Oleh: Virna Puspa Setyorini
Fari (22), bersama dengan empat rekannya yang lebih muda, sekitar pukul 08.00 WIB pagi sudah ada di depan Jakarta Convention Center (JCC) saat pembukaan Jakarta Motor Cycle Show (JMCS) 2008. Mereka berlima duduk menghadap pintu keluar ajang pameran itu. Fari yang memegang telpon genggam tampak sedikit gelisah. Sesekali ia melemparkan pandangan jauh ke kiri dan kanan, menyisir satu per satu orang yang datang ke arena pamer. Ternyata Fari dan empat rekannya sedang menunggu seseorang yang menjanjikan pekerjaan jadi cleaning service selama pameran motor.
Sudah lebih dari enam bulan ia menjadi orang yang sabar mananti panggilan kerja. Sebelumnya ia mengaku bekerja sebagai koki di restoran cepat saji di Atrium Senen, tetapi harus berhenti karena masa kontraknya telah habis. ‘’Sekarang saya cuma nunggu panggilan, kalau tidak ada panggilan ya di rumah atau pergi mancing sama temen-temen,’’ ujar Fari yang mengaku enggan jualan ayam fried chicken meski punya keahlian.
Fari menyebut, modalnya terlalu besar untuk berjualan ayam goreng bercita rasa impor tersebut. Apalagi persaingannya terlalu ketat di sekitar lokasi rumahnya, Manggarai. Kini Fari hanya bisa menunggu telpon genggamnya berdering yang menandakan datang rejeki untuk dirinya, orang tua, dan adiknya. Pada JMCS 2008 yang diselenggarakan selama sembilan hari, ia berharap bisa membawa pulang uang sebesar Rp 360.000.
‘’Minggu lalu kita juga kerja di pameran kuliner di Senayan ini, ramai banget yang datang, kita juga dikasih makan berkali-kali. Mudah-mudahan yang ini ramai juga biar ada pameran terus. Kalau pameran sepi tentu semakin sedikit yang beli. Pengusaha tidak akan suka dan bisa jadi mereka tidak membuat pameran lagi,’’ ujar Fari.
Kesalahan Amerika
Fari dan empat rekannya mungkin tidak pernah tahu apa yang membuat mereka semakin sulit mendapat pekerjaan. Namun yang jelas bagi Ichsanudin Noorsy, ekonom asal Universitas Gajah Mada, krisis keuangan ini sepenuhnya kesalahan Amerika Serikat (AS). Ia mengaku terusik saat membaca salah satu catatan akhir tahun dari salah satu kantor berita asing yang menuliskan judul ‘Siapa yang disalahkan dalam krisis ini? ‘’Ini tidak fair menurut saya, jelas Amerika sendiri mengakui mempunyai masalah besar dan mengakibatkan krisis saat ini terjadi,’’ kata Noorsy.
Ada empat hal yang menurut dia, memicu krisis keuangan global saat ini. Pertama, AS harus telah kalah dalam perang dagang dengan Cina sehingga rugi 261 miliar AS dolar. Kedua, AS mengalami defisit anggaran karena kalah perang di Irak. Dari pihak AS disebutkan kerugian mencapai 845 miliar AS dolar, tapi jika dihitung sumber daya manusia dan kerugian keluarga dari pihak yang berperang kerugian bisa mencapai tiga triliun AS dolar (versi ekonom AS, Stiglitz). Ketiga, badai Katrina yang membutuhkan dana recovery 160 miliar AS dolar, namun pemerintah baru mengucurkan dana 150 miliar AS dolar sehingga proses recovery belum pulih 100%. Dari badai tersebut sebenarnya membuat jaringan pipa, dua sumur, 8 kilang perusahaan minyak AS rusak parah dan sangat mengganggu persediaan minyak dalam negeri.
Puncak dari penyebab krisis keuangan AS yang kemudian menjalar ke berbagai negara di dunia adalah kurangnya likuiditas akibat terserap oleh tiga kejadian sebelumnya yang membuat perusahaan di negara adidaya tersebut goyah. Para pekerja di AS tidak mampu mencicil rumah kepada pihak subprime yang memberikan pinjaman tanpa persyaratan yang memberatkan itu, berlanjut pada subprime yang tidak dapat membayar hutang ke asuransi atau bank, yang akhirnya terjadi krisis keuangan.
