Bob Sadino
Guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) harus menguasai kemampuan praktek sesuai dengan bidang mata pelajarannya dan tidak hanya mengajarkan teori agar sekolah menghasilkan lulusan siap pakai, kata pengusaha sukses Bob Sadino.
"Jika selama ini siswa SMK hanya bisa memproduksi atau sampai pada level budidaya, maka nantinya harus bisa masuk ke pasar dan industri," kata Bob Sadino beberapa waktu lalu yang dilansir Antara.
Ia mengatakan, untuk membawa SMK ke level pasar dan industri, maka hal pertama yang perlu diubah adalah paradigma gurunya. "Guru-guru SMK harus ditempa terlebih dahulu, agar menguasai lapangan. Harus ada `shock therapy` agar guru tak sebatas mengajar tapi juga membimbing siswa," kata Bob.
Ia mengatakan, persoalannya terletak pada paradigma yang selama ini hanya sebatas pada pemberian teori. Padahal, jika guru mengajarkan siswa membuat sesuatu, bakso misalnya, maka ia harus mendampingi siswa menjual bakso tersebut ke pasar. "Saya yakin tak banyak guru yang mau terjun ke pasar untuk jualan bakso dengan muridnya, karena ada arogansi dalam diri mereka sebagai seorang sarjana, seorang yang berpendidikan," katanya.
Selain terjun ke pasar, guru bersama siswa perlu mempelajari industri. "Jangan lihat industri itu sesuatu yang besar, tapi bisa dari hal-hal kecil, misalnya cara menyimpan bakso agar tidak busuk ataupun hanya sebatas pengemasan barang," kata perintis budidaya sayur mayur hidroponik dan bibit buah dan sayur dari luar negeri itu.
Bob Sadino mengatakan, pendidikan di SMK harus bertumpu pada tiga pilar pendidikan, yakni "learning to know" (belajar untuk tahu), "learning to do and to be together" (belajar untuk bekerjasama), dan "learning to be" (belajar untuk menjadi bisa). "Terkait dengan pilar tersebut, guru-guru SMK harus bisa membimbing anak-anaknya ke lapangan dan mengaplikasikan teori yang diajarkannya," katanya.
Menjawab tantangan tersebut, Direktur Pembinaan SMK Depdiknas Joko Sutrisno mengatakan, saat ini semua siswa SMK sudah diajarkan kewirausahaan dan manajemen proses bisnis. "Kami sudah melatih mereka, tak lagi sebatas teori," katanya.
Pada 2008, Direktorat SMK memandu 10 SMK bidang agroindustri untuk menjual produk mereka di pasar. Selain itu, ada juga SMK yang mendapatkan bantuan modal kerja, yakni sebanyak 100 SMK jurusan perhotelan dan bisnis retail, 10 SMK jurusan agroindustri, dan sembilan SMK jurusan manufaktur.
Modal kerja tersebut tahun ini sebesar Rp800 juta per SMK agroindustri, sebanyak Rp200 juta untuk setiap SMK jurusan bisnis retail, dan Rp750 juta untuk bidang perhotelan yang akan diberikan selama tiga tahun dengan bekerjasama dengan pemerintah daerah. "Untuk bantuan kerja, perhatian kami bukanlah profit, tapi bagaimana agar SMK bisa dijadikan satu basis pertumbuhan ekonomi," tambahnya.
Tahun depan, Depdiknas akan menambah bantuan modal kerja untuk 30 SMK jurusan pertanian dan 40 SMK yang memiliki pusat bisnis. Total dana yang akan disalurkan tahun 2009 untuk modal kerja SMK sebesar Rp24 miliar, ujar Joko.
Koran Pak Oles/Edisi 166/1-15 Januari 2009
Guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) harus menguasai kemampuan praktek sesuai dengan bidang mata pelajarannya dan tidak hanya mengajarkan teori agar sekolah menghasilkan lulusan siap pakai, kata pengusaha sukses Bob Sadino.
"Jika selama ini siswa SMK hanya bisa memproduksi atau sampai pada level budidaya, maka nantinya harus bisa masuk ke pasar dan industri," kata Bob Sadino beberapa waktu lalu yang dilansir Antara.
Ia mengatakan, untuk membawa SMK ke level pasar dan industri, maka hal pertama yang perlu diubah adalah paradigma gurunya. "Guru-guru SMK harus ditempa terlebih dahulu, agar menguasai lapangan. Harus ada `shock therapy` agar guru tak sebatas mengajar tapi juga membimbing siswa," kata Bob.
Ia mengatakan, persoalannya terletak pada paradigma yang selama ini hanya sebatas pada pemberian teori. Padahal, jika guru mengajarkan siswa membuat sesuatu, bakso misalnya, maka ia harus mendampingi siswa menjual bakso tersebut ke pasar. "Saya yakin tak banyak guru yang mau terjun ke pasar untuk jualan bakso dengan muridnya, karena ada arogansi dalam diri mereka sebagai seorang sarjana, seorang yang berpendidikan," katanya.
Selain terjun ke pasar, guru bersama siswa perlu mempelajari industri. "Jangan lihat industri itu sesuatu yang besar, tapi bisa dari hal-hal kecil, misalnya cara menyimpan bakso agar tidak busuk ataupun hanya sebatas pengemasan barang," kata perintis budidaya sayur mayur hidroponik dan bibit buah dan sayur dari luar negeri itu.
Bob Sadino mengatakan, pendidikan di SMK harus bertumpu pada tiga pilar pendidikan, yakni "learning to know" (belajar untuk tahu), "learning to do and to be together" (belajar untuk bekerjasama), dan "learning to be" (belajar untuk menjadi bisa). "Terkait dengan pilar tersebut, guru-guru SMK harus bisa membimbing anak-anaknya ke lapangan dan mengaplikasikan teori yang diajarkannya," katanya.
Menjawab tantangan tersebut, Direktur Pembinaan SMK Depdiknas Joko Sutrisno mengatakan, saat ini semua siswa SMK sudah diajarkan kewirausahaan dan manajemen proses bisnis. "Kami sudah melatih mereka, tak lagi sebatas teori," katanya.
Pada 2008, Direktorat SMK memandu 10 SMK bidang agroindustri untuk menjual produk mereka di pasar. Selain itu, ada juga SMK yang mendapatkan bantuan modal kerja, yakni sebanyak 100 SMK jurusan perhotelan dan bisnis retail, 10 SMK jurusan agroindustri, dan sembilan SMK jurusan manufaktur.
Modal kerja tersebut tahun ini sebesar Rp800 juta per SMK agroindustri, sebanyak Rp200 juta untuk setiap SMK jurusan bisnis retail, dan Rp750 juta untuk bidang perhotelan yang akan diberikan selama tiga tahun dengan bekerjasama dengan pemerintah daerah. "Untuk bantuan kerja, perhatian kami bukanlah profit, tapi bagaimana agar SMK bisa dijadikan satu basis pertumbuhan ekonomi," tambahnya.
Tahun depan, Depdiknas akan menambah bantuan modal kerja untuk 30 SMK jurusan pertanian dan 40 SMK yang memiliki pusat bisnis. Total dana yang akan disalurkan tahun 2009 untuk modal kerja SMK sebesar Rp24 miliar, ujar Joko.
Koran Pak Oles/Edisi 166/1-15 Januari 2009


0 komentar:
Posting Komentar