Peranan guru dalam mencerdaskan bangsa tidak terabaikan. Fakta ini kian dipertegas dengan perubahan lirik terakhir himne guru dari Pahlawan tanpa tanda jasa menjadi Pahlawan pembangun insan cendekia. Makna lirik tersebut mau tidak mau memacu para guru mengikuti kemajuan teknologi informasi dalam pengajaran sehingga kualitas pendidikan dapat terus ditingkatkan.
"Guru harus tanggap teknologi dan memanfaatkannya dalam pembelajaran," kata dosen Universitas Negeri Semarang Hartoyo dalam seminar dengan tema Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Pembelajaran, di Semarang, pertengahan Desember lalu.
Hartoyo mengatakan, sejumlah daya dukung dalam pembelajaran adalah komputer, internet, perangkat multimedia, dan berbagai program aplikasi di dalamnya. "Saat ini siswa sudah harus dibiasakan dengan model komputerisasi, sehingga nantinya proses interaksi tidak hanya di kelas saja, melainkan di luar kelas pun antara guru dan murid dapat tetap berkomunikasi," katanya.
Pendapat sama disampaikan dosen Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Surakarta Agus Priyanto yang juga melihat pentingnya pengajaran dengan menggunakan teknologi.
Ia mencontohkan, tiap sekolah setidaknya harus memiliki web pribadi sebagai media informasi dan komunikasi sekolah dengan siswa. "Siswa tidak lagi mendapatkan tugas tertulis dari guru, akan tetapi mereka mengakses tugas ataupun pekerjaan rumah (PR) melalui website atau blog dari guru yang bersangkutan," katanya.
Menurutnya, dengan kemajuan teknologi guru tidak lagi mengeja soal dan menuliskan pelajaran di papan tulis, akan tetapi menggunakan media presentasi LCD proyektor atau perangkat multimedia yang lain.
Mampuono, guru SMP 18 Semarang menambahkan, selain mengikuti teknologi yang maju, guru juga dituntut menghadirkan sesuatu yang menarik dalam media pembelajaranya. "Guru harus bisa membuat multimedia interaktif yang menarik, sehingga siswa akan lebih antusias dalam pembelajaran," katanya dilansir Antara.
Ia mengatakan bahwa terdapat lima tahap dalam pembuatan multimedia interaktif yakni analisis kondisi pembelajaran, desain multimedia, produksi atau pembuatan media interaktif, pelaksanaan dalam pembelajaran, dan evaluasi.
Profesionalisme Tentukan Mutu Pendidikan
Sementara Rektor Universitas Negeri Medan (Unimed), Syawal Gultom, mengatakan, guru merupakan titik sentral peningkatan kualitas pendidikan yang bertumpu pada kualitas karena sebahagian besar keberhasilan siswa sangat ditentukan oleh guru. "Oleh sebab itu peningkatan profesionalisme guru merupakan suatu keharusan.Guru profesional tidak hanya menguasai bidang ilmu, bahan pelajaran dan metode yang tepat akan tetapi mampu memotivasi peserta didik, memiliki keterampilan yang tinggi dan wawasan yang luas terhadap dunia pendidikan," katanya kepada Antara.
Ia mengatakan, guru profesional adalah guru yang mengetahui secara mendalam tentang apa yang diajarkan, mampu mengajar secara efektif, efisien dan bermoral tinggi yang digerakkan oleh nilai- nilai luhur.
Profesionalisme guru secara konstitusi menjadi salah satu faktor terpenting dari mutu pendidikan, sebab guru yang profesional akan mampu mengajarkan murid secara efektif sesuai dengan kendala sumber daya dan lingkungan yang ada.
Menurut dia, pandangan yang ideal mengenai profesionalisme guru direfleksikan dalam citra guru masa depan yang sadar dan tanggap akan perubahan zaman, rasional, demokrasi dan berwasasan nasional serta bermoral tinggi dan beriman. "Sabar dan tanggap akan perubahan zaman artinya pola tindak keguruannya maju dalam penguasaan dasar keilmuan dan perangkap instrumennya," katanya.
Selain itu, guru yang profesional diharapkan mampu memahami dengan baik pergeseran paradigma pembelajaran dari belajar terminal ke belajar sepanjang hayat, dari belajar berfokus penguasaan pengetahuan ke belajar holistik dan dari citra hubungan guru murid yang bersifat konfrontatif ke citra hubungan kemitraan.
