamu palsu kemudian kami ganti dengan yang asli secara diam-diam sehingga tidak membuat panik pasar,’’ katanya.
Charles mengatakan, forum dialog ini sangat penting. Diharapkan Kementerian Perdagangan Dalam Negeri dan Kementerian Kesehatan - Malaysia, KBRI dan kami perlu aktif melakukan kampanye, edukasi dan promosi kepada pengguna jamu di Malaysia agar tahu bagaimana membandingkan jamu asli dan palsu. "Diperkirakan, penjualan jamu palsu di Malaysia sekitar Rp 165 juta per bulan," kata Charles yang sering ke Malaysia. Jaringan distribusi jamu Indonesia di semenanjung Malaysia relatif kuat meliputi semua negara bagian, kecuali di Malaysia Timur yakni di Sabah dan Sarawak.
Sementara kepala pemberantasan pemalsuan label dan barang tiruan dari Kementerian Perdagangan Dalam Negeri dan Hal Ehwal Pengguna (Perlindungan Konsumen) Malaysia, Hasmi Mohamad mengatakan, selama ini baru satu perusahaan Indonesia yang melaporkan kepada pemerintah Malaysia bahwa produknya dipalsukan di Malaysia. ‘’Kami sudah melakukan operasi dan membongkar kedai jamu dan obat tradisional produk Indonesia di Malaysia, terutama di kawasan Chow Kit, atas laporan masyarakat dan bukan permintaan produsen Indonesia,’’ katanya. Malaysia mengimpor obat-obatan dan jamu dari Indonesia pada tahun 2007 mencapai 6,5 juta dolar AS.
Koran Pak Oles/Edisi 166/1-15 Januari 2009


0 komentar:
Posting Komentar