Besarnya jumlah impor negara tersebut untuk memenuhi kebutuhan rakyatnya membuat negara lain pun menjadikan Amerika sebagai pasar utama ekspor. Turunnya daya beli masyarakat AS jelas membuat dunia usaha di negara eksportir harus menghadapi ancaman bangkrut. Dampak penurunan daya beli masyarakat AS telah terasa di Indonesia dan mengakibatkan banyak industri terpaksa tutup maupun mengurangi produksi. Ini yang kemudian menyebabkan orang-orang seperti Fari sulit mendapatkan pekerjaan.
Ancaman Berikut
Noorsy mengatakan AS kini harus bersiap-siap untuk kalah lagi. Dan kali ini Amerika harus bersiap-siap menerima kekalahan dari India atas kemajuan teknologi informasi. ’’Amerika sebenarnya sudah sadar bahwa mereka mulai kalah dengan India soal teknologi informasi ini. Tapi tampaknya agak terlambat, orang-orang hebat di perusahaan IT di Amerika sekarang lebih banyak orang Indianya,’’ katanya.
Empat kekuatan yang dimiliki Amerika sebagai negara adidaya (militer, media massa, minyak dan teknologi informasi), satu per satu mulai melemah. Untuk informasi teknologi negara ini sedang ketat bersaing dengan India, media massa persaingan semakin ketat dengan setiap negara memiliki media. Jika untuk minyak Amerika masih memiliki kekuatan, tapi untuk militer hanya unggul dari sisi kuantitas. Mungkin kalau teknologi negara lain pun semakin canggih. Amerika masih unggul dari segi jumlah.
Sejarah pun dapat menceritakan bagaimana sektor-sektor ekonomi kuat negara adidaya tersebut mulai runtuh, seperti halnya industri otomotif. Berhasilnya Jepang meciptakan baja berkualitas untuk mobil akhirnya membuat negara tersebut mampu bersaing dengan industri otomotif AS. Apa yang telah dan sedang terjadi di Amerika tentu dapat menjadi pembelajaran bagi Indonesia.
Beberapa pengamat asing menilai, Indonesia menjadi negara yang paling dapat bertahan dari krisis. Pasar yang besar, sumber daya alam yang tersedia dan sumber daya manusia yang mampu bersaing, menjadi madu bagi negara lain untuk datang ke Indonesia. Indonesia sendiri yang menentukan, menjaga madu untuk kepentingan sendiri atau membagikan juga kepada yang lain.
Koran Pak Oles/Edisi 166/1-15 Januari 2009
Fari (22), bersama dengan empat rekannya yang lebih muda, sekitar pukul 08.00 WIB pagi sudah ada di depan Jakarta Convention Center (JCC) saat pembukaan Jakarta Motor Cycle Show (JMCS) 2008. Mereka berlima duduk menghadap pintu keluar ajang pameran itu. Fari yang memegang telpon genggam tampak sedikit gelisah. Sesekali ia melemparkan pandangan jauh ke kiri dan kanan, menyisir satu per satu orang yang datang ke arena pamer. Ternyata Fari dan empat rekannya sedang menunggu seseorang yang menjanjikan pekerjaan jadi cleaning service selama pameran motor.
Sudah lebih dari enam bulan ia menjadi orang yang sabar mananti panggilan kerja. Sebelumnya ia mengaku bekerja sebagai koki di restoran cepat saji di Atrium Senen, tetapi harus berhenti karena masa kontraknya telah habis. ‘’Sekarang saya cuma nunggu panggilan, kalau tidak ada panggilan ya di rumah atau pergi mancing sama temen-temen,’’ ujar Fari yang mengaku enggan jualan ayam fried chicken meski punya keahlian.
Fari menyebut, modalnya terlalu besar untuk berjualan ayam goreng bercita rasa impor tersebut. Apalagi persaingannya terlalu ketat di sekitar lokasi rumahnya, Manggarai. Kini Fari hanya bisa menunggu telpon genggamnya berdering yang menandakan datang rejeki untuk dirinya, orang tua, dan adiknya. Pada JMCS 2008 yang diselenggarakan selama sembilan hari, ia berharap bisa membawa pulang uang sebesar Rp 360.000.
‘’Minggu lalu kita juga kerja di pameran kuliner di Senayan ini, ramai banget yang datang, kita juga dikasih makan berkali-kali. Mudah-mudahan yang ini ramai juga biar ada pameran terus. Kalau pameran sepi tentu semakin sedikit yang beli. Pengusaha tidak akan suka dan bisa jadi mereka tidak membuat pameran lagi,’’ ujar Fari.