Koran Pak Oles/Edisi 166/1-15 Januari 2009
"Guru harus tanggap teknologi dan memanfaatkannya dalam pembelajaran," kata dosen Universitas Negeri Semarang Hartoyo dalam seminar dengan tema Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Pembelajaran, di Semarang, pertengahan Desember lalu.
Hartoyo mengatakan, sejumlah daya dukung dalam pembelajaran adalah komputer, internet, perangkat multimedia, dan berbagai program aplikasi di dalamnya. "Saat ini siswa sudah harus dibiasakan dengan model komputerisasi, sehingga nantinya proses interaksi tidak hanya di kelas saja, melainkan di luar kelas pun antara guru dan murid dapat tetap berkomunikasi," katanya.
Pendapat sama disampaikan dosen Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Surakarta Agus Priyanto yang juga melihat pentingnya pengajaran dengan menggunakan teknologi.
Ia mencontohkan, tiap sekolah setidaknya harus memiliki web pribadi sebagai media informasi dan komunikasi sekolah dengan siswa. "Siswa tidak lagi mendapatkan tugas tertulis dari guru, akan tetapi mereka mengakses tugas ataupun pekerjaan rumah (PR) melalui website atau blog dari guru yang bersangkutan," katanya.
Menurutnya, dengan kemajuan teknologi guru tidak lagi mengeja soal dan menuliskan pelajaran di papan tulis, akan tetapi menggunakan media presentasi LCD proyektor atau perangkat multimedia yang lain.
Mampuono, guru SMP 18 Semarang menambahkan, selain mengikuti teknologi yang maju, guru juga dituntut menghadirkan sesuatu yang menarik dalam media pembelajaranya. "Guru harus bisa membuat multimedia interaktif yang menarik, sehingga siswa akan lebih antusias dalam pembelajaran," katanya dilansir Antara.
Ia mengatakan bahwa terdapat lima tahap dalam pembuatan multimedia interaktif yakni analisis kondisi pembelajaran, desain multimedia, produksi atau pembuatan media interaktif, pelaksanaan dalam pembelajaran, dan evaluasi.
Profesionalisme Tentukan Mutu Pendidikan
Sementara Rektor Universitas Negeri Medan (Unimed), Syawal Gultom, mengatakan, guru merupakan titik sentral peningkatan kualitas pendidikan yang bertumpu pada kualitas karena sebahagian besar keberhasilan siswa sangat ditentukan oleh guru. "Oleh sebab itu peningkatan profesionalisme guru merupakan suatu keharusan.Guru profesional tidak hanya menguasai bidang ilmu, bahan pelajaran dan metode yang tepat akan tetapi mampu memotivasi peserta didik, memiliki keterampilan yang tinggi dan wawasan yang luas terhadap dunia pendidikan," katanya kepada Antara.
Ia mengatakan, guru profesional adalah guru yang mengetahui secara mendalam tentang apa yang diajarkan, mampu mengajar secara efektif, efisien dan bermoral tinggi yang digerakkan oleh nilai- nilai luhur.
Profesionalisme guru secara konstitusi menjadi salah satu faktor terpenting dari mutu pendidikan, sebab guru yang profesional akan mampu mengajarkan murid secara efektif sesuai dengan kendala sumber daya dan lingkungan yang ada.
Menurut dia, pandangan yang ideal mengenai profesionalisme guru direfleksikan dalam citra guru masa depan yang sadar dan tanggap akan perubahan zaman, rasional, demokrasi dan berwasasan nasional serta bermoral tinggi dan beriman. "Sabar dan tanggap akan perubahan zaman artinya pola tindak keguruannya maju dalam penguasaan dasar keilmuan dan perangkap instrumennya," katanya.
Selain itu, guru yang profesional diharapkan mampu memahami dengan baik pergeseran paradigma pembelajaran dari belajar terminal ke belajar sepanjang hayat, dari belajar berfokus penguasaan pengetahuan ke belajar holistik dan dari citra hubungan guru murid yang bersifat konfrontatif ke citra hubungan kemitraan.
Koran Pak Oles/Edisi 166/1-15 Januari 2009


0 komentar:
Posting Komentar