Kesalahan Amerika
Fari dan empat rekannya mungkin tidak pernah tahu apa yang membuat mereka semakin sulit mendapat pekerjaan. Namun yang jelas bagi Ichsanudin Noorsy, ekonom asal Universitas Gajah Mada, krisis keuangan ini sepenuhnya kesalahan Amerika Serikat (AS). Ia mengaku terusik saat membaca salah satu catatan akhir tahun dari salah satu kantor berita asing yang menuliskan judul ‘Siapa yang disalahkan dalam krisis ini? ‘’Ini tidak fair menurut saya, jelas Amerika sendiri mengakui mempunyai masalah besar dan mengakibatkan krisis saat ini terjadi,’’ kata Noorsy.
Ada empat hal yang menurut dia, memicu krisis keuangan global saat ini. Pertama, AS harus telah kalah dalam perang dagang dengan Cina sehingga rugi 261 miliar AS dolar. Kedua, AS mengalami defisit anggaran karena kalah perang di Irak. Dari pihak AS disebutkan kerugian mencapai 845 miliar AS dolar, tapi jika dihitung sumber daya manusia dan kerugian keluarga dari pihak yang berperang kerugian bisa mencapai tiga triliun AS dolar (versi ekonom AS, Stiglitz). Ketiga, badai Katrina yang membutuhkan dana recovery 160 miliar AS dolar, namun pemerintah baru mengucurkan dana 150 miliar AS dolar sehingga proses recovery belum pulih 100%. Dari badai tersebut sebenarnya membuat jaringan pipa, dua sumur, 8 kilang perusahaan minyak AS rusak parah dan sangat mengganggu persediaan minyak dalam negeri.
Puncak dari penyebab krisis keuangan AS yang kemudian menjalar ke berbagai negara di dunia adalah kurangnya likuiditas akibat terserap oleh tiga kejadian sebelumnya yang membuat perusahaan di negara adidaya tersebut goyah. Para pekerja di AS tidak mampu mencicil rumah kepada pihak subprime yang memberikan pinjaman tanpa persyaratan yang memberatkan itu, berlanjut pada subprime yang tidak dapat membayar hutang ke asuransi atau bank, yang akhirnya terjadi krisis keuangan.
Besarnya jumlah impor negara tersebut untuk memenuhi kebutuhan rakyatnya membuat negara lain pun menjadikan Amerika sebagai pasar utama ekspor. Turunnya daya beli masyarakat AS jelas membuat dunia usaha di negara eksportir harus menghadapi ancaman bangkrut. Dampak penurunan daya beli masyarakat AS telah terasa di Indonesia dan mengakibatkan banyak industri terpaksa tutup maupun mengurangi produksi. Ini yang kemudian menyebabkan orang-orang seperti Fari sulit mendapatkan pekerjaan.
Ancaman Berikut
Noorsy mengatakan AS kini harus bersiap-siap untuk kalah lagi. Dan kali ini Amerika harus bersiap-siap menerima kekalahan dari India atas kemajuan teknologi informasi. ’’Amerika sebenarnya sudah sadar bahwa mereka mulai kalah dengan India soal teknologi informasi ini. Tapi tampaknya agak terlambat, orang-orang hebat di perusahaan IT di Amerika sekarang lebih banyak orang Indianya,’’ katanya.
Empat kekuatan yang dimiliki Amerika sebagai negara adidaya (militer, media massa, minyak dan teknologi informasi), satu per satu mulai melemah. Untuk informasi teknologi negara ini sedang ketat bersaing dengan India, media massa persaingan semakin ketat dengan setiap negara memiliki media. Jika untuk minyak Amerika masih memiliki kekuatan, tapi untuk militer hanya unggul dari sisi kuantitas. Mungkin kalau teknologi negara lain pun semakin canggih. Amerika masih unggul dari segi jumlah.
Sejarah pun dapat menceritakan bagaimana sektor-sektor ekonomi kuat negara adidaya tersebut mulai runtuh, seperti halnya industri otomotif. Berhasilnya Jepang meciptakan baja berkualitas untuk mobil akhirnya membuat negara tersebut mampu bersaing dengan industri otomotif AS. Apa yang telah dan sedang terjadi di Amerika tentu dapat menjadi pembelajaran bagi Indonesia.
Beberapa pengamat asing menilai, Indonesia menjadi negara yang paling dapat bertahan dari krisis. Pasar yang besar, sumber daya alam yang tersedia dan sumber daya manusia yang mampu bersaing, menjadi madu bagi negara lain untuk datang ke Indonesia. Indonesia sendiri yang menentukan, menjaga madu untuk kepentingan sendiri atau membagikan juga kepada yang lain.
Koran Pak Oles/Edisi 166/1-15 Januari 2009


0 komentar:
Posting Komentar